Anda di halaman 1dari 23

PENGENALAN EOR

- TUGAS 1 -
ANALISA SKOPI








Nama : Julian Pangestika
NIM : 1101039
Kelas : TP Non Reguler A



TEKNIK PERMINYAKAN
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI BALIKPAPAN
2014

1. A. Rangkuman Sejarah ditemukannya EOR
Penemuan minyak mentah oleh Edwin L. Drake di Titusville pada
tahum 1859 menandai dimulainya era industri minyak bumi. Penggunaan minyak
bumi yang semakin meluas membuat orang mulai berpikir untuk meningkatkan
perolehan produksi minyak bumi. Maka pada awal 1880-an, J.F. Carll
mengemukakan pendapatnya bahwa kemungkinan perolehan minyak dapat
ditingkatkan melalui penginjeksian air dari suatu sumur injeksi untuk mendorong
minyak ke sumur produksi adalah sangat besar.
Eksperimen EOR waterflood pertama tercatat dilakukan di lapangan
Bradford, Pennsylvania pada tahun 1880-an. Dari eksperimen pertama ini, mulai
terlihat bahwa program waterflood akan dapat meningkatkan produksi minyak.
Maka pada awal 1890-an, dimulailah penerapan waterflood di lapangan-lapangan
minyak di Amerika Serikat.
Pada 1907, ditemukan metoda baru dalam pengaplikasian waterflood
di Lapangan Bradford, Pennsylvania, yang disebut sebagai metoda lingkar
(circular method), yang juga tercatat sebagai pengaplikasian flooding pattern
pertama. Karena adanya regulasi pemerintah yang melarang penerapan waterflood
di masa itu, proyek ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sampai larangan itu
dicabut pada 1921.
Mulai tahun 1921, penerapan waterflood mulai meningkat. Pola
pattern waterflood berubah dari circular method menjadi line method. Pada 1928,
pola five spot ditemukan dan diterapkan secara meluas di lapangan-lapangan
minyak. Selain tahun-tahun tersebut, operasi waterflood juga tercatat dilakukan di
Oklahoma pada tahun 1931, di Kansas pada tahun 1935, dan di Texas pada tahun
1936.
Dibandingkan dengan masa sekarang, penerapan waterflood pada
masa dahulu boleh dibilang sangat sedikit. Salah satu faktor penyebabnya adalah
karena pada zaman dahulu pemahaman tentang waterflood masih sangat sedikit.
Selain itu, pada zaman dahulu produksi minyak cenderung berada diatas
kebutuhan pasar.
Signifikansi waterflood mulai terjadi pada akhir 1940-an, ketika
sumur-sumur produksi mulai mencapai batasan ekonomis (economic limit)nya dan
memaksa operator berpikir untuk meningkatkan producable reserves dari sumur-
sumur produksi. Pada 1955, waterflood tercatat memberikan konstribusi produksi
lebih dari 750000 BOPD dari total produksi 6600000 BOPD di Amerika Serikat.
Dewasa ini, konstribusi waterflood mencapai lebih dari 50% dari total produksi
minyak di Amerika Serikat.

