Anda di halaman 1dari 15

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL SEBAGAI

TERAPI PENYAKIT TIFUS ( DEMAM TIFOID )


Posted on December 30, 2007 | 7 Comments
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK KLORAMFENIKOL SEBAGAI TERAPI PENYAKIT
TIFUS ( DEMAM TIFOID )
Adrianus Arinawa Yulianta ( 07 8115 041 )
1. Pendahuluan
Demam Tifoid atau Tifus merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini dapat masuk kedalam tubuh manusia
melalui makanan dan air yang tercemar. Disebarkan melalui perpindahan dari manusia ke
manusia terutama pada keadaan hygiene buruk. Masa inkubasi sampai 18 hari. Sebagian
bakteri ini dapat dimusnahkan oleh asam lambung tetapi ada sebagian lagi yang masuk ke
usus halus dan mencapai jaringan limfoid dan bersarang di jaringan tersebut, selain itu bakteri
ini juga bersarang di limpa, hati dan bagian-bagian lain system retikuloendotelial. Endotoksin
atau racun dari Salmonella typhi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat
bakteri tersebut berkembang biak. Salmonella typhi dan endotoksinnya merangsang sistesis
dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradangt, sehingga
terjadi demam.
Gejala-gejala yang muncul bervariasi, dalam minggu pertama sama dengan penyakit
infeksi akut pada umumnya yaitu demam, sakit kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual,
muntah, konstipasi atau diare, perasaan tidak enak pada perut, batuk dan peningkatan suhu
badan. Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi
relative, lidah tifoid (kotor ditengah, tepid an ujung merah dan tremor), hepatomegali,
splenomegali, meteorismus, gangguan kesadaran berupa samnolen sampai koma.
Penatalaksanaan terapi demam tifoid, Penggunaan antibiotik untuk menghentikan
dan memusnahkan penyebaran bakteri. Antibiotik yang dapat digunakan adalah klorafenikol (
dosis hari pertama 4 x 250 mg, hari kedua 4 x 500mg, diberikan selama demam dilanjutkan
sampai 2 hari bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 2 x 250mg selama 5 hari
kemudian ), Ampisilin/Amoksisilin ( dosis 50-150 mg/kg BB, diberikan selama 2 minggu),
Kotimoksazol 2 x 2 tablet ( 1 tablet mengandung 400mg sulafametoksazol-80mg trimetropin,
diberikan selama 2 minggu ), Sefalosporin generasi II dan III biasanya demam mereda pada
hari ke-3 atau menjelang hari ke-4 ( obat yang dipakai seftriakson 4 g/hari selama 3 hari,
norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari, siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama 6 hari,
ofloksasin 600 mg/hari selama 7 hari, pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari, fleroksasin 400
mg/hari selama 7 hari). Istirahat dan perawatan yang profesional ini bertujuan untuk
mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus istirahat total sampai
minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Aktifitas dilakukan bertahap
sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Selama penyembuhan harus dijaga kebersihan
badan, tempat tidur, pakaian, dan peralatan yang dipakai. Diet dan terapi
penunjang pertama pasien diberi bubur halus, kemudian bubur kasar, dan akhirnya nasi
sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral
yang cukup untuk mendukung keadaan umum pasien.
B. Obat
1. Nama generik : Klorafenikol
Nama dagang Indonesia : Combisetin (Combiphar), Farsycol (Ifars), Kalmicetine (Kalbe
Farma), Lanacetine (Landson)
Indikasi : Pengobatan tifus (demam tifoid) dan paratifoid, infeksi berat karena Salmonella sp,
H. influenza (terutama meningitis), rickettzia, limfogranuloma,
psitakosis, gastroenteristis, bruselosis, disentri.
Kontraindikasi : Hipersensitif, anemia, kehamilan, menyusui, pasien porfiria
Bentuk sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg, suspensi 125 mg/5 ml, sirup 125 ml/5 ml, serbuk
injek. 1g/vail.
Dosis dan aturan pakai : Dewasa : 50 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
Anak : 50-75 mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
Bayi < 2 minggu : 25 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi tiap 6
jam. Berikan dosis lebih tinggi untuk infeksi lebih berat. Setelah
umur 2 minggu bayi dapat menerima dosis sampai 50 mg/kgBB/
hari dalam 4 dosis tiap 6 jam.
Efek samping : Kelainan darah reversible dan ireversibel seperti anemia aplastik anemia
(dapat berlanjut menjadi leukemia), mual, muntah, diare, neuritis
perifer, neuritis optic, eritema multiforme, stomatitis, glositis,
hemoglobinuria nocturnal, reaksi hipersensitivitas misalnya
anafalitik dan urtikaria, sindrom grey pada bayi premature dan bayi
baru lahir, depresi sumsum tulang
Resiko khusus : Anemia aplastik : jarang terjadi, terjadi hanya 1 pada 25.000-40.000
penggunaan klorafenikol, diperkirakan karena pengaruh genetic
dan terjadi tidak secara langsung pada saat menggunakan
kloramfenikol tetapi muncul setelah beberapa minggu atau
beberapa bulan setelah pemakaian
Gray-baby syndrome : terjadi pada bayi yang lahir premature dan pada bayi umur < 2
minggu dengan gangguan hepar dan ginjal. Klorafenikol
terakumulasi dalam darah pada bayi khususnya ketika pemberian
dalam dosis tinggi ini yang menyebabkan Gray-baby syndrome.
Daftar Pustaka
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, DepKes RI, Jakarta.
Anonim, 2006, Obat-Obat Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian, edisis revisi,
Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada.
Hayes, C, Peter., Mackay, W, Thomas., 1997, Diagnosis dan Terapi, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC.
Mansjooer, Arif, dkk., 2001, KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN, edisi ketiga jilid
pertama, Media Aeculapius FKUI, Jakarta.
Reese, E, Richard., Betts, F, Robert., Gumustop, Bora., 2000, Handbook of
Antibiotics, 3
rd
Edition, Lippncott Williams & Wilkins, Philadelphia, USA.



























