Anda di halaman 1dari 4

Motivasi Menjadi Seorang Pendidik Muda Ahmad Dahlan

Pendidikan, apakah pendidikan itu dan seberapa pentingkah pendidikan itu sendiri???
Memang benar kata pepatah, bahwa Pendidikan adalah tonggak kemajuan bangsa.
Banyak makna yang dapat kita tafsir dari pepatah tersebut. Sadar atau tidak, pendidikan sudah
mendarah daging bagi kehidupan manusia di jaman global dengan persoalan yang semakin
kompleks ini. Dapat kita bayangkan apa jadinya jika suatu bangsa tidak sadar akan pendidikan
maupun tidak mendapatkan pedidikan yang selayaknya, bangsa itu akan tumbuh dan berdiri di
tengah menderanya masalah global yang akhir-akhir ini terjadi.
Ironis memang, ketika kemewahan bagi sekolah-sekolah di kota besar diasosiasikan
dengan SPP mahal, tenaga pengajar asing, dan juga kelas internasional dengan fasilitas super
lengkap. Namun, fakta miris tentang pendidikan telah terjadi di pelosok Indonesia, bukan hanya
isapan jempol belaka. Fakta yang membuat mata terbelalak di tengah gencarnya program wajib
belajar sembilan tahun yang telah di gembor-gemborkan pemerintah. Terbukti masih banyak di
jumpai anak yang putus sekolah dan yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya. Lagi-
lagi dilatar belakangi dengan masalah mahalnya biaya pendidikan. Pupus sudah harapan anak
bangsa harus berakhir dengan mengadu nasib dan peruntungan di ladang rizki yang seharusnya
menjadi kewajiban para orang tua.
Menurut data Tahun 2012, ada siswa yang putus sekolah sebanyak empat belas anak,
sedangkan yang tidak dapat melanjutkan ke sekolah menengah pertama lebih dari dua puluh
anak. Yang disebabkan oleh berbagai hal, salah satu masalah yang lebih dominan karena
keterbatasan ekonomi. Biarpun telah di iklankan di televisi bahwa Sekolah Gratis, para orang
tua tetap enggan menyekolahkan anak-anaknya.
Namun dalam kenyataannya memang benar, sekolah gratis itu hanya pada biaya
operasionalnya saja, yang dibantu dengan Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah.
Sedang jenis pembiayaan di sekolah tidak hanya biaya operasional saja, melainkan ada biaya
investasi, biaya ini untuk pembangunan atau sering disebut insidental. Berupa peningkatan
sarana prasarana sekolah, seperti gedung, mebuler, perbaikan / peningkatan sarana prasarana
lainnya. Juga adanya biaya individu, seperti biaya kegiatan non akademik dan lainnya. Semua ini
membuat kecewa para orang tua yang dari financial kelas bawah.
Selain itu, bagi para orang tua yang kurang mempunyai kesadaran akan pentingnya
pendidikan juga melatarbelakangi mengapa anak-anak bangsa tidak dapat melanjutkan sekolah.
Para orang tua lebih memilih agar anaknya membanting tulang daripada harus melanjutkan
sekolah. Karena menurut mereka di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu
terapan yang benar-benar di pakai untuk hidup dan kerja. Hal ini sangat disayangkan sekali,
karena pola pikir anak-anak tersebut masih dapat berkembang pesat sesuai dengan kemajuan
teknologi pada era globalisasi saat ini. Tidak bisa kita bayangkan bila tiap tahunnya kurang lebih
satu juta anak Indonesia harus putus sekolah hanya karena masalah biaya. Padahal setiap anak
berhak memiliki pijakan yang kuat dalam membangun potensi dirinya lewat pendidikan.
Bagaimana bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju, bila para penerus bangsa tidak dapat
mengenyam pendidikan sesuai program yang telah di canangkan oleh pemerintah??
Disamping itu, untuk anak-anak yang telah putus sekolah tidak ada sebuah pendidikan
lebih lanjut maupun sebuah pelatihan untuk pembekalan mereka dalam dunia kerja. Kalau pun
ada, itu pun tidak cuma-cuma. Dan harus mengeluarkan beberapa kocek, yang bisa di bilang
tidak murah. Disisi lain, pemerintah telah memprogramkan sebuah perpustakaan keliling yang di
kelola oleh perpustakaan umum daerah. Dalam pendistribusian perpustakaan keliling belum
merata. Masih ada sekolah-sekolah yang belum dikunjungi oleh perpustakaan keliling tersebut.
Lagi pula perpustakaan ini hanya di khususkan untuk para siswa bangku sekolah saja. Sedangkan
untuk masyarakat umum tidak dapat mengaksesnya. Perlu kita ketahui, bahwa masih banyak
sekolah dasar yang belum mempunyai sebuah perpustakaan dan terbatasnya jumlah buku-buku
bacaan berkualitas yang ada di sekolah-sekolah tersebut.
Motivasi saya menjadi pendidik muda Ahmad dahlan ini adalah ikut serta dalam hal
mencerdaskan kehidupan bangsa melalui langkah-langkah kongkrit. Untuk itu, langkah konkrit
yang ingin saya tempuh untuk membantu permasalahan yang ada, yaitu pertama saya ingin
mengumpulkan para relawan-relawan yang peduli akan nasib pendidikan Indonesia. Langkah
kedua yang akan saya tempuh yaitu membuat agenda kerja atau sering disebut program kerja.
