Anda di halaman 1dari 41

Kelas X Elektronika Industri | Febry Hindrawan

SMKN
29
JAKARTA
MODUL MULOK

IDENTIFIKASI KOMPONEN ELEKTRONIKA

Lembar Informasi
Identifikasi komponen elektronika merupakan pengetahuan dasar dalam
mempelajari elektronika. Identifikasi komponen meliputi pengenalan komponen,
simbol, nilai komponen serta ukuran fisik komponen.
1. Resistor
Resistor adalah suatu komponen yang bersifat resistif. Resistor dipergunakan
untuk mengatur besar arus yang mengalir dalam suatu rangkaian, semakin besar
nilai resistansi maka semakin kecil arus yang mengalir. Nilai resistansi suatu resistor
dinyatakan dalam Ohm. Nilai resistansi ini ditunjukkan dengan dua metode yaitu
dengan gelang warna atau dengan angka-angka yang terdapat pada resistor
(dibahas lebih detail pada modul Merakit komponen elektronika).
Arus yang mengalir pada resistor akan menyebabkan temperatur dalam
resistor naik. Untuk power electrical dibutuhkan resistor yang mampu untuk
temperatur tinggi. Kemampuan resistor dalam hal temperatur dinyatakan dalam watt.
Bentuk phisik resistor dapat menunjukkan kemampuan nilai watt, untuk resistor
dengan watt kecil mempunyai ukuran fisik kecil. Sedangkan resistor dengan watt
besar mempunyai ukuran fisik besar, hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.









Gambar 1. Resistor dengan kode warna dalam ukuran yang sebenarnya

Selain resistor dengan kode warna, ada juga resistor dengan nilai angka.
Resistor jenis ini digunakan untuk daya-daya yang lebih tinggi sehingga disebut
dengan resistor daya yang ditunjukkan oleh Gambar 2.


Gambar 2. Jenis-jenis resistor daya

Resistor dibedakan menjadi dua yaitu resistor tetap yang nilai resistansinya
tetap atau tidak dapat diatur-atur dan resistor variabel yang nilai resistansinya dapat
diatur. Bentuk dan ukuran phisik resistor tetap ditunjukkan pada Gambar 1 dan
resistor variabel pada Gambar 3.


Gambar 3. Bentuk phisik resistor variabel
Simbol dari resistor ditunjukkan pada Gambar 4

Simbol resistor :



Gambar 4. Simbol resistor : (a) Resistor tetap , (b) Resistor variabel
KODE WARNA DAN HURUF PADA RESISTOR
Kode warna pada resistor menyatakan harga resistansi dan toleransinya. Semakin kecil harga
toleransi suatu resistor adalah semakin baik, karena harga sebenarnya adalah harga yang
1k 1k
(a) (b)
tertera harga toleransinya. Misalnya suatu resistor harga yang tertera = 100 mempunyai
toleransi 5%, maka harga sebenarnya adalah:
Harga resistor = 100 (5% x 100) s/d 100 + (5% x 100)
= 95 s/d 105 .
Terdapat resistor yang mempunyai 4 gelang warna dan 5 gelang warna seperti yang terlihat
pada gambar di bawah ini :



Gambar 9. Resistor dengan 4 Gelang dan 5 Gelang Warna.

Tabel 4. Kode Warna pada Resistor 4 Gelang
Warna
Gelang 1
(Angka pertama)
Gelang 2
(Angka kedua)
Gelang 3
(Faktor pengali)
Gelang 4
(Toleransi/%)
Hitam - 0 1 -
Coklat 1 1 10 1
Merah 2 2 10
2
2
Oranye 3 3 10
3
3
Kuning 4 4 10
4
4
Hijau 5 5 10
5
5
Biru 6 6 10
6
6
Ungu 7 7 10
7
7
Abu-abu 8 8 10
8
8
Putih 9 9 10
9
9
Emas - - 10
-1
5
Perak - - 10
-2
10
Tanpa
warna
- - 10
-3
20

Arti kode warna pada resistor 5 gelang adalah :
Gelang 1 = Angka pertama
Gelang 2 = Angka kedua
Gelang 3 = Angka ketiga
Gelang 4 = Faktor pengali
Gelang 5 = Toleransi