erapi Demam Tiphoid pada Anak



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Pada umumnya terapi demam tipoid meliputi nutrisi yang memadai, menjaga
keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian antibiotika dan mencegah serta
mengatasi komplikasi yang terjadi. (1,2,3,4,5,7,8)
Pemberian antibiotika pada terapi demam tifoid merupakan keharusan yang wajib
dilaksanakan sebagai terapi anti mikroba atau terapi kausatif. Pengobatan antibiotika
pada penderita demam tifoid akan memperpendek perjalanan penyakit, mengurangi
komplikasi dan mengurangi angka kematian kasus.
Kekambuhan terjadi pada 10 % penderita yang tidak mendapatkan pengobatan
antibiotika. Manifestasi klinis kekambuhan, pada umumnya menjadi nyata kurang lebih 2
minggu setelah penghentian pengobatan dengan antibiotika dan menyerupai bentuk
penyakit akut. Tetapi kekambuhan tersebut umumnya bersifat lebih ringan dan lebih
singkat, ini dapat terjadi berulang-ulang pada orang yang sama.
Antibiotika sebagai obat standar yang dapat digunakan untuk terapi demam tifoid
sampai saat ini adalah kloramfenikol, kotrimoksasol, ampicilin dan amoksilin. Pada
beberapa dekade terakhir, munculnya strain yang resisten terhadap beberapa
antibiotika tersebut mendorong beberapa ahli untuk mencari antibiotika yang lebih tepat
untuk salmonella typhi.(1,2,3,5,6,7,8)

B. Tujuan Penulisan
1. Memenuhi sebagian syarat untuk perbaikan hasil ujian akhir program pendidikan
profesi di bagian Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
2. Memahami dan mengetahui beberapa madam antibiotika yang dapat digunakan
dalam terapi penyakit febris typhoid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab II ini akan diuraikan beberapa macam antibiotika yang biasa digunakan dalam
terapi penyakit febris typhoid yang meliputi farmakokinetik, dosis, kadar terapetik, efek
yang tak diharapkan, interaksi obat dan sebagian cara kerjanya.

A. KLORAMFENIKOL
Pada tahun 1948 Woodward T. pertama kali menggunakan kloramfenikol untuk
mengobati demam tifoid dan memberi hasil yang sangat memuaskan dalam waktu
singkat. Karena efektivitasnya terhadap S. typhi dan harga obat relatif murah maka
kloramfenikol dipakai sebagai obat standar pada infeksi Salmonella.
Kloramfenikol berhasil diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari biakan streptomyces
venezuelae dan antibiotika sintetis pertama kali disintesa pada tahun 1949.
Kloramfenikol kristalin merupakan ikatan yang netral dan stabil dengan rumus bangun
sebagai berikut :
Kloramfenikol terdiri dari kristal-kristal tak berwarna dan rasanya pahit. Selain itu
kloramfenikol sangat larut dalam alkohol, dalam air kelarutannya berkurang dengan
saturasi 0,25 %. Kloramfenikol suksinat sangat larut dalam air dan dihidrolisa di
jaringan-jaringan sehingga dapat digunakan secara parenteral. Untuk mengurangi rasa
pahit, kloramfenikol diproduksi dalam bentuk basa dalam kapsul.

1. Kemasan, Cara Pemberian, Absorbsi, Distribusi, Waktu Paruh, Ekskresi dan Dosis
Kloramfenikol.
Kloramfenikol merupakan antibiotika berspektrum luas, efektif terhadap organisme gram
positif dan negatif meskipun penggunaannya terbatas karena toksik. Kloramfenikol
dapat dijumpai dalam bentuk kloramfenikol palmitat dan kloramfenikol sodium suksinat.
Untuk terapi demam tifoid kloramfenikol dapat diberikan peroral berupa kapsul atau
suspensi/sirup dari kloramfenikol palmitat. Bila penderita tidak bisa minum obat peroral
dapat diberikan kloramfenikol sodium suksinat secara intravena. Pemberian secara
intramuskuler masih kontroversial karena adekuat/tidaknya absorbsi belum diketahui
dengan pasti. Di beberapa negara kloramfenikol dapat diberikan melalui dubur. Dosis
untuk terapi demam tifoid pada anak 50-100 mg/kg berat badan (BB)/hari dibagi dalam
3-4 dosis. Lama terapi 8-10 hari setelah suhu tubuh kembali normal atau 5-7 hari
setelah demam turun; untuk mencegah terjadinya kekambuhan lama terapi dapat
diberikan selama 14 hari penuh. Klorampenikal pada bayi, dosis kloramfenikal 25-50
mg/kg BB/hari.
Kloramfenikol peroral segera diabsorbsi secara komplit dengan konsentrasi dalam darah
10g/mL dicapai dalam 2 jam. Konsentrasi tertinggi dalam plasma 10-20 g/mL, pada
umumnya konsentrasi dalam plasma berkisar 5-10 g/mL. Hampir semua bakteri gram
negatif dapat dihambat oleh kloramfenikol pada konsentrasi 0,2-5 g/mL. Menurut Rowe
pada kuman yang resisten terhadap kloramfenikol kadar hambat minimal dalam darah
250 mg/L sedangkan menurut Christie kadar hambat minimal > 150 g/mL dan pada
kuman yang sensitif kadar hambat minimal 1-3 g/mL. Kloramfenikol palmitat dihidrolisa
menjadi kloramfenikol di saluran cerna agar dapat diabsorbsi, sedangkan kloramfenikol
suksinat sebagian dihidrolisa menjadi kloramfenikol bebas di hati, paru dan ginjal.
Sehingga kadar kloramfenikol suksinat di darah lebih rendah daripada kloramfenikol
palmitat ( 30 % dosis diekskresi sebelum dihidrolisa). Kloramfenikol didistribusi secara
luas di jaringan dan cairan tubuh. Kloramfenikol dapat masuk ke cairan serebrospinal
dengan kadar 50 % dari yang beredar dalam darah, selain itu obat ini dapat menembus
plasenta ke sirkulasi darah janin, asi, dan cairan mata. Kloramfenikol berkaitan dengan
protein plasma di sirkulasi 60 %. Waktu paruh kloramfenikol berkisar 1,5-4 jam dan
dapat lebih lama pada penderita dengan penyakit hati yang parah atau bayi. Pada
penderita penyakit ginjal dapat terjadi akumulasi metabolit inaktif. Kloramfenikol dinon-
aktifkan di hati dengan kloramfenikol terutama melalui air kemih ( 10 % kloramfenikol
aktif dan 90 % kloramfenikol inaktif). Selain itu obat ini juga dieksresi ke empedu (3 %)
lalu direabsorbsi dan 1 % dieksresi melalui tinja dalam bentuk inaktif.
2. Cara Kerja Kloramfenikol pada S. typhi
Kloramfenikol merupakan antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan berspektrum luas.
Dapat digunakan untuk terapi infeksi bakteri gram positif maupun negatif. Kloramfenikol
masuk ke sel yang sensitif melalui proses transpor aktif. Di dalam sel obat ini berkaitan
dengan subunit 50 S ribosom bakteri di dekat site of action makrolit dan klindamisin,
serta menghambat sintesa bakteri dengan cara mencegah perlekatan aminocyl transfer
RNA ke acceptor site di ribosom komplek mRNA. Sehingga pembentukan ikatan peptida
oleh peptidil transferase (reaksi transpeptidasi) dapat dihambat. Hal ini mengakibatkan
peptida pada donor site komplek ribosom tidak dapat ditransfer ke asam amino
acceptor, sehingga sintesa protein berhenti. Hambatan pada sintesa protein ini
mengakibatkan efek bakteriostatik primer.

