Anda di halaman 1dari 41

54

Bab 4
Hasil dan Pembahasan

4.1 PT Inti Karya Persada Tehnik


4.1.1 Profil PT Inti Karya Persada Tehnik

PT Inti Karya Persada Teknik (IKPT) didirikan pada akhir tahun 1970-an, ketika
sekelompok insinyur muda membahas tentang masalah keahlian teknik dan konstruksi di
Indonesia. Berdasarkan pengamatan mereka, proyek downstream dan upstream yang ada di
Indonesia sebagian besar dijalankan oleh perusahaan-perusahaan asing, sementara
perusahaan teknik lokal hanya diberikan kesempatan terbatas dalam pembangunan proyek,
penyediaan fasilitas bangunan, dan pekerjaan lain yang tidak membutuhkan artikulasi dan
pemikiran secara konseptual. Sebagian besar ahli teknik dan konstruksi lokal pada saat itu
bekerja pada perusahaan konstruksi asing, dimana pihak asing tersebut lebih dominan dalam
proses pengambilan keputusan. Sedangkan perusahaan lokal hanya diberi legitimasi
berdasarkan peraturan-peraturan pemerintahan Indonesia. Karena semangat dan keseriusan
dari sekelompok insinyur ini untuk membangun Indonesia dengan suara dan prinsip-prinsip
idealisme, mereka didukung penuh oleh pemerintah, terutama oleh Sudarmono yang pada
saat itu menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara.
Menteri Sekretaris Negara mengundang beberapa perusahaan, termasuk pada saat
itu adalah perusahaan negara (yang diwakili oleh PT Wijaya Karya), serta perusahaan swasta
yang diwakili oleh PT Parama Matra Widya Eng, PT Jasa Ferrie Partners (sekarang Jasa Ferrie
Pratama) dan Nusa Rakintam (sekarang Matra Tiara penanda), untuk membentuk IKPT.
Tidak lama setelah itu, pada tanggal 22 Februari 1982, PT Inti Karya Persada Teknik secara
resmi didirikan dengan susunan pengurus :
1. Ir. Bambang Susilo sebagai Presiden Direktur
2. Ir. Soerojo Wignojodipoero sebagai Direktur Produksi
55

3. Ir. Raysoeli Moeloek sebagai Direktur Keuangan



Pada tahap awal, IKPT bertempat di gedung PT Wijaya Karya ruang 207 dan hanya
memiliki 8 orang karyawan. Kemudian pada akhir Juni 1982, IKPT beroperasi di Wisma IKPT
Anggrek (SlipiJakarta). Ini adalah saat ketika IKPT memenangkan proyek pertamanya yaitu
pabrik petrokimia aromatik di Plaju, Sumatera Selatan. Sejak dari awal berdirinya, IKPT
sudah menetapkan tujuan jangka waktu 10 tahun ke depan untuk menjadi perusahaan
kontraktor yang bergerak dalam bidang EPC (Engineering, Procurement & Construction) yang
menjalankan kontrak proyek-proyek industri berat serta bersaing dengan perusahaan asing
pada saat itu.
Untuk mencapai tujuan tersebut, teknologi menjadi suatu bagian yang penting dan
dibutuhkan bagi perusahaan. Pada pelaksanaan proyek pertamanya, IKPT yang pada saat itu
sudah bertempat di kantor baru (Jl. Hang Jebat IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan untuk
periode 1985-1992) melakukan kerja sama dengan M.W Kellog, Houston, Texas dengan
menugaskan kurang lebih 60 insinyur untuk bekerja dan belajar bersama dengan para ahli
desain teknik dari Kellog dalam menangani proyek metodologi pengiriman untuk industri
berat. Pada akhirnya, para insinyur kembali ke Indonesia dengan membawa ilmu
pengetahuan, dan teknologi baru yang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan
karakteristik desain teknik dan konstruksi IKPT, yang dimasukkan semua elemen yang
penting untuk pembangunan bangsa. Diharapkan pada tahun 1992 itu IKPT sudah mampu
melaksanakan proyek-proyek industri berat secara keseluruhan, dan dapat mendapatkan
pengetahuan sebanyak mungkin dari keterlibatannya dalam proyek-proyek tersebut.
Pada pertengahan 1985, IKPT memiliki gedung perkantoran sendiri di Jl. Bendungan
Hilir Raya no. 50, Jakarta. Ini adalah langkah yang sangat penting bagi IKPT karena IKPT
mampu mengurangi biaya sewa ruang, listrik, tagihan telepon dan peralatan kantor.
Beberapa proyek yang sudah dilaksanakan oleh IKPT pada saat itu antara lain :
56

1. Maxus (kapal).
2. Study Gutta Percha (pembuatan karet untuk produksi bola golf).
3. BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), pembangunan fasilitas penelitian.
4. LPG (Liquefied Natural Gas)di Arun, Sumatera Utara.
5. Dan lain sebagainya.
Untuk meningkatkan kinerja perusahaan, pada tahun 1988 IKPT mempekerjakan
direksi-direksi baru :
1. Ir. Raysoeli Moeloek (periode 1998-sekarang) sebagai Presiden Direktur.
2. Ir. Muchsin Idrus (periode 1998-sekarang) sebagai Direktur Produksi.
3. Ir.Badurrahman Dorpi Parlindungan (periode 1988-1990) sebagai Direktur Keuangan.
4. Ir. Bambang Prasetyo (periode 2001-sekarang) sebagai Direktur Sarana.
Karena ketekunan dan kerja keras para insinyur IKPT, pada tahun 1990 IKPT
dianugerahi kontrak EPC untuk proyek ammonia-urea di Gresik, ini berarti bahwa IKPT telah
mencapai tujuan awal dua tahun ke depan waktu, yaitu menjadi kontraktor utama untuk
kontrak proyek berbasis EPC. Proyek ammonia-urea dibangun pada sebuah lahan seluas
100m x 100m, dimana proyek tersebut membutuhkan perhitungan yang sangat teliti dan
juga ahli teknik khusus, serta seiring dengan penyelesaian proyek, penggunaan material
seperti pipa, beton, kabel, dan lain sebagainya dapat dikurangi sehingga pengeluaran biaya
proyek menjadi lebih efektif dan efisien. M.W Kellog sebagai rekan kerja sama IKPT
menganggap proyek tersebut sebagai langkah yang revolusioner, M.W Kellog meminta
desain dasar proyek yang digunakan, sehingga nanti bisa diaplikasikan pada proyek-proyek
ammonia-urea lain di masa yang akan datang.
Untuk mengantisipasi dan mengakomodasi proyek selanjutnya yang lebih besar,
IKPT memindahkan home-office ke gedung seluas 5000 m2 yang terletak di Jl. Prof. Dr.
Supomo No.42, Jakarta 12870. Di sektor LNG, IKPT menggunakan teknologi Cryogenic yaitu
metode baru serap karbon yang lebih hemat energi dan biaya. Pada bulan Maret 1988, IKPT
57

