Anda di halaman 1dari 37

GEOLISTRIK-01

PENDAHULUAN

Dalam geofisika eksplorasi terdapat beberapa metode geofisika yang dapat
dimanfaatkan untuk mempelajari sifat-sifat fisik dan struktur kerak bumi yang bertujuan
untuk mencari sumber daya alam. Salah satu metode geofisika tersebut, diantaranya
metode geolistrik.
Metode geolistrik merupakan salah satu metode geofisika yang mempelajari sifat aliran
listrik didalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya dipermukaan bumi. Parameter
yang diukur dalam pengukuran geolistrik, diantaranya : potensial, arus dan medan
elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah ataupun akibat injeksi arus ke dalam
bumi. Ada beberapa metode geolistrik, yaitu : resistivitas (tahanan jenis), Induced
Polarization (IP), Self Potensial (SP), magnetotellurik dan lain-lain.
Prinsip kerja metode geolistrik resistivitas, arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi
melalui dua elektroda arus, beda potensial yang terjadi diukur melalui dua elektroda
potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda
yang berbeda kemudian dapat diturunkan variasi harga hambatan jenis masing-masing
lapisan dibawah titik ukur.
Metode geolistrik digunakan untuk eksplorasi mineral, reservoar air, geothermal, gas
biogenik, kedalaman batuan dasar dan lain-lain.

1.1. Metode Resistivitas Bumi
Prinsip dasar metode ini yaitu mengalirkan/menginjeksikan arus listrik buatan
berfrekwensi rendah kedalam bumi melalui dua elektroda, yang dinamai elektroda arus,
dan distribusi potensial yang dihasilkan, diukur oleh dua elektroda potensial. Besarnya
potensial pada penetrasi yang sama, tergantung pada pengaturan jarak antara elektroda
sesuai dengan keperluan. Pengaturan ini pada dasarnya dapat dikelompokan kedalam
tiga kelompok berdasarkan pada kuantitas fisik yang diukur, yaitu :
1. Pengaturan yang bertujuan mencatat gradien potensial dengan menggunakan
pasangan elektoda yang berjarak rapat. Contohnya konfigurasi Schlumberger.
2. Pengaturan yang bertujuan mencatat perbedaan potensial antara dua elektroda
pengukur dengan jarak lebar. Contohnya konfigurasi Wenner.
3. Pengaturan yang bertujuan mencatat kelengkungan fungsi-fungsi potensial
dengan menggunaka pasangan elektroda arus maupun pengukur yang dipasang
rapat. Contohnya konfigurasi Pole-Dipole

Pada pengukuran dengan menggunakan metode tahanan jenis menggunakan suatu
anggapan (asumsi) bahwa :
1. Di bawah permukaan tanah terdiri dari lapisan-lapisan dengan ketebalan tertentu
kecuali lapisan terbawah mempunyai ketebalan tidak berhingga.
2. Bidang batas antar lapisan horizontal.
3. Setiap lapisan homogen dan isotropis.

1.1.1 Sifat Resistivitas Batuan
Pada kebanyakan batuan , sifat kelistrikan dihasilkan oleh listrik alami yang terbawa
oleh cairan dan nilai resistivitasnya lebih terkendali oleh nilai porositas dan kandungan
air. Batuan yang mengandung air memiliki resistivitas yang lebih rendah dibandingkan
batuan yang tidak mengandung air dan batuan kering. Berdasarkan harga resistivitas,
batuan/mineral digolongkan menjadi tiga bagian, seperti ditunjukkan pada Tabel 1.1
Tabel 1.1. Nilai resistivitas



Harga resistivitas
( Ohm meter )
Konduktor Baik 10 -8 < < 1
Konduktor Pertengahan 1 < < 10 7
Isolator < 10 7

1.1.2 Sifat Konduktivitas Batuan
Dalam metode resistivity, sifat konduktivitas listrik sangat penting, setiap batuan
mempunyai perbedaan sifat kelistrikan. Aliran arus listrik di dalam batuan dapat
digolongkan menjadi tiga, yaitu ;
1. Konduksi secara elektronik
2. Konduksi secara elektrolitik
3. Konduksi secara dielektrik

1.1.3 Aliran Listrik pada Media Homogen Isotropis
Apabila arus kontinu yang mengalir serba sama (homogen) disemua tempat dan yang
sifatnya terhadap arus listrik serba sama di semua arah (isotropik). Seperti halnya dalam
kawat konduktor maka untuk model bumi semacam ini berlaku hukum Ohm:
(1.1)
dengan
= rapat arus (ampere/meter2)
= intensitas medan listrik (volt/meter)
= konduktivitas medium (mho/meter)
Besaran skalar dari medan listrik yaitu potensial listrik V dalam volt, dapat
dinyatakan sebagai minus gradien potensial, yaitu:
(1.2)
sehingga hukum Ohm dapat dituliskan sebagai :
(1.3)
Apabila arus mengalir pada medium homogen isotropis sehingga hukum kekekalan
muatan yang secara matematis dapat dituliskan :
(1.4)
dengan q = rapat muatan (C/m3).
Persamaan (1.4) disebut sebagai persamaan kontinuitas, bila dianggap muatannya
tetap, berarti tidak ada arus listrik yang masuk, sehingga persamaan (1.4) menjadi :
(1.5)
Dengan mensubstitusikan persamaan (1.3) dan (1.5) akan diperoleh persamaan :
(1.6)
Persamaan di atas berlaku untuk sembarang volume.
Bila mediumnya homogen isotropik, tidak bergantung pada sistem koordinat, dengan
, maka potensial skalar V memenuhi persamaan Laplace yang menyatakan
distribusi potensial dari arus searah :
(1.7)

