Anda di halaman 1dari 7

Seminar Nasional Kota Hijau Pesisir Tropis

Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia / September 2013 | 1


Evaluasi Kebijakan Green Infrastructure Sanitasi
Lingkungan Dan Implementasinya Di Kawasan Pesisir
Sedati Jawa Timur

Suning
(1)
, Raja Jusmartinah
(2)
, Anak Agung Sagung Alit Widyastuty
(3)

(1)
Mahasiswa Program Doktor Teknik Lingkungan Institut Teknologi Surabaya
(2,3)
Dosen Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Univ. Adi Buana Surabaya
Jl. Dukuh Menanggal XII/4 Surabaya, (031) 8281181
Email: sun_brilly@yahoo.com


Abstrak

Green inftastructure atau disebut juga dengan infrastuktur berkelanjutan memiliki pengertian
bahwa green inftastructure sesungguhnya adalah sebuah hybrid infrastructure yang mengarah
kepada efisiensi sumber daya, mampu beradaptasi dan berkelanjutan, sehingga secara konsep
maupun secara praktis dapat bermanfaat untuk bidang ekonomi, sosial maupun ekologi.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan suatu sumbangsih pemikiran terkait dengan konsep
green infrastructure untuk sanitasi lingkungan yang ada di kawasan pesisir Sedati, Kabupaten
Sidoarjo, Jawa Timur. Kawasan pesisir tersebut memiliki sejumlah permasalahan terkait dengan
layanan sanitasi lingkungan yang tidak memadai atau tidak terjangkau. Konsep ini diharapkan
mampu menjadi sebuah referensi bagi pemerintah daerah untuk menentukan kebijakan kota
khususnya area pesisir agar pembangunan sanitasi terintegrasi dengan aspek-aspek lingkungan
lainnya yang mendorong keberlanjutan dari infrastruktur yang ada. Analisa yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis isi atau content analysis yang bertujuan untuk menganalisa
kebijakan sanitasi yang sudah ada di Kabupaten Sidoarjo, sehingga diketahui kelemahan dan
kekurangan dari peraturan-peraturan yang dianalisis, apakah antara peraturan atau kebijakan
yang terkait terdapat kesenjangan (gap) dengan kondisi eksisting yang terjadi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pembangunan sanitasi lingkungan di kawasan pesisir Sedati sampai saat ini
belum berkelanjutan, sehingga diperlukan sebuah konsep baru yaitu Green inftastructure dalam
rangka untuk pengembangan kawasan pesisir Sedati yang lebih baik.


Kata-kunci : Content Analysis, Green inftastructure, Kawasan Pesisir, Sanitasi Lingkungan


Pendahuluan
Terdapat dua konsep penting Green
infrastructure, yaitu (1) taman yang
menghubungkan ruang hijau dengan lainnya
untuk kepentingan masyarakat; (2) menjaga
dan menghubungkan daerah alam untuk
menjaga keanekaragaman hayati dan
ekosistem. Konsep penting tersebut
merupakan sebuah hubungan antara
kehidupan alam sebagai pendukung sistem
baik mengenai jaringan saluran air, lahan
basah, hutan, habitat satwa liar maupun
daerah alam lainnya seperti pertanian,
perkebunan dan ruang terbuka hijau (Benedict
dan McMahon, 2002). Sedangkan Wickhama
et al (2010),menjelaskan green infrastructure
merupakan salah satu strategi dalam penataan
kota yang mengutamakan perencanaan
konservasi dan kelestarian lahan. Konsep
Green infrastructure hampir serupa juga
didefinisikan oleh Ahern (2007) bahwa dalam
Evaluasi Kebijakan Green Infrastructure Sanitasi Lingkungan Dan Implementasinya Di Kawasan Pesisir Sedati
Jawa Timur
2 | Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013

