Anda di halaman 1dari 18

Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 25




BAB III
PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN KONSTRUKSI BENDUNG

3.1 Data Perencanaan
Adapun data teknis yang diperlukan untuk mendesain bendung dan bangunan pelengkap secara
umum adalah sebagai berikut :
1. Data Topografi
2. Data Tanah

3.1.1 Data Topografi
Kemiringan sungai : 0.048
Lebar sungai rata-rata : 20 m
Kedalaman sungai : 3.52 m
Panjang sungai : 2.25 km
Elevasi dasar sungai di daerah konstruksi : +664 m

3.1.2 Data Tanah
Data tanah di lokasi konstruksi bendung didapatkan melalui perhitungan dan asumsi, pada
kasus ini data yang didapatkan adalah sebagai berikut.
Tabel 3.1 Data Tanah

Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 26

3.2 Perhitungan Perencanaan Hidrolis
Pada perencanaan hidrolis meliputi perencanaan tinggi mercu, tinggi bendung, lebar bendung, lebar
pintu bilas, tebal pilar, dan lebar efektif bendung. Pada perencanaan tugas besar ini, tipe bendung
yang dipilih adalah mercu bendung bulat dari beton.


3.2.1 Tinggi Mercu Bendung
Elevasi mercu bendung merupakan salah satu bagian dari perencanaan bendung. Penentuan
elevasi untuk bangunan bendung didasarkan pada peta kontur DAS Cipasauran pada
lampiran. Beberapa hal yang menyebabkan penentuan letak lokasi bendungan menurut KP-
02 yaitu :
Pemilihan lokasi bendung yaitu pada lembah yang sempit dan tidak terlalu dalam ataupun
dangkal.
Dipilih pada bagian sungai yang lurus. Jika bagian sungai tidak lurus maka bisa pada
belokan sungai dengan syarat bangunan intake harus terletak pada tikungan luar dan
terdapat bagian sungai yang lurus di hulu bendung.
Pemilihan lokasi bendung harus juga memperhatikan sektor ekonomis sehingga
pembangunan tidak terlalu mahal.
Untuk menentukan tinggi mercu suatu bendungan dibutuhkan data-data berupa tinggi muka
air yang dibutuhkan pada pintu intake, kebutuhan air di area irigasi, lebar sungai yaitu ketika
dalam keadaan banjir, tinggi mercu yang akan direncanakan, serta debit yang akan
diperkirakan bakal melewati mercu bendung. Debit yang digunakan adalah debit banjir pada
100 tahun (Q100) karena perencanaan mengenai umur bendung tidak lebih dari 100 tahun.
Dalam menghitung elevasi mercu bendung dapat dilakukan dengan penjumlahan beberapa
elevasi yang telah diketahui dan perkiraan kehilangan tinggi muka air selama perjalanan ke
areal persawahan di saluran. Data-data yang diperoleh untuk menentukan elevasi puncak
mercu bendung adalah sebagai berikut :
1. Elevasi sawah tertinggi = + 663,000 m
2. Tinggi air di sawah = 0,100 m
3. Kehilangan tinggi tekan :
dari saluran tersier ke sawah = 0,100 m
dari saluran sekunder ke saluran tersier = 0,100 m
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 27

dari saluran induk ke saluran sekunder = 0,100 m
dari sungai ke saluran induk = 0,200 m
karena kemiringan sungai = 0,150 m
karena bangunan ukur = 0,400 m
4. Persediaan tekanan:
untuk bangunan pengairan yang lain = 0,250 m
untuk eksploitasi = 0,100 m
----------------------
Elevasi mercu bendung = + 664,500 m
Catatan :
Data-data yang telah diperoleh diatas seperti data kehilangan tinggi muka air di saluran merupakan
data standar dalam penetuan kehilangan tinggi muka air di saluran (dapat dilihat dalam buku
Standar Perencanaan Irigasi yang diterbitkan oleh Dirjen PU Pengairan).

