Anda di halaman 1dari 10

REFRESHING

CORPUS ALIENUM DI BRONKUS






Disusun Oleh :
Harsul Haddi Abdillah
2007730064
Pembimbing :
dr. Rini Febrianti Sp. THT


KEPANITERAAN KLINIK THT
RUMAH SAKIT UMUM KOTA BANJAR
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2013
Corpus Alienum di Bronkus

Pendahuluan
Sesak napas (dispnea) ialah sukar bernapas yang dirasakan oleh pasien, jadi subyektif.
Bila oleh pemerikasa tampak pasien sukar bernapas, jadi ini secara obyektif, maka disebut
gawat napas (respiratory distres). Keadaan sesak napas dan gawat napas dapat disebabkan
oleh sumbatan saluran napas (dari hidung-faring-laring trakea-bronkus sampai alveolus).
1

Sesak napas dibidang THT terutama disebabkan oleh sumbatan saluran napas atas
(hidung sapai laring) dan saluran napas bawah (trakea-bronkus). Sumbatan bronkus secara
mekanik disebabkan oleh gangguan ventilasi dan drenase sekret bronkus. Secara fisiologis,
bronkus yang tidak tersumbat sangat erat hubungannnya dengan ventilasi dan drenase paru,
daya pertahanan paru, tekanan intrapulmonal, keseimbangan sirkulasi dan tekanan
karbondioksida. Drenase paru secara normal, bila terdapat infeksi traktus trakeobronkial
dilakukan dengan : a) gerak silia, b) batuk, c) mendeham, sehingga sekret yang terkumpul
dapat dikeluarkan sebelum terjadi penyempitan saluran napas.
1
Kasus aspirasi benda asing sering kali ditemukan pada anak, meskipun dapat terjadi
pada segala usia. Penyebab yang paling sering adalah aspirasi atau penelanan benda asing
akibat kecerobohan pasien atau orang tuanya. Anak berusia 4 tahun atau kurang, tidak dapat
mengunyah kacang, wortel, berondong jagung dan makanan keras lainnya dengan sempurna.
Mereka cenderung mengulum makanan keras dalam mulut, demikian pula mainan, peniti, dan
benda lain, dan dengan demikian sering kali mengaspirasi benda benda tersebut. Faktor
faktor lain yang mengarah pada aspirasi benda asing adalah intoksikasi, hilangnya kesadaran
oleh sebab apapun, dan trauma wajah dengan aspirasi fragmen fragmen gigi dan lempeng
geligi. Lempeng geligi yang yang menutup palatum mengurangi sensasi intraoral dalam hal
ukuran dan posisi partikel makanan dan ikut berperan pada aspirasi.
2
Anatomi
Trakea bercabang dua di setinggi torakal 4 menjadi bronkus utama kanan dan kiri.
Sekat dari percabangan itu disebut karina. Karina letaknya lebih ke kiri dari garis median,
sehingga lumen bronkus utama kanan lebih luas dari pada sebelah kiri. Bronkus kanan lebih
pendek dari pada kiri, panjangnya pada orang dewasa 2,5 cm dan mempunyai 6 8 cincin
tulang rawan. Panjang bronkus utama kiri 5 cm dan mempunyai cincin tulang rawan
sebanyak 9-12 buah. Broonkus utama kanan membentuk sudut 25 derajat sehingga benda
asing eksogen lebih mudah masuk ke lumen bronkus kanan. Faktor lain yang mempermudah
masuknya benda asing ke dalam bronkus utama kanan adalah kerja otot trakea yang
mendorong benda asing itu ke kanan. Selain itu, udara udara inspirasi ke dalam bronkus
kanan lebih besar dibandingkan inspirasi ke bronkus kiri.
1


