Anda di halaman 1dari 5

Nama : Amy Ivani Margaretha Manurung

NPM : 10000015

BAB XI
ETIKA THEOLOGIS PERGAULAN MUDA/MUDI


A.PENGERTIAN CINTA KASIH
1. AGAPE
Adalah Kasih yang bersumber dari Allah, kasih yang suci dan kudus, kasih yang
sudi mengampuni, kasih yang penuh pengorbanan, kasih yang tidak melihat rupa orang,
kasih yang tidak mementingkan diri sendiri,kasih yang sudi melayani bukan untuk
dilayani, dan kasih yang tidak mengharapkan imbalan dari orang yang dikasihi.
2. FILIA
Cinta kasih persahabatan (friendship). Cinta kasih antara sesama dalam pergaulan
sehari-hari, yang mengharapkan imbalan.
3. STORGE
Cinta kasih yang timbul oleh karena hubungan darah, hubungan kekeluargaan
atau marga.
4. EROS
Cinta yang didorong oleh hawa nafsu, termasuk cinta yang terdorong oleh jiwa
materialistis, konsumeritis, alkoholis, dan narkobis.

B. TAHAPAN-TAHAPAN PERGAULAN
I. SIFATNYA TERBATAS PADA PERGAULAN BIASA
Dalam hal ini, hubungan seseorang dengan yang lain masih dalam taraf biasa-
biasa saja tanpa ikatan. Tahapan ini sangat penting karena disina mereka saling mengenal
tanpa ada kaitannya dengan asmara.
Prinsip penting dalam tahapan ini:
a. Untuk Memuliakan Nama Allah
Motif tertinggi yang patut dimiliki orang yang menyebut dirinya orang Kristen
atau anak-anak Allah ialah, melakukan segala sesuatu demi kemuliaan Allah.
b. Demi Kebaikan Bagi Sesama Manusia
Dalam 1 Kor 10:23 Jangan seorang pun yang mencari keuntungan sendiri, tetapi
hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. Daalam hal ini, bahwa
didalam setiap pergaulan, kita tidak boleh merugikan sesame, melainkan melakukan
sesuatu yang mendatangkan berkat bagi sesama.
c. Kebaikan Bagi Diri Sendiri Dan Bagi Sesama
Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia, tetapi harus diingat bahwa tidak
semua yang boleh, dan yang dapat kita lakukan itu yang berguba bagi sesama dan bagi
diri kita sendiri. Oleh karena itu, bila kita hendak melakukan sesuatu, hendaklah kita
melakukan hanya yang berguna dan berkenan bagi Tuhan.

II. PERGAULAN YANG LEBIH AKRAB
Adalah lumrah apabilaada dua jenis manusia yang berbeda jenis menjalin
persahabatan yang lebih akrab.
Prinsip yang penting diingat dalam pergaulan adalah:
a. Saling menghargai dan menghormati.
b. Saling membantu.
c. Tidak iri.
d. Tidak pendendam.
e. Saling menjaga harga diri.
III. MASA BERPACARAN
Suatu pasangan yang sudah ada saling perhatian dan saling pengertian, tentu
mereka ingin mengenal lebih mendalam dengan mengarahkan pikiran kepada suatu
tujuan bersama.
Prinsip penting dalam berpacaran:
a. Tidak melakukan kemesraan yang tidak dapat mengendalikan diri.
b. Harus menjaga kesucian diri masing-masing, di dalam takut akan Tuhan.
c. Dapat menahan diri. Karena hubungan masih tahap pengenalan satu sama lain,
dan masih dapat berpisah, maka masing-masing harus mampu mengendalikan
diri.
IV. MASA BERTUNANGAN
Apabila segala hal terasa sudah cocok dan mantap, maka dapat diadakan ikatan
secara resmi. Ikatan ini membawa meraka menuju pernikahan yang kudus.
Makna pertunangan:
a. Suatu masa ujian untuk saling mengetahui apakah mereka tepat atau cocok
membangun satu rumah tangga.
b. Masa untuk mengenal lebih jauh dan mendalam, baik secara pribadi maupun
secara keluarga, kondisi kesehatan jasmani, dan mental spiritual.
c. Masa untuk saling menyesuaikan diri.
V. PERSIAPAN PERNIKAHAN
Bila sudah tiba pada suatu kesimpulan yang teguh dan mantap dengan keputusan
untuk melangsungkan pernikahan.