3.2.2 Tinggi Bendung
Penentuan tinggi bendung direncanakan berdasarkan tinggi mercu yang dibutuhkan dan
elevasi dasar sungai. Elevasi dasar sungai disini dapat diasumsikan sebagai elevasi lantai
muka bendung.
Elevasi muka bendung / mercu = + 664,500 m
Elevasi dasar lantai muka = + 660,500 m
Tinggi bendung , P = elevasi mercu - elevasi dasar sungai
P = 664,5 660,5 = 4 m

3.2.3 Lebar Bendung
Penentuan lebar bendung didasarkan pada elevasi tinggi bendung dan elevasi tanah
setempat serta bentuk palung sungai. Pada perencanaan lebar bendung pada tugas ini, lebar
bendung sama dengan lebar sungai pada elevasi bendung yang telah direncanakan. Apabila
hal ini menyebabkan tinggi muka air di atas bendung menjadi tinggi sekali, maka
diperkenankan mengambil lebar bendung sampai 1,2 lebar sungai. Diketahui lebar Sungai
Cibeusi dari peta kurang lebih 20 meter, maka lebar bendung = 1,2 x 20 = 24 m

Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 28


3.2.4 Lebar Pintu Penguras
Sebagai acuan, lebar pintu penguras diambil:
1. BP = 0,1 x lebar bendung
BP = 0,1 x 24 = 2,4 m
2. BP = 0,5 x lebar pintu pengambilan
BP = 0,5 x 4,513 = 2,256 m
Dari kedua harga ini akan diambil nilai yang terbesar, maka didapakan lebar pintu
penguras (BP) = 2,256 m.

3.2.5 Tebal Pilar
Pilar-pilar yang ada pada bendung digunakan untuk jembatan dan pintu bilas. Lebar bilas
tergantung pada ada atau tidaknya pengambilan lewat bendung dan tergantung pada lebar
pintu bilas serta tinggi pilar itu sendiri. Tebal pilar untuk jembatan tergantung pada beban
pada jembatan. Perkiraan biasa diambil antara 1-2 m untuk pilar beton. Pada tugas besar ini
akan dipakai lebar pilar sebesar 1,0 m dengan jumlah pilar 4 buah.

3.2.6 Lebar Efektif Bendung (Beff)
Merupakan bagian dari lebar bendung yang berfungsi untuk mengalirkan debit, yaitu lebar
bendung dikurangi pilar-pilar dan pengurangan kemampuan pengaliran lewat pintu bilas.
B
eff
= () ( )


keterangan :
B
eff
= lebar efektif bendung
B
(mercu)
= lebar bendung - lebar pintu penguras n x tebal pilar
= 24 2,256 4 x 1 = 17,74 m
n = jumlah pilar = 4 buah
ka = koefisien konstruksi pangkal bendung = 0,1 (asumsi)
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 29

kp = koefisien konstruksi pilar = 0,01 (asumsi)
H
1
= tinggi energi
1. Menghitung nilai H
1

- Tinggi air yang melewati bendung dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

dengan :
Cd = C
0
x C
1
x C
2

Q = debit rencana (m
3
/s)
g = percepatan gravitasi (m/s
2
)
be = lebar sungai di bendung (m)
Direncanakan p/H1 1,5 dengan Q = 159,726 m
3
/s.
- Mengasumsikan jari-jari bendung (r) = 0,5 H
1
maka didapat H1/r = 1.66
- Nilai C
0
dicari dengan menggunakan grafik berikut.

Gambar 3.1 Grafik Koefisien C
0

Dengan menggunakan grafik seperti pada gambar di atas, diperoleh:
maka C
0
= 1,43
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 30

Nilai C1 dicari dengan menggunakan grafik berikut.

Gambar 3.2 C
1
vs p/H
1

Untuk p/He1 = 1,66 , dari grafik di atas diperoleh nilai C
1
=0,925.
- Nilai C
2
dicari dengan menggunakan grafik berikut.

