Anda di halaman 1dari 9

TUGAS UJIAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA

RSUD R. SYAMSUDIN, SH KOTA SUKABUMI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
JAKARTA
PERIODE 2 JUNI 5 JULI 2014
PENGUJI !". T#$$% H&"$'()%'*, S+.KJ
PESERTA I()'( R,-,..'* / 2000120121 3
INSOMNIA
D&4,(,), I()#$(,'
Menurut DSM-IV, Insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk
memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya
satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu. The
International Classification of Diseases mendefinisikan Insomnia sebagai kesulitan memulai
atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malamminggu selama minimal satu
bulan. Menurut The International Classification of Sleep Disorders, insomnia adalah
kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman setelah episode
tidur tersebut. !adi, Insomnia adalah gejala

kelainan dalam tidur berupa kesulitan berulang
untuk tidur atau mempertahankan tidur "alaupun ada kesempatan untuk melakukannya.
Insomnia bukan suatu penyakit, tetapi merupakan suatu gejala yang memiliki berbagai
penyebab, seperti kelainan emosional, kelainan fisik dan pemakaian obat-obatan. Insomnia
dapat mempengaruhi tidak hanya tingkat energi dan suasana hati tetapi juga kesehatan,
kinerja dan kualitas hidup.
K.'),4,5'), I()#$(,'
a. Insomnia #rimer
Insomnia primer ini mempunyai faktor penyebab yang jelas. insomnia atau susah
tidur ini dapat mempengaruhi sekitar 3 dari $% orang yang menderita insomnia. #ola
tidur, kebiasaan sebelum tidur dan lingkungan tempat tidur seringkali menjadi
penyebab dari jenis insomnia primer ini.
b. Insomnia Sekunder
Insomnia sekunder biasanya terjadi akibat efek dari hal lain, misalnya kondisi
medis. Masalah psikologi seperti perasaan bersedih, depresi dan dementia dapat
menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini pada & dari $% orang. Selain itu
masalah fisik seperti penyakit arthritis, diabetes dan rasa nyeri juga dapat
menyebabkan terjadinya insomnia sekunder ini dan biasanya mempengaruhi $ dari $%
orang yang menderita insomnia atau susah tidur. Insomnia sekunder juga dapat
disebabkan oleh efek samping dari obat-obatan yang diminum untuk suatu penyakit
tertentu, penggunaan obat-obatan yang terlarang ataupun penyalahgunaan alkohol.
'aktor ini dapat mempengaruhi $-( dari $% orang yang menderita insomnia.
)erdasarkan International *lassifi+ation of Sleep Disordes yang direvisi,
insomnia diklasifikasikan menjadi ,
a. Acute insomnia
b. Psychophysiologic insomnia
c. Paradoxical insomnia (sleep-state misperception)
d. Idiopathic insomnia
e. Insomnia due to mental disorder
f. Inadeuate sleep hygiene
g. !eha"ioral insomnia of childhood
h. Insomnia due to drug or su#stance
i. Insomnia due to medical condition
j. Insomnia not due to su#stance or $no%n physiologic condition,
unspecified (nonorganic)
k. Physiologic insomnia, unspecified (organic)
&
T'(!' !'( G&6'.' I()#$(,'

