Anda di halaman 1dari 45

Mata Kuliah Sanitasi Masyarakat

TEKNOLOGI TEPAT GUNA BIDANG AIR MINUM


PENAMPUNGAN AIR HUJAN (PAH) BATU BATA



Oleh :
Kelompok 1
Elvira Astriana Sari 21080111130053
Patricia Deby S. 21080111130054
Rahma Shafirinia 21080111130055
Rantidaista Ayunin W. 21080111130057
David Marchelino H. 21080111130059


PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pertumbuhan kota yang cepat secara langsung berimplikasi pada
pembangunan infrastruktur dasar pelayanan publik. Kurangnya pelayanan
prasarana lingkungan seperti infrastruktur air bersih dan sistem sanitasi,
penyediaan rumah dan transportasi yang baik untuk memenuhi kebutuhan
pertumbuhan kota, menjadi penyebab utama timbulnya berbagai masalah di kota-
kota negara-negara yang sedang berkembang.
Sanitasi merupakan usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada
pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi derajat
kesehatan manusia. (Azwar, 1995). Dengan tidak tersedianya air minum dan
sanitasi yang baik, biasanya golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah
yang paling menderita, karena bukan saja disebabkan oleh kurang memadainya
sarana tersebut tetapi juga karena kurang adanya pengertian tentang bagaimana
cara untuk mengurangi pengaruh negatif yang disebabkan oleh kondisi tempat
tinggal yang memenuhi syarat. Oleh karena itu doperlukan suatu program yaitu
sanitasi oleh masyarakat atau lebih dikenal dengan SANIMAS merupakan salah
satu opsi program untuk peningkatan kualitas di bidang sanitasi khususnya
pengelolaan air bersih yang diperuntukkan bagi masyarakat dengan menerapkan
pendekatan berbasis masyarakat.
Teknologi merupakan keseluruhan metode yang secara rasional mengarah
dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia (Miarso,2007).
Dalam penerapan program SANIMAS diperlukan suatu teknologi yang tepat
untuk diterapkan di suatu daerah atau lebih dikenal sebagai teknologi tepat guna.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang salah satu teknologi tepat guna
dalam penyediaan air bersih yaitu teknologi penampung air hujan (pah) yang
dapat diterapkan di Indonesia.
3

1.2. Tujuan Makalah
1.2.1. Siapakah sasaran pengguna teknologi penampungan air hujan (PAH)?
1.2.2. Apa persyaratan teknis dan non teknis penggunaan teknologi
penampungan air hujan (PAH)?
1.2.3. Bagaimanakah proses desain penampungan air hujan (PAH)?
1.3. Manfaat Makalah
1.3.1. Untuk mengidentifikasi sasaran pengguna teknologi penampungan air
hujan (PAH).
1.3.2. Untuk mengetahui persyaratan teknis dan non teknis penggunaan
teknologi penampungan air hujan (PAH).
1.3.3. Untuk mengetahui proses desain penampungan air hujan (PAH).

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Penampungan Air Hujan (PAH)
Penampungan Air Hujan (PAH) adalah wadah untuk menampung air hujan
sebagai air baku, yang penggunaannya bersifat individual atau skala komunal, dan
dilengkapi saringan. Berikut juga akan diberikan beberapa istilah dan definisi
yang berkaitan dengan Penampungan Air Hujan (PAH);
Air Baku
Air baku untuk air minum rumah tangga, yang selanjutnya disebut air baku adalah
air yangdapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah atau air
hujan yang memenuhibaku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum.
Air Minum
Air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan.
Adukan (Mortar)
Campuran dari bahan pengikat (semen), agregat halus dan air dengan
perbandingan tertentu.
Bahan Tara Pangan (Food Grade)
Bahan yang aman digunakan untuk wadah pangan
Bak Penyaring
Sarana untuk menyaring air hujan sebelum disimpan ke dalam bak penampung
sehingga memenuhi ketentuan yang berlaku
Desinfektan
Bahan kimia yang digunakan untuk mematikan bakteri patogen
Ferro Semen
Dinding beton yang tipis dengan tulangan yang berlapis dari tulangan jenis diagon
al berdiameter kecil (kawat ayam) dan kawat seng
5

Kawat Ayam
Anyaman kawat berlapis seng dengan bentuk anyaman hexagonal dengan lubang
kotak tidak kurang dari 1 cm x 1,3 cm terikat kuat dan stabil dengan lilitan ganda
sehingga dapat digunakan untuk lapis tulangan dinding
Kawat Seng
Kawat baja berlapis seng yang terbuat dari karbon rendah yang dilapisi seng
secara meratadan mengkilat
Lantai Dasar
Bagian dasar dari bak air
Lantai Kerja
Bagian dasar dari konstruksi yang berfungsi untuk meratakan permukaan dan
menjaga kebersihan pekerjaan konstruksi diatasnya
Lubang Periksa
Sarana untuk memungkinkan orang dapat masuk ke dalam bak guna
membersihkan ataumemperbaiki bila terjadi kerusakan
Mobil Tangki Air
Mobil tangki untuk mengangkut air minum dari SPAM dengan jaringan perpipaan
maupun bukan jaringan perpipaan ke terminal air dan/atau depo air minum isi
ulang yang memenuhi syarat sebagai wadah makanan (bahan tara pangan/food
grade)
Penampungan Air Hujan
Selanjutnya disebut PAH adalah wadah untuk menampung air hujan sebagai air
baku,yang penggunaannya bersifat individual atau skala komunal, dan dilengkapi
saringan
Pemeliharaan
Kegiatan perawatan dan perbaikan unsur-unsur sarana secara rutin dan berkala
yang bertujuan untuk menjaga agar prasarana dan sarana air minum dapat
diandalkan kelangsungannya.
Pengoperasian
Rangkaian kegiatan mulai dari dari persiapan untuk melakukan operasi
menjalankan sistempenyediaan air minum untuk menghasilkan air minum
6