Awal dari program reservoir didesain untuk mendapatkan minyak secara
optimal dengan biaya yang seminimal mungkin dengan mendayagunakan
reservoar sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya. Program recovery
dipengaruhi oleh ukuran reservoir, ketebalan, tipe dari mekanisme drive-nya dan
bagaimana tekanan reservoir dihemat untuk menjadikan recovery yang
maksimum.
Pada dasarnya definisi Enhanced Oil Recovery adalah suatu metode
peningkatan perolehan minyak bumi dengan cara menginjeksikan material atau
bahan lain ke dalam reservoir (Lake, 1989 dalam I Wayan Aris Widarmayana,
1979). Metode ini dikenal dengan nama Tertiary Recovery yang dapat dibedakan
menjadi dua kategori , yaitu tahap perolehan kedua (secondary recovery) dan
tahap perolehan ketiga (tertiary recovery). Metode EOR ini dilakukan setelah
tahap perolehan pertama (primary recovery) tidak mampu lagi mengambil secara
optimal sisa minyak yang terdapat di dalam batuan reservoir.
Proses pada EOR ini meliputi beberapa prinsip yang umumnya
melibatkan karakter minyak dan interaksinya terhadap batuan dan air yang
terdapat di sekelilingnya. Proses-proses tersebut termasuk pengurangan gaya
tegangsn sntar muka, emulsifikasi minyak dan air, pengurangsn viskositas driving
fluid dan oil oveling (William, D.B., 1993, dalam IWayan Widarmayana, 1997).
Seandainya yang digunakan adalah metode recovery berupa waterflood,
perubahan sifat wettability akan menyebabkan perubahan efisiensi perolehan
minyak. Salah satu cara untuk mengetahui pengaruh wettability terhadap efisiensi
perolehan minyak adalah dengan tes waterflood.
Adapun prosedur dari tes waterflood pada core adalah sebagai berikut :
Menjenuhi core dengan air formasi untuk menentukan permeabilita core
terhadap air formasi.
Mengalirkan minyak ke dalam core sampai kejenuhan minyak awal
(Soi) mencapai 70 % - 80 % serta produksi air formasi berakhir.
Mengalirkan air formasi dengan tekanan tetap (50 psi, untuk mencegah
terjadinya end-effects ).
Menghitung permeabilitas relatif.Di dalam aplikasi secara langsung,
wettability digunakan untuk menentukan teknik perolehan minyak
sekunder ataupun tersier melalui injeksi ke dalam reservoir.
Pada batuan yang bersifat water-wet seharusnya menggunakan teknik
waterflooding, sedangkan batuan yang bersifat oil-wet sebaiknya menggunakan
teknik stem flooding.
Adapun sifat-sifat reservoir pada kodisi awal diperlukannya recovery kedua antara
lain :
- Kejenuhsn minyak dalam lubang rendah.
- Vikositas dari minyak tinggi.
- Formasi volume factor pada minyak rendah.
- Tegangan permukaan pada minyak tinggi.
- Tegangan antar muka antara minyak dan air tinggi.
- Awal perbedaan tekanan atau distribusi kejenuhan yang berhubungan dengan
sifat alami batuan.
Rendahnya kejenuhan minyak disebabkan oleh kejenuhan gas yang bebas
semakin tinggi, kenaikan dari viskositas minyak menyebabkan hilangnya
mobilitas minyak dan mengurangi kejenuhan minyak. Sedangkan untuk injeksi air
atau gas perlu memperhatikan Model Hysterisis. Hal ini dikarenakan perpindahan
minyak oleh air atau gas yang dialirkan adalah kombinasi dari imbibisi dan proses
drainase yang terjadi dalam tiga fase aliran. Kunci mekanisme dalam
meningkatkan efisiensi penyapuan atau dalam profile flooding control adalah
proses terjebaknya gas dalam reservoir.
Dalam reservoir water wet dan reservoir yang adanya mixed wettability,
jebakan fase nonwetting oleh tekanan kapiler mengurangi pemisahan gas. Pada
waktu yang sama, sisa minyak setelah waterflooding dapat dipindahkan oleh
proses entrapment (adanya penjebakan hidrokarbon setempat-setempat atau
dikontinuitas dari pendesakan saat injeksi fluida tidak maksimal). Peningkatan
perolehan minyak dapat dicapai jika aliran gas tepat pada reservoir tertentu yang
diinjeksi, dalam selang seling diisi dengan air. Kejenuhan gas yang lebih tinggi
ditujukan ada proses waterflooding, jumlah yang banyak dari gas yang dijebak ke
atas dalam jumlah pasti yang dicirikan pada macam-macam property yang
diberikan reservoir. Jadi volume gas injeksi yang tersimpan dalam alur
perpindahan seharusnya lebih dari cukup untuk membentuk kejenuhan gas yang
digunakan untuk alur injeksi air berikutnya.
1. B. Rangkuman Sejarah Peningkatan Setelah ditemukannya EOR
Proses perolehan minyak dibagi menjadi tiga jenis yaitu perolehan tahap
pertama, tahap kedua dan tahap ketiga. Proses perolehan minyak konvensional
atau biasa dikenal dengan perolehan tahap pertama merupakan proses perolehan
dengan menggunakan tenaga pendorong alami, seperti tenaga pendorong gas
terlarut (solution gas drive), tenaga pendorong air (water drive), dan tenaga
pendorong tudung gas (gas cap drive).
Mengingat masih cukup besarnya minyak yang tersisa setelah produksi
tahap pertama, maka untuk mengatasi hal tersebut diupayakan suatu usaha untuk
meningkatkan perolehan minyak. Metode peningkatan perolehan minyak tahap
lanjut ini dikenal dengan metode peningkatan perolehan tahap kedua (secondary
recovery) dan metode peningkatan perolehan tahap ketiga (tertiary recovery).
Metode perolehan minyak tahap kedua mengacu pada teknik yang
bertujuan untuk mempertahankan tekanan reservoir, seperti injeksi air atau injeksi
gas. Sedangkan metode peningkatan perolehan minyak tahap ketiga mengacu
pada semua teknik yang diaplikasikan sesudah teknik perolehan tahap kedua.
Teknik perolehan minyak tahap kedua dan tahap ketiga biasa dikenal dengan
teknik peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery EOR).
Secara umum EOR didefinisikan sebagai teknik peningkatan perolehan
minyak dengan melakukan injeksi material, yang secara normal material tersebut
tidak berada di reservoir. Definisi EOR tersebut mencakup semua jenis proses
perolehan minyak (drive, push-pull, dan well treatment) dan melingkupi berbagai
teknik peningkatan perolehan dengan menggunakan bahan kimia (chemicals
agent).
Dengan menggunakan cara perolehan tahap pertama dan kedua, produksi
minyak hanya berkisar antara 20-40%, sedangkan dengan menggunakan metode
EOR, meskipun lebih mahal tetapi meningkatkan produksi minyak sekitar 75%
yang bisa diambil dari sumber.
1. C. Rangkuman Metodelogi Pertama Yang Dilakukan di EOR
EOR atau Enhanced Oil Recovery adalah sebuah metode peningkatan
perolehan hidrokarbon pada tahap Tertiary Recovery, umumnya dilakukan pada
lapangan yang sudah berumur tua dan produksinya sudah menurun.Sederhananya,
EOR menggambarkan satu set teknik yang digunakan untuk meningkatkan jumlah
minyak yang dapat diekstraksi dari ladang minyak. Banyak eksplorasi minyak dan
pengeboran perusahaan menggunakan teknik EOR untuk memaksimalkan potensi
ladang minyak yang lama dan baru. Sebagai upaya bangsa kita untuk
mengintensifkan kemandirian energi, penerapan teknik EOR akan tumbuh
menjadi sebuah praktek yang lebih umum untuk mendapatkan minyak sebanyak
keluar dari tanah mungkin.
Mari kita mulai dengan ringkasan singkat tentang bagaimana produksi
minyak bekerja.Pada dasarnya ada tiga fase: pemulihan primer, sekunder, dan
tersier. Selama fase utama awal produksi minyak, minyak didorong ke dalam
sumur bor oleh tekanan alami dari reservoir dan gravitasi. Gerakan alami minyak
ditingkatkan dengan teknik mengangkat buatan seperti pompa. Pemulihan primer
biasanya dapat mengarah pada ekstraksi 10-20% dari minyak yang tersedia bidang
itu.
Upaya pemulihan sekunder biasanya akan memanfaatkan air, dalam teknik
yang dikenal sebagai banjir air, atau gas untuk menggantikan minyak dan
memaksa ke sumur bor. Sebuah tambahan 10% -30% dari potensi ladang dapat
dipulihkan dalam fase sekunder. Minyak pemulihan tersier, atau enhanced oil
recovery, menggunakan metode tambahan yang mahal dan kadang-kadang tidak
dapat diprediksi, tetapi yang pada akhirnya dapat memungkinkan untuk 30% -
60% dari potensi total minyak lapangan untuk diwujudkan
EOR dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
Thermal Injection : Steam Injectiondan In-Situ Combustion
Chemical Injection : Surfactant, Alkaline, dan Polymer
Gas Miscible Injection : CO2, N2, dan LPG
Metode EOR dipilih berdasarkan jenis minyak yang ada didalam
reservoir.Untuk minyak ringan, biasanya digunakan gas miscible injection, untuk
minyak sedang digunakan chemical injection, dan untuk minyak berat digunakan
thermal injection.Teknik termal bekerja dengan menginjeksikan fluida
bertemperatur tinggi ke dalam formasi untuk menurunkan viskositas minyak
sehingga mudah mengalir. Dengan menginjeksikan fluida tersebut, juga
diharapkan tekanan reservoir akan naik dan minyak akan terdorong ke arah sumur
produksi. Merupakan teknik EOR yang paling popular dan seringnya
menggunakan air panas (water injection) atau uap air (steam injection).
Dari beberapa metoda EOR yang ada, harus ditentukan metoda mana
yang paling tepat yang sesuai dengan karakteristik reservoir. Besaran-bcsaran
berikut yang harus diperhatikan dalam pemilihan metoda EOR:
- Kebasahan (Wettability) batuan
- Sifat-sifat batuan reservoir (petrofisik), seperti permeabilitas, porositas
- Jenis batuan (satu pasir, carbonatc dan lain-lain).
- Jenis minyak (viskositas).
- Tekanan temperatur reservoir, surfactant & polimer: T < 250F
- Kegaraman air formasi.
- Saturasi minyak yang tersisa yang dapat bergerak
- Cadangan
- Kemiringan reservoir
- Ekonomi


