Anda di halaman 1dari 7

Latar Belakang

Wawasan kebangsaan pada hakekatnya adalah hasrat yang sangat kuat untuk
kebersamaan dalam mengatasi segala perbedaan dan diskriminasi. Wawasan kebangsaan tidak
dilandasi atas asal-usul kedaerahan, suku, keturunan, status sosial, agama dan keyakinan. Jadi
wawasan kebangsaan itu sangat mutlak untuk di miliki oleh setiap warga negara Indonesia,
wawasan kebangsaan tidak timbul dengan sendirinya, tetapi muncul secara bertahap pada diri
seseorang, yaitu dengan seringnya menegakan wawasan yang diketahuinya dan kemudian bisa di
aplikasikan kepada kehidupannya sehari-hari.
Dewasa ini, di Indonesia wawasan kebangsaan sudah mulai tergeser oleh berbagai
budaya asing yang masuk, dan warga negara nya cenderung tidak peduli terhadap wawasan
kebangsaan tersebut, apalagi pada kalangan generasi muda saat ini, mereka tidak bangga atas
negaranya sendiri dan lebih membanggakan negara lain yang menurut pandangan mereka lebih
baik dan tentunya lebih modern.
Apabila hal ini terus terjadi, maka lambat laun wawasan kebangsaan mereka akan terkikis
dan wawasan kebangsaan itu akan menghilang dari diri mereka. Jadi, dengan keadaan tersebut,
kita sebagai generasi muda sudah seharusnya untuk menjaga dan menegakan wawasan
kebangsaan kita dan senantiasa untuk bangga atas tanah air kita, yaitu Indonesia.
1.2. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Jatidiri UNSOED
dan untuk memperdalam materi wawasan kebangsaan terhadap negara Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1. Perumusan masalah
1. Apa wawasan kebangsaan itu?
2. Apa penyebab menurunya semangat kebangsaan yang terjadi pada generasi muda?
3. Apakah pendekatan yang dilakukan untuk menjawab tantangan dan peluang yang terbuka
dihadapan kita ?
4. Bagaimana cara untuk membangun wawasan kebangsaan indonesia pada setiap diri anak
bangsa?
5. Hal apakah yang akan terjadi apabila warga negara sudah menegakan wawasan kebangsaan
secara baik dan benar ?
2.2. Analisis Masalah
Semakin berkembangnya era globalisasi, perubahan cara pikir para masyarakat pun
berubah. Paradigma berfikir masyarakat, termasuk para generasi muda pun mengalami
perkembangan. Namun seringkali perkembangan cara berfikir mereka tidak diimbangi dengan
wawasan kebangsaan yang mumpuni(memadai). Sehingga seringkali mereka bertindak
melampaui batas sebagai warga negara, dengan sikap seperti itu maka suatu negara tidak
mengalami perkembangan yang seharusnya, oleh karena itu perlu adanya pengimbangan antara
wawasan kebangsaan dengan cara berperilaku masyarakat terhadap perkembangan. Karena
dengan wawasan kebangsaan itulah seorang individu atau bahkan masyarakat umum mampu
menjawab tantangan besar di dunia luar, namun tetap berpegang teguh dengan kepribadian
bangsa.
2.3. Pemecahan Masalah
Wawasan berasal dari pangkal kata wawas dan akhiran an. wawas mempunyai arti
pandang, sedangkan wawasan berarti cara memandang, cara meninjau, cara melihat, cara
tanggap inderawi.
Dalam arti luas wawasan adalah cara pandang yang bersumber pada falsafah hidup suatu
bangsa dan merupakan pantulan daripadanya yang berisi dorongan dan rangsangan di dalam
usaha mencapai aspirasi serta tujuan nasional.
Wawasan adalah cara pandang yang lahir dari keseluruhan kepribadian kita terhadap
lingkungan sekitar, sifatnya adalah subyektif dan bisa kita pandang sebagai suatu rangkuman dan
penerapan praktis dan pemikiran filsafat yang melatarbelakangi cara pandangan tersebut.
