Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

Sistem Lembaga Keuangan


Anjak Piutang
Makalah ini di susun guna memenuhi tugas kuliah sistem lembaga keuangan



Disusun oleh:
INDAH OKTANTRI AGINY
Nim : 201203294
Jurusan : Akuntansi

Sekolah Tinggi Ekonomi (STIE) Buddhi

Daftar isi

DAFTAR ISIii
BAB I PENDAHULUAN..1
Bab I
pendahuluan ................................................................................................................. ....
A. Latar Belakang...............
B. Tujuan Penulisan................
C. RumusanMasalah..................................
Bab II
PEMBAHASAN.........2
A. Pengertian Ajak Piutang
B. Dasar Hukum Anjak Piutang
C. Jenis - Jenis Anjak Piutang
D. Mekanisme Anjak Piutang
Bab III
Penutup .....................................................................................................................
A. Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA..............







BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap perusahaan mempunyai berbagai kegiatan usaha seperti kegiatan
utama atau operasional perusahaan dan kegiatan yang diluar operasionalnya.
Perusahaan harus mengelola kegiatan tersebut dengan baik agar tidak menghambat
kegiatan yang lain.
Salah satu kegiatan operasional perusahaan adalah penjualan barang dan jasa, baik
yang dilakukan secara tunai atau kredit yang sesuai dengan perjanjian. Perjanjian
jual beli lahir dan mengikat setelah ada kata sepakat mengenai harga dan barang
walaupun belum dilakukan penyerahan barang dan pembayaran harga. Jika
dilakukan secara tunai maka perusahaan tersebut akan langsung menikmati
keuntungannya tetapi jika dilakukan secara kredit maka perusahaan tersebut akan
mempunyai piutang atau tagihan yang harus menggunakan manajemen yang baik
secara efektif dan efisien agar piutang tersebut dapat ditagih sesuai dengan
harapan.
Pengelolaan piutang perusahaan harus dilakukan dengan baik karena piutang
tersebut merupakan sumber pendapatan perusahaan yang tertunda dan merupakan
hal yang sangat sensitive untuk dibicarakan karena sebagian besar dana
perusahaan dialokasikan dalam bentuk piutang dan pengelolaan yang baik dapat
memberikan kesan yang positif terhadap perusahaan dalam kualitas
manajemennya.
Ketika terjadi kemacetan dalam penagihan Piutang dagang, perusahaan akan
mengalami kerugian yang besar karena terganggunya perputaran barang dan
perputaran keuangan. Dan apa yang harus dilakukan ketika penjual tersebut sedang
membutuhkan uang atau membutuhkan perputaran modal yang cepat untuk
perputaran selanjutnya. Salah satu solusinya adalah dengan menjual piutang yang
ada kepada pihak lain. Sehingga Bank, Lembaga keuangan non Bank, dan
perusahaan pembiayaan yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi
memberikan jasa anjak piutang yang bertujuan untuk memperlancar kegiatan
penyelesaian utang-piutang dan membantu perusahaan dalam mengelola penjualan
secara kreditnya agar baik dan teratur.
Kegiatan Anjak Piutang atau Factoring tersebut juga diperkuat dengan berbagai
macam peraturan seperti Peraturan Menteri Keuangan dan Undang-Undang
Perbankan karena adanya hubungan hukum yang berubah yaitu orang lain yang
membeli piutang tersebut menggantikan kedudukan si penjual dimana ia berhak
untuk menuntut pembayaran dari si pembeli atau konsumen.













B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk:
1. Menambah wawasan tentang anjak piutang.
2. Mengetahui jenis dan kegiatan perusahaan anjak piutang.
3. Mengetahui manfaat dari anjak piutang.

C. Rumusan masalah
Dalam melihat Lembaga Keuangan Anjak Piutang (factoring) sebagai salah satu
alternatif pembiayaan perusahaan, maka:
1. Apa yang dimaksud dengan Anjak Piutang ?
2. Apa saja kegiatan dan manfaat dari Lembaga Keuangan Anjak Piutang ?
3. Bagaimana peran Lembaga Keuangan Anjak Piutang (factoring)
dalam mengatasi permasalahan pada perusahaan ?













BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengrtian Anjak Piutang
Anjak piutang atau factoring erat kaitanyadengan piutang yang melibatkan
pembelian oleh perusahaan factoring terhadap piutang menurut klien atau
supplier.anjak piutang dapat didefinisikan sebagai kontrak dimana perusahaan anjak
piutang menyediakan jasa jasa sekurang kurangnya antara lain:jasa pembiayaan,
jasa pembukaan (maintenance of account). Jasa penagihan piutang , dan jasa
perlindungan,terhadap resiko, untuk itulah klien kewajiban kepada perusahaan anjak
piutang secara terus menerus menjual atau menjaminkan piutang yang berasal dari
penjualan barang barang atau pemberian jasa jasa.
Ada beberapa pengertian anjak piutang seperti :
Anjak piutang dalam bahasa inggris sering disebut sebagai factoring. Anjak Piutang
merupakan istilah yang berasal dari gabungan kata anjak yang artinya pindah atau
alih dan piutang yang berarti tagihan sejumlah uang. Berdasarkan arti kata tersebut
secara sederhana Anjak Piutang berarti pengalihan piutang dari pemiliknya kepada
pihak lain.
Menurut terminology Factoring dalam terjemahan bebasnya bahwa Factoring adalah
suatu penjualan piutang dagang dari suatu perusahaan (Clien) kepada factor
dengan harga yang telah didiskon, dimana piutang dagang tersebut berasal dari
transaksi bisnis miliknya si perusahaan (Clien).
Factoring dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Anjak Piutang maksudnya
piutang yang dialihkan. Sedangkan pengertian Factoring/Anjak Piutang menurut
John Downes dan Jordan Elliot Goodman dalam Dictionary of Finance and
Investment Terms adalah :
Type financial service why a firm sells or transfer title to its account receivable to a
Factoring company, which then acts a principal, not as agent. The receivables are
sold without recources, meaning that the Factor can not turn to the seller in the event
accounts prove un collectible
Istilah Factoring sering menjadi perdebatan tentang asal usul terjemahan menjadi
Anjak Piutang. Di dalam Blacks Law Dictionary menyebutkan bahwa Factoring
adalah The buying accounts receivable at a discount. The price is discounted
because the factor (who buys them) assumes the risk of delay in collection and loss
on the accounts receivable
Sedangkan pengertian Anjak Piutang berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Keuangan No.448/KMK.017/2000 adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk
pembelian dan atau pengalihan serta pengurusan piutang jangka pendek suatu
perusahaan dari transaksi perdagangan dalam atau luar negeri.
Menurut pejabat Departemen Keuangan kata Anjak Piutang dipilih oleh lembaga ahli
Bahasa Indonesia tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Departemen
Keuangan. Dengan demikian perkataan Anjak Piutang merupakan istilah baru dalam
perbendaharaan bahasa Indonesia.
Menurut Keppres No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, anjak piutang
merupakan usaha pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan serta
pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek dari suatu perusahaan yang terbit
dari suatu transaksi perdagangan dalam dan luar negeri.
Pengertian Anjak Piutang atau Factoring juga dijumpai dalam referensi formal isi
kamus Bank Indonesia, merupakan hukum kegiatan pembiayaan dalam bentuk
pembelian dan/atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka
pendek atau perusahaan atas transaksi perdagangan dalam atau luar negeri,
sedangkan perusahaan yang melakukan Anjak Piutang disebut penganjak-piutang
(Factoring) dan pengertian penganjak-piutang yaitu adalah pihak yang kegiatannya
membeli piutang pihak lain dengan menanggung resiko tak terbayar utang (Factor).
Dari definisi di atas dapat disebutkan bahwa anjak piutang adalah suatu teknik
pendanaan jangka pendek dengan memanfaatkaan piutang yang dimiliki oleh suatu
perusahaan. Perusahaan yang bersangkutan menjual atau menyerahkan hak atas
piutangnya kepada perusahaan kepada perusahaan anjak piutang. Kemudian
perusahaan anjak piutang menyerahkan uang kepada perusahaan tersebut sebesar
persentase tertentu dari jumlah nilai piutang. Sebagai imbalan, perusahaan anjak
piutang membebankan biaya administrasi dan bunga pada perusahaan tersebut.

Menurut menteri keuangan no.1251/KMK.013/1988 tanggal 20 desember
1988, perusahaan anjak piutang adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pembiayaan dalam bentuk paembelian dan atau pangalihan serta pengurusan
piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan. pengertian lain anjak piutang
atau promes atas dasar diskontodari klien dengan syarat resource without recourse
sehingga hak penagihan beralih kepada perusahaan anjak piutang
Pasal 6 keputusan menteri keuangan nomor 1251/KMK. 013/1988,
menyebutkan bahwa kegiatan anjak piutang dilakukan dalam bentuk :
a) Pembelian atau pengalian piutang /tagihan janka pendek dari transaksi
perdagangan dalam maupun luar negeri.
b) Penatausahaan penjualan kredit serta penagihan piutang perusahaan klien.
Dari kententuan diatas jelas terlihat bahwa perusahaan anjak piutang (yang dalam
bahasa asing disebut factoring ) adalah suatu kegiatan pembiayaan yang dilakukan
oleh suatu perusahaan anjak piutang ( factoring company ) dalam bentuk pembelian
dan atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan janga pendek suatu
perusahaan dari transaksi perdagangan dalam dan luar negeri.
Anjak piutang bagi perusahaan yang memproduksi barang dan jasa akan memberi
manfaat dalam melancarkan usaha terutama dalam hal:
1) membantu administrasi penjualan dan penagihan (sales ladgering and collection
service).
2) membantu beban resiko (credit insurance).
3) memperbaiki system penagihan.
4) membantu memperlancar modal kerja.
5) meninggatkan kpercayaan.
6) kesempatan untuk megembngkan usaha