1.1.4 Potensial oleh Sumber Arus Tunggal di Permukaan Medium Homogen
Isotropis
Permasalahan potensial yang disebabkan oleh adanya suatu sumber arus tunggal di
permukaan medium homogen isotropis, dimana sumber arus tersebut timbul karena
digunakannya suatu elektroda yang mengalirkan arus I yang tersebar ke semua arah
sama besar, maka besarnya potensial dapat ditentukan. Dalam kasus seperti ini
solusinya menggunakan persamaan Laplace.
Persamaan Laplace yang berhubungan dengan kondisi ini dapat dituliskan dalam sistem
koordinat bola, yaitu :
(1.8)


Gambar 1.1 Arus tunggal di Permukaan Medium Homogen Isotropis
(Sumber : Telford et al., 1976)

Karena disini hanya ada arus tunggal maka arus mengalir simetris terhadap arah dan
, sehingga potensial jelas hanya bergantung terhadap jarak dari sumber.
Persamaan (1.8) menjadi :
(1.9)
Persamaan diatas dapat diintegrasi secara langsung dan memberikan solusi :
(1.10)
Diintegrasi lagi menjadi:
(1.11)
dengan C
2
dan C
1
konstanta integrasi yang dapat dicari dengan syarat fisis : pada jarak
yang jauh dari titik sumber (r ~ ) maka V = 0 maka C1 = 0.
Persamaan (1.11) akan berubah menjadi :
(1.12)
Dari persamaan (1.12) tampak bahwa permukaan equipotensialnya berupa permukaan
bola dengan aliran arus dan medan listriknya berarah radial. Oleh karena harga
konduktivitas udara sama dengan 0 (nol), maka permukaan equipotensialnya didalam
bumi merupakan setengah bola.
Dari persamaan (1.3) maka rapat arus pada jarak r dari sumber dinyatakan :
(1.13)
Dengan mensubstitusikan persamaan (1.12) ke persamaan (1.13) maka akan diperoleh
(1.14)
Arus total yang menembus permukaan setengah bola dengan jari-jari r adalah :
(1.15)
Besar arus pada persamaan (1.15) akan sama besar dengan arus I yang dimasukkan
melalui titik C, sehingga diperoleh :

atau (1.16)
Apabila persamaan (1.16) disubstitusikan kedalam persamaan (1.12), maka akan
didapatkan :

(1.17)
1.1.5 Potensial oleh Sumber Arus Tunggal di Permukaan Medium Homogen
Isotropis
Pada prinsipnya pengukuran resistivity dengan metode geolistrik adalah
membandingkan potensial suatu titik terhadap titik tertentu, sehingga diperlukan dua
buah elektroda potensial dan elektroda arus, seperti pada gambar 1.2.


Gambar 1.2. Potensial pada dua elektroda arus (a) Dilihat dari arus (b) Penampang
dekat (c) potensial pada permukaan sepanjang garis lurus melalui titik
sumber arus.(Sumber : Telford et a., 1976)
Besar suatu potensial yang disebabkan dua elektroda arus di permukaan akan
dipengaruhi oleh jarak keduanya. Potensial yang disebabkan C1 di titik P1 adalah :
(1.18)
dengan
(1.19)
dan :
V
1
= potensial pada P
1
akibat C
1
(volt)
r
1
= jarak antara C
1
dan P
1
(meter)
Arus pada kedua elektroda adalah sama tapi berlawanan arahnya, maka potensial yang
disebabkan C2 di titik P1 adalah :
(1.20)
dengan
Dengan demikian diperolehakan:
(1.21)
Dengan cara yang sama akan didapat beda potensial antara P
1
dan P
2
adalah:

(1.22)







GEOLISTRIK-02
PENGENALAN ALAT (RESISTIVITY METER)

2.1 Tujuan
1. Mengetahui dan memahami fungsi bagian-bagian alat resistivity meter.
2. Mampu mengoperasikan alat resitivity meter.

2.2 Peralatan
1. Resistivity Meter Naniura NRD22 dan Naniura NRD 300 HF
2. Res & IP Meter Supersting R8 Multichannel

2.3 Teori Dasar
Resistivity Meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur geolistrik tahanan jenis.
Sedangkan alat yang digunakan dalam pengukuran geolistrik induced polarization (IP)
yaitu IP Meter. Di Jurusan Fisika Unpad terdapat 3 buah alat geolistrik, yaitu Resistivity
Meter Naniura NRD22, Resistivity Meter Naniura NRD300HF dan Res & IP Meter
Supersting R8 Multichannel.
Resistivity Meter Naniura NRD300HF dan Naniura NRD22 merupakan alat ukur
geolistrik konvensional yang masih menggunakan 1 channel (Gambar 2.1). Data yang
diperoleh dari pengukuran dengan menggunakan Resistivity Meter Naniura NRD22S
yaitu harga beda potensial (V) dan arus ( I ). Data V dan I ini kemudian diolah untuk
NRD300HF banyak digunakan untuk pengukuran sounding 1D, sedangkan untuk
pengukuran 2D relatif masih jarang digunakan karena harus membuat dahulu geometri
pengukuran (stacking chart), tabel akuisisi, membuat format konversi data lapangan ke
format data software (dilakukan secara manual), dan pelaksanaan pengukuran
dilapangan yang cukup lama. Misalnya untuk pengukuran geolistrik 2D dengan panjang
lintasan 300m dan elektroda 30 buah dan konfigurasi yang digunakan Wenner maka
waktu yang dibutuhkan sekitar 5 s.d. 6 jam tergantung dari kondisi medan dilapangan.