skala spasial green infrastructure dapat
diaplikasikan dalam berbagai tujuan untuk
pengelolaan lahan yang berkelanjutan.
Kemudian Mell (2008) dalam
penelitiannya juga menjelaskan bahwa green
infrastructure yang telah diaplikasikan baik
secara konsep maupun secara praktis dapat
bermanfaat untuk bidang ekonomi, sosial
maupun ekologi. Sedangkan pengertian
sanitasi lingkungan yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah sanitasi lingkungan
menurut pendapat Mangkoedihardjo (2007)
menyatakan bahwa sanitasi lingkungan adalah
suatu intervensi memotong siklus rantai
penyakit pada manusia. Secara tradisi, cara
intervensi memotong siklus rantai penyakit itu
dilaksanakan melalui pembuangan dan
pengolahan limbah manusia, sampah dan air
limbah, pengendalian vektor penyakit, dan
penyediaan fasilitas kebersihan diri dan
domestik.
Definisi green infrastructure dan sanitasi
lingkungan di atas dalam tataran praktis harus
dapat terintegrasi secara simultan dengan
aspek-aspek lain seperti lansekap multi fungsi
maupun kerjasama antar organisasi dalam
mendukung pertumbuhan dan kualitas green
infrastructure. Dengan demikian dibutuhkan
pemahaman akan makna green infrastructure
dalam sebuah kegiatan yang praktis dan
implementatif meskipun memerlukan waktu
yang tidak sedikit, artinya diperlukan sebuah
paradigma baru bagi masyarakat untuk mau
melaksanakannya. Namun demikian bukan
berarti ide green infrastructure ini tidak
memiliki makna, akan tetapi ide yang sudah
lama muncul ini harus segera ditangkap
dengan cepat untuk dapat segera mungkin
diimplementasikan.
Kawasan pesisir Sedati memiliki sejumlah
permasalahan terkait dengan sanitasi
lingkungan baik persoalan permukiman,
persampahan, air limbah maupun ketersediaan
air minum. Padahal kawasan tersebut terdapat
banyak potensi sumber daya alam yang dapat
dikembangkan diantaranya budidaya tambak
ikan, pengembangan area pemancingan dan
kuliner hasil laut di Desa Kalaranganyar,
budidaya tambak ikan di Desa Tambak
Cemandi, pengembangan tempat pelelangan
ikan (TPI) di Desa Gisik Cemandi,
pengembangan agropolitan hasil pertanian
dan peternakan di Desa Banjarkemuning dan
pengembangan hasil kerang di Desa
Segorotambak.
Kebijakan pemerintah terkait dengan
sanitasi tertuang dalam misi Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJMPN) tahun 20052025 Pemerintah
Indonesia. Berbagai langkah dan implementasi
terhadap implementasi Program Nasional
tersebut telah pula ditetapkan pada Rencana
Pembangunan Nasional Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014 yang
difokuskan pada suatu Road Map atau Peta
Jalan Program Percepatan Pembangunan
Sanitasi Permukiman 2010 -2014.
Sebagai bagian dari pembangunan
sanitasi Nasional, Pemerintah Kabupaten
Sidoarjo pada Tahun 2010, melalui Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA) telah mengikuti rangkaian kegiatan
serta mengambil langkah-langkah strategis
dalam Program Nasional Percepatan
Pembangaun Sanitasi Permukiman. Upaya
tersebut diwujudkan dalam penyusunan Buku
Putih Pembangunan Sanitasi dan penyusunan
Strategi Sanitasi Kabupaten/Kota (SSK).
Strategi Sanitasi Kabupaten atau SSK tersebut
merupakan dokumen perencanaan yang
dijadikan sebagai pedoman semua pihak
dalam mengelola sanitasi secara komprehensif,
berkelanjutan dan partisipatif untuk
memperbaiki perencanaan dan pembangunan
sanitasi dalam rangka mencapai target-target
pencapaian layanan sektor sanitasi di
Kabupatenn Sidoarjo.
Merujuk pada kebijakan sanitasi yang
sudah ada dan permasalahan sanitasi yang
terjadi, maka penelitian ini bertujuan untuk
memberikan suatu sumbangsih pemikiran
terkait dengan konsep green infrastructure
untuk sanitasi lingkungan yang ada di
kawasan pesisir Sedati, Kabupaten Sidoarjo,
Jawa Timur. Sehingga konsep ini diharapkan
mampu menjadi sebuah referensi bagi
pemerintah daerah untuk menentukan
kebijakan kota khususnya area pesisir agar
pembangunan sanitasi terintegrasi dengan
aspek-aspek lingkungan lainnya yang
mendorong keberlanjutan dari infrastruktur
yang ada. Oleh karena itu penelitian ini
penting untuk dilakukan.
Metode
Berdasarkan tujuan masalah, penelitian
ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif-
Suning
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013 | 3