Bangsa adalah kesatuan tekad dari rakyat untuk hidup bersama, mencapai cita-cita dan
tujuan bersama terlepas dari perbedaan etnis, ras, agama, atau golongan asalnya. Kesadaran
Kebangsaan adalah perekat yang akan memikat batin seluruh rakyat (Moerdiono,1995).
Jadi, wawasan kebangsaan pada hakekatnya adalah hasrat yang sangat kuat untuk
kebersamaan dalam mengatasi perbedaan dan diskriminasi. Dan wawasan kebangsaan tidak
dilandasi oleh asal-usul, kedaerahan, suku, keturunan, status sosial, agama, dan keyakinan.
Wawasan kebangsaan pada setiap warga negara juga bisa mengalami penurunan, hal ini
bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :
Semangat kebangsaan telah mendangkal atau terjadi erosi, terutama pada kalangan generasi
muda.
Kekhawatiran ancaman disintegrasi kebangsaan seperti contoh pada negara Afrika yang paham
kebangsaannya merosot menjadi paham kesukuan.
Masyarakat dewasa i ni, khususnya kaum muda tidak bangga atas negaranya sendiri, dan anti
tradisionalisme (terpengaruh oleh gaya masyarakat modern yang berlebihan).
Kurangnya pemahaman tentang kebangsaan pada hampir setiap masyarakat yang dengan
kekurangan tersebut akan membuat rasa kebangsaan dan semangat untuk mencintai dan
memajukan bangsa nya menjadi berkurang.
Wawasan kebangsaan yang tidak ditegakan membuat masyarakat menjadi tidak bersatu, dan
tidak mempunyai lagi rasa ke bhinekaan dan masyarakat cenderung untuk menjadi kaum yang
individualis, bahkan sampai tingkatan kapitalis, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar.
Banyaknya perbedaan dalam hal kebangsaan yang penyelesaiannya berlarut-larut yang membuat
tidak kokohnya suatu pondasi kebangsaan.
Sekarang ini wawasan kebangsaan Indonesia tidak lagi berakar pada asas kedaulatan yang
berada ditangan rakyat, tetapi berakar pada penguasa dan kaum kapitalis.
Wawasan kebangsaan harus mampu menjawab tantangan dan peluang yang terbuka dihadapan
kita. Untuk menjawab berbagai tantangan yang timbul, bangsa Indonesia menggunakan
pendekatan atau sudut pandang, yang akhirnya berkembang menjadi sudut pandang atau pola
pikir falsafah pancasila. Sudut pandang tersebut adalah :
a. Monodualistik adalah suatu paham yang menganggap bahwa hakikat sesuatu adalah merupakan
dua unsur yang terikat menjadi satu kebulatan. Manusia trdiri atas pria dan wanita, kehilangan
salah satu unsur, maka eksistensi manusia akan punah. Manusia terdiri dari unsur jasmani dan
rohani sebagai satu kesatuan. Dalam memandang manusia menurut paham monodualis, maka :
a). Manusia adalah makhluk tuhan yang mengadakan hubungan serasi antara pencipta dan
ciptaan-Nya; b). Manusia terdiri atas unsur jasmani dan rohani yang merupakan kesatuan tak
terpisahkan dan masing-masing unsur memiliki dharmanya sendiri-sendiri; c). Manusia akan
mengalami hidup duniawi dan akhirat; d). Manusia merupakan bagian dari
masyarakat/bangsanya.
b. Monopluralistik adalah paham yang mengakui bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai
unsur beraneka ragam, seperti suku, adat dan budaya, agama, namun semuanya terikat menjadi
satu-kesatuan.
c. Keselarasan adalah keadaan yang menggambarkan suasana yang tertib, teratur, aman,
damai, sehingga akan timbul ketentraman lahir dan batin.
d. Keserasian adalah keadaan yang menggambarkan terpadunya unsur-unsur yang terlibat dalam
kehidupan bersama.
e. Keseimbangan adalah keadaan yang menggambarkan bahwa masing-masing unsur yang terlibat
dalam hidup bersama dalam hubungan bersama, diperlakukan sepatutnya.
