Anda di halaman 1dari 11

FOCUS GROUP DISCUSSION

TOPIK : Perundang-undangan yang berkaitan dengan ilmu kedokteran


forensik
TANGGAL : 07 Januari 2014

Dokter mendalami ketentuan hukum
Dalam mempelajari dan mendalami Ilmu Kedokteran Forensik, dokter harus
mengetahui dan memahami beberapa peraturan dan ketentuan hukum yang berhubungan
dengan bantuan kepada para penegak hukum. Hal ini terjadi karena Ilmu Kedokteran
Forensik merupakan jembatan antara pengetahuan kedokteran dan hukum sehingga apa yang
ingin disampaikan oleh kalangan kesehatan dapat dipahami oleh kalangan hukum dan
sebaiknya.
Dalam pelaksanaan pelayanan Kedokteran forensic sangat berkaitan dengan hokum
pidana, perdata, dan administrasi. Tujuan dan pengenalan perundang-undangan yang
berhubungan dengan forensik
yaitu:
- Memberikan kepastian hukum dalam melayani masyarakat yang membutuhkan
pelayanan kedokteran forensic, umumnya berasal dari kitab undang-undang hukum
acara pidana (KUHAP).
- Agar dokter tahu batasan-batasan apa yang diberikan kepada pihak penyidik,
umumnya berasal dari kitab undang-undang hokum pidana (KUHAP).
Tips
Kiat mempelajari ketentuan hukum dari:
KUHAP pasal 133
Staatsblad tahun 1937 No.350
KUHP pasal 285.

1. KUHAP pasal 133
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebut dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi label yang memuat identitas mayat dilak dan dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kakiatau bagian lain badan mayat.


Unsur pentingnya dapat diringkas menjadi:
a. Memberikan wewenang penyidik untuk meminta bantuan kepada dokter dan
menangani korban dugaan tindak pidana
b. Permintaan harus tertulis dan jelas jenis pemeriksaanya
c. Penyidik harus memberi label pada benda bukti (mayat)

2. Staatsblad tahun 1937 No.350
Visa reperta seorang dokter yang dibuat baik atas sumpah dokteryang diucapkannya
pada waktu menamatkan pelajarannyadi Negeri Belanda atau di Indonesia, maupun atas
sumpah khusus dalam pasal 2 , mempunyai daya bukti yang syah dalam perkara pidana ,
selama visa reperta tersebut berisi keterangan mengenai hal yang dilihat dan ditemukannya
pada benda yang diperiksa.
Unsur pentingnya dapat diringkas menjadi:
a. Visum dibuat oleh dokter yang telah disumpah
b. Visum mempunyai daya bukti (alat bukti) yang sah
c. Berisi tentang apa yang dilihat dan ditemukannya pada benda bukti

3. KUHP pasal 285
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang
perempuan bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan
dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
Pasal ini menyatakan orang dapat dihukum karena melakukan perkosaan bila terdapat
unsur:
a. Melakukan persetubuhan diluar perkawinan
b. Dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

Proses Peradilan
Terdapat dua macam proses peradilan, yaitu:
Perkara Pidana Perkara Perdata
Perkara pidana adalah perkara yang
menyangkut kepentingan dan
ketentraman masyarakat dimana pihak
yang berperkara adalah antara jaksa
penunntut umum mewakili negara
dengan tertuduh


Proses peradilan terdiri dari tiga tahap:
Tahap 1. Penyidikan oleh penyidik
Tahap 2. Penuntutan oleh penuntut
umum
Tahap 3. Mengadili perkara oleh hakim

Kehadiran saksi ahli di sidang
pengadilan mungkin diperlukan untuk
memberikan penjelasan tentang
pemeriksaan yang telah dilakukan
(VER) atau tentang pengetahuan
dibidang yang dikuasainya yang
diperlukan hakim
Perkara perdata adalah perkara antar pribadi
atau badan hukum, yaitu antara penggugat
dengan tergugat.

Inisiatif berperkara datang dari
pihak yang merasa dirugikan


Untuk memenangkan perkara maka pihak
penggugat dan tergugat dapat
mengemukakan dalil-dalil dan bukti-bukti
yang diusahakannya sendiri

Tugas hakim yang pertama adalah
menasehati kedua belah pihak untuk
menyelesaikan perkara di luar pengadilan
sebab prosesnya bisa berlangsung lama,
brokratis, biaya mungkin besar dan
keputusannya dapat mengecewakan satu
atau mungkin kedua belah pihak.

Peran ahli (termasuk dokter) adalah
membantu para pihak mendapatkan bukti-
bukti atau dalil-dalil yang menguatkan
gugatan atau mematahkan gugatan













Sistem Pemeriksaan Medikolegal
Terdapat tiga sistem dalam menangangi korban, yaitu:
Sistem Coroner Sistem Medical Examiner Sistem Continental
Perlu tidaknya pemeriksaan
bedah mayat dilakukan oleh
seorang coroner

Bila seorang coroner datang
ketempat kejadian perkara dan
melihat tidak ada kecurigaan
sebab kematian korban, maka ia
meminta dokter untuk
mengeluarkan surat kematian,
melakukan pemeriksaan bedah
mayat untuk mengetahui sebab
dan cara kematian korban.