Lembaga anjak piutang adalah salah satu upaya pem-biayaan jangka pendek untuk
transaksi perdagangan dalam negeri dan luar negeri.
Menurut Richard Burton Simatupang dalam bukunya, pengertian lembaga
pembiayaan factoring/anjak piutang adalah lembaga pembiayaan yang dalam
melakukan usaha pembiayaannya dilakukan dalam bentuk pembelian dan atau
pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan
dari transaksi perdagangan dalam atau luar negeri.1
Pengertian lain juga senada dengan pendapat di atas bahwa Anjak Piutang
(factoring) adalah pembiayaan jangka pendek tanpa kolateral. Pembiayaan yang
dilakukan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan/pengambilalihan, serta
pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek dari suatu perusahaan, tagihan
mana berasal dari transaksi perdagangan dalam maupun luar negeri.
Yang menjadi dasar hukum bagi factoring adalah kontrak factoring itu sendiri.
Selanjutnya, terdapat berbagai perundang-undangan tentang factoring dan
pengaturan tentang pengalihan (cessie) dalam KUH Perdata, dan perundang-
undangan di bidang keuangan dan pembiayaan.
Perjanjian Anjak Piutang itu mengandung resiko yag besar dan untuk mengurangi
resiko tersebut, biasanya factor meminta adanya pengaturan mengenai aliran arus
keuangan terhadap pencairan dan pembayaran piutang dagang. Pengertian resiko
menurut Subekti (1992) adalah kewajiban memikul kerugian yang disebabkan
karena suatu peristiwa di luar kesalahan salah satu
pihak, dan siapa yang wajib memikul kerugian-kerugian itu? Inilah yang dinamakan
resiko. Persoalan resiko itu berpangkal pada kejadian yang dinamakan keadaan
memaksa. Persoalan resiko adalah buntut dari suatu keadaan memaksa. 2
B. Jenis-Jenis Factoring
Adapun jenis-jenis factoring adalah sebagai berikut:3
( 1 ) Recourse Factoring (factoring di mana setelah transaksi factoring terjadi, pihak
klien masih bertanggung jawab).
( 2 ) Non-Recourse Factoring (factoring di mana setelah transaksi factoring terjadi,
pihak klien tidak bertanggung jawab lagi. ( hal. 152 )
( 3 ) Domestic Factoring (factoring semua pihak berada dalam 1 (satu) Negara).
( 4 ) International Factoring (Factoring di mana pihak costumer-nya berada di luar
negeri).
( 5 ) Factoring dengan Account Receivables (factoring di mana yang dialihkan
adalah bukti tagihan berupa invoice dagang )
Perbedaan antara anjak piutang dengan pinjaman bank. Antara lain adalah : 4
1. Penekanan anjak piutang adalah pada nilai piutang, bukan kelayakan kredit
perusahaan.
2. Anjak piutang bukan merupakan suatu pinjaman, melainkan anjak piutang berarti
membeli suatu asset yang berupa piutang.
3. Pinjaman bank melibatkan dua pihak, yaitu bank dan penerima kredit, sedangkan
anjak piutang melibatkan tiga pihak yaitu pihak yang menjual piutang, lembaga anjak
piutang dan pihak yang harus membayar piutang.
Penjualan portofolio kredit macet atau penjualan piutang macet berbeda dengan
penjualan agunan kredit macet. Penjualan portofolio kredit macet hamper mirip
dengan praktik pengalihan tagihan piutang suatu perusahaan kepada perusahaan
lain yang lazim diatur dalam hukum tentang anjak pitang atau factoring. Menurut
Munir Fuady ada beberapa ketentuan dalam hokum Indonesia yang dapat menjadi
dasar hukum bagi eksistensi suatu jasa factoring, yaitu ketentuan-ketentuan yang
merupakan dasar hukum bagi eksistensi suatu jasa factoring, yaitu ketentuan-
ketentuan yang merupakan dasar hokum substansif murni, substansif procedural,
dan dasar huikum administratif. Dasar hukum substansif murni dari kegiatan
factoring adalah Pasal 1338 KUH Perdata perihal asas kebebasan berkontrak serta
pasal 1320 KUH Perdata tentang syarat sahnya suatu perjanjian. Dasar hokum
substansif procedural dari kegiatan factoring adalah Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata yakni: (1) ketentuan dalam buku kedua tentang Cessie (pengalihan
piutang) vide Pasal 613 KUH Perdata; (2) Ketentuan Pasal 1400 KUH Perdata dan
seterusnya yang mengatur tentang subrogasi (pergantian hak si berpiutang oleh
pihak ketiga, yang membayar kepada si berpiutang), serta (3) ketentuan lain yang
berhubungan dengan penjualan piutang, yaitu KUH Perdata Pasal 1459, Pasal
1491, Pasal 1493, Pasal 1495, Pasal 1553, Pasal 1534 dan sebagainya, serta
ketentuan yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)
Pasal 174 sampai dengan Pasal 177.
Kegiatan factoring juga memiliki dasar hokum yang bersifat administrative yaitu: (1)
UU Perbankan (UU 7/1992 juncto UU 10/1998) Pasal 6 huruf l khususnya yang
menyebutkan bahwa salah satu usaha bank adalah melakukan kegiatan anjak
piutang, (2) Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga
Pembiayaan, dan (3) Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor
1251/KMK.031?1988 tentang ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga
Pembiayaan, sebagaimana yang telah berkali-kali diubah, terakhir dengan KMK
448/KMK.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan. Saat ini KMK
448/KMK.017/2000 telah diubah oleh Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
84/PMK.012/2006 tentang Perusahaan Pembiayaan (PMK 84/2006). 5
Dari penelitian terhadap 39 Putusan Mahkamah Agung yang telah dilakukan oleh
peneliti, dapat disimpulkan bahwa hakim-hakim lebih merupakan mazhab
konvensional yang hanya menerapkan arti cessie menurut BW (KUH Per-data).
Namun dengan telah berkembangnya Hukum Bisnis yang timbul dari perjanjian, saat
ini telah timbul mazhab transisi yang telah mampu mengaitkan lembaga cessie
sebagaimana dinyatakan dalam KUH Perdata dengan berbagai kegiatan
pembiayaan dalam bentuk factoring/anjak piutang.
Pertanyaan penting adalah apakah suatu sahnya penyerahan/pengalihan utang
tergantung pada sahnya pengalihan barang jaminan? Dalam Putusan MA No. 148
K/Pdt/2003 tanggal 19 Mei 2007, MA RI menyatakan bahwa perjanjian pengalihan
barang jaminan telah memenuhi ketentuan tentang sahnya perjanjian dan tidak
bertentangan dengan ketentuan perjanjian jual-beli kredit sehingga perjanjian
pengalihan dalam kasus ini adalah sah. Dengan kata lain, jika perjanjian pengalihan
barang jaminan tersebut tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian, maka
penyerahan piutangnya melalui lembaga cesssie juga tidak sah.
Seperti yang telah disebutkan bahwa pada dasarnya terdapat tiga pihak
yang terlibat dalam transaksi factoring, yakni :
1. Klien sebagai penjual piutang
2. Customer sebagai yang berhutang
3. Perusahaan Factoring (factor) sebagai pembeli piutang
Dengan demikian pada cessie akan didahului perjanjian obligator terlebih dahulu,
yang pada umumnya adalah jual-beli. Dalam praktik biasanya akta yang dibuat
adalah Perjanjian Jual-Beli Piutang. Perjanjian ini baru menimbulkan kewajiban bagi
masing-masing pihak. Perjanjian Obligatoir ini harus ditindaklanjuti dengan
penyerahan (transfer of ownership) sehingga piutang yang semula milik kreditur
lama sekarang menjadi milik kreditur baru.
Terkait dengan hubungan sebab akibat (Teori Kausalitas), keabsahan peristiwa
hukum yang kemudian tergantung pada sah tidaknya peristiwa hukum yang
mendahuluinya. Dengan demikian keabsahan cessie sangat bergantung pada sah
tidaknya perjanjian obligatoir yang mendahuluinya, yakni perjanjian jual-beli piutang.
Apabila perjanjian jual-beli piutangnya sah maka perjanjian cessie yang dibuat juga
sah, sebaliknya bila perjanjian jual-beli piutang yang dibuat tidak sah maka
perjanjian cessie-nya juga tidak
sah. Akan tetapi, ada juga ajaran yang memisahkan kedua peristiwa hukum
tersebut.
Ajaran ini dikenal sebagai Teori Abstraksi. Menurut teori ini maka sah tidaknya
cessie
tidak bergantung pada sah tidaknya perjanjian jual-beli piutang yang mendahuluinya.
Dengan kata lain, meskipun perjanjian jual-beli piutang yang mendahuluinya tidak
sah,
perjanjian cessie-nya tetap dianggap sah; yang dengan demikian tetap dianggap
telah
terjadi alih kepemilikan hak tagih atas piutang dari kreditur lama kepada kreditur
baru.
Menurut pasal 613 KUH Perdata, penyerahan piutang atas nama dan barang-barang
lain yang tidak bertubuh, dilakukan dengan jalan membuat akta (otentik atau
dibawah tangan), yang disebut dengan akta cesseiyang melimpahkan hak-hak atas
barang-barang itu kepada oarang lain. Penyerahan itu tidak akan ada akibatnya bagi
yang berhutang sebelum penyerahan itu (1) diberitahukan kepadanya, atau
(2)disetujui secara tertulis, atau (3) diakuinya. Sementara itu, penyerahan surat-surat
hutang atas tunjuk dilakukan dengan memberikannya dan penyerahan surat hutang
atas perintah dilakukan dengan memberikannya bersama endorsemen surat itu.

