Anda di halaman 1dari 9

Uji Kualitatif Protein

Maulana Malik
1
, Rizky Aprizal
1
, Eka Syafiqa
1
, Hushila Alfi Bahalwan
1
, Amelia
Rakhmaniar
1
, Sukma Chintya Cahyarani
1

1
Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, Jakarta 15412
Telp : (021) 7401925

Abstrak
Uji kualitatif protein dilakukan untuk mengetahui kadar atau perhitungan secara kuantitatif
protein pada suatu bahan menggunakan metode-metode kualitatif protein. Uji yang dilakukan
adalah uji adanya unsur C,H,O, uji adanya unsur N dan S, uji kelarutan protein dengan garam-
garam anorganik, logam. Selain itu uji yang dilakukan untuk mengetahui kadar protein dalam
bahan adalah uji biuret, uji ninhidrin, uji xantoproteat, dan uji titik isoelektrik. Bahan yang
digunakan adalah albumin, BSA, kasein, glisin, gelatin. Hasil yang ditunjukan pada praktikum
menunjukan beberapa bahan positif terhadap uji-uji tersebut. Beberapa reaksi menunjukan hasil
positif dengan timbulnya endapan, adanya perubahan warna, ada unsur bau khas seperti
belerang.
Kata kunci: Kualitatif protein, BSA

1. PENDAHULUAN
Protein merupakan komponen utama
dalam semua sel hidup, baik tumbuhan
maupun hewan. Pada sebagian besar
jaringan tubuh, protein merupakan
komopunen utama terbesar selain air. Lebih
dari 50 % berat kering sel terdiri atas
protein. Protein adalah senyawa organik
yang tersusun dari monomer-monomer asam
amino yang saling berinteraksi melalui
ikatan peptida. (Sumarlin, 2013)
Berdasarkan fungsi biologisnya,
protein dibedakan menjadi:
a. Enzim ( Biokatalisator dalam
proses metabolisme)
b. Protein pengangkut (hemoglobin)
c. Antibodi (immunoglobulin)
d. Protein pengatur /hormon
(insulin)
e. Protein struktural (Keratin,
kolagen)
f. Protein kontraktil (myosin)
g. Protein nutrient ( ovalbumin)

Sedangkan berdasarkan strukturnya,
protein digolongkan menjadi :
a. Protein fiber/serat: Protein yang
tidak larut dalam air, fleksibel
dan lentur. Contohnya keratin
pada rambut, kolagen pada
tulang rawan dan fibroin pada
benang sutra.
b. Protein globular: Protein yang
mudah larut dalam air dan
bersifat tidak stabil (mudah
terdenaturasi oleh pengaruh suhu,
pH, atau garam anorganik.)
Kelarutan protein akan berkurang
bila kedalam larutan protein ditambahkan
garam-garam anorganik. Pengendapan terus
terjadi karena kemampuan ion garam untuk
menghidrasi, sehingga terjadi kompetisi
antara garam anorganik dengan molekul
protein untuk mengikat air. Karena garam
anorganik lebih menarik air maka jumlah air
yang tersedia untuk molekul protein akan
berkurang. (poedjiadi, 1994)
Berat molekul protein sangat besar
(ribuan sampai jutaan Dalton) sehingga
merupakan senyawa makromolekuler.
Protein akan dihidrolisis oleh penambahan
asam, basa, atau oleh kerja enzim protease
yang akan memecah molekul protein
menjadi asam-asam amino. (Poedjiadi,
1994)
Molekul protein mempunyai gugus
amina (-NH
2
) dan gugus karboksil (-COOH)
pada salah satu ujung rantainya. Hal ini
menyebabkan protein bersifat amfoter
sehingga dapat bereaksi dengan asam
maupun basa. Dalam pH rendah, gugus
amino pada protein akan bereaksi dan ion
H
+
menjadi NH
3
+
sehingga protein
bermuatan positif. Sebaliknya dalam
suasana basa, gugus karboksilnya akan
bereaksi dengan ion OH- sehingga protein
bermuatan negatif. (Bintang, 2010)
Pada akhir tahun 1880, telah
diidentifikasi bahwa unit protein yang
terkecil adalam asam--amino. Asam amino
yang terdapat di alam ada berates-ratus
jumlahnya, namun yang diketahui ikut
membangun protein hanya sekitar 20-21
macam. Asam amino ini dapat dibagi
menurut struktur kimianya (alifatik,
aromatic, heterosiklik) atau menurut gugus
R-nya. Secara biokimia pembagian menurut
gugus R lebih memberi arti sebab
menunjukan polaritas gugus R yang sangat
penting dalam menentukan fungsi asama
amino dalam protein. (Raymond, 2008)
Protein adalah senyawa organik yang
tersusun dari monomer-monomer asam
amino yang saling berinteraksi melalui
ikatan peptida. Untuk mengidentifikasi
keberadaan ikatan-ikatan dalam molekul
dapat digunakan pereaksi biuret, diama ion
Cu
2+
dalam suasana basa akan bereaksi
dengan ikatan-ikatan peptida membentuk
senyawa kompleks berwarna ungu. Reaksi
biuret positif terhadap dua buah ikatan
peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam
amino bebas dab dipeptida. (Hermantu,
2013)
Semua asam amino atau peptide
yang mengandung asam--amino bebas
akan bereaksi degan ninhidrin membentuk
senyawa kompleks berwarna biru. Namun
demikian, prolin dan hidroksi prolin akan
menghasilkan senyawa berwarna kuning.