Cara Kerja :
Kloramfenikol
Transpor aktif
Sel sensitif

Ikatan dengan sub unit 50s ribosom bakteri

Hambat perlekatan aminiacyl transferRNA ke acceptor site
(di ribosom kompleks mRNA)

Pembentukan ikatan peptida dengan peptidil transferase

transfer peptida di donor site ke asam amino acceptor

Sintesa protein

Bakteriostatik primer

Ada resistensi S. typhi terhadap kloramfenikol dapat terjadi melalui 2 cara yaitu :
1. Plasmid mediated S. typhi memproduksi kloramfenikol asetil transferase yang dapat
menon-aktifkan obat tersebut. Plasmid ini dapat mentransfer MDR dari satu bakteri ke
bakteri lain secara konjugasi (misal pada MDR S. typhi).
2. S. typhi mengalami mutasi ribosomal dan penurunan permeabilitas atau up-take
sehingga sensitivitas terhadap kloramfenikol menurun (misal pada S. typhi yang resisten
terhadap salah satu antibiotika).

Mekanisme terjadinya resistensi antibiotika melalui 4 jalur yaitu :
1. Penurunan permeabilitas terhadap antibiotika.
2. Proses enzimatik yaitu proses inaktivasi obat oleh enzim asetilase.
3. Modifikasi letak reseptor obat.
4. Peningkatan sintesa metabolik antagonis terhadap antibiotika.

Hal ini menyebabkan beberapa peneliti berusaha mencari obat alternatif lain dengan
syarat aman bagi anak dan dewasa, harga terjangkau, dapat diberikan peroral dan
efektif.

3. Keuntungan dan Kerugian Kloramfenikol
Keuntungan terapi kloramfenikol pada demam tifoid antara lain :
1. Harga murah
2. Mudah diperoleh
3. Jarang menimbulkan efek samping dalam pemakaian yang singkat
4. Demam turun dalam waktu singkat (3-4 hari terapi)
5. Meningkatkan angka kesembuhan ( 90%)
6. Menurunkan mortalitas (10-15% menjadi 1-4%)


Adapun kerugian penggunaan kloramfenikol pada demam tifoid antara lain :
1. Tidak dapat menurunkan angka kekambuhan
2. Tidak berpengaruh pada eksretor konvalesen atau karier kronis
3. Mengakibatkan anemia aplastik pada 1 : 10.000-50.000 penderita
4. Tidak dapat digunakan pada S. typhi yang resisten terhadap kloramfenikol.

4. Efek Samping dan Kontra Indikasi Penggunaan Kloramfenikol
Kloramfenikol dapat menimbulkan efek samping yang serius dan kadang-kadang fatal.
Efek samping tersebut antara lain :
1. Gangguan pada saluran cerna yaitu : mual, muntah dan diare.
2. Depresi sumsum tulang yang dibagi menjadi dua yaitu :
a. Depresi terjadi karena konsetrasi kloramfenikol dalam plasma > 25 ug/mL ditandai
dengan perubahan morfologi sumsum tulang (adanya vacuolated nucleated red cells di
sumsum tulang), penggunaan zat besi yang berkurang, retikulositopenia, anemia,
lekopenia, dan trombositopenia. Hal ini karena sintesa protein mitokondria sel sumsum
tulang terhambat.
b. Anemia aplastik yang berat dan irreversible, hal ini jarang terjadi dan tidak
berhubungan dengan dosis serta lama terapi kloramfenikol idiosinkrasi). Hal ini diduga
karena kelainan genetik atau biokimia.
3. Gray baby syndrome ditandai dengan perut distensi, muntah, kulit berwarna kelabu,
hipotermi, flaccid, sianosis, napas tidak teratur, renjatan dan pembuluh darah kolap. Hal
ini berhubungan dengan konsentrasi kloramfenikol di darah yang tinggi. Pada bayi baru
lahir/prematur mekanisme konjugasi asam glukuronik dan filtrasi glomerulus turun,
mengakibatkan akumulasi obat.
4. Interaksi dengan obat-obat lain. Kloramfenikol memperpanjang waktu paruh dan
meningkatkan konsentrasi feniton, tolbutamid, klorpropamid dan warfarin, sehingga
menghambat enzim mikrosomal di hati.

Penggunaan kloramfenikol dalam waktu lama dapat mengakibatkan :
1. Perdarahan, baik karena depresi sumsum tulang maupun penurunan flora normal
usus yang mengakibatkan hambatan sintesa vitamin K.
2. Anemia hemolitik pada penderita defisiensi G6PD
3. Pada syaraf : neuritis optikus (dapat mengakibatkan gangguan permanen atau buta),
ensefalopati, dan ototoksik.
4. Reaksi hipersensitivitas
5. Gangguan pada flora mulut dan usus yang mengakibatkan stomatitis, glositis, dan
iritasi rektum.

