Anda di halaman 1dari 16

Kata Pengantar

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas keagungan
dan kemurahan-Nya saya dapatkan menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.
Hembusan angin yang tidak ternilai harganya semoga dapat mengantarkan salam
kerinduan kita kepada nabi akhir zaman, Muhammad SAW.

Terima kasih saya sampaikan kepada Bpk. A.Rizal, SH sebagai dosen pengajar
mata kuliah Personality Development yang telah memberikan arahan materi yang
sangat bermanfaat terlebih dalam penyusunan makalah ini. Tidak lupa juga saya
sampaikan terima kasih kepada kedua orang tua atas doa dan dukungannya sehingga
saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah ini disusun selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Personality
Development, juga dapat membantu seseorang untuk dapat menggali potensi yang
dimiliki, menjadikan individu dengan pribadi yang menyenangkan dan profesional,
memotivasi diri untuk selalu melakukan hal yang positif, khususnya bagi mahasiswa
atau para remaja yang sedang dalam proses mencari jati diri, dan meniti karir. Semoga
tujuan penyusunan makalah ini bisa terwujud dan dapat mencetak generasi yang lebih
baik.

Tak ada gading yang tak retak. Saya menyadari bahwasannya dalam
penyusunan makalah ini masih banyak kesalahan yang harus di perbaiki. Untuk itu kritik
dan saran sangat dibutuhkan untuk perbaikan makalah ini di kemudian hari.

Sukabumi, 02 Februari 2012

Penyusun

i

BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, persaingan dalam dunia kerja semakin ketat. Setiap individu harus
memiliki wawasan yang luas serta keterampilan yang sesuai dengan dunia usaha yang
ingin ditekuni. Selain itu percaya diri merupakan faktor terbesar yang dapat membantu
individu untuk dapat meraih kesuksesan.
Percaya diri merupakan keyakinan akan kemampuan dan potensi yang dimiliki.
Seseorang harus dapat menggali potensi yang dimilikinya agar dapat menjadi pribadi
yang baik yang sesuai dengan lingkungannya. Maka dari itu perlu ditanamkan rasa
percaya diri yang tinggi agar dapat mencapai tujuan hidup yang diinginkan. Rasa
percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari
kehidupan individu tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan
percaya bahwa dia bisa, karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi
serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.

1.2 Tujuan
Percaya diri sangat penting bagi setiap individu terutama dalam mewujudkan
sesuatu yang sangat diharapakan. Maka dari itu perlu menanamkan motivasi bentuk ini
agar :
Mengenali potensi yang dimiliki dan mengembangkannya.
Menumbuhkan rasa percaya diri dan menjadikannya sebagai motivasi terbesar.
Mengontrol diri agar dapat menjalin hubungan baik dengan individu lain.
Mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap
lingkungan/situasi yang dihadapinya.
1

1.3 Batasan Masalah
Pengenalan Percaya Diri
Perkembangan Percaya Diri
Macam-Macam Percaya Diri
Karakteristik Individu
Menumbuhkan Rasa Percaya Diri
















2

BAB II
Pembahasan

2.1 Pengenalan Percaya Diri
Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting
dalam kehidupan manusia. Orang yang percaya diri yakin atas kemampuan mereka
sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis, bahkan ketika harapan mereka tidak
terwujud, mereka tetap berpikiran positif dan dapat menerimanya.
Menurut Thantaway, percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri
seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan
sesuatu tindakan. Individu dapat mengevaluasi keseluruhan dari dirinya sehingga
memberi keyakinan kuat pada kemampuan dirinya untuk melakukan tindakan dalam
mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya.
Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada
kemampuannya, karena itu sering menutup diri. Sedangkan orang yang mempunyai
kepercayaan diri bagus, mereka memiliki perasaan positif terhadap dirinya, punya
keyakinan yang kuat atas dirinya dan punya pengetahuan akurat terhadap kemampuan
yang dimiliki. Orang yang punya kepercayaan diri bagus bukanlah orang yang hanya
merasa mampu (tetapi sebetulnya tidak mampu) melainkan adalah orang yang
mengetahui bahwa dirinya mampu berdasarkan pengalaman dan perhitungannya.