kuantitatif berupa analisis isi (content analysis),
dan analisis deskriptif kajian literatur. Analisis
isi digunakan untuk menganalisa kebijakan
sanitasi mulai periode tahun 2004-2009 dan
periode tahun 2010-2015 yang terdapat di
dalam dokumen RTRW, RPIJM, RPJMD, Buku
Putih Sanitasi, Strategi Sanitasi Kabupaten
(SSK), Memorandum Program Sektor Sanitasi
(MPSS) maupun laporan perkembangan dari
MDGs. Sedangkan analisis deskriptif kajian
literature digunakan untuk memberikan
konsep secara teoritik mengenai green
infrastruktur untuk pengembangan kawasan
pesisir.
Metode Pengumpulan Data
Sesuai dengan tujuan dan lingkup studi
yang akan dilakukan, maka data yang akan
digunakan adalah data primer dan data
sekunder. Selain itu penelitian ini juga
dilakukan dengan cara observasi di lapangan.
Analisis dan Interpretasi
A. Kondisi Geografis
Kecamatan Sedati berada di sebelah
ujung timur-utara Kabupaten Sidoarjo dan
berjarak 14 Km dari pusat Kota Sidoarjo. Dan
berdasarkan posisi astronomi, Kecamatan
Sedati terletak pada 7 23' 47.76" (7.3966)
Lintang Selatan, 112 47' 24" (112.79) Bujur
Timur. Kecamatan Sedati terdiri dari 16
desa/kelurahan, 106 Rukun Warga (RW) dan
336 Rukun Tetangga (RT). Wilayah Kecamatan
Sedati ini memiliki luas 73,95 Ha dengan batas
administrasi sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Waru
Sebelah Timur : Selat Madura
Sebelah Barat : Kecamatan Gedangan
Sebelah Selatan : Kecamatan Buduran

B. Analisis Kondisi Eksisting Sosial Ekonomi
Desa Pesisir Kecamatan Sedati
Dengan total jumlah penduduk sebesar
13.643 jiwa, mayoritas penduduk bermata
pencaharian sebagai buruh swasta dan buruh
tani (petani tambak dan petani nelayan).
Tingkat kesejahteraan penduduk di lima desa
tersebut menunjukkan kategori keluarga pra
sejahtera dengan jumlah rumah tangga lebih
dari 50 KK pada masing-masing desa. Hasil
penelitian Suning et al (2012) menunjukkan
bahwa 55% penduduk mayoritas
berpenghasilan kurang dari Rp. 500.000
terdapat di Desa Tambak Cemandi, 55,8%
penduduk berpenghasilan antara Rp. 500.000
sampai dengan Rp. 1.000.000 mayoritas
terdapat di Desa Kalanganyar dan 72,9%
penduduk berpenghasilan antara Rp.
1.000.000 ke atas paling banyak terdapat di
Desa Segorotambak
C. Analisis Kondisi Eksisting Sanitasi
Lingkungan Desa Pesisir Sedati Sidoarjo

Suning dan Soedjono (2012) dalam studi
pendahuluannya tentang pemetaan sanitasi
lingkungan di desa pesisir Sedati menunjukkan
bahwa prosentase tipe rumah permanen
paling dominan beradsa di Desa
Segorotambak sebesar 72,6%, Desa Gisik
Cemandi 69%. Kemudian untuk tipe rumah
semi permanen paling banyak berada di Desa
Kalanganyar sebesar 45% dan Desa Banjar
Kemuning sebesar 42,1%. Sedangkan tipe
rumah non permanen paling banyak di Desa
Tambak Cemandi sebesar 21,4%. Selain tipe
rumah, fasilitas MCK juga belum dimiliki oleh
setiap rumah tangga. Mayoritas penduduk
masih buang air besar di sungai/tambak, laut
atau cemplung sebesar 85% di Desa Tambak
Cemandi, 75,7% Desa Kalanganyar, 55% Desa
Gisik Cemandi, 43,1% Desa Banjar Kemuning
dan Desa Segoro Tambak sebesar 27,3%.
Masing-masing Desa saat ini sudah terdapat
MCK komunal, namun masyarakat hampir
tidak pernah menggunakannya karena
masyarakat harus bayar sejumlah Rp. 1000
kalau akan menggunakan fasilitas MCK umum,
selain itu masyarakat sudah terbiasa buang air
besar di sungai/tambak/laut/cemplung bahkan
kebiasaan tersebut sudah menjadi budaya
yang turun menurun.
Akses air bersih hampir di setiap desa
menggunakan air PDAM secara eceran/retail
atau beli. Desa yang paling tinggi tingkat
konsumsi air bersih dengan sistem retail air
PDAM adalah Desa Gisik Cemandi sebesar
93,7%, Segorotambak 28,2%, Tambak
Cemandi 20,8%, Kalanganyar 14,6% dan Desa
Banjar Kemuning 14,3%. Selain masalah
Evaluasi Kebijakan Green Infrastructure Sanitasi Lingkungan Dan Implementasinya Di Kawasan Pesisir Sedati
Jawa Timur
4 | Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013