Sistem ini dipakai di Inggris dan
beberapa negara Amerika atau
di negara bekas jajahan Inggris.

Coroner awalnya adalah
petugas mewakili kerjaan dalam
membantu mengutip pajak
Perlu tidaknya
pemeriksaan bedah
mayat dilakukan oleh
seorang medical
examiner (seorang
ahli Patologi
Forensik) atau
deputy-nya

Setiap kejadian
perkara medical
examiner akan datang
dan pihak kepolisian
mengamankan daerah
perkara dengan tanda
pita kuning

Pemeriksaan lanjutan
akan dilakukan di
Medical Examiner
office
KUHAP pasal 7 titik h

Perlu tidaknya
pemeriksaan bedah
mayat dilakukan oleh
polisi (penyidik) atau
dalam hukum acara
perdana (RIB) adalah
magistrat (pegawai
penuntut umum)

Sistem ini orang yang
mati karena mencurigakan
sebabnya dikirim oleh
pihak yang berwenang ke
rumah sakit setempat
sehingga dokter
menunggu dirumah sakit.
Hanya bila diperlukan saja
dokter diminta datang ke
tempat perkara
diwilayah kerajaan. Dalam
perkembangannya coroner
dipilih dari kalangan yang
memahami hukum atau
kedokteran.

Sistem ini umumnya
dipakai di Amerika

Sistem ini masih dipakai
di Indonesia sebagai
peninggalan Belanda
Ketentuan hukum ditingkat penyidik
Penyidik dan penyidik pembantu diatur dalam KUHAP pasal 6 s/d 10
1. KUHAP pasal 6
(1) Penyidik adalah:
a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia
b. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-
undang
(2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaiman dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih
lanjut dalam Peraturan Pemerintah
Pejabat polisi negara yang menjadi penyidik: pejabat polisi tertentu yang ditunjuk
dengan pangkat serendah-rendahnya pembantu letnan dua (Pelda)
Penyidik umum adalah Kapolsek atau Kapolsekta atau Kapolres
Penyidik pegawai negeri sipil mempunyai wewenang sesuai ketentuan undang-
undang di daerah hukumnya masing-masing namun dalam pelaksanaan tugasnya
tetap dibawah koordinasi dan pengawas penyidik kepolisian. Pejabat pegawai
negeri sipil ini biasanya tidak langsung meminta pemeriksaan korban kepada
dokter.

2. KUHAP pasal 7
Penyidik POLRI karena kewajibannya mempunyai wewenang:
(1) Menerima laporan atau pengaduan seseorang tentang adanya tindak pidana
(2) Melakukan tindakan pertama pada saat ditempat kejadian
(3) Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka
(4) Melakukan penangkapan, penahanan, penggeladahan, dan penyitaan
(5) Memanggil seseorang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi
(6) Mengambil sidik jari dan memotret seseorang
(7) Memanggil seseorang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi
(8) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan perkara
(9) Mengadakan penghentian penyidikan
(10)Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

3. KUHAP pasal 8
Berisi ketentuan tentang kewajiban penyidik membuat berita acara (laporan) dan
menyerakan hasil pemeriksaan kepada penuntut umum, dengan ketentuan:
(1) Pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara
(2) Dalam penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab
atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum

4. KUHAP pasal 10
Penyidik pembantu adalah pejabat kepolisian negara Republik Indonesia yang diangkat
oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
5. KUHAP pasal 133 (lihat tips)
6. KUHAP pasal 134
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada
keluarga korban
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya
tentang maksud dan tujuan perlu dilakukan pembedahan tersebut.
(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak
yang perlu diberitahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang.
Pasal ini menjelaskan bila bedah mayat hanya daat dilakukan bila sangat diperlukan
dan tidak mungkin dihindari artinya pemeriksaan luar saja dan hal ini bertentangan dengan
prinsip Ilmu Kedokteran dalam menentukan sebab kematian karena seharusnya dilakukan
pemeriksaan dalam dan luar jenazah.
Hal ini juga bertentangan dengan Instruksi Kapolri No: Ins/E/20/IX/75 tentang tata
cara permohonan atau pencabutan Visum et Repertum. Instruksi ini dijelaskan pada pasal 3
dan 6.
Pasal 3
Dengan visum et repertum atas mayat, berarti mayat harus dibedah. Sama sekali tidak
dibenarkan mengajukan permintaan visum atas mayat berdasarkan pemeriksaan luar saja.
Pasal 6
Bila ada keluarga korban/mayat keberatan jika diadakan bedah mayat, maka adalah
kewajiban petugas polisi cq pemeriksa untuk secara persuasif memberikan penjelasan tentang
perlunya dan pentingnya autopsi untuk kepentingan penyidikan. Kalau perlu bahkan
ditegakkannya pasal 222 KUHP.


