Anda di halaman 1dari 8

THERMOREGULASI

Posted: 11 Maret 2011 by henry69irianto in Veterinary


Tag:demam, endoterm, evaporasi, fisiologi, hewan, hipertermia, hipotermia, konduksi, konveksi, lemak coklat,
panas, poikilotherm, radiasi, stress, suhu, termoregulasi, thermoregulasi, tubuh
0
Pengertian
Usaha hewan untuk mempertahankan suhu tubuhnya agar tetap konstan dan tidak terjadi
perbedaan drastis dengan suhu lingkungannya disebut thermoregulasi. Di dalam tubuh hewan
yang hidup selalu terjadi proses metabolisme. Dengan demikian selalu dihasilkan panas,
karena tidak semua energi yang terbentuk dari metabolisme dimanfaatkan. Panas yang
terbentuk dibawa oleh darah ke seluruh tubuh sehingga tubuh menjadi panas dan disebut
sebagai suhu tubuh.
Suhu Tubuh Normal
Suhu tubuh normal adalah panas tubuh yang terdapat dalam zona thermonetral. Suhu inti
tubuh dapat diwakili oleh suhu rektum, karena rektum terhubung dengan rongga dalam tubuh
dan mendapatkan banyak vaskularisasi. Contoh perbedaan suhu organ dalam dengan organ
luar dapat kita bandingkan dari suhu mulut dengan suhu rektum. Suhu mulut normal lebih
rendah 0,5oC.
Adapun suhu tubuh normal dari beberapa hewan adalah sebagai berikut:
- Gajah : 35,7 36,7oC
- Kambing : 38,7 40,7oC
- Sapi perah : 38,0 39,3oC
- Domba : 38,3 39,9oC
- Sapi potong : 36,7 39,1oC
- Anjing : 39,9 39,9oC
- Babi : 38,7 39,8oC
- Kucing : 38,1 39,2oC
Pembentukan Panas Tubuh
y Sumber utama pembentukan panas tubuh adalah
y kontraksi otot kerangka
y proses-proses pencernaan makanan/metabolisme
y mekanisme endokrin (epineprin dan norepineprin) menyebabkan
pembentukan panas yang cepat, tapi juga cepat hilang
y hormon-hormon tiroid menyebabkan kenaikan yang lamban tetapi
lama
y faktor eksternal dari lingkungan luar yang diterima tubuh secara
radiasi, konveksi, dan konduksi
Apabila suhu lingkungan lebih rendah di bawah suhu badan normal, maka
produksi panas otot sangat diperlukan. Jika panas diperlukan, maka serabut otot
berulang-ulang berkontraksi (spasmodik) yang menimbulkan
penggigilan/shivering, guna memproduksi panas yang cukup untuk
mempertahankan suhu badan normal.
Pada mamalia domestik, mamalia yang mengadakan hibernasi, rodensia, bayi
manusia maupun hewan sumber panas adalah sejenis lemak tertentu. Lemak
coklat, yang terletak di antara skapula, daerah aksila, mediastinum, dan
mesenterium dalam abdomen. Lemak coklat berfungsi sebagai sumber panas
untuk melindungi hewan-hewan muda terhadap suhu lingkungan yang rendah.
Lemak ini mempunyai metabolisme yang cepat, yang diibaratkan sep erti selimut
listrik. Lemak coklat tidak ditemukan pada hewan dewasa. Lemak coklat berbeda
dengan lemak putih (jaringan adiposa).
Pelepasan Panas
Panas disingkirkan dari tubuh oleh radiasi dan konduksi (70%), evaporasi
(27%), dan sejumlah kecil panas juga dibuang dalam urine (2%), dan feses
(1%).
1. Radiasi
Yaitu panas dibebaskan atau dikeluarkan dengan cara pemancaran. Perpindahan
panas antara dua benda terjadi tanpa harus ada sentuhan. Contohnya
perpindahan panas dari matahari ke tubuh hewan. Tubuh hew an selain dapat
memancarkan panas juga dapat menyerap panas. Kulit, rambut, dan bulu
merupakan penyerap radiasi yang baik. Kulit dan rambut yang berwarna gelap
akan lebih banyak menyerap radiasi daripada kulit dan rambut yang berwarna
terang.