Jika protein mengandung asam-asam amino
aromatic yang memiliki cincin seperti
tirosin, fenilalanin, dan triptofan
ditambahkan asam nitrat pekat, maka akan
terbentuk endapan putih yang akan berubah
menjadi kuning jika dipanaskan. Senyawa
nitro yang terbentuk dalam suasana basa
akan teroksidasi dan selanjutnya berubah
menjadi jingga.

2. METODE PRAKTIKUM
1. Uji Kualitatif protein 1
Material
Material atau bahan yang digunakan adalah
larutan BSA 1%, putih telur (albumin 5:50),
gelatin, larutan NaOH 10%, larutan 40%,
HCL 10%, HCL pekat, Alkohol 96%,
Kloroform, Pb asetat 5%, larutan (NH
4
)
2

SO
4
jenuh, larutan NaCl 5%, larutan BaCl
5%, larutan CaCl
2
5%, larutan MgSO
4
5%,
larutan HgCl
2
5%, larutan CuSO
4
5%,
larutan CuSO
4
0,2%.
Instrumentasi
Praktikum ini menggunakan tabung reaksi,
penjepit tabung, alat pemanas listrik, can
porselen, dan gelas objek.
Prosedur Praktikum
a. Uji adanya unsur C,H,O
Sebanyak 1 ml larutan albumin telur
dimasukkan ke dalam cawan porselen.
Kemudian pada bagian atasnya ditaruh kaca
objek dan dipanskan. Lalu perhatikan
adanya pegembunan pada gelas objek, yang
menunjukan adanya hydrogen (H) dan
oksigen (O). kemudian diamati sisa
pemanasan pada cawan porselen /kaca
objek, bila terjadi pengarangan, berarti
terdapat unsur karbon (C). Percobaan
diualangi menggunakan serbuk gelatin.
b. Uji adanya unsur N
Sebanyak 1 ml larutan albumin dimasukkan
ke dalam tabung reaksi. Sebanyak 1 ml
NaOH 10% ditambahkan dan dipanaskan.
Kemudian perhatikan bau amoniak yang
teradi dan kemudian diujilah uapnya dengan
kertas lakmus merah yang telah dibasahi
aquades. Kemudian jika kertas lakmus
merah menjadi biru dan tercium ammonia
maka menandakan adanya unsur nitrogen
(N). Setelah itu percobaan diulangi
menggunakan serbuk gelatin.
c. Uji adanya unsur S
Sebanyak 1 ml larutan albumin dimasukkan
kedalam tabung reaksi. Lalu sebanyak 1 ml
NaOH ditambahkan dan dipanaskan. Lalu
sebanyak 4 tetes larutan Pb-asetat 5%
ditambahkan. Jika larutan menghitam,
berarti PbS terbentuk. Lalu sebanyak 4 tetes
HCL pekat ditambah dengan hati-hati. Lalu
diperhatikan bau khas belerang dari belerang
yang teroksidasi. Percobaan diulangi
menggunakan serbuk gelatin.
d. Uji kelarutan protein
Sebanyak 5 tabung reaksi yang kering dan
bersih disiapkan. Lalu HCL 10%, air suling,
NaOH 40%, alkhol 96% dan kloroform
dimasukkan kedalam masing-masing tabung
reaksi. Lalu sebanyak 2 ml larutan albumin
ditambahkan ke setiap tabung. Kemudian
dikocok dengan kuat dan diamati sifat
kelarutannya. Percobaan diulang dengan
menggunakan serbuk gelatin.
e. Uji pengendapan protein dengan
garam
Sebanyak 5 tabung reaksi yang bersih dan
kering disiapkan dan masing-masing diberi
2 ml larutan albumin. Lalu pada masing-
masing tabung ditambahkan secara berturut-
turut larutan NaCl 5%, BaCl 5%, CaCl
2
5%,
MgSO
4
5%, dan (NH
4
)
2
SO
4
jenuh setetes
demi setetes sampai timbul endapan.
Selanjutnya larutan garam secara berlebih
ditambahkan. Lalu tabung dikocok dan
perubahan yang terjadi diamati.