Gambar 2.1 Resistivity Meter Naniura NRD 300Hf
Spesifikasi Resistivity meter Naniura NRD300Hf terdiri dari dua bagian, yaitu :
Pemancar (Transmitter)
Catu Daya / DC in (power supply) : 12V, minimal 6 AH
Daya keluar (output power) : 300 W untuk catu daya > 20A
Tegangan keluar (output voltage) : 500V maksimum
Arus keluar (output current) : 2000mA
Ketelitian arus (currect accuracy) : 1 mA
Sistem pembacaan : Digital
Catu daya digital meter : 9V, baterai kering
Fasilitas : Current loop indicator
Penerima (Receiver)
Impedansi maksimum (input impedance): 10 M Ohm
Batas ukur ukur pembacaan (range) : 0,1 mV s.d. 500V
Ketelitian (accuracy) : 0,1mV
Kompensator kasar : 10 x putar (precision multi turn potensiometer)
Kompensator halus : 1 x putar (wire wound resistor)
Sistem pembacaan : Digital (auto range)
Catu daya digital meter : 3 V ( 2buah baterai kering AA)
Fasilitas pembacaan : Hold (data disimpan di memori)
Massa alat : 5,5 kg
Selain Resistivity Meter Naniura, alat geolistrik yang lebih memudahkan untuk
pengukuran yaitu multichannel 28 electrodes yaitu Res & IP Meter Supersting R8
Multichannel. Res & IP Meter Supersting R8 Multichannel ini merupakan alat yang bisa
digunakan untuk mengukur geolistrik tahanan jenis 1D/2D/3D/4D dan geolistrik
induced polarization (IP) 2D/3D/4D. Data pengukuran yang diperoleh dari alat ini sudah
& IP Meter Supersting R8 Multichannel terdiri dari 1 switch box, 28 elektroda,
bentangan kabel maksimal 945m (Gambar 1.2). Beberapa kelebihan Pengukuran
resistivity 2D/3D dan IP 2D/3D dengan menggunakan alat geolistrik Res & IP Meter
Supersting R8 Multichannel, yaitu :
Pengukurannya relatif lebih cepat dibandingkan menggunakan Resistivity Meter
single channel atau IP Meter single channel. Pengukuran dengan panjang
lintasan 810m s.d. 945m dan 28 elektroda dengan 3 konfigurasi membutuhkan
waktu sekitar 1,5 jam.
Tidak perlu melakukan konversi data secara manual karena sudah tersedia
software akuisisi datanya, yaitu software AGIS Admin.
Hasil pengukuran bisa langsung dilihat di lapangan (quick look).









Gambar 2.2. (a). Satu unit Res & IP R8 Supersting (main unit, Note Book, Switch Box,
Accu, Handy Talky) dan (b) Main Unit Res & IP R8 Supersting
Multichannel

Spesifikasi dari SuperSting Res &IP R8 Meter, yaitu :
Measurement modes
Apparent resistivity, resistance, induced polarization
(IP), battery voltage
Automatic multi-
electrodes
The SuperSting is designed to run dipole-dipole, pole-
dipole, pole-pole, Wenner and Schlumberger surveys
including roll-along surveys completely automatic with
the patented (patent 6,404,203) Swift. Dual Mode
Automatic Multi-electrode system. The SuperSting can
run any other array by using user programmed command
files. These files are ASCII files and can be created using
a regular text editor. The command files are downloaded
to the SuperSting RAM memory and can at any time be
recalled and run. Therefore there is no need for a fragile
computer in the field.
Data storage
Full resolution reading average and error are stored along
with user entered coordinates and time of day for each
measurement. Storage is effected automatically.
Data transmission
RS-232C channel available to dump data from the
instrument to a Windows type computer on user
command.
Dimensions
Width 184 mm (7.25"), length 406 mm (16") and height
273 mm (10.75").
Display
Graphics LCD display (16 lines x 30 characters) with
night light.
Input channels Eight channels
Input gain ranging Automatic, always uses full dynamic range of receiver.
Input impedance >20 M.
IP current transmission ON+, OFF, ON-, OFF
IP time cycles 0.5 s, 1 s, 2 s, 4 s and 8 s
Measure cycles
Running average of measurement displayed after each
cycle. Automatic cycle stop when reading errors fall
below user set limit or user set max cycles are done.
Measurement range +/- 10V
Measuring resolution Max 30 nV, depends on voltage level
Memory capacity
More than 30000 measuring points can be stored in the
internal memory.
Noise suppression
Better than 100 dB at f>20 Hz Better than 120 dB at
power line frequencies (162/3, 20, 50 and 60 Hz).
Operating system
Stored in re-programmable flash memory. New version
can be downloaded from our web site and stored in the
flash memory.
Operating time
Depends on conditions, internal circuitry in auto mode
adjusts current to save energy. At 20 mA output current
and 10 k. electrode resistance more than 2000 cycles are
available from a fully charged battery pack.
Output current 1mA 1.25 A continuous
Output power 200 W
Output voltage
800 Vp-p, actual electrode voltage depends on
transmitted current and ground resistivity.
Power supply, field
12V or 2x12V DC external power, connector on front
panel.
Power supply, office DC power supply
Resistivity time cycles
Basic measure time is 0.4, 0.8, 1.2, 3.6, 7.2 or 14.4 s as
selected by user via keyboard. autoranging and
commutation adds about 1.4 s.
Screen resolution 4 digits in engineering notation
Signal processing
Continuous averaging after each complete cycle. Noise
errors calculated and displayed as percentage of reading.
Reading displayed as resistance (.V/I) and apparent
resistivity (.m). Resistivity is calculated using user
entered electrode array coordinates.
SP compensation
Automatic cancellation of SP voltages during resistivity
measurement. Constant and linearly varying SP cancels
completely.
Supported configurations
Resistance, Schlumberger, Wenner, dipole-dipole, pole-
dipole, pole-pole.
System calibration
Calibration is done digitally by the microprocessor based
on correction values stored in memory.
Total accuracy
Better than 1% of reading in most cases (lab
measurements). Field measurement accuracy depends on
ground noise and resistivity. The instrument will
calculate and display running estimate of measuring
accuracy.
Type of IP measurement
Time domain chargeabilitiy (M), six time slots measured
and stored in Memory
User controls
20 key tactile, weather proof keyboard with alpha
numeric entry keys and function keys. On/off switch
Measure button, integrated within main keyboard. LCD
night light switch (push to light).
Weight 10.7 kg (23.5 lb.)