Untuk mencegah terjadinya efek samping yang tidak diharapkan maka perlu memantau
kadar kloramfenikol dalam plasma selama penggunaan obat ini dan pada penderita
gangguan fungsi hati dosis obat ini diturunkan.
Kontra indikasi penggunaan kloramfenikol pada penderita demam tifoid.
1. Adanya riwayat hipersensitivitas atau toksik.
2. Tidak untuk profilaksis atau infeksi ringan
3. Adanya depresi sumsum tulang atau blood dyscrasia
4. Penyakit ginjal yang berat
5. Bayi baru lahir atau prematur

Di Pakistan pada penderita demam tifoid anak yang diobati dengan kloramfenikol (dosis
100 mg/kg BB/hari) menunjukkan angka kesembuhan 30 % dan kegagalan 68 %,
penelitian Rabbani dengan dosis 50 mg/kg BB/hari menunjukan angka kesembuhan 45
% dan 55 % gagal, tetapi tidak ditemukan efek samping obat ini. Pada penelitian
tersebut kesembuhan dinilai dari perbaikan klinis dan bakteriologis.

B. SEFIKSIM
Sefiksim merupakan golongan sefalosporin generasi ketiga yang dapat diberikan peroral
dalam bentuk aktif. Sefalosporin pertama kali ditemukan pada tahun 1945 dari jamur
Chepalosporium acremonium yang dibiakkan di laut dekat muara pantai Sardinia, dan
diisolasi pertama kali pada tahun 1948 oleh Brotzu. Sediaan sefalosporin semisintetik
dengan aktivitas yang lebih besar dari asalnya diperoleh dengan cara mengisolasi
nukleus aktif sefalosporin C, 7-asam amino sefalosporanik dan dengan menambahkan
beberapa rantai sampaing.
Sefiksim berbentuk serbuk kristal putih sampai kuning terang, sangat larut dalam air,
alkohol, gliserol dan propilenglikol. Dapat larut bebas dalam 70 % sorbitol dan oktanol.
Sefiksim dalam bentuk suspensi oral mempnyai pH 2,5-4,5. Rumus molekul sefiksim
C10H15N5O7S2 dengan berat molekul 453,46.
Secara kimia, cara kerja dan toksisitas sefiksim hampir sama dengan penisilin tetapi
lebih stabil terhadap batalaktamase bakteri sehingga mempunyai spektrum aktifitas
yang lebih luas.

1. Kemasan, Cara Pemberian, Absorbsi, Distribusi, Waktu Paruh, Ekskresi dan Dosis
Sefiksim
Sefiksim stabil terhadap betalaktamase bakteri, dapat diperoleh dalam bentuk trihidrat
dan dosis pemberian diteruskan dengan sefiksim anhydrous. 1,12 g substansi ekuivalen
dengan 1 g sefiksim anhydrous. Sediaan ini dapat dijumpai dalam bentuk kapsul dan
suspensi/sirup.












Sefiksim memiliki beberapa ciri unik untuk kelompok sefalosporin, antara lain memiliki
substitusi vinil pada atom C2 yang memperpanjang waktu paruh menjadi berlipat ganda
dibandingkan dengan sefalosporin oral lainnya, 2-karboksimetoksiimino menambah
stabilitas terhadap enzim betalaktamase yang merupakan ciri kemantapan struktur dan
keampuhan obat betalaktam pada umumnya. Tambahan dari struktur 2-aminotiazil telah
memperluas dan meningkatkan spektrum antimikroba dan daya pemusnah terhadap
kuman.
Hanya 40-50 % dari dosis oral sefiksim diabsorbsi dari saluran cerna. Hal ini tidak
dipengaruhi oleh makanan di saluran cerna, meskipun kecepatan absorbsi menurun bila
ada makanan. Sefiksim dalam bentuk suspensi oral diabsorbsi lebih baik daripada
kapsul. Absorbsi sefiksim relatif lambat dimana konsentrasi tertinmggi di plasma 2-3
g/mL dan 3,7-4,6 g/mL dicapai dalam 4 jam setelah pemberian sefiksim 200 dan 400
mg dosis tunggal. Pada dosis oral 200 mg kadar dalam plasma 2-2,6 g/mL dan pada
100 mg kadar dalam plasma 1-1,5 g/mL. Waktu paruh di plasma 3-4 jam dan dapat
lebih lama bila ada gangguan pada ginjal. 65 % sefiksim dalam sirkulasi berikatan
dengan protein plasma. Penelitian Faulkner menunjukkan konsentrasi sefiksim dalam
plasma dengan dosis 8-10 mg/kg BB/hari pada anak hampir sama dengan 400 mg
sefiksim pada orang dewasa.
Sefiksim tidak mengalami metabolisme di tubuh. Informasi mengenai distribusi sefiksim
di jaringan dan cairan tubuh terbatas. Sefiksim dapat menembus plasenta dan
diekskresi dalam bentuk utuh tanpa diubah. Ekskresi obat ini melalui air kemih sebesar
50 % dalam 24 jam. Konsentrasi maksimum di air kemih 42,9; 62,2; dan 82,7 g/mL
dalam 4-6 jam. Ekskresi obat ini melalui air kemih (sampai dengan 12 jam) setelah
pemberian secara oral 1,5; 3 atau 6 mg/kg BB pada anak-anak dengan fungsi ginjal
yang normal. Sedangkan ekskresi sisanya terbanyak dari saluran cerna (tinja) melalui
empedu. Kadar obat di empedu relatif tinggi, pada dosis 100 mg mencapai 135 g/mL.
Dosis sefiksim pada terapi demam tifoid 30 mg/kg BB/hari dibagi 2 dosis perhari selama
8 hari. Pada penelitian Bhutta digunakan sefiksim 10 mg/kg BB/hari dibagi dalam 2
dosis per hari selama 14 hari.
2. Cara Kerja Sefiksim Pada S. typhi
Secara kimia, toksisitas dan cara kerja sefiksim mirip dengan penisilin. Bedanya
sefiksim stabil terhadap suhu dan pH serta hidrolisa betalakamase. Hasil penelitian
Shigi, Matsumoto, dan Neu, menunjukkan bahwa sefiksim stabil terhadap hidrolisa
beberapa betalaktamase antara lain betalaktamase 1a, 1b, 1c, 1d, II, III, IV dan V.
sefiksim bersifat bakterisidal dan bekerja dengan cara berikatan dengan satu atau lebih
penicillin binding protein (PBP) yaitu PBP 3, 1a dan 1b serta dapat melakukan penetrasi
ke membran luar bakteri. Hal ini dapat menghambat sintesa dinding sel dan
pertumbuhan bakteri.
Dinding sel bakteri sangat esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri
normal. Peptidoglikan adalah komponen heteropolimerik dinding sel yang menjaga
kestabilan dinding sel secara mekanis. Biosintesa petidoglikan melibatkan 30 enzim
bakteri dan terdiri dari 3 tahapan yaitu :
a. Pembentukan prekusor yang terjadi di sitoplasma menghasilkan UDP (uridin difosfat)-
asetilmuramil-pentapeptida yang disebut park nucleotide kemudian diikuti penambahan
dipeptida, D-alanil-D-alanin.
b. UDP-asetilmuramil-pentapeptida dan UDP-asetilglukosamin berkaitan dengan uridin
nukleotida untuk membentuk rantai polimer panjang.
c. Reaksi transpeptida yang terjadi di luar membran sel, dimana residu terminal glisin
dari jembatan pentaglisin berikatan dengan residu ke-4 penta peptida (D-alanin),
melepaskan residu ke-5 (D-alanin)
Tahap akhir sintesa peptidoglikan ini dapat dihambat oleh sefiksim.