f. Uji pengendapan protein dengan
logam
Sebanyak 3 tabung reaksi yang kering dan
bersih disiapkan dan diisi masing-masing 2
ml larutan albumin. Selanjutnya secara
berturut-turut larutan CuSO
4
5%, HgCl 5%,
Pb-asetat 5% ditambahkan pada masing-
masing tabung. Lalu tabung dikocok dan
perubahan yang terjadi diamati.
2. Uji kualitatif Protein 2
Material
Bahan-bahan yang digunakan dalam
praktikum uji kualitatif protein II adalah
larutan BSA 2%, glisin 2%, gelatin 2%,
kasein 0.5%, larutan NaOH 10%, larutan
CuSO
4
0,2%, larutan HNO
3
pekat, dan
buffer asetat dengan pH: 3.8, 4.7, 5.0, 5.3,
5.9
Instrumentasi
Alat-alat yang digunakan adalah tabung
reaksi, penjepit tabung, pemanas listrik,
beaker glass 500 ml, pipet ukur, dan pipet
tetes.
Prosedur praktikum
1. Uji Biuret
Sebanyak 4 tabung reaksi yang kering dan
bersih disiapkan. Lalu sebanyak 2 ml larutan
BSA, kasein, gelatin dan glisin dimasukkan
ke dalam masing-masing tabung. Kemudian
pada setiap tabung ditambahkan 1 ml NaOH
10% dan 3 tetes CuSO
4
0,2%. lalu dikocok
dengan baik dan diamkan beberapa saat.
Diamati perubahan warna yang terjadi dan
dicatat di lembar pengamatan.
2. Uji Ninhidrin
Sebanyak 4 tabung reaksi yang bersih dan
kering disiapkan. Lalu sebanyak 2 ml
larutan BSA, gelatin, dan glisin dimasukkan.
pada masing-masing tabung. Kemudian
pada setiap tabung ditambahakan 5 tetes
pereaksi ninhidrin. Lalu larutan dipanaskan
hingga mendidih selama 5 menit. Perubahan
warna yang terjadi diamati dan dicatat pada
lembar pengamatan.
3. Uji Xantoproteat
Sebanyak 4 tabung reaksi yang kering dan
bersih disiapkan. Lalu sebanyak 2 ml larutan
BSA, gelatin, dan glisin dimasukkan ke
dalam tabung. Pada setiap tabung
ditambahkan 1 ml HNO
3
pekat. Lalu diamati
terbentuknya endapan putih. Kemudian
larutan dipanaskan selama 1 menit dan
warna endapan yang terbentuk diamati. Lalu
larutan didinginkan dibawah air kran,
kemudian ditambahkan NaOH 10% setets
demi setetes memlalui dinding tabung
hingga terbentuk 2 lapisan. Perubahan warna
yang terjadi diperhatikan.
4. Uji Penentuan Titik Isoelektrik
Sebanyak 5 tabung reaksi yang kering dan
bersih disiapkan. Lalu pada setiap tabung
ditambahakan 1 ml larutan kasein. Setelah
itu pada setiap tabung ditambahkan larutan
buffer asetat dari 3.8, 4.7, 5.0, 5.3, dan 5.9.
larutan dicampur dengan baik dan dicatat
kekeruhannya setelah 0, 10, hingga 30
menit. Lalu diperhatikan pada tabung mana
yang terbentuk endapan paling maksimal.
Lalu semua tabung dipanaskan di penagas
air. Kemudian diamati hasilnya.
(pembentukan endapan yang tercepat dan
terbanyak menunjukan pH isoelektrik.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Uji kualitatif protein 1
1. Uji adanya unsur C,H,O
Proses pemanasan pada albumin dan gelatin
menunjukan adanya unsur H dan O yang
diamati dengan timbulnya uap air pada kaca
objek. Selain itu, pemanasan albumin dan
gelatin akan menimbulkan pengarangan
yang menandakan adanya unsur C pada
albumin dan gelatin. Proses pengarangan
tersebut menimmbulkan adanya kerak
berwarna kehitaman.