1 2 3 4
1 2 3 4 5
Kode Huruf Resistor
Resistor yang mempunyai kode angka dan huruf biasanya adalah resistor lilitan kawat yang
diselubungi dengan keramik/porselin, seperti terlihat pada gambar di bawah ini :



Gambar 10. Resistor dengan Kode Angka dan Huruf

Arti kode angka dan huruf pada resistor ini adalah sebagai berikut :
- 82 k 5% 9132 W
82 k berarti besarnya resistansi 82 k (kilo ohm)
5% berarti besarnya toleransi 5%
9132 W adalah nomor serinya
- 5 W 0,02 J
5 W berarti kemampuan daya resistor besarnya 5 watt
0,22 berarti besarnya resistansi 0,22
J berarti besarnya toleransi 5%
- 5 W 22 R J
5 W berarti kemampuan daya resistor besarnya 5 watt
22 R berarti besarnya resistansi 22
J berarti besarnya toleransi 5%
- 5 W 1 k J
5 W berarti kemampuan daya resistor besarnya 5 watt
1 k berarti kemampuan besarnya resistansi 1 k
J berarti besarnya toleransi 5%
- 5 W R 1 k
5 W berarti kemampuan daya resistor sebesar 5 watt
RIK berarti besarnya resistansi 1 k
- RSN 2 P 22 kk
RSN 2 P berarti nomor seri resistor
22 k berarti besarnya resistansi 22 k
k berarti besarnya toleransi 10%
- 1 k 5 berarti besarnya resistansi 1,5 k
5W
22RJ


2. Kapasitor
Nilai kapasitansi dari suatu kapasitor dinyatakan dalam Farad (F). Nilai
kapasitansi dan kemampuan tegangan dari suatu kapasitor dituliskan pada badan
kapasitor. Kode warna juga digunakan pada beberapa tipe kapasitor. Kapasitor
dibedakan menjadi dua yaitu kapasitor non polar dan kapasitor polar. Yang termasuk
kapasitor non polar antara lain : kapasitor keramik, mika, kertas dan film. Sedangkan
yang termasuk kapasitor polar antara lain: elektrolit dan tantalum. Bentuk fisik
secara umum dari kapasitor ditunjukkan pada Gambar 5 dan Gambar 6.

Gambar 5. Jenis-jenis kapasitor :
(a) ceramic disk capacitor, (b) ceramic plate capacitor, (c) micro
miniature ceramic capacitor, (d) molded tubular capacitor, (e) molded
tubular capacitor, (f) tubular ceramic capacitor, (g) high voltage ceramic
capacitor , (h) molded mica capacitor

Gambar 6. Kapasitor elektrolit

Kapasitor keramik sangat cocok untuk rangkaian frekuensi tinggi (HF) dan
frekuensi radio (RF) karena kestabilannya. Kapasitor keramik mempunyai kapasitas
dari beberapa piko Farad sampai dengan 471 micro Farad, dengan tegangan kerja
minimal 100 V sampai 1 kilo volt. Kapasitor mika juga cocok untuk rangkaian
frekuensi radio, kapasitasnya berkisar antara 50 pF sampai dengan 10.000 pF.
Kapasitor tantalum dan elektrolit termasuk kapasitor polar. Kapasitor tantalum
mempunyai keunggulan dibanding dengan elco. Keunggulannya terletak pada
keandalan maupun toleransinya serta bentuk fisik yang kecil sehingga
memungkinkan untuk membuat rangkaian yang lebih ringkas dan kecil.Simbol dari
kapasitor ditunjukkan oleh Gambar 7.







(a) (b)

Gambar 7. Simbol kapasitor
(a) kapasitor non polar, (b) kapasitor polar, (c) kapasitor variable



KODE ANGKA DAN HURUF PADA KAPASITOR

Kapasitor atau kondensator adalah suatu komponen listrik yang dapat menyimpan muatan
listrik. Kapasitas kapasitor diukur dalam F (Farad) = 10
-6
F (mikro Farad) = 10
-9
nF (nano
Farad) = 10
-12
pF (piko Farad). Kapasitor elektrolit mempunyai dua kutub positif dan kutub
negatif (bipolar), sedangkan kapasitor kering misal kapasitor mika, kapasitor kertas tidak
membedakan kutub positif dan kutub negatif (non polar). Arti kode angka dan huruf pada
kapasitor dapat dilihat pada tabel 7.




