Anda di halaman 1dari 13

1

PERAN GETAH POHON JARAK ( Jatropha Curcas L) SEBAGAI


PENGOBATAN ALTERNATIF SARIAWAN (STOMATITIS
AFTOSA REKUREN)

LAMBERTHA GULTOM
Jurusan Biologi fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Medan
Abstrak
Jarak pagar atau dengan nama latin Jatropha curcas merupakan tanaman yang sudah
lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman pembatas/pagar, tanaman
obat dan penghasil minyak untuk lampu. Pada penelitian kali ini, jarak bermanfaat
sebagai tanaman obat yaitu untuk menyembuhkan penyakit sariawan (Stomatitis
Aftosa Rekuren atau SAR). Getah ini mengandung alkaloid yang disebut jatrophine
yang dimanfaatkan sebagai obat luka. Getah jarak bersifat antimikroba sehingga
dapat mengusir bakteri seperti jenis Staphylococcus, Streptococcus, dan Escherichia
coli. Getah jarak juga mengandung tannin (18%) yang digunakan sebagai obat
kumur dan gusi berdarah serta obat luka. Pengobatan menggunakan bahan-bahan
alami termasuk getah pohon jarak dapat dijadikan sebagai pengobatan alternative
yang efisien karena tidak menyebabkan efek samping bagi tubuh.

Kata kunci : Jatropha curcas L, khasiat jarak pagar, sariawan, alkaloid.

PENDAHULUAN
Konsep sehat dan sakit berhubungan dengan proses terjadinya penyakit yaitu
kuman (agen), daya tahan tubuh (host) dan lingkungan (environment). Daya tahan
tubuh memegang peranan yang sangat penting dalam terjadinya proses infeksi. Jika
terjadi suatu wabah maka tidak semua orang yang terpapar dalam kejadian wabah
terkena penyakit tersebut. Disisi lain zat gizi memiliki peranan penting untuk
meningkatkan daya tahan tubuh seseorang sehingga terhindar dari penyakit. Salah
satu jenis penyakitnya adalah stomatisis (sariawan). (Fitriana,2010). Sariawan
merupakan salah satu keadaan yang sering terjadi secara berulang pada mukosa mulut
seseorang, dapat dikatakan bahwa setiap orang pasti pernah mengalami sariawan baik
2

yang ringan maupun yang berat sampai sariawan tersebut mengganggu fungsi
fisiologis.
Di kalangan masyarakat terdapat sekelompok orang yang hampir secara rutin
mengalami sakit berupa luka-luka di dalam mulutnya. Kalangan masyarakat awam
menyebutnya dengan nama sariawan atau panas dalam. Sedangkan dari kalangan
medis penyakit ini dikenal dengan nama Stomatitis Aftosa Rekuren atau SAR. SAR
bukanlah suatu penyakit yang baru, akan tetapi merupakan penyakit mulut yang
relatif sering terjadi di masyarakat. Sebenarnya penyakit ini relatif ringan, tidak
membahayakan jiwa, namun dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya, terutama
pada penderita yang selalu berulang kejadiannya.
Secara ilmiah, jarak pagar memiliki nama Jatrhopha curcas. Dalam bahasa
yunani Latros berarti dokter, sedangkan trophe berarti makanan atau nutrisi. Dengan
kata lain, jatropha curcas berarti tanaman obat. Namun, tanaman ini juga dikenal
sebagai tanaman penghasil minyak lampu. Jatropha curcas adalah tanaman yang
berasal dari meksiko, Amerika tengah. Konon, Jatropha curcas dibawa ke Indonesia
dan ditanam paksa pada pemerintahan Jepang. Karena akan dijadikan BBM oleh
tentara jepang. (Ditjenbun, 2007).
Saat ini banyak beredar obat-obatan yang dipromosikan sebagai pencegahan
maupun menyembuhkan sariawan (stomatitis) dengan cepat, sedangkan kita ketahui
bahwa obat-obatan tersebut dijual dengan harga yang relatif' mahal, terutama bagi
masyarakat golongan menengah ke bawah. Selain itu, penggunaan obat-obatan yang
kurang hati-hati atau tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan dapat menimbulkan
efek samping yang tidak diinginkan. Obat tradisional kembali populer dipilih sebagai
obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit karena disamping harganya terjangkau,
tetapi juga khasiatnya cukup menjanjikan (Fitriana dkk, 2005).