diberi kepercayaan untuk menjadi sub-kontraktor bagi Chiyoda Corporation Japan untuk
mengkontruksi sebuah proyek LNG unit Train-E di Bontang, Kalimantan Timur. Setelah LNG
Train-E selesai dilaksanakan, pada bulan Maret 1991 IKPT terpilih untuk melanjutkan proyek
selanjutnya yaitu Train-F di Bontang, kali ini IKPT terpilih sebagai kontraktor utama.
Selama perusahaan ini berjalan, IKPT telah meningkatkan presentasi penggunaan
sumber daya Indonesia baik dalam bentuk sumber daya alam maupun sumber daya
manusia, hal tersebut mengurangi penggunaan sumber daya dari luar negeri. Sehingga
dengan meningkatnya penggunaan sumber daya manusia Indonesia maka kapabilitas bahan-
bahan baku lokal dapat digunakan secara optimal. Proyek-proyek yang telah dilaksanakan
menunjukkan bahwa perusahaan Indonesia mampu menghasilkan produk-produk berkualitas
sama dengan produk buatan luar negeri. Seluruh ahli teknik IKPT merupakan ahli dalam
bidangnya masing-masing, dan dalam menyelesaikan proyeknya IKPT selalu melibatkan
tenaga kerja dan perusahaan lokal untuk terlibat di dalamnya.
Kerja keras dan usaha yang sudah dilakukan menghasilkan efek positif, hal ini
ditunjukkan dari IKPT kembali dipercaya oleh pemerintah untuk melaksanakan proyek Train-
G pada Maret 1995 dan selesai pada November 1997, yang kemudian dilanjutkan oleh Train-
H pada Maret 1997 dan selesai pada November 1999. Selain sektor petrokimia, LNG dan gas,
IKPT juga terlibat dalam sektor farmasi, kayu dan kertas, industri pertanian, serta sektor
energi, seperti pelaksanaan 3 unit proyek geothermal (energi panas bumi) di Gunung Salak,
Jawa Barat. IKPT juga terlibat dalam membangun fasilitas penelitian nuklir isotope di
Serpong, dan beberapa pengadaan proyek di Papua untuk fasilitas pertambangan seperti
jalur pipa dan pembangunan dermaga laut.
Karena beban kerja dan program pengembangan perusahaan yang berlangsung dari
tahun 1998 sampai 2001 semakin banyak, IKPT membangun bangunan baru yang terletak di
Jl. MT. Haryono kav. 4-5, Jakarta 12820. IKPT berdiri diatas empat pilar, yaitu :

58

1. Idealisme : misi untuk membangun bangsa secara keseluruhan.


2. Pengetahuan : idealisme yang didukung oleh pengetahuan dan teknologi yang
canggih.
3. Ketekunan : pengetahuan yang dimiliki IKPT berasal dari dedikasi dan ketekunan
untuk mencapai tujuan perusahaan.
4. Transfer teknologi : pengetahuan merupakan sesuatu yang tidak pernah habis dan
selalu berkembang, sehingga kunci dalam menghadapi persaingan dan ekspansi
adalah dengan meningkatkan pengetahuan tentang teknologi baru dengan cara
transfer teknologi.
IKPT dilengkapi sertifikasi ISO-9001 sejak tahun 1994 untuk Sistem Manajemen
Mutu, kapabilitas dalam manajemen produk, karakteristik teknik, kegiatan pengadaan dan
konstruksi dalam bidang minyak LNG, kilang gas, kimia, petrokimia, dan pembangkit tenaga
listrik dari International Llyods Register Quality Assurance, London.

4.1.2 Visi dan Misi PT Inti Karya Persada Tehnik
Visi
Menjadi kontraktor global pilihan untuk solusi dalam bidang EPC (Engineering,
Procurement, and Construction) dengan pertumbuhan yang berkelanjutan, serta
mencapai standar World Class.
Misi
Ide IKPT sangat sederhana, menjadi perusahaan dengan bisnis EPC terbaik dan
mitra bagi perusahaan lain dengan menerapkan pendekatan yang komprehensif
untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat manusia.

4



S
4.1.3 Strukt
Ga
Sumber : Dat
tur Organisa
ambar 4.1 S
ta Internal Pe
asi PT Inti K
Struktur Org
erusahaan, 20
Karya Persad
anisasi PT I
010
da Tehnik
I nti Karya Peersada Tehn

nik
59
60

4.1.4 Tugas dan Tanggung J awab Karyawan Berdasarkan Pekerjaan


Direktur utama bersama direksi lainnya melakukan business risk assessment dan
menetapkan tindak lanjutnya dalam bentuk rencana kerja perusahaan berkala, serta
melaporkan status pencapaiannya kepada Dewan Komisaris sesuai jadwal yang ditentukan.
Direktur utama selanjutnya mendelegasikan lingkup penugasannya kepada Dewan Direksi
dan perangkatnya, sebagai berikut :
1. Direktorat Keuangan dan Sarana (Finance and Service Directorate)
o Menetapkan financial policy perusahaan dan mengawasi serta melaporkan
implementasinya.
o Membuat perencanaan dan memastikan ketersediaan dana yang diperlukan
untuk operasional proyek dan perusahaan.
o Menjaga cash flow perusahaan.
o Mengelola aset dan properti perusahaan.
o Merencanakan dan memastikan pengelolaan aspek sumber daya manusia.
o Memantau dan melaporkan kinerja anak perusahaan.
o Membuat kajian investasi atau ventura serta rekomendasinya, pada saat
yang diperlukan.
2. Direktorat Teknik (Technical Directorate)
o Memastikan kecukupan sistem kerja, metode kerja dan sumber daya
manusia (jumlah dan kualifikasi) yang diperlukan untuk aktivitas proposal
dan proyek (lingkup Engineering, Procurement, dan Construction) sesuai
dengan rencana perusahaan.
o Menjamin tercapai standar akurasi Bill of Quantity (BQ), Work Volume (WV)
dan Unit Price (UP).
o Membuat, menetapkan, menjalankan dan memastikan efektivitas strategi
partnering dengan Vendor dan Sub Contractor.
61

o Customer dan Partner Relationship dengan focus perolehan informasi


teknologi yang applicable, peningkatan kompetensi teknis EPC dan standar
produktivitas, serta ketersediaan sumber daya untuk keperluan technical
partnering, procurement dan sub contracting.
o Fokus aktivitas Direktorat Teknik ada pada fungsi-fungsi Engineering,
Procurement, dan Construction.
3. Direktorat Pengembangan dan Pengendalian Usaha (Business Development and
Control Directorate)
o Merencanakan dan memastikan perolehan revenue per periode
perencanaan.
o Mencari dan mengelola informasi pasar, serta mengupayakan keikutsertaan
perusahaan pada potensi proyek yang dituju.
o Melakukan identifikasi dan analisa resiko pada setiap potensi proyek.
o Mengkoordinasikan ketersediaan konsep, hingga penetapan proposal
strategy (winning and partnering), serta memastikan pelaksanaannya selama
fase proposal.
o Melakukan assessment resiko lanjutan, pada proposal yang berjalan hingga
penyelesaian eksekusi proyek (pada proposal yang dimenangkan), guna
mengantisipasi potensi dan resiko teknikal, komersial, dan legal.
o Mengelola jalannya proposal-proposal.
o Melakukan aktivitas pengawasan proyek, untuk keperluan project margin
assurance.
o Customer dan Partner Relationship dengan focus perolehan informasi potensi
dan proposal proyek serta perolehan kontrak kerja.
o Mengkoordinasikan penanganan project warranty period dan memastikan
penyelesaiannya secara tepat waktu dan efektif.
62