+
(a) (b) (c)
Tabel 7. Kode Angka dan Huruf pada Kapasitor
Kode
angka
Gelang 1
(Angka pertama)
Gelang 2
(Angka kedua)
Gelang 3
(Faktor pengali)
Kode huruf
(Toleransi/%)
0 - 0 1 B
1 1 1 10 C
2 2 2 10
2
D
3 3 3 10
3
F = 1
4 4 4 10
4
G = 2
5 5 5 10
5
H = 3
6 6 6 10
6
J = 5
7 7 7 10
7
K = 10
8 8 8 10
8
M = 20
9 9 9 10
9


Contoh : - kode kapasitor = 562 J 100 V artinya : besarnya kapasitas = 56 x 10
2
pF
= 5600 pF; besarnya toleransi = 5%; kemampuan tegangan kerja = 100
Volt.
- Kode kapasitor = 100 nJ artinya : besarnya kapasitas = 100 nF; besarnya
toleransi = 5%.
- Kode kapasitor : 100 F 50 V artinya = besarnya kapasitas = 100 F;
besarnya tegangan kerja = 50 Volt.

Cara membaca kode warna pada kapasitor dapat melihat tabel 3, dibawah ini :



Gambar 12. Kode Warna pada Kapasitor
Keterangan : A = gelang 1 = Angka pertama
B = gelang 2 = Angka kedua
C = gelang 3 = Angka ketiga
D = gelang 4 = Toleransi
E = gelang 5 = Tegangan kerja








ABCDE
Tabel 9. Kode Warna pada Kapasitor
Warna Gelang
1
(Angka)
Gelang
2
(Angka)
Gelang 3
(Pengali)
Gelang 4
(Toleransi
)
Gelang 5
(Tegangan Kerja)
Hitam - 0 1 - - -
Coklat 1 1 10 1 - -
Merah 2 2 10
2
2 250 V 160 V
Jingga 3 3 10
3
3 - -
Kuning 4 4 10
4
4 400 V 200 V
Hijau 5 5 10
5
5 - -
Biru 6 6 10
6
6 630 V 220 V
Ungu 7 7 10
7
7 - -
Abu-abu 8 8 10
8
8 - -
Putih 9 9 10
9
9 - -

3. Induktor / Kumparan
Kumparan (inductor) adalah gulungan kawat yang terlilit secara spiral.
Ditengah-tengah gulungan biasanya terdapat inti. Nilai inductor disebut dengan
induktansi dinyatakan dengan Henry (H). Ada tiga macam bahan inti untuk
kumparan yaitu inti besi, inti ferit dan inti udara. Beberapa contoh bentuk kumparan
dan simbolnya ditunjukkan pada Gambar 8.


Gambar 8. Jenis-Jenis Kumparan
(a) kumparan frekuensi rendah, (b) kumparan r-f , (c) kumparan toroidal , (d) tubular
insulated chokes.

Jenis-jenis kumparan / induktor berdasarkan jenis inti :
a. Kumparan berinti udara disebut juga RFC (radio frequency choke), digunakan
sebagai kumparan redam untuk frekuensi radio, induktansinya 2,5 mH.
b. Kumparan berinti ferit, digunakan sebagai kumparan redam frekuensi radio,
induktansinya 5 mH.
c. Kumparan berinti besi, digunakan sebagai kumparan redam untuk frekuensi 50
Hz, induktansinya 8 mH.

Simbol kumparan :


Gambar 9 . Simbol kumparan
Kegunaan kumparan :
a. Sebagai kumparan redam
b. Sebagai penentu frekuensi
c. Sebagai tapis (filter)

4. Transformator
Transformator terdiri dari dua gulungan kawat berlapis email, sehingga
gulungan satu dengan lainnya tidak terdapat hubungan langsung. Salah satu sifat
transformator.adalah apabila gulungan primer dimasuki tegangan bolak-balik, maka
pada gulungan sekunder akan mengeluarkan tegangan bolak-balik juga. Tinggi
tegangan bolak-balik yang dikeluarkan sesuai dengan perbandingan lilitan dari
kedua gulungan transformator tersebut. Pembahasan mengenai transformator akan
dijelaskan lebih lanjut pada modul mengoperasikan dan menguji transformator.