sanitasi dasar/MCK dan air minum, saluran
drainase dan persampahan merupakan
infrastruktur yang penting untuk diperhatikan
di lingkungan permukiman. Desa-desa pesisir
tersebut secara umum kondisi saluran
drainase nya 50% ke atas bersifat terbuka,
dan pola pembuangan sampah yang ada rata-
rata langsung dibuang ke sungai, tambak dan
ada yang dibakar. Desa yang paling banyak
membuang sampah ke sungai adalah Desa
Kalanganyar sebesar 87,5% sedangkan
masyarakat yang membuang sampah dengan
cara dibakar Desa Segorotambak sebesar 40%.

D. Analisis Isi (Content Analysis)
Merujuk pada hasil analisis kondisi
eksisting tersebut di atas, maka analisis isi
digunakan untuk menggali dan menganalisis
secara tajam terkait dengan kebijakan sanitasi
yang ada di Kabupaten Sidoarjo sehingga
dapat diketahui dan dievaluasi apakah antara
kebijakan dengan kondisi eksisting sudah
sesuai atau apakah kebijakan yang dibuat
sudah terimplementasikan. Terdapat 6 (enam)
peraturan yang dijadikan sebagai acuan
analisis isi untuk kebijakan sanitasi yaitu
dokumen RTRW, RPIJM, RPJMD, Buku putih,
SSK dan MPSS.
Dengan mengikuti langkah-langkah dalam
proses analisis isi, maka dokumen-dokumen
tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif
kualitatif kemudian dilakukan analisis secara
kuantitatif dengan cara memberikan skoring
setiap kebijakan yang ada dimasing-masing
dokumen. Untuk mendapatkan hasil secara
kuantitatif digunakan program statistik SPSS
16 CROSSTABULASI. Indikator keberlanjutan
dari sanitasi lingkungan menurut Kvarnstrom
et al., (2004) dipengaruhi adalah; adanya
keterjangkauan biaya, keterjangkauan
aksesibilitas, bangunan fisik jamban dapat
dengan mudah digunakan, ada kelembagaan
yang mengurusi dan dapat dirawat secara
berkala, dapat menghasilkan nilai tambah
secara ekonomi, dan tidak menimbulkan
degradasi lingkungan. Berdasarkan indikator
tersebut kemudian dijadikan parameter untuk
menganalisa isi kebijakan yag ada dimasing-
masing dokumen yang dibandingkan dengan
kondisi sanitasi yang ada di lapangan.
Hasil analisis isi menunjukkan bahwa
terdapat ketidakseimbangan antara kebijakan
yang sudah direncanakan dengan kondisi yang
terjadi di lapangan. Dari dokumen/peraturan
RTRW dan RPIJM memberikan persentase nilai
yang paling tinggi, ini artinya bahwa secara
eksisting terdapat sekitar 71,4% sanitasi yang
ada belum berkelanjutan atau belum
memenuhi dokumen RTRW dan RPIJM yang
telah direncanakan. Ketidakseimbangan
tersebut paling dominan dipengaruhi oleh:
1. Adanya ketidakterjangkauan biaya untuk
mengakses sanitasi
2. Aspek kelembagaan yang belum beroperasi
dengan baik
3. Adanya dampak terhadap lingkungan yang
belum dimengerti oleh masyarakat
Selain itu terdapat beberapa hal yang
menyebabkan sanitasi yang ada di kawasan
pesisir Sedati belum dikatakan berkelanjutan
yaitu :
1. Koordinasi antar SKPD yang terlibat
sanitasi belum maksimal
2. Koordinasi intensif antara tim teknis
dengan tim pengarah belum maksimal
3. Pemahaman Legislatif tentang sanitasi
kurang
4. Kurangnya sosialisasi pemahaman tentang
sanitasi
5. Kelembagaan sanitasi di tingkat
masyarakat desa/kelurahan belum ada
6. Belum adanya standar bangunan yang
sesuai dengan SNI
7. Belum adanya standarisasi teknis
konstruksi
8. Anggaran sektor sanitasi belum menjadi
prioritas oleh para pengambil kebijakan
9. Rubrik khusus terkait sanitasi belum
tersedia di media cetak lokal
10. Perilaku PHBS dari masyarakat yang masih
rendah.

