Anda di halaman 1dari 3

HOFSTEDES

1. Penghindaran ketidakpastian
Penghindaran ketidakpastian adalah tingkatan dimana anggota budaya mencoba menghindari
ketidakpastian. Dalam anggota budaya yang kecil penghindaran kepastiannya dibandingkan
dengan anggota budaya yang tinggi dalam penghindaran ketidakpastiannya memiliki toleransi
yang lebih kecil untuk ketidakpastian dan ambiguity, mereka mengekspresikan kekhawatiran
yang tinggi dan lebih banyak perlu aturan formal dan kebenaran absolut dan toleransinya lebih
rendah dengan orang lain.

Dalam budaya yang penghindaran ketidakpastiannya tinggi perilaku agresif dapat diterima
walaupun begitu individu memilki menahan agresi dengan menghindari konflik dan
kompetisi.Ada keinginan kuat untuk mencapai konsensus pada budaya yang penghindaran
kepastiannya tinggi.

Penghindaran ketidakpastian berguna dalam memahami perbedaan apabila berkomunikasi
dengan strangers.Orang yang berada pada budaya yang penghindaran ketidakpastiannya tinggi
mencoba menhindari ambigouity dan mengembangkan aturan dan ritual dalam setiap situasi
yang mungkin.

2. Power Distance
Adalah merupakan seberapa besar anggota-anggota dari institusi dan organisasi menerima
kekuatan yang diberikan secara tidak seimbang. Individu dari budaya power distance tinggi
menerima kekuatan sebagai bagian dari masyarakat. Sebagai hasilnya yang superior
mempertimbangkan subordinatenya secara berbeda dari mereka dan sebaliknya. Anggota dari
budaya yang tinggi power distancenya melihat kekuatan sebagai kenyataan dasar bagi
masyarakat. Dan menekankan pada pemaksaan atau kekuatan referent. Sedangkan pada budaya
yang power distancenya rendah percaya bahwa kekuatan hanya digunakan utnuk melegitimasi
dan lebih pada kekuatan legitimasi tersebut.

Dimensi power distance memfokuskan pada hubungan antara orang yang berada pada status
yang berbeda. (antara superiror dan subordinate). Power distance ini berguna dalam memahami
perilaku dengan strangers.
Rendah dan tingginya power distance berada pada semua budaya tetapi cenderung mengarah
pada yang lebih unggul. Budaya yang power distancenya tinggi sebagai contohnya adalah Egypt,
Ethiopia, Ghana,Guatemala,India, malaisya, Nigeria, panama, arab Saudi, dan veneuzela.
Budaya yang rendah power distance nya adalah Australia, Canada, Denmark, Germany, Ireland,
Israel, New zeland, Sweden dan Usa.

3. Maskulinity-feminity
Maskulitas yang tinggi melibatkan penempatan nilai yang tinggi pada sesuatu, kekuatan,
ketegasan mengenai kualitas hidup adalah rendah pada maskulinity dan tinggi pada femininity.
Sistem budaya yang tinggi pada index masculinity nya menekankan pada perbedaan peran social,
performance, ambisi, dan indepence.Sistem yang rendah pada masculinity menekankan peran
sex, kualitas hidup, jasa, dan interdependence.

Hofstede menyatakan bahwa perbandingan antara orang-orang dalam budaya feminine, orang-
orang dalam budaya maskulin adalah lebih kuat dalam motivasi untuk mencapai cita-cita,
pandangan kerja lebih sebagai pusat kehidupannya.

4. confucian work dynamism
Hofstede meneliti empat dimensi yaitu individualisme-collectivisme, power distance,
penghindaran ketidakpastian, maskulinity-feminity dalam mempelajari perusahaan
multinasional. Dimensi-dimensi memiliki bias yang berbau barat karena metodologi yang
digunakan dalam pengumpulan datanya. Dalam hubungan dengan budaya cina (pada tahun 1987
the chinese culture connection adalah kelompok dari peneliti yang dikomandoni oleh Michael
Bond di universitas cina hongkong. ) mengetes kesimpulan Hofstede menggunakan metodologi
dengan basis cina. Mereka menemukan empat dimensi dari variabel budaya yaitu confusian work
dynamism, integrasi, human heartness, dan disiplin moral.Tiga dari dimensi ini berhubungan
dengan dimensi yang diteliti Hofstede yaitu hubungan integrasi dengan individualism, disiplin
moral dengan power distance dan human heartedness dengan maskulinity dan feminity. Hanya
satu dimensi yang tidak berhubungan dengan penelitian hofstede yaitu confusian work
dynamism.
Dimensi ini melibatkan delapan nilai yaitu empat nilai diasosiasikan positif adalah
hubungan,thrift, persistence dan memiliki rasa malu dan empat nilai yang diasosiasikan negatif
yaitu:perlindungan terhadap muka,personal, respek terhadap tradisi dan pengulangan kembali.
Hofstede mengemukakan empat kunci yaitu:
1. stabilitas masyarakat didasarkan pada hubungan yang tidak sama antara orang
2. keluarga adalah prototype bagi organisasi sosial
3. perilaku yang konsisten
4. berisi edukasi, kerja keras

Beri Nilai