Anda di halaman 1dari 9

BUDAYA MASSA DAN BUDAYA POPULER

Diposkan oleh dyah hapsari di 08:30


Menurut Dennis McQuail (1994:31), kata massa berdasarkan sejarah mempunyai dua makna,
yaitu positif dan negatif. Makna negatifnya adalah berkaitan dengan kerumunan (mob),atau
orang banyak yang tidak teratur, bebal, tidak memiliki budaya, kecakapan dan rasionalitas.
Makna positif, yaitu massa memiliki arti kekuatan dan solidaritas di kalangan kelas pekerja biasa
saat mencapai tujuan kolektif.

Sehubungan dengan makna komunikasi terutama komunikasi massa, makna kata massa mengacu
pada kolektivitas tanpa bentuk yang komponen-komponennya sulit dibedakan satu dengan yang
lainnya, maka masssa sama dengan suatu kumpulan orang banyak yang tidak mengenal
keberadaan individualitas.
Blumer (1939) dalam McQuail (2002:41), mengemukakan ada empat komponen sosiologis yang
mengandung arti massa, yaitu :
1. Anggota massa adalah orang-orang dari posisi kelas sosial yang berbeda, jenis pekerjaan yang
berlainan , dengan latar belakang budaya yang bermacam-macam , serta tingkat kekayaan yang
beraneka atau berasal dari segala lapisan kehidupan dan dari seluruh tingkatan sosial.

2. Massa terdiri dari individu-individu yang anonim.

3. Biasanya secara fisik anggota massa terpisah satu sama lainnya dan hanya terdapat sedikit
interaksi atau penukaran pengalaman antar anggota-anggota massa dimaksud.

4. Keorganisasian dari suatu massa bersifat sangat longgar , dan tidak mampu untuk bertindak
bersama atau secara kesatuan, seperti hanya suatu kerumunan (crowd).

Secara umum pengertian massa ditandai dengan :
a. Kurang memiliki kesadaran diri.

b. Kurang memiliki identitas diri

c. Tidak mampu bergerak secara serentak dan terorganisir untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

d. Massa ditandai oleh komposisi yang selalu berubah dan berada dalam batas wilayah yang
selalu berubah pula.

e. Masssa tidak bertindak dengan dirinya sendiri , tetapi dikooptasi untuk melakukan suatu
tindakan.

f. Meski anggotanya heterogen , dan dari semua lapisan sosial, massa selalu bersikap sama dan
berbuat sesuai dengan persepsi orang yang mengkooptasi mereka .

Konsep masssa kemudian mengandung pengertian masyarakat secara keseluruhan " masyarakat
massa"( the mass society). Menurut McQuail (2002 :39), massa ditandai oleh (1) memiliki
agregat yang besar;(2) tidak dapat dibedakan;(3) cenderung berpikir negatif; (4) sulit diperintah
atau diorganisasi; dan (5) refleksi dari khalayak massa.

Media massa adalah institusi yang menghubungkan seluruh unsur masyarakat satu dengan
lainnya dengan memulai produk media massa yang dihasilkan. Secara spesifik institusi media
massa adalah (1) sebagai saluran produksi dan distribusi konten simbolis ;(2) sebagai institusi
publik yang bekerja sesuai aturan yang ada;(3) keikutsertaan baik sebagai pengirim atau
penerima adalah sukarela;(4) menggunakan standar profesional dan birokrasi; dan (5) media
sebagai perpaduan antara kebebasan dan kekuasaan (McQuail, 2002:15)

Kehidupan masyarakat kota, pada umumnya , satu sama lain tidak saling mengenal dan interaksi-
interaksi mereka didasari oleh kepentingan dan kebutuhan yang dilandasi pada hubungan
sekunder , sehingga secara real media massa telah menjadi salah satu kebutuhan dalam
berinteraksi di dalam masyarakat perkotaan satu dengan lainnya.

Penggunaan media massa berbeda dengan komunikasi antar pribadi. Media massa membutuhkan
persyaratan tertentu dari pemakainya. Pertama adalah orang harus bisa membaca, sebelum
mengkonsumsi surat kabar atau majalah. Kedua,orang harus memiliki pesawat radio atau
televisi, bila akan mengikuti siarannya, atau punya uang untuk beli karcis bila akan menonton
film. Ketiga, kebiasaan memanfaatkan media ( media habit). Untuk menjadi khalayak media
massa, maka ketiganya perlu dimiliki atau dilakukan. Apabila tidak, maka mereka tidak bisa
menjadi khalayak media massa atau masyarakat media.