5. Dioda
Dioda termasuk komponen semikonduktor dengan dua terminal yaitu Anoda
dan Katoda. Arus dapat mengalir apabila potensial anoda lebih positip dibanding
katoda. Dioda digunakan antara lain pada :
Catu daya, sebagai penyearah
Sebagai stabilisator tegangan ( dioda zener )
Ukuran fisik dioda semikonduktor ditunjukkan pada Gambar 10.

Gambar 10. Jenis-Jenis dioda semikonduktor


Simbol dioda :



Gambar 11. Simbol dioda, (a) dioda , (b) dioda zener
6. Transistor
Dalam skema rangkaian elektronika, transistor ditandai dengan huruf T.
Seperti halnya dioda, transistor termasuk komponen semikonduktor. Bahan yang
digunakan adalah germanium atau silikon.
Transistor memiliki 3 terminal yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (C).
Terdapat dua jenis transistor yaitu NPN dan PNP. Bentuk fisik transistor ditunjukkan
pada Gambar 12.


Gambar 12. Bentuk fisik transistor
Kegunaan transistor :
a. Sebagai penguat, yaitu untuk menguatkan tegangan, arus atau daya.
b. Sebagai saklar elektronik
(b) (a)
PENGGUNAAN MULTIMETER

Lembar Informasi
Multimeter sering disebut AVOmeter atau multitester, alat ini biasa dipakai
untuk mengukur harga resistansi (tahanan), tegangan AC (Alternating Current),
tegangan DC (Direct Current), dan arus DC. Bagian-bagian multimeter seperti
ditunjukkan gambar di bawah






Gambar Multimeter


Gambar 1. Multimeter / AVOmeter

Dari gambar multimeter dapat dijelaskan bagian-bagian dan fungsinya :
1. Sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk (Zero Adjust Screw), berfungsi
untuk mengatur kedudukan jarum penunjuk dengan cara memutar sekrupnya ke
kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng pipih kecil.
2. Tombol pengatur jarum penunjuk pada kedudukan zero (Zero Ohm Adjust Knob),
berfungsi untuk mengatur jarum penunjuk pada posisi nol. Caranya : saklar
pemilih diputar pada posisi (Ohm), test lead + (merah dihubungkan ke test lead
(hitam), kemudian tombol pengatur kedudukan 0 diputar ke kiri atau ke
kanan sehingga menunjuk pada kedudukan 0 .
3. Saklar pemilih (Range Selector Switch), berfungsi untuk memilih posisi
pengukuran dan batas ukurannya. Multimeter biasanya terdiri dari empat posisi
pengukuran, yaitu :
a. Posisi (Ohm) berarti multimeter berfungsi sebagai ohmmeter, yang terdiri
dari tiga batas ukur : x 1; x 10; dan K
b. Posisi ACV (Volt AC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter AC yang
terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
c. Posisi DCV (Volt DC) berarti multimeter berfungsi sebagai voltmeter DC yang
terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
d. Posisi DCmA (miliampere DC) berarti multimeter berfungsi sebagai mili
amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 500.
Tetapi ke empat batas ukur di atas untuk tipe multimeter yang satu dengan yang
lain batas ukurannya belum tentu sama.
4. Lubang kutub + (V A Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test lead
kutub + yang berwarna merah.
5. Lubang kutub (Common Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya test
lead kutub - yang berwarna hitam.
6. Saklar pemilih polaritas (Polarity Selector Switch), berfungsi untuk memilih
polaritas DC atau AC.
7. Kotak meter (Meter Cover), berfungsi sebagai tempat komponen-komponen
multimeter.
8. Jarum penunjuk meter (Knife edge Pointer), berfungsi sebagai penunjuk
besaran yang diukur.
9. Skala (Scale), berfungsi sebagai skala pembacaan meter.
Menggunakan Multimeter
Pertama-tama jarum penunjuk meter diperiksa apakah sudah tepat pada
angka 0 pada skala DCmA , DCV atau ACV posisi jarum nol di bagian kiri (lihat
gambar 2 a), dan untuk skala ohmmeter posisi jarum nol di bagian kanan (lihat
gambar 2 b). Jika belum tepat harus diatur dengan memutar sekrup pengatur
kedudukan jarum penunjuk meter ke kiri atau ke kanan dengan menggunakan obeng
pipih (-) kecil.