2. Konduksi
Adalah penghantaran panas yang terjadi karena bersentuhan dengan benda
yang lebih rendah suhunya. Laju aliran panas dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti luas permukaan benda yang saling bersentuhan, perbedaan suhu
awal antara kedua benda, dan konduktivitas panas dari kedua benda tersebut.
Konduktivitas panas merupakan tingkat kemudahan untuk mengalirkan panas
yang dimiliki suatu benda. Setiap benda memiliki konduktivitas yang berbeda.
Hewan memiliki konduktivitas panas yang rendah dengan kata l ain merupakan
penahan panas (isolator) yang baik. Contohnya lagi adalah juga rambut dan
bulu. Karena hal inilah aves dan mamalia yang banyak memiliki bulu dan rambut
hanya akan melepas sejumlah kecil panas dari tubuhnya ke benda lain yang
bersentuhan dengannya.
3. Konveksi
Ialah gerakan molekul -molekul gas atau cairan dengan suhu tertentu ke tempat
lain yang suhunya berbeda, membantu konduksi. Dalam hal ini panas dari tubuh
hewan dapat berpindah ke lingkungan sekitar atau sebaliknya, panas dari
lingkungan yang masuk ke tubuh hewan.
4. Evaporasi
Merupakan proses perubahan benda dari fase cair ke fase gas. Dapat melalui
penguapan lewat kulit dan saluran pernafasan dan dapat juga sebagian kecil
pembebasan panas lewat feses dan urin. Evaporasi merupakan s alah satu
mekanisme penting pada hewan untuk menurunkan suhu/melepaskan panas
dari tubuh. Contohnya saat tubuh panas, hewan akan menanggapi kenaikan
suhu tersebut dengan berkeringat. Keringat yang keluar akan membasahi kulit
dan menyerap kelebihan panas tersebut dan menjadi uap. Setelah keringat
kering suhu tubuh akan turun. Hanya saja tidak semua hewan memiliki kelenjar
keringat. Hewan yang tidak dapat berkeringat seperti anjing akan meningkatkan
penguapan melalui saluran pernapasan mereka. Pada anjing aka n terengah-
engah sambil menjulurkan lidahnya untuk mengurangi panas tubuh.
Kulit merupakan tempat pembuangan panas yang utama, karena 85% dari
panas dibuang oleh tubuh melalui kulit secara radiasi, konveksi, konduksi dan
evaporasi.
Pengeluaran panas dari tubuh tersebut di atas sangat dipengaruhi oleh
temperatur sekelilingnya. Kondisi -kondisi yang dapat mempengaruhi suhu tubuh
sehingga menyebab kan terjadinya variasi suhu tubuh antara lain umur, jenis
kelamin, musim, aktivitas (latihan), iklim, waktu tidur, makan, minum.
Mekanisme Pengaturan Suhu Tubuh
Ada beberapa proses yang dapat mempengaruhi produksi panas tubuh :
y Mekanisme gerakan, misalnya dengan melakukan pemanasan
sebelum melakukan sesuatu kegiatan
y Mekanisme otonom, yakni dengan melakukan percepatan dalam
proses metabolisme energi cadangan, misalnya dengan
mengaktifkan termogenesis lemak coklat.
y Mekanisme adaptif/aklamasi, yakni dengan cara meningkatkan
metabolisme basal
Selain aktivitas metabolisme berpengaruh dalam menetukan suhu tubuh,
mekanisme umpan balik oleh syaraf melalui pusat pengaturan suhu di
hipothalamus juga ikut berperan. Pengaturan suhu tubuh dilakukan oleh
suatu sistem pengatur suhu yang pada dasarnya tersusun dari 3
komponen, yaitu: 1. Termoreseptor dan saraf aferen, 2. Hipotalamus, 3.
Saraf eferen, dan efektor termoregulator. Fungsi utama dari sistem
tersebut adalah menjaga supaya suhu selalu berada dalam zona
termoneutral, jadi berfungsi seperti termostat dengan hipotalamus
sebagai pusat kontrolnya.
Di dalam hipotalamus tedapat reseptor-reseptor yang mendeteksi panas
dan dingin yang masing-masing berlokasi di pars anterior dan pars
posterior. Hipotalamus pars anterior mengatur pembuangan panas dan
mencegah hilangnya panas secara berlebihan dari dalam tubuh, sehingga
apabila bagian ini mengalami kerusakan maka pusat pengatur suhu tubuh
menjadi tidak mampu mengatur suhu tubuh pada lingkungan yang panas,
tetapi tetap mampu mengatur suhu tubuh pada lingkungan yang dingin.