-esulitan untuk memulai tidur pada malam hari

Sering terbangun pada malam hari

)angun tidur terlalu a"al

-elelahan atau mengantuk pada siang hari

Iritabilitas, depresi atau ke+emasan

-onsentrasi dan perhatian berkurang

#eningkatan kesalahan dan ke+elakaan

-etegangan dan sakit kepala

.ejala gastrointestinal
$,3,/
E7,#.#8, I()#$(,'
a. Stres
-ekha"atiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau keluarga dapat
membuat pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga sulit untuk tidur. #eristi"a
kehidupan yang penuh stres, seperti kematian atau penyakit dari orang yang di+intai,
per+eraian atau kehilangan pekerjaan, dapat menyebabkan insomnia.
b. -e+emasan dan depresi
0al ini mungkin disebabkan ketidakseimbangan kimia dalam otak atau karena
kekha"atiran yang menyertai depresi.
+. 1bat-obatan
)eberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur, termasuk beberapa
antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat alergi, stimulan 2seperti 3italin4
dan kortikosteroid.
d. -afein, nikotin dan alkohol. -opi, teh, +ola dan minuman yang mengandung kafein
adalah stimulan yang terkenal. 5ikotin merupakan stimulan yang dapat menyebabkan
insomnia. 6lkohol adalah obat penenang yang dapat membantu seseorang jatuh
tertidur, tetapi men+egah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan terbangun
di tengah malam.
e. -ondisi Medis
!ika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan bernapas dan sering buang
air ke+il, kemungkinan mereka untuk mengalami insomnia lebih besar dibandingkan
mereka yang tanpa gejala tersebut. -ondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat
artritis, kanker, gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflu7 disease
2.83D4, stroke, penyakit #arkinson dan penyakit 6l9heimer.
f. #erubahan lingkungan atau jad"al kerja
-elelahan akibat perjalanan jauh atau pergeseran "aktu kerja dapat menyebabkan
terganggunya irama sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur. 3itme sirkadian
bertindak sebagai jam internal, mengatur siklus tidur-bangun, metabolisme, dan suhu
tubuh.
g. :)elajar: insomnia
0al ini dapat terjadi ketika 6nda kha"atir berlebihan tentang tidak bisa tidur
dengan baik dan berusaha terlalu keras untuk jatuh tertidur. -ebanyakan orang dengan
kondisi ini tidur lebih baik ketika mereka berada jauh dari lingkungan tidur yang biasa
atau ketika mereka tidak men+oba untuk tidur, seperti ketika mereka menonton ;V
atau memba+a
3,<
.
F'57#" R&),5# I()#$(,'
0ampir setiap orang memiliki kesulitan untuk tidur pada malam hari tetapi resiko
insomnia meningkat jika terjadi pada ,
$. =anita
#erempuan lebih mungkin mengalami insomnia. #erubahan hormon selama
siklus menstruasi dan menopause mungkin memainkan peran. Selama menopause,
sering berkeringat pada malam hari dan hot flashes sering mengganggu tidur.
(. >sia lebih dari /% tahun
-arena terjadi perubahan dalam pola tidur, insomnia meningkat sejalan
dengan usia.
3. Memiliki gangguan kesehatan mental
)anyak gangguan, termasuk depresi, ke+emasan, gangguan bipolar dan post-
traumati+ stress disorder, mengganggu tidur.
?. Stres
Stres dapat menyebabkan insomnia sementara, stress jangka panjang seperti
kematian orang yang dikasihi atau per+eraian, dapat menyebabkan insomnia kronis.