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh getah jarak sebagai obat
tradisional terhadap pengobatan Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR), dan kandungan
apa saja yang terdapat di dalamnya sehingga efektif dalam pengobatan sariawan.

3

Manfaat dari tulisan ini adalah untuk memberikan informasi pada masyarakat
tentang manfaat getah jarak sebagai obat sariawan dan beberapa penyakit mulut
lainnya. Selain itu juga bermanfaat bagi kita mahasiswa untuk menambah wawasan
dan pengetahuan tentang khasiat tanaman jarak ini.


TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Umum mengenai Pohon Jarak (J atropha Curcas L.)

1. Taksonomi Pohon Jarak (J atropha Curcas L.)
Jatropha Curcas L. adalah tanaman yang berasal dari daerah tropis di Meksiko,
Amerika Tengah. Saat ini Jatropha Curcas L. telah menyebar diberbagai tempat di
Afrika dan Asia (Anonim, 2006).
Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) telah lama dikenal masyarakat Indonesia,
yaitu semasa penjajahan oleh bangsa Jepang pada tahun 1942. Pada masa itu
masyarakat diperintahkan untuk menanam jarak pagar di pekarangannya untuk
dimanfaatkan sebagai bahan bakar kendaraan perang bangsa Jepang. Oleh karena itu
tidak mustahil kalau tanaman jarak pagar memiliki beberapa nama daerah (lokal)
antara lain jarak budeg, jarak gundul, jarak cina (Jawa); baklawah, nawaih (NAD);
dulang (Batak); jarak kosta (Sunda); jarak kare (Timor); peleng kaliki (Bugis);
kalekhe paghar (Madura); jarak pager (Bali); lulu mau, paku kase, jarak pageh (Nusa
Tenggara); kuman nema (Alor); jarak kosta, jarak wolanda, bindalo, bintalo, tondo
utomene (Sulawesi); dan ai huwa kamala, balacai, kadoto (Maluku) (Ditjenbun,
2007).
Sejak Mei 2005, terjadi demam Jarak di Indonesia dan mulai muncul dikenal
dengan sebutan Jarak Pagar karena lazim ditanam di Indoenesia sebagai pagar
pembatas tanah lading, pagar batas desa, pagar kuburan, bahkan pengganti nisan
(namaun juga tumbuh liar ditepi-tepi jalan). Digunakan sebagai pagar, karena
4

daunnya tidak disukai hewan ternak (sapi, kambing) sehingga dapat melindungi
tanaman didalam pagar (Ditjenbun, 2007).
Pohon Jarak dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Tanaman ini tumbuh baik
pada tanah-tanah ringan atau lahan-lahan dengan drainase dan aerasi tanah yang baik.
Pada lahan-lahan yang subur dimana air tidak tergenang merupakan tempat yang
cocok bagi tanaman ini untuk tumbuh dan berproduksi secara optimal (Heller, 1996).
Tanaman Jarak berbentuk pohon kecil maupun belukar besar yang tingginya
mencapai lima meter. Cabang-cabang pohon ini bergetah dan dapat diperbanyak
dengan biji, stek atau kultur jaringan dan mulai berbuah delapan bulan setelah
ditanam (Ditjenbun, 2007).
Tanaman jarak termasuk famili Euphorbiaceae, satu famili dengan karet dan
ubi kayu. Klasifikasi tanaman jarak pagar adalah sebagai berikut (Astuti, 2008) :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Jatropha
Spesies : Jatropha curcas L.
5


