Anda di halaman 1dari 4

Jenis Monitoring dan Proses Pengawasan Kredit

Resiko itu ada dalam setiap bentuk dan jenis kegiatan, termasuk dalam proses
kegiatan perkrditan bank. Hanya saja intensitas resiko itu berbeda dalam setiap bentuk dan
jenis kegiatan. Resiko-resiko itu harus diantisipasi agar pengaruh negatifnya terhadap
perkreditan dapat diminimalkan. Tidak ada suatu kredit itu macet secara tiba-tiba bila
tahap-tahap dalam proses pemberian kredit diikuti dengan baik. Bila sutau bank telah
melakukan monitoring dengan baik, berarti bank tersebut telah menjalankan early warning
system, dimana deteksi dini dilakukan untuk mengetahui ndikasi-indikasi yang merupakan
potensial risk bagi perkreditan bank.
Indikasi-indikasi penyimpangan dapat dideteksi melalui beberapa jenis
monitoring. Jenis monitoring yang lebih efisien banyak tergantung pada penggunaan
tenaga, waktu, biaya, dan risiko yang dihadapi sebab bank akan selalu mempertimbangkan
hal tersebut. Indikasi-indikasi tersebut merupakan penyimpangan-penyimpangan atas terms
of lending, dimana intinya adalah ketentuan otoritas moneter, ketentuan bank,
prasyarat/syarat, dan hasil negosiasi antara bank dan nasabah.
1. Monitoring
Maksud bank melakukan monitoring adalah untuk mengetahui secara dini
penyimpangan yang terjadi dari kegiatan perkreditan (deviasi)sehingga bank dapat
mengambil langkah-langkah secepat mungkin untuk perbaikannya. Namun, bank juga harus
memilih jenis monitoring yang akan dipergunakan karena menyangkut masalah biaya dan
efesiensi kredit itu sendiri. Adapun Monitoring ini diklasifikasikan dalam tiga jenis, yaitu :
a. On Desk Monitoring
Pemantauan kredit secara administrastif, yakni melalui instrument-instrumen
administrasi, seperti laporan-laporan, financial statement (neraca, 4R, sumber dan
penggunaan dana), kelengkapan dokumen, informasi pihak ketiga. Dan data-data
admnistrasi yang di monitor oleh bank adalah kegiatan nasabah dan bank sendiri, seperti :
1. Anggaran dan neraca kerja perusahaan nasabah
2. Financial statement (neraca, 4R, sumber/penggunaan dana)
3. Laporan-laporan perkembangan perusahaan
4. Laporan-laporan produksi/ pembelian, pemasaran/ penjualan, persediaan
barang, piutang/ utang, biaya, dan sebagainya.
5. Dokumen dan pengikatan-pengikatan jaminan (utama dan tambahan)
6. Plafon dan saldo debit fasilitas kredit serta mutasinya
7. Jenis dan jangka waktu kredit
8. Mutu kredit yang tergambar dalam kolektibilitasnya
9. Terms of lending setiap sector/ bidang usaha
b. On Site Monitoring
Pemantauan kredit itu lansung ke lapangan (nasabah), baik sebagian atau
menyeluruh, maupun khusus atas kasus tertentu untuk membuktikan pelaksanaan
kebijakan kredit bank, atau secara menyeluruh apakah ada deviasi yang terjadi atas terms of
lending yang disepakati.
Pemantauan kredit langsung ke lapangan ini bertujuan untuk mengetahui
apakah terjadi ketidaksesuain antara laporan-laporan dan kondisi fisik dari kegiatan usaha
nasabah. Kegiatan menurut administrasi harus sesuai dengan fisiknya kegiatan usaha
nasabah tersebut.
c. Exception Monitoring
Adalah pemantauan kredit dengan memberikan tekanan kepada hal-hal yang
kurang berjalan baik dan hal-hal yang telah berjalan sesuai dengan terms of lending,
dikurangi intensitasnya.
2. Warning Signs
Jarang kredit bermasalah itu terjadinya secara tiba-tiba, tetapi sering
penyimpangan itu terjadi secara perlahan-lahan dalam berbagai usahanasbah sehingga
akhirnya berakibat nasabah tidak mampu membayar kembali kreditnya. Antara lain tanda-
tanda peringatan atas tidak berjalan baiknya kegiatan usaha atau kredit yang dinikmatinya
sebgai berikut.
a. Sinyal dari Financial Statement
Financial statement analysis merupakan alat utama untuk mendeteksi
kecenderungan menurunnya rasio-rasio keuangan nasabah, seperti:
1) Menurunya posisi cash flow, sering terjadi overdraft, dan masalah sulitnya
penagihan utang usaha
2) Lambannya penagihan piutang dagang, lemahnya customer, lemahnya
prosedur penagihan dari piutang-piuang sengketa
3) Meningkatnya penjualan kredit, konsekuensinya meningkat pula piutang
dagang
4) Meningkatnya persediaan barang sehingga meningkat pula posisi baki debit
pinjamannya
5) Melemahnya inventory turn over
b. Sinyal dari Nasabah dalam Sikap Bisnisnya
Untuk mendeteksi sinyal-sinyal sikap bisnis nasabah, pejabat bank harus
mengenal dengan baik bisnis nasabah secra baik, seperti berikut ini.
1) Hubungan nasabah dengan mitra usahanya makin menurun
2) Ada kecenderungan nasabah meningkatkan spekulasi/gambling sehingga
terjadi peningkatan resiko kredit
3) Nasabah menurunkan harga barang dan jasa tanpa memerhatikan posisi
berada dibawah BEP
4) Nasabah kehilangan kunci-kunci distribusi barang-barang sehingga
menurunkan market share-nya
5) Nasabah kehilangan beberapa costumer base, yang mempunyai kondisi
keuangan yang sehat
c. Sinyal dari sikap nasabah
Umunya dalam hubungan pinjam-meminjam, nasabah berkomunikasi lebih
mudah dan terbuka tentang bisnis individual relationship. Hubungan-
hubungan ini menjadi retak/jarang. Ini merupakan indikasi da masalah.
Dalam hal ini, pejabat bank semestinya lebih peka atas perubahan tersebut.
Kepekaan itu terutama atas:
1) Kesulitan atau masalah keluarga nasabah
2) Kontak-kontak telepon dari pejabat bank tidak mendapat reaksi dari
nasabah
3) Sakit yang serius dari nasabah atau keluarganya
4) Mengembangkan produk-produk baru di luar core business-nya
5) Menjual aset yang terkait dengan kegiatan usaha
d. Sinyal dari Ekonomi Makro
Sektor bisnis utama cenderung terpengaruh oleh business cycle. Bank harus
memberikan perhatian terhadap kemampuan nasabah atas siklus dan perubahan bisnis
dalam segala bentuk. Prospek usaha nasabah masa mendatang akan sangat terpengaruh
performanya atau nasabah mampu mengikuti perubahan tersebut. Poor loan quality terus
akan lebih dominan yang menjadi penyebab dari kegagalan atau masalah bank.

Anda mungkin juga menyukai