4. Direktorat Operasi Proyek (Project-Operation Director)
o Bertanggungjawab terhadap penyiapan dan penetapan project plan, dengan
basis perencanaan fase proposal (dengan target margin yang lebih baik,
biaya yang lebih rendah, cash flow yang lebih menguntungkan perusahaan).
o Penetapan atau Approved Project Budget sebagai acknowledgement Direktur
Utama.
o Penetapan Project Charter.
o Mengelola dan mengawasi jalannya proyek-proyek sesuai agreed dan
determined project plan.
o Memastikan perolehan project margin per periode sampai dengan akhir
proyek (operational acceptance mechanical completion).
o Memastikan positif cash flow proyek-proyek yang berjalan per agreed plan.
o Mengupayakan perolehan tambahan pendapatan dari aktivitas proyek yang
berjalan.
o Customer dan Partner Relationship dengan fokus kelancaran aktivitas
proyek, penyelesaian kontrak kerja dan project cash flow.
o Memastikan tercapainya regulation compliance di setiap proyek yang
berjalan.
o Memastikan adanya close out setelah proyek selesai, dan penyerahannya
kepada Direktorat Pengembangan dan Pengendalian Usaha dengan salinan
kepada Direktorat lainnya.




63


4.2 Profil Responden
Penelitian ini menggunakan jumlah responden sebanyak 70 karyawan dalam populasi
yang diambil dari divisi Finance and Accounting (F&A) dan Human Resources (HR) yang
dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 4.1 J umlah Karyawan Divisi Finance and Accounting (F&A)
Pekerjaan J umlah Karyawan
F&A Manager 1
Finance 10
Accounting 5
Tax 3
Total Jumlah Karyawan 19
Sumber : Data Internal Perusahaan, 2010
Tabel 4.2 J umlah Karyawan Divisi Human Resources (HR)
Pekerjaan J umlah Karyawan
General Employee Services 8
Human resources Development 41
Non Department Human Resources 2
Total Jumlah Karyawan 51
Sumber : Data Internal Perusahaan, 2010
Karakteristik demografi responden dalam penelitian ini dibedakan menurut jenis
kelamin, usia, status pekerjaan, lama bekerja, dan pendidikan terakhir. Adapun karakteristik
untuk jenis kelamin, usia, status pekerjaan, lama bekerja, dan pendidikan terakhir responden
dapat dilihat dari penjelasan di bawah ini.


4
B
m
S
4

k
S



4.2.1 J enis K
Berdasarkan
mengisi kuesi
Sumber : Has
4.2.2 Usia R
Berda
kuesioner ada
Sumber : Has
Kelamin Res
hasil pengola
ioner adalah
sil Pengolahan
Responden
asarkan hasil
alah berusia >
sil Pengolahan
sponden
ahan data diat
pria atau lebi
Gambar 4.2
n Data, 2010
l pengolahan
> 40 tahun at
Gamba
n Data, 2010
47%
J
0%
1
46%
tas maka dike
h banyak dar
2 Diagram J

data diatas
tau 46% seba
ar 4.3 Diagr

53%
J enis Kelam
17%
37%
Usia
etahui sebany
ri responden w
J enis Kelami
maka diketa
anyak 32 oran
ram Usia
%
min
P
W
20 25
26 35
36 40
>40ta
yak 37 orang
wanita.

in
ahui yang do
ng.

Pria
Wanita
5tahun
5tahun
0tahun
ahun
atau 53% ya
ominan meng
64
ang
gisi

4

m
9
S
4

m
o
S


4.2.3 Status
Berda
mengisi kues
93%.
Sumber : Has
4.2.4 Lama
Berda
mengisi kues
orang atau 69
Sumber : Has

s Pekerjaan
asarkan hasil
ioner adalah
G
sil Pengolahan
Bekerja Res
asarkan hasil
sioner adalah
9%.
sil Pengolahan
Responden
pengolahan
dengan statu
Gambar 4.4 D
n Data, 2010
sponden
pengolahan
karyawan de
Gambar 4.5
n Data, 2010
7%
0
St
0%
69%

data diatas m
us pekerjaan
Diagram Sta

data diatas m
engan lama b
5 Diagram L
93%
0%
tatus Pekerj
19%
13%
Lama Beker
maka diketah
karyawan tet
atus Pekerja
maka diketah
bekerja selam
Lama Bekerj
jaan
Kary
Teta
Kary
Kon
Kary
Hon
rja
<3tah
3 5t
6 10
>10ta
hui responden
tap sebanyak

aan
hui responden
ma > 10 tahu

ja
yawan
ap
yawan
ntrak
yawan
norer
hun
ahun
tahun
ahun
n yang domin
k 65 orang at
n yang domin
un sebanyak
65
nan
tau
nan
48

4

m


S


4

k
s
m
t
k
m
D
4.2.5 Pendid
Berda
mengisi kuesi
Sumber : Has
4.3 Uji Valid
Uji v
korelasi antar
setiap butir a
menghitung v
tingkat keper
kuesioner. Ja
menggunakan
Dasar pengam
Jika r
Jika r
Jika
valid.
dikan Terak
asarkan hasil
ioner adalah
Ga
sil Pengolahan
ditas dan Re
validitas unt
r bagianbagi
alat ukur den
validitas alat
rcayaan 95%
adi nilai df =
n rumus r
tabel
,
mbilan keputu
r
hitung
positif,
r
hitung
negatif,
r
hitung
> r
tab
.
khir Respond
pengolahan
karyawan lulu
ambar 4.6 Di
n Data, 2010
eliabilitas
tuk setiap in
ian dari alat u
ngan skor to
ukur rumus
%, dimana df
= 68, sehing
, maka didapa
usan uji validi
serta r
hitung
>
, serta r
hitung

bel
tapi berta
63%
16%
Pendid
den
data diatas m
usan S1 seba

iagram Pend

nstrumen dila
ukur secara k
tal yang mer
Pearson Prod
f = n 2. N
gga didapat
atkan nilai r
tab
itas adalah se
> r
tabel
, maka
< r
tabel
, maka
nda negatif,
4%
17%
%
dikan Terakh
maka diketah
nyak 44 oran
didikan Tera
akukan terleb
keseluruhan d
rupakan jum
oduct Moment
Nilai n meng
nilai t
tabel
=
bel
= 0,20.
ebagai berikut
a butir atau va
a butir atau v
maka butir
hir
SM
Di
S1
S2
hui responden
g atau 63%.

akhir
bih dahulu d
engan cara m
lah setiap sk
t. Uji validitas
ggunakan dat
= 1,67. Selan
t :
ariabel terseb
variabel terseb
atau variabe
MA
ploma
1
2
n yang domin
dengan menc
mengkorelasik
kor butir. Unt
s menggunak
ta sebanyak
njutnya deng
but valid.
but tidak valid
l tersebut tid
66
nan
cari
kan
tuk
kan
70
gan
d.
dak
67