Gambar 1. Pohon Jarak (Jatropha curcas)

2. Morfologi Pohon Jarak (J atrhopa Curcass L)
Tanaman jarak berupa perdu dengan tinggi 1-7 m, bercabang tidak teratur.
Batangnya berkayu, silindris, dan bila terluka mengeluarkan getah (Hambali, 2006).
Penggambaran umum morfologi tanaman jarak adalah sebagai berikut (Hambali,
2006):
a) Daun
Daunnya berupa daun tunggal, berlekuk, bersudut 3 atau 5, tulang daun menjari
dengan 57 tulang utama, warna daun hijau (permukaan bagian bawah lebih pucat
dibanding bagian atas). Panjang tangkai daun antara 415 cm.
b) Bunga
Bunga berwarna kuning kehijauan, berupa bunga majemuk berbentuk malai, berumah
satu. Bunga jantan dan bunga betina tersusun dalam rangkaian berbentuk cawan,
muncul di ujung batang atau ketiak daun.
6

c) Buah
Buah berupa buah kotak berbentuk bulat telur, diameter 24 cm, berwarna hijau
ketika masih muda dan kuning jika masak. Buah jarak terbagi 3 ruang yang masing
masing ruang diisi 3 biji.
d) Biji
Biji berbentuk bulat lonjong, warna coklat kehitaman. Biji inilah yang banyak
mengandung minyak dengan sekitar 30 40 % (Hambali, 2006)..

Gambar 2. Morfologi Daun, Buah dan Biji Pohon jarak ( Jatrhropa Curcas L)
Kandungan Getah Pohon Jarak (Jathropa Curcas L) sebagai Pengobatan
Alternatif Stomatitis Aftosa Rekuren (sar)
Jika dilukai, setiap bagian tanaman mengeluarkan getah yang tempo dulu
dimanfaatkan untuk mencuci. Getah ini mengandung alkaloid disebut jatrophine yang
dimanfaatkan sebagai obat luka (Hariyono dan Soenardi, 2005). Getah jarak bersifat
antimikroba sehingga dapat mengusir bakteri seperti jenis Staphylococcus,
Streptococcus, dan Escherichia coli. Getah jarak juga mengandung tannin (18%)
digunakan sebagai obat kumur dan gusi berdarah serta obat luka. (Ditjenbun, 2007).
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan
di alam. Golongan alkaloid adalah golongan senyawa yang mempunyai struktur
heterosiklik dan mengandung atom N di dalam intinya (pembawa sifat basa/alkalis).
Sifat umum yang dimiliki oleh golongan senyawa ini adalah: basa, rasa pahit,
umumnya berasal dari tumbuhan dan berkhasiat secara farmakologis.
7

Semua jenis alkaloid di alam mempunyai keaktifan biologis dan memberikan
efek fisiologis tertentu pada mahluk hidup. Sehingga dari dulu sampai sekarang
masyarakat selalu mencari obat-obatan dari berbagai ekstrak tumbuhan. Fungsi
alkaloid sendiri dalam tumbuhan sejauh ini belum diketahui secara pasti, beberapa
ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid diperkirakan sebagai pelindung
tumbuhan dari serangan hama dan penyakit, pengatur tumbuh, atau sebagai basa
mineral untuk mempertahankan keseimbangan ion.
Dari segi biogenetik, alkaloid diketahui berasal dari sejumlah kecil asam
amino. Berikut adalah beberapa contoh senyawa alkaloid yang telah umum dikenal
dalam bidang farmakologi :
Senyawa Alkaloid
(Nama Trivial)
Aktivitas Biologi
Nikotin Stimulan pada syaraf otonom
Morfin Analgesik
Kodein Analgesik, obat batuk
Atropin Obat tetes mata
Skopolamin Sedatif menjelang operasi
Kokain Analgesik
Piperin Antifeedant (bioinsektisida)
Quinin Obat malaria
Vinkristin Obat kanker
Ergotamin Analgesik pada migraine
Reserpin Pengobatan simptomatis disfungsi ereksi
Mitraginin Analgesik dan antitusif
Vinblastin Anti neoplastik, obat kanker
Saponin Antibakteri
Tabel 1. Senyawa Alkaloid beserta efek yang dihasilkan
8