2.4 Prosedur Pengukuran dengan Menggunakan Resistivity Meter Naniura
Alat resistivity meter diletakkan di tempat yang aman dari sinar matahari langsung.
1. Periksa sumber tegangannya dan baterai analognya (jika baik, harga arus atau
tegangan menunjukkan angka 000.0)
2. Tancapkan elektroda potensial dan arus pada jarak yang telah ditentukan
3. Hubungkan kabel penghubung elektroda potensial dan arus pada alat resistivity
meter (perhatikan tanda + dan jangan sampai tertukar).
4. Perhatikan tanda (jarum) galvanometer pada alat resistivity meter, jika jarum
penunjuk tersebut belum berada pada daerah merah, maka salah satu elektroda
arus belum tertanam dengan baik (kurang dalam).
5. Lihat counter digital tegangan (volt), aturlah kompensator Course(kasar) agar
nilai tegangan mendekati nol. Jika telah mendekati nol putar kompensator Fine
(halus) sampai counter tegangan menunjukkan harga nol.
6. Tekan tombol Start, sebelumnya pastikan tidak ada yang memegang elektroda
arus. Tekanlah tombol start sampai diperoleh harga arus (mA) yang konstan,
setelah itu tekan tombol Hold.
7. Catat data pengukuran I terlebih dahulu kemudian data V, karena hanya data V
saja yang disimpan pada alat.

2.5 Tugas Pendahuluan
1. Bagaimana prinsip kerja alat untuk mengukur metode geolistrik?
2. Jelaskan komponen utama yang diperlukan pada pengukuran dengan metode
geolistrik?
3. Parameter apa saja yang terukur oleh alat Resistivity Meter dan IP Meter ?
4. Sebutkan kelebihan dan kelemahan alat Resistivity Meter single channel dengan
Resistivity Meter Multichannel !

2.6 Tugas Akhir
1. Gambarlah sketsa peralatan resistivity meter dan IP Meter dan jelaskan fungsi
dari bagian-bagian alat tersebut !
2. Parameter apa saja yang perlu diperhatikan pada saat pengambilan data dengan
metode geolistrik?
3. Hal apa saja yang berpengaruh terhadap penggunaan alat geolistrik?











GEOLISTRIK-03
PENGAMBILAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA
GEOLISTRIK


3.1 Tujuan
Memahami cara pengambilan data dengan cara sounding dan mapping dengan
menggunakan konfigurasi Schlumberger, Wenner, Dipole Dipole dan Pole Dipole serta
pengolahan datanya.

3.2 Peralatan
1. Resistivity Meter Nanira NRD300HF dan NRD 22 : 1 buah
2. Kabel arus : 2 gulung
3. Kabel potensial : 2 gulung
4. Elektroda arus : 2 buah
5. Elektroda potensial : 2 buah
6. Alat tulis : 1 set
7. Kalkulator : 1 buah
8. Tabel pengamatan : 2 buah
9. Fotokopi kertas bilog : 2 buah

3.3 Tugas Pendahuluan
Pengambilan data dengan menggunakan metode geolistrik resistivity ada 4 cara.
Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, keempat cara tersebut yaitu: Vertical
Sounding (Resistivity 1D), Resistivity 2D (Gabungan Lateral Mapping dan Vertical
Sounding), Resistivity 3D dan Resistivity 4D (Resistivity 3D + time lapse). Dalam
modul ini hanya membahas pengambilan data Resistivity 1D dan 2D.

3.3.1 Resistivity 1D (Vertical Sounding)
Digunakan untuk mengetahui distribusi harga resistivitas pada suatu titik target
sounding dibawah permukaan bumi. Cara ini dinamakan Sounding 1D karena resolusi
yang dihasilkan hanya bersifat vertikal. Konfigurasi yang digunakan dalam pengukuran
sounding ini dapat menggunakan konfigurasi Schlumberger dan kon- figurasi Wenner.
Konfigurasi Schlumberger bertujuan untuk mencatat gradien potensial atau intensitas
medan listrik dengan menggunakan pasangan elektroda potensial yang berjarak relatif
dekat dibandingkan dengan jarak elektroda arus.
Dalam susunan ini ditempatkan empat elektroda kolinier atau dengan kata lain bahwa
keempat elektroda terletak dalam suatu garis lurus. Susunan elektroda dari konfigurasi
ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Besar tahanan jenis tergantung pada susunan elektroda, faktor ketergantungan ini
disebut sebagai faktor geometris (K). Faktor geometris ini merupakan parameter yang
sangat penting dalam pendugaan geolistrik baik untuk pendugaan vertikal maupun
horizontal, sebab harga K akan tetap untuk posisi C1-C2 dan P1-P2 yang tetap. Jadi
besarnya K tergantung pada kedudukan relatif antara elektroda-elektrodanya.
Perhitungan tahanan jenis semu secara umum dirumuskan sebagai berikut :
(3.1)
Maka faktor geometris untuk konfigurasi Schlumberger adalah:
(3.2)
Selain konfigurasi Schlumberger, Konfigurasi Wenner pun dapat digunakan untuk
pengukuran vertical sounding (gambar 3.2).