Nilai r
hitung
didapat dari hasil perhitungan dengan rumus Pearson Product Moment
antara skor tiap butir pertanyaan dengan skor total.
Dasar pengambilan keputusan uji reliabilitas adalah sebagai berikut :
Bila Cronbachs Alpha > r
tabel
maka kuesioner tersebut dinyatakan reliabel
Bila Cronbachs Alpha < r
tabel
maka kuesioner tersebut dinyatakan tidak
reliabel
4.3.1 Uji Validitas
Uji validitas untuk setiap instrumen dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi
Pearson Product Moment dengan mengkorelasikan skor setiap butir pertanyaan.
Dasar pengambilan keputusan pada uji validitas adalah sebagai berikut :
Jika r
hasil
> 0,20 ; maka butir atau pertanyaan tersebut valid
Jika r
hasil
< 0,20 ; maka butir atau pertanyaan tersebut tidak valid
Uji validitas variabel analisa pekerjaan (X
1
) yang ditunjukkan melalui tabel 4.3
sebagai berikut :
Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas Analisa Pekerjaan (X
1
)
Korelasi Koefisien Korelasi Keterangan
P1

0,396 Valid
P2

0,389 Valid
P3

0,443 Valid
P4

0,240 Valid
P5

0,363 Valid
P6

0,428 Valid
P7

0,354 Valid
P8

0,288 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010

68

Uji validitas variabel karakteristik pekerjaan (X


2
) yang ditunjukkan melalui 4.4
sebagai berikut :
Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas Karakteristik Pekerjaan (X
2
)
Korelasi Koefisien Korelasi Keterangan
P9

0,425 Valid
P10

0,432 Valid
P11

0,442 Valid
P12

0,516 Valid
P13

0,373 Valid
P14

0,498 Valid
P15

0,370 Valid
P16

0,258 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010
Uji validitas variabel pemberian insentif (X
3
) yang ditunjukkan melalui tabel 4.5
sebagai berikut :
Tabel 4.5 Hasil Uji Validitas Pemberian Insentif (X
3
)
Korelasi Koefisien Korelasi Keterangan
P17

0,608 Valid
P18

0,618 Valid
P19

0,340 Valid
P20

0,295 Valid
P21

0,258 Valid
P22

0,623 Valid
P23

0,461 Valid
P24

0,371 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010
69

Uji validitas variabel kinerja karyawan (Y) yang ditunjukkan melalui tabel 4.6 sebagai
berikut :
Tabel 4.6 Hasil Uji Validitas Kinerja Karyawan (Y)
Korelasi Koefisien Korelasi Keterangan
P25

0,318 Valid
P26

0,592 Valid
P27

0,634 Valid
P28

0,259 Valid
P29

0,316 Valid
P30

0,476 Valid
P31

0,523 Valid
P32

0,488 Valid
P33 0,352 Valid
P34 0,476 Valid
P35 0,283 Valid
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010

Berdasarkan uji validitas di atas maka dapat disimpulkan bahwa maka dapat
disimpulkan bahwa semua pertanyaan di kuesioner adalah valid karena nilai r
hasil
masing-masing pertanyaan bernilai lebih besar dari r
tabel
yaitu 0,20.

4.3.2 Uji Reliabilitas
Dalam penelitian ini, teknik uji realibilitas yang digunakan adalah Cronchbachs
Alpha, digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya merupakan rentangan
antara beberapa nilai atau berbentuk skala. Dasar pengambilan keputusannya adalah
sebagai berikut :
70

Bila Cronbachs Alpha > r


tabel
maka kuesioner tersebut dinyatakan reliabel
Bila Cronbachs Alpha < r
tabel
maka kuesioner tersebut dinyatakan tidak
reliabel
Uji reliabilitas variabel analisa pekerjaan (X
1
) yang ditunjukkan oleh tabel 4.7 berikut
ini :
Tabel 4.7 Hasil Uji Reliabilitas Analisa Pekerjaan (X
1
)
Cronbachs Alpha r
tabel
Keterangan
0,740 0,20 Reliabel
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010
Uji reliabilitas variabel karakteristik pekerjaan (X2) ditunjukkan oleh tabel 4.8 berikut
ini :
Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas Karakteristik Pekerjaan (X
2
)
Cronbachs Alpha r
tabel
Keterangan
0,632 0,20 Reliabel
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010
Uji reliabilitas variabel pemberian insentif (X
3
) ditunjukkan oleh tabel 4.9 berikut ini :
Tabel 4.9 Hasil Uji Reliabilitas Pemberian Insentif (X
3
)
Cronbachs Alpha r
tabel
Keterangan
0,743 0,20 Reliabel
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010
Uji reliabilitas variabel kinerja karyawan (Y) ditunjukkan oleh tabel 4.10 berikut ini :
Tabel 4.10 Hasil Uji Reliabilitas Kinerja Karyawan (Y)
Cronbachs Alpha r
tabel
Keterangan
0,749 0,20 Reliabel
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010

71

4.4 Transformasi Data Ordinal Menjadi Interval


Mentransformasi data ordinal menjadi interval gunanya adalah untuk memenuhi
sebagian dari syarat analisis parametrik yang mana data setidak-tidaknya berskala interval.
Teknik transformasi data yang dilakukan adalah menggunakan MSI (Method of Successive
Interval ).
Tabel 4.11 Nilai Baru Setelah Transformasi Data Ordinal ke Interval
Opsi Dari J awaban
(Ordinal)
Nilai Baru
(Interval)
Variabel Analisa Pekerjaan
1
1,00
2
1,90
3
2,59
4
3,58
5
4,97
Variabel Karakteristik Pekerjaan
1 1,00
2 1,88
3 2,54
4 3,45
5 4,82
Variabel Pemberian Insentif
1 1,00
2 1,96
3 2,61
4 3,46
5 4,63
Variabel Kinerja
1 1,00
2 1,66
3 2,65
4 3,34
5 4,29
Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2010
Keterangan :
1 : Sangat Tidak Setuju
72

2 : Tidak Setuju
3 : Ragu-ragu
4 : Setuju
5 : Sangat Setuju
4.5 Uji Normalitas
Mengingat asumsi untuk regresi adalah data harus berdistribusi secara normal, maka
akan dilakukan uji normalitas terhadap variabel X
1
, X
2
, X
3
, dan Y. Untuk nilai dari variabel X
1
.
X
2
, X
3
, dan Y diambil dari nilai rata rata (mean) dari data yang sudah valid dan reliabel.
4.5.1 Uji Normalitas Variabel Analisa Pekerjaan
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS 16 :
Tabel 4.12 Output Uji Normalitas Variabel Analisa Pekerjaan (X
1
)

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov
a
Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.
rata_rata .084 70 .200
*
.977 70 .237
a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.




Gambar 4.7 Grafik Normalitas Variabel X
1

73

Kriteria pengujian
Jika angka Sig Uji Kolgomorov-Smirnov > 0,05 maka data berdistribusi normal
Jika angka Sig Uji Kolgomorov-Smirnov < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal
Analisis
Variabel X
1
memiliki Sig = 0,200 (> 0,05) maka data berdistribusi normal, sehingga variabel
X
1
dapat digunakan dalam analisis selanjutnya.
4.5.2 Uji Normalitas Variabel Karakteristik Pekerjaan
Tabel 4.13 Output Uji Normalitas Variabel Karakteristik Pekerjaan (X
2
)

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov
a
Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.
X2 .165 70 .200
*
.894 70 .000
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.