B. Dasar Hukum Anjak Piutang
aturan hukum yang ada di indonesia mengenai hal ini hanyalah diketemukan
didalam keputusan presiden republik indonesia nomor 61 tahun 1988 tanggal 20
desember 1988 lembaran negara republik indonesia nomor 93 tahun 1988 jis. Surat
keputusan menteri keuangan nomor: 448/KMK. 06/2002, jis. Syrat keputusan
menteri keuangan nomor: 172/KMK. 06/2002 mengtur mengenai perusahaan
pembiayaan, sehingga aturan anjak piutang hanyalah dtemukan sebagai salah satu
hukum administrasi yang mengatur keberadaan kegiatan kegiatan perusahaan
pembiaayaan dengan demikian terlihat pengaturan hukum dibidang lembaga anjak
piutang itu terlihat masih sangat sederhana dan belum lengkap
Pengertian yang ada mengenai anjak iutang atau factoring masih dalam
bentuk keputusan mentri keuangan nomor 1251/ KMK. 013/ 1988 jis nomor.
448/KMK. 017/ 2000 tanggal 27 oktober 2000 pada pasal 1 hruf E adalah kegiatan
pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/ atau pengalihan serta kepengurusan
piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan
dalam atau luara negri. Selanjutnya pengertian anjak piutang dipertegas dengan
ketentuan surat keputusan mentri keuangan nomor 172/ KMK. 06/ 2002.
Yang menyatakan kegiatan anjak piutang dilakukan dalam bentuk:
a) Pembelian dan/ atau pengalihan; serta
b) Pengurusan atas piutang atau tagihan jangka pendek dari transaksi perdagangan
dalam atau luar negri.
Ketentuan tersebut ditujukan kepada lembaga pembiayaan yang boleh
menggunakan usaha anjak piutang ini berdasarkan kepuusan presiden nomor. 61
tahun 1998 tanggal 20 desember 1998 pada pasal 3 ayat 1 yaitu jenis kegiatan dan
pembiayaan ini dapa dlakukan oleh pembiayaan, lembaga keuangan bank dan
bukan bank.