Penyediaan Air Minum
Kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar m
endapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif
Rehabilitasi
Perbaikan sebagian unit SPAM Bukan Jaringan Perpipaan yang perlu dilakukan
agar SPAM dapat berfungsi normal kembali
Sistem Penyediaan Air Minum Bukan Jaringan Perpipaan
Selanjutnya disebut SPAM BJP merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan
non fisikdari prasarana dan sarana air minum baik bersifat individual, kelompok
masyarakat, maupunkomunal yang unit distribusinya dengan atau tanpa perpipaan
terbatas dan sederhana, dantidak termasuk dalam sistem penyediaan air minum
dengan jaringan perpipaan
Sistem Penyediaan Air Minum Dengan Jaringan Perpipaan
Selanjutnya disebut SPAM merupakan satu kesatuan sistem fisik (teknik) dan non
fisik dari prasarana dan sarana air minum yang unit distribusinya
melalui perpipaan dan unit pelayanannya menggunakan sambungan
rumah/sambungan pekarangan, hidran umum, dan hidran kebakaran
Talang Rambu
Talang yang menampung air hujan dari atap
Talang Tegak
Talang yang menampung air hujan dari talang rambu
2.2 Sistem penyediaan air minum
Sistem penyediaan air minum didasarkan pada :
a) Sumber air baku yang berupa mata air, air tanah, air permukaan dan air
hujan.
b) Pengolahan air, yaitu pengolahan lengkap atau tidak lengkap, yang
berdasarkan dari hasil pemeriksaan kualitas air baku.
c) Sistem pendistribusian, yaitu gravitasi atau pemompaan
d) Sistem pelayanan yang berupa sambungan rumah/langsung dan hidran
umum/kran umum
7

Alternatif sistem penyediaan air minum secara garis besar ditunjukkan pada
gambar 2.1.

Gambar 2.1
Alternatif Penyediaan Air Minum
Sumber : Departemen Pekerjaan Umum
8

Kriteria disain untuk setiap sistem penyediaan air minum, pipa transmisi dan
pipa distibusi disajikan dalam tabel-tabel berikut ini.
Tabel 2.1
Kriteria Disain Sistem Penyediaan Air Minum

Sumber : Departemen Pekerjaan Umum
2.3 Perencanaan
2.3.1 Ketentuan Umum
Penyelenggaraan PAH harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. PAH harus dilaksanakan oleh orang yang berpengalaman.
b. Lokasi tempat PAH dipilih pada daerah-
daerah kritis dengan curah hujan minimal 1.300 mm per tahun.
c. Pelaksanaan konstruksi PAH harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
d. PAH dipasang di lokasi atau daerah rawan air minum.
e. Penempatan PAH harus dapat menampung air hujan dan/atau pada kondisi
tertentu
9

dapat menampung air minum dari PDAM yang didistribusikan melalui mobi
l tangkiair/kapal tangki air.
f. Adanya partisipasi masyarakat setempat dalam pelaksanaan pembangunan,
pengoperasian dan pemeliharaan PAH.
g. PAH dapat digunakan secara individual maupun kelompok masyarakat.
h. Air hujan jatuh pertama setelah musim kemarau tidak boleh langsung
ditampung.
i. PAH harus kedap air.
2.3.2 Ketentuan Teknis
2.3.2.1 Komponen PAH
PAH terdiri dari beberapa komponen sebagaimana dicantumkan dalam tabel 2.1
Tabel 2.2
Komponen Penampung Air Hujan


10



Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
2.3.2.2 Kapasitas Bak Penampung
Kapasitas bak penampung ditentukan berdasarkan:
a. Tinggi curah hujan minimal 1.300 mm per tahun.
b. Luas bidang penangkap air (minimal sama dengan luas satu atap rumah).
c. Kebutuhan pokok pemakaian air (1015)L/orang/hari
d. Jumlah hari kemarau.e.Jumlah penduduk terlayani.
2.3.2.3 Komponen Media Penyaring
Ketentuan komponen media penyaring adalah sebagai berikut:
a. Pasir dengan ketebalan (300-400) mm, ukuran diameter efektif (0,30-
1,20) mm,koefisien keseragaman (1,2-1,4) mm, dan porositas 0,4.
b. Kerikil dengan ketebalan 200-350 mm dan diameter (10-40) mm.

11

2.3.2.4 Spesifikasi bahan
Bak penampung PAH dapat terbuat dari bahan ferro semen, pasangan bata,
dan fibre glass reinforced plastic (FRP) dengan ketentuan sesuai Tabel 2.2.
Sedangkan bahan dari besi (drum) tidak direkomendasikan untuk digunakan
sebagai bak PAH karena sifatnya yang mudah berkarat dan mudah menyerap
panas.
Tabel 2.3
Ketentuan Bahan Bak Penampung Air Hujan

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan PAH harus memenuhi syarat
sebagaimana dicantumkan pada tabel 2.3.
12

Tabel 2.4
Persyaratan Bahan Pembuatan PAH

13



Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
2.3.2.5 Kriteria desain
2.3.2.5.1 PAH dari ferro semen
a. Bentuk bak PAH dari ferro semen adalah bentuk silinder.
b. Ukuran bak penampung lihat tabel 2.4
Tabel 2.5
Ukuran Bak PAH dari Ferro Semen dan Pipa Peluap

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
14

c. Ukuran elemen bak penampung air hujan sesuai tabel 2.5
Tabel 2.6
Ukuran elemen dan pelengkap bak PAH


Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
d. Bahan
1) Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan elemen bak PAH harus
memenuhi syarat sebagaimana dalam tabel 2.3.
2) Bahan elemen konstruksi dan pelengkap yang digunakan untuk pembuatan
bak PAH sesuai tabel 2.6 dan tabel 2.7.
Tabel 2.7
Bahan elemen bak PAH dari ferro semen

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009

15

e. Kekuatan /struktur
Kekuatan elemen konstruksi yang digunakan untuk pembuatan bak PAH
sebagai berikut:
1) Bak PAH harus diletakan diatas tanah padat/stabil.
2) Elemen bak PAH sesuai tabel 2.8.
Tabel 2.8
Kebutuhan bahan untuk PAH dari ferro semen

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
Tabel 2.9
Konstruksi bak penampung air hujan

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
2.3.2.5.2 PAH dari Pasangan Bata
a) Bentuk bak PAH dari pasangan bata adalah bentuk empat persegi.
b) Ukuran bak penampung lihat tabel 10.




