Anda di halaman 1dari 7

Nama: Nita Oktaviani

NPM: 180110110028
Prodi: Sastra Indonesia

Deskripsi Buku :
Judul : Sequence
Penulis : Shita Hapsari
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Maret 2014
Tebal : vi + 254 halaman; 20,5 cm
ISBN : 978-602-291-001-5

Sequence: hati yang bertaut penuh kisah.. apabila dilihat dari judul buku ini cukup
menarik perhatian. Sequence yang berarti urutan dengan tag line hati yang bertaut penuh kisah..
mempunyai cover dengan gambar tiga cangkir bermotif bunga-bunga dan berwarna merah muda
yang menumpuk serta garis-garis merah muda membentuk hati dibagian atas dan bawah buku
memberikan kesan sangat feminim.
Di halaman sampul belakang terdapat tiga tokoh yang digambarkan oleh penulis, yakni
Klarissa, Ine dan Yuni. Hal yang paling mencolok dari ketiga tokoh tersebut adalah latar
belakang mereka, namun pada deskripsi masing-masing tokoh diselipkan nama seseorang
dengan panggilan sayang, Klarissa dengan Tedibear-ku sayang, Ine dengan kamu yang selalu
ada di sampingku, sayangdan Yuni dengan Anakku sayang.. tidak terdapat gambaran tentang
cerita yang akan dibahas dalam novel ini, sehingga membuat kita menduga-duga tentang isi dari
novel ini.

Sinopsis
Novel ini menceritakan tentang tiga tokoh wanita yang memiliki latar belakang yang
berberda, akan tetapi dalam alur cerita ini disatukan oleh satu masalah, yakni mengenai autisme.
Cerita bermula dengan tokoh Klarissa yang ingin berpindah profesi dari seorang Psikolog
menjadi Guru Sekolah Khusus. Keinginan Klarissa ini tidak berjalan mulus, karena Tedi atau
yang sering dipanggil Tedibear kurang setuju dengan keinginan Klarissa tersebut. Klarissa dan
Tedi telah berpacaran lima tahun sehingga Klarissa merasa kalau keputusannya untuk berpindah
profesi haruslah mendapat persetujuan Tedi. Dari keinginan Klarissa itulah, muncul konflik yang
membuat Klarissa dan Tedi akhirnya putus. Hal itu juga dikarenakan adanya lelaki baru yang
ditemui Klarissa di Sekolah Hebat, lelaki tersebut bernama Choky.
Sekolah Hebat adalah sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak yang mempunyai
kemampuan khusus, Klarissa mengetahui sekolah tersebut dari teman SMP-nya yang bernama
Rosi, dan dari situlah Klarissa mengenal sosok Choky. Klarissa yang berprofesi sebagai team
leader di salah satu perusahaan itu rela melepas pekerjaannya apabila diterima di Sekolah Hebat.
Akan tetapi keinginannya tidak berjalan sesuai dengan rencana, Klarisa akhirnya putus dengan
Tedi karena sudah merasa tidak cocok, sedangkan Tedi yang takut kehilangan Klarissa karena
adanya sosok Choky merasa sangat kecewa karena lamarannya ditolak oleh Klarissa.
Lalu tokoh selanjutnya dalam novel ini adalah Yuni. Yuni adalah seorang wanita yang
bekerja sebagai pramukantor. Yuni merupakan ibu dari seorang anak yang mempunyai
kemampuan khusus bernama Dewa. Umur Dewa sudah hampir empat tahun, tapi masih saja
Dewa belum bias berbicara dengan jelas, ia hanya bisa meringis dan mengerang apabila tidak
menyukai sesuatu yang dilakukan orang lain padanya.
Suami Yuni bernama Sapta. Sapta adalah sorang supir dan tukang antar Piza Delivery.
Konflik yang terjadi pada kehidupan Yuni terjadi saat Sapta tertabrak sebuah mobil yang
dikendarai oleh Tedi, pacar Klarissa. Sebelumnya Yuni dan Klarissa sudah saling kenal, karena
mereka bekerja di satu perusahaan yang sama dan Klarissa sering membantu Yuni, salah satunya
menyelesaikan masalah Yuni akan Dewa, anak semata wayangnya.
Tokoh terakhir pada cerita ini adalah Ine. Ine adalah pimpinan perusahaan tempat
Klarissa dan Yuni bekerja. Ine mempunyai seorang anak perempuan bernama Lana dan
suaminya bernama Herman. Ine selalu menaruh curiga kepada Herman, ia takut kalau Herman
selingkuh dibelakangnya sampai-sampai Ine menyewa seseorang bernama Roni untuk mengikuti
kegiatan Herman.
Masalah dalam kehidupan Ine dimulai pada saat Lana sering pulang malam, dan juga
Herman yang membuat Ine terus menerus berprasangaka. Dari kepenatan itulah, dia bertemu
dengan Ludi, seorang Chef di sebuah hotel yang ditemui Ine saat sarapan. Sejak saat itulah Ine
jadi sering sarapam di hotel tersebut. Akan tetapi hubungan Ine dengan Luydi tidak berjalan
lama, karena ketika Ine mengikuti Herman di sebuah mall ia memergoki Ludi dan Lana sedang
bergandengan. Betapa kagetnya Ine ketika melihat anak dan lelaki yang membuatnya berbunga-
bunga beberapa saat itu berjalan bergandengan, dan ternyata Ludi telah beberapa kali
mengantarkan Lana pulang ke rumah.
Akhir dari cerita ini adalah Ine yang berprfesi sebagai vice president membantu Yuni
yang bekerja di perusahaan Ine sebagai pramukantor. Ine membantu mebiayai sekolah Dewa dan
mengankat Dewa menjadi anaknya untuk meringankan beban keluarga Yuni yang sedang
mengalami musibah kecelakaan Sapta. Sedangkan Klarissa berakhir bahagia bersama dengan
Choky dan tetap bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Ine.



