Anda di halaman 1dari 6

1

LAPORAN KASUS
PERAWATAN TUMOR MANDIBULA

Tanggal Pemeriksaan : Senin, 22 September 2014

A. Pemeriksaaan Subjektif
1. Data Pribadi
a. Nama Pasien : Ny. H
b. Usia : 26 tahun

2. Status Umum Pasien
a. Keadaan Umum : Compos mentis
b. Pupil Mata : Dalam batas normal (DBN)

3. Anamnesa
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesa pada tanggal 22 September 2014.
a. Keluhan Utama
Pasien wanita berusia 26 tahun datang dengan keluhan ingin memeriksakan gusi
yang membesar dirasakan sejak kehamilan 2 tahun lalu sampai saat ini.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Gusi membesar, kadang berdarah dan tidak ada keluhan sakit.
c. Riwayat Penyakit Gigi
Satu gigi depan bawah tertutupi oleh gusi.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada kelainan.

B. Pemeriksaan Objektif
1. Pemeriksaan Ekstraoral
a. Wajah : Simetris, tedapat tanda lahir sinistra wajah mencapai dagu dan bibir
b. Bibir : Kompeten
c. TMJ : DBN
2. Pemeriksaan Intraoral
a. Gingiva : Enlargement gingiva pada regio 3
b. Mukosa : Mukosa labial anterior mengalami pelebaran pembuluh darah
2

c. Lidah : DBN
d. Palatum : DBN
e. Gigi geligi: Crowding, terdapat kalkulus dan multiple radiks

Gambar 1. Foto intraoral region anterior yang mengalami pembesaran

Gambar 2. Foto Intra oral kontra lateral tidak terdapat pembesaran gingiva

Gambar 3. Foto Intra oral pembesaran gingiva

C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan adalah foto rontgen panoramik
(Gambar 4).
3


Gambar 4. Radiografi Panoramik
Hasil intepretasi foto rontgen: terdapat radiolusen pada gigi 31, 32, 33, 41, dan radiks
gigi 18, 35, 37 dan 48

D. Diagnosa
Tumor Mandibula
E. Perawatan
Perawatan yang telah dilakukan pasien di Poli Gigi RSUD Tugurejo Semarang:
1. Kunjungan pertama tanggal 22 september 2014
Pemberian medikasi terhadap pembesaran gingiva dengan:
R/ Klindamisin 300 mg tab X
S 3dd tab I pc
R/ Kataflam 50 mg tab X
S 2dd tab I pc
R/ Aloclair gargle fl I
S Collut Oris
Untuk dilakukan evaluasi setelah 5 hari terdapat perubahan atau tidak.
2. Kunjungan kedua tanggal 27 September 2014
Kontrol, namun tidak ada perubahan benjolan dengan konsistensi lunak
dan berbatas tegas pada regio gigi 41, 31, 32, 33. Diberikan medikasi
4

tambahan berupa obat kumur Hexadol dan dijadwalkan pembedahan
(eksisi) tumor mandibular pada tanggal 14 September 2014. Apabila
terjadi kekambuhan diperlukan pemerikaan patologi anatomi untuk
memastikan keganasan atau bukan.
F. Prognosis
Prognosis dari rencana perawatan ini adalah baik.
G. Pembahasan
Pembesaran gingiva yang berlebihan yang disebabkan oleh pertambahan besar
atau ukuran sel-sel yang dikandungnya (hipertrofi), atau sel-selnya yang bertambah
(hyperplasia). Penyebabnya dapat dikarenakan radang, radang dengan kondisi tertentu
(Hormonal, leukemia, defisiensi vitamin C), non radang (obat-obatan) atau kombinasi
radang dan obat-obatan. Hiperplasi gingiva merupakan ciri adanya penyakit gingiva,
disebut juga dengan inflammatory enlargement terjadi karena adanya plak gigi, faktor
yang memudahkan terjadinya akumulasi dan perlekatan plak. Di klinik istilah yang
digunakan adalah hyperthropic gingivitis atau gingival hiperplasia sebagai keradangan
gingiva yang konotasinya mengarah pada patologis.
1

Proses peradangan kronis, monosit melalui sirkulasi darah akan migrasi ke
tempat terjadinya keradangan, menjadi makrofag.
2,3
Aktivasi sistem imun spesifik akibat
keradangan akan mengaktifkan makrofag untuk memproduksi sejumlah sitokin dan
faktor pertumbuhan yang berperan pada pembentukan fibrosis.
4,5
Ada dua tipe dasar
respons jaringan terhadap pembesaran gingiva yang mengalami keradangan yaitu
edematous dengan tanda gingiva halus, mengkilat, lunak dan merah, serta fibrous dengan
tanda gingiva lebih kenyal, hilangnya stippling dan buram, biasanya lebih tebal,
pinggiran tampak membulat.
1
Perawatan periodontal diawali dengan fase perawatan
tahap awal yang meliputi dental health education (DHE), supra dan subgingival
scaling,dan polishing.
1,5,6