3

Namun jangan sampai seseorang mengalami over confidence atau rasa percaya
diri yang berlebih-lebihan atau overdosis. Rasa percaya diri yang overdosis bukanlah
menggambar kondisi kejiwaan yang sehat karena hal tersebut merupakan rasa percaya
diri yang bersifat semu.
Rasa percaya diri yang berlebihan pada umumnya tidak bersumber dari potensi
diri yang ada, namun lebih didasari oleh tekanan-tekanan yang mungkin datang dari
orangtua dan masyarakat (sosial), hingga tanpa sadar melandasi motivasi individu
untuk harus menjadi orang sukses. Selain itu, persepsi yang keliru pun dapat
menimbulkan asumsi yang keliru tentang diri sendiri hingga rasa percaya diri yang
begitu besar tidak dilandasi oleh kemampuan yang nyata. Hal ini pun bisa didapat dari
lingkungan di mana individu di besarkan, dari teman-teman (peer group) atau dari
dirinya sendiri (konsep diri yang tidak sehat). Contohnya, seorang anak yang sejak lahir
ditanamkan oleh orangtua, bahwa dirinya adalah spesial, istimewa, pandai, pasti akan
menjadi orang sukses, dsb .
Namun dalam perjalanan waktu anak itu sendiri tidak pernah punya dasar usaha
dari diri sendiri. Akibatnya, anak tersebut tumbuh menjadi seorang manipulator dan dan
otoriter, memperalat, menguasai dan mengendalikan orang lain untuk mendapatkan
apa yang dia inginkan. Rasa percaya diri pada individu seperti itu tidaklah didasarkan
oleh kemampuan asli, tapi lebih pada faktor-faktor pendukung eksternal, seperti
kekayaan, jabatan, koneksi, relasi, kekuatan timbal balik dari keluarga, nama besar
orangtua, dsb. Jadi, jika semua atribut itu ditanggalkan, maka seorang individu tersebut
bukan siapa-siapa.

2.2 Perkembangan Rasa Percaya Diri
Pola Asuh
Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri bukanlah diperoleh secara
instant, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini, dalam kehidupan
bersama orang tua.
4

Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang,
namun faktor pola asuh dan interaksi di usia dini, merupakan faktor yang amat
mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri. Sikap orang tua, akan diterima oleh
anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. Orang tua yang menunjukkan kasih,
perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus
dengan anak, akan membangkitkan rasa percara diri pada anak tersebut. Anak akan
merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai di mata orang tuanya. Dan, meskipun ia
melakukan kesalahan, dari sikap orang tua anak melihat bahwa dirinya tetaplah
dihargai dan dikasihi. Anak dicintai dan dihargai bukan tergantung pada prestasi atau
perbuatan baiknya, namun karena eksisitensinya. Di kemudian hari anak tersebut akan
tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan
yang realistik terhadap diri seperti orang tuanya meletakkan harapan realistik
terhadap dirinya.
Lain halnya dengan orang tua yang kurang memberikan perhatian pada anak,
atau suka mengkritik, sering memarahi anak namun kalau anak berbuat baik tidak
pernah dipuji, tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai oleh anak, atau pun
seolah menunjukkan ketidak percayaan mereka pada kemampuan dan kemandirian
anak dengan sikap overprotective yang makin meningkatkan ketergantungan.
Tindakan overprotective orang tua, menghambat perkembangan kepercayaan diri
pada anak karena anak tidak belajar mengatasi problem dan tantangannya sendiri
segala sesuatu disediakan dan dibantu orang tua. Anak akan merasa, bahwa dirinya
buruk, lemah, tidak dicintai, tidak dibutuhkan, selalu gagal, tidak pernah
menyenangkan dan membahagiakan orang tua.Anak akan merasa rendah diri di
mata saudara kandungnya yang lain atau di hadapan teman-temannya.
Apabila orang tua selalu membanding-baningkan kemampuan anak dengan
orang lain atau memaksakan kehendak sendiri dibanding kehendak anak pada
akhirnya mendorong anak tumbuh menjadi individu yang tidak bisa menerima
kenyataan dirinya.
5

karena di masa lalu bahkan sampai sekarang, setiap orang mengharapkan
dirinya menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri.
Dengan kata lain, memenuhi harapan sosial. Akhirnya, anak tumbuh menjadi
individu yang punya pola pikir bahwa untuk bisa diterima, dihargai, dicintai, dan diakui,
harus menyenangkan orang lain dan mengikuti keinginan mereka. Pada saat individu
tersebut ditantang untuk menjadi diri sendiri mereka tidak punya keberanian untuk
melakukannya. Rasa percaya dirinya begitu lemah, sementara ketakutannya terlalu
besar.