1. D. Jenis Jenis Injeksi di EOR

Ada enam jenis utama EOR, yaitu immiscible Displacement, Micible,
Thermal Recovery, Chemical, Microbial Recovery, Vibro Seismic. Besarnya
biaya pengembangan penggunaan metode EOR untuk pengangkatan hidrokarbon
kepermukaan menyebabkan produsen tidak menggunakan EOR pada semua
sumur dan waduk. Oleh karena itu, setiap sumur harus dievaluasi untuk
menentukan jenis EOR terbaik yang bisa berfungsi pada reservoir. Hal ini
dilakukan melalui karakterisasi reservoir, skrining, scoping, dan pemodelan dan
simulasi sumur minyak.
1. Injeksi Tercampur (Micible Displacement)
Injeksi tercampur didefinisikan sebagai pendesakan suatu fluida terhadap
minyak yang menghasilkan pencampuran antara fluida pendesak terhadap
minyak sehingga hasil campuran ini dapat keluar dari pori-pori dengan mudah
sebagai satu fluida.
Dalam hal efisiensi pendesakan dalam pori-pori sangat tinggi. Yang
termasuk injeksi tercampur adalah injeksi gas kering pada tekanan tinggi
(vaporizing gas drive), injeksi gas diperkaya (condensing gas drive), injeksi
dinding fluida yang dapat bercampur dengan minyak (gas), injeksi dinding
alkohol (dapat bercampur dengan minyak dan air), injeksi CO2 atau gas-gas
yang tidak bereaksi (inert gas) dapat bercampur dengan minyak dan air.
Aplikasi pada sumur : Lapangan Jatibarang berada pada cekungan
Jawa Barat bagian utara. Lapangan ini terletak di sebelah barat
daya kota Cirebon, Jawa Barat Block III/Zone F pada lapangan
Jatibarang terdiri dari 28 sumur. Pada saat studi ini dilakukan, 6
sumur berproduksi dan 22 sumur tidak aktif. Kedalaman rata-rata
reservoir adalah 1140 m SS (3740 ft SS)

