Anda di halaman 1dari 31

DASAR TEORI

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami
pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang
dikeringkan.
Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya, maka simplisia
harus memenuhi persyaratan minimal, dan untuk dapat memenuhi syarat minimal itu, ada
beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain adalah:
1. Bahan baku simplisia
2. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia
3. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia
Pemilihan sumber tanaman obat sebagai bahan baku simplisia nabati merupakan salah satu
faktor yang sangat berpengaruh pada mutu simplisia, termasuk di dalamnya pemilihan bibit
(untuk tumbuhan hasil budidaya) dan pengolahan maupun jenis tahan tempat tumbuh tanaman
obat.
Pembuatan simplisia secara umum dapat menggunakan cara-cara sebagai berikut:
1. Pengeringan
2. Fermentasi
3. Proses khusus (penyulingan, pengentalan eksudat dll)
4. Dengan bantuan air (misalnya pada pembuatan pati)
Adapun tahapan tahapan pembuatan simplisia secara garis besar adalah:
1. Pengumpulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung pada:
Bagian tanaman yang digunakan
Umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen
Waktu panen
Lingkungan tempat tumbuh
2. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya
dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-
bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak serta pengotor-
pengotor lainnya harus dibuang
3. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang melekat pada
bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih yang mengali
4. Perajangan
Beberapa jenis bahna simplisia tertentu ada yang memerlukan proses perajangan. Perajangan
bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan
penggilingan.
5. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga
dapat disimpan dalam waktu lama
6. Sortasi kering
Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing dan pengotor-pengotor lain yang masih
ada dan tertinggal pada simplisia kering.
7. Pengepakan dan penyimpanan
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena faktor luar dan dalam, antara lain
cahaya, oksigen, reaksi kimia intern, dehidrasi, penyerapan air, pengotoran, serangga dan
kapang


SIMPLISIA
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami
pengolahan apapun juga dan kecuali diyatakan lain simplisia merupakan bahan yang
dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau
mineral.
1 . Jenis Simplisia
a. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau
eksudat tanaman. Yang dimaksud dengan eksudat tanaman adalah isi sel yang secara
spontan keluar dari tanaman atau yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya,
atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertent dipisahkan dari tanamannya.
b. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh , bagian hewan atau
zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
c. Simplisia mineral atau pelikan adalah simplisia yang berupa bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa
zat kimia murni.
Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya, maka
simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Dan untuk memenuhi persyarata minimal
tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh , antara lain adalah :
1. Bahan baku simplisia.
2. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia.
3. Cara penepakan dan penyimpanan simplisia.
Agar simplisia memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan, maka ketiga faktor tersebut haus
memenuhi persyaratan minimalyang ditetapkan.
A . PEMBUATAN SIMPLISIA SECARA UMUM.
1. BAHAN BAKU
Tanaman obat yang menjadi sumber simplisia nabati , merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi mutu simplisia. Sebagai sumber simplisia, tanaman obat
dapat berupa tumbuhan liar atau berupa tanaman budidaya. Tumbuhan liar adalah
tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya di hutan atau tempat lain, atau tanaman
yang sengaja ditanam dengan tujuan lain, misalnya sebagai tanaman hias, tanaman
pagar, tetapi bukan dengan tujuan untuk memproduksi simplisia. Tanaman budidaya
adalah tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan produksi simplisia. Tanaman
simplisia dapat di perkebunan yang luas, dapat diusahakan oleh petani secara kecil-
kecilan berupa tanaman tumpang sari atau Tanaman Obat Keluarga. Tanaman Obat
Keluarga adalah pemanfaatan pekarangan yang sengaja digunakan untuk menanam
tumbuhan obat.


2. DASAR PEMBUATAN SIMPLISIA
a. Simplisia dibuat dengan cara pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini dilakukan dengan pengeringan cepat,
tetapi dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang terlalu lama
akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang. Pengeringan
dengan suhu yang tinggi akan mengakibatkan perubahan kimia pada kandungan
senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut, untuk simplisia yang
memerlukan perajangan perlu diatur panjang perajangannya, sehingga diperoleh
tebal irisan yang pada pengeringan tidak mengalami kerusakan.
b. Simplisia dibuat dengan fermentasi.
Proses fermentasi dilakukan dengan seksama, agar proses tersebut tidak
berkelanjutan kearah yang tidak diinginkan.
c. Simplisia dibuat dengan proses khusus.
Pembuatan simplisia dengan penyulingan, pengentalan eksudat nabati,
penyaringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan berpegang
pada prinsip bahwa pada simplisia yang dihasilkan harus memiliki mutu sesuai
dengan persyaratan.
d. Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air.
Pati, talk dan sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang
digunakan harus terbebas dari pencemaran serangga, kuman patogen, logam
berat dan lain-lain.