16

Tabel 2.10
Ukuran bak PAH dari pasangan bata dan pipa peluap

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
c) Ukuran elemen bak penampung air hujan sesuai tabel 2.11.
Tabel 2.11
Ukuran elemen dan pelengkap bak PAH

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
d) Bahan
1) Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan elemen bak PAH harus
memenuhi syarat sebagaimana dalam tabel
2) Bahan elemen konstruksi dan pelengkap yang digunakan untuk
pembuatan bak PAH sesuai tabel 2.12 dan tabel 2.13.


17

Tabel 2.12
Bahan elemen bak PAH dari pasangan bata

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
Tabel 2.13
Kebutuhan bahan untuk PAH dari pasangan bata

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
e) Kekuatan/struktur
Kekuatan elemen konstruksi yang digunakan untuk pembuatan bak PAH
sebagai berikut:
1) Bak PAH harus diletakan diatas tanah padat/stabil.
2) Elemen bak PAH sesuai tabel 2.14.


18

Tabel 2.14
Konstruksi bak penampung air hujan

Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009
2.3.2.6 Perhitungan
a. Perhitungan kapasitas PAH
Perhitungan kapasitas PAH pada daerah distribusi 6 bulan hujan turun
terus menerus dan kemarau 6 bulan terus menerus.
Perhitungan kapasitas PAH pada daerah dengan distribusi tidak menerus
dan.
b. Perhitungan debit air baku

Keterangan:
Q adalah debit air rata-rata hujan (m3/detik)
I adalah intensitas curah hujan rata-rata (m)
T adalah periode atau lama waktu hujan (detik)
A adalah luas atap sebagai bidang penangkap (m2)
c. Dimensi talang rambu

Keterangan:
A adalah luas atap sebagai bidang penangkap (m2)
Q adalah debit air rata-rata hujan (m3/detik)
v adalah kecepatan aliran air pada talang rambu (m/detik)
19

adalah 3,14r adalah jari-jari talang rambu (m)
d adalah diameter talang rambu (m)15 dari 28
d. Dimensi talang tegak

Keterangan:
v adalah kecepatan aliran air pada talang tegak (m/detik)
g adalah percepatan gravitasi (9,8 m/detik2)
h adalah tinggi jatuh air (m)
A adalah luas atap sebagai bidang penangkap (m2)
Q adalah debit air rata-rata hujan (m3/detik)
adalah 3,14
r adalah jari-jari talang rambu (m)
d adalah diameter talang rambu (m)
20

2.4 Pelaksanaan Konstruksi
2.4.1 Penyiapan Lokasi
Lokasi PAH harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Di samping atau di belakang rumah sedekat mungkin dengan talang rumah.
b. Ditempatkan pada lokasi tanah yang datar dan keras.
c. Sebelum pelaksanaan pembangunan PAH dimulai, siapkan lahan
untuk penyimpanan bahan material dan peralatan yang dibutuhkan.
2.4.2 Penyiapan Peralatan
Semua peralatan dan bahan seperti yang tertera pada spesifikasi bahan dan
peralatan yang diperlukan peralatan antara lain:
Kunci pas
Kunci ring
Martil
Tangga
Kunci pipa
Tang
Ember 15 liter
Drum
Mata gergaji
Sendok semen
Sekop
Ayakan kawat
Cangkul
Pembengkok besi
beton
2.4.3 Pengerjaan Konstruksi PAH
2.4.3.1 Pengerjaan Konstruksi PAH dari Ferro Semen
Cara pembuatan bak PAH dari ferro semen:
a. Tentukan lokasi dan galilah tanah untuk pondasi;
b. Hamparkan pasir urug setebal 5-10 cm dan padatkan;
c. Buat lantai kerja dari beton tumbuk setebal 5-10 cm;
d. d.Pasang tulangan untuk lantai kerja dan tulangan stek dinding dari kawat
seng;
e. Siapkan mal/bekisting sesuai ukuran bak yang akan dibuat;
f. Letakan mal di atas anyaman lantai kerja dan pada posisi yang baik
dan benar;
g. Pasang tulangan kawat ayam dan kawat seng sesuai kebutuhan;
h. Kencangkan tulangan dan kawat ayam dengan menggunakan alat nut;
21