Tanda dan Gejala
Gejala yang paling umum dari obstruksi jalan napas akut adalah perubahan suara,
dyspnea, nyeri lokal, dan batuk. Temuan fisik mungkin termasuk stridor, suara serak, gelisah,
retraksi interkostal, suprasternal, dan supraklavikula, dan jika trauma dapat terjadi
perdarahan, emfisema subkutan, dan deformasi.
3
Derajat obstruksi jalan nafas dibagi mejadi berikut
3
:
- Obstruksi lengkap: tidak ada aliran udara yang masuk atau keluar dari paru-paru.
- Obstruksi parsial: terdapat stridor atau kesulitan bernapas karena penyempitan
saluran napas utama.
- Berpotensi terjadi obstruksi jalan napas: karena anatomi dan fisiologi pernapasan tiap
individu seseorang berbeda beda.

Gejala aspirasi benda asing dapat dibagi dalam 3 tahap. Tahap pertama dari gejala
awal terjadi saat benda asing teraspirasi, biasanya timbul serangan batuk dan ingin muntah
yang berat. Tahap kedua adalah interval bebas gejala dimana benda asing tersangkut pada
suatu tempat. Tahap ini berlangsung sekejap atau dapat memanjang hingga bertahun tahun.
Tahap ketiga adalah tahap komplikasi. Obstruksi, erosi dan infeksi, perdarahan atau perforasi
adalah akibat yang dapat ditimbulkan oleh benda asing yang teraspirasi.
2
Benda asing yang tersangkut di laring atau esofagus bagian leher menimbulkan
perasaan tidak nyaman, suara serak, batuk, dan mungkin dispnea. Benda asing dalam trakea
dapat bergerak maju - mundur diatara karina dan bagian bawah glotis bersama respirasi,
menimbulkan bunyi yang jelas dan tonjolan yang dapat diraba. Edema laring akibat trauma
pada keadaan ini dapat menimbulkan suara serak dan menjadi obstruksi jalan napas.
2
Benda asing di bronkus lebih banyak masuk bronkus kanan karena anatominya yang
lurus. Pasien dengan benda asing di bronkus yang datang ke rumah sakit kebanyakan berada
pada fase asimptomatik. Pada fase ini keadaan umum pasien masih baik dan foto rontgen
thorak belum memperlihatkan kelainan.
1
Jika benda asing berada dalam bronkus, terdapat
kemungkinan fisiologis dalam hal obstruksi aliran udara. Jika benda tersebut menyumbat
bronkus secara total, terjadi atelektasis perifer akibat resorpsi udara paru paru distal ke
dalam darah. Bila benda tersebut tidak menyumbat, dimana udara dapat lewat disekitarnya
baik pada inspirasi maupun ekspirasi, maka yang terjadi mungkin hanya mengi setempat
yang menyerupai asma. Cukup banyak kasus benda asing yang salah didiagnosis menjadi
asma. Kemungkinan ketiga yang paling sering terjadi adalah obstruksi parsial dimana benda
asing berfungsi sebagai katup. Bronkus mengembang pada inspirasi dan memungkinkan
lewatnya udara ke paru paru distal. Keadaan ini menimbulkan emfisema di perifer dari
benda asing tersebut. Jika benda asing dibiarkan dapat timbul pneumoni, abses, atau
perdarahan. Kecurigaan akan adanya benda asing merupakan salah satu indikasi bronkoskopi
bila mana terdapat pneumonia menetap atau kambuh, mengi setempat atau hemoptasis.
2

Benda asing organik menyebabkan reaksi yang hebat pada saluran napas dengan gejala
laringotrakeobronkitis, toksemia, batuk, dan demam ireguler. Tanda fisik benda asing di
bronkus bervariasi, karena perubahan posisi benda asing dari satu sisi ke sisi lain dalam
paru.
1