(a) (b)
Gambar 2. Kedudukan Normal Jarum Penunjuk Meter

DC
a. Multimeter digunakan untuk mengukur resistansi
Untuk mengukur resistansi suatu resistor, posisi saklar pemilih multimeter
diatur pada kedudukan dengan batas ukur x 1. Test lead merah dan test lead
hitam saling dihubungkan dengan tangan kiri, kemudian tangan kanan mengatur
tombol pengatur kedudukan jarum pada posisi nol pada skala . Jika jarum
penunjuk meter tidak dapat diatur pada posisi nol, berarti baterainya sudah
lemah dan harus diganti dengan baterai yang baru. Langkah selanjutnya kedua
ujung test lead dihubungkan pada ujung-ujung resistor yang akan diukur
resistansinya. Cara membaca penunjukan jarum meter sedemikian rupa
sehingga mata kita tegak lurus dengan jarum meter dan tidak terlihat garis
bayangan jarum meter. Supaya ketelitian tinggi kedudukan jarum penunjuk
meter berada pada bagian tengah daerah tahanan. Jika jarum penunjuk meter
berada pada bagian kiri (mendekati maksimum), maka batas ukurnya di ubah
dengan memutar saklar pemilih pada posisi x 10. Selanjutnya dilakukan lagi
pengaturan jarum penunjuk meter pada kedudukan nol, kemudian dilakukan lagi
pengukuran terhadap resistor tersebut dan hasil pengukurannya adalah
penunjukan jarum meter dikalikan 10 . Apabila dengan batas ukur x 10 jarum
penunjuk meter masih berada di bagian kiri daerah tahanan, maka batas
ukurnya diubah lagi menjadi K dan dilakukan proses yang sama seperti waktu
mengganti batas ukur x 10. Pembacaan hasilnya pada skala K, yaitu angka
penunjukan jarum meter dikalikan dengan 1 K .
b. Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan DC
Untuk mengukur tegangan DC (misal dari baterai atau power supply DC),
saklar pemilih multimeter diatur pada kedudukan DCV dengan batas ukur yang
lebih besar dari tegangan yang akan diukur. Test lead merah pada kutub (+)
multimeter dihubungkan ke kutub positip sumber tegangan DC yang akan
diukur, dan test lead hitam pada kutub (-) multimeter dihubungkan ke kutub
negatip (-) dari sumber tegangan yang akan diukur. Hubungan semacam ini
disebut hubungan paralel. Untuk mendapatkan ketelitian yang paling tinggi,
usahakan jarum penunjuk meter berada pada kedudukan paling maksimum,
caranya dengan memperkecil batas ukurnya secara bertahap dari 1000 V ke
500 V; 250 V dan seterusnya. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bila
jarum sudah didapatkan kedudukan maksimal jangan sampai batas ukurnya
diperkecil lagi, karena dapat merusakkan multimeter.
c. Multimeter digunakan untuk mengukur tegangan AC
Untuk mengukur tegangan AC dari suatu sumber listrik AC, saklar pemilih
multimeter diputar pada kedudukan ACV dengan batas ukur yang paling besar
misal 1000 V. Kedua test lead multimeter dihubungkan ke kedua kutub sumber
listrik AC tanpa memandang kutub positif atau negatif. Selanjutnya caranya
sama dengan cara mengukur tegangan DC di atas.
d. Multimeter digunakan untuk mengukur arus DC
Untuk mengukur arus DC dari suatu sumber arus DC, saklar pemilih
pada multimeter diputar ke posisi DCmA dengan batas ukur 500 mA. Kedua test
lead multimeter dihubungkan secara seri pada rangkaian sumber DC (perhatikan
gambar.3 di bawah)


Gambar 3. Multimeter untuk Mengukur Arus DC
Ketelitian paling tinggi akan didapatkan bila jarum penunjuk multimeter pada
kedudukan maksimum. Untuk mendapatkan kedudukan maksimum, saklar pilih
diputar setahap demi setahap untuk mengubah batas ukurnya dari 500 mA; 250
mA; dan 0, 25 mA. Yang perlu diperhatikan adalah bila jarum sudah didapatkan
kedudukan maksimal jangan sampai batas ukurnya diperkecil lagi, karena dapat
merusakkan multimeter.