7. KUHAP pasal 135
Dalam hal penyidik untu kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat,
dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 133 ayat (2) dan
pasal 134 ayat (1) undang-undang ini.
Pemeriksaan mayat selalu dihindari karena tantangan yang berat mulai dari persiapan,
penggalian kubur, memeriksa mayat yang sudah membusuk sampaimenyelesaikan laporan.

8. KUHAP pasal 136
Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana dimaksud
dalam Bagian kedua Bab XIV ditanggung oleh negara.
Pasal ini menjelaskan tentang biaya yang diperlukan untuk penyidikan termasuk biaya
untuk pengadaan VeR. Untuk pemeriksaan orang luka, korban membayar untuk
kepentingan korban sedangkan untuk mayat agak berat meskipun ditanggung negara ,
tetapi faktanya tidak jelas siapa yang membiayai.

9. KUHAP pasal 138
(1) Penuntut umum setelah memeriksa hasil penyelidikan dari penyidik segera
mempelajari dan menelitinya dan dalam waktu tujuhh hari wajib memberitahukannya
kepada penyidik apakah hasil penyedikan itu sudah lengkap atau belum.
(2) Dalam hasil penyelidikan ternyata belum lengkap, penuntut umum mengembalikan
berkas perkara kepada penyidik disertai petunjuk tentang hal yang harus dilakukan
untuk dilengkapi dan dalam waktu empat belas hari sejak tanggal penerimaan berkas
penyidik harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara itu kepada penuntut
umum.
Pasal ini mengingatkan dokter bahwa proses pembuktian suatu perkara pidana
mempunyai batasan waktu sehingga dokter harus membalas atau menyelesaikan visum
sesegera mungkin.

Ketentuan hukum ditingkat pengadilan
Kewajiban atau peranan dokter untuk memberikan keterangan ahli di sidang
pengadilan diatur dalam ketentuan sebagai berikut:
1. KUHAP pasal 179
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2. KUHAP pasal 183
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-
kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakan pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
3. KUHAP pasal 184
Alat bukti yang sah ialah:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
Dari 5 alat bukti yang sah di atas, bantuan dokter terdapat dalam 2 alat bukti, yaitu
keterangan ahli dan surat. Yang dimaksud dengan keterangan ahli dijelaskan pada pasal
KUHAP 186.

4. KUHAP pasal 186
Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan secara lisan.
Keterangan ahli disini bukan hanya oleh dokter atau dokter spesialis, tetapi dari
semua orang yang dianggap ahli oleh pengadilan dalam bidangnya. Alat bukti surat termasuk
VeR yang di buat oleh dokter dijelaskan dalam ketentuan KUHAP pasal 187.

5. KUHAP pasal 187
Surat sebagaimana tersebut dalam pasal 184 ayat (1) huruf c dibuat atas sumpah
jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
a. dst
b. surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang
dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi
tanggungjawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu keadaan
c. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.
Ketentuan titik c sama dengan apa yang terjadi dalam pembuatan visum. Dengan
demikian VeR dapat digolongkan sebagai alat buktii surat.


Hak undur diri
Sebagai saksi ahli di sidang, terkadang dokter dihadappi dilema dalam menjaga atau
wajib simpan rahasia kedokteran. KUHAP yang memberi peluang kepada dokter untuk tetap
menjaga rahasia jabatan dan pekerjaannya melalui hak undur diri sebaga saksi ahli.
1. KUHAP pasal 170
(1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan
menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi
keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepadanya.
(2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.

Sanksi Hukum
Dokter yang tidak memenuhi kewajibannya menurut undang-undang dapat dikenai
sanksi hukum pidana.
1. KUHP pasal 224
Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang menjadi saksi ahli atau juru bahasa
dengan sengaja atau tidak menjalankan suatu kewajiban menurut undang-undang yang
harus dijalankan dalam kedudukan tersebut diatas:
1. Dalam perkara pidana, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan

2. KUHP pasal 222
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalangi atau menggagalkan pemeriksaan
mayat untuk pengadilan, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan atau
denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah.

Kedudukan peraturan perundang-undangan
Secara norma, hukum ada yang tertulis dan tidak tertulis.
Hukum tertulis dinamakan peraturan perundang-undangan atau perundangan saja.
Peraturan perundang-undangan di Indonesia tersusun sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945
2. Ketetapan MPR
3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang
4. Peraturan Pemerintah
5. Keputusan Presiden
6. Peraturan-Peraturan Pelaksanaan lainnya, seperti:
a. Peraturan Menteri
b. Instruksi Menteri
Hukum tidak tertulis dinamakan juga hukum kebiasaan atau hukum adat yang
bersumber pada kebiasaan yang kemudian mempunyai akibat-akibat hukum.