3. TAHAP PEMBUATAN
Pada umumya pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut :
A. Pengumpulan Bahan Baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung pada :
1. Bagian tanaman yang digunakan.
2. Umur tanaman yang digunakan.
3. Waktu panen.
4. Lingkungan tempat tumbuh.
Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian
tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman tersebut
mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar.
Senyawa aktif terbentuk secara maksimal di dalam bagian tanaman atau tanaman pada umur
tertentu. Sebagai contoh pada tanaman Atropa belladonna, alkaloid hiosiamina mula-mula
terbentuk dalam akar. Dalam tahun pertama, pemben-
tukan hiosiamina berpindah pada batang yang masih hijau. Pada tahun kedua batang mulai
berlignin dan kadar hiosiamina mulai menurun sedang pada daun kadar hiosiamina makin
meningkat. Kadar alkaloid hios'amina tertinggi dicapai I dalam pucuk tanaman pada saat tanai an
berbunga dan kadar alkaloid menurun pada saat tanaman berbualz dan niakin turun ketika buah
makin tua. Contoh lain, tanaman Menthapiperita muda mengandung mentol banyak dalanl
daunnya. Kadar rninyak atsiri dan mentol tertinggi pada daun tanaman ini dicapai pada saat
tanaman tepat akan berbunga. Pada Cinnamornunz camphors, kamfer akan terkumpul dalam kayu
tanaman yang telah tua. Penentuan bagian tanaman yang dikumpulkan dan waktu
pengumpulan secara tepat memerlukan penelitian. Di samping waktu panen yang dikaitkan
BERANDA
BIOLOGI S1 Farmasi
GRAND EXPO IIK
MATERI KULIAH
o PEMBUATAN SIMPLISIA
Peta Situs
Kegiatan terbaru situs
dengan umur, perlu diperhatikan pula saat panen dalam sehari. Contoh, simplisia yang
mengandung minyak atsiri lebih baik dipanen pada pagi hari. Dengan demikian untuk
menentukan waktu panen dalam sehari perlu dipertimbangkan stabilitas kimiawi dan fisik
senyawa aktif dalam simplisia terhadap panas sinar matahari.
Secara garis besar, pedoman panen sebagai berikut :
1. Tanaman yang pada saat panen diambil bijinya yang telah tua seperti kedawung
(Parkia rosbbrgii), pengambilan biji ditandai dengan telah mengeringnya buah. Sering pula
pemetikan dilakukan sebelum kering benar, yaitu sebelum buah pecah secara alami dan biji
terlempar jauh, misal jarak (Ricinus cornrnunis).
2. Tanaman yang pada saat panen diambil buahnya, waktu pengambilan sering
dihubungkan dengan tingkat kemasakan, yang ditandai dengan terjadinya perubahan pada
buah seperti perubahan tingkat kekerasan misal labu merah (Cucurbita n~oscllata). Perubahan
warna, misalnya asam (Tarnarindus indica), kadar air buah, misalnya belimbing wuluh
(Averrhoa belimbi), jeruk nipis (Citrui aurantifolia) perubahan bentuk buah, misalnya
mentimun (Cucurnis sativus), pare (Mornordica charantia).
3. Tanaman yang pada saat panen diambil daun pucuknya pengambilan dilakukan pada saat
tanaman mengalami perubahan pertumbuhan dari vegetatif ke generatif. Pada saat itu
penumpukan senyawa aktif dalam kondisi tinggi, se-
hingga mempunyai mutu yang terbaik. Contoh tanaman yang diambil daun pucuk ialah
kumis kucing (Orthosiphon starnineus).
4. Tanaman yang pada saat panen diambil daun yang telah tua, daun yang diambil dipilih
yang telah membuka sempurna dan terletak di bagian cabang atau batang yang menerima
sinar matahari sempurna. Pada daun tersebut terjadi kegiatan asimilasi yang sempurna.
Contoh panenan ini misal sembung (Blumea balsamifera).
5. Tanaman yang pada saat panen diambil kulit batang, pengambilan dilakukan pada saat
tanaman telah cukup umur. Agar pada saat pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan,
sebaiknya dilakukan pada musim yang menguntungkan pertumbuhan antara lain menjelang
musim kemarau.
6. Tanaman yang pada saat panen diambil umbi lapis, pengambilan dilakukan pada saat
umbi mencapai besar maksimum dan pertumbuhan pada bagian di atas tanah berhenti
misalnya bawang merah (Allium cepa).
7. Tanaman yang pada saat panen diambil rimpangnya, pengambilan dilakukan pada musim
kering dengan tanda-tanda mengeringnya bagian atas tanaman. Dalam keadaan ini rimpang
dalam keadaan besar maksimum. Panen dapat dilakukan dengan tangan, menggunakan alat
atau menggunakan mesin. Dalam ha1 ini keterampilan pemetik diperlukan, agar diperoleh
simplisia yang benar, tidak tercampur dengan bagian lain dan tidak merusak tanaman induk.
Alat atau mesin yang digunakan untuk memetik perlu dipilih yang sesuai. Alat yang terbuat
dari logam sebaiknya tidak digunakan bila diperkirakan akan merusak senyawa aktif
siniplisia seperti fenol, glikosida dan sebagainya. Cara pengambilan bagian tanaman untuk
penibuatan simplisia dapat dilihat pada tabel I hal. 6.
















B. SORTASI BASAH
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari
bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-
bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta
pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam
jurnlah yang tinggi, oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang terikut dapat
mengurangi jumlah mikroba awal.