Pengujian Komponen dengan Menggunakan Multimeter :
Sebelum mulai merakit komponen elektronika, komponen tersebut harus
dipastikan dalam kondisi yang baik. Pengujian komponen dapat dilakukan dengan
menggunakan Multimeter.
1. Menguji Resistor
Resistor merupakan komponen yang jarang rusak, kalaupun rusak dapat dilihat
langsung dari fisiknya yaitu terbakar atau harga resistansinya naik. Pengujian
resistor biasanya dilakukan untuk melihat nilai resistansinya. Pembacaan nilai
resistansi dapat dilakukan secara langsung yaitu dengan kode-kode warna yang
terdapat pada resistor atau dapat juga dengan menggunakan Multimeter. Caranya
yaitu dengan meletakkan saklar jangkah multimeter pada posisi ohmmeter
dengan kedudukan R x 1 atau R x 10 atau R x 1 K. Bacalah nilai yang
ditunjukkan oleh jarum meter.
2. Uji Dioda
Pengujian dioda dilakukan dengan menguji nilai resistansi maju dan resistansi
mundur .Jika nilai resistansi maju kecil dan nilai resistansi mundur besar berarti
dioda masih baik. Pengujian dilakukan dengan mempergunakan multimeter.
Letakkan saklar jangkah pada posisi ohmmeter dengan kedudukan R x 1.
Pasangkan test lead hitam multimeter dengan kaki Anoda dan test lead merah
dengan kaki Katoda, jika jarum meter bergerak berarti resistansi majunya kecil.
Sekarang baliklah test lead merah mendapat Anoda dan test lead hitam
mendapat katoda, jika jarum tidak bergerak berarti resistansi mundurnya besar.
Dari kedua pengamatan tersebut dapat disimpulkan dioda baik.
3. Uji Kondensator
Kondensator tipe elektrolit dapat diuji dengan mempergunakan multimeter
dengan meletakkan selektor pada posisi ohmmeter. Pasangkan test lead merah
dan hitam pada kaki kondensator, jika jarum bergerak ke kanan dan kemudian
kembali ke kiri berarti kondensator masih baik.
4. Uji Transistor
Transistor pada prinsipnya adalah dua dioda yang saling dipertemukan,
yaitu dioda basis-emitor dan dioda basis-kolektor. Karenanya cara-cara menguji
transistor adalah hampir sama dengan menguji dioda, yaitu dilakukan dengan
menguji resistansi maju dan resistansi mundur dioda-dioda basis-emitor dan
basis-kolektor.
Menentukan kerusakan Transistor
a. Transistor NPN
Cara menentukan kerusakan pada transistor NPN adalah sebagai berikut:
1) Selektor alat ukur diletakkan pada posisi R x 100 atau R x 1K
2) Hubungkan test lead hitam pada basis dan test lead merah pada emitor.
Hasilnya :
Jarum alat ukur menyimpang menunjukkan harga R, hal ini
menunjukkan kondisi transistor dalam keadaan baik, karena yang diukur
resistansi maju dioda basis emitor.
Jarum alat ukur tidak bergerak sama sekali, berarti dioda basis
emitor putus.
3) Test lead hitam tetap pada basis, test lead merah dipindahkan ke kolektor.
Hasilnya :
Jarum alat ukur menyimpang menunjukkan harga R, berarti transistor
dalam kondisi baik, karena yang diukur resistansi maju dioda basis
kolektor.
Jarum alat ukur tidak bergerak sama sekali, berarti dioda basis
kolektor putus.
Cara menentukan kondisi transistor dengan multimeter ditunjukkan pada Gambar
2.