Disini saya ingin mengagendakan sebuah sosialisasi dengan sasaran para orang tua dan para
anak-anak penerus bangsa yang berada di desa-desa pelosok, tentang Betapa Pentingnya
Pendidikan. Hal ini perlu kita galakkan, karena mayoritas masyarakat pelosok kurang begitu
sadar akan pentingnya pendidikan. Perlu kita tahu, apakah tujuan pendidikan itu sendiri,
khususnya pada pendidikan nasional? Salah satunya yang terlihat jelas adalah mencerdaskan
kehidupan bangsa tentu kita tahu, kata-kata ini telah termuat dalam Pembukaan UUD 1945
yang merupakan cita-cita bangsa Indonesia sendiri. Bagaimana jika para masyarakat masih saja
menganggap kurang pentingnya sebuah pendidikan? Untuk itu perlu kita lakukan sebuah
sosialisasi untuk mengawali pengentasan masalah ini, agar masyarakat bisa tahu dan sadar akan
pentingnya pendidikan.
Langkah selanjutnya, kita merencanakan untuk membuat sebuah perpustakaan kecil di
desa. Untuk buku-buku bacaannya kita menggalang dari tiap-tiap sekolah yang berada di
perkotaan atau sekolah-sekolah yang terdomisili dari orang-orang mampu. Disini kita
mengumpulkan buku layak baca untuk anak-anak bangsa. Untuk penggalangan sebuah buku, kita
juga dapat mencari para donatur untuk membantu dengan ikhlas dan peduli akan nasib
pendidikan Indonesia.
Dimana pada perpustakaan tersebut dapat di akses oleh kalangan umum, mulai dari
anak-anak hingga orang dewasa. Disitu pula untuk tiap berapa hari sekali di adakan sebuah
pelatihan keterampilan dengan memanfatkan barang-barang bekas yang ada disekitar untuk di
daur ulang, kegiatan ini dapat diikuti anak-anak yang tidak dapat melanjutkan sekolah maupun
bagi masyarakat yang berminat lainnya sebagai pembekalan mereka dalam dunia kerja. Tak lupa
juga disana terdapat info-info tentang lowongan kerja untuk mereka yang telah siap terjun dalam
dunia kerja. Dengan tujuan agar mempermudah untuk mereka mendapatkan sebuah informasi
dalam dunia kerja.
Dari rencana kegiatan tersebut manfaat yang bisa diambil bagi masyarakat sekitar
adalah semakin mudahnya mereka dalam mengakses informasi melalui buku-buku bacaan yang
ada pada perpustakaan tersebut. Dan semakin mudahnya mereka dalam mencari info-info
lowongan kerja yang telah di sediakan pada perpustakaan tersebut. Selain itu program pelatihan
ketrampilan yang ada berguna untuk mengasah potensi ketrampilan yang ada pada diri mereka,
sehingga dengan ketrampilan tersebut mereka dapat memproduksi suatu barang dari limbah-
limbah rumah tangga yang masih dapat di manfaatkan kembali dan bisa diperjualkan sehingga
dapat menambah pundi-pundi penghasilan mereka. Sedangakan manfaat bagi anak-anak sendiri,
mereka dapat dengan mudah membaca ketika di waktu senggangnya. Sekaligus secara tidak
langsung dengan adanya perpustakaan di desa tersebut dapat membangkitkan minat membaca
pada diri anak-anak bangsa. Karena dengan membaca mereka dapat memperoleh banyak ilmu,
informasi, kesenangan dan pengalaman-pengalaman yang termuat dalam buku-buku tersebut.
Dalam hal ini pendidikan mempunyai tugas utama untuk menyiapakan sumber daya
manusia untuk pembangunan. Derap langkah pembangunan harus selalu diupayakan sesuai
dengan irama tuntutan zaman. Dalam perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-
persoalan baru, sehingga ide untuk pendidikan di Indonesia adalah dengan meminimalisasi akan
permasalahan yang muncul dengan segera mungkin megatasi segala persoalan yang ada.
Sehingga dengan ini tak akan menumpuk segala persoalan pendidikan yang muncul. Dengan itu
pendidikan Indonesia akan lebih baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang
dengan semua negara di dunia sesuai era globalisasi saat ini. Karena kemajuan suatu bangsa
tidak boleh hanya diukur dari banyaknya sumber daya alam yang di miliki oleh mereka, akan
tetapi kembali kepada bagaimana kualitas sumber daya manusianya. Sebab manusia yang
berkualitas, akan mampu membawa bangsanya menuju tempat yang terhormat dalam persaingan
global.
Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin di capai oleh setiap
negara di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju tidaknya suatu negara di
pengaruhi oleh faktor pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat di
ukur apakah bangsa itu maju atau mundur, karna seperti yang kita ketahui bahwa suatu
pendidikan tentunya akan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi
spiritual, intelegensi dan skill, pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa.
Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana dapat
mencapai kemajuan.
Semangat PENDIDIK MUDA AHMAD DAHLAN !!!