C. PENCUCIAN
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang melekat pada
bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air sumur atau
air PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut di dalam air yang mengalir,
pencucian agar dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Menurut Frazier (1978),
pencucian sayur-sayuran satu kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah mikroba awal, jika
dilakukan pencucian sebanyak tiga kali, jumlah mikroba yang tertinggal hanya 42% dari jumlah
mikroba awal. Pencucian tidak dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air
pencucian yang digunakan biasanya mengandung juga sejumlah mikroba. Cara sortasi dan
pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah rnikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang
digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia
dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat menipercepat
pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umuln terdapat dalam air
adalah Pseudomonas, Proteus,Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter
dan Escherishia. Pada simplisia akar, batang atau buah dapat pula dilakukan pengupasan
kulit luarnya untuk mengurangi jumlah mikroba awal karena sebagian besar jumlah mikroba
biasanya terdapat pada permukaan bahan simplisia. Bahan yang telah dikupas tersebut
mungkin tidak memerlukan pencucian jika cara pengupasannya dilakukan dengan tepat dan
bersih.
D. PERAJANGAN
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan bahan
simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan.
Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh
selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus
sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan, semakin cepat penguapan air, sehingga
mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga dapat menyebabkan
berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap. Sehingga mempengaruhi
komposisi bau dan rasa yang diinginkan. Oleh karena itu bahan simplisia seperti temulawak,
temu giring, jahe, kencur dan bahan sejenis lainnya dihindari perajangan yang terlalu tipis
untuk mencegah berkurangnya kadar minyak atsiri. Selama perajangan seharusnya jumlah mikroba
tidak bertambah. Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk mengurangi pewarnaan
akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Pengeringan dilakukan dengan sinar matahari
selama satu hari.
E. PENGERINGAN
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak,sehingga dapat
disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi
enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam
simplisia pada kadar tertentu dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad renik
lainnya.Enzim tertentu dalam sel,masih dapat bekerja,menguraikan senyawa aktif sesaat setelah sel
mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air tertentu. Pada tumbuhan
yang masih hidup pertumbuhan kapang dan reaksi enzimatik yang merusak itu tidak terjadi karena
adanya keseimbangan antara proses-proses metabolisme, yakni proses sintesis, transformasi dan
penggunaan isi sel. Keseimbangan ini hilang segera setelah sel tumbuhan mati. Sebelum tahun
1950, sebelum bahan dikeringkan, terhadap bahan simplisia tersebut lebih dahulu dilakukan proses
stabilisasi yaitu proses untuk menghentikan reaksi enzimatik. Cara yang lazim dilakukan pada saat
itu, merendam bahan simplisia dengan etanol 70 % atau dengan mengaliri uap panas. Dari hasil
penelitian selanjutnya diketahui bahwa reaksi enzimatik tidak berlangsung bila kadar air dalam
simplisia kurang dari 10%.
Pengeringan simplisia dilakukan dengan menggunakan sinar matahari atau menggunakan suatu
alat pengering. Hal-ha1 yang perlu diperhatikan selama proses pengeringan adalah suhu
pengeringan, kelembaban udara, aliran udara, Waktu pengeringan dan luas permukaan bahan. Pada
pengeringan bahan simplisia tidak dianjurkan rnenggunakan alat dari plastik. Selama proses
pengeringan bahan simplisia, faktor-faktor tersebut harus diperhatikan sehingga diperoleh simplisia
kering yang tidak mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Cara pengeringan yang salah
dapat mengakibatkan terjadinya "Face hardening", yakni bagian luar bahan sudah kering sedangkan
bagian dalamnya masih basah. Hal ini dapat disebabkan oleh irisan bahan simplisia yang terlalu
tebal, suhu pengeringan yang terlalu tinggi, atau oleh suatu keadaan lain yang menyebabkan
penguapan air permukaan bahan jauh lebih cepat daripada difusi air dari dalam ke permukaan
tersebut, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan menghambat pengeringan selanjutnya.
"Face hardening" dapat mengakibatkan kerusakan atau kebusukan di bagian dalarn bahan yang
dikeringkan.

Suhu pengeringan tergantung kepada bahan simplisia dan cara pengeringannya. Bahan simplisia
dapat dikeringkan pada suhu 30
0
sampai 90C, tetapi suhu yang terbaik adalah tidak melebihi 60C.
Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif yang tidak tahan panas atau mudah menguap
harus dikeringkan pada suhu serendah mungkin, misalnya 30
0
sampai 45
0
C, atau dengan cara
pengeringan vakum yaitu dengan mengurangi tekanan udara di dalam ruang atau lemari
pengeringan, sehingga tekanan kira-kira 5 mm Hg. Kelembaban juga tergantung pada bahan
simplisia,cara pengeringan, dan tahap tahap selama pengeringan. Kelembaban akan menurun
selama berlangsungnya proses pengeringan. Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan
digunakan orang. Pada dasarnya dikenal dua cara pengeringan yaitu pengeringan secara alamiah
dan buatan.

1. Pengeringan Alamiah.
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang dikeringkan, dapat
dilakukan dua cara pengeringan :
a. Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan untuk mengeringkan bagian
tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan sebagainya, dan rnengandung
senyawa aktif yang relatif stabil. Pengeringan dengan sinar matahari yang banyak
dipraktekkan di Indonesia merupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang dilakukan
dengan cara membiarkan bagian yang telah dipotong-potong di udara terbuka di atas
tampah-tampah tanpa kondisi yang terkontrol sepertl suhu, kelembaban dan aliran udara.
Dengan cara ini kecepatan pengeringan sangat tergantung kepada keadaan iklim, sehingga
cara ini hanya baik dilakukan di daerah yang udaranya panas atau kelembabannya rendah,
serta tidak turun hujan. Hujan atau cuaca yang mendung dapat memperpanjang waktu
pengeringan sehingga memberi kesempatan pada kapang atau mikroba lainnya untuk
tumbuh sebelum simplisia tersebut kering. F'IDC (Food Technology Development Center
IPB) telah merancang dan membuat suatu alat pengering dengan menggunakan sinar
matahari, sinar matahari tersebut ditampung pada permukaan yang gelap dengan sudut
kemiringan tertentu. Panas ini kemudian dialirkan keatas rak-rak pengering yang diberi atap
tembus cahaya di atasnya sehingga rnencegah bahan menjadi basah jika tiba-tiba turun
hujan. Alat ini telah digunakan untuk mengeringkan singkong yang telah dirajang dengan
demikian dapat pula digunakan untuk mengeringkan simplisia.
b. Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung. Cara ini
terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun,
dan sebagainya dan mengandung senyawa aktif mudah menguap.