2. Uji adanya unsur N
Unsur N berikatan dengan dengan NaOH
dan menghasilkan ammonia dengan bau
yang khas ketika dipanakan. Oleh karena
unsur N berikatan dengan NaOH, larutan
akan bersifat basa dan dapat membirukan
kertas lakmus merah.
3. Uji adanya unsur S
Selanjutnya adalah albumin menunjukan
hasil positif belerang yang ditandai dengan
adanya endapan Pb dan timbul bau khas
belerang. Hal ini dikarenakan albumin
memiliki gugus sistin dan metioni dimana
keduanya merupakan asam amino yang
mengandung gugus belerang. Penambahan
NaOH berfungsi untuk memtus ikatan S,
sehingga S dapat berikatan dengan Pb asetat
membentuk endaoan PbS. Adanya gugus S
yang terpecah menghasilkan bau khas
belerang. Pada gelatin, protein oenyusunnya
adalah glisin dan prolin sehingga tidak
memiliki gugus S dan negative terhadapa uji
unsur S.



4. Uji kelarutan protein
Albumin dan gelatin larut dala pelarut polar
dikarenakan albumin dan gelatin bersifat
polar. Keduanya tidak dapat larut di dalam
kloroform dikarenakan kloroform termasuk
kedalam senyawa non polar. Seperti yang
telah dijelaskan pada teori like dissolve like,
bahwa pelarut polar hanya bisa melarutkan
larutan ionic dan larutan polar, sementara
pelarut nonpolar hanya bisa melarutkan
larutan non polar. Selain itu asam amino
mempunyai gugus asam dan basa sehingga
asam amino mempunyai sifat amfoter,
yanitu dapat bereaksi dengan asam dan basa.
Bila asam amino dalam suasana basa
ditempatkan dalam medan listrik, maka
asam amino aka n bergerak kearah anoda
(elektroda positif). Sebaliknya jika dalam
suasana asam, asam amino aka mergerak
kearah katoda(elektroda negatif).


5. Uji pengendapan dengan garam
Albumin yang direksikan dengan garam,
maka akan menimbulkan adanya endapan.
Perbedaan kuantitas endapan yang terjadi
disebabkan oleh intensitas garam yang
direksikan dan jenis garamnya. Semakin
banyak yang direaksikan, maka endapan
yang dihasilkan akan semakin banyak.
Peristiwa ini sesuai dengan metode salting
in dimana metode ini dilakukan dengan
menambahkan garam yang tidak jenuh atau
pada konsentrasi rendah sehingga protein
menjadi bermuatan dan larut dalam larutan
garam. Kelarutan protein akan terus
meningkat sejalan dengan penigkatan
konsentrasi garam. Apabila konsentrasi
garam ditingkatkan terus, maka kelarutan
protein akan turun, pada konsentrasi garam
yang lebih tinggi, protein akan mengendap.
Pengendapan ini disebut salting out karena
proses persaingan antara garam dan protein
untuk mengikat air. Ion garam yang
memiliki tingkat densitas lebih tinggi
dibandingkan dengan protein. Kadar
albumin yang direasikan juga.
mempengaruhi proses pengendapan protein
6. Uji pengendapan protein dengan
logam
Protein juga dapat diendapkan oleh logam.
Pengendapan ini terjadi karena ion-ion
logam berat membentuk garam proteinat
yang tidak larut dalam air. Pengendapan ini
terjadi karena adanya reaksi oenetralan
muatan antara ion logam berat dengan anion
dari protein. Albumin dan gelatin masing-
masing ditambahkan larutan CuSO
4
, HgCl
2
,
dan Pb-asetat. Larutan protein pada titik
isoelektriknya memiliki kutub negative dan
positf dengan perbandingan yang sama.
Endapan putih yang dihasilkan dari HgCl
2

