Anda di halaman 1dari 26

Identifikasi problem produksi 1

HASWARPIN YITHZAK PRADANA


071.11.177
TUGAS UAS
KELAS SELASA PAGI

Identifikasi Problem Produksi




Problem Produksi
Di dalam memproduksikan fluida reservoir, selalu diusahakan agar sumur tetap berproduksi
secara optimum. Menurunnya kapasitas produksi dan laju produksi minyak secara drastis dari
suatu sumur minyak merupakan problem produksi. Problem produksi ini harus diidentifikasi
secara dini untuk dapat ditangani sebelum problem terjadi maupun setelah terjadi. Penanganan
problem produksi yang tepat akan mengembalikan sumur berproduksi dengan kapasitas yang
optimum.
Pada prinsipnya problem produksi yang mengakibatkan tidak optimumnya produksi minyak di
suatu sumur dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok :
A. Menurunnya produktivitas formasi
- Problem kepasiran
Identifikasi problem produksi 2

- Problem coning baik gas maupun air

B. Menurunnya laju produksi
- Problem emulsi
- Problem scale

- Problem korosi

Identifikasi problem produksi 3
- Problem paraffin


Sebab sebab Problem Produksi
Problem produksi yang terjadi sangat bergantung pada karakteristik batuan reservoir,
karakteristik fluida reservoir, dan kondisi reservoir itu sendiri. Oleh karena itu faktor-faktor
diatas manjadi acuan untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya problem produksi.
Kepasiran
Sebab sebab dari terproduksinya pasir berhubungan dengan :
- Tenaga pengerukan (drag force), yaitu tenaga yang terjadi oleh aliran fluida dimana laju
aliran dan visositasnya meningkat menjadi lebih tinggi.
- Pengurangan kekuatan formasinya, hal ini sering dihubungkan dengan produksi air, karena
melarutkan material penyemen atau pengurangan gaya kapiler dengan meningkatnya saturasi air.
- Penurunan tekanan reservoir, dengan penurunan ini akan mengganggu sifat penyemenan
antar batuan.

Ikut terproduksinya pasir pada operasi produksi menimbulkan problem produksi. Problem
produksi ini biasanya berhubungan dengan formasi dangkal berumur tersier yang umumnya
batupasir berjenis lepas-lepas (unconsolidated sand) dengan sementasi antar butiran kurang kuat.
Hal ini berarti pekerjaan komplesi sumur menjadi perhatian kritis dalam zona-zona kepasiran.
Berdasarkan kemudahan pasir ikut terproduksi maka formasi batupasir dibedakan ke dalam tiga
jenis sebagai berikut :
Identifikasi problem produksi 4

1. Quicksand
Pada formasi jenis ini ikatan antar butiran pasir lemah sehingga mudah bergerak bersama-sama
fluida produksi (tersuspensi oleh fluida). Pasir ini ikut terproduksi secara kontinyu dengan
kapasitas kepasiran tetap selama kapasitas produksi fluida juga tetap. Ikut terproduksinya pasir
jenis ini tidak menyebabkan terjadinya pembesaran lubang di sekitar sumur karena rongga-
rongga yang semula ditempati pasir yang ikut terproduksi selalu diisi oleh pasir yang tersuspensi
fluida produksi.
2. Packed Sand
Formasi pasir jenis ini mempunyai bahan penyemen yang sangat sedikit sehingga kekuatan
sementasinya sangat lemah dan pasir mudah terproduksi bersama-sama fluida pada kapasitas
produksi yang tertentu. Ikut terproduksinya pasir ini menyebabkan rongga-rongga di sekitar
lubang perforasi yang semula ditempati oleh pasir yang ikut terproduksi. Pembentukan rongga-
rongga ini tidak berlangsung terus karena pada suatu saat terbentuknya lengkungan ketsatbilan
pasir (sand arch) di sekitar lubang perforasi yang mampu menahan terproduksinya butiran pasir
(Gambar 3.1.). Problem lengkungan kestabilan pasir ini dapat runtuh dalam jumlah yang besar
akibat adanya lempung atau lanau yang hampir tidak punya kekuatan rekat sama sekali terhadap
butiran pasir.
3. Friable Sand

Pada formasi pasir jenis ini ikatan antar butirnya nampak cukup kuat tetapi pada kenyataannya
butiran pasair dapat tererosi oleh fluida yang terproduksi. Sama halnya packed sand, jenis friable
Identifikasi problem produksi 5
sand bisa menyebabkan terbentuknya rongga-rongga di sekeliling lubang perforasi. Kepasiran
berkurang dengan terbentuknya lengkungan pasir dengan kestabilan lemah. Runtuhnya
lengkungan pasir menyebabkan kepasiran dalam jumlah besar. Selain kekuatan formasi
(kemampuan formasi untuk menahan butiran pasir untuk tetap pada tempatnya) maka faktor lain
yang menyebabkan kepasiran adalahsebagai berikut :

1. Tingginya kapasitas produksi fluida gaya seret fluida yang bekerja pada lengkungan
kestabilan pasir juga tinggi. Jika penurunan tekanan telah melewati batas kestabilan
lengkungan pasir, maka lengkungan kestabilan menjadi runtuh. Lengkungan kestabilan yang
lebih kecil umumnya lebih kuat
2. Pertambahan saturasi air menyebabkan gaya kapileritas yang menahan butiran pasir pada
lengkungan kestabilan menjadi berkurang atau hilang sama sekali, sehingga lengkungan
kestabilan pasir mudah runtuh.
Faktor faktor yang mempengaruhi rusaknya kestabilan formasi pasir tercakup dalam sifat
batuan itu sendiri disamping pengaruh fluida, faktor faktor tersebut adalah:
1. Kecepatan aliran; adalah fungsi penurunan tekanan aliran formasi. Semakin besar aliran
fluda, semakin besar pula gaya seret fluida yang bekerja pada busur kestabilan. Dengan
membesarnya kecepatan fluida, kestabilan formasi semakin berkurang dan dapat
menyebabkan runtuhnya formasi