2. Pengeringan Buatan
Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan sinar matahari dapat
diatasi jika melakukan pengeringan buatan, yaitu dengan menggunakan suatu alat atau mesin
pengering yang suhu kelembaban, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan
buatan adalah sebagai berikut: udara dipanaskan oleh suatu sumber panas seperti lampu,
kompor, mesin disel atau listrik, udara panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau
lemari yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan di atas rak-rak
pengering. Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat pengering yang sederhana, praktis
dan murah dengan hasil yang cukup baik.
Dengan menggunakan pengeringan buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu yang lebih
baik karena pengeringan akan lebih merata dan waktu pengeringan akan lebih cepat, tanpa
dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Sebagai contoh misalnya jika kita membutuhkan waktu 2
sampai 3 hari untuk penjemuran dengan sinar matahari sehingga diperoleh simplisia kering
dengan kadar air 10% sampai 12%, dengan menggunakan suatu alat pengering dapat diperoleh
simplisia dengan kadar air yang sama dalam waktu 6 sampai 8 jam.
Daya tahan suatu simplisia selama penyimpanan sangat tergantung pada jenis simplisia,
kadar airnya dan cara penyimpanannya. Beberapa simplisia yang dapat tahan lama dalam
penyimpanan jika kadar airnya diturunkan 4 sampai 8%, sedangkan simplisia lainnya rnungkin
masih dapat tahan selama penyimpanan dengan kadar air 10 sampai 12%.

F. SORTASI KERING
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan
sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan
dan pengotoran-pengotoran lain yang masill ada dan tertinggal pada sirnplisia kering. Proses ini
dilakukan sebelum sirnplisia dibungkus untuk kernudian disimpan. Seperti halnya pada sortasi
awal, sortasi disini dapat dilakukan dengan atau secara mekanik. Pada simplisia bentuk rimpang
sering jurnlah akar yang melekat pada rimpang terlampau besar dan harus dibuang. Demikian pula
adanya partikel-partikel pasir, besi dan benda-benda tanah lain yang tertinggal harus dibuang
sebelum simplisia dibungkus.


G. PENYIMPANAN DAN PENGEPAKAN
Sirnplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luar dan dalam, antara
lain :
1. Cahaya : Sinar dari panjang gelombang tertentu dapat
menimbulkan perubahan kimia pada simplisia, misalnya isomerisasi,
polimerisasi, rasemisasi dan sebagainya.
2. Oksigen udara : Senyawa tertentu dalam simplisia dapat
mengalami perubahan kimiawi oleh pengaruh oksigen udara terjadi oksidasi
dan perubahan ini dapat berpengaruh pada bentuk simplisia, misalnya, yang
semula cair dapat berubah menjadi kental atau padat, berbutir-butir dan
sebagainya.
3. Reaksi kimia intern : perubahan kimiawi dalam simplisia yang dapat
disebabkan oleh reaksi kimia intern, misalnya oleh enzim, polimerisasi, oto-
oksidasi dan sebagainya.
4. Dehidrasi : Apabila kelembaban luar lebih rendah dari simplisia,
maka simplisia secara perlahan-lahan akan kehilangan sebagian airnya
sehingga rnakin lama makin mengecil (kisut).
5. Penyerapan air : Simplisia yang higroskopik, misalnya agar-agar,
bila disimpan dalam wadah yang terbuka akan menyerap lengas udara
sehingga menjadi kempal basah atau mencair.
6. Pengotoran : Pengotoran pada simplisia dapat disebabkan oleh
berbagai sumber, misalnya debu atau pasir, ekskresi hewan, bahan-bahan
asing (misalnya minyak yang tertumpah) dan fragmen wadah (karung goni).
7. Serangga : Serangga dapat menitnbulkan kerusakan dan
pengotoran pada simplisia, baik oleh bentuk ulatnya maupin oleh bentuk
dewasanya. Pengotoran tidak hanya berupa kotoran serangga, tetapi juga
sisa-sisa metamorfosa seperti cangkang telur, bekas kepompong, anyaman
benang bungkus kepompong, bekas kulit serangga dan sebagainya.
8. Kapang : Bila kadar air dalam simplisia terlalu tinggi, maka
simplisia dapat berkapang. Kerusakan yang timbul tidak hanya terbatas pada
jaringan simplisia, tetapi juga akan merusak susunan kimia zat yang
dikandung dan malahan dari kapangnya dapat mengeluarkan toksin yang
dapat mengganggu kesehatan.

B. METODOLOGI DAN PARAMTER STANDARISASI SIMPLISIA
Ada tiga Parameter standarisasi simplisia sebagai bahan baku yang diperlukan dalam analisa
mutu siplisia , yaitu :
1. Pengujian Pendahuluan ( Kebenaran Simplisia ) :
a. Pengujian Organoleptik
b. Pengujian Makroskopik
c. Pengujian Mikroskopik
2. Parameter Non Spesifik :
a. Penetapan kadar air dengan destilasi
b. Penetapan susut pengeringan
c. Penetapan kadar abu
d. Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam
e. Penetapan kadar sari yang larut dalam air
f. Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol
g. Uji cemaran mikroba
3. Parameter Spesifik :
a. Identifikasi kimia terhadap senyawa yang disari
Pengujian Pendahuluan ( Kebenaran simplisia )
1. Uji Organoleptik
Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekhususan bau dan rasa simplisia yang diuji.
2. Uji Makroskopik
Dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau tanpa alat, untuk mencari kekhususan
morfologi, ukuran dan warna simplisia yang diuji.
3. Uji Mikroskopik
Dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat pembesarannya disesuaikan dengan
keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan maupun serbuk. Tujuannya adalah untuk
mencari unsur-unsur anatomi jaringan yang khas. Dari pengujian ini akan diketahui jenis
simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik bagi masing-masing simplisia. Serbuk
yang diperiksa adalah serbuk yang homogen dengan derajat kehalusan 4/18 yang
dipersyaratkan oleh MMI. Ada 4 cara pengamatan menggunakan mikroskop yaitu :
1. MIKROSKOPIK 1
Menggunakan medium air atau gliserin. Digunakan untuk mendeteksi hablur lepas, butir pati,
butir tepung sari, serabut, sel batu, rambut penutup, rambut kelenjar lepas serta beberapa jenis
jaringan khas lainnya.