Gambar 3.3 Grafik Koefisien C
2

Untuk p/He1=1,5 , maka dari grafik di atas diperoleh C
2
= 1,02
- Setelah Co, C
1
, dan C
2
diperoleh, maka Cd = 1,27 x 0,925 x 1.02 = 1,198
Dibandingkan nilai Cd dengan Cd, jika nilainya hampir sama, maka Cd tersebut dipakai.
Sehingga diperoleh untuk Cd = 1,198, H
1
= 2,482 m.
B
eff
= ( )
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 31

2. Penentuan jari-jari mercu bendung
Pada tipe bendung dipilih bedung mercu bulat yang direncanakan menggunakan pasangan batu
sehingga besar jari-jari mercu bendung (r) = 0,1.H1 0,7.H1, sesuai dengan asumsi sebelumnya,
maka diambil :
r = 0,5 * H1 = 0,5 *2,482 m = 1,2 1,2 m

Gambar 3.4 Jari-jari Mercu Bendung

3.2.7 Perhitungan Saluran Pengambilan
Perhitungan debit saluran :


keterangan :
Q = debit yang diperlukan (m
3
/s)
c = koefisien pengaliran = 0,85 (ditentukan)
Ef = Efisiensi saluran ; terdiri dari Ef
tersier
= 80 % ; Ef
sekunder
= 90 %
Ef primer = 90 % ; sehingga EF = 80 % x 90 % x 90 % = 65 %
a = kebutuhan air untuk irigasi (L/s/Ha)
A = luas areal yang akan dialiri (Ha)
Dalam perhitungan debit saluran menggunakan data pada Tugas Besar Irigasi dan Drainase
dimana,
a = 1,64 L/s/Ha = 0,0164 m
3
/s/Ha
A = 19861,3 Ha
Sehingga didapatkan besar debit pengaliran,
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 32




3.2.7.1 Perhitungan Dimensi Saluran Pengambilan
Berdasarkan standard Dir.Irigasi :
Dengan Q = 42,7263 m
3
/s, maka untuk debit Q > 10 m
3
/s maka didapatkan,
diambil

= 2,433 , pertimbangan agar saluran tidak terlalu lebar


()

)
Maka akan dicoba dengan rumus Strickler, dengan langkah perhitungan sebagai berikut :
1. Mengasumsikan kecepatan yang terjadi. Nilai asumsi ini akan dipakai dalam
perhitungan selanjutnya. Satuan yang dipergunakan adalah m/det.
2. Menghitung luas penampang basah saluran (A) dalam m
3


3. Menghitung kedalaman saluran (h). Dengan menggunakan persamaan
[ ( )]
Dimana nilai luas penampang basah (A), kemiringan dinding saluran (m) serta
perbandingan lebar dasar dan kedalaman saluran (b/h) diketahui maka,

1,03 m
4. Menghitung kembali luas penampang basah saluran dengan nilai kedalaman aliran
yang telah diperoleh dengan nilai lebar dasar saluran (b) diganti dengan nilai
perbandingan yang ada.

() [ ( )]


5. Memeriksa apakah kecepatan yang terjadi sama dengan nilai asumsi awal yang telah
diambil, dengan cara menghitung kecepatan menggunakan nilai penampang basah
saluran yang baru (langkah 4).

, OK
keterangan :
Q = debit yang dibutuhkan daerah irigasi yang akan diairi (m
3
/det)
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 33

A = luas penampang basah yang diperoleh dari langkah 4
6. Menghitung keliling basah dari saluran (P)
P = (

) (

)
7. Menghitung jari-jari hidraulis dari saluran (R)

0,666 m
8. Menghitung kemiringan dasar saluran (i)
Mencari harga i (kemiringan dasar saluran)

= (

0,0708


Gambar 3.5 Penampang Saluran
3.2.7.2 Perhitungan Pintu Pengambilan
Air yang masuk ke saluran lewat ambang pengambilan dianggap sebagai pengaliran lewat
ambang lebar dengan pelimpah sempurna dan persamaan pengaliran yang dipakai
adalah:
( ) (