Tanin adalah senyawa organik yang terdiri dari campuran senyawaan
polifenol kompleks, dibangun dari elemen C, H dan O serta sering membentuk
molekul besar dengan berat molekul lebih besar dari 2000. Tanin yang terdapat pada
kulit kayu dan kayu dapat berfungsi sebagai penghambat kerusakan akibat serangan
serangga dan jamur, karena memilki sifat antiseptic. Tanin mempunyai sifat atau
daya bakterostatik dan fungistatik. (Sovia Lenny,2006)

Tinjauan Umum mengenai Stomatitis Aftosa Rekuren (sar)
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) disebut juga dengan nama Mikulizs apthae
yang terjadi sekitar 75-85% dari semua lesi Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR).
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) sering mengenai mukosa rongga mulut yang tidak
mengalami keratinisasi seperti pada mukosa bibir, mukosa bukal, dan dasar mulut.
Ulkus ini tidak lebih dari 8-10 mm, dilapisi membrane fibrous kekuningan dengan
tepi eritematous, umumnya sembuh dalam 10-14 hari tanpa meninggalkan jaringan
parut (Scully, 2007).
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) mempunyai kecenderungan untuk terjadi
pada mukosa bergerak yang terletak pada jaringan kelenjar saliva minor. Seringkali
terjadi pada mukosa bibir dan pipi, tetapi ulkus jarang terjadi pada mukosa berkeratin
banyak seperti gusi dan palatum keras. Ulkus-ulkus biasanya terdapat disepanjang
lipatan mukobukal dan seringkali tampak lebih memanjang, dimana rasa terbakar
adalah keluhan awal dan diikuti dengan nyeri hebat selama beberapa hari (Langlais
dan Miller, 2000).
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) bersifat kambuhan dan pola terjadinya
bervariasi. Meskipun tidak ada pengobatan yang sukses sepenuhnya untuk Stomatitis
Aftosa Rekuren (SAR), namun pada beberapa kasus terbukti bahwa pemberian obat-
obatan golongan antibiotik, koagulasi, obat-obat anti keradangan, mouth rinses yang
mengandung enzim aktif dan terapi kombinasi dapat mengurangi rasa sakit,
mempercepat penyembuhan serta menurunkan jumlah dan ukuran ulser (Fernandes
dkk, 2007).

9

Etiologi Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR)
Walaupun penyebab yang pasti dari Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) belum
diketahui, namun terdapat beberapa faktor pencetus yang diduga memegang peranan
penting dalam timbulnya Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR). Faktor-faktor tersebut
antara lain : faktor lokal, alergi, bakteri, imunologi, hematologi, hormonal, dan stres
psikologis (Borrego dkk, 2002).
a. Faktor Lokal
Trauma rongga mulut dapat berpengaruh cepatnya perkembangan Stomatitis Aftosa
Rekuren (SAR). Pada studi yang dilakukan oleh Rees terhadap 128 pasien dimana 20
pasien terbukti mengalami trauma pada mukosa mulutnya yang berlanjut menjadi
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR). Trauma tersebut disebabkan karena tergigitnya
mukosa rongga mulut, sikat gigi atau makanan yang tajam yang bisa menyebabkan
luka pada mukosa rongga mulut (Rees dan Binnie, 2006).
b. Alergi
Bahan-bahan allergen yang diduga berhubungan dengan Stomatitis Aftosa Rekuren
(SAR) adalah benzoic acid dan cinnamic aldehide yang sering dipakai sebagai
penyedap rasa, kacang kenari, tomat, buah-buahan terutama strawberry, coklat,
kacang tanah, sereal, kacang, keju, tepung terigu atau gandum yang mengandung
gluten (Scully, 2007).
c. Bakteri
L-form streptococcal bakteria juga berperan dalam terjadinya Stomatitis Aftosa
Rekuren (SAR). Jenis bakteri yang juga berperan yaitu Streptococcus sanguis,
Streptococcus mitis, dan Helicobacter pylori (Melamed, 2007).
d. Imunologi
Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) umumnya terjadi pada pasien dengan
imunodefisiensi sel B dan 40% dari pasien-pasien Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR)
mempunyai kompleks sirkulasi imun. Pengendapan imunoglobulin dan komponen-
komponen komplemen dalam epitel dan atau respon umum seluler (cell mediated
immune response) terhadap komponen-komponen imun merupakan peyebab
terjadinya Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR). (Lawler dkk, 2002).
10