2. MIKROSKOPIK 2
Serbuk terlebih dahulu dididihkan dalam larutan kloral hidra. Butir pati akan larut akan larut
dan jaringan yang berisi klorofil menjadi jernih sehingga pengamatan dapat lebih jelas. Akan
tampak sel-sel epidermis , mesofil, rongga minyak, parenkim, hablur, sistolit dll.
3. MIKROSKOPIK 3
Diakukan pewarnaan terhadap serbuk. Sebaiknya dilakukan setelah serbuk
dijernihkan dengan chloral hidrat, namun dalam hal-hal tertentu boleh langsung
menambahkan pereaksi tanpa didahului penjernihan jaringan.
Pereaksi yang biasa digunakan misalnya floroglusin-asam klorida akan
menimbulkan warna merah pada sel yang berisi lignin ( sel batu, serabut dan xilem ).
4. MIKROSKOPIK 4
Dilakukan terhadap serbuk yang telah diabukan. Uji ini khusus ditujukan untuk mendeteksi
ada tidaknya kerangka silika pada tanaman yang banyak mengandung silika seperti familia
Poaceae / Gramineae dan Equisetaceae.

4. Parameter Non-Spesifik
1. Penetapan Kadar Air ( MMI )
Kandungan air yang berlebihan pada bahan / sediaan obat tradisional akan
mempercepat pertumbuhan mikroba dan juga dapat mempermudah terjadinya hidrolisa
terhadap kandungan kimianya sehingga dapat mengakibatkan penurunan mutu dari obat
tradisional. Oleh karena itu batas kandungan air pada suatu simplisia sebaiknya dicantumkan
dalam suatu uraian yang menyangkut persyaratan dari suatu simplisia.
Tujuan dari penetapan kadar air adalah utuk mengetahui batasan maksimal atau rentang
tentang besarnya kandungan air dalam bahan. Hal ini terkait dengan kemurnian dan adanya
kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan demikian, penghilangan kadar air hingga
jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama penyimpanan.
Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%. Penetapan kadar air
dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu ;
a. Metode Titrimetri
Metode ini berdasarkan atas reaksi secara kuantitatif air dengan larutan anhidrat belerang
dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan ion hydrogen.
Kelemahan metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak tepat dan reprodusibilitas
bergantung pada beberapa faktor seperti kadar relatif komponen pereaksi, sifat pelarut
inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang digunakan pada penetapan
tertentu. Metode ini juga perlu pengamatan titik akhir titrasi yang bersifat relatif dan
diperlukan sistem yang terbebas dari kelembaban udara ( Anonim, 1995 ).

Zat yang akan diperiksa dimasukkan kedalam labu melalui pipa pengalir nitrogen atau
melalui pipa samping yang dapat disumbat. Pengadukan dilakukan dengan mengalirkan
gas nitrogen yang telah dikeringkan atau dengan pengaduk magnit. Penunjuk titik akhir
terdiri dari batere kering 1,5 volt atau 2 volt yang dihubungkan dengan tahanan variable
lebih kurang 2.000 ohm. Tahanan diatur sedemikian sehingga arus utama yang cocok
yang melalui elektroda platina berhubungan secara seri dengan mikroammeter. Setiap
kali penambahan pereaksi Karl Fishcer, penunjuk mikroammeter akan menyimpang
tetapi segera kembali ke kedudukan semula. Pada titik akhir, penyimpangan akan tetap
selama waktu yang lebih lama. Pada zat-zat yang melepaskan air secara perlahan-lahan,
umumnya dilakukan titrasi tidak langsung.
b. Metode Azeotropi ( Destilasi Toluena ).
Metode ini efektif untuk penetapan kadar air karena terjadi penyulingan berulang ulang
kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah adanya penguapan
berlebih. Sistem yang digunakan tertutup dan tidak dipengaruhi oleh kelembaban (
Anonim, 1995 ).
Kadar air (V/B) = Vol. Air yang terukur / bobot awal simplisia x 100%.
c. Metode Gravimetri.
Dengan menghitung susut pngeringan hingga tercapai bobot tetap ( Anonim, 1995 ).
2 Penetapan Susut Pengeringan ( MMI )
Susut pngeringan adalah kadar bagian yang menguap suatu zat.kecuali dinyatakan lain , suhu
peetapan adalah 105
o
C , keringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap. Jika suhu lebur
zat lebih rendah dari suhu penetapan, pengeringan dilakukan pada suhu antara 5
o
C dan 10
o
C
dibawah suhu leburnya selama 1 jam sampai 2 jam, kemudian pada suhu penetapan selama
waktu yang ditentukan atau hingga bobot tetap.

Susut pengeringan = (bobot awal bobot akhir) / bobot awal x 100% Untuk simplisia yang
tidak mengandung minyak atsiridan sisa pelarut organik menguap, susut pengeringan
diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmoster dan
ligkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.
3 Penetapan Kadar Abu (MMI)
Penetapan kadar abu merupakan cara untuk mengetahui sisa yang tidak menguap dari suatu
simplisia pada pembakaran. Pada penetapan kadar abu total, abu dapat berasal dari bagian
jaringan tanaman sendiri atau dari pengotoran lain misalnya pasir atau tanah.


4. Penetapan Kadar Abu yang tidak larut Asam (MMI)
Ditujukan untuk mengetahui jumlah pengotoran yang berasal dari pasir atau tanah silikat.
5. Penetapan Kadar Sari yang larut dalam air (MMI)
Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat tersari dengan air
dari suatu simplisia.
6. Penetapan Kadar Sari yang larut dalam etanol (MMI)
Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat tersari dengan
etanol dari suatu simplisia.
7. Uji Cemaran Mikroba
a. Uji Aflatoksin
Uji ini bertujuan untuk mengetahui cemaran aflatoksin yang dihasilkan oleh
jamur Aspergillus flavus.
b. Uji Angka Lempeng Total
Untuk mengetahui jumlah mikroba/bakteri dalam sample. Batasan angka lempengan
total yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan yaitu 10
o
C FU/gram.
c. Uji Angka Kapang
Untuk mengetahui adanya cemaran kapang, batasan angka lempeng total yang
ditetapkan oleh Kemenkes yaitu 10
4
CFU/gram.
5. Parameter Spesifik ( Pengujian Secara Kimia ).
Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari simplisia. Uji kandungan kimia
simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan senyawa tertentu dari simplisia. Biasanya
dilakukan dengan analisa kromatografi lapis tipis (KLT). Sebelum dilakukan KLT perlu
dilakukan preparasi dengan penyarian senyawa kimia aktif dari simplisia yang masih kasar.