2. Sementasi batuan; faktor sementasi tergantung pada tingkat konsolidasi batuan. Formasi
dengan faktor sementasi lebih kecil dari 1,8 merupakan formasi yang tidak stabil dan sering
terjadi problem kepasiran pada formasi ini.
3. Kandungan lempung formasi; Pada umumnya formasi pasir mengandung lempung sebagai
matrik atau semen batuan dan kadar clay lining akan bertambah besar jika diameter pori
pori mengecil. Biasanya lempung mempunyai sifat yang basah air atau water wet, sehingga
apabila air bebas melewati formasi yang mengandung lempung akan menimbulkan dua
akibat; lempung menjadi lembek dan gaya adhesi dari fluida yang mengalir terhadap material
yang dilaluinya akan naik. Akibatnya , butiran pasir cenderung bergerak ke lubang sumur,
apabila air formasi mulai terproduksi. Pembengkakan (swelling) lempung menyebabkan
Identifikasi problem produksi 6
ruang pori semakin mengecil, sehingga porositas batuan berkurang. Dengan begitu,
permeabilitas akan mengalami penurunan pula.
4. Migrasi butir butir halus; butir butir halus formasi didefinisikan oleh Muecke adalah butir
butir halus yang dapat melewati saringan mesh terkecil, yaitu 400 mesh atau 37 m,
diendapkan sewaktu terbentuknya batuan dan masuk ke dalam formasi pada waktu operasi
pemboran dan komplesi sumur. Material padat yang sangat halus ini terdapat di dalam ruang
pori pori sebagai indiidu partikel yang bebas bermigrasi bersama aliran fluida. Dengan ikut
terproduksinya partikel ke lubang sumur kemudian ke permukaan dan dianggap sebagai
pasir, sedangkan sisanya akan menyumbat pori pori disekitar lubang sumur. Karena
tertutupnya pori pori akan menyebabkan penurunan permeabilitas dan naiknya gradien
tekanan pada busur kestabilan, sehingga gaya akibat aliran semakin tinggi. Penambahan gaya
ini menjadi penyebab runtuhnya kestabilan formasi..

Kepasiran dapat menghambat kelangsungan operasi produksi, baik pada sumur atau di
permukaan. Kepasiran menimbulkan problem sebagai berikut :
1. Kapasitas produksi turun dratis akibat naiknya butiran pasir tersuspensi dalam fluida
produksi. Faktor lainnya antara lain : tersumbatnya lubang perforasi dan pipa salur di
permukaan.
2. Pembengkokan selubung atau liner akibat terbentuknya rongga-rongga di sekitar lubang
perforasi karena pasir terproduksi terus-menerus ke permukaan.
3. Pengikisan atau erosi pada peralatan produksi di bawah permukaan dan di permukaan pada
choke atau di persimpangan pipa salur.
Identifikasi problem produksi 7

Coning
Terproduksinya air atau gas yang berlebihan tidak hanya menurunkan produksi minyak, tetapi
juga dapat mengakibatkan sumur ditutup atau ditinggalkan sebelum waktunya. Selain itu
terproduksinya air atau gas yang berlebihan akan menyebabkan proses pengolahan selanjutnya
menjadi lebih sulit. Terproduksinya air atau gas berlebihan dapat disebabkan karena:
1. Pergerakan air atau posisi batas air minyak telah mencapai lubang perforasi.
2. Pergerakan gas atau batas gas minyak telah mencapai lubang perforasi.
3. Terjadinya water fingering atau gas fingering

1. Water Coning
Water coning didefinisikan sebagi gerakan vertikal dari air yang memotong bidang perlapisan
formasi produktif seperti terlihat dalam Gambar 3.2. Water coning tidak akan memotong
penghalang permeabilitas vertikal kecuali pada rekahan alami atau buatan.
Water coning yang tinggi sering terjadi pada reservoir terumbu karang atau reservoir lain yang
memiliki permeabilitas relatif air yang tinggi. Water coning terjadi karena produksi sumur
melebihi kondisi aliran kritis sehingga air yang berada di aquifer terikut aliran fluida produksi
dan menghambat aliran hidrokarbon ke permukaan.
Identifikasi problem produksi 8

2. Gas Coning
Gas coning atau terproduksinya gas secara berlebihan yang berasal dari gas terlarut dalam
minyak, tudung gas primer atau sekunder dan aliran gas dari zona gas di atas atau di bawah zona
minyak.
Gambar 3.3. memperlihatkan kelakuan rasio gas/minyak (GOR) dari reservoir minyak
berhubungan dengan jenis mekanisme pendorong. Pada reservoir bertenaga dorong gas terlarut
terjadi kenaikkan saturasi gas (S
g
) akibat penurunan tekanan selama pengambilan minyak. Jika
gas terlarut dalam minyak terbebaskan, maka gas mengalir menuju sumur dan menjadi fluida
yang paling mobil karena tekanan yang terus-menerus.
Jika tidak ada penghalang permeabilitas vertikal, maka gas mengembang ke dalam interval
produktif. Adanya beda tekanan yang tinggi di sumur, maka gas coning terjadi pada sumur yang
memiliki perubahan permeabilitas vertikal secara kontinyu. Dalam reservoir berlapis-lapis, aliran
gas di atas atau di bawah zona minyak terjadi karena adanya selubung yang pecah, pecahnya
semen dan rekahan-rekahan yang berhubungan dengan zona gas.


Emulsi


Identifikasi problem produksi 9


Emulsi adalah campuran dua jenis cairan yang tidak dapat campur. Dalam emulsi salah satu
cairan dihamburkan dalam cairan lain berupa butiran-butiran yang sangat kecil. Kondisi-kondisi
yang menyebabkan terbentuknya emulsi adalah sebagai berikut :
1. Adanya dua macam zat cair yang tidak saling campur pada kondisi tertentu.
2. Adanya zat koloid yang membantu terbentuknya emulsi (emulsifying agent).
3. Adanya agitasi (pengadukan) yang mampu menghamburkan salah satu cairan menjadi tetes-
tetes (droplet) dalam cairan yang lainnya.