Pada bagian posterior dari hipotalamus berfungsi untuk mengatur
penahan dan produksi, sehingga apabila bagian ini mengalami kerusakan
maka kemampuan hewan menjaga suhu tubuhnya baik dalam lingkungan
yang panas maupun dingin akan menjadi panas.
Ujung-ujung saraf eferen yang berasal dari hipotalamus tersebut akan
terangsang apabila salah satu bagian dari hipotalamus tadi bekerja
(aktif). Rangsangan tersebut akan diubah menjadi impuls dan
selanjutnya saraf eferen akan menghantarkan impuls dari pusat
termoregulasi ke efektor panas dalam proses pembuangan panas dan
efektor dingin dalam proses yang berhubungan dengan produksi panas.
Hewan Homeoterm dan Poikiloterm
Berdasarkan hubungan suhu tubuh dengan suhu lingkungan, hewan dibagi
menjadi dua kelompok. Hewan homeoterm adalah hewan yang mempunyai
serangkaian respon refleks, terutama terintegrasi dalam hipotalamus bekerja
untuk mempertahankan suhu tubuh dalam batas -batas yang sempit meskipun
fluktuasi suhu sekitar besar. Dan hewan poikiloterm adalah hewan yang tidak
dapat mempertahankan suhu tubuhnya terhadap suhu lingkungan sek itarnya.
Bagi kelompok hewan poikiloterm, suhu lingkungan berpengaruh terhadap suhu
tubuh hewan. Suhu organ tubuhnya yang terletak di sebelah dalam misalnya
otak, jantung, hati, usus berbeda dengan suhu organ tubuh luar yang
dipengaruhi oleh suhu sekitarnya. Suhu tubuh hewan ini sedikit di atas atau di
bawah temperatur sekelilingnya, sehingga apabila temperatur lingkungan naik,
maka suhu tubuhnya naik, sedangkan apabila temperatur lingkungannya turun,
suhu tubuhnya ikut turun.
Hewan poikiloterm juga disebut sebagai hewan ektoterm atau hewan berdarah
dingin, karena suhu tubuhnya ditentukan dan dipengaruhi oleh suhu lingkungan
eksternalnya. Yang termasuk dalam golongan ini adalah semua hewan yang
tidak bertulang belakang (invertebrata) dan hewan bertulang bel akang yang
rendah tingkatannya (ikan, amphibi, reptil).
Sedangkan bagi kelompok hewan homeoterm, suhu organ sebelah dalam seperti
jantung, otak, hati, usus sangat kecil perbedaaannya dengan suhu organ yang
terletak di sebelah luar. Suhu hewan ini tidak ter pengaruh oleh suhu lingkungan
luar.
Hewan homeoterm juga disebut endoterm, karena suhu tubuhnya diatur oleh
produksi panas yang terjadi dalam tubuh. Yang rermasuk golongan ini adalah
mamalia dan bangsa burung. Hal tersebut karena mulut selalu terhubung
dengan lingkungan luar tubuh dan terdapat banyak cairan (saliva) yang secara
tidak langsung mengurangi panas yang ada.
Hal yang membedakan dari kedua golongan tersebut adalah sistem pengatur
panas tubuh (thermoregulasi), yang pada hewan poikiloterm belum ber kembang
baik sedangkan pada hewan homeoterm sudah berkembang dengan baik.
Hewan homeoterm adalah hewan yang mempunyai serangkaian respon refleks,
terutama terintegrasi dalam hipotalamus bekerja untuk mempertahankan suhu
tubuh dalam batas-batas yang sempit meskipun fluktuasi suhu sekitar besar.