E. Analisis Konsep Green Infrastructure
Sebagai Solusi Pengembangan Kawasan
Pesisir
Berdasarkan hasil analisis kondisi eksisting
dan hasil analisis isi (content analysis) tersebut
di atas, maka diperlukan suatu konsep dan
paradigma baru bagi seluruh pemangku
Suning
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013 | 5

kepentingan. Konsep tersebut penting untuk
dipahami dan disosialisasikan dengan baik
bagi khalayak umum dengan harapan konsep
dapat diimplementasikan dengan baik. Dalam
penelitian ini yang dimaksud dengan green
infrastructure adalah suatu hybrid
infrastructure yang mengarah kepada efisiensi
sumber daya, mampu beradaptasi dan
berkelanjutan, sehingga secara konsep
maupun secara praktis dapat bermanfaat
untuk bidang ekonomi, sosial maupun ekologi.
Konsep dasar dari green infrastructure adalah
sebuah adopsi sistem infrastruktur perkotaan
skala kecil yang mampu mendistribusikan lebih
luas, lokasi dekat titik-titik pelayanan,
terintegrasi dengan elemen-elemen lokal
seperti bangunan sekitarnya dan terintegrasi
dengan sistem infrastruktur lainnya. Terdapat
sepuluh (10) konsep teori dasar terbangunnya
aplikasi green infrastructure menurut Soma, S
(2010) yaitu:
1. Dari sentralistik menjadi terdistribusi (lihat
gambar 1)




2. Dari sistem sentralistik menjadi sistem
cluster/ter-desentralisasi (lihat gambar 2)






3. Dari disconnected menjadi connected (lihat
gambar 3)




4. Dari Non-Integrated System menjadi ter-
integrasi (lihat gambar 4)



5. Berorientasi pada pelayanan
(lihat gambar 5)


6. Dari tidak responsif menjadi responsif
(lihat gambar 6)




Terdistribusi Tersentralisasi
Gambar 1
Sistem sentralistik Sistem Cluster
Gambar 2
Gambar 3
Connected
Disconnected
Terintegrasi
Non Integrated
Gambar 4
Gambar 5
Responsif Tidak responsif
Gambar 6
Evaluasi Kebijakan Green Infrastructure Sanitasi Lingkungan Dan Implementasinya Di Kawasan Pesisir Sedati
Jawa Timur
6 | Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013