Emulsi kental memiliki jumlah oksigen droplet yang dihamburkan dalam cairan lebih banyak
dan emulsi encer adalah sebaliknya. Emulsi semacam itu ditinjau dari viskositasnya. Sedang
berdasarkan fasanya maka emulsi dibagi menjadi dua yaitu :
1. Air dalam emulsi minyak (water in oil emulsion) jika minyak sebagai fasa eksternal dan air
menjadi fasa internal.
2. Minyak dalam emulsi air (oil in water emulsion) jika sebaliknya.
Kestabilan emulsi merupakan ketahanan emulsi terhadap tenaga yang memecahkan emulsi.
Kestabilan emulsi tergantung pada faktor-faktor berikut ini :
1. Emulsifying agent yang merupakan faktor penentu kestabilan emulsi. Tanpa emulsifying
agent tidak akan terjadi emulsi yang stabil karena tenaga emulsifying agent berpengaruh pada
kestabilan emulsi.
2. Viskositas yang merupakan sifat keengganan fluida untuk mengalir. Minyak bervikositas
tinggi cenderung menahan butiran air dalam jumlah besar. Minyak bervikositas tinggi
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melepaskan droplet air.
3. Specific gravity (SG) yang merupakan berat zat dalam cairan per satuan volume tertentu.
Perbedaan SG yang besar menyebabkan waktu pemisahan emulsi lebih cepat sehingga minyak
berat (SG besar,
0
API kecil) cenderung menyimpan droplet air lebih lama.
4. Prosentase air yang besar cenderung membentuk emulsi tidak stabil karena droplet per
satuan volumenya lebih besar sehingga bisa bergabung menjadi droplet yang lebih besar dan
mudah terpisah dari minyak dengan gaya berat sendiri.
Umur emulsi sejalan dengan waktu dimana masih terdapat prosentase air dalam minyak maka
emulsi lebih stabil dan sukar diperlakukan.
Identifikasi problem produksi 10

Pengendapan Scale

Endapan scale adalah endapan mineral yang terbentuk pada bidang permukaan yang
bersentuhan dengan air formasi sewaktu minyak diproduksikan ke permukaan. Timbulnya
endapan scale tergantung dari komposisi air yang diproduksikan. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat reaksi pembentukan scale di bawah ini :
1. BaCl
2
+ Na
2
SO
4
BaSO
4
+ 2 NaCl scale barium sulfat dengan air tak kompatibel.
2. SrCl
2
+ MgSO
4
SrSO
4
+ MgCl
2
scale strontium sulfat dengan air tak kompatibel.
3. CaCl
2
+ Na
2
SO
4
CaCO
4
+ 2 NaCl scale gipsum dengan air tak kompatibel dan
supersaturasi.
4. 2 NaHCO
3
+ CaCl
2
CaCO
3
+ 2 NaCl + CO
2
+ H
2
O scale kalsium karbonat dengan air tak
kompatibel.
5. Ca(HCO
3
)
2
CaCO
3
+ CO
2
+ H
2
O scale kalsium karbonat dengan supersaturasi sampai
terjadi penurunan tekanan, panas dan adanya agitasi.
Air mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mempertahankan komponennya yang terdiri
dari ion-ion agar tetap dalam larutan air. Jika kelarutan ion terlampaui maka komponen menjadiu
terpisah dari larutan sebagai padatan, dan membentuk endapan scale.
Sebab-sebab terjadinya endapan scale antara lain :
1. Air tak kompatibel
Air tak kompatibel adalah bercampurnya dua jenis air yang tak dapat campur akibat adanya
kandungan dan sifat kimia ion-ion air formasi yang berbeda. Jika dua macam air ini bercampur
maka terjadi ion-ion yang berlainan sifat tersebut sehingga menyebabkan terbentuknya zat baru
tersusun atas kristal-kristal atau endapan scale.
2. Penurunan tekanan
Identifikasi problem produksi 11

Selama produksi terjadi penurunan tekanan reservoir akibat fluida diproduksikan ke permukaan.
Penurunan tekanan ini terjadi pada formasi ke dasar sumur, ke permukaan dan dari kepala sumur
ke tangki penimbun. Adanya penurunan tekanan ini, maka gas CO
2
jadi terlepas dari ion-ion
bikarbonat. Pelepasan CO
2
menyebabkan berubahnya kelarutan ion yang terkandung dalam air
formasi sehingga mempercepat terjadinya endapan scale.
3. Perubahan temperatur

Sejalan dengan berubahnya temperatur (ada kenaikkan temperatur ) terjadi penguapan, sehingga
terjadi perubahan kelarutan ion yang menyebabkan terbentuknya endapan scale. Perubahan
temperatur ini disebabkan oleh penurunan tekanan .
4. Faktor-faktor lainnya
Agitasi menyebabkan terjadinya turbulensi aliran, sehingga endapan scale lebih cepat terbentuk.
Semakin lama waktu kontak semakin besar pula endapan scale yang terbentuk. Semakin besar
pH larutan mempercepat terbentuknya endapan scale.
Pengendapan Parafin dan Aspal
Terbentuknya endapan parafin dan aspal disebabkan oleh perubahan kesetimbangan
fluida reservoir akibat menurunnya kelarutan lilin dalam minyak mentah. Pengendapan yang
terjadi pada sumur produksi dipengaruhi oleh kelarutan minyak mentah dan kandungan lilin
dalam minyak. Kristal-kristal lilin yang menjarum berhamburan dalam minyak mentah saat
berbentuk kristal-kristal tunggal. Bahan penginti (nucleating agent) yang terdapat bersama-sama
dengan kristal lilin dapat memisahkan diri dari larutan minyak mentah dan membentuk endapan
dalam sumur produksi.
Penyebab utama terbentuknya endapan parafin dan aspal adalah penurunan tekanan
karena kelarutan lilin dalam minyak mentah menurun saat menurunnya temperatur. Adanya
gerakan ekspansi gas pada lubang perforasi dan di dasar sumur dapat menyebabkan terjadinya
pendinginan atau penurunan temperatur sampai di bawah titik cair parafin, sehingga timbul
Identifikasi problem produksi 12
parafin dan aspal. Terlepasnya gas dan hidrokarbon ringan dari minyak mentah bisa
menyebabkan penurunnan kelarutan lilin, sehingga terbentuk endapan parafin dan aspal. GOR
yang tinggi dapat mempercepat terbentuknya endapan parafin dan aspal.
Korosi