Suhu tubuh hewan selain dipengaruhi oleh suhu lingkungan/ habitat, juga
dipengaruhi oleh bentuk tubuh, jenis makanan yang dikonsumsi, dan keadaan
lingkungan di sekitarnya. Suhu tubuh pada kebanyakan hewan dipengaruhi oleh
suhu lingkungannya. Ada hewan yang dapat hidup pada suhu -2oC namun ada
juga yang dapat hidup pada suhu 50oC, seperti pada hewan yang hidup di
daerah gurun. Meskipun pada kebanyakan kasus suhu tubuh hewan kebanyakan
dipengaruhi oleh lingkungannya, na mun pada beberapa hewan seperti burung
dan mamalia dapat mengatur suhu tubuh mereka, dan mempertahankannya
agar tetap konstan, meski suhu lingkungan eksternalnya berubah ubah.
Suhu tubuh yang konstan diperlukan pada beberapa hewan karena perubahan
suhu dapat mempengaruhi konformasi protein dan aktivitas enzim. Perubahan
suhu tubuh dapat mempengaruhi laju kecepatan reaksi metabolisme dalam sel.
Secara tidak langsung aktivasi dan aktivitas enzim juga terganggu.
Thermoregulasi Hewan Ektoterm
Seperti yang sudah diketahui bahwa hewan ektoterm suhu tubuhnya
dipengaruhi oleh suhu lingkungannya, maka perolehan panas tubuh bergantung
pada berbagai sumber panas di lingkungan luarnya.
y Termoregulasi pada hewan ektoterm akuatik
Suhu pada lingkungan akuatik relatif stabil sehingga hewan yang hidup di
dalamnya tidak mengalami permasalahan terhadap suhu lingkungan yang
rumit. Dalam lingkungan akuatik tidak dapat terjadi secara evaporasi,
dengan radiasi juga kemungkinan terjadi sangat kecil, karena air
merupakan penyerap radiasi inframerah yang efektif dan juga merupakan
peredam panas yang baik. Pelepasan panas dari tubuh hewan akuatik
(ikan) terutama terjadi melelui insang. Kelebihan panas dari tubuh hewan
akuatik akan diserap atau dihamburkan oleh air sehingga suhu tubuh i kan
akan stabil dan relatif sama dengan suhu air di sekitarnya. Meskipun
hewan poikiloterm memproduksi panas dengan cara metabolisme, namun
karena proses pelepasan panas ke lingkungannya sangat efektif, padahal
hewan akuatik tidak memiliki insulasi yang memadai maka akan
membuat perbedaan suhu tubuh dan lingkungan menjadi sangat kecil. Di
dalam air hanya ada dua parameter yang dapat dimanipulasi untuk
menaikkan panas tubuh yakni total produksi panas yang dinaikkan atau
konduksi panas diturunkan.
Namun pada beberapa jenis ikan seperti ikan hiu dan ikan tuna memiliki
kemampuan untuk mempertahankan adanya perbedaan suhu antara
bagian tubuh yang satu dengan yang lain. Ikan tuna juga mampu
meningkatkan laju reaksi metabolik di tubuhnya, terutama pada otot
yang digunakan untuk berenang dan pada saluran pencernaannya
sehingga bagian tersebut selalu lebih panas dibandingkan bagian tubuh
yang lain. Hal ini karena adanya heat exchanger (penukar panas) pada
tubuh ikan tersebut yang bekerja dengan prinsip counter current (arus
bolak-balik). Selama heat exchanger bekaerja, darah pada pembuluh
arteri yang lebih dingin mengalir dari insang berdampingan dengan
pembuluh vena yang suhunya lebih tinggi, yang mengalir ke insang.
Dengan cara tersebut, panas dapat dipindahkan dari darah vena ke darah
arteri, dan masuk kembali ke dalam organ tubuh sehingga suhu pada otot
renang tetap berkisar antara 12-15oC, lebih tinggi daripada suhu air.
y Termoregulasi pada hewan ektoterm teresterial
Pada hewan poikiloterm yang hidup di darat, seperti katak dan keong,
suhu tubuhnya dapat lebih mendekati suhu udara lingkungannya.
Absorbsi panas melalui radiasi matahari atau dari sumber lain dapat
meningkatkan suhu tubuh di atas suhu lingkungannya. Hewan tersebut
dapat memelihara suhu tubuhnya dengan cara mengurangi penguapan
dan kehilangan panas melalui konduksi, dan memaksimalkan
penambahan panas melalui metabolisme dan radiasi yang dapat
dilakukan secara stimulan. Sekalipun dapat bertahan hidup pada kisaran
suhu tubuh yang relatif luas, hewan memiliki kisaran suhu tubuh tertentu
yang ideal dan lebih disukai yang memungkinkan terselenggaranya
proses fisiologis yang optimal. Kisaran suhu yang lebih luas dan dapat
diterima hewan dinamakan kisaran toleransi termal. Berkaitan dengan
adanya kisaran toleransi termal tersebut dikenal istilah suhu kritis
minimum dan suhu kritis maksimum, yaitu suhu pada titik terendah dan
tertinggi yang terdapat pada kisaran toleransi termal.