Gambar 2. Menguji Transistor NPN

4) Hubungkan test lead merah pada basis dan test lead hitam pada emitor
Hasilnya :
Jarum alat ukur tidak bergerak sama sekali, atau bergerak sedikit, maka
berarti kondisi transistor baik.
Jarum alat ukur menyimpang jauh ke kanan, berarti dioda basis emitor
hubung singkat ( bocor ).
5) Test lead merah tetap pada basis, test lead hitam dipindahkan ke kolektor.
Hasilnya :
Jarum alat ukur tidak bergerak sama sekali atau bergerak sedikit, maka
berarti kondisi transistor baik .
Jarum alat ukur menyimpang jauh ke kanan, berarti dioda basis
kolektor hubung singkat (bocor).
b. Transistor PNP
Cara dan hasil yang sama seperti pada transistor NPN, hanya polaritas-polaritas
test lead merupakan kebalikannya.
Cara menetukan jenis Transistor adalah dengan menghubungkan test lead
hitam pada basis dan test lead merah pada emitor atau kolektor., jika jarum
menyimpang ke kanan maka berarti jenis transistor adalah NPN, sedangkan jika
jarum tidak menyimpang sama sekali atau menyimpang sedikit, maka berarti
jenis transistor adalah PNP.
5. Uji Induktor ( Kumparan )
kondidi induktor dapat ditentukan dengan menggunakan ohmmeter, sedangkan
nilai induktansinya tidak dapat diukur dengan alat ukur Ohm.
Caranya adalah sebagai berikut :
a. Letakkan selektor multimeter pada posisi ohmmeter dengan kedudukan R x 1
atau R x 10 ( atau R x 100 ).
b. Ukurlah nilai resistansi kumparan dengan menghubungkan kaki kumparan pada
test lead multimeter.
Hasilnya :
Jarum alat ukur menyimpang menunjukkan harga R, berarti kondisi kumparan
baik
Jarum alat ukur menyimpang menunjuk angka nol ohm, kemungkinan ada
hubung singkat pada kumparan
Jarum alat ukur tidak menyimpang sama sekali, berarti kumparan putus.
6. Uji Transformator
Menguji transformator dapat dilakukan dengan multimeter, caranya adalah
sebagai berikut :
a. Selektor diletakkan pada posisi ohm terendah misal R x 1 atau R x 10, kemudian
ukur nilai resistansi pada gulungan primer.
Hasilnya :
Jarum bergerak menunjukkan nilai R, berarti gulungan primer baik.
jarum bergerak menunjukkan nol ohm, kemungkinan ada hubung singkat
pada gulungan primer.
Jarum alat ukur tidak bergerak sama sekali, maka berarti gulungan primer
putus.
b. Dengan cara dan hasil yang sama seperti pada langkah 1, ukurlah nilai resistansi
pada gulungan sekunder.
c. Selektor diletakkan pada posisi tertinggi misal R x 1K atau R x 10 k, kemudian
ukur resistansi antara gulungan primer dengan inti.
Hasilnya :
Jarum alat ukur tidak bergerak sama sekali, maka kondisinya baik
Jarum alat ukur bergerak, berarti ada hubung singkat antara primer dengan
inti
d. Dengan cara dan hasil yang sama pada langkah 3, ukurlah resistansi antara
sekunder dengan inti.
e. Dengan meletakan selektor masih pada posisi tertinggi, ukurlah resistansi antara
gulungan primer dengan sekunder.
Hasilnya :
Jarum alat ukur tidak bergerak sama sekali, berarti kondisinya baik.
Jarum alat ukur bergerak, berarti ada hubung singkat antara gulungan primer
dengan sekunder.

MERENCANAKAN TATA LETAK KOMPONEN ELEKTRONIKA
DAN MEMBUAT JALUR SAMBUNGAN

Lembar Informasi
Merencanakan tata letak komponen merupakan langkah awal dalam
pembuatan suatu rangkaian yang tercetak di atas papan rangkaian atau disebut
dengan PRT (papan rangkaian tercetak). Papan rangkaian tercetak merupakan jalur
hubungan rangkaian elektronika yang terpasang pada suatu bahan alas. Pada
papan rangkaian tersebut nantinya dipasang komponen elektronika. Papan
rangkaian tercetak terbuat dari lembaran-lembaran tembaga yang sangat tipis
sehingga memerlukan sebuah alas untuk menopangnya. Alas ini juga berlaku
sebagai perangkat yang berguna untuk memasang komponen dari sebuah
rangkaian lengkap.
Jenis serta bentuk dari jalur rangkaian elektronika ini sangat bervariasi,
tergantung dari keinginan orang yang merancang papan rangkaian tersebut. Pada
PRT, cetakan yang tampak berupa lapisan tipis tembaga. Bentuk potongan tembaga
ditentukan oleh tata letak atau artwork yang diperlukan untuk suatu rancangan
rangkaian elektronika tertentu.
Menyusun tata letak ini akan lebih mudah dilakukan di atas kertas terlebih
dahulu. Untuk memperoleh tata letak komponen yang baik dan benar perhatikan
ketentuan berikut ini :
1. Letak komponen rapi dan memenuhi syarat
2. Letak komponen satu dengan yang lain harus berdekatan sesuai titik lubang
3. Jarak antara komponen harus memenuhi syarat kerapian dan keselamatan
komponen
4. Diusahakan agar tidak ada dua komponen pada satu titik terminal
5. Diusahakan tata letak menggunakan Printed Circuit Board (PCB) sekecil
mungkin
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan tata letak adalah :
1. Diagram skematik dari rangkaian yang akan dibuat.
2. Jenis lapisan yang akan digunakan, lapisan tunggal (single layer) atau lapisan
ganda (double layer).
3. Banyaknya komponen yang akan dipasang pada papan.
Dalam merencanakan tata letak komponen dan jalur sambungan dapat digunakan
beberapa pendekatan. Satu hal yang perlu diingat ketika membuat tata letak
artwork adalah jarak antara saluran atau penghantar. Bila dua saluran sangat
berdekatan maka bisa terjadi percikan listrik. Jarak antara lintasan konduktif
tergantung pada besar selisih potensial antar lintasan tersebut. Bila tegangan
makin besar maka jaraknyapun harus makin jauh, hubungan antara jarak antar
lintasan dengan beda potensial antar lintasan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hubungan antara jarak antar lintasan dengan beda potensial antar
lintasan.

