Anda di halaman 1dari 30

1.

PERIMBANGAN KEUANGAN
PUSAT-DAERAH
2. DAU & DAK
PENGERTIAN
suatu sistem pembagian keuangan yang adil,
proporsional, demokratis, transparan, dan
efisien dalam rangka pendanaan
penyelenggaraan Desentralisasi, dengan
memper-timbangkan potensi, kondisi, dan
kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan
penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan
Penyelenggaraan pembangunan
Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah
kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah.
Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada
Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban
melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya
kepada yang menugaskan.

Note:
Desentralisasi, Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan alokasi
barang dan jasa publik
DANA BAGI HASIL
(PERIMBANGAN)
PERIMBANGAN KEUANGAN:
Dana Perimbangan:
Dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan
Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi
TRANSFER
PEMERINTAH
Fungsi
Alokasi
Fungsi
Distribusi
Fungsi
Stabilisasi
Pemerintah
Pusat
Pemerintah
Pusat dan Daerah
DANA PERIMBANGAN
Dana Bagi Hasil;
Dana Alokasi Umum; dan
Dana Alokasi Khusus.
Hubungan Keuangan Pusat-Daerah
APBN APBD
A. Pen Dlm Neg & Hibah
- Pen Pajak
- Pen Bukan Pajak/SDA
B. Belanja Negara
- Belanja Pusat
- Belanja Daerah
(Bagi Hasil, DAU, DAK)
C. Keseimb Primer
D. Surplus/Defisit
E. Pembiayaan
- Dlm Negeri
- Luar Negeri
A. Penerimaan Daerah
- PAD
- Bagi Hasil Pajak & SDA
- DAU
- DAK
B. Belanja Daerah
- Rutin
- Pembangunan
C. Surplus/Defisit
D. Pembiayaan

DANA BAGI HASIL
DANA BAGI HASIL
dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan
angka persentase untuk mendanai kebutuhan
Daerah dalam rangka pelaksanaan
Desentralisasi.

Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan
sumber daya alam.
KONSEP DANA BAGI HASIL
pajak :
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB); dan
Pajak Penghasilan (PPh)
sumber daya alam :
kehutanan;
pertambangan umum;
perikanan;
pertambangan minyak bumi;
pertambangan gas bumi; dan
pertambangan panas bumi.

Note: Proporsi pembagian lihat UU No.33 Tahun 2004
DANA ALOKASI UMUM
(DAU)
DANA ALOKASI UMUM (DAU):
Dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan
keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah
dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.
KONSEP DAU
Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% dari
APBN.
DAU dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar.
Celah fiskal = kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah.
Kebutuhan fiskal Daerah = kebutuhan pendanaan Daerah untuk
melaksanakan fungsi layanan dasar umum jumlah penduduk, luas
wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, Produk Domestik Regional
Bruto per kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia.
Kapasitas fiskal Daerah = sumber pendanaan Daerah yang berasal dari
PAD dan Dana Bagi Hasil.
Alokasi dasar = jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah

Note: ketentuan teknis DAU lihat UU No.33 Tahun 2004
Variabel DAU
Parameter Tolak Ukur Perhitungan DAU
Penetapan DAU dan Dana
Penyesuaian untuk Daerah
Pemekaran
Sistematika Penyusunan DAU
PENERIMAAN DAU
Daerah yang memiliki nilai celah fiskal = 0 (kapasitas
fiskal sama dengan kebutuhan fiskal) menerima DAU
sebesar Alokasi Dasar
Daerah yang mempunyai nilai celah fiskal negatif dan
nilai nilai tersebut lebih kecil dari Alokasi Dasar, maka
Daerah tersebut menerima DAU sebesar Alokasi Dasar
setelah diperhitungkan dengan nilai celah fiskal
Daerah yang mempunyai nilai celah fiskal negatif dan
nilainya sama atau lebih besar dari Alokasi Dasar, maka
Daerah tersebut tidak menerima DAU

CONTOH PERHITUNGAN DAU
Kebutuhan Fiskal sama dengan Kapasitas Fiskal
Kebutuhan Fiskal = Rp 100 miliar
Kapasitas Fiskal = Rp 100 miliar
Alokasi Dasar = Rp 50 miliar
Celah Fiskal = Kebutuhan Fiskal Kapasitas Fiskal
= Rp 100 miliar Rp100 miliar = 0
DAU = Alokasi Dasar
Total DAU = Rp 50 miliar