C. Jenis jenis anjak piutang
a. full service factoring
yaitu bentuk perlayaan yang diberikan atau disediakan oleh perusahaan anjak
piutang yang meliputi semua jenis jasa anjak piutang ,baik dalam bentuk jasa
pembiayaan maupun jasa non pembiayan
b. recourse factoring
yaitu bentuk perlayaan yang diberikan yang meliputi hampir semua jasa jasa bank
anjak piutang kecuali proteksi terhadap resiko tidak dibayarnya tagihan.
c. Bull factoring
Yaitu bentuk bentuk perlayanan clien hanya memerlukan jasa pembiayaan atau
pemberi tahuan jatuh tempo pada nasabah atau costumer/ sedangkan jasa- jasa
seperti proteksi sredit, seles ledger administration, dan penagihan tidak diperlukan.
d. Matury factoring
Yaitu bentuk perlayanan dimana yang dibutuhkan klien adalah jaminan perlindungan
kredit yang meliputi pengurusan penh atas penjualan, penagihan dari pelanggan,
dan proteksi atas piutang.
e. Agenci factoring
Bentuk factoring ini sering dikaitkan dengan bull factoring yaitu penyerangan
keseluruhan enjualan anjak piutang klien kepada perusahaan factoring atas dasar
nitifikasi, tetapi tidak bertanggung jawab atas kepengurusan atas kepenagihan
piutang tersebut.
f. Invoice discouting
Klin dalam hal ini hanya membutuhkan jasapembiayaan perusahaan anjak
piutang sedangkan jasa non-pembiayaan ditangani sendiri oleh klien.
g. Undisclosed factoring
Biasanya berkaitan dengan suatu perjanjian penjualan piutang dimana
perusahaan factoring memberikan proteksi terjadinya kemacetan pelunasan piutang
sampaidengan persentase tertentu(biasanya 80%)dari jumlah factur yang disetujui
yaitu dengan without recourse sebagai resiko kredit.
Perkembangan anjak piutang di Indonesia, Pada dasarnya kegiatan usaha anjak
piutang merupakan bidang usaha yang relative baru diindonesia.eksistensinya
dimulai sejak adanya paket kebijaksanaan 20 desember 1988 atau pakdes 20,1988
sesuai dengan keppres NO.61 tahun 1988dan keputusan menteri keuangaan
NO.1251/KMK.013/1988 tanggal 20 desmber 1988 dimana jumlah modal disetor
atau simpanan pokok dan wajib ditetapkan sebagai berikut
1) perusahaan swasta nasional sebesar Rp 2 miliar.
2) perusahaan patungan Indonesia asing sebesar Rp 8 miliar.
3) koperasi sebesar Rp 2 miliar