i. Rapihkan dan ratakan sambungan dan overlaping tulangan kawat ayam;
j. Siapkan adukan dengan pemberian air secukupnya sehingga didapatkan
suatu adukan yang plastis;
k. Plester lantai dasar dengan tebal 5 cm, dan lapisan luar dinding setebal 1,5
cm;
l. Ratakan permukaan dinding dengan menggunakan sandal karet, kemudian p
elihara dengan ditutup lembaran plastik;
m. Siapkan tulangan tutup lembaran plastik;
n. Buka mal dinding setelah umur plesteran 3 hari;
o. Pasang tulangan tutup dengan membentuk cembung dan ditahan dengan
bekisting tiang penyangga/stut;
p. Ikat kuat-kuat tulangan tutup dengan tulangan dinding dan pasang kawat
ayam pada tulangan tutup;
q. Bentuk lubang periksa dan bak saringan dengan penulangan secukupnya;
r. Plester bagian dalam dinding dengan tebal 1,5 cm dan bagian tutup atas/luar
dengan tebal 2,5 cm;
s. Labur permukaan dinding dengan air semen sebelum diplester;
t. Tutup bagian atas tutup dengan lembaran plastik sampai dengan umur 4
hari;
u. Buka plastik, periksa lubang, dan plester bak saringan setelah berumur
4 hari;
v. Lakukan pekerjaan penyelesaian dengan mengaci seluruh permukaan
dinding dengan sous semen;
w. Tutup reservoir dengan menggunakan lembaran plastik sampai umur
2 minggu;
x. Isi bak dengan air secara bertahap dengan penambahan air setinggi 20 cm
per hari;
y. Periksa apakah terjadi kebocoran/kerusakan;
z. Bila terjadi retak/bocor, segera perbaiki dengan sous semen atau epoxy
resin.

22

2.4.3.2 Pengerjaan Konstruksi PAH dari Batu Bata
A. Pekerjaan Persiapan
1) Tentukan lokasi PAH pada tanah yang relatip datar dan dekat dengan
bangunan tadah air hujan (atap rumah);
2) Bersihkan lahan dari kotoran dan akar pohon;
3) Tandai dengan patok sesuai ukuran pada gambar (panjang= 2 m, lebar = 2
m dan tinggi = 1,3 m);
4) Hubungkan patok yang satu dengan yang lain dengan benang/tali hingga
mempunyai ketinggian yang sama;
B. Pembuatan pondasi PAH
1) Gali tanah untuk pondasi hingga kedalaman 60 cm;
2) Pasang lantai pasir padat setebal 10 cm;
3) Pasang batu kosong;
4) Pasang pondasi pasangan batu kali yang terbuat dari bahan batu kali
dengan campuran 1 semen : 3 pasir hingga ketinggian yang telah
ditetapkan;
5) Isi lubang bekas galian pondasi dengan tanah urug;17 dari 28
6) Rakit pembesian untuk slop beton sepanjang pondasi dengan ukuran 15
cm x15 cm;
7) Rakit pembesian (ukuran tulangan 15 cm x 15 cm) untuk tiang disetiap
sudut pondasi hingga mencapai ketinggian bak (1,3 meter);8)Buat cetakan
dari papan untuk mencetak adukan pada slop beton dan tiangbeton.
C. Pembuatan lantai dasar PAH
1) Buat campuran beton dengan perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil
sebanyak 0,40 m3 campuran harus rata dan tidak encer;
2) Tuangkan campuran beton untuk lantai dasar PAH setebal 10 cm, ratakan
adukan dengan menggunakan roskan;
3) Biarkan beton sampai kering dan mengeras sebelum
melanjutkan ke pembuatan dinding PAH;


23

D. Pembuatan dinding PAH
1) Buka cetakan kayu pada slop beton dan tiang beton bila
betonan sudahkering (+2 hari);
2) Pasang dinding bak dengan kontruksi batu bata hingga mencapai
ketinggian bak;
3) Buat lubang-lubang pada dinding PAH untuk memasang pipa outlet,
penguras, peluap dan kran diameter inchi sebanyak 4 buah;
4) Tutup celah-celah bekas pemasangan pipa-pipa pada butir 10 dengan
mortar semen, campuran 1 semen : 2 pasir;
5) Plester dinding bak dengan adukan campuran 1 semen : 2 pasir.
E. Pembuatan tutup PAH dan lubang pemeriksa
1) Pasang bekisting untuk pembuatan tutup bangunan PAH;
2) Pasang cetakan (terbuat dari bahan triplek) di atas bekisting;
3) Susun pembesian ukuran 8 mm - 15 mm yang telah dirakit, sesuai ukuran
tutup bangunan PMA yang akan dicor di atas cetakan;
4) Pasang pipa udara pada bagian yang telah ditentukan sebelum dicor;
5) Ganjal batu setebal 2 - 3 cm diseluruh bidang di bawah pembesian;
6) Buat sekat ukuran 60 cm X 60 cm dari kayu tipis pada bagian tutup bak
kontrol. Lakukan pengecoran dengan memasukkan adukan dengan
perbandingan 1semen : 2 pasir : 3 kerikil sambil dirojok agar seluruh
bidang terisi dan pembesiantertutup rata;
Buat cetakan untuk tutup lubang pemeriksa (manhole);
Pasang pembesian untuk tutup lubang pemeriksa dan lengkapidengan
pegangan yang terbuat dari besi inch;
Cor tutup beton dengan ketebalan kurang lebih 10 cm, biarkan hasil
pengecoran 3 sampai 4 hari (sampai kering);
Plester tutup bak dengan adukan perbandingan 1 pasir : 2 semen.
F. Pekerjaan lantai dan saluran pembuangan air
1) Kupas (gali) tanah dasar 1/3 lingkaran sepanjang 1,20 m dari sisi
(pinggir)pondasi dengan kedalaman 20 cm;
2) Lapisi dengan pasir padat setebal 5 cm;
24

