Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang
Urin merupakan suatu larutan kompleks yang dihasilkan oleh ginjal
dan mengandung 96% air dan 4% bahan terlarut. Berat jenis urin
menggambarkan jumlah solid yang terlarut dalam urin dengan berat volume
air dalam kondisi standar (1).
Air memiliki berat jenis 1,000, karena urin terdiri dari campuran
mineral, garam-garam dan unsur organik dalam air berat jenisnya menjadi
lebih dari 1,000. Hasil pemeriksaan urin menggambarkan tingkat konsentrasi
dari zat-zat yang larut dalam urin. Pengukuran berat jenis urin dipengaruhi
oleh adanya zat-zat bermolekul besar yang terarut didalam urin, zat-zat
tersebut bisa berasal dari dalam tubuh misalnya glukosa , dll (1).
Pemeriksaan berat jenis urin dapat dilakukan dengan berbagai cara
salah satunya dengan menggunakan urinometer. Sebelum menggunakan
urinometer terlebih dahulu kita harus mengetahui apakah urinometer sudah
memenuhi standar spesifikasi sebagai alat kesehatan sebelum digunakan.
Oleh karena itu dalam makalah ini akan dipaparkan cara
penggunaan,standar spesifikasi dari urinometer beserta dengan tes
pemenuhan standar.

I.II Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menggunakan urinometer?
2. Bagaimana standar spesifikasi untuk urinometer?
3. Apa tes/uji dalam mengetahui standar spesifikasi urinometer?
I.III Tujuan
1. Bagi penulis
Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen
mata kuliah Analisis Makanan Minuman , Kosmetik dan Perbekalan
Farmasi . Selain itu bagi diri kami pribadi makalah ini juga diharapkan
bisa digunakan untuk menambah pengetahuan yang lebih bagi saya
pribadi.
2. Bagi pembaca dan masyarakat
Makalah ini diharapkan dapat meberikan pengetahuan kepada
pembaca tentang cara penggunaan urinometer, persyaratan
spesifikasi standar urinometer serta uji untuk memenuhi spesifikasi
standar tersebut.






BAB II
PEMBAHASAN
II.I Urinometer
Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolaritas urin yang
mengukur konsentrasi zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai
untuk nilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin.
Berat jenis erat hubungannya dengan diuresis, semakin besar diuresis maka
makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Diuresis adalah keadaan
peningkatan urin yang dibedakan menjadi diuresis air dan diuresis osmotik
(2).
Jika berat jenis lebih dari 1,030 maka member isyarat kemungkinan
ada glukosauria. Efek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus
adalah kehilangan kemampuan untuk memekatkan urin. Berat jenis urin yang
rendah menandakan persisten menunjukkan gangguan pada fungsi
reabsorpsi tubulus (3).
Pengukuran berat jenis urin bertujuan untuk mengetahui fungsi
pemekatan atau pengenceran oleh ginjal dan komposisi serta dilusi urin itu
sendiri. Pengukuran berat jenis urin juga berfungsi untuk membedakan
oliguria karena acute renal failure yang memiliki BJ isosthenuria (berat jenis
sekitar 1,010) dan oliguria akibat dehidrasi. Harga normal dari BJ urin
seseorang adalah 1,003-1,030 (4).
Pemeriksaan berat jenis urin dapat dilakukan dengan menggunakan
urinometer. Cara urinometer merupakan cara pengukuran berat jenis urin
dengan kapasitas pengapungan hydrometer atau urinometer dalam suatu
slinder yang terisi kemih. Urinometer akan mengapung pada angka dekat
ujung yang menentukan berat jenis secara langsung. Untuk meyakinkan
urinometer terapung bebas dapat memutar urinometer secara perlahan (5).
Yang mempengaruhi BJ urin seseorang adalah komposisi urin, fungsi
pemekatan ginjal, dan produksi urin itu sendiri. Keadaaan yang menimbulkan
BJ urin rendah adalah kondisi tubuh pada udara dingin, diabetes insipidus,
dan terlalu banyak mengkonsumsi air. Keadaan yang menimbulkan BJ urin
tinggi adalah dehidrasi, protein uria, diabetes melitus. Isosthenuria adalah
keadaan dimana BJ urine berkisar 1,010 dan hyposthenuria adalah BJ urine
di bawah 1,008 (4).
II.2 Cara Mengukur BJ Urin dengan menggunakan Urinometer (6)
1. Pasang sarung tangan, kemudian tuangkan kira-kira 20 ml sampel
urine segar kedalam silinder kaca atau bagian silinder.
2. Letakkan urinometer kedalam silinder dan putar perlahan-lahan untuk
mencegah alat ini menempel pada sisi dari silinder. Pegang urinometer
sejajar mata dan baca ukuran pada dasar meniscus permukaan urin.
Konsentrasi dari urin mempengaruhi derajat apung dari urinometer.
Kedalaman tenggelamnya urinometer menunjukkan berat jenis urin.
II.3 Analisis dan Spesifikasi dari Urinometer (7)
1. Cakupan
Ini adalah standar yang menetapkan persyaratan dan metode uji
urinometer yang digunakan dalam pekerjaan patologis.
2. Bahan
a. Bulb, stem dan bagian silinder dari urinometer harus dibuat bening dan
dari kaca yang tahan akan pemanasan (menurut definisi IS : 1382-
1961). Kaca yang digunakan memiliki kekuatan yang cukup untuk
menahan panas akibat pengaruh mekanik khususnya terhadap
goresan dan korosi akibat bahan kimia.
b. Bahan pemberatnya harus terbuat dari merkuri, atau material
pemberat yang cocok .
c. Bahan pemberat harus tetap aman (berada) di bulb pada urinometer
dengan cara perekatan bahan sehingga tidak ada bahan yang hilang
pada bulb.
d. Jika merkuri yang digunakan harus dibatasi pada bulb.
e. Jika bahan perekat digunakan maka harus sedemikian rupa sehingga
tidak melunak pada suhu 80
o
C.
f. Skala harus berada diatas kertas putih mengkilap atau bahan lain
yang cocok.
3. Bentuk dan Dimensi