2. Injeksi Tidak Tercampur (Immicible Displacement)
Injeksi air merupakan salah satu metoda EOR yang paling banyak dilakukan
sampai saat ini. Biasanya injeksi air digolongkan ke dalam injeksi tak
tercampur.
Alasan-alasan sering digunakannya injeksi air ialah:
- Mobilitas yang cukup rendah
- Air cukup mudah diperoleh
- Pengadaan air cukup murah
- Berat kolom air dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga cukup
banyak mengurangi besarnya tekanan injeksi yang perlu diberikan di
permukaan; jika dibandingkan dengan injeksi gas, dari segi ini berat air
sangat menolong.
- Air biasanya mudah tersebar ke seantero reservoir, sehingga menghasilkan
efisiensi penyapuan yang cukup tinggi.
- Effisiensi pendesakan air juga cukup baik. sehingga harga Sor sesudah
injeksi air = 30% cukup mudah didapat.

Pemakaian injeksi air sebagai meloda untuk menaikan peralehan minyak
dimulai pada tahun 1880 setelah John F. Carll menyimpulkan bahwa air tanah dari
lapisan yang lebih dangkal dapat membantu produksi minyak. Secara tidak
sengaja, hal telah terjadi sebelum di Pennsylvania opada tahun 1865. Tujuan
Injeksi air adalah mengimbangi penurunan tekanan reservoir dengan
menginjeksikan air ke dalam reservoir.
Injeksi gas yang digunakan sebagai metode tersier pemulihan melibatkan
penyuntikan gas alam, nitrogen atau karbon dioksida ke dalam reservoir . Gas
dapat memperluas dan mendorong gas yang lain melalui reservoir, atau
mencampur dengan atau melarutkan dalam minyak, penurunan viskositas dan
meningkatkan aliran. Karbon dioksida EOR ( CO2 - EOR ) adalah metode yang
paling populer, pengembangan teknologi untuk menyuntikkan CO2 diciptakan
sebagai produk sampingan dari keperluan industri .

3. Pemulihan Termal (Thermal Recovery)
Pemulihan termal berupa menkondisikan panas di reservoir untuk menurunkan
viskositas minyak. Berulang kali, uap diarahkan ke sumur minyak yang
berfungsi menipiskan minyak dan meningkatkan kemampuannya untuk
mengalir keatas.
Injeksi termal dilakukan dengan menginjeksikan fluida panas yang
temperatur jauh lebih besar jika dibandingkan temperatur fluida reservoir. Injeksi
Termal berfungsi menurunkan viskositas minyak atau membuat minyak berubah
ke fasa uap, juga mendorong minyak ke sumur-sumur produksi. Metode EOR
dipilih berdasarkan jenis minyak yang ada didalam reservoir.Untuk minyak
ringan, biasanya digunakan gas miscible injection, untuk minyak sedang
digunakan chemical injection, dan untuk minyak berat digunakan thermal
injection.Teknik termal bekerja dengan menginjeksikan fluida bertemperatur
tinggi ke dalam formasi untuk menurunkan viskositas minyak sehingga mudah
mengalir. Dengan menginjeksikan fluida tersebut, juga diharapkan tekanan
reservoir akan naik dan minyak akan terdorong ke arah sumur produksi.
Merupakan teknik EOR yang paling popular dan seringnya menggunakan air
panas (water injection) atau uap air (steam injection).
Jenis-jenis Injeksi termal antara lain:
a. Stimulasi uap (steam soak, huff and puff)
Yang diinjeksikan biasanya campuran uap dan air panas dengan komposisi yang
berbcda-beda.