Gambar 4.8 Grafik Normalitas Variabel X
2


Kriteria pengujian
Jika angka Sig Uji Kolgomorov-Smirnov > 0,05 maka data berdistribusi normal
Jika angka Sig Uji Kolgomorov-Smirnov < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal
74

Analisis
Variabel X
2
memiliki Sig = 0,200 (> 0,05) maka data berdistribusi normal, sehingga variabel
X
2
dapat digunakan dalam analisis selanjutnya.

4.5.3 Uji Normalitas Variabel Pemberian Insentif
Tabel 4.14 Output Uji Normalitas Variabel Pemberian Insentif (X
3
)

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov
a
Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.
X3 .134 70 .184 .973 70 .128
a. Lilliefors Significance Correction



Gambar 4.9 Grafik Normalitas Variabel X
3


Kriteria pengujian
Jika angka Sig Uji Kolgomorov-Smirnov > 0,05 maka data berdistribusi normal
Jika angka Sig Uji Kolgomorov-Smirnov < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal
75

Analisis
Variabel X
3
memiliki Sig = 0,184 (> 0,05) maka data berdistribusi normal, sehingga variabel
X
3
dapat digunakan dalam analisis selanjutnya.

4.5.4 Uji Normalitas Variabel Kinerja Karyawan
Tabel 4.15 Output Uji Normalitas Variabel Kinerja (Y)

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnov
a
Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.
rata_rata .099 70 .085 .972 70 .116
a. Lilliefors Significance Correction





Gambar 4.10 Grafik Normalitas Variabel Y

Kriteria pengujian
Jika angka Sig Uji Kolgomorov-Smirnov > 0,05 maka data berdistribusi normal
Jika angka Sig Uji Kolgomorov-Smirnov < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal
76

Analisis
Variabel Y memiliki Sig = 0,085 (> 0,05) maka data berdistribusi normal, sehingga variabel Y
dapat digunakan dalam analisis selanjutnya.

4.6 Uji Multikoleniaritas
Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi yang kuat
di antara variabel-variabel independen yang diikutsertakan dalam pembentukan model.
Untuk mendeteksi apakah model regresi linier mengalami multikolinearitas dapat diperiksa
menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) untuk masing-masing veriabel independen,
yaitu jika suatu variabel independen mempunyai nilai VIF > 10 berarti telah terjadi
Multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas ditunjukkan pada tabel 4.16 berikut ini :
Tabel 4.16 Uji Multikolinearitas
Coefficients
a

Model
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 X1 .725 1.379
X2 .787 1.270
X3 .769 1.300
a. Dependent Variable: Y

Tabel 4.16 menunjukkan bahwa tidak ada satupun variabel bebas yang memiliki nilai
VIF > 10 atau nilai tolerance kurang dari 0,10. Jadi tingkat kolinearitas masih berada dalam
batas yang dapat ditolerir, atau dapat dikatakan tidak terdapat multikolinearitas antar
variabel bebas.



77

4.7 Uji Korelasi Antar Variabel


Tabel 4.17 Korelasi Variabel
Correlations

X1 X2 X3 Y
X1 Pearson Correlation 1 .518
**
.536
**
.450
**

Sig. (2-tailed)

.000 .000 .000
N 70 70 70 70
X2 Pearson Correlation .518
**
1 .376
**
.542
**

Sig. (2-tailed) .000

.001 .000
N 70 70 70 70
X3 Pearson Correlation .536
**
.376
**
1 .308
**

Sig. (2-tailed) .000 .001

.010
N 70 70 70 70
Y Pearson Correlation .450
**
.542
**
.308
**
1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .010

N 70 70 70 70
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


Analisis dari korelasi hasil output pada tabel 4.20 adalah sebagai berikut :

Besarnya hubungan analisa pekerjaan (X
1
) dengan kinerja (Y) yang dihitung dengan
koefisien korelasi adalah 0,450 atau (r
xy1
= 0,450). Hal ini menunjukkan bahwa jika
ada penambahan analisa pekerjaan sebesar 1 unit, maka kinerja akan meningkat
sebesar 1 unit dan hubungannya cukup kuat antara analisa pekerjaan dengan
kinerja. Sumbangan analisa pekerjaan dengan kinerja adalah adalah sebesar KP = r
2

x 100% = 0,450
2
x 100% = 20,25%. Maknanya sumbangan 20,25% variabel kinerja
ini dijelaskan oleh variabel analisa pekerjaan dan sisanya 79,75% ditentukan oleh
variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini. Mengetahui uji
signifikan koefisien koreasi untuk 2 sisi (2-tailed) dari output menghasilkan angka
sebesar 0,000. Ternyata nilai Sig. lebih kecil dari 0,05 atau 0,000 < 0,05 maka Ho
78

ditolak dan Ha diterima. Artinya analisa pekerjaan berhubungan secara signifikan


dengan kinerja.
Besarnya hubungan karakteristik pekerjaan (X
2
) dengan kinerja (Y) yang dihitung
dengan koefisien korelasi adalah 0,542 atau (r
xy2
= 0,542). Hal ini menunjukkan
bahwa jika ada penambahan karakteristik pekerjaan sebesar 1 unit, maka kinerja
akan meningkat sebesar 1 unit dan hubungannya cukup kuat antara karakteristik
pekerjaan dengan kinerja. Sumbangan karakteristik pekerjaan dengan kinerja adalah
adalah sebesar KP = r
2
x 100% = 0,542
2
x 100% = 29,37%. Maknanya sumbangan
29,37% variabel kinerja ini dijelaskan oleh variabel karakteristik pekerjaan dan
sisanya 70,63% ditentukan oleh variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam
penelitian ini. Mengetahui uji signifikan koefisien koreasi untuk 2 sisi (2-tailed) dari
output menghasilkan angka sebesar 0,000. Ternyata nilai Sig. lebih kecil dari 0,05
atau 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya karakteristik pekerjaan
berhubungan secara signifikan dengan kinerja.
Besarnya hubungan pemberian insentif (X
3
) dengan kinerja (Y) yang dihitung dengan
koefisien korelasi adalah 0,308 atau (r
xy3
= 0,308). Hal ini menunjukkan bahwa jika
ada penambahan pemberian insentif sebesar 1 unit, maka kinerja akan meningkat
sebesar 1 unit dan hubungannya rendah antara pemberian insentif dengan kinerja.
Sumbangan pemberian insentif dengan kinerja adalah adalah sebesar KP = r
2
x
100% = 0,308
2
x 100% = 9,48%. Maknanya sumbangan 9,48% variabel kinerja ini
dijelaskan oleh variabel pemberian insentif dan sisanya 90,52% ditentukan oleh
variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini. Mengetahui uji
signifikan koefisien koreasi untuk 2 sisi (2-tailed) dari output menghasilkan angka
sebesar 0,010. Ternyata nilai Sig. lebih kecil dari 0,05 atau 0,010 < 0,05 maka Ho
ditolak dan Ha diterima. Artinya pemberian insentif berhubungan secara signifikan
dengan kinerja.
79