Menjadi miskin atau pengangguran juga meningkatkan risiko terjadinya insomnia.
&. #erjalanan jauh 2!et lag4 dan #erubahan jad"al kerja
)ekerja di malam hari sering meningkatkan resiko insomnia.
$,?
2.1 D,'8(#),)
>ntuk mendiagnosis insomnia, dilakukan penilaian terhadap,
a. #ola tidur penderita.
b. #emakaian obat-obatan, alkohol, atau obat terlarang.
+. ;ingkatan stres psikis.
d. 3i"ayat medis.
e. 6ktivitas fisik
f. Diagnosis berdasarkan kebutuhan tidur se+ara individual.
Sebagai tambahannya, dokter akan melengkapi kuisioner untuk menentukan pola tidur
dan tingkat kebutuhan tidur selama $ hari. !ika tidak dilakukan pengisian kuisioner, untuk
men+apai tujuan yang sama 6nda bisa men+atat "aktu tidur 6nda selama ( minggu.
#emeriksaan fisik akan dilakukan untuk menemukan adanya suatu permasalahan yang
bisa menyebabkan insomnia. 6da kalanya pemeriksaan darah juga dilakukan untuk
menemukan masalah pada tyroid atau pada hal lain yang bisa menyebabkan insomnia.
!ika penyebab dari insomnia tidak ditemukan, akan dilakukan pemantauan dan
pen+atatan selama tidur yang men+angkup gelombang otak, pernapasan, nadi, gerakan mata,
dan gerakan tubuh
&
.
K",7&",' D,'8(#)7,5 I()#$(,' N#(9O"8'(,5 :&"!')'"5'( PPDGJ
;
0al tersebut di ba"ah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti,
a. -eluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur
yang buruk.
b. .angguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal $ bulan.
+. 6danya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap
akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari.
d. -etidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan
yang +ukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan.
e. 6danya gangguan ji"a lain seperti depresi dan an7ietas tidak menyebabkan diagnosis
insomnia diabaikan.
f. -riteria @lama tidurA 2kuantitas4 tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan,
oleh karena luasnya variasi individual. Bama gangguan yang tidak memenuhi kriteria
di atas 2seperti pada @transient insomniaA4 tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan
dalam reaksi stres akut 2'?3.%4 atau gangguan penyesuaian 2'?3.(4
2.< T'7'.'5)'('
1. N#( F'"$'5#7&"'+,
'. T&"'+, T,(85'* L'5=
;erapi tingkah laku bertujuan untuk mengatur pola tidur yang baru dan
mengajarkan +ara untuk menyamankan suasana tidur. ;erapi tingkah laku ini
umumnya direkomendasikan sebagai terapi tahap pertama untuk penderita
insomnia.
;erapi tingkah laku meliputi ,
$. 8dukasi tentang kebiasaan tidur yang baik.
(. ;eknik 3elaksasi.
Meliputi merelaksasikan otot se+ara progresif, membuat biofeedba+k,
dan latihan pernapasan. *ara ini dapat membantu mengurangi ke+emasan
saat tidur. Strategi ini dapat membantu 6nda mengontrol pernapasan, nadi,
tonus otot, dan mood.
3. ;erapi kognitif.
Meliputi merubah pola pikir dari kekha"atiran tidak tidur dengan
pemikiran yang positif. ;erapi kognitif dapat dilakukan pada konseling tatap
muka atau dalam grup.
?. -ontrol stimulus
;erapi ini dimaksudakan untuk membatasi "aktu yang dihabiskan untuk
beraktivitas.
&. 3estriksi ;idur.
;erapi ini dimaksudkan untuk mengurangi "aktu yang dihabiskan di
tempat tidur yang dapat membuat lelah pada malam berikutnya
3,&
.
:. G'%' *,!=+ !'( +&(8#:'7'( !, "=$'*
)eberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi insomnia ,