Problem korosi timbul akibat adanya air yang berasosiasi dengan minyak dan gas pada
saat diproduksikan ke permukaan. Air bersifat asam atau garam, atau keduanya dan
kecenderungan mengkorosi logam yang disentuhnya. Besi umumnya mudah bersenyawa dengan
sulfida dan oksigen, sehingga korosi yang dihasilkan berupa feri oksida. Untuk itu adanya
anggapan bahwa korosi merupakan reaksi antara besi dengan oksigen atau hidrogen sulfida
sebagai berikut :
4 Fe
+++
+ 3 O
2
2 Fe
2
O
3
(karat)
Fe
++
+ H
2
S FeS + H
2
(karat)
Besi tidak bisa bereaksi dengan oksigen kering atau hidrogen sulfida kering pada temperatur
biasa karena korosi hanya dapat terjadi jika ada air.
Korosi sebenarnya merupakan proses elektrokimia yaitu proses listrik yang terjadi setelah
reaksi kimia dan disebabkan oleh kandungan garam dan asam dalam air. Jika ada dua permukaan
logam berbeda muatan listrik maka terjadi aliran listrik melalui air.
Korosi pada logam dapat dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :
1. Pengaruh komposisi logam, dimana setiap logam yang berbeda mempunyai kecenderungan
yang berbeda terhadap korosi.
2. Pengaruh komposisi air, dimana pengkaratan oleh air akan meningkat dengan naiknya
konduktivitas. Disamping itu pengkaratan oleh air juga akan meningkat dengan menurunnya pH
air.
3. Kelarutan gas, dimana oksigen, karbon dioksida atau hidrogen sulfida yang terlarut didalam
air akan menaikkan korosivitas secara drastis. Gas yang terlarut adalah sebab utama problem
korosi.
Identifikasi Problem Produksi
Untuk mengetahui problem produksi, perlu dilakukan identifikasi problem produksi tersebut,
dalam usaha pencegahan dan penanggulangannya. Sehingga bila terjadi penurunan kapasitas
produksi dari sumur minyak, maka segera dapat dilakukan penanggulangan. Usaha
Identifikasi problem produksi 13
penanggulangan problem produksi secara tepat akan mengembalikan produksi sumur menjadi
berproduksi dengan kapasitas optimum.
Problem produksi yang mengakibatkan tidak optimumnya minyak yang diproduksikan di suatu
sumur, yaitu pertama menurunnya produktifitas formasi. Pengidentifikasian problem produksi ini
bertumpu pada reservoar dan masalahnya. Macam problem yang menyebabkan menurunya
produktifitas formasi, antara lain; problem kepasiran, problem produksi air dan gas berlebihan,
invasi cairan dan invasi padatan. Kedua, menurunnya laju produksi. Pengidentifikasian problem
produksi yang kedua ini dititikberatkan pada material produksi. Akibat yang ditimbulkan lebih
luas, tidak hanya di formasi tetapi juga dapat berlanjut sampai ke permukaan, bahkan sampai ke
refinery (pengilangan). Problem ini meliputi: problem emulsi, problem scale, problem korosi,
problem parafin.
Identifikasi problem produksi secara visual dilakukan di permukaan dengan cara mengamati laju
produksi yang tercatat pada meter aliran. Penurunan laju produksi secara drastis memberikan
informasi adanya problem produksi pada sumur. Analisa BS&W (Basic Sediment & Water) yang
diambil di kepala sumur, choke manifold dan keluaran separator juga dapat mengidentifikasikan
adanya problem produksi. Telah diketahui bahwa hasil analisa BS&W (dalam persen) bisa
memberikan informasi tentang jumlah sedimen/padatan dalam minyak mentah berhubungan
kepasiran atau air formasi yang mengandung bahan-bahan pembentuk endapan scale, gas-gas
korosif dan bahan emulsi. Analisa lanjutan adalah analisa fluida reservoir (uji PVT) di
laboratorium untuk mendapatkan sifat fisik fluida.
Uji produksi menghasilkan data laju produksi untuk masing-masing fasa yaitu laju produksi
minyak (Q
o
), air (Q
w
) dan gas (Q
g
), sehingga identifikasi problem produksi seperti water atas gas
coning dapat dilakukan dengan mengamati rasio gas/minyak (GOR), kadar air (WC) dan rasio
air/minyak (WOR).

Uji produksi adalah kegiatan produksi sumur yang dilakukan secara rutin. Choke manifold atau
orifice digunakan dalam uji produksi untuk mendapatkan data laju produksi gas. Laju produksi
minyak diperoleh dari separator atau tangki pengumpul. Sedangkan basic sediment and water
(BS dan W) didapatkan melalui centrifuge.
A. Peralatan Produksi
Peralatan uji produksi di permukaaan antara lain : choke manifold, separator, tangki pengumpul
dan centrifuge yang dipakai untuk mengukur besaran-besaran produksi.
Identifikasi problem produksi 14
1. Choke Manifold

Choke manifold mempunyai dua fungsi yaitu :
a). Mengatur aliran dari wellhead. Untuk keperluan ini choke manifold memiliki tiga cabang
yaitu :
- Manifold baypass (tengah) digunakan untuk mengalirkan fluida pada saat clean up period.
- Choke manifold (kiri dan kanan) digunakan untuk mengatur kapasitas aliran fluida yang
masuk separator pada saat flowing period dengan mengganti-ganti ukuran-ukuran choke yang
telah dipersiapkan. Penggantian ukuran choke menyebabkan perubahan tekanan dan temperatur
kepala sumur (FWHP dan FWHT).
b). Menutup aliran fluida dari wellhead bila diperlukan. Misalnya untuk memperoleh data
tekanan dan temperatur di kepala sumur pada waktu tutup sumur (SWHP dan SWHT).
2. Separator
Identifikasi problem produksi 15

Fungsi utama separator adalah untuk memisahkan gas, minyak dan air yang datang dari sumur
minyak atau gas, sehingga dapat dilakukan pengukuran data laju produksi gas, minyak dan air.
Laju produksi dapat berubah jika ukuran choke yang dipasang di manifold dirubah. Bentuk
separator ada tiga macam yaitu : vertikal, horisontal dan sferikal.
3. Tangki Pengumpul

Tangki pengumpul digunakan untuk menampung minyak dan air yang keluar dari separator-
separator dengan maksud untuk mengambil tambahan sampel fluida, jika oil meter atau water
meter tidak berfungsi dengan baik untuk mengukur laju produksi minyak atau air dan untuk
kepentingan kalibrasi kapasitas minyak atau air dan untuk kepentingan kalibrasi kapasitas
minyak atau air dapat ditentukan pada tangki pengumpul. Caranya dengan mengukur waktu yang
dibutuhkan untuk pengisian satu satuan tangki pengumpul yang sudah diberi tanda (misalnya 1
bbl) kemudian dilakukan perhitungan kapasitas produksinya.
Identifikasi problem produksi 16
B. Laju Produksi Minyak, Gas dan Air
Laju produksi dari sumur bisa terdiri dari tiga macam yaitu laju produksi minyak, gas dan air.
Besarnya ketiga laju produksi sangat penting dalam uji produksi. Laju produksi minyak (Q
o
)
ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

....................................................(3-1)
dimana
Q
o
= Laju Produksi minyak pada keadaan standart, STBO/d.
F
m
= Koefisien oil meter. Ditentukan dari kalibrasi oil meter dan
umumnya diambil F
m
= 1.
K = Koreksi volume ke temperatur standart (60
0
F).
S
hr
= Faktor penyusutan minyak. Ditentukan dari shrinkage meter.
BSW = Basic sediment and water. Ditentukan dengan centrifuge.
R = Selisih pembacaan oil meter, bbl untuk interval T.
T = Interval waktu alir, jam.