CONTOH PERHITUNGAN DAU
Dalam hal celah fiskal negatif maka jumlah DAU yang diterima
Daerah adalah sebesar Alokasi Dasar setelah diperhitungkan
dengan celah fiskalnya.
Kebutuhan Fiskal = Rp 100 miliar
Kapasitas Fiskal = Rp 125 miliar
Alokasi Dasar = Rp 50 miliar
Celah Fiskal = Kebutuhan Fiskal Kapasitas Fiskal
= Rp 100 miliar Rp 125 miliar
= Rp-25 miliar (-)
DAU = Alokasi Dasar + Celah Fiskal
Total DAU = Rp50 miliar + Rp-25 miliar
= Rp25 miliar
CONTOH PERHITUNGAN DAU
Contoh perhitungan : Celah Fiskal (negatif) melebihi Alokasi Dasar
Kebutuhan Fiskal = Rp 100 miliar
Kapasitas Fiskal = Rp 175 miliar
Alokasi Dasar = Rp 50 miliar
Celah Fiskal = Kebutuhan Fiskal
Kapasitas Fiskal = Rp 100 miliar Rp 175
miliar
= Rp-75 miliar (-)
DAU = Celah Fiskal + Alokasi Dasar
Total DAU = Rp-75 miliar + Rp 50 miliar
= Rp-25 miliar
atau disesuaikan menjadi
Rp 0 (nol)

Perkembangan DAU 1994/1995 - 2005
DANA ALOKASI KHUSUS
(DAK)
Dana Alokasi Khusus (DAK)
Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang dialokasikan dari
APBN ke Daerah tertentu untuk mendanai kebutuhan khusus yang
merupakan urusan daerah dan juga prioritas nasional antara lain:
kebutuhan kawasan transmigrasi, kebutuhan beberapa jenis
investasi atau prasarana, pembangunan jalan di kawasan terpencil,
saluran irigasi primer, dll.
Dasar penetapan (i) kriteria umum dengan pertimbangan
kemampuan keuangan daerah dalam APBD, (ii) kriteria khusus
dengan pertimbangan peraturan perundang-undangan dan
karakteristik daerah, serta (iii) kriteria teknis yang ditetapkan
kementrian negara/departemen teknis.
Dibawah UU baru, wilayah yang menerima DAK harus menyediakan
dana penyesuaian setidaknya 10% dari DAK yang ditransfer ke
wilayah, dan dana penyesuaian ini harus dianggarkan dalam
anggaran daerah (APBD). Walaupun demikian, wilayah dengan
pengeluaran personil lebih besar dari penerimaan tidak perlu
menyediakan dana penyesuaian.
KONSEP DAK
kriteria DAK yang meliputi kriteria umum, kriteria
khusus, dan kriteria teknis.
Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan
Keuangan Daerah dalam APBD.
Kriteria khusus ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-
undangan dan karakteristik Daerah.
Kriteria teknis ditetapkan oleh kementerian Negara/departemen teknis.
Note: tidak semua daerah menerima DAK
DAK bertujuan untuk pemerataan
KRITERIA ALOKASI DAK
Kriteria Umum
Kriteria Khusus
Kriteria Teknis
Kemampuan Fiskal
Daerah
Peraturan yang
Berlaku dan
Karakteristik
Kewilayahan
Ditetapkan oleh
Menteri Teknis
Terkait
Indeks Fiskal Netto
Perlakuan Khusus
dan Indeks
Kewilayahan
Indeks Teknis Per
Bidang
Kriteria Umum
Pengalokasian DAK diprioritaskan untuk Daerah-Daerah yang
memiliki kemampuan fiskal rendah atau di bawah rata-rata.
Kemampuan Fiskal Daerah sebagaimana dimaksud didasarkan pada
selisih antara realisasi Penerimaan Daerah (Pendapatan Asli Daerah,
Dana Perimbangan, Pinjaman Daerah, dan lain-lain penerimaan yang
sah) tidak termasuk Sisa Anggaran Lebih (SAL) dengan Belanja
Pegawai Negeri Sipil Daerah (fiskal netto) pada Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah.
Perhitungan Indeks Fiskal Netto suatu Daerah didasarkan pada
pembagian antara kemampuan fiskal suatu Daerah dengan
kemampuan fiskal seluruh Daerah, kemudian dikalikan dengan
jumlah seluruh Daerah.
Daerah yang memiliki Kemampuan Fiskal dibawah rata-rata adalah
Daerah yang memiliki Indeks Fiskal Netto dibawah 1 (satu).

Kriteria Khusus
Pengalokasian DAK memperhatikan Daerah Daerah
tertentu yang memiliki dan/atau berada di wilayah:

Provinsi Papua dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
yang merupakan Daerah otonomi khusus;
Provinsi Maluku dan Maluku Utara sebagai Daerah Pasca Konflik;
Kawasan Timur Indonesia, Pesisir dan Kepulauan, Perbatasan
Darat, Tertinggal/Terpencil, Penampung Program Transmigrasi,
Rawan Banjir dan Longsor.

KESIMPULAN
Dana bagi hasil, DAU, DAK merupakan sumber2
penerimaan daerah untuk pembiayaan pembangunan
(transfer)
Dana Bagi Hasil, DAU, DAK sumber penerimaan
konvensional (masih melalui skema anggaran)