Dalam penyampaian berbagai produk tayangan, media massa berupaya menyesuaikan dengan
khalayaknya yang heterogen dan berbagai sosio-ekonomi, kultural, dan lainnya. Produk
mediapun pada akhirnya dibentuk sedemikian rupa , sehingga mampu diterima oleh banyak
orang . Di sisi lain , media juga sering kali menyajikan berita, film, dan informasi lain dari
berbagai negara sebagai upaya media memberikan pilihan yang memuaskan bagi khalayak nya.
Produk media baik yang berupa berita, program keluarga, kuis, film dan sebagainya , disebut
sebagai upaya massa yaitu karya budaya.

Berdasarkan ciri yang demikian., maka seni hiburan ini banyak diproduksi media untuk menarik
sebanyak mungkin khalayaknya.Hal ini tidak hanya dipengaruhi kebutuhan khalayak massa yang
heterogen, juga adanya kepentingan komersial media yang kini masuk sebagai industri yang
membutuhkan dana besar melalui iklannya . Budaya massa dibentuk disebabkan :

1. Tuntutan industri kepada pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tempo
singkat. Maka si pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tampo singkat, tak
sempat lagi berpikir, dan dengan secepatnya menyelesaikan karyanya. Mereka memiliki target
produksi yang harus dicapai dalam waktu tertentu.

2. Karena massa budaya cenderung "latah" menyulap atau meniru segala sesuatu yang sedang
naik daun atau laris, sehingga media berlomba untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.

Pada umumnya budaya massa dipengaruhi oleh budaya populer. Pemikiran tentang budaya
populer menurut Ben Agger ( 1992;24) dapat dikelompokkan pada empat aliran (a) budaya
dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial dan mengentaskan orang dari
kejenuhan kerja sepanjang hari;( b) kebudayaan populer menghancurkan nilai budaya
tradisional;(c) kebudayaan menjadi masalah besar dalam pandangan ekonomi Marx kapitalis;
dan (d) kebudayaan populer merupakan budaya yang menetes dari atas.

Kebudayaan populer banyak berkaitan dengan masalah keseharian yang dapat dinikmati oleh
semua orang atau kalangan orang tertentu , seperti pementasan mega bintang, kendaraan pribadi,
fashion, model rumah, perawatan tubuh, dan semacamnya.

Budaya juga memiliki nilai yang membedakan satu budaya dengan budaya lainnya. Budaya yang
memiliki nilai tinggi dibedakan dengan budaya yang memiliki nilai dibawahnya. Namun dalam
budaya populer , `perangkat media massa` seperti pasar rakyat, film,buku,televisi, dan jurnalistik
akan menuntun perkembangan budaya pada ` erosi nilai budaya`.

Kebudayaan Memiliki Ciri-ciri Adaptif, Integratif, dan Dinamis

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka
kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan dapat dikatakan
sebagai suatu sistem dalam masyarakat yang menjadi tempat terjadinya interaksi antar
individu/kelompok dengan idnividu/kelompok lain sehingga menimbulkan suatu pola tertentu,
kemudian menjadi sebuah kesepakatan bersama (baik langsung ataupun tidak langsung).
Kebudayaan adalah khas hasil manusia, karena di dalamnya, manusia menyatakan dirinya
sebagai manusia, mengembangkan keadaannya sebagai manusia, dan memperkenalkan dirinya sebagai
manusia. Dalam kebudayaan, bertindaklah manusia sebagai manusia dihadapan alam, namun ia
membedakan dirinya dari alam dan menundukkan alam bagi dirinya.
Kebudayaan adalah suatu mekansime yang dapat menyesuaikan diri.Kebudayaan adalah sebuah
keberhasilan mekanisme bagi manusia. Kebudayaan memberikan kita sebuah keuntungan selektif yang
besar dalam kompetisi bertahan hidup terhadap bentuk kehidupan yang lain.
Menurut WF Ogburn ada dua sisi budaya, yaitu kebudayan materiil dan non materiil.
Kebudayaan materiil adalah segala produk yang dihasilkan berupa materi, sedangkan kebudayaan non
materiil (selanjutnya disebut budaya adaptif) adalah kemampuan penyesuaian atas perubahan materi yang
terjadi. Umpamanya perubahan global atas sistem dan produksi disebutsebagai perubahan dallam sisi
materi, namun penyesuaian budaya masyarakat atas sistem maupun barang-barang baru disebut budaya
adaptif.