Identifikasi kimia terhadap senyawa tersari
Kandungan kimia simplisia nabati pada umumnya dapat dikelompokkan sebagai berikut :
minyak atsiri, karotenoid, steroid, triterpenoid, alkaloid, asam lemak, senyawa fenolik ( fenol-
fenol asam fenolat, fenil propanolol, flavonoid, antrakuinon, antosianin, xanton) asam organik,
glikosida, saponin, tani, karbohidrat dan lain-lain.

Simplisia yang diuji adalah simplisia tunggal yang berupa rajangan serbuk, ekstrak atau dalam
bentuk sediaan. Mula-mula serbuk simplisia disari dengan larutan penyari yang berbeda-beda
polaritasnya berturut-turut pelarut non polar, pelarut kurang polar. Masing-masing pelarut secara
selektif akan memisahkan kelompok kandungan kimia tersebut. Pelarut yang bersifat non polar
seperti eter minyak tanah (petroleum eter) atau heksan. Pelarut kurang polar seperti eter,
clhoroform dll. Pelarut yang polar seperti etanol, air atau campuran keduanya dengan berbagai
perbandingan, umumnya dipakai etanol air 70%.

Penyarian dilakukan dengan cara pengocokan berkali-kali sehingga hasil pengocokan terakhir
bila diuapkan tidak meninggalkan sisa, atau dengan alat soxhlet.

Untuk cara pengocokan dianjurkan untuk melakukan perendaman awal dengan cairan penyari
selama satu malam. Penggunaan alat soxhlet hanya dianjurkan untuk penyariankandungan kimia
yang telah diketahui stabil. Penggunaan eter sebagai cairan penyari tidak dianjurkan mengingat
sifatnya yang mudah terbakar.
Dengan cara diatas akan diperoleh 3 macam sari yaitu :
1. Sari dalam eter minyak tanah atau heksana
Sari ini mengandung zat-zat kimia yang larut dalam minyak misalnya minyak atsiri, lemak
dan asam lemak tinggi, steroid, dan triterpenoid, kerotenoid. Selain kelompok tersebut
diatas, kemungkinan terkandung pada klorofil dan resin yang disebut senyawa pengotor.
2. Sari dalam eter atau kloroform
Sari ini mengandung zat-zat kimia sebagi berikut :
a. Alkaloid
b. Senyawa fenolik : * fenol-fenol
* asam fenolat
* fenil propanoid
* flavonoid
* antrakuinon
* xanton dan stilben
c. Koponen minyak atsiri tertentu
d. Asam lemak.
3. Sari dalam etanol-air
Sari ini mengandung zat-zat kimia sebagai berikut :
a. Garam alkaloid, alkaloid basa kuartener, amina teroksidasi.
b. Antosianin
c. Glikosida
d. Saponin
e. Tanin
f. Karbohidrat












II.2 TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman dan Simplisia
TAKSONOMI :
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Geraniales
Suku : Balsaminaceae
Marga : Impatiens
Jenis : Impatiens balsamina L.
DESKRIPSI
Habitat : Tumbuhan ini berupa herba tegak berbatang basah, yang
tingginya 80 cm.
Akar : Terna ini berakar serabut.
Batang : Tinggi tanaman ini bisa mencapai satu meter berbatang
basah, lunak, bulat, bercabang,warna hijau kekuningan yang tebal. Arah
tumbuhnya tegak, percabangannya monopodial.
Daun : Daunnya tunggal, tersebar, berhadapan, atau
dalam karangan. Bentuk daun lanset memanjang, tepi daunnya bergerigi, ujung
meruncing, tulang daun menyirip. Warna daun hijau muda tanpa daun penumpu,
jika ada daun penumpu bentuknya kelenjar. Bagian bawah membentuk roset
akar. Tulang daun menyirip. Luas daunnya sekitar 2 sampai 4 inchi. Pangkal
daun bergerigi tajam, runcing. Duduk daun spiral (daun muncul dari batang
mengikuti arah spiral) dan berhadapan.
Bunga : Tanaman ini memiliki aneka macam warana bunga. ada
yang putih, merah, ungu, kuning, jingga, dll. Jika pacar air yang berbeda warna
disilangkan, maka akan terbentuk keturunan yang beraneka ragam. Bunga
zygomorph, berkelamin 2, di ketiak. Daun kelopak 3 atau 5, lepas atau sebagian
melekat, bertaji. Daun kelopak samping berbentuk corong miring, berwarna, dan
terdapat noda kuning di dalamnya. Sedikit di atas pangkal daun mahkota
memanjang menjadi taji dengan panjang 0,2-2 cm. Daun mahkota 5, lepas.
Daun mahkota samping berbentuk jantung terbalik dengan panjang 2-2,5 cm,
yang 2 bersatu dengan kuku, yang lain lepas tidak berkuku dan lebih pendek.
Ada 5 benangsari dengan tangkai sari yang pendek, lepas, agak bersatu. Kepala
sarinya bersatu membentuk tudung putih. Bunga terkumpul 1-3. Setiap tangkai
hanya berbunga 1 dan tangkainya tidak beruas. Memiliki 5 kepala putik.
Buah : Buah kecil-kecil bentuk kapsul. Bakal buah
menumpang, beruang 4-5. Dalam satu ruangan tersebut terdapat dua atau lebih
bakal biji. Buah membuka kenyal dan termasuk buah batu dengan 5 inti. Bentuk
buah elliptis, pecah menurut ruang secara kenyal.
Biji : Benihnya endospermic. Embrio akan mengalami
diferensiasi.
Sebaran dunia: Tanaman ini berasal dari Asia Selatan (India) dan Asia
Tenggara. Diperkenalkan di Amerika sekitar abad 19. Di Indonesia, tanaman ini
tersebar merata dan dipakai sebagai tanaman hias.
Sinonim : Impatiens cornuta, Linn. Impatiens hortensis,
Desf. Impatiens mutila, D.C. I.triflora Blanco Balsamina mutila, DC. (Zainab
dan Sumiwi, 2007).