Unsur dalam Novel
1. Unsur intrinsik dalam novel
a. Tema: tema dari cerita ini adalah autism
b. Latar:
Latar tempat yang digunakan dalam cerita ini diantaranya di:
1. Di Jalan daerah Jakarta: ketika mereka mencapai jalan MT. Haryono .
(Hapsari, 2014:10)
ayam goring tepung yang ia beli di Pasar Senen tergantung di pergelangan
tangannya. (Hapsari, 2014:54)
2. Di Sekolah Hebat: Sekolah Hebat, nama sekolah tersebut, . Klaris duduk
di atas bangku beton di taman dekat kebun, menynggu Rosi. (Hapsari,
2014:15)
Klaris termangu menatap kesibukan suasana kelas. (Hapsari, 2014:27)
3. Di Perusahaan: Tepat ketika ia menurukan tangannya, seorang wanita yang
belum pernah ia lihat masuk ke ruangannya. Dari seragam yang
dikenakannya, Klaris tahu ia adalah seorang Pramukantor baru di
perusahaannya. (Hapsari, 2014:21)
Klarissa masuk ke pantry memasak air untuk membuat kopi. (hapsari,
2014:30)
Meja Ine yang penuh barang membuat pramukantor itu ragu untuk
meletakkan barang bawaanya. (Hapsari, 2014:51)
Sampai di pantry Yuni membanting nampan dan cangkir ke cucian.
(Hapsari, 2014:52)
4. Restoran En Croute: Restoran En Croute menempati salah satu sisi lantai
dasar hotel yang mendapat perluasan hingga menjorok ke luar bangunan Ine
memilih salah satu meja di sudut ruangan, meminta pelayan membawakannya
kopi dan menu. (Hapsari, 2014:37-38)
Ine tiba di En Croute pada jam dan menit yang sama dengan tempo hari
(Hapsari, 2014:45)
Pagi tadi ia kembali mengunjungu En Croute (Hapsari, 2014:49)
5. Rumah Ine: Tengah malam itu Ine menunggui putrid remajanya pulang di
tuang duduk. (Hapsari, 2014:47)
6. Rumah Yuni: Setengah jam berlalu, Yuni masih duduk di salah satu kursi
makan menunggu Dewa menggerakkan kepalanya, memandangnya.
(Hapsari, 2014:55)
7. Di business center : Tak sampai tiga menit kemudian ia sudah sampai di
business center. (Hapsari, 2014:155)
8. Rumah Sakit: ia menemukan Choky di luar pintu utama rumah sakit.
(Hapsari, 2014:166)
Menghadap ruang ICU yang dipisahkan dinding berjendela kaca.
(Hapsari, 2014:171)
Latar waktu yang digunakan: pagi, siang dan malam.
Latar keadaan: marah, sedih, berbunga-bunga, senang.
c. Penokohan:
1. Klarsia: Tidak teguh pendirian, munafik, punya jiwa sosial yang tinggi.
2. Yuni: Sabar, sering mendumel, penyayang, sangat sayang kepada keluarga,
pekerja keras.
3. Ine: cemburuan, suka berprasangka, penyayang, berjiwa sosial tinggi.
d. Alur:
Alur yang digunakan adalah alur maju.
e. Sudut Pandang:
Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama.
f. Amanat:
Amanat yang terdapat di dalam novel ini adalah agar kita lebih memerhatikan
lingkungan sekitar kita, lebih meningkatkan rasa kemanusiaan yang ada dalam
diri kita. Selain itu novel ini juga berisi kritikan akan kurangnya sosialisasi
mengenai Autiseme di Indonesia, sehingga masyarakat kalangan bawah tidak
dapat mengidentifikasi penyakit autis sejak dini. Selain itu terdapat sindiran
mengenai kesenjangan sosial di Indonesia seperti pada kutipan berikut:
Kesenjangan sosial di Negara ini bukan berita baru lagi. Pada saat iklan dan
sinetron mempertonotonkan kemewahan dengan makeup tak bercela, organisasi
yayanasan dan kemanusiaan juga mengangkat serta mengkampanyekan
kegiatan pengentasan kemiskinan dan kebodohan pada waktu yang sama.
(Hapsari, 2014:12)