)
keterangan :
= koefisien pengaliran = 0,85
b = lebar pintu pemasukan (m)
h = kedalaman air di hulu pintu (di depan pintu) = 4 meter
h
1
= kedalaman di hilir pintu (di belakang pintu)
h
1
=

dengan


=> dianggap 0
Untuk endapan dibawah sungai berupa batu-batuan dan kerikil, maka jarak minimal
antara tinggi dasar pintu pengambilan dan dasar pintu penguras = 1,5 m.
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 34

() ( )


Gambar 3.6 Pintu Pengambilan
3.2.8 Muka Air Maksimum Sungai di Hilir Bendung
Perhitungan ini dilakukan dengan cara coba-coba sehingga diperoleh harga debit saluran (Q)
untuk beberapa nilai kedalaman saluran (h). Dengan interpolasi dapat ditentukan harga h
untuk menghitung tinggi muka air di semua bagian.
Langkah perhitungan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menetukan elevasi dasar sungai di bagian hilir, kemiringan dasar sungai rata-rata (i), lebar
sungai rata-rata (b) serta talud (1:m).
S = 0,048
b = 20 m
Talud = 1,0 : 2,0
2. Mengambil suatu nilai kedalaman saluran (h) dalam meter.
Misalkan h = 1 m
3. Menghitung luas penampang basah (A) dengan nilai kedalaman saluran yang telah diambil
pada langkah 2 dan lebar dasar saluran pada langkah 1 .
( ) ( )
4. Menghitung keliling basah (P) dan jari-jari hidraulis (R) .

= 24,47 m


Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 35

5. Menentukan koefisien (c).
Tabel 3.2 Koefisien Bazin (

, asumsi karena saluran dari tanah dengan keadaan baik.



6. Menghitung kecepatan aliran yang terjadi.


7. Menghitung debit yang ada. Debit hasil perhitungan ini harus sama atau mendekati dengan
debit bajir yang telah direncanakan sebelumnya (Bab 2.4).


Karena debit yang diperoleh tidak sama maka perlu diulang langkah 2-7 dengan mengganti
harga h terlebih dahulu (langkah 2). Nilai debit yang diperoleh sama dengan h =0,23 m,
maka ini adalah nilai kedalaman yang diambil sebagai nilai kedalaman yang sebenarnya.
8. Setelah diperoleh harga h = 0,374 m yang menghasilkan nilai Q = 159,726 m
3
/s 159,7262
m
3
/s, maka sudah oke.
Setelah diperoleh kedalaman aliran yang terjadi , kita hitung elevasi muka air sungai di hilir
bendung:
Elevasi Muka Air Hilir Max = El. Hilir Bendung + Tinggi Muka Air Hilir Max
Elevasi Muka Air Hilir Max = 659,4 m + 0,23 m = 659,63 m
seperti pada tabel perhitungan di bawah ini.





Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 36

Tabel 3.3 Perhitungan Elevasi di Hilir Bendung


3.2.9 Menentukan Muka Air Maksimum di Atas Mercu (Hulu) Bendung
Rumus yang dapat dipakai untuk menentukan tinggi muka air di atas mercu bendung
tergantung pada sifat pengaliran.
El. muka air di atas mercu bendung = El .mercu bendung + MA diatas mercu (h)
Keterangan diatas menunjukkan bahwa muka air maksimum di hilir bendung lebih rendah
daripada elevasi mercu bendung, maka dengan hasil tersebut sifat pengaliran adalah
pelimpah sempurna dan menggunakan rumus:

keterangan :
d = 2/3 H
H = h + K
K = H h ......... (1)
Harga-harga m dan K dicari dari rumus VERWOERD