Dalam hal adaptasi kebudayaan, bangsa kita termasuk yang tertinggal dan tingkat adaptasinya
rendah. Misalnya saja internet, barang baru bagi masyarakat Indonesia. Internet sebagai ikon global sudah
menjamur ke pinggiran kota dan mungkin merambah pedesaan, sebagaimana VCD. Rental dibuka dengan
ruang yang diberi sekat. Penyekatan ruang adalah sebagai penjagaan terhadap privacy. Disana orang lebih
dapat berkonsentrasi browsing, dan lainnya. Orang-orang dapat mengakses apa saja yang mereka mau dan
melihat dunia dengan segala aspeknya, bahkan lekuk-lekuk tubuh yang paling tabu sekalipun. Akan
tetapi, sering terjadi permainan seksual di ruang rental internet, yang tentu bukan pada tempatnya.
Internet digunakan untuk mengakses video porno, sementara sepasang pengakses menikmati kegiatan
seksual pula. Peristiwa ini merambah masyarakat terutama remaja. Hal ini menjadi bukti ketidakadaptifan
masyarakat dalam dinamika budaya yang berupa teknologi. Ketidaksiapan masyarakat terhadap
perubahan budaya akan mengakibatkan terjadinya culture shockatau goncangan budaya.

Konsep Kebudayaan adalah kerangka acuan teoritis dalam usaha pengembangan kebudayaan.
Dengan landasan ini maka kebudayaan dapat dipahami sebagai suatu tatanan sistem nilai dan
perwujudannya dalam kenyataan material dan perilaku social. Identitas kebudayaan bukanlah suatu sosok
utuh dan padat tetapi terdiri atas unsur-unsur dengan variasi dan tumpang tindih yang memungkinkan
adanya persamaan di antara perbedaan-perbedaan. Pengertian kebudayaan demikian mereduksi konflik
antar dan intra etnik yang bersifat terbuka untuk perkembangan.

Identitaspun dipahami dengan kelenturannya untuk memperoleh kemampuan integratif yang lebih
luas, dengan memahami dialektika perkembangan antara identitas dengan integrasi yang berlangsung
terus menerus.

Kebudayaan juga memiliki ciri dinamis atau selalu mengalami perubahan yang berarti pula tidak
statis.Kebudayaan bukan sesuatu yang terus-menerus tetap (bertumpuk). Pada waktu yang sama dimana
suatu kebudayaan ada, terdapat tanda-tanda kebudayaan baru. Tanda-tanda itu bisa sebagai tambahan
(addition)atau pengurangan (subtraction).Tanda-tanda ini menyebabkan perubahan kebudayaan. Hal ini
disebabkan kebudayaan berubah dan berkembang secara dinamis setiap saat: kebudayaan tidak statis.
Berbagai aspek kebudayaan beserta tanda-tandanya akan terjalin rapat menjadi suatu pola yang sangat
komplek.

Walaupun kebudayaan mengalami perubahan dan perkembangan, namun jati diri suatu
kebudayaan dapat lestari; artinya lestari yang dinamis, yaitu ciri-ciri pengenalnya secara keseluruhan
tetap dimiliki, meskipun bentuk-bentuk ungkapan di dalamnya dapat mengalami perubahan (Sedyawati,
2008: 290). Oleh karena itu, pelestarian yang dilakukan pun juga merupakan pelestarian dinamis.
Berkaitan dengan seni dan budaya daerah, upaya-upaya pelestarian dinamis yang dapat ditempuh antara
lain:
a. pendokumentasian secermat mungkin dengan menggunakan media-media yang sesuai; hasil dokumentasi
ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai sumber acuan dengan syarat disimpan di tempat yang aman dan
diregistrasi secara sistematis agar penelusurannya mudah.
b. pembahasan dalam rangka penyadaran, khususnya tentang nilai-nilai budaya, norma, dan estetika.
c. pengadaan acara penampilan yang memungkinkan orang mengalami dan menghayati (Sedyawati, 2008:
280).