Fasilitas anjak piutang yang ditawarkan oleh perusahaan anjak piutang dapat dibedakan
dalam berbagai jenis sebagai berikut:

1. Berdasarkan Pemberitahuan
Disclosed / notification. Disclosed factoring atau juga disebut dengan notification
factoring adalah pengalihan piutang kepada perusahaan anjak piutang dengan
sepengetahuan pihak debitor (customer). Oleh karena itu pada saat piutang tersebut
jatuh tempo perusahaan anjak piutang memiliki hak tagih pada debitor yang
bersangkutan. Untuk dapat melakukan hal tersebut di dalam faktur dicantumkan
pernyataan bahwa piutang yang timbul dari faktur ini telah dialihkan kepada
perusahaan anjak piutang. Notifikasi setiap transaksi anjak piutang kepada pihak
customer dimaksudkan antara lain:
a) untuk menjamin pembayaran langsung kepada perusahaan anjak piutang
b) untuk mencegah pihak customer melakukan perbuatan yang merugikan
pihak perusahaan anjak piutang misalnya, pengurangan jumlah piutang sesuai
dengan kontrak klien sebagai penjual.
c) mencegah perubahan-perubahan yang ada dalam kontrak yang dapat mempengaruhi
perusahaan anjak piutang.
d) memungkinkan perusahaan anjak piutang untuk menuntut atas namanya apabila
terjadi perselisihan.
Mekani sme anj ak pi utang dengan fasi l i tas disclosed dapat diikuti pada
1) Penjualan secara kredit kepada customer (debitor).
2) Kontrak factoring antara supplier (klien) dengan perusahaan factoring (factor)
disertai dengan penyerahan faktur-faktur dan dokumen terkait lainnya.
3) Pemberitahuan kepada customer mengenai kontrak factoring.
4) Pembayaran oleh perusahaan factoring yang dapat dilakukan dalam waktu 24 jam.
Pembayaran tersebut berjumlah sampai 80% dari total nilai faktur. Sisanya 20%
akan dibayar apabila telah dilakukan pelunasan penuh oleh customer atau debitor.
5) Penagihan oleh perusahaan factoring yang disertai dengan bukti-bukti pendukung.
6) Pelunasan utang customer kepada perusahaan factoring.

Undisclosed/non notification & Undisclosed atau juga disebut dengan non-
notification factoring adalah transaksi penjualan atau pengalihan piutang kepada
perusahaan anjak piutang oleh klien tanpa pemberitahuan kepada debitor kecuali
bila ada pelanggaran atas kesepakatan pada pihak klien; atau secara sepihak
perusahaan anjak piutang menganggap akan menghadapi risiko. Transaksi
disclosed atau undisclosed factoring terhadap pengalihan piutang klien kepada
perusahaan anjak piutang akan memiliki dampak hukum pada masing-masing pihak
yang terkait
1) Penjualan secara kredit oleh klien (supplier) kepada nasabahnya (customer).
2) Penyerahan faktur dan bukti-bukti pendukung lainnya tanpa ada pemberitahuan
mengenai kontrak anjak piutang
3) Tembusan atau copy faktur diserahkan kepada perusahaan anjak piutang.
4) Pembayaran kepada klien sampai 80% dari total nilai faktur. Sisanya 20% akan
dibayar pada saat pelunasan utang oleh debitor (customer).
5) Pada saat jatuh tempo, debitor akan melunasi utangnya langsung kepada supplier
atau klien.
6) Klien kemudian meneruskan pelunasan tersebut (No.5) kepada perusahaan
anjak piutang. Perusahaan anjak piutang selanjutnya melunasi sisa pembayaran
20% kepada klien.

2. Berdasarkan Penanggungan Risiko
Recourse factoring
Anjak piutang dengan cara recourse atau disebut juga with recourse factoring
berkaitan dengan risiko debitor yang tidak mampu memenuhi kewajibannya.
Keadaan ini bagi perusahaan anjak piutang merupakan ancaman risiko. Dalam
perjanjian with recourse, klien akan menanggung risiko kredit terhadap piutang yang
dialihkan kepada perusahaan anjak piutang. Oleh karena itu, perusahaan
anjak piutang akan mengembalikan tanggung jawab (recourse) pembayaran piutang
kepada klien atas piutang yang tidak tertagih dari customer.
Without recourse factoring
Anjak piutang ini juga disebut non-recourse factoring, yaitu perusahaan anjak
piutang menanggung risiko atas tidak tertagihnya piutang yang telah dialihkan oleh
klien. Namun, dalam perjanjian anjak piutang dapat dicantumkan bahwa di luar
keadaan macetnya tagihan dapat diberlakukan bentuk recourse. Ini
untuk menghindarkan tagihan yang tidak dibayar karena pihak klien ternyata
mengirimkan barang yang cacat atau tidak sesuai dengan perjanjian kepada
nasabahnya. Dengan demikian customer berhak untuk mengembalikan barang yang
telah diserahkan tersebut dan terlepas dari kewajiban pembayaran utang. Dalam hal
terjadi kasus demikian, perusahaan factoring dapat mengembalikan tagihan tersebut
kepada klien.
3. Berdasarkan Pelayanan
Full service factoring, yaitu perjanjian anjak piutang yang meliputi semua jenis
jasa anjak piutang baik dalam bentuk jasa pembiayaan maupun jasa non-
pembiayaan, misalnya urusan administrasi penjualan (sale ledger administration),
tagihan dan penagihan piutang termasuk menanggung risiko terhadap piutang yang
macet.
Finance factoring, yaitu perusahaan anjak piutang yang hanya menyediakan
fasilitas pembiayaan saja tanpa ikut menanggung risiko atas piutang tak tertagih.
Penyediaan pembiayaan dana tunai pada saat penyerahan faktur kepada perusahaan factoring
sampai sejumlah 80% dari nilai seluruh faktur sesuai dengan besarnya plafon
pembiayaan (limit kredit). Klien tetap bertanggungjawab terhadap pembukuan
piutang dan penagihannya,termasuk menanggung risiko tidak tertagihnya piutang
tersebut.
Bulk factoring. Jasa factoring ini juga disebut dengan agency factoring yaitu
transaksi yang mengaitkan perusahaan factoring sebagai agen dari klien. Bentuk
fasilitas factoring ini pada dasarnya hampir sama dengan full service factoring,
namun penagihan piutang tetap dilakukan oleh klien dan proteksi risiko kredit tidak
dijamin perusahaan factoring.
Maturity factoring. Dalam maturity factoring, pembiayaan pada dasarnya
tidak diperlukan oleh klien tetapi oleh pengurusan penjualan dan penagihan piutang
serta proteksi atas tagihan. Fasilitas anjak piutang maturity memberikan kredit
perdagangan kepada customer atau nasabah dengan pembayaran segera.
Misalnya, 2% 10 hari, net 30, artinya apabila debitor membayar dalam jangka waktu
10 hari pertama, ia memperoleh potongan sebesar 2%. Apabila tidak, pembayaran
penuh harus dilakukan dalam waktu 30 hari. Dalam perjanjian anjak piutang ini
perusahaan factoring akan membayar kliennya tidak lebih dari 10 hari setelah faktur
jatuh tempo. Oleh karena itu tidak ada beban bunga yang diperhitungkan.
Pembayaran atas piutang yang dialihkan dapat dilakukan berdasarkan periode
tertentu yang didasarkan atas perkiraan rata-rata jatuh tempo faktur atau
penyerahan copy faktur.
4. Berdasarkan Lingkup Kegiatan
Domestic factoring, yaitu kegiatan transaksi anjak piutang dengan melibatkan
perusahaan anjak piutang, klien dan debitor yang semuanya berdomisili di dalam
negeri.
International factoring. Anjak piutang ini juga sering disebut export factoring,
yaitu adalah kegiatan anjak piutang untuk transaksi ekspor impor barang yang
melibatkan dua perusahaan factoring di masing-masing negara sebagai export factor
dan import factor.
5. Berdasarkan Pembayaran kepada Klien
Advanced payment, yaitu transaksi anjak piutang dengan memberikan
pembayaran di muka (prepayment financing) oleh perusahaan anjak piutang kepada
klien berdasarkan penyerahan faktur yang besarnya berkisar 80% dari nilai faktur.
Maturity, transaksi pengalihan piutang yang pembayarannya dilakukan
perusahaan anjak piutang pada saat piutang tersebut jatuh tempo. Pembayaran
tagihan tersebut biasanya dilakukan berdasarkan rata-rata jatuh tempo tagihan
(faktur). Untuk lebih jelasnya lihat kembali maturity factoring yang telah dibahas
terdahulu.
Collection, yaitu transaksi pengalihan piutang yang pembayarannya akan
dilakukan apabila perusahaan anjak piutang berhasil melakukan penagihan terhadap
debitor.

