Anda di halaman 1dari 6

ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM PEMBANGUNAN

KETENAGAKERJAAN PROVINSI JAWA TENGAH


Masalah ketenagakerjaan merupakan masalah yang kompleks dan luas, sehingga bersifat
multi dimensional yang dipengaruhi faktor ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut membutuhkan suatu kebijakan yang komperehensif dan multi
dimensi pula. Oleh karena itu, tidak tepat jika ada anggapan bahwa pemecahan masalah
ketenagakerjaan dapat dilakukan dengan mengandalkan suatu kebijakan tunggal. Demikian juga
halnya dengan aspek kelembagaan fungsional yang terlibat dalam bidang ketenagakerjaan,
adalah suatu hal yang tidak mungkin apabila tanggung jawabnya hanya diletakkan pada satu atau
beberapa instansi saja. Pembangunan ketenagakerjaan harus dilakukan mulai dari hulu hingga
hilir.
Masalah pokok ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Tengah antara lain masih besarnya
jumlah penganggur terbuka dan setengah penganggur, masih rendahnya tingkat produktivitas
tenaga kerja dan masih rendahnya perlindungan dan kesejahteraan pekerja. Penciptaan
kesempatan kerja merupakan salah satu langkah untuk penanggulangan pengangguran. Semakin
banyak kesempatan kerja yang tercipta menyebabkan rendahnya atau berkurangnya
pengangguran. Penciptaan kesempatan kerja di berbagai sektor atau lapangan usaha sangat
diharapkan sehingga memberikan peluang kepada penduduk untuk bekerja. Perkiraan
kesempatan kerja tahun 2014-2018 merupakan perkiraan besarnya peluang kesempatan kerja
pada tahun dimaksud. Kesempatan kerja pada periode tersebut diharapkan akan terus mengalami
peningkatan. Pada tahun 2014 yakni dari 16,46 juta meningkat menjadi 17,14 juta pada tahun
2018, atau mengalami peningkatan sebanyak 675.263 kesempatan kerja.
Sehubungan dengan itu, maka kebijakan komperehensif yang dibutuhkan adalah
kebijakan berkaitan dengan perluasan kesempatan kerja, pembinaan angkatan kerja, peningkatan
perlindungan dan kesejahteraanpekerja, yang secara lebih rinci uraian kebijakan tersebut adalah
sebagai berikut:


1. Rekomendasi Kebijakan Umum
Kebijakan umum adalah kebijakan yang erat kaitannya dengan penciptaan iklim yang
kondusif dalam rangka perluasan dan penciptaan kesempatan kerja. Oleh karena itu,
kebijakan dimaksud harus dikembangkan secara serasi dan terpadu serta saling mendukung
guna perluasan dan penciptaan kesempatan kerja yang produktif dan remuneratif yang
antara lain melalui :
a. Meningkatkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam penyerapan tenaga kerja,
baik regional, nasional maupun internasional;
b. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya pelatihan dan produktivitas;
c. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama dalam penyelenggaraan bursa kerja dan
optimalisasi sistem informasi bursa kerja yang mudah diakses oleh masyarakat;
d. Meningkatkan pengawasan dan perlindungan tenaga kerja sesuai norma hukum yang
berlaku, serta meningkatkan peran lembaga ketenagakerjaan;
e. Menyusun perencanaan tenaga kerja daerah sebagai acuan dalam rangka pelaksanaan
pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan;
f. Peningkatan promosi potensi dan peluang investasi di dalam dan luar negeri secara
selektif dan terpadu serta pengembangan fasilitasi kerjasama berkaitan dengan investasi;
g. Penciptaan iklim investasi yang kondusif untuk realisasi investasi dan menjaga investasi
berkelanjutan;
h. Peningkatan sumberdaya yang mendukung realisasi investasi, maupun sarana dan
prasarana investasi yang memadai.