Mengatur jad"al tidur yang konsisten termasuk pada hari libur

;idak berada di tempat tidur ketika tidak tidur.

;idak memaksakan diri untuk tidur jika tidak bisa.

0anya menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.

3elaksasi sebelum tidur, seperti mandi air hangat, memba+a, latihan


pernapasan atau beribadah

Menghindari atau membatasi tidur siang karena akan menyulitkan tidur


pada malam hari.

Menyiapkan suasana nyaman pada kamar untuk tidur, seperti


menghindari kebisingan

1lahraga dan tetap aktif, seperti olahraga selama (% hingga 3% menit


setiap hari sekitar lima hingga enam jam sebelum tidur.

Menghindari kafein, alkohol, dan nikotin.

Menghindari makan besar sebelum tidur.

*ek kesehatan se+ara rutin.

!ika terdapat nyeri dapat digunakan analgesik


$,(,3,&
2. F'"$'5#.#8,
#engobatan insomnia se+ara farmakologi dibagi menjadi dua golongan yaitu
ben9odia9epine dan non-ben9odia9epine.
a. )en9odia9epine 25itra9epam,;ri9olam, dan 8sta9olam4
b. 5on ben9odia9epine 2*hloral-hydrate, #henobarbital4
#emilihan obat, ditinjau dari sifat gangguan tidur ,
- Initial Insomnia 2sulit masuk ke dalam proses tidur4
1bat yang dibutuhkan adalah bersifat @Sleep indu+ing anti-insomniaA yaitu
golongan ben9odia9epine 2Short 6+ting4. Misalnya pada gangguan an7ietas.
- Delayed Insomnia 2proses tidur terlalu +epat berakhir dan sulit masuk kembali ke
proses tidur selanjutnya4. 1bat yang dibutuhkan adalah bersifat @#rolong latent
phase 6nti-InsomniaA, yaitu golongan heterosiklik antidepresan 2;risiklik dan
;etrasiklik4. Misalnya pada gangguan depresi.
- )roken Insomnia 2siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpe+ah-pe+ah
menjadi beberapa bagian 2multiple a"akening4.
1bat yang dibutuhkan adalah bersifat @Sleep Maintining 6nti-InsomniaA, yaitu
golongan phenobarbital atau golongan ben9odia9epine 2Bong a+ting4. Misalnya
pada gangguan stres psikososial.
#engaturan Dosis
- #emberian tunggal dosis anjuran $& sampai 3% menit sebelum pergi tidur.
- Dosis a"al dapat dinaikkan sampai men+apai dosis efektif dan dipertahankan
sampai $-( minggu, kemudian se+epatnya tapering off 2untuk men+egah
timbulnya rebound dan toleransi obat4.
- #ada usia lanjut, dosis harus lebih ke+il dan peningkatan dosis lebih perlahan-
lahan, untuk menghindari o"ersedation dan intoksikasi.
- 6da laporan yang menggunakan antidepresan sedatif dosis ke+il (-3 kali
seminggu 2tidak setiap hari4 untuk mengatasi insomnia pada usia lanjut.
Bama #emberian
- #emakaian obat antiinsomnia sebaiknya sekitar $-( minggu saja, tidak lebih dari (
minggu, agar resiko ketergantungan ke+il. #enggunaan lebih dari ( minggu dapat
menimbulkan perubahan @Sleep 88.A yang menetap sekitar / bulan lamanya.
- -esulitan pemberhetian obat seringkali oleh karena @#sy+hologi+al Dependen+eA
2habiatuasi4 sebagai akibat rasa nyaman setelah gangguan tidur dapat
ditanggulangi.
8fek Samping
8fek samping dapat terjadi sehubungan dengan farmakokinetik obat anti-insomnia
2"aktu paruh4 ,
- =aktu paruh singkat, seperti ;ria9olam 2sekitar ? jam4. .ejala rebound lebih berat
pada pagi harinya dan dapat sampai menjadi panik.
- =aktu paruh sedang, seperti 8sta9olam gejala rebound lebih ringan.
- =aktu paruh panjang, seperti 5itra9epam menimbulkan gejala @hang overA pada
pagi harinya dan juga @intensifying daytime sleepinessA.
#enggunaan lama obat anti-insomnia golongan ben9odia9epine dapat terjadi
@disinhibiting effe+tA yang menyebabkan @rage rea+tionA.
Interaksi obat
- 1bat anti-insomnia C *5S Depressants 2alkohol dll4 menimbulkan potensiasi efek
supresi SS# yang dapat menyebabkan @oversedation and respiratory failureA.
- 1bat golongan ben9odia9epine tidak menginduksi hepati+ mi+rosomal en9yme
atau @produ+e protein binding displa+ementA sehingga jarang menimbulkan
interaksi obat atau dengan kondisi medik tertentu.
- 1verdosis jarang menimbulkan kematian, tetapi bila disertai alkohol atau @*5S
DepressantA lain, resiko kematian akan meningkat.
#erhatian -husus
- -ontraindikasi ,
o Sleep apneu syndrome
o *ongestive 0eart 'ailure
o *hroni+ 3espiratory Disease
- #enggunaan )en9odia9epine pada "anita hamil mempunyai risiko menimbulkan
@teratogeni+ effe+tA 2e.g.+left-palate abnormalities4 khususnya pada trimester
pertama. !uga ben9odia9epine dieksresikan melalui 6SI, berefek pada bayi
2penekanan fungsi SS#4
$,3,D
.
K#$+.,5'),
;idur sama pentingnya dengan makanan yang sehat dan olahraga yang teratur.
Insomnia dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik.
-omplikasi insomnia meliputi ,
.angguan dalam pekerjaan atau di sekolah.
Saat berkendara, reaksi refle7 akan lebih lambat. Sehingga meningkatkan reaksi
ke+elakaan.
Masalah keji"aan, seperti ke+emasan atau depresi
-elebihan berat badan atau kegemukan
Daya tahan tubuh yang rendah
Meningkatkan resiko dan keparahan penyakit jangka panjang, +ontohnya tekanan
darah yang tinggi, sakit jantung, dan diabetes.
2.10 P"#8(#),)
#rognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi pada gangguan
lain seperti depresi. Bebih buruk jika gangguan ini disertai ski9ophrenia.
TUGAS TAMBAHAN
#i+a adalah ketagihan untuk memakan bahan-bahan yang tidak termasuk bahan
makanan, seperti +at dan tanah liat.
Siklotimia adalah ketidak stabilan menetap dari afek 2suasana perasaan4, meliputi
banyak periode depresi dan hipomania ringan, diantaranya tidak ada yang +ukup
parah +ukup lama untuk memenuhi kriteria gangguan afektif bipolar atau gangguan
depresi berulang.
Distimia adalah afek depresif yang berlangsung sangat lama yang tidak pernah atau
jarang sekali +ukup paranh untuk memenuhi kriteria gangguan depresif berulang
ringan atau sedang. )iasanya mulai pada usia dini dari masa de"asa dan berlangsung
sekurang-kurangnya beberapa tahun, dan kadang-kadang untuk "aktu yang tidak
terbatas.