Faktor Penyebab Sumbatan Bronkus

Faktor penyebab sumbatan bronkus ialah
1
:
1) Aspirasi amnion intra-uterin
2) Sekret dan eksudat (benda asing endogen)
3) Peradangan yang menyebabkan edema mukosa, fibrosis, dan sikatriks
4) Obat-obatan seperti opiat dan sulfas atropin
5) Pembedahan
6) Tumor jinak atau ganas yang terdapat di dalam lumen atau diluar lumen yang
menekan dinding bronkus
7) Kelenjar getah bening yang menekan dinding bronkus
8) Alergi
9) Benda asing eksogen
10) Faktor predisposisi seperti umur, jenis kelamin, dan kelainan anatomi traktus
trakeobronkial
Lokasi Penyebab Sumbatan Bronkus
1
- Sumbatan di dalam lumen bronkus
a) Benda asing eksogen
b) Benda asing endogen
- Kelainan dinding traktus trakeobronkial
a) Peradangan, edema mukosa, ulkus penebalan mukosa, jaringan granulasi
b) Kelainan cincin trakea dan bronkus, seperti adanya penonjolan
c) Kelainan kelenjar limfa di mukosa dan submukosa
d) Kelainan pembuluh darah (penebalan) pada dainding trakea dan bronkus
e) Tumor di dinding bronkus
f) Jaringan sikatriks
- Kelainan di luar traktus trakeobronkial
a) Penekanan oleh pembuluh darah aorta pada aneurisma aorta, arteri pulmonalis
b) Pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar timus
c) Pembesaran kelenjar limfa disekitar trakea dan bronkus
d) Kelainan di daerah mediastinum dan jantung
e) Benda asing di esofagus



Macam macam Sumbatan Bronkus
1
Jackson (1936) mebagi sumbatan bronkus dalam 4 tingkat.
1

1. Sumbatan sebagian dari bronkus (by-pass valve obstruction = katup bebas). Pada
sumbatan ini inspirasi dan ekspirasi masih terlaksana, akan tetapi salurannya sempit,
sehingga terdengar mengi, seperti pada pasien asma.
Penyebab : benda asing di dalam bronkus, penekanan bronkus dari luar, edema
dinding bronkus, serta tumor di dalam lumen bronkus.
2. Sumbatan seperti pentil. Ekspirasi terhambat, atau katup satu arah (expiratory check-
valve obtruction = katup penghambat ekspirasi). Pada waktu inspirasi udara masih
dapat lewat, akan tetapi pada ekspirasi terhambat, karena kontraksi otot bronkus.
Bentuk sumbatan ini menahan udara di bagian distal, dan proses yang berulang ketika
terjadi pernapsan mengakibatkan terjadinya emfisema paru obstruktif.
Penyebab benda asing di bronkus, edema dinding bronkus pada bronkitis.
3. Sumbatan seperti pentil yang lain, ialah inspirasi yang terhambat (inspiratory check-
valve obstruction = katup poenghambat inspirasi). Pada keadaan ini inspirasi
terhambat, sedangkan ekspirasi masih dapat terlaksana. Udara yang terdapat di bagian
distal sumbatan akan diabsorpsi, sehingga terjadi atelaktasis paru.
Penyebab : benda asing di dalam lumen bronkus, gumpalan ingus (mucous
plag), tumor yang bertangkai.
4. Sumbatan total (stop valve obtruction = katup tertutup), sehingga ekspirasi dan
inspirasi tidak dapat terlaksana. Akibat keadaan ini ialah atelaktasis paru.
Penyebab : benda asing yang menyumbat lumen bronkus, trauma dinding
bronkus.