Pada gingivitis hiperplasi dapat dirawat dengan scaling, bila gingiva tampak
lunak dan ada perubahan warna,terutama bila terjadi edema dan infiltrasi seluler, dengan
syarat ukuran pembesaran tidak mengganggu pengambilan deposit pada permukaan gigi.
Apabila gingivitis hiperplasi terdiri dari komponen fibrotik yang tidak bisa mengecil
setelah dilakukan perawatan scaling atau ukuran pembesaran gingiva menutupi deposits
pada permukaan gigi, dan mengganggu akses pengambilan deposits, maka perawatannya
adalah pengambilan secara bedah (gingivektomi).
5

Gingivektomi adalah pemotongan jaringan gingiva dengan membuang dinding
lateral poket yang bertujuan untuk menghilangkan poket dan keradangan gingiva
sehingga didapat gingiva yang fisiologis, fungsional dan estetik baik.
1,7,8
Keuntungan
teknik gingivektomi adalah teknik sederhana, dapat mengeliminasi poket secara
sempurna, lapangan penglihatan baik, morfologi gingiva dapat diramalkan sesuai
keinginan.8 Setelah 1224 jam, sel epitel pinggiran luka mulai migrasi ke atas jaringan
granulasi. Epitelisasi permukaan pada umumnya selesai setelah 514 hari. Selama 4
minggu pertama setelah gingivektomi keratinisasi akan berkurang.
6
keratinisasi
permukaan mungkin tidak tampak hingga hari ke 2842 setelah operasi.
9
Repair epithel
selesai sekitar satu bulan, repair jaringan ikat selesai sekitar 7 minggu setelah
gingivektomi. Vasodilatasi dan vaskularisasi mulai berkurang setelah hari keempat
penyembuhan dan tampak hampir normal pada hari keenam belas.
6
Enam minggu setelah
gingivektomi, gingiva tampak sehat, berwarna merah muda dan kenyal.
9
Kenyataannya
secara klinis perawatan gingivitis hiperplasi dengan perawatan gingivektomi sering
menimbulkan kekambuhan.

H. Kesimpulan
Pasien wanita Ny. H usia 26 tahun datang ingin merawat gusi bawah bagian kiri
yang membesar sejak kehamilan. Gusi bawah kiri tidak ada keluhan sakit. Saat
pemeriksaan intraoral ditemukan pembesaran gingiva pada region 3. Diagnosanya adalah
tumor mandibular. Rencana perawatan kasus ini adalah medikasi dan pembedahan eksisi
pembesaran gingiva pada mandibular.

I. Daftar Pustaka
1. Newman MG, Takei HH, Carranza FA. Clinical periodontology.9
th
ed. Philadelphia:
WB Saunders Co; 2002. p. 7494, 2639,43253, 63150, 74961.
2. Fedi PF, Vermino AR, Gray JL. The periodontic syllabus. 4
th
ed.Lippincott Williams
and Wilkins; 2000. p. 4150.
3. McMahon RFT, Sloan P. Essentials of pathology for dentistry.Harcourt Publishers
Limited; 2000. p. 2635.
4. Axelsson P. Diagnosis and risk prediction of periodontal disease. Volume 3.
Quintessence Publishing Co Inc; 2002. p. 31724.
6

5. Claffey N, Loos B, Gantes B, Martin M, Egelberg J. Probing depth at re-evaluation
following initial periodontal therapy to indicate the initial response to treatment. J
Clin Periodontology 1989;16:22933.
6. Kantarci A, Cebeci I, Tuncer O, Carin M, Firatli E. Clinical effects of periodontal
therapy on the severity of cyclosporin A-induced gingival hyperplasia. J
Periodontology 1999; 70:58793.
7. Goldman HM, Cohen DW. Periodontal therapy. 6
th
ed. The CV Mosby Company;
1980. p. 64090, 77393.
8. Trijani S. Evaluasi kesembuhan klinis setelah tindakan gingivektomi dengan atau
tanpa peck periodontal pada kasus gingivitis pubertas. TIMNAS 1996; 41623.
9. Lies ZBS. Gingivektomi sebagai tindakan bedah preprostetik (laporan kasus). Jurnal
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia 1997; 4:295301.