Antibiotika betalaktam mempunyai struktur yang analog dengan substrat D-ala-D-
alamiah dan diikat secara kovalen oleh PBP 3, 1a, 1b di reseptor aktif yang
mengakibatkan asilasi transpeptidase sehingga terjadi hambatan reaksi transpeptidasi,
akibatnya peptidoklikan dihambat.
Penelitian Curtis dkk tahun 1979 dan Curtis tahun 1981 menunjukkan bahwa hambatan
PBP 3 pada sintesa sebagian dinding sel oleh antibiotika ini mengakibatkan
pembentukan filamen yang panjang dan berlangsung 4-6 generasi lalu rusak.
Pembentukan filamen ini diikuti kerusakan fungsi barier membran luar yang terbukti
dengan adanya kebocoran betalaktamase periplasma yang cepat. Menurut Kucers dan
Bennett hambatan pada sintesa dinding sel bakteri oleh sefiksim tersebut dapat
menyebabkan beberapa varian defisiensi dinding sel bakteri yang disebut protoplas
(tidak berdinding sel), sefreoplas (dinding sel defek) dan varian fase-L. hal ini
menyebabkan dinding sel bakteri lemah, mudah robek dan akhirnya rusak oleh tekanan
mekanis pada masa sitoplasma yang meningkat secara normal, sehingga akhirnya sel
mati.

Cara kerja :
Sefiksim (analog D-ala-D-ala)

Ikatan demam PBP 3, 1a, 1b di reseptor aktif

Asiliasi transpeptidase Dinding sel > berpori

Hambatan transpeptidase Kontrol selular otolisin hodrolase
ditekan

Sintesa dinding sel bakteri dan
Pertumbuhan bakteri Kebocoran otolisin

Pembentukan foilamen dan Otolisis peptidoglikan
dinding sel tak sempurna

Dinding sel lemah, mudah robek
Tekanan mekanis
Masa sitoplasma
Dinding sel rusal Bakteri mati

Sel bakteri mengandung enzim yang mensintesa peptidoglikan dan otolisin
(menyebabkan otolisis peptidoglikan). Sefiksim menekan kontrol seluler otolisin
endogen (otolisin hidrolase) yang mengakibatkan otolisis dan kematian bakteri. Diduga
hal ini disebabkan oleh hambatan sefiksim yang mengakibatkan dinding sel menjadi
lebih berpori sehingga terjadi kebocoran inhibitor otolisin lebih efektif.
Peptidoglikan/otolisin hidrolase endogen merupakan mediator penting pada kematian
sel setelah paparan oleh antibiotika ini. Lisisnya bakteri akibat sefiksim ini tergantung
pada aktivitas otolisin hidrolase. Beberapa bukti menunjukkan bahwa sefiksim yang
berkaitan dengan PBP 1 menyebabkan hilangnya hambatan terhadap otolisin.
Sefiksim hanya bersifat bakterisidal bila sel bakteri sedang tumbuh dan mensintesa
pada dinding sel.

3. Keuntungan Terapi Sefiksim pada Demam Tifoid
Hasil penelitian Matsumato K di Jepang pada tahun 1999 menunjukkan bahwa
keuntungan sefiksim pada terapi demam tifoid adalah :
1. Mempunyai daya penetrasi ke dalam sel terinfeksi yang baik sehingga konsentrasi
sefiksim lebih besar daripada kadar hambat minimal untuk S. typhi.
2. Mempunyai efikasi yang tinggi
3. Dapat diberikan pada anak-anak
4. Dapat diberikan secara oral
5. Sefiksim stabil terhadap betalaktamase dan penisilinase