Gambar 3.2 Konfigurasi Wenner

Persamaan resistivitasnya dan faktor geometerisnya dirumuskan dengan persamaan
(3.1) dengan
(3.3)
Parameter a merupakan spasi antara dua elektroda
Dalam konfigurasi Wenner ditempatkan empat elektroda dengan spasi yang sama
dengan jarak a. Geometri pengukuran konfigurasi Wenner secara vertical sounding
dapat dilihat pada gambar 3.3. :

Gambar 3.3. Pengukuran Vertikal Sounding dengan menggunakan Konfigurasi
Wenner.

Pengukuran pertama dilakukan dengan membuat spasi (misalnya a : 1 meter) dan
diperoleh satu titik pengukuran. Pengukuran kedua di lakukan dengan membuat spasi
antara C
1
P
1
dan P
2
C
2
menjadi 2a dan seterusnya sampai bentangan maksimal yang
telah ditentukan.
Data sounding 1D dapat diolah secara manual dengan metode curve matching serta
menggunakan software. Beberapa contoh data 1D yang diolah dengan menggunakan
software, di antaranya :
Contoh 1. data pengukuran sounding resistivity 1D untuk eksplorasi batu bara di daerah
Bebatu Kab. Tarakan Kaltim (Budy, Adang, 2006).

Gambar 3.4 Penampang Resisitivity 1D (Sounding) (Budy, Adang, 2006)
Contoh 2. data pengukuran sounding resistivity 1D untuk eksplorasi mangan di daerah
Flores-NTT (Budy, Beni, Y.Budiman, 2007).

Gambar 3.5 Penampang Resisitivity 1D (Sounding) (Budy, Beni, Y.Budiman, 2007)

3.3.2 Resistivity 1D (Vertical Sounding)
Teknik pengukuran secara lateral mapping (2D) digunakan untuk mengetahui sebaran
harga resistivitas pada suatu areal tertentu. Setiap titik target akan dilalui beberapa titik
pengukuran. Ilustrasi cara ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Beberapa konfigurasi elektroda yang bisa digunakan dalam pengukuran lateral mapping
ini, yaitu konfigurasi Wenner, Konfigurasi Pole Dipole, Konfigurasi Schlumberger-
Wenner dan konfigurasi Dipole-Dipole (gambar 3.6).

Gambar 3.6 Geometri Pengukuran Resistivity 2D Dengan Konfigurasi Dipole-Dipole
Rumus persamaan resistivitas dan faktor geometeri untuk konfigurasi Dipole-Dipole,
yaitu :

dengan (3.4)
= resistivitas semu (ohm meter)
V = beda potensial (mvolt)
I = arus listrik (ampere)
K = faktor geometri konfigurasi dipole-dipole
a = jarak spasi elektroda
Beberapa contoh data pengukuran resistivity dan IP yang diolah dengan menggunakan
software Res2Dinv, yaitu:

Contoh 1. Hasil pengukuran resistivity 2D dengan menggunakan alat Resistivity Meter
Naniura NRD22S Multielectrode (15 Electrode) untuk eksplorasi bijih besi di daerah
Pelihari Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan (Budy, Hadi, Y.Budiman, 2006)
(gambar 3.7 dan 3.8).

Gambar 3.7 Penampang Resistivity 2D yang diukur menggunakan Konfigurasi Wenner
untuk eksplorasi Bijih Besi di daerah Pleihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalsel (Budy,
Hadi, Y.Budiman, 2006)

Gambar 3.8 Penampang Resistivity 2D yang diukur menggunakan Konfigurasi Dipole-
Dipole untuk eksplorasi Bijih Besi di daerah Pleihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalsel
(Budy, Hadi, Y.Budiman, 2006)



Contoh 2. Hasil pengukuran resistivity 2D dengan menggunakan alat Naniura
NRD300HF Multielectrode (98 Electrode) untuk eksplorasi mangan di daerah Flores
Nusa Tenggara Timur (Budy, Beni, Y.Budiman, 2007)(gambar 3.9).

Gambar 3.9 Penampang Resistivity 2D yang diukur menggunakan Konfigurasi Dipole-
Dipole untuk eksplorasi Mangan di daerah Flores - NTT (Budy, Y.Budiman, Beni,
2007).
Contoh 3. Hasil pengukuran resistivity 2D dengan menggunakan alat Res dan IP Meter
Supersting R8 Multichannel (28 Electrode) untuk eksplorasi gas biogenik di daerah
Indramayu (Tim KBK Geofisika Unpad - PPPGL, 2006) (gambar 3.10).