Dengan kegiatan pelestarian dinamis itu, diharapkan akan terbentuk suatu kesadaran kultural
yang terdapat pada setiap insan Indonesia (Kartodirdjo, 1994a dan 1994b).
Perjalanan kebudayaan diharapkan senantiasa dapat menciptakan momentum yang memberikan
ruang kepada siapa saja untuk terlibat dalam mengembangkan kebudayaan melalui proses yang dialogis,
dimana setiap orang, komunitas, komponen masyarakat bisa turut mewarnai kebudayaan tersebut secara
aktif. Dengan demikian kebudayaan terus berjalan dan terbuka bagi suatu perubahan yang dinamis ke
arah pengembangan yang partisipatif dan berperadaban. Kebudayaan merupakan proses penghadiran
fragmen kebersamaan dengan mengembangkan sikap penghargaan atas keberanekaan dan keberbedaan.
Maka, kebudayaan menjadi milik bersama tanpa hegemoni dan monopoli satu atas yang lain. Itulah
hakekat kehidupan kebudayaan yang kita cita-citakan.
Kebudayaan Indonesia tidak akan kaya seperti yang kita yakini sekarang ini jika para leluhur kita
tidak menerima kebenaran budaya Hindu, Budha, Islam, Kristen, Cina, Barat dan lain-lain. Sebaliknya,
sejarah telah mencatat dengan jelas bahwa ketidakterimaan pada keberagaman telah menimbulkan
berbagai konflik dahsyat yang meruntuhkan derajat dan martabat kemanusiaan.Sesanti Bhinneka Tunggal
Ika tidak lahir begitu saja tanpa penghayatan dan kristalisasi pengalaman kesejarahan para leluhur kita.
Kebanggan terhadap kekayaan budaya sendiri bukan tidak diperlukan, tetapi ketika kebanggaan
itu menutup dan menghalangi pandangan kritis terhadap milik sendiri dan menutup mata terhadap
perkembangan di luar, serta menganggap budaya yang ada sebagai puncak kebudayaan yang tabu untuk
berubah dan diubah adalah sesuatu yang menghawatirkan. Bukan saja itu merupakan ancaman bagi
perkembangan kebudayaan itu sendiri tapi sikap tersebut adalah tindakan yang tak berbudaya dan anti
budaya, karena kebudayaan hakekatnya adalah perubahan.
Konsep kebudayaan simbolik dan interpretatif menggambarkan hubungan antara simbol-simbol
budaya dan kehidupan sosial sebagai suatu hubungan satu arah dimana simbol-simbol budaya
menginformasikan, mempengaruhi dan membentuk kehidupan sosial. Dengan konsep ini simbol-simbol
budaya tidak dipandang sebagai sesuatu yang sui generis (terbentuk dengan sendirinya) dimana nilai-nilai
budaya dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari. Setiap
komponen masyarakat adalah subyek dalam ikut membentuk nilai-nilai budaya. Antara manusia dan
kebudayaannya terdapat sesuatu proses interaksi terus-menerus, dimana manusia mencoba mengolah dan
mengkonstruksi simbol-simbol budaya demi kepentingannya dalam kondisi sosial, ekonomi dan politik.
Implikasi cara pandang yang demikian adalah simbol-simbol maupun nilai-nilai yang terkandung dalam
suatu kebudayaan senantiasa bersifat cair, dinamis, dan sementara, karena keberadaannya tergantung pada
kepentingan para pelakunya yang berada pada konteks sosial tertentu. Implikasi lain dari konsep ini
adalah bahwa suatu kebudayaan hanya dapat terwujud dalam kaitannya dengan masyarakat sebagai
subyek. Dengan kata lain, pendekatan ini menekankanketerlibatan setiap anggota masyarakat dalam
proses pengembangan kebudayaan itu sendiri.
Perbedaan konsep pemahaman terhadap kebudayaan mempunyai implikasi penting pada
pemahaman salah satu unsur kebudayaan misalnya kesenian. Pendekatan simbolik dan interpretatif akan
melihat kesenian sebagai suatu konsep analitis, sedangkan pendekatan subyek melihat kebudayaan
sebagai suatu proses dinamis yang berkaitan erat dengan kepentingan dan kekuasaan pelakunya, maka
proses berkesenian itu sendiri merupakan suatu proses kebudayaan. Maka karena ia merupakan proses
kebudayaan, maka proses berkesenian itupun berakar pada nilai-nilai kebudayaan tertentu.
Semua bentuk perubahan kesenian di atas, berangkat dari pemahaman dan nilai bahwa kesenian
adalah bagian dari upaya survive dalam kehidupan, posisi kesenian sebagai alat memenuhi kebutuhan
hidup dalam kontelk sosial ekonomi tertentu. Dan dalam pemahaman bahwa kebudayaan berada dalam
kekuasaan subyeknya, maka hal demikian adalah sesuatu yang wajar dalam proses kebudayaan.
Sumber rujukan:
1. Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi:Kebudayaan, Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
2. http://manshurzikri.wordpress.com/2009/11/27/karakteristik-kebudayaan/