........ (2)
(

......... (3)
muka air max. di hilir bendung
elev. hilir 659.4 m
i 41
b 20
talud 1 : 2
h saluran 0.230118 m
A 4.708272
R 0.223893
c 20.44835 (asumsi)
v 33.92459
Q 159.7262 m3/s
elev. muka air hilir max 659.6301 m
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 37

keterangan :
Q = debit yang lewat di atas mercu (m
3
/dt)
b = lebar efektif bendung (m)
h = tinggi air sedikit di sebelah hulu di atas mercu (m)
K = tinggi energi kecepatan (m)
g = percepatan gravitasi (m/detik
2
)
m = koefisien pengaliran = 0,85 (ditentukan)
P = tinggi bendung (m) = 4,5 m
R = jari-jari pembulatan puncak bendung (m)
Menghitung nilai parameter d,


Mencari nilai h dengan subtitusi persamaan 1 dan 2


Tinggi kecepatan (K) = 0,01 m
Didapatkan nilai h = 1,542 m yang merupakan tinggi muka air di atas puncak mercu
bendung. Sehingga didapatka nilai Elevasi muka air di atas mercu bendung sebagai berikut.
El. muka air di atas mercu bendung = El .bercu bendung + MA di atas mercu
= 664,5 + 1,542 = + 666,042 m



Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 38

3.2.10 Perencanaan Dimensi Kolam Olakan
Karena banjir diperkirakan akan mengangkut batu-batu bongkah, maka akan dipakai tipe
peredam energi atau kolam olakan tipe bak (bucket type). Untuk menentukan dimensi
diperlukan data-data sebagai berikut (Buku Penunjang KP, hal 84 85):
Debit satuan (Q
100
) =


Kedalaman kritis (Q
100
) =


Tinggi energi hulu : elevasi mercu + H1 = 664,5 + 2,482 = +666,982 m
Tinggi energi hilir : + 659,4 m
H = 665,154 659,4 = 7,582 m
Menghitung jari-jari bak minimum yang diizinkan (Rmin) :


Dari grafik 3.22 buku KP halaman 85 :


= 1,59 3,562 = 3 m
Tebal lantai lindung (a) = 0,1 R = 0,3 m
Menghitung muka air hilir minimum (Tmin) :
Dari grafik 3.22 buku KP halaman 86 :




Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 39

Ketereangan:
R = jari-jari kolam olak (m)
T = Tinggi atau jarak dari puncak mercu bendung ke dasar lengkung kolam olak (m)
Menghitung Panjang Kolam Olakan (Lj)
Panjang kolam olakan biasanya kurang dari panjang bebas loncatan tersebut karena adanya
ambang ujung. Panjang kolam olakan diperoleh berdasarkan perhitungan secara geometris
melalui software AutoCad. Dimensi kolam olak rencana seperti pada gambar dibawah ini.








Ket: belum dilengkapi lantai muka dan pelengkap lainnya
Gambar 3.7 Rencana Kolam Olak

3.2.11 Menentukan Panjang Lantai Muka
Lantai Muka Bendung sebenarnya tidak mutlak diperlukan dalam perencanaan bendung.
Pada saat air dibendung, maka akan terjadi perbedaan tinggi energi air di belakang dengan di
depan bendung yang menimbulkan perbedaan tekanan. Efek dari perbedaan tekanan ini
akan mengakibatkan aliran dibawah bendung akan menekan butir-butir tanah. Bila tekanan
ini cukup besar untuk mendesak butir-butir tanah tersebut lama-kelamaan akan
menimbulkan penggerusan terutama di ujung belakang bendung.
Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 40

Pada waktu pengaliran, di bawah bendung akan terjadi hambatan-hambatan karena adanya
gesekan. Hambatan-hambatan yang paling kecil yaitu pada bidang kontak antara bangunan
tanah atau Creep Line. Makin pendek creep line, makin kecil hambatannya dan makin besar
tekanan yang ditimbulkan di ujung belakangan bendung. Demikian pula sebaliknya, agar
tekanan kecil, maka diusahakan creep line diperpanjang antara lain dengan memberi lantai
muka.
Teori Bligh digunakan untuk mencari panjangnya lantai muka. Bligh berpendapat bahwa
besarnya perbedaan tekanan di jalur pengaliran adalah sebanding dengan panjangnya jalan
air dan dinyatakan sebagai:


keterangan:
= beda tinggi tekanan
L = panjang creep line
C = creep ratio
Agar kontruksi aman terhadap tekanan air maka,


atau

Diasumsikan jenis tanah di bawah bendung adalah batuan kecil dan kerikil, maka
berdasarkan tabel Weighted Creep Ratio didapat C = 4 sampai 6
(diambil 5).



Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 41

Tabel 3.5 Weighted Creep Ratio

Untuk mencari panjangnya lantai muka, dilakukan perhitungan sebagai berikut.
H = Tinggi M.A. di Hulu Tinggi M.A. di Hilir
H = 7,582
Perhitungan syarat,
Lmin = H * C
L = LH + LV
Bandingkan nilai Lmin dan L, untuk kebutuhan panjang lantai muka.
Teori Lane memberikan koreksi terhadap teori Bligh dengan menyatakan bahwa energi yang
dibutuhkan oleh air untuk melewati jalan vertikal lebih besar daripada jalan yang horizontal,
dengan perbandingan 3:1. Jadi, dianggap bahwa LV = 3LH untuk suatu panjang yang sama,
sehingga rumus menurut Bligh diubah menjadi:


Tugas Besar Bangunan Air

Archeilia Dwianca / 15011083 Page 42

dengan harga C yang berbeda dengan C pada teori Bligh (dapat dilihat pada Tabel Weighted
Creep Ratio)
Jadi, syarat yang dikehendaki oleh Lane adalah
L = L
V
+ 1/3( L
H
) C * H
Dengan catatan bahwa untuk bidang-bidang yang bersudut dengan horizontal 45 atau lebih
dianggap sebagai bidang vertikal. Dan untuk bidang-bidang yang bersudut kurang dari 45
dianggap sebagai bidang horizontal.
Perhitungan :
L
min
= H * C = 7,582* 4 = 30,228 m, jadi direncanakan dengan L = 30 m
L = L
H
+ L
V
, denga perbandingan nilai rembesan L
V
= 3L
H
berikut data dan perhitungan untuk
perencanaan panjang lantai muka
Tabel 3.5 Perencanaan Lantai Muka (Rembesan)










Pengecekan panjang lantai muka rencana dengan syarat dari Lane
(L
V
+1/3L
H
)= 35,53 m > 30,328 m jadi OK.

VER HOR 1/3 Hv Lw
m m m m
A0 A0-A1 1.80 0
A1 A1-A2 0.50 0.17 1.8
A2 A2-A3 1.40 1.97
A3 A3-A4 2.75 0.92 3.37
A4 A4-A5 1.40 4.28
A5 A5-A6 0.50 0.17 5.68
A6 A6-A7 1.40 5.85
A7 A7-A8 3.00 1.00 7.25
A8 A8-A9 1.40 8.25
A9 A9-A10 0.50 0.17 9.65
A10 A10-A11 1.40 9.82
A11 A11-A12 3.00 1.00 11.22
A12 A12-A13 1.40 12.22
A13 A13-A14 0.50 0.17 13.62
A14 A14-A15 1.40 13.78333
A15 A15-A 3.00 1.00 15.18333
TITIK POINT
GARIS
LINE
PANJANG REMBESAN
A A-B 2.70 16.18
B B-C 1.00 0.33 18.88
C C-D 1.30 19.22
D D-E 1.80 0.60 20.52
E E-F 1.80 21.12
F F-G 1.80 0.60 22.92
G G-H 1.80 23.52
H H-I 1.80 0.60 25.32
I I-J 2.20 25.92
J J-K 1.00 0.33 28.12
K K-L 1.50 28.45
L L-M 4.50 1.50 29.95
M M-N 1.50 31.45
N N-O 1.00 0.33 32.95
O O-P 5.80 33.28
P 39.08
TOTAL 30.20 26.65 8.88
7.663 56.85
Rembesan (L
V
+1/3L
H
) 35.53
L
v
+L
H