Gambar 3.10 Penampang Resistivity 2D yang diukur menggunakan Konfigurasi
Wenner untuk eksplorasi Gasbiogenik di daerah Indramayu, Jawa Barat (Tim KBK
Geofisika Unpad-PPPGL, 2006)
3.3.2.1 Pengolahan Data Geolistrik Resistivity & IP Menggunakan Res2DInv
Interpretasi kualitatif data geolistrik tahanan jenis 2D umumnya dilakukan berdasarkan
pola kontur tahanan jenis semu pada pseudosection. Namun informasi yang diperoleh
kurang optimal mengingat parameter tahanan jenis dan geometric (terutama kedalaman)
anomali bawah permukaan adalah besaran yang bersifat relatif. Interpretasi
menggunakan pemodelan inversi merupakan alternatif untuk memperoleh informasi
tahanan jensi bawah permukaan secara lebih kuantitatif.
Prinsip dasar metode inversi linier kuadrat terkecil adalah modifikasi model awal secara
iteratif hingga diperoleh model yang responsnya cocok dengan data hasil pengamatan.
Modifikasi model didasarkan pada informasi mengenai sensitifitas parameter observasi
(data) terhadap perubahan model. Faktor sensitivitas tersebut terkandung dalam matriks
jacobi yang elemen-elemnnya adalah turunan parsial respons model terhadap parameter
model. Untuk kasus geolistrik 2D perhitungan matriks Jacobi dilakukan secara numerik
menggunakan pendekatan beda-hingga sehingga memerlukan perhitungan forward
modelling dalam jumlah yang cukup besar. Perhitungan respons model tahanan jenis 2D
dilakukan melalui penyelesaian persamaan diferensial yang cukup kompleks
menggunakan metode beda-hingga atau elemen- hingga. Oleh karena itu inversi linier
kuadrat terkecil untuk data geolistrik 2D membutuhkan sumber daya komputasi (waktu
eksekusi dan memori) yang relatif cukup besar.
Loke dan Barker (1995) mengemukakan suatu pendekatan inversi linier kuadrat terkecil
untuk data tahanan jenis 2D yang cukup efisien. Model awal adalah medium homogen
sehingga modifikasi model awal tersebut hanya memerlukan matriks Jacobi untuk
medium homogen pula. Matriks Jacobi untuk medium homogen dengan konfigurasi
elektroda Pole-Pole dapat dihitung secara analitik dan dapat digunakan untuk
menghitung matiriks Jacobi untuk konfigurasi elektroda lainnya (Wenner / Dipole-
Dipole). Hal ini mengingat adanya prinsip superposisi potensial akibat sumber arus dan
titik pengukuran potensial tambahan. Perumusan turunan parsial data terhadap
parameter model untuk menghitung matriks Jacobi medium Homogen secara lengkap
dibahas oleh Loke dan Barker (1995). Untuk mempercepat proses perhitungan inversi
maka elemen-elemen matriks Jacobi untuk berbgai konfigurasi elektroda telah dihitung
terlebih dahulu dan disimpan dalam bentuk file.
Algoritma perhitungan model inversi adalah sebagai berikut :
1. Masukkan adalah vektor data tahanan jenis semu pada pseudosection dalam (d).
Model awal (Po) adalah medium homogen dengan tahanan jenis sama dengan
harga rata-rata data.
2. Hitung vektor respons model awal yo = f (Po) dan selisih antara data dan respons
model tersebut e = d yo. f adalah fungsi pemodelan ke depan (forward modelling
2D). Dalam hal ini yo = Po dan berharga konstan untuk semua elemen vektor
mengingat model awal adalah medium homogen.
3. Baca file matriks Jacobi J untuk konfigurasi elektroda yang sesuai.
4. Hitung vektor koreksi model menggunakan persamaan solusi inversi linier berikut
(3.5)
dengan faktor redaman dan matriks C digunakan untuk memperoleh solusi
dengan variasi spasial minimum atau model yang smooth.
5. Hitung vektor model p1 = po + p sebagai solusi. perhitungan persamaan (3.5)
dapat diulangi dengan menggunakan yang berbeda beda hingga diperoleh
solusi optimum yaitu model yang menghasilkan respons dengan misfit minimum
terhadap data pengamatan.

3.4 Prosedur Percobaan
3.4.1 Pengukuran Resistivity 1D (Sounding)
1. Lakukan pengukuran sounding dengan menggunakan konfigurasi Schlumberger.
2. Pada gambar 3.11, Pengukuran pertama dilakukan dengan membuat jarak (spasi) a.
Dari pengukuran ini diperoleh satu titik pengukuran. Pengukuran kedua dilakukan
dengan membuat jarak (spasi) antara C1 P1 dan P2 C2 menjadi 2a dan
diperoleh titik pengukuran berikutnya.


Gambar 3.11 Geometri pengukuran sounding
3. Lakukan pengukuran sebanyak 2 kali, kemudian catat harganya pada tabel
pengamatan seperti dibawah ini.

4. Setelah itu hitung nilai , kemudian plot harga terhadap AB/2 pada kertas
bilog. Jika dalam pengeplotan terdapat data yang tidak smooth, maka lakukan
pengukuran ulang atau pengukuran overlap.
5. Lakukan pengukuran sampai dengan bentangan yang telah ditentukan.

3.4.2 Pengukuran Resistivity 2D
1. Lakukan pengukuran dengan menggunakan konfigurasi Wenner.

Gambar 3.12 Geometri Pengukuran Resistivity 2D
2. Pada gambar 3.12, geometri pengukuran 2D menggunakan Wenner. Untuk group
pertama (n=1), spasi dibuat bernilai a. Setelah pengukuran pertama dilakukan,
elektroda selanjutnya digeser ke kanan sejauh a (C1 dipindah ke P1, P1 di pindah
ke P2 dan P2 ke C2) sampai jarak maksimum yang diinginkan. Kemudian
dilanjutkan lagi dengan n =2 dengan prosedur pengukuran yang sama.
3. Lakukan pengukuran sebanyak 2 kali, kemudian catat harganya pada tabel
pengamatan dibawah ini.

4. Setelah pengukuran dengan menggunakan konfigurasi Wenner selesai, selanjutnya
cobalah pengukuran dengan menggunakan konfigurasi Dipole-Dipole dan Pole
Dipole.