2. Kandungan Kimia
a. Nama Senyawa : Kumarin
b. Struktur Senyawa Kumarin :



c. Termasuk Golongan senyawa fenol.
d. Jalur Biosintesis :
Kumarin adalah senyawa fenol yang pada umumnya berasal dari tumbuhan tinggi dan jarang
sekali ditemukan pada mikroorganisme. Dari segi biogenetik, kerangka benzopiran-2-on dari
kumarin berasal dari asam-asam sinamat, melalui orto-hidroksilasi. Asam orto-kumarat yang
dihasilkan setelah menjalani isomerisasi cis-trans, menjalani kondensasi.
Penelitian mengenai biosintesis kumarin pada beberapa jenis tumbuhan ternyata mendukung
biosintesa ini. Walaupun demikian, mekanisme dari sebagian besar tahap-tahap reaksi tersebut
masih belum jelas. Misalnya reaksi isomerisasi cis-trans dari asam orto-hidroksikumarat
mungkin berlangsung dengan katalis enzim atau melalui proses fotokimia atau suatu proses
reduksi-dehidrogenasi yang beruntun.
e. Sifat Fisika dan Kimia :
1) Titik leleh 199-201 C.
2) Massa relatif 192 dengan rumus molekul C
10
H
8
O
4
(Adfa, 2006).

3. Efek in vitro/ Farmakologi
Senyawa murni hasil isolasi (1,4-naftoquinon yang tersubstitusi gugus metoksi) memperlihatkan
aktivitas antibakteri 0,5-0,6 kali tetrasiklin terhadap bakteri uji Staphylococcusaureus dan Bacillus
cereus (Adfa, 2007).
Telah dilakukan pengujian aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol tanaman pacar air (Impatiens
balsamina L.) dengan menggunakan metode induksi edema oleh karagenan pada kaki tikus putih
jantan. Ekstrak etanol pacar air diberikan per oral dengan dosis 250, 500, dan 1000mg/Kg BB.
Indometasin 10 mg/Kg BB digunakan sebagai kontrol positif. Hasil pengujianmenunjukkan bahwa
ketiga dosis ekstrak memiliki aktivitas antiinflamasi yang berbeda nyatadibandingkan dengan
kontrol. Persentase inhibisi radang rata-rata dibandingkan terhadap kontrol negatif sebesar 49,05,
26,8, dan 40,90% masing-masing untuk ekstrak dosis 250, 500, dan 1000 mg/Kg, dan 69,33%untuk
indometasin 10 mg/Kg (Sumiwi, 2007).



4. Analisis
a. Ekstraksi dan Isolasi
Sebanyak 3 kg sampel daun segar Impatiens balsamina L. dimaserasi dengan metanol 10 L
selama 5 hari, kemudian difraksinasi dengan heksana dan dilanjutkan dengan etil asetat.
Sebanyak 10 g ekstrak etil asetat dikromatografi kolom menggunakan fasa diam silika gel dan
eluen n-heksana, kloroform, etil asetat, metanol dengan sistem step gradient polarity. Didapat 5
fraksi, fraksi IV dilanjutkan dengan KLT preparatif menggunakan silika gel G. Noda
yangberfluoresensi biru dikerok lalu direndam dengan metanol selama 1 malam, disaring dan
dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator, dilanjutkan dengan rekristalisasi
menggunakan kloroform : n-heksana didapat amorf kuning seberat 6 mg dengan titik leleh 199-
201C. Setelah dilakukan kromatografi lapisan tipis dengan pengungkap noda lampu UV
365 nm serta disemprot dengan NaOH 10% dalam metanol, memperlihatkan 1 noda biru terang,
selanjutnya dengan uap I
2
tetap 1 noda (Adfa, 2006).
b. Kualitatif dan Kuantitatif
Analisis kualitatif metabolit sekunder kultur sel pacar dilakukan terhadap kandungan
naftokinon, flavonoid, kumarin dan saponin dengan metode kromatografi lapis tipis. Analisis
kuantitatif kandungan kumarin dalam kultur suspensi sel dilakukan dengan metode TLC
Scanner(Zainab, 2007).
c. Standarisasi
Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia yang spesifik adalah, serbuk sari berbentuk
oval, rambut penutup multiseluler, kalsium oksalat rapida, dan papilla. Hasil karakteristik serbuk
simplisia bunga pacar air merah diperoleh kadar air 9,31%, Kadar sari yang larut dalam air
19,62%, kadar sari yang larut dalam etanol 12,80%, Kadar abu total 1,14%, dan kadar abu yang
tidak larut dalam asam 0,25% (Anonim, 2007).

5. Manfaat Tanaman Pacar Air
Pacar air berkasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Jenis-jenis penyakit yang dapat
dicegah dan disembuhkan oleh tumbuhan pacar air adalah: tumor usus, kanker saluran
pencernaan, usus buntu, menurunkan kolesterol, tekanan darah tinggi, rematik, pembengkakan,
sakit pinggang, kaku pinggang, leher kaku, tarsuga (terkena duri ikan ditenggorokan),
sigurdongon (peradangan dipinggir kuku), merangsang pertumbuhan rambut, pewarnaan kuku
seperti kuteks, dan lain-lain.