Menurut Hadinegoro kelebihan sefiksim yaitu : dapat menembus jaringan dengan baik
dan dapat melakukan penetrasi ke tempat inflamasi atau makrofag yang terinfeksi
sehingga konsentrasinya di tempat inflamasi > MIC, efektif terhadap S. typhi (MIC 90 <
0,25 ug/ml) dan S. typhi yang resisten terhadap amoksisilin. 4. Efek Samping Sefiksim
Dari beberapa laporan, efek samping sefiksim jarang terjadi. Adapun efek samping
sefiksim sebagai berikut : 1. Renjatan 2. Reaksi hipersensitivitas terutama pada
penderita alergi sefalosporin 3. Granulositopenia, eosinofilia, trombositopenia 4.
Peningkatan SGOT, SGPT, dan laklaifosfotase 5. Gangguan fungsi ginjal 6. Gangguan
pada saluran cerna terutama diare, nyeri abdomen, mual, nafsu makan turun, obstipasi
7. Gangguan pada flora normal mulut antara lain : stomatitis, kandidiasis 8. Defisiensi
vitamin K yang menyebabkan hipoprotrombinemia dan tendensi perdarahan 9.
Defisiensi vitamin B antara lain glositis, stomatitis, neuritis, nafsu makan turun 10. Lain-
lain : sakit kepala, pusing Dosis sefiksim pada penelitian Girgis 10 mg/kg BB/hari dibagi
2 dosis selama 12 hari dengan angka kesembuhan 100 % atau dosis tunggal 25 mg/kg
BB/hari selama 8 hari dengan angka kesembuhan 96 %, Memon menggunakan dosis
10-12 mg/kg BB/hari selama 14 hari dengan angka kesembuhan 95 % dan penelitian
Rabbani menggunakan dosis 10 mh/kg BB/hari dibagi dalam 2 dosis per hari selama 14
hari dengan angka kesembuhan 93,3 %. Pada beberapa penelitian tidak ditemukan efek
samping obat ini, tetapi pada penelitian Talley ditemukan efek samping berupa diare
ringan (13,8 %) dan diare sedang-berat (5 %), nyeri perut (6 %), mual (7 %), muntah
(1,2 %), obstipasi (9 %), sakit kepala (11,6 %) dan pusing (3 %). Pada penelitian WuDH
ditemukan efek samping berupa urtikaria (1,5 %), diare (6,35 %), nyeri perut (0,4 %),
mual (0,09 %), dan obstipasi (1 %). Pada penelitian Bhutta hanya 8 % penderita
mengalami efek samping berupa diare ringan dan pada penelitian Grigis ditemukan
mual, muntah serta nyeri perut ringan sebagai efek samping obat ini selama terapi.
Pada penelitian Fam di Mesir tidak ditemukan adanya efek samping obat maupun
kekambuhan pada anak-anak yang mendapat terapi sefiksim. C. CORTIMOXAZOL
(TRIMETHOPRIM/SULFAMETHOXAZOL = 1 : 5) (Chemotherapeuticum dan
Sulfonamid-Antibioticum, Bactericid) 1. Farmakokinentik a. Trimethoprim (TMP) BM :
290 - Ketersediaan biologik : 100 %. - Volume distribusi : 1,8 l/kg, dalam LCS sampai 50
% dari kadar dalam plasma. - Ikatan protein plasma : 44 %. - Waktu paruh plasma : 10
jam. - Eliminasi : 70 % dieliminasi renal tanpa diubah, sisanya sebagian dimetabolisme
menjadi metabolit yang bersifat aktif farmakologik. b. Sulfamethoxazol (SM) BM : 253 -
Ketersediaan biologik : 100 %. - Volume distribusi : 0,3 l/kg. - Ikatan protein plasma : 65
%. - Waktu paruh plasma : 11 jam. - Eliminasi : 20 % dieliminasi renal tanpa diubah,
sisanya didalam hati dimetabolisme menjadi metabolit yang tidak aktif (Acetylasi dan
Glucuronidasi). 2. Dosis - Pemberian po dibagi dalam pemberian setiap 8 12 jam : a.
Dewasa dan anak > 12 tahun : TMP 320 mg/hari, SM : 1600 mg/hari (dosis harian
maksimal : TMP 480 mg, SM : 2400 mg).
b. Anak > 6 tahun : TMP 160 mg/hari, SM 800 mg/hari.
c. Anak > 2 tahun : TMP 80 mg/hari, SM 400 mg/hari.
d. Anak > tahun : TMP 80 mg/hari, SM 400 mg/hari.
e. Anak > 6 minggu : TMP 40 mg/hari, SM 200 mg/hari.
f. Anak > 6 minggu : tidak ada pemberian TMP dan SM.

- Pemberian parenteral
Pemberian iv paling baik sebagai infus singkat dibagi dalam pemberian setiap 8 12
jam :
- Dewasa dan anak > 12 tahun : TMP 320 mg/hari, SM 1600 mg/hari (dosis harian
maksimal : TMP 480 mg, SM 2400 mg)
- Anak > 6 tahun : TMP 160 mg/hari, SM 800 mg/hari.

3. Kadar Terapeutik di dalam Plasma
- Setelah pemberina po atau iv infus singkat sebesar 160 mg TMP dan 800 mg SM
dicapai kadar didalam plasma untuk TMP sebesar 1,5 4,0 g/ml, dan untuk SM
sebesar 40 100 g/ml.
- Kuman yang rentan : C. diphtheriae, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, N.
gonorrhoeae dan meningitidis, Klebsiella, Streptococcus pneumoniae, Shigella,
Enterobacter, Citrobacter, Acinetobacter, P. mirabilis, Brucella, Chlamydia.
- Kuman yang resisten : Ps. Aeruginosa, jenis bacteroides.

4. Efek yang tak diharapkan
- Sakit dan Thrombophlebitis pada tempat injeksi.
- Mual, muntah, sakit perut, mencret, pada kasus berat : Colitis pseudomembranosa
(terapi : Vancomycin po), Stomatitis, Glositis.
- Ulserasi Oesophagus bila minum obat dengan cairan yang tidak cukup.
- Leukopenia, Thrombopenia, Pancytopenia, sangat jarang : Agranulositosis.
- Jarang : Sakit kepala, pusing, tidak bisa tidur, pendengaran bising, Ataxia, serangan
kram cerebral (terutama pada kelebihan dosis), depresi, hallusinasi.
- Jarang : Hypoprothrombinemia dan kadang terjadi dysfungsi Thrombosit (waktu
Thromboplastin dan waktu perdarahan dikontrol!).
- Peninggian Kreatinin-Serum, Cylindriuria, Kristaluria (keluar kristal sulfonamid didalam
urin).
- Jarang : peninggian Transaminase, hepatitis cholestatik, nekrose hati, pancreatitis.
- Penting dalam klinik : Exanthema, Urticaria, rangsangan gatal, demam,
photosensibilitas, jarang : Anaphylaxie, dermatitis eksfoliativa, Stevens-Johnson-
Syndrom, Vasculitis nekroticans, SLE.
- Oleh karena kandungan Natriumdisulfit dan Natriumsulfit dalam cairan infus dapat
menimbulkan reaksi hypersensitifitas dan serangan Asthma akut terutama pada pasien
disposisi.