dan Pb-asetat serta warna biru muda dari
CuSO
4
merupakan hasil dari reaksi
penetralan muatan antara ion logam berat
sebagai kation dengan molekul protein
sebagai anion. Suasan pada larutan menjadi
lebih asam, sehingga protein akan
mengkondisikan diri sebagai basa dan
sebagian terdapat sebagai anion. Anion dari
protein inilah yang bereaksi dengan ion
logam yang berekasi dengan ion logam berat
membentuk gara proteinat. Berdasarkan sifat
albumin yang bereaksi dengan ion logam,
tubuh manusia dapat menggunakan sifat ini
untuk melakukakn proses detoksifikasi.
2. Uji kualitatif protein 2
1. Uji Biuret
NO Zat Uji
Hasil Uji (+/-)
warna simpulan
1 BSA Ungu +
2 Kasein Ungu +
3 Gelatin Ungu +
4 Glisin Biru -

Berdasarkan pengamatan di atas, reaksi yang
menunjukan hasil positif adalah BSA 2%,
kasein 0.5%, dan gelatin 2%. Sementara
pada glisin 2% menunjukan hasil negative.
Pereaksi biuret mengandung ion-ion Cu
2+

yang akan berikatan bila bertemu dengan
protein yang mempunyai 2 ikatan peptide
atau lebih. Reaksinya adalah :
Ketika dtambahakan larutan CuSO
4
0,2%,
maka ion-ion Cu
2+
akan berikatan dengan
proein yang memiliki dua ikatan atau lebih
peptide dan menghasilkna kondisi basa.
Pada saat penambahan NaOH, larutan
berubah menjadi alkalis. Warna ungu yang
dihasilkan berasal dari Cu
2+
yang beraksi
dengan NH dari ikatan peptoda serta O dari
air. Hasil negative pada glisin dikarenakan
glisin merupaka asam amino esensial
tunggal dengan rumus bangun NH
2
-CO
2
H.
Sementara albumin, kasein dan gelatin
menmpunyai dua atau lebih asam amino
esensial sehingga terbentuk ikatan peptide.
Pada dipeptide, hasil negative juga
ditunjukan karena N mengikat dua unsur
sehingga sulit untuk bereaksi dengan Cu
2+
.

2. Uji Ninhidrin
NO Zat Uji Hasil Uji (+/-)
warna Simpulan
1 BSA Biru tua +
2 Kasein Biru +
3 Gelatin Biru tua +
4 Glisin Biru tua +

Semua sampel menunjukan hasil positif uji
ninhidrin dengan menunjukan warna biru
pada larutan. Hal ini menunjukan adanya
asam--amino bebas. Asam amino bebas
adalah asam amino dimana gugus aminonya
tidak terikat.
Semua asam amino bereaksi dengan
triketonhidrindena (ninhidrin) untuk
membentuk aldehida yang lebih kecil
dengan membebaskan karbon dioksida,
ammonia, dan menghasilkan warna biru
violet (untuk prolin dan hidroksiprolin
dihasilkan warna kuning). Senyawa
senyawa ammonium kuat, senyawa amin,
sebagian besar peptide, dan protein bereaksi
dengan jalur yang sama, walaupun tidak
menghasilkan karbon dioksida dan
ammonia. Reaksi asam amino dengan
ninhidrin :

Semakin pekat warna dari larutan, maka
jumlah asam amino bebas pada protein
tersebut semakin banyak.
3. Uji Xantoproteat
NO Zat Uji
Hasil Uji (+/-)
warna Simpulan
1 BSA Kuning +
2 Kasein Kuning +
3 Gelatin Kuning +
4 Glisin Kuning -

Reaksi yang menunjukan positif pada BSA
2%, kasein 0,5%, dan gelatin 3% dengan
menunjukan warna kuning. Sementara untuk
glisin 2% tidak menunjuka hasil positif.
Pada reaksi xantoproteat reaksi
menghasilkna nitrasi dan inti benzena dalam
molekul protein. Tirosin, fenilalanin, dan
triptofan memberi hasil positif terhadap
reaksi ini karena memiliki cincin aromatic
yang bereaksi dengan asam nitrat pekat bia
dipanaskan. Senyawa nitro yang yang
terbentuk dalam suasana basa akan
terionisasi dan warnanya berubah menjadi
jingga. Salah satu reaksi pada uji
xantoproteat adalah:

Fungsi HNO
3
pada uji xantoproteat adalah
untuk memecah protein menjadi gugus
benzene. Penambahan NaOH mendukung
suasana basa yang memudahkan proses
ionisasi senyawa nitro. Adanya pemanasan
pada larutan mempercepat proses uji untuk
menghasilkan warna kuning.
4. Uji penentuan titik isoelektrik
Sebelum dipanaskan
Tabung
pH
buffer
Hasil ( +/-)
endapan Simpulan
1 3,8 Menit 10 ++++
2 4,7 Menit 31 ++
3 5,0 Menit 24 ++
4 5,3 Menit 10 +++
5 5,9 Menit 27 +
Sesudah dipanaskan
Tabung
pH
buffer
Hasil ( +/-)
endapan simpulan
1 3,8 Menit 2 ++++
2 4,7 Menit 2 ++++
3 5,0 Menit 5 +++
4 5,3 Menit 8 +
5 5,9 Menit 7 +

Pada pH 3.8 terjadi endapan yang paling
banyak ketika sebelum dipanaskan. Pada
saat dipanaskan atau setelah dipanaskan,
pada Ph 3.8 dan 4.7 menghasilkan endapan
yang paling banyak. Ketika jumlah muatan
positif dan negative jumlahnya sama atau
netral, maka protein akan mengalami
koagulasi. Pada titik isoelektrik terdapat
keseimbangan antara bentuk-bentuk asam
amino sebagai ion amfoter, anion dan
kation. Tetapi sebagian besar molekul asam
amino terdapat dalam bentuk ion amfoter
dan hanya sedikit sekali yang terdapat dalam
bentuk kation dan anion dalam jumlah yang
sama. (Raymond, 2008)
Ketika jumlah muatan sama dengan nol,
maka protein akan mengalami koagulasi
sehingga protein akan mengendap. Hal ini
sering dilakukan untuk memisahkan atau
menghitung kadar protein dari suatu bahan.


4. SIMPULAN
1. Uji kualitatif protein 1
Unsur penyusun protein adalah C,H,O,N dan
S. Protein dapat larut dalam air karena
keduanya sama-sama bersifat polar. Protein
juga dapat larut dalam larutan asam dan basa
karena protein bersifat amfoter. Protein tidak
larut dalam pelarut nonpolar. Protein dapat
mengendap melalui penambahan garam-
garam anorganik dengan metode sating in
dan salting out. Penambahan ion-ion logam
pada protein menyebabkan protein
mengendap dengan membentuk garam
proteinat. Pengaru parameter fisik seperti
pH, suhu, dan konsentrasi sangat
berpengaruh terhadap uji kualiatit protein.
2. Uji kualitatif protein 2
BSA 2%, kasein 0,5%, gelatin 2%
menunjukan hasil positif uji biuret karena
larutan tersebut memiliki 2 ikatan peptida
atau lebih dengan menunjukan warna ungu.
Pada uji ninhidrin, semua sampel
menunjukan hasil positif. Ini menandakan
adanya asam amino bebas pada semua
sampel dengan menunjukan warna biru
violet pada larutan. Pada uji xantoproteat,
larutan BSA, kasein, gelatin menunjukan
hasil positif dan glisin menunjukan hasil
negative. Hasil positif menunjukan warna
kuning. Titik isoelektrik yang menghasilkan
endapan paling banyak berada di pH 3,8 dan
4,7. (Bintang, 2010)
Pemanasan pada beberapa uji sangat penting
untuk dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Bintang, Maria. 2010. Biokimia Teknik
penelitian. Jakarta. Erlangga
Chang, Raymond. 2008. Kimia Dasar 2.
Jakarta: Erlangga
Hermanto. 2013. Penuntuk Praktikum
Biokima 1. Laboratorium Kimia
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Poedjiadi. 1994. Dasar-dasar Biokima. UI
press
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta:
Erlangga
Sumarlin. 2013. Biokimia. Dasar-dasar
biomolekul dan konsep
metabolisme. UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.