3) Pasang batu kali atau batu bata dengan adukan 1 semen : 4 pasir;
4) Tuangkan campuran beton setebal 3 cm dan ratakan dengan roskam (alat
perata dari kayu);
5) Biarkan beton sampai kering;6)Pasang saluran pembuangan dengan
konstruksi pasangan batu.
2.5 Pengoperasian
2.5.1 Persiapan Pengoperasian
a) Sebelum waktu pengisian, kran pada pipamasukan harus selalu
dalam kondisi tertutup dan pipa pembuang terbuka.
b) Hindari air yang ada di talang pada saat hujanpertama setelah musim
kemarau.
c) Untuk pengisian bak, air hujan pada waktu limamenit pertama harus
dibuang untuk menghindari kotoran masuk ke dalam bak saringan.
d) Tampung air hujan melalui talang ke dalamPAH sebelum/setelah melewati
media penyaring.
2.5.2 Pelaksanaan Pengoperasian
a) Gunakan kran yang terpasang pada PAH untuk mengambil air.20 dari 28
b) Tutup PAH dengan rapat agar tidak terkontaminasi.
c) Bila bak penampung telah penuh, air harus segera dihentikan dengan
caramemindahkan talang atau mematikan kran agar tidak terjadi
pembuangan air yang dapat memperpendek umur layan dari bak saringan.
d) Alirkan air buangan melalui drainase yang ada di lantai dasar.
e) Cuci media penyaring 1 kali dalam 1 bulan atau sesuai kebutuhan.
f) Bak PAH dari pasangan bata tidak boleh dibiarkan dalam kondisi
kosong(tanpa air) untuk menjaga terjadinya retak akibat pengaruh cuaca.
g) Bak PAH harus dikuras sekurang-kurangnya 1 kali dalam 2 bulan dan
pada awal musim hujan, dengan cara membuka kran penguras dan
permukaan dinding bagian dalam dan dasar dibersihkan dengan cara
disikat.


25

2.5.3 Kelembagaan
a) Bila PAH digunakan secara komunal, pengelola adalah individu atau
kelompok yang ditunjuk oleh masyarakat pengguna PAH.
b) Pengelola bertanggungjawab terhadap keberlangsungan pelayanan PAH.
c) Pekerjaan yang dilaksanakan secara swakelola oleh masyarakat seperti
penggalian /
urugan tanah, pembuatan konstruksi bak PAH, pemasangan pipa harus
dilaksanakan dibawah pengawasan tenaga ahli / pendamping teknis /
PDAM.
d) Pembagian air minum kepada pemakai sesuai dengan jadual yang telah
disepakati.
2.5.4 Administrasi
a) Catat setiap pembagian air dalam buku catatan yang telah tersedia.
b) Retribusi dan jadwal penarikan retribusi ditentukan oleh pengelola dan
disetujui oleh masyarakat pengguna PAH.
2.6 Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi pemeliharaan harian atau mingguan, pemeliharaan bu
lanan, dan pemeliharaan tahunan sesuai Tabel 2.15.








26

Tabel 2.15
Cara Pemeliharaan PAH


Sumber : Permen PU No 1 Tahun 2009


27

2.7 Rehabilitasi
a) Perbaiki dinding PAH jika terjadi kebocoran ataukeretakan, dengan cara:
1) Tambal dengan lapisan mortar cement jika reservoir terbuat dari ferro
semen
2) Tambal dengan lapisan resin jika reservoir terbuat dari FRP
b) Ganti talang dan kran dengan yang baru jika terjadi kebocoran atau
kerusakan



















28

BAB III
SASARAN PENGGUNA

3.1. Sasaran Pengguna Teknologi Penampung Air Hujan (PAH)
Teknologi penampung air hujan (PAH) merupakan teknologi yang dapat
diterapkan di Indonesia maupun negara-negara berkembang lainnya. Teknologi
PAH ini memiliki beberapa kelebihan yaitu biaya pembangunan yang tidak mahal
dan perawatannya pun cukup mudah.
Adapun beberapa sasaran pengguna dari teknologi penampung air hujan
(PAH) antara lain sebagai berikut:
1. Masyarakat yang berada di daerah yang mengalami krisis air bersih
terutama di saat musim kemarau berlangsung.
2. Masyarakat yang berada di daerah yang sumber mata air, air tanah dan air
permukaan sulit didapatkan.
3. Masyarakat yang berada di daerah yang belum memiliki teknologi mesin
pompa air untuk mengambil air tanah dan masih menggunakan sumur
sebagai sumber penyedia air bersih.
3.2. Contoh Penerapan Teknologi Penampung Air Hujan (PAH) di
Indonesia
Teknologi penampung air hujan (PAH) di Indonesia telah diterapkan
dibeberapa daerah antara lain sebagai berikut:
1. Kabupaten Pidie Provinsi Nangroe Aceh Darusalam

29


Gambar 3.1
Penerarapan Teknologi PAH di Kabupaten Pidie Provinsi Nangroe Aceh
Darusalam
Sumber : http://green.kompasiana.com/polusi/2013/11/14/penampung-air-hujan-
pah-solusi-efektif-dan-sederhana-untuk-menghandapai-krisis-air-baku-bersih-
609387.html
2. Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Gambar 3.2
Penerarapan Teknologi PAH di Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta
Sumber : http://green.kompasiana.com/polusi/2013/11/14/penampung-air-hujan-
pah-solusi-efektif-dan-sederhana-untuk-menghandapai-krisis-air-baku-bersih-
609387.html
30


Gambar 3.3
Saluran Air dari Talang Menuju PAH
Sumber : http://anitadwinurjanah.blogspot.com/2013/02/penampungan-air-hujan-
pah.html

Gambar 3.4
Kran Pengambilan Air
Sumber : http://anitadwinurjanah.blogspot.com/2013/02/penampungan-air-hujan-
pah.html
31