5. Interaksi Obat
- Antacida menurunkan resorpsi Sulfonamid.
- Peningkatan efek dari Antikoagulant oral, Antidiabetica oral, Methotrexat, Phenytoin,
Phenylbutazon.
- Pada pemberian yang bersamaan dengan Diuretica Thiazid terutama pada pasien tua
meningkatkan insiden Thrombopenia.
- Meningkatkan insiden suatu Anemia megaloblastik, melalui obat yang dapat
menyebabkan kekurangan Asam Folat seperti misalnya Chloroquin, Pyrimethamin (> 25
mg/minggu), Phenytoin, Phenobarbital, Primidon, Methotrexat.
- Reaksi penolakan dari Alkohol dipte Disulfiram.
- Allergi silang dari Sulfonamid dengan Antidiabetica oran (derivat Sulfonylurea) adalah
mungkin.

6. Merek Preparat
- Bactricid/forte (Tab TM 80 mg SMZ 400 mg, kaplet forte TM 160 mg SMZ 800 mg,
paed tab TM 20 mg SMZ 100 mg, Syrup TM 40mg SMZ 200 mg/5 ml).
- Bactrim (tab TM 80 SMZ 400 mg, paed tab TM 20 mg SMZ 100 mg, tab forte TM 160
SMZ 800 mg, syrup TM 40 mg SMZ 200 mg/5 ml).
- Bactrim im/iv (Inj. im amp. 3 ml : TM 160 mg SMZ 800 mg, Inj. iv amp., 5 ml : TM 80
mg SMZ 400 mg).
- Cotrimol (caps /10 ml syrup : TM 80 mg SMZ 400 mg).
- Decatrim (tab TM 80 mg SMZ 400 mg, paed tab TM 20 mg SMZ 100 mg, syrup per 5
ml TM 40 mg SMZ 200 mg).
- Kotrimoksazol (tab TM 80 mg SMZ 400 mg, paed tab TM 20 mg SMZ 100 mg).
- Ottoprim (tab TM 80 mg SMZ 400 mg, pae TM 20 mg SMZ 100 mg).
- Primadex (Kaplet TM 80 mg SMZ 400 mg, 5 ml syrup TM 40 mg SMZ 200 mg).
- Sanprima (tab TM 80 mg SMZ 400 mg, 5 ml syrup TM 40 mg SMZ 200 mg).

D. AMPISILINA (Amino-Penici;;in, Bactericid)
1. Farmakokinentik BM : 349
- Ketersediaan biologik : 100 %.
- Volume distribusi : 0,3 l/kg (pada anak-anak : 0,75 l/kg). Masuk ke dalam LCS hanya
pada peradangan Mening.
- Ikatan protein plasma : 20 %.
- Waktu paruh plasma : 1,5 jam (bayi baru lahir : 3,5 jam).
- Eliminasi : 80 % dieliminasi oleh ginjal dalam keadaan tak diubah, sisanya
dimetabolisme di dalam hati menjadi metabolit yang tidak aktif dan sebagian dieliminasi
ke dalam empedu, sirkulasi enterohepatik. Ampicillin dapat didialisa.

2. Dosis
- Pemberian iv paling baik sebagai infus singkat dibagi dalam pemberian setiap 6-8 jam :
a. Dewasa : 2-8 g/hari (sampai 15 g/hari).
b. Anak : 100-200 (sampai 400 mg/kg/hari).
- Pemberian po dalam lambung yang kosong dibagi dalam pemberian setiap 6-8 jam
sekitar jam sebelum makan :

a. Dewasa : 2-4 (kadang samapi 8) g/hari)
b. Anak : 100-200 mg/kg/hari.
- 1 g Ampicillin mengandung 2,7 mval Natrium.

3. Kadar Terapeutik dalam Plasma
- Pada pemberian 0,5 g Ampicillin po setelah 2 jam akan dicapai kadar di dalam plasma
sebesar 3 g/ml, pada pemberian 0,5 g iv setelah 1 jam mencapai 8 g/ml. Kadar di
dalam urin sekitar 50 kali lebnih tinggi.
- KHM (Kadar Hambat Minimal) < 2 g/ml : Streptococcus, Entercoccus,
Meningococcus, Pneumococcus, H. Influenzae, Shigella, Listeria monocutogenes,
Clostridia. - KHM < 6 g/ml : E. Coli, P. mirabilis, beberapa jenis Salmonella. - KHM >
250 g/ml : S. aureus yang membentuk -Lactamase, Ps. Aeruginosa, Jenis Proteus,
Klebsiella, Acinetobacter.

4. Efek yang tak diharapkan
- Sakit dan Thrombophlebitis pada tempat injeksi.
- Mencret, pada kasus berat : Colitis pseudomembranosa (penanganan : pemberian
Vancomycin po).
- Mual, muntah, lambung terasa terbakar, sakit epigastrium.
- Irritasi neuromuskuler, hallusinasi (khusus penglihatan dan pendengaran) sampai
dengan serangan kram cerebral (hanya pada dosis yang tinggi dan fungsi ginjal yang
menurun).
- Neutropenia toksik dan kadang Anemia hemolitik.
- Exanthema macula atau maculopapulosa yang tak mencurigakan pada sekitar 10 %
dari pasien, lebih sering pada Mononukleosis infeksiosa (40-100 %) dan pada
insufisiensi ginjal).
- Manifestasi allergi (keseringannya berkurang dari kiri ke kanan) seperti : Exanthem,
Dermatitis exfoliativa, Stevens-Johnson-Syndrom, Angioedema, Anafilaksi.
- Jarang : Nephropathie allergik atau Nephritis interstitiel.
- Superinfeksi misalnya dengan Candida albicans.

5. Interaksi Obat
- Eliminasi Ampicliin diperlambat pad apemberian yang bersamaan dengan Uricosurica
(misal : Probenecid), Diuretica dan Asam-asam lemah (misalnya Asam Acetylsalicylat,
Phenylbutazon dan sebagainya).
- Pemberian yang bersamaan dengan Antacida-Aluminium tidak menurunkan
ketersediaan biologik dari Ampicillin.
- Pemberian yang bersamaan dengan Allopurinol dapat memudahkan munculnya
reaksi-reaksi kulit allergik.
- Mengurangi keterjaminan kontrasepsi preparat hormon.
- Allergi silang dengan Antibiotika Cephalosporin mungkin.
- Antibiotica Bacteriostatik mengurangi efek bactericidal dari Ampicillin.
- Inkompatibilitas dengan larutan Dextrose.

6. Merek Preparat
- Ampicillin (caps 250 mg, tab 500 mg, inj. 250; 500; 1000 mg, syrup 250 mg/5ml).
- Amfipen (tab 125; 500 mg, caps 250 mg, inj. 250; 500; 1000 mg, syrup 125 mg/5 ml).
- Ampi (caps 250; 500 mg, tab 125 mg, syrup 125 mg/5 ml).
- Ampicen (caps 250; 500 mg, tab 125 mg, syrup 125 mg/5 ml).
- Decapen (caps 250; tab 500 mg, inj. 500; 1000 mg).
- Itrapen (caps 250 mg, syrup 125 mg/5 ml).
- Kalpicillin (tab 125; 500 mg, caps 250; 500 mg, syrup 125 mg/5 ml, inj. 250; 500;
1000 mg).
- Metapen (caps 250; 500 mg, syrup 125 mg/5 ml).






E. AMOKSISILIN
1. Farmakokinentik BM : 365
- Ketersediaan biologik : 90 % (bersamaan dengan makan tidak berkurang).
- Volume distribusi : 0,2 l/kg (pada anak-anak : 0,75 l/kg). Masuk ke dalam LCS hanya
pada peradangan Mening.
- Ikatan protein plasma : 20 %.
- Waktu paruh plasma : 1 jam (bayi baru lahir : 3,5 jam).
- Eliminasi : 80 % dieliminasi oleh ginjal dalam keadaan tak diubah, sisanya
dimetabolisme di dalam hati menjadi metabolit yang tidak aktif.

2. Dosis
- Pemberian iv paling baik sebagai infus singkat dibagi dalam pemberian setiap 6-8 jam :
a. Dewasa : 3-6 (sampai 8) g/hari.
b. Anak-anak > 12 tahun : 2 (sampai 4) g/hari).
c. Anak-anak > 2 tahun : 0,5-1 g/hari.
d. Bayi dan anak kecil : sampai 0,5 g/hari.
- Pemberian po : 1,5-3,0 g/hari dibagi dalam pemberian setiap 8 jam.
- Pemberian po sirup atau suspensi : 50 mg/kg/hari dibagi dalam pemberian 6-12 jam.
- 1 g Amoksisilin menganding 3,4 mval Natrium, Amoksisilin sirup mengandung
karbohidrat.

3. Kadar Terapeutik dalam Plasma
- Pada pemberian 1 g Ampicillin po setelah 1 jam akan dicapai kadar di dalam plasma
sebesar 20 g/ml. Kadar di dalam urin lebih tinggi 50 kali.
- KHM (Kadar Hambat Minimal) < 2 g/ml : Streptococcus, H. Influenzae, S. Typhi,
Entercoccus, Meningococcus, Pneumococcus, Listeria monocutogenes. - KHM < 16
g/ml : N. Gonorrhoeae. - KHM > 125 g/ml : Klebsiella, Bacteriodes Fragilis, beberapa
S. Typhi, N. Gonorrhoeae dan keluarga Haemophilus.
- KHM > 250 mg/ml : S. Aureus, Ps. Aeruinosa, Proteus, E. Coli.

4. Efek yang tak diharapkan
- Sakit dan Thrombophlebitis pada tempat injeksi.
- Mulan, muntah, sakit perut, pada ksus yang berat : Colitis pseudomembranosis
(penangnaan : pemberian po Vankomisin).
- Irritasi neuromuskuler, hallusinasi (khusus penglihatan dan pendengaran) sampai
dengan serangan kejang cerebral (hanya pada dosis yang tinggi dan fungsi ginjal yang
menurun).
- Neutropenia toksik dan kadang Anemia hemolitik.
- Exanthema macula atau maculopapulosa yang tak mencurigakan pada sekitar 10 %
dari pasien, lebih sering pada Mononukleosis infeksiosa (40-100 %) dan pada
insufisiensi ginjal.
- Allergi seperti : gatal-gatal, Urtikaria, penyakit serum, Demam (drug Fieber), Edema,
Anafylaxie.
- Jarang : Nephropathie allergik atau Nephritis interstitiel.
- Superinfeksi misalnya dengan Candida albicans.

5. Interaksi Obat
- Eliminasi Amoksisilin diperlambat pada pemberian yang bersamaan dengan
Uricosurica (misal : Probenecid), Diuretica dan Asam-asam lemah (misalnya Asam
Acetylsalicylat, Phenylbutazon dan sebagainya).
- Pemberian yang bersamaan dengan Antacida-Aluminium tidak menurunkan
ketersediaan biologik dari Amoksisilin.
- Pemberian yang bersamaan dengan Allopurinol dapat memudahkan munculnya
reaksi-reaksi kulit allergik.
- Mengurangi keterjaminan kontrasepsi preparat hormon.
- Allergi silang dengan Antibiotika Sephalosporin, kemungkinan terjadi.
- Antibiotica Bacteriostatik mengurangi bactericidal dari Amoksisilin.
- Inkompatibilitas dengan larutan Dextrose.


6. Merek Preparat
- Abamox (caps 250; 500 mg).
- Amobiotic (caps 250 mg, Susp 125 mg/5 ml).
- Amoxil (caps 250; 500 mg, tab 250 mg, syrup 125 mg/5 ml, syrup forte .250 mg/5 ml,
paed. Drops 125 mg/1,25 ml, Inj. 250 mg)
- Amoxicillin (caps 250; 500 mg, Tab 125 mg, syrup 125 mg/5 ml).
- Amoxsan (caps 250; 500 mg, syrup 125 mg/5 ml).
- Amoxycillin (caps 250; 500 mg, syrup 125 mg/5 ml).
- Decamox (kaplet 350; 500 mg, syrup 125/5 ml, 250 mg/5 ml).
- Intermoxil (caps 250; 500 mg, syrup 125 mg/5 ml).
- Kalmoxillin (caps 250; 500 mg, tab 125 mg, kaplet 500 mg, syrup 125/5 ml).
- Kimoxil (caps 250; 500 mg, syrup 125 mg/5 ml; 250 mg/5 ml)
- Ospamox (caps 250 mg, tab 500 mg, syrup 125; 250 mg/5 ml, drops 100 mg/ml).