Gambar Thermal Oil Recovery

b. Pembakaran di tempat (In-situ Combustion)
Menginjeksikan udara dan membakar sebagaian minyak ini akan menurunkan
viskositas, mengubah sebagian minyak menjadi uap dan mendorong dengan
pendesakan gabungan uap, air panas dan gas.
c. Injeksi air panas.
d. Aplikasi Sumur : Lapangan Tapian Timur PERTAMINA
4. Injeksi Kimia (Chemical Recovery)
Metode EOR dengan injeksi kimia membantu membebaskan minyak
yang terjebak dalam reservoir. Metode ini memperkenalkan rantai molekul
panjang yang disebut polimer ke dalam reservoir untuk meningkatkan
efisiensi waterflooding atau untuk meningkatkan efektivitas surfaktan , yang
merupakan pembersih yang membantu tegangan permukaan yang lebih rendah
yang menghambat aliran minyak melalui reservoir .
Injeksi polimer merupakan salah satu teknik kimiawi yang digunakan
dalam proses perolehan minyak atau enhanced oil recovery (EOR). Injeksi
polimer banyak digunakan dalam teknik EOR karena teknik aplikasinya relatif
sederhana dan recovery yang didapat relatif besar dibandingkan dengan
injeksi air secara konvensional. Dalam proses produksi dengan injeksi air
biasanya sering terjadi fenomena air mengalir terlebih dahulu daripada minyak
secara tidak merata dan biasanya terjadi pada reservoir yang heterogen.
Polimer dapat meningkatkan viskositas fluida (air) dan berperan dalam
mendorong dan mendesak minyak supaya lebih optimal. Injeksi polimer dapat
menurunkan mobilitas fluida dan meningkatkan viskositasnya. Polimer yang
terlarut dalam air digunakan sebagai viscosifying agent yang dapat
mengontrol mobilitas fluida injeksi (water base) untuk meningkatkan efisiensi
penyapuan. Polimer mengurangi efek negatif karena adanya variasi
permeabilitas dan rekahan dalam reservoir heterogen. Injeksi polimer terdiri
atas beberapa tahap, yaitu preflush (pengondisian reservoir), additional
oil recovery (oil Bank), injeksi larutan polimer untuk mengontrol mobilitas
fluida, injeksi air bebas mineral (fresh water buffer) untuk melindungi
polimer, dan injeksi fluida pendorong (driving fluid) berupa air. Gambaran
sistem Injeksi Polimer dapat di lihat di bawah ini

Gambaran Sistem Injeksi Polimer
Dalam produksi minyak dengan menggunakan teknik EOR, polimer berperan
sebagai berikut di antaranya :
1. Sebagai agen untuk meningkatkan performa air yang diinjeksikan ke
reservoir dengan cara menghalangi daerah yang memiliki konduktivitas
tinggi.
2. Sebagai agen pengikat silang (cross-linked) di daerah konduktivitas tinggi
di dalam sumur di reservoir. Dalam proses ini polimer diinjeksikan dengan
suatu kation logam anorganik yang akan dicross-link sehingga molekul
polimer akan mengeliling permukaan logam tersebut.
3. Sebagai agen untuk memurunkan mobilitas air atau rasio mobilitas air-
minyak (water-oil).
Injeksi Surfactant Injeksi surfactant bertujuan untuk menurunkan
tegangan antarmuka dan mendesak minyak yang tidak terdesak hanya dengan
menggunakan pendorong air. Jadi efisiensi injeksi meningkat sesuai dengan
penurunan tagangan antarmuka (LC Uren & Gravity P/L)
Karakteristik perpindahan kromatografi surfactant pada sistim
tertentu. Pertimbangan dan Batasan Pemakaian Surfactant Dasar pertimbangan
yang diguankan untuk memilih metoda pendesakan surfactant pada suatu
reservoir, yang diperoleh dari data empiris diantaranya meliputi :
1. Sifat fisik fluida reservoir yang terdiri dari : gravity minyak,
viskositas minyak, komposisi dan kandugan kloridanya.
2. Sifat fisik batuan reservoir yang terdiri dari : saturasi minyak sisa,
tipe formasinya, ketebalan, kedalaman, permeabilitas rata-rata dan
temperaturnya.
Sedangkan syarat-syarat dan batasan-batasan yang digunakan dalam
pemilihan metoda pendesakan surfactant dapat dirinci sebagai berikut :
1. Kualitas crude oil P atau EH Fahmy). Ojeda et al (1954)
mengidentifikasikan parameter-parameter penting yang menentukan kinerja
injeksi surfaktan, yaitu :
1. Geometri pori.
2. Tegangan antarmuka.
3. Kebasahan atau sudut kontak.
4. > API25 Viskositas < Kandungan klorida30 cp < Saturasi
minyak Volume polimer yang diinjeksikan kira-kira 50% dari volume pori.
Kondisi reservoir Konsentrasi polimer berkisar antara 500 2000
mg/i Ukuran dari slug adalah 5 15% dari volume pori (PV) untuk sistim
surfactant yang tinggi konsentrasinya sedangkan untuk yang rendah besarnya
15 50% dari volume pori (PV). Komposisi diutamakan minyak menengah
ringan (Light Intermediate)
Aplikasi Pada Sumur dengan Injeksi Kimia : dilakukan Pertamina
di wilayah pengeboran minyak Lapangan Tanjung Tabalong,
Kalimantan Selatan sejak tanggal 12 Februari 2013. Hal ini sudah
membawa dampak positif yaitu mampu meningkatkan laju aliran
produksi minyak sebelumnya sebesar 300 barel per hari menjadi
mencapai 700 barel per hari. Injeksi kimia di lokasi pertama di
Lapangan Tanjung saat ini telah menggunakan 1 sumur injeksi dan 2
sumur monitoring, secara keseluruhan program injeksi kimia secara
penuh akan berjumlah 36 lokasi (36 pattern) dengan menggunakan
beberapa sumur eksisting sebagai sumur injeksi dan sumur monitoring
5. Injeksi Mikroba (Microbial Recovery)
Bioteknologi dan aplikasinya sedang dikembangkan hampir di
seluruh dunia dan diantaranya untuk mengeksploitasi sumber energy, dan
salah satu yang menjanjikan dari perkembangan Bioteknologi adalah
teknologi MEOR (Mikrobial Enhanced Oil Recovery). Proses peningkatan
perolehan minyak dengan menggunakan mikroba (MEOR) telah mencapai
kemajuan yang begitu pesat di beberapa negara.
Sedangkan teknologi MEOR itu sendiri adalah teknologi berbasis
biologis teknologi yang terdiri dalam fungsi atau struktur memanipulasi
(atau keduanya) dari lingkungan mikroba yang ada dalam reservoir minyak.
Tujuan dari MEOR adalah untuk meningkatkan recovery minyak yang
terperangkap dalam media berpori sambil meningkatkan keuntungan
ekonominya. MEOR menggabungkan bidang multidisiplin antara lain
geologi, kimia, mikrobiologi, mekanika fluida, teknik perminyakan, teknik
lingkungan dan teknik kimia.