4.8 Uji Regresi Antar Variabel


Analisis Pengaruh Analisa Pekerjaan Terhadap Kinerja
Tabel 4.18 Coefficient Variabel X
1

Coefficients
a

Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) 1.884 .296

6.372 .000
X1 .405 .097 .450 4.159 .000
a. Dependent Variable: Y


Tabel 4.18 Coefficient Variabel X
1
menggambarkan persamaan regresi sederhana
sebagai berikut :
= a + b
1
X
1
= 1,884 + 0,450 X
1

Dimana :
X
1
= Analisa Pekerjaan
Y = Kinerja karyawan
Berikut penjelasan mengenai hasil output di atas :
Konstanta sebesar 1,884 menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari
variabel analisa pekerjaan (X
1
), maka nilai kinerja karyawan adalah 1,884. Koefisien
regresi sebesar 0,450 menyatakan bahwa setiap penambahan satu skor atau nilai
analisa pekerjaan akan memberikan kenaikan skor sebesar 0,450.
Uji t untuk menguji signifikansi konstanta dan variabel dependen (kinerja karyawan).
Kriteria uji koefisien regresi dari variabel analisa pekerjaan terhadap kinerja
karyawan sebagai berikut :
Hipotesis dalam bentuk kalimat.
Ha : Analisa pekerjaan berpengaruh secara siginifikan terhadap kinerja karyawan.
80

Ho : Analisa pekerjaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja


karyawan.
Hipotesis dalam bentuk statistik.
Ha : P
yx1
0
Ho : P
yx1
= 0
Dasar pengambilan keputusan (dengan tingkat kepercayaan 95% ) adalah sebagai
berikut :
Jika Sig 0,05 maka Ha ditolak
Jika Sig 0,05 maka Ha diterima
Keputusan pengujian
Nilai Sig = 0,000 yang artinya < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima
Sehingga dapat disimpulkan analisa pekerjaan (X
1
) berpengaruh secara signifikan
terhadap kinerja karyawan (Y)
Tabel 4.19 Model Summary Y X
1
Model Summary
b

Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1 .450
a
.203 .191 .43241
a. Predictors: (Constant), X1

b. Dependent Variable: Y


Angka R yang tertera pada tabel 4.19 di atas adalah sebesar 0,450; yang
menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara analisa pekerjaan dengan kinerja
karyawan cukup kuat. Nilai R Square adalah 0,203; yang berarti 20,3% kinerja PT IKPT
dipengaruhi oleh variabel analisa pekerjaan. Sedangkan sisanya 79,7% dipengaruhi oleh
variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini.

81

Tabel 4.20 ANOVA Y X


1


ANOVA
b

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 3.234 1 3.234 17.294 .000
a
Residual 12.715 68 .187

Total 15.948 69

a. Predictors: (Constant), X1

b. Dependent Variable: Y


Uji hipotesis :
Ha : Analisa pekerjaan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.
Ho : Analisa pekerjaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.
Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi regresi sederhana bandingkan antara nilai
probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig. sebagai berikut :
Jika nilai probabilitas 0,05 Sig. maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak
signifikan.
Jika nilai probabilitas 0,05 Sig. maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.
Dari uji ANOVA yang ditunjukkan pada tabel 4.20, ternyata nilai probabilitas Sig. =
0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau 0,05 > 0,000; maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya koefisien regresi adalah signifikan. Simpulan bahwa analisa pekerjaan
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.






82

Analisis Pengaruh Karakteristik Pekerjaan Terhadap Kinerja


Tabel 4.21 Coefficient Variabel X
2


Coefficients
a

Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) 1.432 .317

4.524 .000
X2 .554 .104 .542 5.315 .000
a. Dependent Variable: Y


Tabel 4.21 Coefficient Variabel X
2
menggambarkan persamaan regresi sederhana
sebagai berikut :
= a + b
2
X
2
= 1,432 + 0,542 X
2

Dimana :
X
2
= Karakteristik Pekerjaan
Y = Kinerja karyawan
Berikut penjelasan mengenai hasil output di atas :
Konstanta sebesar 1,432 menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari
variabel karakteristik pekerjaan (X
2
), maka nilai kinerja karyawan adalah 1,432.
Koefisien regresi sebesar 0,542 menyatakan bahwa setiap penambahan satu skor
atau nilai karakteristik pekerjaan akan memberikan kenaikan skor sebesar 0,542.
Uji t untuk menguji signifikansi konstanta dan variabel dependen (kinerja karyawan).
Kriteria uji koefisien regresi dari variabel karakteristik pekerjaan terhadap kinerja
karyawan sebagai berikut :
Hipotesis dalam bentuk kalimat.
Ha : Karakteristik pekerjaan berpengaruh secara siginifikan terhadap kinerja
karyawan.
83

Ho : Karakteristik pekerjaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja


karyawan.
Hipotesis dalam bentuk statistik.
Ha : P
yx2
0
Ho : P
yx2
= 0
Dasar pengambilan keputusan (dengan tingkat kepercayaan 95% ) adalah sebagai
berikut :
Jika Sig 0,05 maka Ha ditolak
Jika Sig 0,05 maka Ha diterima
Keputusan pengujian
Nilai Sig = 0,000 yang artinya < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima
Sehingga dapat disimpulkan karakteristik pekerjaan (X
2
) berpengaruh secara
signifikan terhadap kinerja karyawan (Y).

Tabel 4.22 Model Summary Y X
2


Model Summary
b

Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1 .542
a
.293 .283 .40707
a. Predictors: (Constant), X2

b. Dependent Variable: Y


Angka R yang tertera pada tabel 4.22 di atas adalah sebesar 0,542; yang
menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara karakteristik pekerjaan dengan kinerja
karyawan cukup kuat. Nilai R Square adalah 0,293; yang berarti 29,3% kinerja PT IKPT
dipengaruhi oleh variabel karakteristik pekerjaan. Sedangkan sisanya 70,7% dipengaruhi
oleh variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini.
84

Tabel 4.23 ANOVA Y X


2
ANOVA
b

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 4.680 1 4.680 28.244 .000
a
Residual 11.268 68 .166

Total 15.948 69

a. Predictors: (Constant), X2

b. Dependent Variable: Y


Uji hipotesis :
Ha : Karakteristik pekerjaan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.
Ho : Karakteristik pekerjaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.
Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi regresi sederhana bandingkan antara nilai
probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig. sebagai berikut :
Jika nilai probabilitas 0,05 Sig. maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak
signifikan.
Jika nilai probabilitas 0,05 Sig. maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.
Dari uji ANOVA yang ditunjukkan pada tabel 4.23, ternyata nilai probabilitas Sig. =
0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau 0,05 > 0,000; maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya koefisien regresi adalah signifikan. Simpulan bahwa karakteristik pekerjaan
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.