Cara berpkir integralistik (berpikir inklusif) berpandangan bahwa :
a. Kebahagiaan yang dapat saya capai dengan memberikan kemungkinan pada orang lain untuk
mencapai kebahagiaaan juga.
b. Survival hanya mungkin juga di perjuangkan tidak hanya untuk kepentingan individu saja,
melainkan untuk semua orang.
c. Kesejahteraan yang tidak merata adalah kesejahteraan yang terancam punah.
Wawasan Kebangsaan harus ada pada setiap diri warga negara, dan hal itu perlu dibangun
oleh oleh setiap warga negara tersebut,yaitu dengan cara :
a. Adanya rasa ikatan yang kokoh dalam satu kesatuan dan kebersaman diantara sesama anggota
masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras maupun golongan.
b. Saling memebantu antar sesama komponen bangsa demi mencapai tujuan dan cita-cita bersama.
c. Tidak membangun primodialisme dan ekslusifisme.
d. Membangun kebersamaan.
e. Mengembangkan sifat berfikir dan prilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara
f. Senantiasa berfikir jauh kedepan, membuat gagasan untuk kemajuan bangsa dan negaranya
menuju kemandirian.
Wawasan kebangsaan yang luas dan tegas, akan membuat masyarakat menjadi percaya diri
atas bangsanya dan akan berusaha untuk membuat harum nama bangsanya tersebut, jadi untuk
memebuat masyarakat bangga loyal atas bangsanya, wawasan kebangsaan pada masyarakat
tersebutharus di kokohkan terlebih dahulu dan bentuk loyalitas seorang warga negara terhadap
bangsanya :
a. Tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa
b. Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan
c. Tercapinya kesejahteraan yang adil lahir batin bagi seluruh masyarakat indonesia
d. Mendudukan manusia menurut kodrat, harkat dan martabatnya
e. Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menghadapi berbagai persoalan
f. Melandaskan diri pada keimanan dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Apabila wawasan kebangsaan telah terwujud, maka kita akan mampu menjawab
tantanagn dan peluang yang terbuka dihadapan kita, yaitu seperti tantangan globalisasi dan
modernisasi yang di bawa oleh kaum barat, akibat adanya wawasan kebangsaan yang kuat, maka
seseorang tidak akan tergerus oleh arus modrenisasi yang liberal dan bisa sampai melupakan
bangsanya sendiri.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Wawasan kebangsaan intinya adalah loyalitas warga terhadap bangsanya. Bentuk
loyalitas bagi bangsa Indonesia diantaranya adalah:
Mengakui bahwa warga negara Indonesia dengan sadar sebagai pendukung cita-cita dan tujuan
yang menjadi jatidiri bangsa indonesia, seperti :
1.1 Tercapainya persatuan dan kesatuan bangsa
1.2 Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan
1.3 Tercapinya kesejahteraan yang adil lahir batin bagi seluruh masyarakat indonesia
1.4 Mendudukan manusia menurut kodrat, harkat dan martabatnya
1.5 Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menghadapi berbagai persoalan
1.6 Melandaskan diri pada keimanan dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Wawasan kebangsaan harus dijaga, di pelihara dan di perjuangkan terus menerus.
Paham integralistik/ cara berfikir integralistik (menurut Prof. Mr. Soepomo) akan memperkokoh
wawasan kebangsaan.
Ideologi Pancasila melandasi wawsan kebangsaan kita.
Globalisasi akan berdampak positif bila ditujukan untuk perdamaian dunia.
Perang modern sulit diidentifikasi sebagai suatu bentuk peperangan yang nyata, sehingga bangsa
Indonesia harus hati-hati agar tidak teradu domba.


DAFTAR PUSTAKA

Adjisoedarmo Soedito, Yuwono Edi, dkk, 2012, Jatidiri UNSOED, Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto.