4. Manufaktur, pengerjaan dan Penyelesaian.
a. Urinometer harus memiliki kekuatan yang baik, bebas dari gelembung,
batu atau cacat lainnya (S : 1382-1961*). Urinometer juga harus
tertutup rapat dan halus. Bulb yang berada dibagian bawah dari
urinometer harus membuat bahan pemberat didalamnya tidak keluar
dari bulb bagaimanapun posisinya. Bulb juga harus selalu terisi penuh
sehingga membuat urinometer terapung di semua rentang skala.
b. Sumbu dari stem harus sesuai dengan sumbu dari bulb.
c. Bagian silinder harus memiliki kekuatan yang baik, bebas dari
gelembung, batu atau cacat lainnya (S : 1382-1961*). Memiliki dinding
dengan ketebalan yang seragam dan halus dengan tepi atas yang
dibulatkan, berdiri kokoh tanpa goyang. Poros silinder harus vertikal
ketika berdiri pada base yang horizontal dan tidak akan robo jika
ditempatkan pada bagian yang miring.
5. Persyaratan dari Hydrometer
a. Skala dan tulisan harus ditandai dengan jelas menggunakan tinta
hitam permanen dengan ketebalan yang seragam.
b. Garis harus menunjukkan tidak ada penyimpangan jarak spasi .
c. Garis harus lurus dan berada pada sudut kanan dari urinometer.
d. Ketebalan dari garis harus tidak kurang dari 0,10 mm dan tidak lebih
dari 0,20 mm.
e. Skala harus dikalibrasi pada 27 C. Ini akan berkisar dari 1.000
sampai I.060 dan dibagi menjadi 6 bagian utama dengan garis, dan
tiap 1 bagian utama di bagi menjadi 10 garis.
f. Semakin lama garis pada skala akan memendek jika dilihat dari sisi kiri
skala. Setiap garis pada skala tidak akan menyentuh atau memotong
skala yang lain.
6. Kinerja
Urinometer harus mengapung dalam posisi dalam posisi tegak dan
harus menunjukkan berat jenis (BJ) yang tepat dan menunjukkan
skala kurang lebih 0,001 pada 27 C ketika melayang di air suling.
7. Pengujian
Silinder harus terlebih dahulu diuji dengan cara direbus didalam air
selama 30 menit kemudian dimasukkan kedalam air sekitar 20 C dan
tidak boleh ada yang chipping ataupun retak
8. Penandaan
Setiap urinometer dan slinder harus memiliki tanda yang terbaca dan
tidak terhapuskan yaitu :
a. Nama produsen, inisial nama dan merek dagang
b. Simbol '27 C', untuk menunjukkan bahwa itu dikalibrasi pada 27 C
urinometer dan sinder juga harus ditandai dengan Sertifikasi IS1 Mark.
9. Packing
a. Urinometer dan slinder dikemas dan diberikan atas persetujuan antara
produsen dan pembeli
b. Urinometer dan slinder harus dibungkus individual (terpisah) dengan
menggunakan kertas tipis dan dikemas dalam kardus karton dengan
bantalan dalam kapas
BAB III
PENUTUP
III.I Kesimpulan
Dari paparan makalah tersebut dapat kita simpulkan bahwa ada
prosedur penggunaaan urinometer, standar spesifikasi yang telah ditetapkan,
beserta dengan uji pemenuhan standar spesifikasi tersebut sebelum
digunakan sebagai salah satu alat kesehatan gelas non steril.
III.2 Saran
Sebaiknya lebih banyak lagi penelitian tentang alat kesehatan
sehingga masyarakat dapat mengetahui standar dari spesifikasi alat tersebut
sebelum digunakan.










DAFTAR PUSTAKA
1. Ringsrud, K. M. & Linne, J. J., (1995). Urinalysis and Body Fluids A Color
Text and Atlas Chapters 5 & 6. MLAB 1311 course Lecture and Lab Guides
2. R. Ganasoebrata.2006. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat
3. Kee,Lefever,Jocce.1997. Pemeriksaan Laboratorium Diagnostik Edisi 2.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
4. R. Wirawan,Immanuel,S, dkk. 2010. Penelitian Hasil Pemeriksaan Urin Jurnal
Cermin Dunia Kedokteran No 30.Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
5. Price,Sylvia dan Lorraine.M Wilson.1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit Edisi IV. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
6. Berman,audrey, Shndyer shirlee, dkk. 2003. Buku ajar Praktik Keperawatan
Klinis Ed V. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
7. Bhavan,Manak, Bahadur Shah,dkk. 1967. Indian Standard Specification Of
Urinometer. India : New Delhi







MAKALAH ANALISIS MAKANAN, MINUMAN, KOSMETIK DAN
PERBEKALAN FARMASI
ANALISIS DAN SPESIFIKASI ALAT KESEHATAN GELAS NON STERIL :
URINOMETER

OLEH :
NAMA : CYNTHIA FRANS
NIM : N111 12 262
KELAS : AMK B
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014