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Ketentuan Teknis dan Non-Teknis
4.1.1 Ketentuan Umum
Penyelenggaraan PAH harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1. PAH harus dilaksanakan oleh orang yang berpengalaman.
2. Lokasi tempat PAH dipilih pada daerah-daerah kritis dengan curah hujan
minimal 1.300 mm per tahun.
3. Pelaksanaan konstruksi PAH harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4. PAH dipasang di lokasi atau daerah rawan air minum.
5. Penempatan PAH harus dapat menampung air hujan dan/atau pada kondisi
tertentu dapat menampung air minum dari PDAM yang didistribusikan
melalui mobil tangki air/kapal tangki air.
6. Adanya partisipasi masyarakat setempat dalam pelaksanaan pembangunan,
pengoperasian dan pemeliharaan PAH.
7. PAH dapat digunakan secara individual maupun kelompok masyarakat.
8. Air hujan jatuh pertama setelah musim kemarau tidak boleh langsung
ditampung.
9. PAH harus kedap air.
4.1.2 Ketentuan Teknis
1. Komponen PAH
PAH terdiri dari beberapa komponen sebagaimana dicantumkan dalam tabel
berikut:
Tabel 4.1
Komponen Penampung Air Hujan
No Komponen Fungsi Keterangan
1. Bidang
penangkap air
Menangkap air hujan sebelum mencapai
tanah
Atap rumah terbuat
dari genting atau seng
2. Talang
air/pembawa
Mengumpulkan atau menangkap air hujan
yang jatuh pada bidang penangkap dan
Talang dilengkapi
dengan alat pengalih
32

No Komponen Fungsi Keterangan
(talang rambu
dan talang
tegak)
mengumpulkan ke bak penampung aliran untuk mengatur
arah aliran menuju
bak penampung
3. Saringan Menyaring air hujan dari kotoran. Media
penyaring dapat berupa pasir dengan
kerikil/pecahan bata/marmer sebagai
penyangga.
Diletakkan di atas bak
penampung dan/atau
sebelum kran.
4. Lubang periksa
(manhole)
Memberikan akses untuk masuk ke dalam
bak penampung pada saat memperbaiki
dan/atau membersihkan
Harus ditutup
5. Bak
penampung
Berfungsi sebagai reservoir/bak untuk
menampung air hujan dengan aman yang
dikumpulkan sewaktu musim hujan atau
dapat juga digunakan untuk menampung
air bersih yang didistribusikan melalui
mobil tangki air/kapal tangki air. Air ini
akan dimanfaatkan hanya sebagai air
minum. Dengan adanya PAH ini
diharapkan kebutuhan air minum keluarga
akan terjamin pada musim kemarau.
Terbuat dari bahan
ferro semen, pasangan
bata, drum besi,
fiberglass reinforced
plastic (FRP)
6. Pipa masukan Mengalirkan air ke dalam bak
penampung.

7. Pipa peluap Meluapkan air hujan yang melebihi
kapasitas penampung dan berfungsi
sebagai pipa udara/ventilasi.
Harus ditutup dengan
kasa nyamuk
8. Kran pengambil
air
Untuk mengeluarkan atau mengambil air
dari bak penampung bagi konsumen.

9. Kran/pipa
penguras
Untuk jalan air keluar saat menguras
PAH.

33

No Komponen Fungsi Keterangan
10. Saluran
pembuangan
Untuk menyalurkan air buangan agar
PAH tetap bersih dan kering.

11. Pipa udara Untuk mengeluarkan gas-gas yang terlarut
dalam air hujan.

12. Lantai Tempat bangunan PAH dan tempat
aktifitas mengambil air.

Sumber : Petunjuk Praktis Pembangunan PAH Pasangan Bata, Deptartemen PU
2. Kapasitas Bak Penampung
Kapasitas bak penampung ditentukan berdasarkan:
a. Tinggi curah hujan minimal 1.300 mm per tahun.
b. Luas bidang penangkap air (minimal sama dengan luas satu atap
rumah).
c. Kebutuhan pokok pemakaian air (1015) L/orang/hari.
d. Jumlah hari kemarau.
e. Jumlah penduduk terlayani.
3. Komponen Media Penyaring
Ketentuan komponen media penyaring adalah sebagai berikut:
a. Pasir dengan ketebalan (300-400) mm, ukuran diameter efektif (0,30-
1,20) mm, koefisien keseragaman (1,2-1,4) mm, dan porositas 0,4.
b. Kerikil dengan ketebalan 200-350 mm dan diameter (10-40) mm.
4.2 Proses dan Perhitungan Desain Teknologi
4.2.1 Proses Pembuatan PAH
1. Pekerjaan Persiapan
Kegiatan persiapan yang perlu dilakukan:
a. Tentukan lokasi PAH pada tanah yang relatif datar dan dekat dengan
bangunan penangkap air hujan (atap rumah)
b. Bersihkan lahan dari kotoran dan akar pohon
c. Tandai dengan patok sesuai ukuran pada gambar ( Panjang= 2m,
Lebar= 2m, tinggi= 1,3m)
34

d. Hubungkan patok yang satu dengan yang lain dengan benang/tali
hingga mempunyai ketinggian yang sama
e. Tempatkan bahan-bahan di dekat lokasi bangunan PAH

Gambar 4.1
Pematokan Lokasi Badan Pondasi
Sumber: Dirjen Cipta Karya
2. Pembuatan Pondasi PAH
Pembuatan pondasi PAH dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Gali tanah untuk pondasi hingga kedalaman 60 cm pada lereng tebing
dan 30 cm pada sisi lain dari bak
b. Pasang lantai pasir padat setebal 10 cm
c. Pasang batu kosong
d. Pasang pondasi pasangan batu kali yang terbuat dari bahan batu kali
dengan campuran 1 semen: 3 pasir hingga ketinggian yang telah
ditetapkan
e. Isi lubang bekas galian pondasi dengan tanah urug
f. Rakit pembesian untuk slop beton sepanjang pondasi dengan ukuran 15
cm x 15 cm
g. Rakit pembesian (ukuran tulangan 15 cm x 15 cm) untuk tiang disetiap
sudut pondasi hingga mencapai ketinggian bak (1.3 m)
h. Buat cetakan dari papan untuk mencetak adukan pada slop beton dan
tiang beton
i. Tuangkan campuran beton dengan campuran beton 1 semen: 2 pasir: 3
kerikil pada cetakan tersebut
j. Biarkan beton sampai kering untuk memudahkan pekerjaan selanjutnya
35