Adapun adaptasi yang dilakukan hewan terhadap suhu yang ektrem. Jika
suhu sangat panas, maka hewan tersebut akan meningkatkan laju
pendinginan dengan penguapan melalui kulit (untuk hewan berkulit
lembab seperti katak,cacing), berkeringat untuk hewan berkelenjar
keringat, dan melalui saluran napas pada reptil dan terengah-engah pada
anjing. Selain itu juga dapat dengan mengubah mesin metaboliknya agar
bisa bekerja pada suhu tinggi seperti yang dilakukan reptil/kadal gurun.
Jika suhu sangat dingin maka tubuh hewan tersebut akan menambah zat
terlarut, seperti gula berupa fruktosa atau gliserol ke dalam cairan tubuh
untuk meningkatkan konsentrasi osmotik sehingga titik beku cairan tubuh
dapat diturunkan hingga dibawah 0 oC.
Thermoregulasi Pada Hewan Endoterm
Hewan endoterm merupakan hewan yang panas tubuhnya berasal dari dalam
tubuh, sebagai hasil dari proses metabolisme tubuh. Contoh hewannya yakni
aves dan mamalia, namun ada juga ditemukan kemampuan untuk menjaga
suhu tubuh agar tetap konstan dan tidak terlalu terpengaruh pada suhu
lingkungan ini pada ular phiton dan ikan tuna.
Pada hewan endoterm sejati seperti aves dan mamalia, dapat ditemukan adanya
variasi suhu tubuh yang cukup besar. Cara mempertahankan suhu tubuh pada
hewan ini pada dasarnya dilakukan dengan menyeimbangkan pembentukan dan
pelepasan panas.
Saat suhu tubuh terlalu tinggi hewan akan melepaskan kelebihan panas dengan
vasodilatasi daerah perifer tubuh, berkeringat atau terengah -engah,
menurunkan laju metabolisme misalnya dengan menekan sekresi tiroksin, dan
dengan respon perilaku seperti berendam di air, mencari udara sejuk d an lain-
lain.
Sedang saat tubuh kedinginan maka tubuh akan melakukan vasokontriksi,
menegakkan rambut (merinding), menggigil (shivering), meningkatkan laju
metabolisme dengan sekresi tiroksin, dan dengan respon perilaku seperti
mencari dan membuat tempat yang hangat, berjemur sinar matahari, pada
beberapa hewan dapat masuk pada kondisi heterotermi (yakni
meempertahankan adanya perbedaan suhu di antara berbagai bagian tubuh
seperti yang dilakukan burung dan mamalia kutub), dan melakukan hibernasi
atau torpor. Dengan demikian hewan tersebut akan dapat beradaptasi dengan
berbagai keaaan lingkungan. Adapun komponen yang diperlukan untuk
menyelenggarakan pengendalian suhu tubuh hewan, yakni reseptor
(termoreseptor), komparator (koordinator berupa otak [hipothalamus]), dan
efektor. Ada dua reseptor yakni reseptor panas dan dingin. Pada saat ada
rangsang berupa peningkatan suhu tubuh, reseptor panas akan terdepolarisasi,
sedang reseptor dingin akan menghasilkan potensial aksi hanya jika ada
rangsang berupa penurunan suhu. Reseptor tersebut ada di hipothalamus dan
kulit, keduanya sangat penting untuk memantau perubahan suhu di pusat
maupun di luar tubuh.
Aklimatisasi
Adalah penyesuaian tubuh terhadap suhu sekeliling dalam waktu yang lama
(adaptasi) ini akan menghasilkan penurunan sifat-sifat fisiologik sebagai hasil
kehidupan hewan dalam suhu sekeliling yang cukup dingin/panas dalam waktu
yang berkepanjangan.