BAB III

III.1 SKEMA KERJA PEMBUATAN SIMPLISIA DAUN PACAR AIR
A. PEMBUATAN SIMPLISIA PACAR AIR
Siapkan Daun Pacar Air 1 kg
PENGERINGAN
SORTASI KERING
PERAJANGAN
SORTASI BASAH
Daun Pacar Air Dicuci dengan Aquadest















PENGHALUSAN SIMPLISIA





B. UJI MUTU SIMPLISIA / STANDARISASI SIMPLISIA
UJI MAKROSKOPIK





UJI MIKROSKOPIK
UJI PARAMETER SPESIFIK
UJI PARAMETER NON-SPESIFIK



















III.2 LEMBAR KERJA PRAKTIKUM

NO PROSEDUR KERJA KETERANGAN
1. Pemilihan Bahan Baku

a. Bahan baku : Daun segar bunga pacar air



b. Waktu Panen : Dipetik usia tanam 2 bulan.

2. Sortasi Basah
Bahan baku dibersihkan dari pengotor daun kering,
kotoran belalang dan tanah yang tercampur pada
daun.
3. Pencucian
Setelah di sortasi bahan dicuci dengan aquadest.
4. Berat Basah Bahan Baku 124,36 gram
5. Cara Pengubahan Bentuk Dengan dirajang secara vertikal beraturan.
6. Pengeringan a. Cara pengeringan :
Dijemur dibawah sinar
matahari tidak langsung.

b. Lama pengeringan : 7 hari
c. Berat kering : 56,4 gram
d. Kadar air : 45,26 %
7. Pemeriksaan Organoleptik a. Bentuk : Serbuk halus
b. Warna : Hijau tua
c. Bau : Khas Aromatik
d. Rasa : Pahit
8. Pemeriksaan Makroskopik Serbuk simplisia berbentuk hablur berwarna hujau
tua dengan rasa pahit, dan bau khas aromatik.
9. Pemeriksaan Mikroskopik Pemeriksaan mikroskopik didapat rambut penutup
multiseluler, kalsium oksalat rapida, dan papilla.
10. Penetapan kadar air dengan cara
Destilasi

11. Penetapan susut pengeringan
12. Penetapan kadar abu
13. Penetapan kadar abu yang tidak
larut dalam asam

14. Penetapan kadar sari yang larut
dalam air

15. Penetapan kadar sari yang larut
dalam etanol

16. Uji Cemaran Mikroba
17. Identifikasi Kimia Terhadap
Senyawa yang Tersari




BAB IV

IV.1 PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum pembuatan simplisia daun impatiens balsamina didapat serbuk kering simplisia
daun pacar air sebanyak 56,4 gram dengan kadar air kurng lebih 45,26%. Dalam uji standarisasi mikroskopik
daun pacar air terdapat rambut penutup multiseluler, kalsium oksalat rapida, dan papilla. Uji mikroskopik
menunjukkan bahwa simplisia yang dibuat telah memenuhi standart yang telah ditetapkan, tetapi standart
yang digunakan blum diklarifikasi secara resmi oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia karena
dalam beberapa literatur menyatakan standart yang berbeda beda. Akan tetapi dalam literatur dapat ditemukan
kesamaan kandungan mikroskopik, jadi literatur yang saya gunakan adalah acuan yang memiliki kesamaan
dalam pemeriksaan mikroskopik. Oleh karena itu uji mikroskopik simplisia daun pacar air masih belum bisa
dinyatakan secara resmi memenuhi standart atau tidak. Utuk pemeriksaan uji parameter non-spesifik dan
spesifik masih belum bisa dilaksanakan karena masih diperlukan beberapa literatur yang lebih akurat, dan
karena penyimpanan yang kurang baik simplisia yang digunakan menjadi bulukan. Untuk melanjutkan uji
pemeriksaan lainnya diperlukan beberapa waktu lagi untuk proses pemanenan tanaman.

IV.2 KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pembuatan simplisia daun pacar air didapat
hasil akhir hablur berwarna hijau dengan berat 56,4 gram dan kadar air 45,26%. Serta hasil uji mikroskopik
didapat rambut penutup multiseluler, kalsium oksalat rapida, dan papilla.
IV.3 SARAN
Dalam penentuan standart yang baik perlu dilkukan percobaan yang berulang agar parameter
pembanding bisa lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
2. Anonim, !995, Farmakope Indonesia edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1987, Analisis Obat Tradisional, Jakarta,
Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan.
4. Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia, Penuntun cara modern menganalisa
tumbuhan,Bandung ITB.
5. Mukherjee, P.K., 2002, Quality Control of Herbal Drugs, an approach to evaluation ouf
botanicals. New Delhi, Business Horizons.
6. Anonim, 2007, Karakterisasi Simplisia dan Isolasi Senyawa Antosianin dari Bunga
TanamanPacar Air (Impatiens balsamina Linn.), (online),
(http://gradienfmipaunib.files.wordpress.com/2008/07/morina2.pdf, diakses 20 Mei 2010).
7. Adfa, M., 2006, 6-Metoksi, 7-Hidroksi Kumarin dari Daun Pacar Air (Impatiens balsamina L.)
Berwarna Merah, (online),
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17037/6/Abstract.pdf, diakses 20 Mei 2010).
985. Cara Pembuatan Simplisia. Depkes RI. Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI. Jakarta.
Desrosier, Norman W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. UI Press. Jakarta.
Hadiwiyoto, Soewedo dan Soehardi. 1980. Penanganan Lepas Panen, edisi 1. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Jakarta.
Sadewo, Bambang. 2004. Tanaman Obat Populer Penggempur Aneka Penyakit. Argomedia Pustaka.
Yogyakarta.
Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjah mada University Press.
Yogyakarta.
Syukur, Cheppy. 2001. Budidaya Tanaman Obat Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.