Untuk mengukur minyak bersih memakai meteran aliran, maka faktor meteran harus
ditetapkan dulu melalui kalibrasi. Jika meteran dengan kompresator temperatur dan gravity
otomatis, maka pembacaan sudah dikonversikan untuk
volume minyak pada 60
0
F.

Laju produksi air (Q
w
) dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

Laju produksi gas (Q
g
) dihitung berdasarkan pembacaan tekanan, temperatur, gas gravity dan
ukuran jepitan atau orifice yang digunakan :
1. Perhitungan melalui jepitan (di kepala sumur) untuk temperatur alir dan gas gravity
diketahui :
............................................................................(3-3)
2.
Perhitungan melalui jepitan untuk temperatur alir dan gas gravity tidak diketahui :



dimana :
Q
g
= laju produksi gas, MSCF/d.
C = Koefisien jepitan.
P = Tekanan masuk, psi.
Identifikasi problem produksi 17

g
= Specific gravity gas.
T = Temperatur alir,
0
R (T
0
R = 460 + T
0
F).

3. Perhitungan melalui orifice meter (di separator )

................................................................(3-5)
dimana :
Q
g
= Laju produksi gas pada kondisi reservoir, cuft/d
C
1
= Konstanta aliran orific. Yaitu kapasitas aliran dalam cuft/jam
pada kondisi reservoir jika pressure extension, .
h
w
= Beda tekanan, in. Udara.
P
f
= Tekanan statik, psi.

Harga C
1
dapat diperoleh dari hasil kali beberapa faktor yang dinyatakan
sebagai berikut :
........................................(3-6)
dimana :
F
b
= Faktor dasar aliran orific.
F
r
= Faktor bilangan Reynolds.
............................................................................(3-7)
Y = Faktor ekspansi.
F
pb
= Faktor tekanan dasar sumur.
F
tb
= Faktor temperatur dasar sumur.
........................................................................................(3-8)
T
b
= Temperatur dasar sumur absolut.
F
g
= Faktor specific gravity gas.
F
tf
= Faktor temperatur alir gas yang diukur bukan pada 600F.
........................................................................................(3-9)
T
f
= Temperatur alir absolut sebenarnya.
F
m
= Faktor meteran (hanya alat ukur jenis merkuri).
F
pv
= Faktor superkompressibilitas.

C. Gas Oil Ratio, Water Oil Ratio dan Gas Liquid Ratio
Selama berlangsungnya produksi terjadi penurunan tekanan reservoir terus-menerus. Setelah
melewati tekanan titik gelembung maka gas yang semula terlarut dalam minyak terbebaskan.
Gas yang terbebaskan ini ikut terproduksi bersama minyak. Rasio gas/minyak (GOR) adalah
perbandingan gas bebas atau gas terlarut dalam minyak dan gas tanpoa adanya air yang ikut
Identifikasi problem produksi 18
terproduksi, maka minyak dan gas ikutan mengalir bersama-sama ke permukaan. Secara
matematis, GOR dinyatakan sebagai perbandingan antara laju produksi gas (Q
g
) dan laju
produksi minyak (Q
o
) dalam kondisi reservoir sebagai berikut :
..........................................................................(3-10)
Untuk menyatakan kondisi permukaan, maka Persamaan 3-26 berubah menjadi :
..................................................(3-11)

dimana :
GOR = R
s
= Rasio gas/minyak pada kondisi reservoir, SCF/STB.
Q
g
= Laju produksi gas, cuft/d.
Q
o
= Laju produksi minyak, bbl/d.
k
g
= Permeabilitas efektif gas, md.
k
o
= Permeabilitas efektif minyak, md.

g
= Viskositas gas, cp.

o
= Viskositas minyak, cp.
(GOR)
PERMUKAAN
= R
P
= GOR Produksi, SCF/STB.
B
o
= Faktor volume formasi minyak, bbl/STB.
B
g
= Faktor volume formasi gas, cuft/SCF.
Untuk P
s
di atas P
b
, maka produksi fluida belum menghasilkan gas bebas sehingga harga GOR
sama dengan keluaran gas dalam minyak mula-mula (R
si
). Dengan naiknya produksi kumulatif,
maka P
s
sampai di bawah P
b
dan gas bergerak ke permukaan sehingga S
g
sumur naik dan k
o

turun, yang selanjutnya menaikkan GOR produksi.
Rasio air/minyak (WOR) adalah perbandingan antara laju produksi air (Q
w
) terhadap laju
produksi minyak (Q
o
). Jika reservoir berproduksi minyak dan air tanpa adanya gas yang ikut
terproduksi, maka minyak dan air mengalir bersama-sama ke permukaan. Pada kondisi reservoir
besarnya WOR dapat ditulis sebagai berikut :
..........................................................................(3-12)
Untuk kondisi permukaan WOR dinyatakan sebagai berikut :
..........................................................................(3-13)
dimana harga faktor volume formasi air (B
w
) = 1.0 bbl/STB.
Jika aliran minyak yang bercampur dengan air dan gas, maka diturunkan persamaan rasio
gas/cairan (GLR). GLR didefinisikan sebagai perbandingan antara laju produksi gas (Q
g
) dan
laju produksi cairan total (Q
o
+ Q
w
). Persamaan GLR dinyatakan sebagai berikut :
......................................(3-14)
dimana
w
= viskositas air (cp) dan k
w
= permeabilitas efektif air (md) dan B
w
= 1.0
bbl/STB.
D. Basic Sediment and Water
Identifikasi problem produksi 19
Penentuan kadar air dan sedimern (BS & W) dari minyak mentah dilakukan memakai centrifuge
yang terdiri dari centrifuge, centrifuge tube 100 ml dan transformer. Sampel BS & W diambil di
kepala sumur, choke manifold atau keluaran separator jika dimungkinkan.
Caranya adalah sebagai berikut :
1. Mengambil 100 ml sampel minyak dari kepala sumur sebanyak 4 kali.
2. Memasukkan sampel ke dalam centrifuge tube dalam posisi berpasangan.
3. Centrifuge tube dimasukkan ke dalam centrifuge.
4. Menghubungkan centrifuge dengan trnasformer.
5. Mengatur timer dalam 10 menit.
6. Mengatur regulator pada posisi 0 dan membaca putaran tiap menit (rpm).
7. Setelah berhenti, mengambil centrifuge tube dan melaporkan BS & W dalam prosen.
8. Jika minyak berelmusi tinggi, maka sampel ditambahkan emulsion breaker 3 tetes.
Informasi yang bisa didapatkan dari analisa BS & W adalah identifikasi kandungan
sedimen/padatan dalam minyak mentah, emulsi, korosi & scale.
E. Identifikasi Water Cut
Identifikasi water cut pertama kali dengan mengamati kelakuan kurva log resistivitas,
baik kurva resistivitas induksi dalam (R
d
) dan mikrosferikal (R
MSFL
) ditunjang dengan log
porositas densitas-netron dan kurva gamma ray. Kurva resistivitas mendefinisikan keberadaan air
yang memiliki konduktivitas tinggi (beresistivitas rendah) dari pembacaan kurva R
d
< R
MSFL
.
Kurva densitas dan netron menunjukkan harga yang tinggi, karena air berdensitas tinggi dan
banyak mengandung atom hidrogen minyak. Kurva gamma ray mendefinisikan lapisan porus dan
permeabel berkandungan air dan minyak.
Identifikasi selanjutnya dilakukan dengan uji produksi melalui pengukuran laju produksi
air dan laju cairan total. Water Cut (WC) didefinisikan sebagai perbandingan antara laju produksi
air (Q
w
) dan laju propduksi cairan total (Q
o
+ Q
w
) dan dinyatakan sebagai berikut :
..................................................(3-15)
dimana : B
w
= 1.0 bbl/STB.