2. Unsur Ektrinsik Novel
a. Latar Belakang Kehidupan Pengarang
Shita Hapsari lahir di Yogyakarta pada 1981. Setelah menyelesaikan
pendidikannya di Jurusan Arsitektur Universitas Gajah Mada, Shita sempat
bekerja di Bali kemudian ke Jakarta sebagai arsitek dan desainer interior.
Novel karangan Shita yang berjudul; Sequence ini merupakan pemenang lomba
novel wanita dalam cerita yang diselenggarakan oleh Bintang pustaka.
Kini Shita menetap di Amerika Serikat bersama suaminya dan terus menulis
sebagai rutinitasnya.

Kelebihan Novel ini:
Kelebihan yang terdpat dalam novel ini yakni ceritanya yang tidak mudah ditebak, selain
itu, novel ini juga memberikan gambaran kepada wanita-wanita masa kini tentang masyarakat
kekinian. Ketimpangan sosial yang digambarkan oleh tokoh Ine dan Yuni manginspirasi
pembaca untuk lebih peka terhadap sekitar. Kurangnya sosialisasi mengenai kesehatan,
khususnya autism sangat kurang di Indonesia.

Kekurangan Novel ini:
Novel ini dibagi menjadi tujuh bagian, yakni: Kegelisahan dalam Stagnasi; Keluar dari
Lingkaran; Belajar Menjadi Diri Sendiri; Keep Calm and Carry On; Bangunan Tidak Berdiri
dengan Satu Pilar; May the Best Man Wins; Memaknai Kekinian. Pada setiap bagiannya dibagi
kembali dengan alur yang menceritakan Klarissa, Yuni dan Ine. Akan tetapi hal itu membuat
pembaca harus mengingat kembali kejadian yang dialami oleh para tokoh di bagian sebelumnya.
Karena penulis menyajikan cerita ini dengan alur yang berpindah-pindah. Mula-mula
menceritakan Klarissa, lalu Yuni, dan Ine, lalu kembali lagi menceritakan Klarissa. Saya rasa
gaya penceritaan seperti ini kurang efektif.
Alangkah lebih baiknya apabila penulis menuliskan cerita dengan satu tokoh terlebih
dahulu sampai selesai, lalu dilanjutkan dengan dua tokoh lainnya. Akan tetapi setiap cerita saling
melengkapi, karena kejadian yang mereka lakukan itu secara bersamaan.

Beri Nilai