Gambar 4.2
Pemberian Pasangan Batu Kosong dan Pemasangan Pondasi
Sumber: Dirjen Cipta Karya


Gambar 4.3
Pembesian dan Pembuatan Cetakan Tiang Beton PAH
Sumber: Dirjen Cipta Karya
3. Pembuatan Lantai Dasar PAH
Pembuatan lantai dasar PAH dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Buat campuran beton dengan perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil
sebanyak 0,40 m
3
. Campuran harus rata dan tidak encer.
b. Tuangkan campuran beton untuk lantai dasar PAH setebal 10 cm,
ratakan adukan dengan menggunakan roskan
c. Biarkan beton sampai kering dan mengeras sebelum melanjutkan ke
pembuatan dinding PAH
36


Gambar 4.4
Pembuatan Lantai PAH
Sumber: Dirjen Cipta Karya
4. Pembuatan Dinding PAH
Pembuatan dinding PAH dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Buka cetakan kayu pada slop beton dan tiang beton bila betonan sudah
kering ( 2 hari)
b. Pasang dinding bak dengan konstruksi batu bata hingga mencapai
ketinggian bak
c. Buat lubang-lubang pada dinding PAH untuk memasang pipa outlet,
penguras, peluap dan kran diamter 0,5 inchi sebanyak 4 buah
d. Tutup celah-celah bekas pemasangan pipa-pipa pada butir 10 dengan
mortar semen, campuran 1 semen : 2 pasir
e. Plester dinding bak dengan adukan campuran 1 semen: 2 pasir

Gambar 4.5
Pekerjaan Plester Dinding PAH
Sumber: Dirjen Cipta Karya
37


5. Pembuatan Tutup PAH dan Lubang Pemeriksa
Pembuatan tutup PAH dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Pasang bekisting untuk pembuatan tutup bangunan PAH
b. Pasang cetakan (terbuat dari triplek) diatas bekisting
c. Susun pembesian ukuran 8 mm 15 mm yang sudah dirakit, sesuai
dengan ukuran tutup bangunan PMA yang akan divor di atas cetakan
d. Pasang pipa udara pada bagian yang telah ditentukan sebelum dicor
e. Ganjal batu setebal 2-3 cm diseluruh bidang dibawah pembesian
f. Buat sekat ukuran 60 cm x 60 cm dari kayu tipis pada bagian tutup bak
kontrol
g. Lakukan pengecoran dengan memasukkan adukan dengan
perbandingan 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil sambil dirojok agar seluruh
bidang terisi dan pembesian tertutup rata
h. Buat cetakan untuk tutup lubang pemeruksa (manhole)
i. Pasang pembesian untuk tutup lubang pemeriksa dan lenhkapi dengan
pegangan yang terbuat dari beso inchi
j. Cor tutup beton dengan ketebalan kut=rang-lebih 10 cm, buarkan hasil
pengecoran 3 sampai 4 hari (sampai kering)
k. Plester tutup bak dengan adukan perbandingan 1 pasir : 2 semen


Gambar 4.6
Cetakan Lubang Pemeriksa dan Pengecoran Tutup PAH
Sumber: Dirjen Cipta Karya

38

6. Pekerjaan Lantai dan Saluran Pembuangan Air
Pembuatan lantai dan saluran pembuangan air dapat dilakukan sebagai
berikut:
a. Kupas (gali) tanah dasar 1/3 lingkaran sepanjang 1,20 m dari sisi
(pinggir) pondasi dengan kedalaman 20 cm
b. Lapisi dengan pasir padat setebal 5 cm
c. Pasang batu kali atau batu bata dengan adukan 1 semen : 4 pasir
d. Tuangkan campuran beton setebal 3 cm dan ratakan dengan roskam
e. Biarkan beton sampai kering
f. Pasang saluran pembuangan dengan konstruksi pasangan batu

Gambar 4.7
Pembuatan Saluran Pembuangan Air
Sumber: Dirjen Cipta Karya
4.2.2 Perhitungan Desain Bak Penampungan Air Hujan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bak penampungan
air hujan adalah (Setiawan, 2008) :
1. Konsumsi air
2. Volume bak
3. Luas atap
4. Menentukan lokasi bak penampungan
1. Konsumsi Air
Konsumsi air adalah jumlah air yang dibutuhkan oleh seseorang dalam
sehari. Berdasarkan laporan penelitian Yayasan Dian Desa, konsumsi air
penduduk yang mengandalkan air hujan sebagai sumber utama, ada perbedaan
39

mencolok antara musim hujan dan kemarau. Contoh di beberapa tempat di
wilayah Gunungkidul Yogyakarta dan Madura. Pada musim hujan mereka
mengkonsumsi air sekitar 30 liter/jiwa/hari. Sedangkan pada musim kemarau
konsumsi air mereka bisa merosot sampai 5-8 liter/jiwa/hari (Setiawan, 2008).
2. Volume Bak
Berdasarkan kebutuhan air tersebut maka dapat diperhitungkan volume bak
penampung air yang dibutuhkan. Walaupun menurut data di muka konsumsi air di
musim kemarau bisa hanya 5 liter/jiwa/hari, namun untuk dasar perhitungan bak
disarankan menggunakan angka 10 liter. Rumus yang digunakan untuk
menghitung volume bak penampung air hujan adalah sebagai berikut (Setiawan,
2008):

Keterangan :
Vb = Volume bak penampungan air hujan(m)
n = Jumlah jiwa pemakai air
hk = Jumlah hari saat bulan kemarau
hh = Jumlah hari saat musim hujan
k = Konsumsi air di musim kemarau (lt/jiwa/hari)
h = Konsumsi air di musim hujan (lt/jiwa/hari)
Sebagai contoh perhitungan dalam suatu keluarga terdiri dari 5 orang,
konsumsi air adalah 10 lt/jiwa/hari di musim kemarau. Daerah tersebut umumnya
terdapat 4 bulan kering atau 120 hari. Maka volume bak yang diperlukan adalah
(Setiawan, 2008) :