3. http://staff.undip.ac.id/sastra/dhanang/2009/07/23/optimalisasi-peran-mahasiswa-dan-lembaga-
kebudayaan/

4. http://zh-hk.facebook.com/topic.php?uid=241157863696&topic=12693
5. http://hasanbasri08.wordpress.com/2010/01/01/mempertanyakan-perilaku-
berkebudayaan-kita/

TUGAS II
Kebudayaan Adiluhung
Kebudayaan tinggi dan kebudayaan massa
Kebudayaan tinggi atau adiluhung adalah gagasan atau anggapan bahwa suatu hasil kebudayaan
merupakan puncak kebudayaan yang bersifat absolut, luhurbahkan sakral dan karenanya tidak boleh
diubah. Konsep ini diteruskan dengan upaya melanggengkan, menjaga, sekaligus sebagai acuan untuk
memilah antara budaya tinggi dan budaya rendah.Budaya yang dianggap baik dan yang dianggap jelek.
Kesenian yang memenuhi kreteria baik dan kesenian yang berkreteria jelek.
Konsep kebudayaan massa bersifat antropologis karena berpusat pada makna hidup sehari-hari.
Makna dengan demikian bukanlah ditularkan secara individual, tetapi kolektif.Oleh karena itu, pengertian
mengenai kebudayaan adalah makna yang dibagikan. Pilihan konsep kebudayaan massa ini
memungkinkan dihadirkannya legitimasi atas budaya massa sebagai perilaku budaya yang dihargai bukan
sebagai budaya yang rendah.
Kegelisahaan utama berbagai kelompok masyarakat di belahan dunia mana pun adalah
bagaimana mempertahankan identitas jati dirinya. Bagaiaamana suatu suku bangsa memelihara dan
menjaga kelestarian nilai-nilai adiluhung yang diwariskan sehingga identitas tetap eksis di antara suku
bangsa lain.

Adanya berbagai pengaruh budaya asing sebagai dampak dari arus globalisasi menjadi tidak
terelakkan. Permasalahan terutama timbul ketika berbagai pengaruh tersebut diterima oleh generasi muda
yang belum mempunyai pegangan budaya. Generasi ini ada kesenjangan dengan generasi sebelumnya
yang diakibatkan oleh terhentinya pola pewarisan budaya. Pola pewarisan budaya ini terhenti antara lain
disebabkan oleh adanya kesenjangan penguasaan informasi dengan teknologinya. Golongan tua yang
masih memegang teguh tradisi budaya lama kurang dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi
dan contentnya. Dilain pihak generasi sekarang demikian cepat menangkap segala sesuatu yang baru
tanpa dibarengi adanya filter yang memang tidak dipersiapkan sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan
tidak adanya komunikasi yang baik antara generasi tersebut. Generasi baru ini kemudian melahirkan
generasi yang asing dengan budayanya sendiri. Sebagai misal bahasa Jawa halus kini semakin asing. Pada
akhirnya nilai-nilai budaya yang kemudian dianggap lama tersebut hanya menjadi bagian dari masa lalu.