Penyesuaian fisiologik terhadap udara dingin yang dingin dapat dibagi dalam tiga
kategori:
Terhadap perubahan yang terjadi selama udara dingin dalam beberapa minggu
apabila faktor lain tidak berubah (aklimasi dingin/cold acclimation)
Modifikasi yang berkembang secara perlahan-lahan selama perubahan musim
yang berjalan perlahan-lahan, dari iklim panas ke iklim winter (aklimatisasi
dingin/cold acclimatization)
Perubahan genetik dalam hewan lebih dari beberapa generasi akibat hasil seleksi
sehingga menghasilkan individu yang mampu hidup dengan wajar dalam iklim
yang dingin (adaptasi klimatik/climatic adaptation)
Aklimatisasi terhadap suhu sekeliling yang cukup panas :
Turunnya nafsu makan, turunnya aktivitas kelenjar tiroid, turunnya produksi
panas dan turunnya ketebalan bulu.
- Umumnya daya tahan hewan terhadap aklimatisasi terhadap suhu sekeliling
yang cukup panas jauh lebih rendah dibanding terhadap suhu sekeliling yang
cukup dingin.
Hipotermia
Hewan yang hidup dalam cold stress atau zona hipotermia maka hewan untuk
sementara masih mampu melakukan proses-proses metabolisme di samping
menaikkan isolator (isolasi).
Suhu tubuh demikian rendahnya, mengakibatkan jantung berdenyut secara
perlahan dibarengi dengan hemokonsentrasi (kepekatan darah bertambah).
Akibatnya proses metabolisme di dalam otak berhenti, hilangnya kesadaran,
berhentinya denyut jantung yang diikuti dengan terdepresnya respirasi dan
biasanya diikuti dengan kematian.
Hipertermia
Hewan yang hidup dalam heat stress, biasanya tidak mampu bertahan dalam
waktu lama.
Mula-mula hewan masih dapat mengatur suhu tubuhnya dengan cara melakukan
perkeringatan yang kemudian dilanjutkan dengan panting. Pengaruh panas yang
tinggi menyebabkan kerusakan protein termasuk enzim metabolisme, maka
hewan dengan cepat akan kehabisan tenaga.
Biasanya kematian akan lebih cepat terjadi dibandingkan dengan pada keadaan
hipotermia.
Demam
Meningkatnya suhu tubuh di atas normal, yang merupakan suatu tanda/gejala
dari penyakit. Sebagai respon terhadap infeksi atau penyakit -penyakit lainnya,
terjadi pada mamalia maupun burung, reptilia, amphibia, dan ikan.
Apabila diperlukan kehilangan panas (misalnya panas diperoleh dari
exercise/latihan), maka pembuluh darah kulit a kan berdilatasi sehingga aliran
darah meningkat akibatnya panas hilang dengan cara radiasi. Akan tetapi
apabila dengan cara radiasi masih kurang maka kelenjar keringat dirangsang
untuk melepaskan panas secara evasporasi.
Sebaliknya, untuk memperoleh panas (misalnya karena suhu lingkungan yang
rendah), pembuluh darah kulit berkonstriksi dan aliran darah kulit menurun.
Dengan demikian kehilangan panas secara radiasi dikurangi. Jika panas perlu
dihasilkan, terdapat konstraksi serabut otot berulang -ulang (spasmodik) yang
menimbulkan penggigilan. Semua fenomena fisiologis ini diproduksi selama
demam, sering dengan urutan yang cepat. Penggigilan ini dikenal sebagai rigor.
Pada hewan homeoterm, mekanisme thermoregulasinya bertindak seperti
disesuaikan untuk mempertahankan suhu tubuhnya pada suhu yang lebih tinggi
daripada normal. Yaitu thermostatnya dipasang pada titik yang baru di atas
37oC.
Suhu yang tinggi akan membahayakan hewan. Apabila suhu rektum lebih dari
41oC untuk waktu yang lama, akan mengakibatkan beber apa kerusakan otak
yang menetap. Apabila suhu rektum lebih dari 43oC, akan timbul pukulan panas
(heat stroke), yang biasanya mendatangkan kematian.
Daftar Pustaka
Frandson, R. D.1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Guyton, Arthur C.1988. Buku Teks Fisiologi Kedokteran.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Isnaeni, Wiwi.2002. Fisiologi Hewan.Jakarta:Kanisius