C. PERSYARATAN UNTUK MEMILIH JODOH
I. MEMILIKI CINTA DALAM KASIH AGAPE
1. Memiliki cinta kasih agape, berarti tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri
yang bersifat sesaat, tetapi kasih yang lebih mengutamakan kepentingan bersama dan
masa depan.
2. Memiliki cinta kasih yang rela berkoraban demi kebahagiaan bersama, setiap
orang yang mengampuni keputusan untuk menentukan pilihan jodohnya, perlu
mempertimbangkan unsur-unsur dalam cinta kasih Agape.
II. MEMILIKI KESETIAAN ATAU JANJI SETIA
Orang perlu memikirkan soal kesetiaan ini. Orang yang telah jatuh cinta dengan
hati yang tulus perlu belajar setia pada kekasihnya. Orang yang sudah menikah harus
berusaha mewujudkan kesetiaannya.
Dalam mencari jodoh, unsur kesetiaan ini perlu diutamakan. Karena pernikahan
yang tidak didasari dan diwarnai kesetiaan, kurang dapat bertahan. Bila kesetiaan mereka
lemah, maka mudah menyeleweng dan saling mencurigai. Tetapi, bila kesetiaan mereka
kokoh, maka kebahagiaan akan abadi.
III. SATU IMAN KEPADA YESUS KRISTUS
1. Bila seseorang menikah dengan orang yang berbeda agama, pasti akan lebih
banyak kesulitan dari pada kebahagiaan.
Banyak persoalan yang akan muncul karena perbedaan itu. Bias terjadi
perselisihan yang ruwet. Oleh karena itu, dalam pemilihan jodoh, hal ini harus dipikirkan
dengan matang.
2. Kesamaan Agama akan memperkokoh iman dan cinta kasih.
Mereka bias belajar bersama dan bertukar pikiran tentang kebahagian/kesuksesan
keluarga sesuai dengan ajaran agama yang mereka anut, menghadapi godaan dan
tantangan yang sama dengan dasar yang sama yaitu dalam ibadah dan doa di dalam iman
yang sama.
3. Kesamaan iman memperkokoh kebahagiaan rumah tangga.
Iman adalah hakekat hidup orang percaya. Iman adalah dasar pernikahan. Orang
yang seiman dalam pernikahan akan mempunyai dasar yang sama. Iman adalah sumber
pandangan kita tentang makna kehidupan, maka pernikahan, dan makna sex. Iman adalah
sumber ajaran hidup dan nilai-nilai moral. Dari iman timbul pengharapan serta
kebahagian dalam hidup dan pernikahan, diatas kasih yang paling dalam.
4. lebih mudah menolong anak bertumbuh dalam iman.
Orang tua yang berbeda iman akan mengalami kesulitan mendidik anak-anaknya
dalam iman. Bahkan ini bisa menimbulkan ketegangan dan keresahan. Keadaan seperti
ini kurang menolong anak bertumbuh kearah yang lebih baik. Anak mudah belajar dari
pengalaman orang tuanya dalam iman, dan orang tua lebih medah mendidik anaknya.
IV. MASALAH UMUR
Dalam pemilihan jodoh, soal umur perlu mendapat perhatian yang sewajarnya
Hal yang perlu diperhatikan mengenai perbedaan umur:
1. Beda umur yang ideal.
Dalam pernikahan, lebih baik laki-laki lebih tua dari wanita. Dan, pada umumnya
wanita mendambakan laki-laki yang lebih tua dari dirinya. Dengan alasan, agar pria itu
dapat menampakkan sikap dewasa yang melindungi serta sikap kebapakan. Karena, laki-
lakilah yang akan menjadi pemimpin dalam keluarga.
2. Umur yang cukup dewasa.
Keputusan untuk menikah, sebaiknya jangan pada umur yang masih muda.
Idealnya umur laki-laki minimal 30 tahun dan umur perempuan minimal 25 tahun.
Kelemahan pernikahan yang terlalu muda adalah:
a. Bibit yang belum sempurna menghasilkan keturunan yang kurang sempurna.
b. Cara berpikir yang kurang dewasa akan memungkinkan terjadinya tindakan-
tindakan yang gegabah tanpa memikirkan sebab dan akibat tindakannya.
c. Karena emosi belum matang, tidak mustahil sering timbul kesalah pahaman
dan percecokan.
d. Bila kondisi lemah, lalu akan datang persoalan yang bertubi-tubi, dan bias
mengakibatkan shock dalam jiwa dan mental.