e. Hematologi
Lebih dari 15-20% pasien Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) adalah penderita
defisiensi zat besi, vitamin B12 atau folic acid dan mungkin juga terdapat pada
penderita anemia. Penyembuhan Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) seringkali terjadi
sesudah terapi untuk mengatasi defisiensi tersebut (Lawler dkk, 2002).
f. Hormonal
Diduga ada hubungan antara siklus menstruasi dan terjadinya Stomatitis Aftosa
Rekuren (SAR), yang berhubungan dengan kadar estrogen dan progesterone. Dimana
perkiraan ada hubungan antara produksi estrogen yang rendah waktu premenstrual
dengan kornifikasi mukosa mulut (Hidayanti dan Suyoso, 2006).
g. Stres Psikologi
Studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang cukup erat antara stress dan
terjadinya Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) dalam 10-20% dari populasi masyarakat.
Tetapi faktor stress dalam perkembangan Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) masih
perlu diteliti lebih lanjut (Rees dan Binnie).


PEMBAHASAN

Pengaruh Getah Pohon Jarak (Jatropha curcas L.) sebagai Pengobatan
Alternatif Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR)
Berdasarkan penjelasan sebelumnya dijelaskan bahwa kandungan Menurut
Onaolapo (2007),pohon jarak (Jatropha curcas L.) memiliki aktivitas antijamur yang
baik. Jarak ( Jatropha curcas L.) mengandung beberapa kandungan kimia, yaitu
flavonoid , dan saponin yang terdapat di dalam getah tanaman jarak (Jatropha curcas
L.). Kandungan jatrophine yang mempunyai aktivitas antifungi juga ditemukandi
dalam getah tanaman jarak ( Jatropha curcas L.). Sedangkan pada biji tanaman
jarak ( Jatropha curcas L.) telah ditemukan kandungan-glukanase yang memiliki
aktivitas antifungi, dan curcin yang tidak hanya memiliki aktivitas sebagai antifungi,
tetapi kandungan kimia ini juga bermanfaat sebagai antikanker (Ditjenbun, 2007).
11