40

3. Luas Atap
Luas atap (catchment area) perlu diketahui, sebab jika besarnya tidak
memadai dengan volume bak yang dibangun maka akan sia-sia. Akibatnya bak
tidak pernah terisi penuh, terutama pada awal bulan kering. Perhitungan ini
melibatkan jumlah akumulasi curah hujan selama musim penghujan. Data ini tiap
daerah berlainan dan dapat diperoleh pada stasiun curah hujan setempat
(Setiawan, 2008).
Perhitungan luas atap juga dipengaruhi oleh kondisi air selama musim hujan
sebab pada praktiknya air bak juga dimanfaatkan guna memenuhi keperluan air
sehari-hari di musim hujan. Maka luas atap selain bisa memenuhi kebutuhan air
sehari-hari dimusim hujan juga harus masih bisa mencakupi untuk memenuhi bak
penampungan (Setiawan, 2008).
Untuk menghitung luas atap yang diperlukan dapat dipakai rumus sebagai
berikut (Setiawan, 2008) :

Keterangan:
A = Luas atap (m)
Va = Volume akumulasi air yang dikonsumsi selama musim hujan (m)
Vb = Volume bak penampungan air hujan (m)
R = Jumlah akumulasi curah hujan selama musim hujan (mm)
Sebagai contoh perhitungan, misalnya suatu keluarga di daerah Hargosari
terdiri dari 5 orang. Akumulasi curah hujan basah November-mei adalah 1.351
mm (8 bulan atau 240 hari). Konsumsi air di musim hujan 30 lt/jiwa/hari. Volume
bak yang dibuat 6 m. Maka luas atap yang diperlukan dapat dihitung sebagai
berikut (Setiawan, 2008) :
41


Dengan perhitungan diatas, luas atap yang dibutuhkan adalah sekitar 32 m.
Jadi, jika luas atap yang telah ada kurang dari angka tersebut dilakukan
penambahan luas. Tapi jika lebih besar dari angka perhitungan tidak jadi masalah.
Tapi ingat, yang dimaksud luas atap adalah penampang datarnya, maka
kemiringannya tidak mempengaruhi (Setiawan, 2008).

Gambar 4.8
Skema Luas Atap
Sumber: www.oas.org
42

4. Lokasi Bak Penampungan
Menurut Haryoto, 1995 dalam Setiawan 2008, untuk menentukan lokasi bak
penampung air hujan perlu diperhitungkan segi kepraktisan dan pengisian air,
kesehatan lingkungan serta ketinggian talang rumah. Maka bila memungkinan
sebaiknya bak penampung air hujan dibangun dekat dapur, namun dijauhkan dari
kandang ternak atau comberan.

























43

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Teknologi merupakan keseluruhan metode yang secara rasional mengarah
dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia. Dalam
penerapan program SANIMAS diperlukan suatu teknologi yang tepat untuk
diterapkan di suatu daerah atau lebih dikenal sebagai teknologi tepat guna. Teknik
panen air hujan dengan atap merupakan salah satu bentuk upaya penyediaan air
bersih yang sangat baik, mudah, dan relatif murah pembuatannya.
Adapun beberapa sasaran pengguna dari teknologi penampung air hujan
(PAH) antara lain sebagai berikut:
1. Masyarakat yang berada di daerah yang mengalami krisis air bersih
terutama di saat musim kemarau berlangsung.
2. Masyarakat yang berada di daerah yang sumber mata air, air tanah dan air
permukaan sulit didapatkan.
3. Masyarakat yang berada di daerah yang belum memiliki teknologi mesin
pompa air untuk mengambil air tanah dan masih menggunakan sumur
sebagai sumber penyedia air bersih.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan antara lain :
1. Perlu adanya kerjasama antara pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat
sehingga jumlah penduduk yang mendapatkan akses air bersih menjadi
meningkat sesuai dengan cita-cita Millenium Development
Goals 2015 dimana jumlah penduduk Indonesia yang memperoleh akses air
bersih mencapai 80%.
2. Untuk keperluan estimasi dimensi bangunan penampung air hujan yang
lebih akurat diperlukan data yang lebih lengkap, baik data klimatologi, data
kependudukan dan data-data lain yang mendukung untuk digunakan analisis
potensi ketersediaan dan kebutuhan air di suatu kota.
44

3. Perlu adanya analisis perkiraan biaya untuk pembangunan tiap unit
bangunan penampung air hujan.
4. Perlu adanya studi pembanding antara satu daerah dengan daerah lainnya
sehingga dapat diketahui metode yang tepat yang dapat diterapkan untuk
menanggulangi kelangkaan air di suatu tempat sesuai dengan kondisi dan
keadaan sosial ekonomi masyarakatnya.




45

DAFTAR PUSTAKA

SNI Pd T-09-2005-C. Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (PAM BM).
Pembangunan prasarana dan sarana. Badan Litbang PU Departemen
Pekerjaan Umum.
Petunjuk Praktis Pembangunan Penampungan Air Hujan (PAH) Pasangan Bata.
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Setiawan, Danang P., 2008, Studi Kualitas dan Pengolahan Air pada
Penampungan Air Hujan di Desa Hargosari Gunung Kidul menggunakan
Filter Karbon Aktif dan UV. UII: Yogyakarta
http://anitadwinurjanah.blogspot.com/2013/02/penampungan-air-hujan-pah.html
http://www.digilib.its.ac.id
http://green.kompasiana.com/polusi/2013/11/14/penampung-air-hujan-pah-solusi-
efektif-dan-sederhana-untuk-menghandapai-krisis-air-baku-bersih-
609387.html
http://www.scribd.com/doc/73630034/Modul-Penampungan-Air-Hujan-PAH