2. Rekomendasi Kebijakan Perluasan Kesempatan Kerja
Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah dengan daya tarik wisata sehingga
Provinsi Jawa Tengah menjadi tujuan utama para pencari kerja baik dari daerah sekitar
maupun dari luar daerah. Jumlah penganggur terbuka di Provinsi Jawa Tengah ini jumlah
relatif cukup besar, dimana pada tahun 2008 sebanyak 1.227.308 orang dengan tingkat
pengangguran terbuka (TPT) 7,35persen, pada tahun 2009 meningkat dari segi jumlah
menjadi 1.252.267 orang namun TPT menurun menjadi 7,33 persen dan berdasar Sakernas
BPS tahun 2010 jumlah penganggur di Provinsi Jawa Tengah sebesar 1.046.883 orang
dengan TPT 6,21 persen. Selanjutnya penganggur terus mengalami penurunan yaitu pada
tahun 2011 sebesar 1.002.662 orang dengan TPT 5,93 persen, dan pada tahun 2012 menurun
menjadi 962.141 orang dengan TPT 5,63 persen.
Sehubungan banyaknya jumlah pengangguran terbuka, maka kebijakan ketenagakerjaan
perlu diarahkan pada upaya perluasan lapangan kerja yang produktif dan remuneratif
sekaligus mampu menanggulangi penggangur, pembinaan angkatan kerja dan perlindungan
serta peningkatan kesejahteraan pekerja.

3. Sektor Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Perikanan
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi di
Provinsi Jawa Tengah. Tenaga kerja yang terserap di sektor ini cukup besar bila secara
proporsi sektor pertanian berada di urutan pertama penyumbang pertumbuhan perekonomian
Provinsi Jawa Tengah. Tenaga kerja di sektor pertanian ini antara lain sebagai peternak,
petani, penggarap, agro industri dan lain sebagainya. Pada tahun - tahun mendatang
penciptaan kesempatan kerjanya diperkirakan akan terus menurun. Kebijakan sektor
pertanian yang mungkin bisa dilakukan antara lain :
Meningkatkan dan memantapkan produksi melalui penyediaan air irigasi yang
cukup, sarana produksi dan pengamanan pertanaman serta produksi;
Mengembangkan industri pertanian perdesaan melalui pengolahan hasil, manajemen
usaha dan penguatan sistem pemasaran;
Menguatkan kelembagaan petani melalui fasilitasi, bimbingan dan pembinaan;
Penguatan Sistem Kelembagaan Penyuluhan, Pelaku utama (petani) dan Pelaku
usaha di bidang Pertanian;
Pengembangan komoditas dengan peningkatan dukungan terhadap pengelolaan
sumberdaya alam dan lingkungan hidup;
Peningkatan produksi, produktivitas dengan intensifikasi, rehabilitasi, diversifikasi,
integrasi pertanian serta penggunaan benih/bibit unggul;
Fasilitasi penggunaan sarana/prasarana produksi, alat mesin dan pengendalian hama
penyakit;
Peningkatan kemampuan/ketrampilan teknik budidaya, pengelolaan lahan,
kelembagaan, kemitraan, pengolahan hasil, pasca panen dan pemasaran;
Peningkatan pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan dengan melibatkan
partisipasi masyarakat;
Peningkatan produksi hasil hutan non kayu untuk kesejahteraan masyarakat sekitar
hutan;
Pemantapan Kelembagaan dan Pengembangan Jaringan Kerja dan Kemitraan
Penyuluhan Kehutanan;

4. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor ekonomi yang kontribusinya paling rendah dalam PDRB Provinsi Jawa Tengah
adalah sector pertambangan dan penggalian. Keberadaan kontribusi sector pertambangan
dan penggalian relatif sulit dipertahankan dalam jangka menengah hingga jangka panjang
mengingat status sumberdayanya yang tidak dapat diperbaharui. Tetapi meskipun demikian,
sumberdaya bahan galian di Jawa Tengah keberadaannya tidak terlepas dari sejarah geologi
pembentukannya , tatanan geologi Jawa Tengah yang sangat kompleks karena terletak pada
pertemuan 2 lempeng tektonik sehingga sangat memungkinkan terbentuk, terendapkan dan
terakumulasikannya keanekaragaman bahan galian baik jenis, kualitas maupun kuantitasnya.
Kebijakan yang dapat ditempuh di sektor pertambangan dan penggalian antara lain :
Peningkatan SDM Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral;
Peningkatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya mineral serta menerapkan good
mining practice di lokasi tambang yang sudah ada dengan selalu memperhatikan
aspek pembangunan berkelanjutan;
Peningkatan manfaat pertambangan dan nilai tambah serta peluang usaha
pertambangan dengan memperhatikan aspek sosial dan lingkungan hidup;
Peningkatan upaya konservasi air tanah dan keseimbangan daya dukung dan daya
tamping lingkungan;
Penyediaan infrastruktur kelistrikan untuk masyarakat dan industri;
Mendorong pencarian potensi dan cadangan energi baru serta penganekaragaman
pemanfaatan energi baru terbarukan maupun yang tidak terbarukan (energy
alternatif) ;
Peningkatan konservasi energi untuk menjamin generasi yang akan datang;
Peningkatan pengawasan dalam distribusi migas;
Peningkatan pelayanan informasi kawasan yang rentan terhadap bencana geologi dan
pengembangan sistem mitigasi bencana alam.

5. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sektor perdagangan merupakan sektor kedua terbesar penopang pertumbuhan perekonomian
setelah sector pertanian di Provinsi Jawa Tengah, sektor ini mencakup perdagangan besar,
eceran dan rumah makan serta hotel. Kegiatan yang tercakup dalam sektor perdagangan
tergolong sangat luas dan beragam, mulai dari perdagangan kecil seperti warung rokok dan
warung makanan hingga perdagangan besar seperti keagenan dan distributor.
Perdagangan adalah salah satu sektor yang diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja yang
cukup besar selama periode 2014 - 2018 yaitu sebesar 3.266.805 orang. Khusus untuk
kegiatan perdagangan kecil sektor ini mempunyai cirri yaitu seolah tanpa hambatan untuk
dimasuki oleh siapa saja tanpa persyaratan yang berat. Perkembangan usaha perdagangan
eceran khususnya yang tergolong modern, walaupun bersifat padat karya, namun perlu
diwaspadai dampaknya terhadap usaha perdagangan tradisional yang memang lebih ramah
terhadap tenaga kerja. Namun demikian seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan
masyarakat terhadap penyediaan berbagai barang dan jasa yang penyampaiannya adalah
melalui aktivitas perdagangan maka prospek pengembangan usaha perdagangan ini menjadi
cerah. Secara lebih rinci, kebijakan yang perlu ditempuh diantaranya adalah :
Meningkatkan akses dan perluasan pasar produk ekspor serta pengembangan
kerjasama perdagangan internasional yang saling menguntungkan;
Meningkatkan daya saing produk utama ekspor, produk potensial ekspor dan produk
jasa;
Memperkuat kelembagaan usaha perdagangan dan pengembangan jaringan usaha
perdagangan (networking) di dalam negeri dan luar negeri;
Meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem distribusi, tertib niaga, perlindungan
konsumen dan kepastian berusaha;
Mengembangkan prasarana distribusi dan sarana penunjang perdagangan;
Mengembangkan jaringan informasi produksi dan pasar serta pengintegrasian pasar
lokal dan regional;
Meningkatkan pembudayaan penggunaan produksi dalam negeri;
Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) sector perdagangan secara intensif
melalui transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi;

6. Sektor Angkutan dan Komunikasi
Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi yang cukup prospektif disektor angkutan dan
komunikasi. Jika hal ini berhasil dikembangkan. Maka akan berdampak pada tumbuhnya
benyak kesempatan kerja di sektor angkutan dan komunikasi. Untuk itu diperlukan juga
kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan sektor angkutan dan komunikasi
agar berdampak pada perluasan dan penciptaan kesempatan kerja. Berikut adalah beberapa
kebijakan yang dapat ditempuh dalam rangka pembangunan ketenagakerjaan di sektor
angkutan dan komunikasi;
Meningkatkan sarana prasarana lalu lintas, kualitas pelayanan jasa bidang angkutan
jalan dan manajemen rekayasa lalu lintas, serta prasarana
keselamatan sungai danau dan penyeberangan serta Kereta Api.
Meningkatkan sarana dan prasarana perhubungan laut, keselamatan, keamanan serta
ketertiban angkutan laut di Jawa Tengah;
Mengembangkan kapasitas dan kualitas layanan Bandar udara di Jawa Tengah;
Mengembangkan dan meningkatkan teknologi, informasi, telekomunikasi,
metereologi dan SAR.
Memperkuat kemandirian industri telekomunikasi;



RENCANA TENAGA KERJA PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2014-2018
Diterbitkan oleh :
Pusat Perencanaan Tenaga Kerja
Sekretariat Jenderal
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi