Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tentu kita semua setuju bahwa pendidikan itu penting adanya, karena tujuan pendidikan
itu sendiri adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu melalui pendidikan
diharapkan setiap orang mengalami hal yang dapat mendewasakannya dalam kehidupan. Maka
agar pendidikan dapat memberikan hasil yang maksimal dilakukanlah berbagai perbaikan mulai
dari perbaikan penyusunan program, perbaikan proses dan perbaikan sistem evaluasi.
Untuk mengetahui apakah pendidikan di negara kita baik atau tidak kualitasnya, maka
tentu saja kita harus membandingkan pendidikan di negara kita dengan pendidikan di negara-
negara lain. Ada beberapa studi komparasi internasional yang dilakukan untuk mengetahui
perkembangan pendidikan di suatu negara, salah satu diantaranya adalah studi TIMSS(TRENDS
IN INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY).
Salah satu indikator yang menunjukkan mutu pendidikan di tanah air cenderung masih
rendah adalah hasil penilaian internasional tentang prestasi siswa. Survey Trends International
Mathematics and Science Study(TIMSS) pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada
peringkat 34 dari 45 negara. Walaupun rerata skor naik menjadi 411 dibandingkan 403 pada
tahun 1999, kenaikan tersebut secara statistik tidak signifikan, dan skor itu masih di bawah rata-
rata untuk wilayah ASEAN. Prestasi itu bahkan relatif lebih buruk pada Programme for
International Student Assessment(PISA), yang mengukur kemampuan anak usia 15 tahun dalam
literasi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan. Program yang diukur setiap tiga tahun,
pada tahun 2003 menempatkan Indonesia pada peringkat 2 terendah dari 40 negara sampel, yaitu
hanya satu peringkat lebih tinggi dari Tunisia.
Indonesia mengikuti TIMSS pada tahun 1999, 2003 dan 2007 dan 2011 sementara PISA
tahun 2000, 2003, 2006, 2009,2012 dengan hasil tidak menunjukkan banyak perubahan pada
setiap keikutsertaan. Pada PISA tahun 2009 Indonesia hanya menduduki rangking 61 dari 65
peserta dengan rata-rata skor 371, sementara rata-rata skor internasional adalah 496. Prestasi
pada TIMSS 2007 lebih memprihatinkan lagi, karena rata-rata skor siswa kelas 8 kita menurun
menjadi 405, dibanding tahun 2003 yaitu 411. Rangking Indonesia pada TIMSS tahun 2007
menjadi rangking 36 dari 49 negara.
Hasil Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS) yang diikuti siswa kelas VIII
Indonesia tahun 2011 juga masih menunjukkan bahwa pencapaian prestasi belajar siswa
Indonesia di bidang sains dan matematika juga menurun. Penilaian yang dilakukan International
Association for the Evaluation of Educational Achievement Study Center Boston College
tersebut, diikuti 600.000 siswa dari 63 negara.
Untuk bidang Matematika, Indonesia berada di urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42
negara yang siswanya dites. Skor Indonesia ini turun 11 poin dari penilaian tahun 2007. Pada
TIMSS matematika kelas VIII tersebut, peringkat pertama diraih siswa Korea (613), selanjutnya
diikuti Singapura. Nilai rata-rata yang dipatok 500 poin.
Adapun bidang sains, Indonesia berada di urutan ke-40 dengan skor 406 dari 42 negara
yang siswanya dites di kelas VIII. Skors tes sains siswa Indonesia ini turun 21 angka
dibandingkan TIMSS 2007. Hasil TIMSS dan PISA yang rendah tersebut tentunya disebabkan
oleh banyak faktor. Salah satu faktor penyebab antara lain siswa Indonesia pada umumnya
kurang terlatih dalam menyelesaikan soal-soal dengan karakteristik seperti soal-soal pada TIMSS
dan PISA.
Hal itu setidaknya dapat dicermati dari contoh-contoh instrumen penilaian hasil belajar
yang didesain oleh para guru matematika SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Indonesia dalam
Model Pengembangan Silabus yang diterbitkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)
pada tahun 2007. Silabus yang disusun pada umumnya menyajikan instrumen penilaian hasil
belajar yang substansinya kurang dikaitkan dengan konteks kehidupan yang dihadapi siswa dan
kurang memfasilitasi siswa dalam mengungkapkan proses berpikir dan berargumentasi. Keadaan
itu tidak sejalan dengan karakteristik dari soal-soal pada TIMSS dan PISA yang substansinya
kontekstual, menuntut penalaran, argumentasi dan kreativitas dalam menyelesaikannya.

2. Sekilas tentang TIMSS dan Penyelenggaraannya.
TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) adalah studi
internasional tentang kecenderungan perkembangan atau prestasi matematika dan sains. Studi ini
dikoordinasikan oleh IEA (The International Association for the Evaluation of Educational
Achievement) yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda. TIMSS merupakan studi yang
diselenggarakan setiap empat tahun sekali, yaitu pada tahun 1995, 1999, 2003, 2007, 2011, dan
seterusnya. Indonesia mulai sepenuhnya berpartisipasi sejak tahun 1999. Pada tahun 1999
sebanyak 38 negara berpartisipasi sebagai peserta sedangkan pada tahun 2003 meningkat
menjadi 46 negara dan pada tahun 2007 kembali bertambah menjadi 49 negara.
Dalam melakukan studi ini, setiap negara harus mengikuti prosedur operasi standar yang
telah ditetapkan, seperti pelaksanaan uji coba dan survei, penggunaan tes dan angket, penentuan
populasi dan sampel, pengelolaan dan analisis data, dan pengendalian mutu. Untuk setiap tahun
putaran studi , pengembangan tes dan angket dipusatkan di Boston College, Boston-USA;
penentuan sampel sekolah ditentukan oleh Statistics Canada di Ottawa-Kanada; dan pengolahan
data dilakukan di Data Processing Center, Hamburg-Jerman.

3. Tujuan diselenggarakannya TIMSS
Tujuan TIMSS adalah untuk mengukur prestasi matematika dan sains siswa di negara-
negara peserta. Bagi Indonesia, manfaat yang dapat diperoleh antara lain adalah untuk
mengetahui posisi prestasi siswa Indonesia bila dibandingkan dengan prestasi siswa di negara
lain dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu, hasil studi ini diharapkan dapat
digunakan sebagai masukan dalam perumusan kebijakan untuk peningkatan mutu pendidikan.
Salah satu kegiatan yang dilakukan TIMSS adalah menguji kemampuan matematika dan
sains siswa kelas IV SD (Sekolah Dasar) dan Kelas VIII SMP (Sekolah Menengah Pertama).

4. Populasi dan Sampel
Populasi dalam studi ini adalah seluruh siswa kelas VIII sekolah lanjutan tingkat pertama
di Indonesia. Penentuan sampel dilakukan berdasarkan 3 strata yaitu jenis sekolah
(SMP/MTs),status sekolah (Negeri/Swasta), dan performance sekolah (Baik/Sedang/Kurang).
Secara keseluruhan, sebanyak 150 SMP/MTs negeri dan swasta dengan kategori baik,sedang dan
kurang terpilih sebagai sampel. Sejumlah 5.848, 5.762, dan 5.648 siswa berpartisipasi dalam
setiap tahun putaran studi.

5

Anda mungkin juga menyukai