Wawasan Kebangsaan Kita Tidak Boleh Hanyut dalam Perubahan Dunia, Tanpa Wawasan Kebangsaan
Kita akan Kehilangan Jati DiriPresentation Transcript
1. JATIDIRI UNSOED Gusti Ari Pambarep Dewa Satria Hutapea R.M. Hasbi Lutfan Hakim
(A1L113015) Agung Saputra Ervinenti Desiana Ipta Hidayati (A1L113011) (A1L113013) (A1L113017)
(A1L113019) (A1L113021)
2. Wawasan kebangsaan kita tidak boleh hanyut dalam perubahan dunia, tanpa wawasan kebangsaan
kita akan kehilangan jati diri.
3. Apa wawasan kebangsaan itu? Kata wawasan berasal dari kata "Wawas" ( bahasa Jawa ) yang berarti
melihat atau memandang. Jika ditambah dengan akhiran -an maka secara harfiah berarti cara
penglihatan, cara tinjau, cara pandang. Nusantara adalah sebuah kata majemuk yang diambil dari
bahasa Jawa Kuno yaitu nusa yang berarti pulau, dan antara artinya lain.Wawasan nasional suatu bangsa
dibentuk dan dijiwai oleh paham kekuasaan dan geopolitik yang dianutnya.Beberapa teori paham
kekuasaan dan teori geopolitik. Perumusan wawasan nasional lahir berdasarkan pertimbangan dan
pemikiran mengenai sejauh mana konsep operasionalnya dapat diwujudkan dan dipertanggung
jawabkan.
4. Wawasan kebangsaan ialah cara pandang bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945 tentang diri dan lingkungannya dalam mengekspresikan diri sebagai bangsa
Indonesia di tengah-tengah lingkungan nusantara itu. Unsur-unsur dasar wawasan
kebangsaanpadaialah: wadah (organisasi), isi, dan Wawasan kebersamaan itu hakekatnya adalah hasrat
yang tata untukkebersamaan isi wawasan itu, tampak perbedaan dan sangat kuat laku. Dari wadah dan
dalam mengatasi segalaadanya bidangbidang usaha kebangsaan kita dimulai sejak keserasian dalam
diskriminasi. Wawasan untuk mencapai kesatuan dan timbulnya kesadaran bidang-bidang: kebangsaan
yaitu sejak berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908.Gerakan kebangsaan Boedi Oetomo
tersebut kemudian dengan cepat berkembang dan meluas sehingga menghasilkan sumpah pemuda
pada Satu kesatuan bangsa tahun 1982 dan akhirnya sampailah pada puncaknya dalam Proklamasi
Satu kesatuan budaya Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, bangsa Satu
kesatuan wilayah Indonesia banyak mengalami aksi-aksi pemberontakandan juga aksi-aksi kekerasan
Satu kesatuan ekonomi dan brutal, sehingga membahayakan persatuan dan kesatuan Satu kesatuan
hankam aksi-aksi tersebut menunjukkan betapa bangsa. Adanya pentingnya bangsa Indonesia
memelihara semangat, meningkatkan kesadaran dan pengertian tentang Wawasan Kebangsaan.
5. Apa penyebab menurunnya semangat kebangsaan yang terjadi pada generasi muda? Semakin
berkembangnya era globalisasi, perubahan cara pikir para masyarakat pun berubah. Paradigma berfikir
masyarakat, termasuk para generasi muda pun mengalami perkembangan. Namun seringkali
perkembangan cara berfikir mereka tidak diimbangi dengan wawasan kebangsaan yang
mumpuni(memadai). Sehingga seringkali mereka bertindak melampaui batas sebagai warga negara,
dengan sikap seperti itu maka suatu negara tidak mengalami perkembangan yang seharusnya, oleh
karena itu perlu adanya pengimbangan antara wawasan kebangsaan dengan cara berperilaku
masyarakat terhadap perkembangan. Karena dengan wawasan kebangsaan itulah seorang individu atau
bahkan masyarakat umum mampu menjawab tantangan besar di dunia luar, namun tetap berpegang
teguh dengan kepribadian bangsa.