85

Analisis Pengaruh Pemberian Insentif Terhadap Kinerja


Tabel 4.24 Coefficient Variabel X
3


Coefficients
a

Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) 2.285 .309

7.390 .000
X3 .262 .098 .308 2.665 .010
a. Dependent Variable: Y


Tabel 4.24 Coefficient Variabel X
3
menggambarkan persamaan regresi sederhana sebagai
berikut :
= a + b
3
X
3
= 2,285 + 0,308 X
3

Dimana :
X
3
= Pemberian Insentif
Y = Kinerja karyawan
Berikut penjelasan mengenai hasil output di atas :
Konstanta sebesar 2,285 menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari
variabel pemberian insentif (X
1
), maka nilai kinerja karyawan adalah 2,285. Koefisien
regresi sebesar 0,308 menyatakan bahwa setiap penambahan satu skor atau nilai
karakteristik pekerjaan akan memberikan kenaikan skor sebesar 0,308.
Uji t untuk menguji signifikansi konstanta dan variabel dependen (kinerja karyawan).
Kriteria uji koefisien regresi dari variabel pemberian insentif terhadap kinerja
karyawan sebagai berikut :
Hipotesis dalam bentuk kalimat.
Ha : Pemberian insentif berpengaruh secara siginifikan terhadap kinerja karyawan.
86

Ho : Pemberian insentif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja


karyawan.
Hipotesis dalam bentuk statistik.
Ha : P
yx3
0
Ho : P
yx3
= 0
Dasar pengambilan keputusan (dengan tingkat kepercayaan 95% ) adalah sebagai
berikut :
Jika Sig 0,05 maka Ha ditolak
Jika Sig 0,05 maka Ha diterima
Keputusan pengujian
Nilai Sig = 0,010 yang artinya < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima
Sehingga dapat disimpulkan pemberian insentif (X
3
) berpengaruh secara signifikan
terhadap kinerja karyawan (Y).
Tabel 4.25 Model Summary Y X
3


Model Summary
b

Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1 .308
a
.095 .081 .46082
a. Predictors: (Constant), X3

b. Dependent Variable: Y


Angka R yang tertera pada tabel 4.25 di atas adalah sebesar 0,308; yang
menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara pemberian insentif dengan kinerja
karyawan rendah. Nilai R Square adalah 0,095; yang berarti 9,5% kinerja PT IKPT
dipengaruhi oleh variabel pemberian insentif. Sedangkan sisanya 90,5% dipengaruhi oleh
variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini.

87


Tabel 4.26 ANOVA Y X
3


ANOVA
b

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 1.508 1 1.508 7.102 .010
a
Residual 14.440 68 .212

Total 15.948 69

a. Predictors: (Constant), X3

b. Dependent Variable: Y


Uji hipotesis :
Ha : Pemberian insentif berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.
Ho : Pemberian insentif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.
Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi regresi sederhana bandingkan antara nilai
probabilitas 0,05 dengan nilai probabilitas Sig. sebagai berikut :
Jika nilai probabilitas 0,05 Sig. maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak
signifikan.
Jika nilai probabilitas 0,05 Sig. maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.
Dari uji ANOVA yang ditunjukkan pada tabel 4.26, ternyata nilai probabilitas Sig. =
0,010 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau 0,05 > 0,010; maka Ho ditolak dan Ha
diterima, artinya koefisien regresi adalah signifikan. Simpulan bahwa pemberian insentif
berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan.





88

Analisa Pengaruh Analisa Pekerjaan (X


1
), Karakteristik Pekerjaan (X
2
), dan
Pemberian Insentif (X
3
) Terhadap Kinerja (Y)
Tabel 4.27 Coefficient Variabel Y, X
1
, X
2
, dan X
3


Coefficients
a

Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) 1.144 .357

3.201 .002
X1 .194 .117 .215 1.655 .003
X2 .426 .121 .417 3.515 .001
X3 .030 .103 .035 .293 .771
a. Dependent Variable: Y


Tabel 4.27 menggambarkan persamaan regresi berganda sebagai berikut :
= a + b
1
X
1
+ b
2
X
2
+ b
3
X
3
= 1,144 + 0,215X
1
+ 0,417X
2
+ 0,035X
3

Dimana :
X
1
= Analisa pekerjaan
X
2
= Karakteristik pekerjaan
X
3
= Pemberian Insentif
Y = Kinerja
Dari persamaan regresi di atas, dapat disimpulkan :
Konstanta sebesar 1,144 menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari
variabel analisa pekerjaan (X
1
), karakteristik pekerjaan (X
2
), dan pemberian insentif
(X
3
) maka nilai kinerja (Y) adalah 1,144. Koefisien regresi ganda sebesar 0,215;
0,417 dan 0,035 menyatakan bahwa setiap penambahan satu skor atau nilai analisa
pekerjaan, karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif akan memberikan
kenaikan skor sebesar 0,215; 0,417 dan 0,035.
89

Tabel 4.28 ANOVA Y, X


1
, X
2
, dan X
3


ANOVA
b

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 5.321 3 1.774 11.016 .000
a
Residual 10.627 66 .161

Total 15.948 69

a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1

b. Dependent Variable: Y


Tabel 4.28 ANOVA Y, X
1
, X
2
, dan X
3
tentang uji F dimaksudkan untuk menguji signifikansi
konstanta dan variabel dependen (kinerja). Kriteria uji koefisien ganda dari variabel analisa
pekerjaan, karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif terhadap kinerja karyawan
sebagai berikut :
Ha : Analisa pekerjaan, karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif berpengaruh secara
signifikan dan simultan terhadap kinerja karyawan.
Ho : Analisa pekerjaan, karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif tidak berpengaruh
secara signifikan dan simultan terhadap kinerja karyawan.
Hipotesis dalam bentuk statistik:
Ha : P
yx1x2x3
0
Ho : P
yx1x2x3
= 0
Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi regresi ganda antara nilai probabilitas 0,05
dengan nilai probabilitas Sig. sebagai berikut :
Jika nilai probabilitas 0,05 Sig. maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak
signifikan.
Jika nilai probabilitas 0,05 Sig. maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya signifikan.


90

Keputusan pengujian :
Terlihat bahwa pada kolom Sig. pada tabel 4.28 ANOVA, nilai Sig = 0,000 atau lebih kecil
dari nilai probabilitas 0,05 atau 0,05 > 0,000, maka Ho ditolak dan Ha diterima artinya
koefisien regresi berganda adalah signifikan. Jadi, analisa pekerjaan, karakteristik pekerjaan,
pemberian insentif berpengaruh secara signifikan dan simultan terhadap kinerja karyawan.
Tabel 4.29 Model Summary Y, X
1
, X
2
, dan X
3


Model Summary
b

Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1 .578
a
.334 .303 .40127
a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1

b. Dependent Variable: Y


Angka R yang tertera pada tabel 4.29 di atas adalah sebesar 0,578; yang
menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara analisa pekerjaan, karakteristik
pekerjaan, dan pemberian insentif dengan kinerja karyawan kuat. Nilai R Square adalah
0,334; yang berarti 33,4% kinerja PT IKPT dipengaruhi oleh variabel analisa pekerjaan,
karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif. Sedangkan sisanya 66,6% dipengaruhi oleh
variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini.
4.9 Pembahasan
Penelitian ini membahas tentang pengaruh peranan analisa pekerjaan, karakteristik
pekerjaan, dan pemberian insentif terhadap kinerja karyawan PT Inti Karya Persada Tehnik.
Terdapat banyak faktor yang memengaruhi kinerja karyawan, namun dalam penelitian ini
hanya dibahas tentang tiga variabel di atas. Setelah dilakukan analisis penelitian, maka
didapat rangkuman hasil sebagai berikut :