Identifikasi Kepasiran
Problem kepasiran terjadi akibat rusaknya kestabilan dari ikatan butir-butir pasir yang
disebabkan oleh adanya gaya gesekan serta tumbukan yang ditimbulkan oleh suatu aliran dari
fluida dimana laju aliran yang terjadi melampaui batas maksimum dari laju aliran kritis yang
diperbolehkan, sehingga butiran-butiran pasir akan ikut terproduksi bersama-sama minyak ke
permukaan.
Butiran - butiran pasir yang terkumpul di dalam suatu sistem akan membentuk suatu ikatan antar
butiran itu sendiri dalam suatu ikatan sementasi yang mana ikatan sementasi tersebut membuat
butiran-butiran itu pasir bersatu dan kuat. Semakin besar harga faktor sementasi yang didapat,
maka akan semakin kuat ikatan antar butiran butiran pasir yang ada dan semakin
terkonsolidasi, demikian juga sebaliknya semakin rendah harga faktor sementasi, semakin rendah
tingkat konsolidasinya, dan akhirnya butiran - butiran pasir tersebut akan mudah lepas.
Identifikasi problem produksi 20
Harga faktor sementasi ini dapat diketahui dari analisa yang dilakukan pada core yang
didapatkan dan analisa tersebut merupakan analisa core spesial yang merupakan rangkaian dari
suatu penilaian formasi. Dimana merupakan harga faktor sementasi yang diperoleh dapat
digunakan untuk mengidentifikasikan adanya kemungkinan problem kepasiran, semakin kecil
faktor sementasi yang diperoleh maka semakin besar kemungkinan problem kepasiran terbentuk.
Archie mengemukakan suatu persamaan yang meupakan hubungan antara porositas, faktor
sementasi dan faktor formasi, yang dapat digunakan untuk menentukan sementasi batuan, ini
ditunjukkan dalam persamaan :

..(3-16)
..(3-17)

dimana ;
F = faktor formasi
= porositas batuan
m = faktor sementasi
R
o
= resistivitas batuan dengan saturasi 100% air
R
w
= resistivitas air formasi

Tabel III 1
Faktor Sementasi untuk Berbagai Jenis Batuan
Litologi Harga m
Batupasir
Loose uncemented sand
Slightly cemented sand
Moderatly cemented sand
Well cemented sand

Batugamping
Moderatly porous limestone
Some oolitic limestone

1,3
1,3 1,7
1,7 1,9
1,9 2,2


2
2,8


3.1.1. Identifikasi Coning
Produksi air atau gas yang berlebihan sebelum waktunya merupakan indikasi terjadinya water /
gas coning dan water / gas fingering. Oleh karena itu sejak awal produksi, sumur sudah harus
diperhatikan kemungkinan kemungkinan penanggulangannya.
Penyebab water / gas coning adalah adanya zone air / gas yang cukup besar dibawah maupun
diatas zone minyak. Untuk mengidentifikasi suatu sumur akan mengalami water / gas coning
perlu diketahui antara lain:
Identifikasi problem produksi 21