Mikroba itu sendiri adalah mikroorganisme hidup yang bisa
diumpakan sebagai mesin hidup yang metabolit, ekskresi produk dengan sel-sel
baru dapat berinteraksi dengan satu sama lain atau dengan lingkungannya. Dalam
kehidupan, pertumbuhan dan pembiakannya mikroba berinteraksi dan beradaptasi
dengan lingkungannya dan dapat memberi efek positif maupun negatif. Salah satu
efek positif aktivitas mikroba di lingkungan sumur minyak bumi adalah
kemampunannya untuk dimanfaatkan sebagai peningkat produksi minyak
terutama melalui peningkatan perolehan minyak secara mikrobiologi. Hal ini
didasarkan pada kenyataan bahwa di antara mikroba itu ada yang mampu
menghasilkan bahan kimia berupa biosurfaktan, biopolimer, biofilm, biosolven,
bioasam yang diharapkan dapat membebaskan fraksi minyak yang masih
tertinggal dalam reservoir. Selain itu, penyebab lain dari peningkatan produk
minyak bumi adalah karena bakteri dalam metabolismenya menghasilkan CO2
dalam jumlah besar di dalam reservoir dan gas CO2 ini akan bereaksi sebagian
dengan minyak bumi serta menyebabkan minyak bumi mengembang dan
berkurang viskositasnya.