91

Tabel 4.30 Rangkuman Hasil Analisis Regresi


Hubungan
Variabel Korelasi Pengaruh Persamaan Regresi
Uji
Signifikan
X
1
=> Y
0,450
(cukup kuat)
20,25% = 1,884 + 0,450 X
1
Signifikan
X
2
=> Y
0,542
(cukup kuat)
29,37% = 1,432 + 0,542 X
2
Signifikan
X
3
=> Y
0,308
(rendah)
9,48% = 2,285 + 0,308 X
3
Signifikan
X
1
, X
2
, X
3
=> Y
0,578
(cukup kuat)
33,4%
= 1,144 + 0,215X
1
+
0,417X
2
+ 0,035X
3

Signifikan

Keterangan tabel :
1. Dari hasil analisis pengaruh peranan analisa pekerjaan terhadap kinerja
karyawan (X
1
=> Y), dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan
yang cukup kuat (0,450) dan ada pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
karyawan. 20,3% kinerja karyawan PT Inti Karya Persada Tehnik
dipengaruhi oleh analisa pekerjaan. Sedangkan sisanya 79,7% dipengaruhi
oleh variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini, karena
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian. Dapat diartikan bahwa
analisa pekerjaan memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap kinerja
karyawan PT Inti Karya Persada Tehnik, yaitu nilai analisa pekerjaan adalah
0,450 yang berarti setiap penambahan satu nilai analisa pekerjaan akan
menambah kinerja karyawan yang bernilai sebesar 0,450. Secara
keseluruhan, perusahaan telah melakukan analisa pekerjaan dengan baik.
Karyawan sebagian besar mengerti mengenai deskripsi dan spesifikasi dari
tugas dan tanggung jawab yang mereka jalani. Namun, jika perusahaan
dapat membuat strategi untuk memaksimalkan penerapan analisa pekerjaan
92

diharapkan karyawan akan semakin mendalami makna pekerjaan sehingga


mereka menjadi lebih paham dan mempunyai motivasi yang tinggi yang
tentunya berdampak terhadap kinerja karyawan yang akan semakin
meningkat.
2. Kemudian dari hasil analisis pengaruh karakteristik pekerjaan terhadap
kinerja karyawan (X
2
=> Y), dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat
hubungan yang cukup kuat (0,542) dan ada pengaruh yang signifikan
terhadap kinerja karyawan. 29,3% kinerja karyawan PT Inti Karya Persada
Tehnik dipengaruhi oleh karakteristik pekerjaan. Sedangkan sisanya 70,7%
dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian
ini, karena dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian. Dapat
diartikan bahwa karakteristik pekerjaan memiliki pengaruh yang cukup kuat
terhadap kinerja karyawan PT Inti Karya Persada Tehnik, yaitu nilai
karakteristik pekerjaan adalah 0,542 yang berarti setiap penambahan satu
nilai karakteristik pekerjaan akan menambah kinerja karyawan yang bernilai
sebesar 0,542. Kinerja para karyawan secara signifikan terpengaruh oleh
karakteristik pekerjaan, lingkungan kerja yang baik, serta hubungan yang
baik dengan sesama rekan kerja dan atasan. Secara umum, karyawan
mengerti dan dapat memahami tentang karakteristik pekerjaan yang mereka
jalani. Namun, terkadang ada rasa jenuh dan menganggap pekerjaan
mereka kurang menantang (kompleks), hal ini menyebabkan kinerja mereka
cenderung tetap atau meningkat tetapi tidak terlalu terlihat.
3. Dari hasil analisis pemberian insentif terhadap kinerja karyawan (X
3
=> Y),
dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang rendah (0,308)
dan ada pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan. 9,5% kinerja
karyawan PT Inti Karya Persada Tehnik dipengaruhi oleh pemberian insentif.
93

Sedangkan sisanya 90,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dapat
dijelaskan dalam penelitian ini, karena dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di
luar penelitian. Dapat diartikan bahwa pemberian insentif memiliki pengaruh
yang rendah terhadap kinerja karyawan PT Inti Karya Persada Tehnik, yaitu
nilai pemberian insentif adalah 0,308 yang berarti setiap penambahan satu
nilai pemberian insentif akan menambah kinerja karyawan yang bernilai
sebesar 0,308. Pengaruh pemberian insentif terhadap kinerja karyawan tidak
terlalu besar, hal ini menunjukkan sedikit ketidakpuasan karyawan terhadap
bentuk apresiasi perusahaan terhadap hasil kerja yang karyawan berikan.
Untuk meningkatkan kinerja, perusahaan dapat mengaitkan secara langsung
kinerja dengan jumlah pembayaran yang diterima seseorang dalam bentuk
insentif dan membuat pedoman pemberian insentif yang lebih menarik bagi
karyawan. Jika karyawan tersebut melakukan suatu pekerjaan secara
maksimal maka perusahaan harus memberikan apresiasi berupa
penambahan pendapatan, tujuannya agar karyawan tersebut tetap
mempertahankan kompetensi dirinya bahkan dapat menghasilkan kinerja
yang lebih baik.
4. Dari hasil analisis pengaruh secara keseluruhan antara analisa pekerjaan,
karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif terhadap kinerja karyawan
(X
1
, X
2
, X
3
=> Y), dapat diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan
yang cukup kuat (0,578) dan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja
karyawan. 33,4% kinerja karyawan PT Inti Karya Persada Tehnik
dipengaruhi oleh analisa pekerjaan, karakteristik pekerjaan, dan pemberian
insentif. Sedangkan sisanya 66,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
dapat dijelaskan dalam penelitian ini, karena dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain di luar penelitian.
94

4.10 Implikasi Hasil Penelitian


Setelah dilakukan analisis penelitian menggunakan SPSS (Statistical Product and
Solution Services) versi 16.0, mengenai gambaran peranan analisa pekerjaan, karakteristik
pekerjaan, pemberian insentif, dan kinerja karyawan PT Inti Karya Persada Tehnik, diketahui
bahwa seberapa besar pengaruh dari masing-masing variabel bebas (analisa pekerjaan,
karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif) terhadap variabel terikat (kinerja karyawan).
PT Inti Karya Persada Tehnik perlu menempatkan perhatian yang lebih terhadap penerapan
analisa pekerjaan, karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif. Apabila dilihat secara
keseluruhan, pada variabel analisa pekerjaan, karakteristik pekerjaan, dan pemberian insentif
terdapat pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan, yaitu sebesar 33,4%.
Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dapat dijelaskan dalam
penelitian ini, karena dipengaruhi faktor-faktor lain di luar penelitian. Dalam situasi ini,
Kinerja para karyawan secara signifikan terpengaruh oleh karakteristik pekerjaan, lingkungan
kerja yang baik, serta hubungan yang baik dengan sesama rekan kerja dan atasan. Sehingga
perusahaan perlu meningkatkan peran karakteristik pekerjaan agar kinerja karyawan yang
baik dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.