3. Perhatian dan kegemaran atau hobby yang sama.
Orang yang mempunyai perhatian dan hobby yang sama, akan lebih mudah saling
mengerti dan bekerja sama satu sama lainnya. Mereka bisa saling tukar pikiran, saling
mengoreksi, saling membantu, saling melengkapi dan saling mendukung, serta saling
mengembangkan karya demi masa depan yang cemerlang.
4. Perbedaan pendidikan yang tidak jauh.
Komunikasi sering menjadi sulit kalau terlalu jauh perbedaan pendidikan di antara
suami dan istri. Suami mungkin sulit mengikuti jalan pikiran istri, atau istri mungkin sulit
mengikuti jalan pikiran suami. Oleh karena itu, sebaiknya jarak pendidikan antara suami
dan istri jangan terlalu jauh.
5. Masa perkenalan yang cukup.
Ada orang yang beberapa bulan berkenalan, lalu diteruskan ke jenjang
perkawinan. Masa perkenalan dan persahabatn yang agak lama diperlukan untuk saling
mengenal dan saling mengerti watak masing-masing. Seseorang haruslah menikah
dengan orang yang benar-benar dikenalnya. Pernikahan sebaiknya dilangsungkan bila
sudah saling cocok dan saling kenal dengan baik.
6. Orang tua.
Dalam pernikahan jodoh perlu diminta pertimbangan orang tua. Tidak ada orang
tua yang mau menjerumuskan anak-anaknya. Namun harus diakui, bahwa sering pilihan
anak berbeda dengan pilihan orang tua. Anak perlu memahami bahwa, persetujuan orang
tua laksana kunci pembukaan kebahagiaan.

D. SIKAP DALAM PERBEDAAN PENDAPAT DENGAN ORANG
TUA
1. UPAYAKAN PENDEKATAN DAN TUKAR PIKIRAN DENGAN ORANG TUA
Bicarakan dengan baik apa masalahnya, maka orang tua tidak setuju. Anak bisa
mengemukakan pendapatnya dengan cara yang baik, sopan santun, hormat dan rendah
hati.
2. PERTIMBANGKAN DENGAN CARA OBJEKTIF
Dalam hal ini, kadang ada pihak yang mempunyai prasangka yang kurang baik
yang hanya menduga-duga saja. Anak perlu mencari pertimbangan yang benar atau
obyektif.
3. HORMATI DAN HARGAI PENDAPAT ORANG TUA
Bagaimanapun, anak harus tetap menghargai dan menghormati pendapat dan
pemikiran orang tua. Anak harus mendengar pendapat orang tua. Menghormati dan
menghargai pendapat orang tua, bukan berarti, harus disetujui secara mutlak.
4. USAHAN PADA AKHIR PERUNDINGAN ADA KESEPAKATAN
Orang tua dan anak harus melakukan perundingan. Dan, diperundingan itu harus
mempunyai kesepakatan. Dengan demikian, sudah ada percakapan atau diskusi yang
baik.
5. BERDOALAH BAGI DIRI SENDIRI,ORANG TUA, DAN CALON TEMAN
HIDUP
Ingat, manusia berencana, namun Tuhanlah yang menentukan.
6. ORANG TUA BISA MENCALONKAN, NAMUN ANAKLAH MEMUTUSKAN
Nasehat dan pertimbangan orang tua jangan diremehkan. Usul dan pendapat
mereka perlu menjadi pertimbangan. Dalam arti, harus tetap di upayahan agar keputusan
anak mendapat persetujuan orang tua.