2.3 Macam-Macam Percaya Diri
1. Self Concept : bagaiman seorang individu menyimpulkan diri sendiri secara
keseluruhan, bagaimana ia melihat potret diri secara keseluruhan, bagaimana ia
mengkonsepsikan diri secara keseluruhan.
2. Self Esteem : sejauh mana seorang individu punya perasaan positif terhadap
dirinya, sejauhmana ia punya sesuatu yang ia rasakan bernilai atau berharga
dari dirinya, sejauh mana ia meyakini adanya sesuatu yang bernilai, bermartabat
atau berharga di dalam dirinya.
3. Self Efficacy : sejauh mana seorang individu punya keyakinan atas kapasitas
yang ia miliki untuk bisa menjalankan tugas atau menangani persoalan dengan
hasil yang bagus (to succeed). Atau juga, sejauhmana seseorang meyakini
kapasitasnya di bidangnya dalam menangani urusan tertentu. Hal ini yang
disebut dengan Specific Self Efficacy.
4. Self Confidence: sejauhmana seorang individu punya keyakinan terhadap
penilaian atas kemampuannya dan sejauh mana ia bisa merasakan adanya
kepantasan untuk berhasil. Self confidence itu adalah kombinasi dari Self
Esteem dan Self Efficacy.

6

2.4 Karakteristik Individu
Karakteristik individu yang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri
yang proporsional, diantaranya adalah :
Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan
pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain.
Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang
lain atau kelompok.
Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain berani menjadi diri
sendiri.
Punya pengendalian diri yang baik emosinya stabil.
Memiliki internal locus of control artinya memandang keberhasilan atau
kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada
nasib atau keadaan serta tidak tergantung/mengharapkan bantuan orang lain.
Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, ornag lain dan
situasi di luar dirinya.
Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan
itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang
terjadi.
Karakteristik individu yang kurang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang kurang percaya diri, diantaranya
adalah:
Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan
pengakuan dan penerimaan kelompok.
Menyimpan rasa takut atau kekhawatiran terhadap penolakan.
7

Sulit menerima realita diri terlebih menerima kekurangan diri dan memandang
rendah kemampuan diri sendiri, namun di lain pihak memasang harapan yang
tidak realistik terhadap diri sendiri.
Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif.
Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang
target untuk berhasil.
Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus karena undervalue diri
sendiri artinya merasa diri tidak pantas sehingga menghilangkan nilai kualitas
diri.
Selalu menempatkan atau memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena
menilai dirinya tidak mampu.
Mempunyai external locus of control artinya mudah menyerah pada nasib,
sangat tergantung pada keadaan dan pengakuan atau penerimaan serta
bantuan orang lain.

2.5 Menumbuhkan Rasa Percaya Diri
Untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional maka individu harus
memulainya dari dalam diri sendiri. Hal ini sangat penting mengingat bahwa hanya
individu yang bersangkutan yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang
sedang dialaminya. Diantaranya dapat dilakukan dengan cara:
a. Evaluasi diri secara obyektif
Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar pribadi, seperti
prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah
diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau
pun sarana yang mendukung kemajuan diri. Sadari semua asset-asset berharga dan
temukan asset yang belum dikembangkan.
8

Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri, seperti :
pola berpikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri,
kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun
sebab-sebab eksternal lain. Hasil analisa dan pemetaan tersebut kemudian
digunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yang lebih
realistik.
a. Beri penghargaan yang jujur terhadap diri
Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang dimiliki.
Ingatlah bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi dan transformasi
diri sejak dahulu hingga kini. Mengabaikan atau meremehkan satu saja prestasi yang
pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu
menemukan jalan yang tepat menuju masa depan. Ketidakmampuan menghargai diri
sendiri, mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan,
contohnya ingin cepat kaya, ingin cantik, populer, mendapat jabatan penting dengan
segala cara.
b. Positive thinking
Cobalah memerangi setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang
muncul. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu
akan terus berakar, bercabang dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin
sulit dikendalikan dan dipotong.
Jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan. Hati-hatilah
agar masa depan tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran
keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di review
kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa
pikiran itu ternyata tidak benar.