Adapun yang dilakukan oleh mikroba MEOR adalah menghasilkan gas
hasil metabolisme, yang membantu mendorong gas CO yang beracun ke luar
sumur. Produk lainnya selain gas adalah biosurfaktan. Biosurfaktan yang
dihasilkan oleh mikroba hidrokarbonoklastik memiliki banyak fungsi, yaitu :
- Menurunkan viskositas (kekentalan/ kesulitan untuk mengalir)
- Menurunkan tegangan permukaan
- Meningkatkan kelarutan CO dalam air
- Meningkatkan fluiditas (aliran) CO keluar sumur
-Mengubah porositas batuan. (Pori batuan yang terlalu besar dapat
"disumbat" secara selektif dengan biosurfaktan sehingga ukurannya
mengecil, Karena Penurunan volume pori akan meningkatkan tekanan
sehingga CO dapat keluar dengan lebih mudah)
Untuk melakukan fungsi-fungsi tersebut, terdapat beberapa
karakteristik yang harus dimiliki oleh mikroba MEOR yaitu mampu mengolah
senyawa hidrokarbon, menghasilkan biosurfaktan, menghasilkan gas, ukuran
kecil, Barofilik (kuat terhadap tekanan tinggi), thermofilik (kuat terhadap suhu
tinggi), halofilik, tidak patogen (berbahaya bagi manusia) dan indigen (berasal
dari lingkungan lokasi penambangan minyak tersebut, bukan mikroba asing).
Oleh mikroba MEOR, senyawa hidrokarbon dari minyak mentah yang ada akan
dipecah menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dikeluarkan
dan diolah lebih lanjut.
Pemanfaatan mikroorganisme sebagai agen untuk memperoleh kembali
sisa-sisa minyak yang terperangkap dalam media berpori pertama kali di usulkan
oleh Beckam pada tahun 1926. Dan setelahnya hal tersebut mulai memicu minat
besar dalam penelitian MEOR. Dan pada era 1930-an, orang mulai memahami
korelasi antara mikroba dan minyak bumi, namun saat itu peran mikroba dianggap
merugikan proses penambangan minyak. Kemudian pada tahun 1946, ZoBell
melakukan eksperimen pelepasan minyak dari endapan pasir aspal di Athabaska,
Amerika Serikat. Akhirnya diketahui bahwa mikroba tertentu dapat digunakan
untuk meningkatkan produksi minyak. Menurut hasil penelitian Lazar, mikroba
lokal yang diisolasi dari air formasi reservoar lebih efektif untuk diaplikasikan ke
dalam MEOR ketimbang mikroba eksogen (yang berasal dari lingkungan lain).
Di Indonesia pengaplikasian teknologi MEOR ini sudah mulai
dilakukan dipelopori oleh LEMIGAS. Di Indonesia Pengembangan teknologi
MEOR dilakukan dengan menginkubasi, mengembangbiakan bakteri yang
menurut literatur telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas minyak bumi
dan melakukan uji coba injeksi bakteri-bakteri tersebut ke dalam sumur minyak
yang sudah tua.
Reservoir minyak adalah lingkungan yang mengandung
mikroorganisme dan faktor non mikroorganisme (mineral) yang berinteraksi satu
sama lain dalam jaringan dinamis yang rumit dari nutrisi dan energi fluks. Karena
reservoir heterogen, sehingga melakukan berbagai ekosistem yang mengandung
mikroba beragam komunitas yang pada gilirannya mampu mempengaruhi
perilaku dan mobilisasi reservoir minyak.
Di samping meningkatkan perolehan minyak bumi dari penambangan,
mikroba MEOR bisa digunakan untuk mengatasi pencemaran minyak bumi tentu
saja. Dengan MEOR, limbah minyak bumi yang tadinya tidak bisa diapa-apakan
lagi, hanya ditampung dan mencemari tanah bisa dimanfaatkan kembali dan
diolah menjadi bahan bakar yang memiliki nilai komersil tinggi
Aplikasi pada Sumur : Isolasi bakteri secara konvensional telah
dilakukan dari minyak bumi sumur Bangko pada tahun 1997 dan
telah dipastikan bahwa contoh minyak bumi dari sumur Bangko
mengandung bakteri yang mampu mendegradasi minyak
bumi. Untuk meningkatkan kemampuan degradasinya, dilakukan
isolasi bakteri secara bertahap agar diperoleh isolat lain yang
berperan dalam rangkaian degradasi selain yang sudah diperoleh
dan diketahui urutan kerja dari mikroba hasil isolasi.
6. Vibro Seismic
Teknologi yang disebut vibroseismic impact technology
(VSIT) yang dikembangkan Dr. Vladimir Belonenko dari Moskow, Rusia,
selama dekade terakhir. Teknologi ini umumnya digunakan sebagai
pelengkap atau pengganti teknologi tahap lanjut (enhanced oil recovery
EOR) dalam sistem eksplorasi minyak bumi. Ketika masih giat
berproduksi (primary recovery), sebuah sumur akan menyemburkan
cadangan minyak dengan lancar karena tenaga dorong alami berupa gas
terlarut, baik air maupun tudung gas (gas cap drive).Namun kondisi itu
akan makin melemah, sehingga sumur minyak memasuki tahap kedua dan
ketiga. Kedua tahap inilah yang biasa disebut tahap EOR tadi. Pada tahap
ini, biasanya para teknisi mulai menginjeksi sumur dengan berbagai materi
berupa air, gas, bahan kimia, bahkan mikroba jenis tertentu untuk
memaksa minyak tetap keluar.Ketika EOR ternyata tak mempan juga,
maka metode VSIT pun dapat digunakan. Berbagai injeksi tadi
sebenarnya tidak lagi diperlukan, tetapi dapat juga digunakan secara
bersamaan dengan VSIT. Tapi VSIT sudah efisien dan praktis Pada
prinsipnya, metode ini menerapkan stimulasi gelombang elastik ke dalam
reservoir dengan menggunakan vibrator dari permukaan. Vibroseismik
bukan merupakan pengganti metode EOR konvensional, tetapi dapat
digunakan sebagai alternatif atau sebagai alat pelengkap agar metode yang
telah ada menjadi lebih efektif dan optimal. Vibrasi seismik, berdasarkan
eksperimen lapangan, telah digunakan untuk mendapatkan peningkatan
perolehan yang cukup sukses di lapangan minyak Negara Rusia.
Berdasarkan eksperimen laboratorium vibrasi seismik dapat memperbesar
pori batuan pada kasus tertentu, menurunkan viskositas, meningkatkan
permeabilitas, menurunkan tegangan permukaan, dan mengubah
komposisi fluida yang ada. Mengacu pada hal tersebut, maka vibrasi
seismik ternyata dapat memperbaiki mobilitas minyak. Keunggulan
teknologi vibroseismik dibanding teknologi lainnya adalah biaya
operasinya yang relatif murah dan tidak merusak lingkungan.
Teknologi eksploitasi baru dari Rusia untuk meremajakan
lapangan tua marginal (kurang ekonomis) yaitu teknologi yang
menggunakan vibroseis truk dengan roda setinggi manusia dewasa itu
menurunkan pelat besi di perutnya dan beratnya bisa mencapai 27 ton.
Perlahan pelat baja berukuran 1 x 1,5 meter itu mulai bergetar dan
memukul tanah di bawahnya dengan irama tetap. Getaran seismik yang
mencapai kedalaman ratusan meter tersebut bisa membangunkan ladang-
ladang minyak tua kembali berproduksi.
Sepintas teknik vibroseismik ini terlihat amat mudah. Cuma
getarkan, tunggu sebulan, minyak pun menyembur. Tapi, sesungguhnya
tak sesederhana itu karena untuk menentukan lokasi penggetaran saja tidak
asal-asalan. Ada perhitungan yang harus dilakukan dan perlu teknik
monitoring untuk memperkirakan di mana letak yang baik.
Setelah menentukan beberapa titik lokasi yang harus digetar,
truk pun mulai beraksi. Untuk satu titik, truk itu bisa bergetar 3 6 jam
sehari. Keesokannya, truk pindah ke titik lain atau tetap pada titik yang
sama sesuai dengan kondisi ladang minyak. Kegiatan ini bisa berlangsung
1 3 bulan. Reaksi getaran itu bisa langsung dirasakan dengan
peningkatan produksi minyak sepekan setelah digetarkan. Namun, ada
pula yang responsnya baru terlihat pada enam bulan pasca penggetaran.
Dalam beberapa kasus, lapangan tetangga yang berjarak beberapa
kilometer juga ikut bangun. Kenaikan Recovery Factor yang diperoleh
dari tiap tiap sumur bervariasi, ada yang 10% sampai 70%. Kadar
minyak juga bisa meningkat, ada satu lapangan minyak dari 10% menjadi
90%.
Suatu studi laboratorium yang dilakukan oleh Tutuka Ariadji,
dkk di laboratorium ITB, vibrasi menyebabkan peningkatan harga
porositas efektif batuan sebesar 1% sampai 10% dari harga porositas
sebelum vibrasi.