6. Wawasan kebangsaan pada setiap warga negara juga bisa mengalami penurunan, hal ini bisa
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya : Semangat kebangsaan telah mendangkal
atau terjadi erosi, terutama pada kalangan generasi muda. Kekhawatiran ancaman disintegrasi
kebangsaan seperti contoh pada negara Afrika yang paham kebangsaannya merosot menjadi paham
kesukuan. Masyarakat dewasa i ni, khususnya kaum muda tidak bangga atas negaranya sendiri, dan anti
tradisionalisme (terpengaruh oleh gaya masyarakat modern yang berlebihan). Kurangnya pemahaman
tentang kebangsaan pada hampir setiap masyarakat yang dengan kekurangan tersebut akan membuat
rasa kebangsaan dan semangat untuk mencintai dan memajukan bangsa nya menjadi berkurang.
Wawasan kebangsaan yang tidak ditegakan membuat masyarakat menjadi tidak bersatu, dan tidak
mempunyai lagi rasa ke bhinekaan dan masyarakat cenderung untuk menjadi kaum yang individualis,
bahkan sampai tingkatan kapitalis, dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Banyaknya perbedaan
dalam hal kebangsaan yang penyelesaiannya berlarut-larut yang membuat tidak kokohnya suatu
pondasi kebangsaan. Sekarang ini wawasan kebangsaan Indonesia tidak lagi berakar pada asas
kedaulatan yang berada ditangan rakyat, tetapi berakar pada penguasa dan kaum kapitalis.
7. Wawasan Kebangsaan bagi Lembaga Swadaya Masyarakat. Menurut definisi yang dikemukakan oleh
PBB, LSM adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang tidak mencari keuntungan materi, didirikan
sukarela oleh masyarakat, dengan skala lokal maupun internasional, kesejahteraan dan masyarakat.
bertujuan LSM yaitu untuk sebuah mengangkat organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun
sekelompok orang yang secara sukarela memberikan pelayanan kepada masyarakat tampa bertujuan
untuk memperoleh keuntungan dari kegiatan tersebut. Bagaimana LSM memandang keinginan warga
negara kepada pemerintah, memonitor implementasi kebijakan dan program, dan meningkatkan
partisipasi sehingga masyarakat dalam pengambilan kebijakan negara memenuhi kebutuhan riil
masyarakat yang sesuai dengan falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
8. Wawasan Kebangsaan Bagi Generasi Muda Generasi berkelanjutan. muda dijadikan target dalam
menjalankan pembangunan Pembangunan dibidang pendidikan, didasarkan atas falsafah negara
Pancasila dan dlarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang ber Pancasila dan
untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan
ketrampilan, dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap
demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat me-ngembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi
pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia. sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan pengembangan
pendidikan dan ilmu pengetahuan, diusahakan penambahan, fasilitas-fasilitas dengan prioritas yang
tepat dan disesuaikan dengan kemampuan pembiayaan, baik yang bersumber dari Negara maupun dari
masyarakat sendiri dan mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan waktu secara produktif dan
memperslapkan diri untuk tanggung jawab yang lebih besar di masa mendatang, sekaligus me-
ningkatkan partisipasi mereka dalam proses pembangunan. Untuk ini diusahakan peningkatan fasilitas
latihan ketrampilam, latihan kepemimpinan, rekreasi, olah raga dan kesempatan pengabdian kepada
masyarakat.