a. Jenis Reservoir
Misalnya reservoir water drive untuk kasus water coning dan reservor gas cap drive untuk kasus
gas coning. Sedangkan data untuk mengetahui jenis reservoir tersebut diperoleh dari data
eksplorasi.
b. Karakteristik Reservoir
Data karakteristik reservoir meliputi:
- Ketebalan zone minyak, yang diperoleh dari logging
- Permeabilitas efektif minyak dari arah vertikal dan horisontal, diperoleh dari analisa inti
batuan.
- Massa jenis minyak, air dan gas, diperoleh dari analisa fluida reservoir.
- Faktor volume formasi dan viskositas fluida, yang diperoleh dari FVT.
Dari data diatas maka dapat dihitung kapasitas produksi kritis. Dengan perhitungan tersebut
dapat diperkirakan kapan sumur tersebut akan memproduksi air atau gas.
Penyebab dari water atau gas fingering karena adanya perbedaan permeabilitas pada reservoir
berlapis. Data yang perlu diketahui untuk mengidentifikasi problem ini adalah:
a. Karateristik Reservoir meliputi :
- Densitas air, gas, dan minyak , yang diperoleh dari analisa fluida reservoir.
- Tebal reservoir dan jari jari lubang bor, diperoleh dari logging.
- Jari jari pengurasan, diperoleh dari test sumur
- Permeabilitas efektif minyak, diperoleh dari analisa inti batuan.
- Viscositas, yang diperoleh dari FVT
b. Jenis Reservoir
c. Kondisi Reservoir
- Tekanan, diperoleh dari well test.
Identifikasi problem produksi 22
Dengan menempatkan perforasi dan menggunakan laju aliran yang sesuai, tentunya
diharapkan problem ini dapat dihindari semaksimal mungkin.
Identifikasi Emulsi
Jenis water in oil emultion jika dibandingkan dengan oil in water emultion lebih sering terjadi
dan ditemui di lapangan. Karena sering ditemukan, maka untuk mengidentifikasikan ada
tidaknya emulsi tersebut dapat digunakan salah satu cara yaitu berupa analisa fluida hidrokarbon
yang dilakukan di laboratorium. Adapun metode yang digunakan adalah Dean and Stark
Methode , ini merupakan pengidentifikasian problem emulsi secara tidak langsung
Sedangkan identifikasi secara langsung dapat dilihat dari hasil production test yang berupa yang
berupa water oil ratio (WOR). Dari WOR tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar harga
WOR maka makin besar pula kandungan air dalam minyak, maka tendensi untuk timbulnya
emulsi menjadi makin besar. Disamping itu dari tipe tenaga pendorong air (water drive
mechanism) juga dapat menimbulkan emulsi karena semakin banyak air yang ikut terproduksi
sejalan dengan produksi jika dibandingkan dengan minyak yang ada.
Pada analisa fluida formasi tadi harga standar yang diijinkan untuk perbandingan antara air
dengan minyak berkisar antara 2 3%. Diatas ataupun dibawah harga standart tersebut dapat
menyebabkan kemungkinan timbulnya emulsi, baik itu water in oil emultion maupun oil in water
emultion
Identifikasi Endapan Scale
Identifikasi problem dapat dilakukan dari air formasi yang diambil dari production test.
Identifikasi ini dilakukan dengan mengadakan perhitungan kelarutan.
Perhitungan kelarutan dapat digunakan untuk meramalkan pembentukan beberapa scale.
Perhitungan tersebut mengindikasikan derajat dan scaling tendensi (kecenderungan pembentukan
scale). Harga yang didapat dari prosedur perhitungan sebaiknya diambil hanya sebagai petunjuk
karena anggapan yang mempermudah telah dibuat pada penurunan setiap persamaan. Sedangkan
kelarutan pada air alamiah adalah gejala yang komplek. Apabila ditemukan sumber air yang
menunjukkan gejala scaling maka harus dihindari atau melakukan treatment. Begitu pula harus
dihindari tercampurnya air yang analisa komposisinya menunjukkan kecenderungan
pengendapan scale. Berikut akan diuraikan perhitungan kelarutan calsium carbonat, calsium
sulfat, dan barium sulfat.
a. Perhitungan calcium carbonat
Metode yang dipakai adalah metode Stiff dan Davis sebagai perluasan metode Langelier. Indeks
kelarutan dari Langelier dikembangkan untuk memperkirakan pembentukan scale CaCO
3
dari
fresh water oleh Stiff dan Davis untuk digunakan dalam analisa air formasi.
Persamaan empirisnya adalah sebagai berikut:
SI = pH pHs .(3-18)
pHs = K p Ca p Alk .(3-19)
SI = pH K p Ca p Alk .(3-20)
Dimana :
SI = Scaling indeks. Jika SI berharga (-), air dibawah kejenuhan dan scale tidak
terbentuk.
pH = pH air sebenarnya
Identifikasi problem produksi 23
K = konstanta yang merupakan fungsi komposisi, salinitas dan temperatur air. Harga
K didapat dari hubungan grafik dengan ionic strength dan temperatur air.
Ionic Strength adalah :
= (c
1
z
1
2
+ c
2
z
2
2
+ c
3
z
3
2
+ .. c
n
z
n
2
)
c = Konsentrasi ion dalam mole/1000 gr air
z = Valensi ion


Dimana total alkalinity = CO
3
2-
+ HCO
3
-

Dalam menghitung kelarutan Kalsium Carbonat dengan cara ini, kita harus mengetahui
pH, temperatur air dan konsentrasi ion-ion : Na
+
, Ca
++
, Mg
++
, Cl
-
, CO
3
2-
, HCO
3
-
, dan SO.
Sangat penting bahwa pH CO
3
2-
dan HCO
3
-
diukur di lapangan segera setelah contoh diambil,
karena parameter ini berubah sangat cepat setelah sampling. Perhitungan yang akurat tidak bila
diperoleh di laboratorium.
Harga K adalah fungsi dari ionis strength dan chart untuk menentukan p Ca dan p Alk yang
didapat dari grafik (Lampiran).
Hasil dari perhitungan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Hasil SI negatif, maka air tidak jenuh dengan CaCO
3
dan scale tidak terbentuk.
2. Hasil SI positif, maka air diatas kejenuhan CaCO
3
dan terdapat indikasi terbentuknya scale.
3. Hasil SI nol, maka air pada titik kejenuhan.