Adanya pengaruh dari penggetaran (frekuensi dan amplitudo)
terhadap Saturasi Minyak Sisa (Sor) yaitu dapat menurunkan Sor sampai
55 %, menaikkan Permeabilitas Relatif Minyak (kro) sampai 73 %,
menaikkan Permeabilitas Relatif Air (krw) sampai 76% dari harga
awalnya. Pada umumnya, kenaikan krw lebih tinggi dari pada kenaikan
kro atau terjadi kenaikan kadar air untuk frekwensi 10 Hz.
Mekanisme vibroseismik dalam peningkatan perolehan minyak
dan gas memiliki dampak pada dua segi, yaitu segi batuan dan fluida yang
terdapat di dalam batuan tersebut. Dari segi fluida, getaran yang diberikan
akan menambah energi yang nantinya akan mengurangi tekanan kapiler,
sekaligus tegangan permukaan. Pada beberapa percobaan yang dilakukan,
terdapat juga perubahan viskositas fluida setelah diberi efek getaran. Dari
segi batuan, pemberian getaran ini akan memperbesar nilai porositas dan
permeabilitas batuan tersebut. Besar kandungan clay juga merupakan
faktor yang mempengaruhi hal tersebut.
Meski demikian, tidak semua lapangan minyak cocok
menggunakan teknologi ini. Hanya lapangan minyak di darat atau dekat
pantai dan memiliki 20 38 API. Sifat geologi juga mempengaruhi
efektivitasnya. Batuan pasir (sandstone) lebih ramah dibanding gambut
atau batu bara, karena lapisan gambut dan batubara meredam frekuensi
dan amplitude yang dihantarkan dari vibroseis truk.
Teknik vibrasi ini sebetulnya bekerja dengan cara menghilangkan
gesekan atau tegangan permukaan antara minyak dan batuan di sekitarnya.
Sebagai contoh, permukaan air yang bisa bergerak sampai ke mulut botol
bila diberi getaran. Tegangan permukaan air dengan dinding botol hilang
sehingga air bisa tumpah keluar.
Teknik ini paling ekonomis dan effisien dibanding teknik
Enhanced Oil Recovery (EOR) yang ada karena tidak memerlukan
infrastruktur baru dan tidak perlu penambahan sumur pemboran yang baru
dan dapat juga diterapkan dengan metode EOR yang lain secara
bersamaan. Teknologi menginjeksikan air ke dalam sumur untuk
mendorong minyak keluar selain tidak ekonomis untuk lapangan kecil,
juga perlu filter yang mahal. Sedangkan injeksi uap panas bisa
mengakibatkan minyak justru meleleh. Selain dari pada itu, teknologi
vibroseismik ini merupakan metode yang paling ramah terhadap
lingkungan dibandingkan dengan metode lain
Apliaksi pada Sumur :
1. Abuzy (West Kuban, 1987), dapat meningkatkan
oil content sampai 10 % dalam waktu 40 hari,
2. Lapangan Ubejinskoe (Stavropol Arch),
menambah fluktuasi oil content,
3. Lapangan Zybza (West Kuban), pengurangan keairan di
sekitar lubang sumur
4. Lapangan Barsukovskoe, (West Siberia), pengurangan
water content 2-3%