Evaluasi Penyakit Trakeobronkial
Riwayat Penderita
Pasien dengan keluhan utama yang memberi kesan penyakit trakeobronkial
mengharuskan anamnesis yang cermat dengan penentuan sifat gejala dan masalah berikut
2
:
1. Batuk (produktif dan non-produktif)
2. Hemoptisis
3. Mengi
4. Suara serak
5. Atelektasis atau emfisema ( setempat atau generalisata)
6. Pneumonitis atau abses paru menetap atau berulang
7. Aspirasi zat atau benda asing
8. Bayangan radiografik yang tak dapat dijelaskan
9. Retensi sekret dalam percabangan trakeobronkial
10. Dispnea bukan sekunder terhadap dekompensasi kardiopulmonar atau metabolik.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik harus menyertakan palpasi yang cermat pada leher untuk mencari
deviasi trakea, kelenjar getah bening suprakavikular dan servikal, dan metastasis. Inspeksi,
perkusi, dan auskultasi dada perlu diikuti dengan radiogram dada. Auskultasi harus
diperhatikan untuk menemukan gambaran yang sesuai dengan atelektasis, emfisema, atau
mengi. Pemeriksaan radiogram dengan kontras pada percabangan trakeobronkial di bawah
kontrol fluoroskopik. Penelitian fungsi paru, analisa gas darah, hitung darah lengkap, biakan
sputum serta evaluasi sistem kardiovaskuler juga sangat membantu.
2
Diagnosis pasti benda asing di saluran napas ditegakan setelah dilakukan tindakan
endoskopi atas indikasi diagnostik dan terapi.
1

Penatalaksanaan
Tujuan umum penanggulangan sumbatan bronkus ialah untuk mengembaklikan
fisiologi, yaitu ventilasi dan drenase sekret dengan memperbaiki gerakan silia, kekuatan
batuk dan mendehem.
1
Tindakan pertama pada tahap awal terjadi aspirasi benda asing identik dengan
tindakan pada tahap awal kasus tertelan benda asing, yaitu menahan keinginan untuk
melakukan sesuatu, kecuali jika terjadi sumbatan jalan napas total yang jelas. Menepuk
punggung pasien, menggantung anak dengan memegang pergelangan kakinya, berusaha
memegang benda asing dengan jari atau dengan memakai alat secara membuta, akan
mempersulit keadaan benda asing yang semula tidak menimbulkan obstruksi, karena dapat
mendorong benda asing masuk ke laring dan menimbulkan obstruksi total. Manuver ini juga
dapat melepaskan benda asing yang tersangkut pada bronkus utama kanan, di mana benda
tersebut akan lompat ke dalam laring dan ditangkap oleh pita suara, dan terjadi suatu
obstruksi jalan napas total.
2
Bila telah terjadi obstruksi total, maka benda asing harus dilepaskan atau dibuat jalan
napas alternatif dalam waktu 4 menit. Hipoksia melampaui batas waktu ini berakibat
kerusakan otak permanen. Dapat dilakukan servikotomi atau torakotomi bila tindakan untuk
melepaskan benda asing gagal. Juga perlu dilakukan tindakan untuk memaksa mengeluarkan
sisa udara dalam paru, seperti manuver Heimlich, yaitu dengan memeluk pasien tepat
dibawah sternum dan dengan paksa mendesak perut bagian atas. Jika berhasil, diafragma
akan terangkat dan menekan paru. Benda asing akan terdorong keluar jalan napas sehingga
pasien dapat bernapaas kembali. Metode lain adalah resusitasi mulut-ke-mulut, yaitu
bertujuan memaksa mendorong benda asing ke dalam percabangan trakeobronkial sehingga
tidak lagi menyumbat jalan napas secara total, atau mengeluarkan benda asing tersebut.
2