b. Perhitungan kelarutan Calcium Sulfate (Gypsum)
Metode yang digunakan adalah Metode Skillman, McDonald dan Stiff. Metode ini banyak
digunakan untuk memperkirakan kelarutan Gypsum di lapangan minyak pada temperatur diatas
80
o
C.
Metode ini didasarkan pada penguykuran kelarutan thermodinamika dan mempunyai dasar
teoritis sebagai berikut :
..(3-21)
Dimana :
S = Kelarutan gypsum hasil perhitungan (meq/l)
K = Konstanta yang merupakan fungsi komposisi air dan temperatur yang disebut Solubility
Product Constant (konstanta hasil kelarutan). Harga K didapat dari grafik korelasi dengan ionic
strength seperti halnya pada CaCO
3
. k sebagai fungsi ionic strength diberikan pada lampiran.
X = Kelebihan konsentrasi ion dalam grol/liter. Ini adalah perbedaan konsentrasi ion Calcium
dan Sulfate.
Data yang sama diperlukan dalam perhitungan ini seperti halnya pada perhitungan SI.
Perhitungan kelarutan gypsum (ml/l) dibanding dengan konsentrasi aktual Ca
==
dan SO
4
2-
yang
terdapat di dalam air.
Identifikasi problem produksi 24
Jika S lebih kecil dari yang terkecil dari kedua konsentrasi (Ca
++
dan SO
4
2-
) maka scale gypsum
akan terbentuk. Jika S lebih besar maka air tidak dijenuhi oleh gypsum dan scaling tidak
mungkin terbentuk.
c. Perhitungan kelarutan Barium Sulfate
Kita dapat mempekirakan kelarutan BaSO
4
dalam air yang mengandung ion sodium dan chlorida
yang agak dominan dan ion calcium yang sangat kecil, tetapi hal tersebut tidak begitu penting
karena kelarutan BaSO
4
sangat terbatas sehingga adanya ion Ba
++
dan SO
4
=
menujukkan
kemungkinan terbentuknya scale.
Pembentukan scale dan plugging di sumur injeksi sering diakibatkan oleh bercampurnya dua
atau lebih air yang sesungguhnya tidak boleh digabungkan (incompatible). Bila air tersebut
dialirkan sendiri-sendiri maka tidak akan menyebabkan problem scale, tetapi bila digabungkan
akan terjadi reaksi antara ion-ion yang terlarut dari masing-masing air dan membentuk endapan.
Sebagai contoh : adalah salah bila mencampur air yang mengandung banyak ion Ba
++
dan air
yang mengandung banyak ion SO
4
=
, karena endapan BaSO
4
akan terbentuk.
Situasi akan menjadi rumit bila lebih dari dua air yang bercampur. Mencampurkan dua atau lebih
air yang incompatible dipermukaan tidak dianjurkan digunakan untuk sumur injeksi.
Problem lain akan timbul jika air injeksi tidak compatible dengan air formasi. Tetapi hanya
sedikit plugging yang disebabkan oleh hal tersebut pada sumur injeksi, karena hanya sedikit
daerah kontak air injeksi dan formasi. Problem yang serius timbul sesudah air injeksi menerobos
(breaktrough) ke sumur produksi dimana kesempatan air untuk kontak semakin besar, sehingga
semakin banyak air injeksi yang terproduksi dan akan semakin banyak pembentukan scale (di
daerah produksi).
Kompabilitas dari air yang bercampur dapat diperkirakan dengan perhitungan atau
dengan percobaan. Penentuan dengan percobaan lebih dapat dipercaya apabila contoh air yang
akan bercampur ada.
Perhiyungan kelarutan yang dilakukan adalah:
1. Analisa air yang akan dicampur
2. Hitung komposisi anion dan kation untuk beberapa perbandingan percampuran yang
mungkin terjadi
3. Hitung kecenderungan pengendapan scale
Sedangkan pengetesan kompabilitas air adalah sebagai berikut: Air contoh yang akan dicampur
di saring untuk menghilangkan padatan yang tersuspensi dan kemudian dicampur pada berbagai
macam perbandingan, kemudian diamati apakah menimbulkan endapan atau tidak.
Identifikasi Endapan Parafin dan Aspal
Masalah endapan parafin pada prinsipnya terjadi karena sifat yang dimiliki oleh minyak yang
diproduksikan, yaitu berkaitan dengan komposisi minyak, dimana komposisi minyak tersbut
dapat mempengaruhi harga titik kabut (cloud point) dan titik tuang (pour point) dari minyak
yang bersangkutan
Pada umumnya endapan parafin terjadi bila minyak yang diproduksikan banyak mengandung
komponen berat (C
18
- C
38
) atau biasa disebut minyak berat, dengan demikian dapat dikatakan
bahwa minyak berat sering menimbulkan endapan parafin. Selain itu parafin dapat juga
terbentuk jika temperatur minyak lebih rendah dari pour dan cloud pointnya.
Identifikasi problem produksi 25
Kemungkinan terbentuknya endapan parafin dapat diidentifikasikan dari analisa drilling log pada
contoh cutting yang didapatkan dari analisa tersebut dapat diperkirakan jenis hidrokarbon yang
ada apakah termasuk minyak berat atau minyak ringan.
Selain dari analisa drilling log endapan parafin dapat juga diidentifikasikan dari analisa air
formasi yang dilakukan di laboratorium yang berupa uji harga pour point dan cloud point dari
minyak yang ada, dimana endapan parafin akan terbentuk pada temperatur yang lebih rendah
dari pour point serta cloud point-nya.

Dengan demikian identifikasi problem endapan parafin dapat dilakukan dari data yang didapat
dari penilaian formasi seperti drilling log dan analisa air formasi.
Identifikasi Korosi
Ada beberapa cara yang digunakan untuk mengidentifikasi adanya problem korosi, yaitu :

1. Pemeriksaan secara langsung
Pada metode ini peralatan yang digunakan diperiksa secara langsung kerusakan yang terjadi
akibat adanya korosi. Metode ini memang mudah dan sederhana, tetapi tentu saja
pemeriksaannya hanya terbatas pada peralatan yang terlihat oleh mata, sedang bagian dalam
peralatan digunakan peralatan tersendiri.
Identifikasi problem produksi 26
a. Caliper Survey
Caliper survey dilakukan untuk memeriksan bagian dalam tubing atau casing. Cara ini sangat
berguna untuk mengetahui area kerusakan akibat korosi.
b. Casing Thickness Log
Disini digunakan suatu alat untuk mengukur ketebalan casing. Jika logam yang hilang dari
bagian dalam casing diukur dengan caliper log, maka kehilangan logam pada bagian luar casing
dapat diperkirakan dari data thickness log.
c. Mengukur Kehilangan Logam dengan Coupons
Disini sepotong logam (coupon) disisipkan ke dalam sistem untuk suatu waktu tertentu.
Sebelumnya logam tersebut ditimbang dahulu. Dengan demikian dapat ditentukan jumlah logam
yang hilang, masa jenis logam dan waktu yang diperlukan. Laju korosi biasa dinyatakan dalam
mils per year (MPY).



Adapun satuan yang biasa digunakan untuk menyatakan derajat korosi adalah:
Laju korosi < 5 MPY ; korosi ringan
Laju korosi 5 MPY ; korosi sedang
Laju korosi 15 MPY ; korosi berat

2. Pemeriksaan secara tidak langsung
Mengetahui korosi secara tidak langsung yaitu dengan mengadakan analisa air formasi, hal ini
dimaksudkan untuk:
a. Memperkirakan adanya korosi dengan menentukan kadar O
2
, H
2
S, CO
2
dalam air
yang diproduksikan.
b. Mengetahui efektifitas inhibitor dengan jalan menentukan kadar besi dalam fluida
yang diproduksikan sebelum dan sesudah pemakaian inhibitor.
3. Pengukuran ketebalan metal dari satu sisi
Dengan menggunakan audio gauge dan penetron dapat mengukur ketebalan pipa dan dinding
tangki hanya dari satu sisi sisi saja. Audio gauge mengukur kecepatan suara dalam metal
sedangkan penetron mengintensitaskan sinar gamma yang dihamburkan oleh metal.

Diposkan oleh FATMA PETROLEUM di 10.46