D. Mekanisme anjak piutang
Dalam kegiatan anjak piutang terhadap 3 pelaku utaama yang terlibat antara lain:
1. perusahaan anjak piutang atau factor adalah perusahan atau pihak yang
menawarkan jasa anjak piutang.
2. Klien atau suplier adalah pihak yang mengunakan jasa perusahaan anjak piutang
3. nasabah atau costumer atau debitur adalah pihak yang mengadakan transaksi
dengan klien.

Mekanisme anjak piutang ada 2,yaitu:
1. tanpa factor atau tradisional piutang tersebut





2. dengan jasa non pembiayaan atau non financing servises.
penyediaan jasa non pembiayaan merupakan jasa untuk melayani kepentingan
kredit klien atau supllier.produk jasa non pembiayaan yang ditawarkan oleh
perusahaan anjak piutang antara lain:
a. investasi kredit (credit investigation)
b. sales ledger administration atau salae accounting
c. pengawasan kredit dan penagihan nya
d. perlindungan terhadap resiko kredit






Kegiatan utama perusahaan anjak piutang adalah mengambil alih pengurusan
piutang atau perusahaan dengan suatu tanggung jawab tertentu, tergantung
kesepakatan daengan pihn kreditur (pihak yang punya piutang)





Supplier


Debitur














Supplier


Debitur













Factor




(3) penagihan






Dalam praktiknya keuntungan yang diperoleh dari biya- biaya yang dibeebankan
kepada para nasabahnya terdiri dari;
1) Jasa penagihan (servis darge),
Yaitu biaya yang dibebankan oeh perusahaan anjak piuang kepada kliennya,
yang dikenal dengan isilah fee dan besarnya di hitung kepada presentase tertentu.
Kemudian besarnya fee yang diberikn tergantung dari kesepakatan kedua belah
pihak dengan berbagai pertimbangan seperti misalnya tingkat kesulitan atau jumlah
piutang yang ditagihkan.
2) Biaya administrasi.
Yaitu biaya yang diterima oleh perusahaan anjak piutang setelah malakukan
pengelolahan perusahaan kredior oleh klien dan besarnya pun tergantung dari
kesepakatan yang dibuat bersama.

BAB III
KESIMPULAN

Anjak piutang atau factoring erat kaitanyadengan piutang yang melibatkan
pembelian oleh perusahaan factoring terhadap piutang menurut klien atau
supplier.anjak piutang dapat didefinisikan sebagai kontrak dimana perusahaan anjak
piutang menyediakan jasa jasa sekurang kurangnya antara lain:jasa pembiayaan,
jasa pembukaan (maintenance of account).
Menurut menteri keuangan no.1251/KMK.013/1988 tanggal 20 desember
1988, perusahaan anjak piutang adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pembiayaan dalam bentuk paembelian dan atau pangalihan serta pengurusan
piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan.
Jika kita melihat anjak piutang ini munkin ada yang biang bahwa ini seperti
leasing, akan tetapi perbedaan leasing dengan anjak piutang yaitu; jika leasing
berjangka waktu panjang dan anjak piutang sendiri ber jangka waktu pendek.
Jenis jenis anjak piutang
1) full service factoring
2) recourse factoring
3) Bull factoring
4) Matury factoring
5) Agenci factoring
6) Invoice discouting
7) Undisclosed factoring
3 pelaku utaama yang terlibat anjak piutang:
1) perusahaan anjak piutang atau factor adalah perusahan atau pihak yang
menawarkan jasa anjak piutang.
2) Klien atau suplier adalah pihak yang mengunakan jasa perusahaan anjak piutang
3) nasabah atau costumer atau debitur adalah pihak yang mengadakan transaksi
dengan klien.
Mekanisme anjak piutang ada 2,yaitu:
1. tanpa factor atau tradisional piutang tersebut
2. dengan jasa non pembiayaan atau non financing servises.





















DAFTAR PUSTAKA

Pandi, Frianto, dkk, lembaga keuangan. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Libis, K, Suhrawardi, hukum ekonmi islam. Jakarta: Sinar Grafika, 2000.
Prantouw, Rinus, Hak Tagih Faktor Atas Piutang Dagang. Jakarta: Prenada Media Group,
2006.
Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainya. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.