Hal lain yang menjadi penyebab tersendatnya pola pewarisan budaya adalah rendahnya budaya
tulis dan lebih terbiasa dengan budaya lisan (tutur). Budaya lesan yang tidak terdokumentasi ini lambat
laun akan mengalami degradasi secara kualitas dan kuantitas. Hal itu antara lain terlihat dari berbagai
upacara ritual, simbol, ungkapan yang kehilangan makna ketika dijabarkan ditengah-tengah masyarakat.
Dalam upacara garebeg misalnya, ribuan manusia berebut makanan kraton berbekal pengetahuan latah
untuk mendapatkan berkah. Ditengah-tengah masyarakat, berbagai bentuk upacara selamatan
dilaksanakan tanpa makna. Sangat jarang dapat ditemui warga masyarakat yang mengetahui makna dan
maksud rasulan, selikuran, apem, kolak,ketan, sego golong dan sebagainya.

Berbagai kata bijak yang menunjukkan kearifan nilai-nilai budaya jawa pun mengalami nasib
yang tidak terlalu berbeda. Beberapa contoh kata bijak itu misalnya: ajining diri ana ing lathi ajininng
raga ana busana, cegah dahar lawan guling, dikenaa iwake aja nganti buthek banyune, lembah manah
lan andhap asor, ngono ya ngono ning aja ngono, wong jawa ngone semu dan lain-lain. (Pardi Suratno
dan Hanniy Astiyanto, 2004). Budaya-budaya yang bermakna dalam tersebut merupakan rembesan
budaya adiluhung yang sayangnya kini telah memudar di masyarakat.

Sebaliknya yang berkembang dimasyarakat adalah budaya massa atau mass culture. Budaya
massa timbul sebagai akibat dari massifikasi yakni bila orang kebanyakan memakai simbol lapisan atas.
Hal ini disebabkan karena dalam sektor budaya terjadi industrialisasi dan komersialisasi. Budaya massa
mempunyai ciri-ciri yang berkebalikan dengan budaya elite. Pelaku akan kehilangan jati dirinya sehingga
ini sebenarnya merupakan bentuk pembodohan. Ia hanya menerima produk budaya sebagai barang jadi
yang tidak boleh berperan dalam bentuk apapun. (Kuntowijoyo, 1997; hal. 55). Sehingga, istilah budaya
massa sebenarnya mengkonotasikan ejekan, merendahkan. Budaya massa mengacu kepada suatu
masyarakat tak berbudaya.

Apabila memudarnya budaya elite kita sayangkan, sebaliknya dengan budaya massa yang tumbuh
berkembang kita risaukan. Kerisauan akan perkembangan budaya massa antara lain disebabkan alasan
sebagai berikut. Pertama, budaya massa diproduksi secara massal berdasarkan perhitungan dagang belaka.
Kedua, kebudayaan massa merusak kebudayaan elite dengan berbagai cara bahkan dengan menyedot
potensi yang ada pada kebudayaan elite. Ketiga, kebudayaan massa menanamkan pengaruh buruk pada
masyarakat seperti masalah seksualitas, kekerasan dan kriminal yang merupakan ciri kuat dari
kebudayaan massa. Keempat, penyebarluasan kebudayaan massa dianggap tidak hanya mengurangi nilai
budaya elite akan tetapi juga menciptakan khalayak yang pasif. (Sapardi Djoko Damono, 1997; hal 49-
50).

Dalam kebudayaan massa akan menumbuhkan masyarakat yang konsumerisme, dimana faktor
penampilan akan dominan dan sebaliknya masyarakat dijauhkan dari orientasi religi. Konsumsi
masyarakat tidak didasarkan atas kebutuhan akan tetapi karena untuk faktor pencitraan. Inilah yang
disebut massifikasi. Masyarakat klass menengah akan bergaya hidup atas dan klass bawah akan bergaya
menengah. Sebaliknya, produksi dilakukan bukan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat akan tetapi
produksi dilakukan untuk menciptakan kebutuhan. Kini hampir semua rumah tangga mempunyai
hanphone, sebuah barang yang masih eksklusif untuk sepuluh tahun yang lalu. Kemudian, handphone
yang awalnya sebagai alat komunikasi, kini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas lain seperti kamera,
radio, recorder, tv, e-mail dll. Berbagai fasilitas itu menjadikan orang tertarik dan merasa membutuhkan.

Untuk itu peran pemerintah baik pusat maupun daerah masih dibutuhkan dalam rangka menjaga
dan melestarikan nilai-nilai dan identitas budaya bangsa. Meski demikian, komitmen untuk menjaga,
mempertahankan dan melestarikan budaya adiluhung tetap merupakan modal dasar yang harus ada
terlebih dahulu.