3.5 Tugas Pendahuluan
1. Sebutkan jenis-jenis konfigurasi dalam metode geolistrik?
2. Turunkan persamaan umum
a
dan K untuk konfigurasi Schlumberger,
Wenner Dipole-Dipole dan Pole Dipole
3. Hitunglah harga K untuk konfigurasi Schlumberger, Wenner dan Dipole-
Dipole!
4. Apakah perbedaan antara pengukuran sounding dan mapping?
5. Apakah tujuan pengukuran overlap pada pengukuran sounding ?
6. Faktor apa saja yang mempengaruhi harga resistivitas ketika pengambilan
data?

3.6 Tugas Akhir
1. Lakukanlah pengukuran sounding (Resistivity 1D) dengan konfigurasi
Schlumberger dan pengukuran Resistivity 2D dengan konfigurasi Wenner dan
Dipole-Dipole! kemudian catat hasilnya pada tabel yang telah disediakan !
2.
analisanya !
3. Berikan interpretasi singkat mengenai data yang telah anda ukur !








GEOLISTRIK-04
PENAFSIRAN DATA LAPANGAN
DENGAN METODE PENCOCOKAN KURVA


4.1 Tujuan
1. Mengerti cara pengolahan data sounding resistivitas dengan menggunakan kurva
matching.
2. Dapat mempresentasikan hasil penafsiran data resistivitas di lapangan.

4.2 Peralatan
1. Kertas bilog
2. Alat tulis
3. Kurva matching

4.3 Teori Dasar
Interpretasi geolistrik resistivity dapat dilakukan dengan metode pencocokan kurva
(Curve Matching/ the auxiliary point method) yang bisa dilakukan secara manual
ataupun komputeriasi. Secara manual bisa dilakukan dengan menggunakan curve
matching (metode pencocokan kurva), sedangkan secara komputerisasi dapat dilakukan
dengan menggunakan program Resint, Resis, Resix, Resty, Progress, Earth Imager 1D
dan lain-lain. Untuk pengolahan data menggunakan software dilakukan pada praktikum
geofisika 4.
Dalam pengukuran dengan menggunakan metode geolistrik resistivity, hasil
pengukurannya masih merupakan tahanan jenis semu. Tahanan jenis terukur diplot
sebagai fungsi jarak elektroda memiliki bentuk yang sama dengan lengkung teoritik jika
diplot dalam skala yang sama. Lengkung ini dapat dibandingkan langsung dengan
lengkung teoritik dengan cara superposisi dengan sumbu tegak dan datar, dengan
menjaga agar kedua lengkung tersebut tetap sejajar. Kurva lapangan ini
menggambarkan susunan batuan yang ada di bawah permukaan.
Dalam melakukan interpretasi kurva lapangan dilakukan dengan mencocokkannya
terhadap kurva induk dua lapis (teoritik). Untuk interpretasi kurva lapangan yang terdiri
dari beberapa lapisan dapat digunakan kurva induk dua lapis dan diperlukan kurva
bantu. Kurva bantu diturunkan secara reduksi dimana anggapan bahwa lapisan-lapisan
bumi yang homogen dan isotropis diganti dengan suatu lapisan
Macam-macam kurva bantu dibedakan menjadi 4 jenis:
1. Kurva bantu tipe A ; Bentuk kurva monoton naik. Bentuk kurva semacam ini dapat
dihubungkan dengan perubahan resistivitas
1
<
2
<
3.

2. Kurva bantu tipe H ; Kurva lapangan mempunyai bentuk yang mengandung
minimum. Hal ini dihubungkan dengan adanya urutan tiga lapisan yang
resistivitasnya berubah menurut:
1
>
2
>
3

3. Kurva bantu tipe K ; Kurva lapangan mempunyai bentuk yang mengandung
maksimum, dan dihubungkan dengan adanya urutan tiga lapisan yang
resistivitasnya berubah menurut:
1
<
2
>
3
.
4. Kurva bantu tipe Q ; Tipe kurva ini kebalikan dari kurva tipe A, bentuknya
monoton turun dan dapat dihubungkan dengan perubahan keadaan resistivitasnya
dimana
1
>
2
>
3


Gambar 4.1 Kurva Bantu(Sumber : Telford et al, 1976)
4.4 Prosedur Percobaan
4.4.1 Kurva matching
Tahapan ini dilakukan untuk menentukan harga resistivitas masing-masing lapisan
dengan menggunakan kurva standar dan kurva bantu (Partial Matching Curve).
Tahapannya sebagai berikut ;
1. Plot data lapangan dimana harga a sebagai sumbu Y dan jarak elektroda arus
(AB/2) sebagai sumbu X pada kertas bilog.
2. Cocokkan segmen kurva yang berspasi pendek dengan kurva standar dua lapis.
Setelah cocok, kedudukan pusat koordinat kurva standar pada kertas bilog
lapangan akan memberikan data d1 dan d2 dengan menggunakan perbandingan
1
/

2
yang terbaca pada kurva yang cocok, sehingga
2
dapat ditentukan.
3. Untuk menginterpretasikan segmen-segmen kurva selanjutnya, gabungkan lapisan-
lapisan sebelumnya yang sudah diketahui harga resistivitasnya dan kedalamannya
menjadi satu lapisan fiktif yang mempunyai resistivitas dan ketebalan d yang
masing - masing dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut ;
a. Letakkan kurva lapangan di atas kurva bantu yang sesuai dengan tipenya
sehingga pusat koordinat kurva bantu terletak pada koordinat (d, ) pada kertas
bilog lapangan.
b. Tentukan kedudukan (df0, f0) yang sesuai dengan perbandingan resistivitas
kedua lapisan yang digabungkan (berupa garis).
c. Cocokan segmen kurva berikutnya dengan kurva standard harus selalu berada
pada tempat kedudukan d
f0
dan
f0
dapat ditentukan. Dalam hal ini
perbandingan
3
/
f0
dengan demikian
3
dapat diketahui.
d. Jika jumlah lapisan lebih dari tiga lapisan, maka ulangilah cara tersebut diatas
untuk meneruskan pencocokan segmen-segmen berikutnya.