Bronkoskopi diindikasikan bilamana diagnosis dari gejala trakeobronkial masih
belum jelas ditegakan dengan radiografi atau bila terapi mengharuskan pencapaian
percabangan trakeobronkial secara langsung.
2
Bronkoskopi dilakukan dengan bronkoskopi
kaku atau serat optik dengan memakai cunam yang sesuai dengan benda asing itu. Tindakan
bronkoskopi harus segera dilakukan, apalagi bila benda asing bersifat organik. Benda asing
yang tidak dapat dikeluarkan dengan cara bronkoskopi, seperti benda asing tajam, tidak rata,
dan tersangkut pada jaringan, dapat dilakukan servikotomi atau torakotomi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut.
1
Antibiotik dan kortikosteroid tidak rutin diberikan setelah tindakan endoskopi pada
ekstraksi benda asing. Fisioterapi dada dilakukan pada kasus pneumonia, bronkitis purulenta
dan atelaktasis.
1
Pasien dipulangkan 24 jam setelah tindakan, jika paru bersih dan tidak demam. Foto
thoraks pasca bronkoskopi dibuat hanya bila gejala pulmonum tidak menghilang. Gejala
gejala persisten seperti batuk, demam, kongesti paru, obstruksi jalan napas atau odinofagia
memerlukan penyelidikan lebih lanjut dan pengobatan yang tepat dan adekuat.
1

Etiologi dan Faktor Predisposisi
Faktor yang mempermudah terjadinya aspirasi benda asing ke dalam saluran napas
antara lain, faktor personal (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal),
kegagalan mekanisme proteksi yang normal (tidur, kesadaran menurun, alkoholisme, dan
epilepsi), faktor fisik (kelainan penyakit neurologik), proses menelan yang belum sempurna
pada anak, faktor dental, medikal, dan surgikal (bedah, ekstraksi gigi), faktor kejiwaan
(emosi, gangguan psikis), ukuran dan bentuk sifat benda asing, faktor kecerobohan.
1
Benda asing bronkus paling sering berada di bronkus kanan karena bronkus utama
kanan lebih besar, mempunyai aliran udara lebih besar dan membentuk sudut lebih kecil
terhadap trakea dibanding dengan bronkus utama kiri. Benda asing di saluran napas dapat
menjadi penyebab berbagai penyakit paru, baik akut maupun kronis, dan harus dianggap
sebagai diadnosis banding.
1

Patomekanisme Aspirasi Benda Asing
Saat benda berada di dalam mulut, anak menjerit atau tertawa, sehingga saat inspirasi,
laring terbuka dan benda asing masuk ke dalam laring. Saat benda asing terjepit di Sfingter
laring, pasien batuk berulang, trakea tersumbat, mengi, dan sianosis. Setelah masuk ke dalam
trakeobronkial kadang terjadi fase asistomatik selama 24 jam atau lebih, diikuti gejala
pulmonum serta bergantung pada derajat sumbatan bronkus.
1
Benda asing organik, seperti kacang mempunyai sifat higroskopik, mudah lunak,
mengembang pada air serta dapat menyebabkan iritasi pada mukosa. Mukosa bronkus
menjadi edema dan meradang dan dapat terjadi jaringan granulasi sehingga gejala obstruksi
menghebat dan timbul laringotrakeobrokitis, toksemia, batuk, dan demam yang
iregular. Benda asing anorganik menimbulkan reaksi jaringan lebih ringan dan lebih mudah
didiagnosis dengan pemeriksaan radiologik karena umumnya benda asing anorganik bersifat
radioopak. Benda asing berasal dari metal dan tipis dapat masuk ke dalam bronkus yang lebih
distal dan memberikan gejala batuk spasmodik.
1



Komplikasi Sumbatan Bronkus
1. Atelaktasis
2. Emfisema paru
3. Bronkopneumonia
4. Bronkiektasis
5. Abses paru








Daftar Pustaka

1. Junizaf MH. Benda Asing di Saluran Napas. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan
THT-KL. Jakarta ; FKUI, 2004
2. Leighton G, Siegel, M.D. Penyakit Jalan Napas Bagian Bawah, Esofagus dan
Mediastinum. Dalam: BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi keenam. Jakarta : EGC,
1997
3. Goldenberg D, Bhatti N. Management Of The Impaired Airway In The Adult. Dalam
: Cummings - Otolaryngology- Head and Neck Surgery. 4th ed., Mosby, 2005.