Anda di halaman 1dari 2

SJSN

Kelebihan :
1. Ditujukan untuk mencapai keadilan dalam pelayanan kesehatan tanpa memandang suku,
agama, ras, maupun status social.
2. Menguntungkan bagi rakyat miskin karena biaya kesehatannya ditanggung oleh Negara.
3. Jaminan berskala nasional, hal ini berarti hak peserta tidak hilang ketika berada di luar kota
tempat tinggalnya.
4. SJSN mengatur agar setiap penduduk (mungkin 10-20 tahun mendatang) memiliki jaminan
hari tua atau pensiun, termasuk sewaktu menderita disabilitas ataupun jaminan bagi ahli
waris jika seseorang pencari nafkah meninggal dunia.

Keburukan : SJSN masih terkesan terburu-buru jika dilaksanakan pada than 2014 karena :
a. Fasilitas pelayanan kesehatan dasar (puskesmas, klinik, dokter keluarga) belum
terstandar karena pemerintah belum membuat standar mutu fasyankes dasar sebagai
bagian dari standar pelayanan kesehatan (SPK) dalam bentuk Panduan Nasional
Pelayanan Kesehatan [PNPK]. PNPK menjadi dasar membuat panduan praktis
klinis[PPK], standar pelayanan medis[SPM], dan standar operasional prosedur[SOP],
dan akreditasi rumah sakit.
b. Tidak adanya standar pelayanan kesehatan membuat petugas kesehatan mudah
dituntut oleh peserta JKN akibat perbedaan persepsi mengenai kepuasan pelayanan
kesehatan. Apabila dilakukan mediasi dan peserta JKN masih merasa tidak puas,
BPJS, sesuai kewenangannya, akan memihak peserta JKN dan memutus hubungan
dengan petugas kesehatan terkait. Hal ini akan membuat petugas kesehatan lebih
memilih untuk membuka praktek sendiri atau bekerja dengan pihak swasta.
Berdasarkan UU No.36/2009, tenaga kesehatan berhak atas perlindungan hukum.
Namun Peraturan Pemerintah tentang itu masih tak jelas. Selain itu, tidak adanya
standar dan prosedur yang spesifik akan membuat pelaksanaan JKN semrawut akibat
petugas yang kebingungan.
c. Tidak seimbangnya rasio penduduk dan petugas kesehatan di berbagai daerah
terutama daerah terpencil.
d. APBN belum mencukupi untuk membiayai JKN bagi fakir miskin sehingga ujung-
ujungnya yang dirugikan adalah dokter. Hitung-hitungan pemerintah telah
menempatkan upah tenaga kesehatan jauh di bawah upah minimum buruh. Sangat
tidak manusiawi dimana dokter yang baru tamat, dipekerjakan sebagai dokter magang
(internship), hanya digaji 1,2 juta, padahal untuk menjadi seorang dokter diperlukan
waktu, tenaga, biaya dan pikiran yang tentunya tidak seimbang dengan gaji sebesar
itu.
Solusinya :
1. Pemerintah harus merealisasikan anggaran dari APBN 2014 untuk pembangunan
kesehatan di Indonesia. Pembangunan kesehatan diprioritaskan untuk peningkatan mutu
fasyankes, SDK, dan pemerataan tenaga kesehatan ke seluruh pelosok negeri. Dengan
lancarnya APBN, diharapkan pendapatan dokter akan lebih manusiawi.
2. Pemerintah bisa melibatkan organisasi profesi seperti IDI, PDGI, PERSI, ASKLIN, dan
organisasi sosial masyarakat. yang memiliki sumber daya dan perangkat organisasi
memadai untuk menyusun PNPK. Keterlibatan organisasi profesi juga untuk member
pemahaman tentang besarnya kapitasi dan jasa medis yang layak bagi tenaga kesehatan
serta hak-hak rakyat untuk kesehatan. Dengan adanya standar ang spesifik diharapkan
perbedaan persepsi mengenai kepuasaan dapat ditekan.
3. Pelayanan kesehatan adalah bagian dari ketahanan bangsa sehingga dokter dan petugas
kesehatan diposisikan layaknya TNI maupun Polri yang pembiayaan jasanya ditanggung
oleh Negara secara layak sehingga liberalisasi kesehatan dapat ditekan dan pengabdian
kepada masyarakat akan lebih maksimal, namun dengan kondisi pengelolaan keuangan
Negara Indonesia yang seperti sekarang ini amat sulit mewujudkan hal tersebut, sehingga
perekonomian Negara yang harus dibenahi terlebih dahulu.
4. Sebaik apapun peraturan apabila tidak disertai dengan pengawasan yang baik maka
peraturan tersebut tidak akan berjalan dengan baik pula. Begitu pula dengan JKN yang
harus disertai pengawasan ketat karena program ini berskala nasional dimana rawan
tindak korupsi.