4.5 Tugas Pendahuluan
1. Apa yang dimaksud dengan pseudo resistivity?
2. Apa fungsi
a
dan sebenarnya dalam proses interpretasi ?
3. Parameter apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat kurva matching?
4. Mengapa jika kita mendapatkan kurva lapangan yang memiliki kemiringan > 45o
tidak dapat diproses lebih lanjut !

4.6 Tugas Akhir
Buatlah kurva matching dan hitung harga sebenarnya dan ketebalan (d) tiap lapisan
berdasarkan hasil matching diatas untuk masing-masing titik sounding! Kemudian
buatlah analisanya!















GEOLISTRIK-05
PENAMPANG 2D TAHANAN JENIS DAN PETA 3D
ISO TAHANAN JENIS


5.1 Tujuan
1. Dapat membuat penampang 2D tahanan jenis semu (Pseudosection) dan
penampang 2D tahanan jenis sebenarnya.
2. Dapat melakukan penafsiran dari penampang 2D tahanan jenis sebenarnya.
3. Dapat menganalisa penyebaran variasi tahanan jenis semu secara lateral.
4. Dapat memetakan variasi tahanan jenis semu secara horizontal dan membuat peta
iso tahanan jenis.

5.2 Peralatan
1. Alat tulis : 1 set
2. Kertas milimeter : 3 lembar
3. Pensil warna : 1 set

5.3 Teori Dasar
Lintasan pengukuran geolistrik terdiri dari beberapa titik sounding. Jika titik-titik
sounding suatu lintasan dikorelasikan dan digabung dengan titik-titik sounding semua
lintasan, maka data geolistrik tersebut dapat diolah dalam beberapa bentuk tampilan.
Diantaranya : penampang 2D tahanan jenis semu, penampang 2D tahanan jenis
sebenarnya, peta tahanan jenis semu dan peta 3D tahanan jenis sebenarnya.
Dengan mengetahui posisi titik sounding, rho semu dan azimuth lintasan, dapat dibuat
peta tahanan jenis semu. Sedangkan untuk peta 3D tahanan jenis sebenarnya selain
posisi titik sounding, parameter lain yang harus diketahui yaitu kedalaman dan nilai rho
sebenarnya dari setiap titik sounding. Peta tahanan jenis semu hanya bisa menafsirkan
secara kualitatif, yaitu hanya bisa mengetahui pola kontur dan variasi harga tahanan
jenis secara lateral sedangkan kedalamannya tidak bisa diketahui. Sedangkan peta 3D
tahanan jenis sebenarnya, kita dapat menafsirkan secara kualitatif dan kuantitatif karena
selain dari pola serta sebaran harga tahanan jenis sebenarnya, harga kedalamannya juga
bisa diketahui.
Dalam melakukan penafsiran geolistrik selain dari peta 3D tahanan jenis, bisa juga
dilakukan dari penampang 2D tahanan jenis semu dan penampang 2D tahanan jenis
sebenarya. Penampang 2D tahanan jenis semu bisa dibuat dengan cara mengkorelasikan
harga tahanan jenis semu antar titik sounding dengan ab/2 yang telah ditentukan sesuai
dengan tujuan pengukuran. Dari penampang tahanan jenis semu ini hanya bisa
melakukan penafsiran secara kualitatif.
Untuk penampang 2D tahanan jenis sebenarnya dapat dibuat dengan mengkorelasikan
harga sebenarnya antar titik sounding. Harga sebenarnya diperoleh dari penafsiran
dengan menggunakan kurva matching atau dari program. Untuk membuat penampang
2D tahanan jenis sebenarnya, terlebih dahulu harus diplot harga ( sebenarnya dan
kedalaman h) tiap titik sounding, kemudian korelasikan antar titik soundingnya
berdasarkan harga
dapat melakukan interpretasi secara kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif bisa
dilakukan dengan melihat pola lapisan batuan dan sebaran nilai tahanan jenisnya,
sedangkan secara kuantitatif kita bisa langsung mengetahui kedalaman dari tiap lapisan
pada penampang tahanan jenis tersebut.

5.4 Prosedur Pengerjaan
5.4.1 Penampang Tahanan Jenis Sebenarnya
1. Plot hasil penafsiran kurva matching ( dan d) setiap titik sounding pada kertas
milimeter block.
2. Korelasikan harga dan d untuk tiap titik sounding berdasarkan harga nya


5.4.2 Penampang Tahanan Jenis Semu (P_ Seudosection)
1. Plot harga semu terhadap jarak bentangan elektroda arus (AB/2 = 50, 100,
150, 200, 250, dan 300) tiap titik sounding.
2. Korelasikan hasil ploting untuk setiap titik sounding dengan jarak titik sounding 50
m.
3. Hubungkan harga tahanan jenis semu yang sama pada setiap titik sounding.

5.4.3 Peta IsoTahanan Jenis Semu
1. Plot data (rho semu) semua titik sounding berdasarkan posisinya.
2. Buat peta kontur isotahanan jenis semu untuk jarak elektroda arus (AB/2 = 50m)
3. Ulangi prosedur 2 dengan AB/2 = 100 m, AB/2 = 200m dan AB/2 = 300 m

5.5 Tugas Akhir
Buatlah penampang tahanan jenis semu (pseudosection), penampang tahanan jenis
sebenarnya dan peta iso tahanan jenis semu, kemudian buatlah analisanya .