Getah ini mengandung alkaloid disebut jatrophine yang dimanfaatkan sebagai
obat luka (Hariyono dan Soenardi, 2005). Getah jarak bersifat antimikroba sehingga
dapat mengusir bakteri seperti jenis Staphylococcus, Streptococcus, dan Escherichia
coli. Getah jarak juga mengandung tannin (18%) yang digunakan sebagai obat
kumur dan gusi berdarah serta obat luka. (Ditjenbun, 2007).
Jika dilukai, setiap bagian tanaman mengeluarkan getah yang tempo dulu
dimanfaatkan untuk mencuci. Getah ini mengandung alkaloid disebut jatrophine yang
dimanfaatkan sebagai obat luka, sakit kulit, dan rematik. Getah jarak bersifat
antimikroba sehingga dapat mengusir bakteri seperti jenis staphylococcus,
Streptococcus dan Escherechia Coli dan dapat digunakan untuk mengatasi sakit gigi
karena gigi berlubang (Hariyono dan Soenardi, 2005). Selain itu, getah jarak pagar
juga dapat digunakan sebagai obat sariawan. (Ditjenbun, 2007).
Cara mengobati sariawannya adalah dengan cara :
1. Patahkan tangkai dari pohon jarak
2. Kemudian jika tangkai pohon jarak tersebut baru dipetik, akan ada sedikit getah
yang keluar, getah itulah yang langsung dioelskan di bibir yang sedang sariawan.
3. Bila getah belum keluar, pencet sedikit di ujung tangkainya
4. Lakukan hal tersebut sampai sariawan sembuh.
Keunggulan dan kelemahan getah pohon jarak disbanding dengan pengobatan
lain. Keunggulannya yaitu :
1. Mudah didapat
2. Praktis digunakan
3. Tanpa efek samping
Kelemahannya :
1. Pada pemakaian terasa perih dan pahit.


PENUTUP

12

Adapun Kesimpulan tulisan ini adalah pohon jarak (Jatropha curcas L.)
memiliki aktivitas antijamur yang baik. Pohon Jarak ( Jatropha curcas
L.)mengandung beberapa kandungan kimia, yaitu flavonoid, dan saponinsyang
terdapat di dalam getah tanaman jarak ( Jatropha curcas L.).kandungan jatrophine
yang mempunyai aktivitas antifungi juga ditemukandi dalam getah tanaman jarak (
Jatropha curcas L.). Getah jarak bersifat antimikroba sehingga dapat mengusir bakteri
seperti jenis staphylococcus, Streptococcus dan Escherechia Coli dan dapat
digunakan untuk mengatasi sakit gigi karena gigi berlubang. Selain itu, getah jarak
pagar juga dapat digunakan sebagai obat sariawan.
Berdasarkan tulisan ini, maka diajukan saran agar diadakannya penelitian
eksperimental lebih lanjut untuk menguji apa saja yang terkandung dalam getah
pohon Jarak yang dapat bermanfaat di bidang kesehatan khusunya pemanfaatan untuk
membantu penyembuhan stomatitis Aftosa Rekuren / SAR. Kandungan pohon Jarak
sebagai antimikroba yang digunakan sebagai pengobatan sariawan. Dan peneliti-
peneliti berikutnya tertarik dengan judul seperti ini untuk diteliti yang dapat menjadi
terobosan baru di bidang kesehatan dalam pengembangan bahan alami tradisional
sehingga dapat memberi manfaat klinik secara optimal bagi masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Stomatitis Aphtous Reccurent/SAR (Sariawan) [internet]. Available
from : <http://adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/sariawan.pdf..>.Diakses
tanggal 9 Mei 2012

Astuti, Yuni. 2008. Budidaya Dan Manfaat Jarak Pagar ( Jatropha curcas
L)[internet]. FMA-UMB, Available from:
<http://research.mercubuana.ac.id/proceeding/BUDIDAYA-DAN-
MANFAAT-JARAK-PAGAR.pdf>. Diakses tanggal 9 Mei 2012.

13

Diadi, Y.2012. Peran Getah Pohon Jarak Jatropha Curcas.
<http://yulianadiadiblogspot.blogspot.com/2012/01/peran-getah-pohon-jarak-
jatropha-curcas.html> Diakses tanggal 9 Mei 2012

Haikal, Mohammad. 2009. Aspek Imunologi Stomatitis Aftosa Rekuren. USU
[internet]. Available from:
<http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8273/1/10E00345.pdf> .
Diakses tanggal 9 Mei 2012

Sovia Lenny. 2006. Senyawa Flavonoida, Fenil Propanoida, Alkaloida. USU
Repository