9

c. Gunakan Self-Affirmation
Self Affirmation yaitu berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri.
Contohnya:
Saya pasti bisa !!
Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri. Tidak ada orang yang boleh
menentukan hidup saya !
Saya bisa belajar dari kesalahan ini. Kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran
yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan
Sayalah yang memegang kendali hidup ini
Saya bangga pada diri sendiri
d. Berani mengambil resiko
Berdasarkan pemahaman diri yang obyektif, seseorang bisa memprediksi resiko
setiap tantangan yang dihadapi. Dengan demikian ia tidak perlu menghindari setiap
resiko, melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah
atau pun mengatasi resikonya. Contohnya seseorang tidak perlu menyenangkan orang
lain untuk menghindari resiko ditolak. Jika ingin mengembangkan diri sendiri, bukan diri
seperti yang diharapkan orang lain, pasti ada resiko dan tantangannya. Namun, lebih
buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju bertumbuh dengan
mengambil resiko.
e. Belajar mensyukuri dan menikmati rahmat Tuhan
Apabila seorang individu tidak pernah berusaha melihat segala sesuatu dari
kaca mata positif. Bahkan kehidupan yang dijalaninya selama ini pun tidak dilihat
sebagai pemberian dari Tuhan. Artinya ia tidak bisa bersyukur atas semua berkat,
kekayaan, kelimpahan, prestasi, pekerjaan, kemampuan, keahlian, uang,
keberhasilan, kegagalan, kesulitan serta berbagai pengalaman hidupnya.
10

Hidupnya dipenuhi dengan keluhan, rasa marah, iri hati dan dengki, kecemburuan,
kekecewaan, kekesalan, kepahitan dan keputusasaan.
Dengan beban seperti itu, individu itu bisa menikmati hidup dan melihat hal-
hal baik yang terjadi dalam hidupnya. Tidak heran jika dirinya dihinggapi rasa kurang
percaya diri yang kronis, karena selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang
yang membuat cemburu hatinya. Oleh sebab itu, belajarlah bersyukur atas apapun
yang dialami dan percayalah bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik.
f. Menetapkan tujuan yang realistik
Sangat penting untuk mengevaluasi tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, dalam
arti apakah tujuan tersebut sudah realistik atau tidak. Dengan menerapkan tujuan
yang lebih realistik, maka akan memudahkan seseorang dalam mencapai tujuan
tersebut. Dengan demikian ia akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil
langkah, tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan, sambil mencegah
terjadinya resiko yang tidak diinginkan.













11

BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan
Dari paparan pembahasan materi dapat disimpulkan bahwa:
Percaya diri merupakan factor yang sangat berpengaruh dalam membantu
individu untuk meraih kesuksesan.
Dengan percaya seseorang dapat meningkatkan kualitas diri baik dari segi ilmu
pengetahuan maupun pengalaman.
Faktor intern lebih memberikan pengaruh terhadap prilaku individu dalam
menyikapi rasa percaya diri.
Percaya diri dapat mengalahkan segala tantangan dan mewujudkan impian yang
tidak terduga.
Kekayaan atau kelebihan alami yang tidak digunakan dengan baik tidak akan
membantu untuk menjadikan pribadi yang berguna dan tidak menjamin
kesuksesan.

3.2 Saran
Makalah ini disusun dengan materi-materi yang masih terbatas. Sebaiknya
pembaca dapat mencari refrensi dari media lain. Di dalam penyusunan makalah ini juga
masih terdapat beberapa kesalahan untuk itu kritik dan saran sangat diperlukan untuk
perbaikan makalah ini.







12

Daftar Pustaka


Neil, James. 2005. Rasa Percaya Diri, terj. Syahril Yusuf. Jakarta: Graha Ilmu
Alvin. 2010. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri. Jakarta: PT. Gramedia
H. Jaali. 2007. Karakter Dalam Psikologi. Jakarta: Graha Ilmu














13


Daftar Isi

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 1
1.3 Batasan Masalah 2
BAB II Pembahasan
2.1Pengenalan Percaya Diri 3
2.2 Perkembangan Percaya Diri 4
2.3 Macam-Macam Percaya Diri 6
2.4 Karakteristik Individu 7
2.5 Menumbuhkan Rasa Percaya Diri 8
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan 12
3.2 Saran 12
Daftar Pustaka 13

ii




Untuk Memenuhi Tugas Personality Development

Oleh:
Rani Ridayani
Junior Secretary

LP3I Sukabumi
2012/2013