9. Wawasan Universitas / Perguruan Tinggi Pengembangan Universitas/Perguruan Tinggi ke depan
mendasarkan pada wawasan institusional, lokal, regional, nasional, dan global. Dengan memperhatikan
berbagai wawasan tersebut, pengembangan memperhatikan asas keseimbangan antara wawasan global
dan nasional antara sifat universal dan individual, antara nilai modern dan tradisional, antara
perkembangan jangka panjang dan jangka pendek antara kebutuhan kompetisi dan persamaan
kesempatan, serta antara orientasi material dan spiritual. Dengan demikian Universitas/Perguruan
Tinggi berkewajiban memberikan kontribusi yang berarti dalam transformasi sosial budaya dan sumber
daya manusia, yakni SDM yang cerdas, kompetitif dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. 1. Wawasan
Institutional membenahi diri dalam bidang-bidang pengembangan baik di bidang kependidikan, sosial
budaya maupun politik. 2. Wawasan Nasional
10. Mencerdaskan kehidupan bangsa telah menjadi komitmen pendiri bangsa dan secara eksplisit telah
dituangkan dalam pembukaan UUD 45, berusaha menjaga dan mengembangkan kehidupan berbangsa
dan bernegara yang berdasarkan pada Pancasila dengan tetap memahami nilai kebhinekatunggalikaan
guna mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jati diri dan integritas nasional perlu
dijaga agar tidak terancam oleh masuknya berbagai pengaruh nilai ideologi dan sosial budaya global
yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Kualitas SDM yang belum memadai menjadi
kendala untuk meraih kemampuan daya saing bangsa, mencari solusi permasalahan-permasalahan yang
terjadi di masyarakat agar civitas akademika yang ada dan para lulusannya memiliki wawasan
kebangsaan yang kuat dalam menjalankan profesinya dengan tetap terus mengembangkan kompetensi
yang dibutuhkan sesuai perkembangan zaman.
11. Wawasan kebangsaan yang luas dan tegas, akan membuat masyarakat menjadi percaya diri atas
bangsanya dan akan berusaha untuk membuat harum nama bangsanya tersebut, jadi untuk memebuat
masyarakat bangga loyal atas bangsanya, wawasan kebangsaan pada masyarakat tersebut harus di
kokohkan terlebih dahulu dan bentuk loyalitas seorang warga negara terhadap bangsanya : Tercapainya
persatuan dan kesatuan bangsa. Tercapinya kesejahteraan yang adil lahir batin bagi seluruh masyarakat
indonesia. Mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam menghadapi berbagai
persoalan. Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan.
Mendudukan manusia menurut kodrat, harkat dan martabatnya. Melandaskan diri pada keimanan dan
taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
12. Paham integralistik / cara berfikir integralistik (menurut Prof. Mr. Soepomo) Kebahagiaan yang dapat
saya capai dengan memberikan kemungkinan pada orang lain untuk mencapai kebahagiaaan juga
Survival hanya mungkin juga di perjuangkan tidak hanya untuk kepentingan individu saja, melainkan
untuk semua orang Kesejahteraan yang tidak merata adalah kesejahteraan yang terancam punah
13. Kesimpulan Wawasan kebangsaan intinya adalah loyalitas warga terhadap bangsanya. Bentuk
loyalitas bagi bangsa Indonesia diantaranya adalah: Mengaku sebagai warga negara Indonesia
sehingga dengan sadar mengakui sebagai pendukung cita-cita dan tujuan yang hendak dicapai.
Mengusahakan agar cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia dapat terlaksana dengan sesungguhnya
dalam segala aspek dan bidang kehidupan. Bangga sebagai bangsa Indonesia sehingga timbul rasa
cinta untuk kemudian rela berkorban demi kepentingan bangsanya. Mempunyai rasa solidaritas sosial
yang tinggi.
14. Wawasan kebangsaan harus dijaga, di pelihara dan di perjuangkan terus menerus. Paham
integralistik / cara berfikir integralistik (menurut Prof. Mr. Soepomo) akan memperkokoh wawasan
kebangsaan. Ideologi Pancasila melandasi wawasan kebangsaan kita. Globalisasi akan berdampak
positif bila ditujukan untuk perdamaian dunia. Perang modern sulit diidentifikasi sebagai suatu bentuk
peperangan yang nyata, sehingga bangsa Indonesia harus hati-hati agar tidak teradu domba.