7. Dari non renewable resources menjadi
renewable resources (lihat gambar 7)






8. Tepat guna (pemilihan teknologi sesuai)
9. Multipurpose (desain infrastruktur yg baru
dapat didesain untuk berbagai kegunaan)
10. Dapat beradaptasi/adaptable (kapasitas
sistem yg mampu mengakomodasi
perubahan yang subtansial)
Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil analisis yang telah
dipaparkan di atas, maka penelitian ini dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Terdapat ketidakseimbangan antara
kebijakan sanitasi yang telah
direncanakan/dibuat oleh pemangku
kebijakan, dengan kondisi ekonomi
dan sanitasi lingkungan yang ada di
lapangan.
2. Hasil analisis isi/content analysis
menunjukkan bahwa Dari
dokumen/peraturan RTRW dan
RPIJM terdapat 71,4% secara
eksisting sanitasi yang ada belum
berkelanjutan atau belum memenuhi
dokumen RTRW dan RPIJM yang
telah direncanakan.
3. Ketidakseimbangan antara kebijakan
dengan kondisi eksisting dipengaruhi
oleh:
a. Adanya ketidakterjangkauan biaya
untuk mengakses sanitasi
b. Aspek kelembagaan yang belum
beroperasi dengan baik
c. Adanya dampak terhadap
lingkungan yang belum
dimengerti oleh masyarakat
Beberapa hal yang menyebabkan sanitasi
yang ada di kawasan pesisir Sedati belum
dikatakan berkelanjutan yaitu :
1. Koordinasi antar SKPD yang terlibat
sanitasi belum maksimal
2. Koordinasi intensif antara tim teknis
dengan tim pengarah belum maksimal
3. Pemahaman Legislatif tentang sanitasi
kurang
4. Kurangnya sosialisasi pemahaman
tentang sanitasi
5. Kelembagaan sanitasi dtingkat
masyarakat desa/kelurahan belum ada
6. Belum adanya standar bangunan yang
sesuai dengan SNI
7. Belum adanya standarisasi teknis
konstruksi
8. Anggaran sektor sanitasi belum
menjadi prioritas oleh para pengambil
kebijakan
9. Rubrik khusus terkait sanitasi belum
tersedia di media cetak lokal
10. Perilaku PHBS dari masyarakat yang
masih rendah.

4. Agar sanitasi lingkungan dapat
berkelanjutan khususnya di kawasan
pesisir, maka 10 konsep teori dasar dari
green infrastructure secara pelan-pelan
harus dapat dipahami oleh seluruh
pemangku kebijakan dan seluruh
masyarakat untuk berkomitmen
melaksanakannya.

Ucapan Terima Kasih
Terimakasih kepada pihak Universitas PGRI
Adi Buana Surabaya yang telah memberi
kesempatan bagi peneliti untuk mensosialisasi
kan ide peneliti ini melalui seminar nasional
ASPI di Manado.
Daftar Pustaka
Ahern, J (2007) Green Infrastructure for cities:
The Spatial Dimension. Proceedings of the
3rd Fbos Landscape Planning and
Greenways Symposium, University of
Gambar 7
non renewable
resources
renewable resources
Suning
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013 | 7

Massachusetts. University of
Massachusetts, Amherst.
Benedict, MA & McMahon, ED (2002). Green
Infrastructure: Smart Conservation for the
21st Century. Renewable Resources
Journal. Autum Edition.Pg 12-17
Mangkoedihardjo, S (2007). Phytotechnology
Integrity in Environmental Sanitation for
Sustainable Development. Journal of
Applied Sciences Research, 3 (10): 1037-
1044
Kvarnstrom, E, Werner, C, Bracken, P (2004).
Making sustainable choices the
development and use of sustainability
oriented criteria in sanitary decision
making
Mell, IC (2008) Green Infrastructure: concepts
and planning. FORUM Ejournal 8 Newcastle
University
Profil Kabupaten Sidoarjo (2010). Badan Pusat
Statistik Kabupaten Sidoarjo
Kecamatan Sedati Dalam Angka (2009). Badan
Pusat Statistik Kabupaten Sidoarjo
RTRW Kabupaten Sidoarjo Tahun 2009-2029
RUTRK Kecamatan Sedati Tahun 2000
Suning and Eddy Soedjono (2012). Mapping
The Environmental Sanitation Conditions
Of Coastal Communities At Sedati Sub-
District, East Java, Based On Geographic
Information System. International Journal
Of Academic Research Vol. 4. No. 2.
Suning, et al., (2012). Socio-Economic and
Sanitation Issues at Coastal Sedati, East
Java Based on Geographic Information
System. Journal of Applied Environmental
and Biological Sciences, J. Appl. Environ.
Biol. Sci., 2(6)244-248, ISSN 2090-4274.
Soma, S (2010). Infrastruktur Berkelanjutan
(Green Infrastructure). Keynote Speech
Seminar Nasional Teknologi Lingkungan
VII
Wickhama, J. D, Riittersb, K. H, Wadea, T. G,
Vogtc, S (2010) A national Assessment of
Green Infrastructure and Change for the
Conterminous United States using
Morphological Image Processing. Journal
Landscape and Urban Planning 94 186
195