Tegangan antar penghantar
(puncak DC atau AC)
Jarak minimum
(inchi)
0 150 0,025
151 300 0,050
301 500 0,100
Di atas 500 0,002 per volt

Untuk tegangan puncak AC atau DC 150 V jarak harus sekitar 0,025 inchi atau
sekitar 0,65 mm. Bila tegangan antar lintasan mencapai 500 V, maka jaraknya
harus lebih 0,100 inchi atau sekitar 2,5 mm. Untuk tegangan di atas 500 V, maka
jarak harus ditambah 0,002 inchi setiap volt. Ukuran ini merupakan harga-harga
minimum. Jarak lebih dari itu diperbolehkan asalkan tidak melebihi batas yang
ditentukan.
Merencanakan tata letak dengan ukuran yang sebenarnya atau 1 : 1,
merupakan cara yang paling praktis. Salah satu cara yang paling lazim untuk
membuat tata letak papan rangkaian (pola rangkaian)adalah dengan menggunakan
kertas bergaris kotak-kotak (kertas grid) sebagai jiplakan. Kertas tersebut tersedia
dengan jarak garis 0,05 ; 0,10 atau 0,125 inchi atau dapat juga dengan
menggunakan milimeter blok. Kebanyakan rangkaian elektronik menggunakan kotak
0,10 inchi. Kotak-kotak tersebut dapat membantu dalam pembuatan artwork akhir.
Gambar 13 merupakan contoh-contoh kertas grid.
Caranya adalah dengan meletakkan kertas tipis di atas kertas kotak. Kertas ini
digunakan untuk menggambar rangkaian secara kasar (tracing). Agar artwork tidak
melebihi ukuran papan, maka harus dibuat garis pinggiran papan terlebih dahulu.

Gambar 13. Kertas grid untuk membuat tata letak komponen papan rangkaian

Metoda Tata Letak
Setiap komponen yang akan dipasang pada papan harus diberi ruangan yang
cukup. Jamgan sampai kekurangan tempat. Cara terbaik untuk menghindari
masalah ini adalah dengan menggunakan sekumpulan model komponen. Model
model ini dapat dibuat sendiri dengan memakai guntingan-guntingan kertas yang
agak tebal seperti ditunjukkan pada Gambar 14. Atau dapat juga dengan
menggambarkan model-model tersebut secara langsung, namun cara ini kurang
praktis sebab tidak dapat dipindah-pindahkan seperti model guntingan kertas.

Gambar 14. Potongan kertas model komponen untuk membantu tata letak
komponen pada papan rangkaian.

Beberapa ukuran jenis komponen ditunjukkan pada Tabel 2. Perlu dicatat
bahwa ukuran transistor dan kapasitor tergantung pada kapasitas serta rating-nya.
Pada Tabel 6 diberikan ukuran ukuran yang umum terdapat dipasaran. Dengan
ukuran ini perancang dapat menentukan berapa kotak diperlukan pada kertas grid
untuk menempatkan sebuah komponen beserta dengan kaki-kakinya.
Ketika memulai membuat tata letak papan rangkaian, penting diperhatikan
bahwa komponen akan dipasang pada sisi (muka) sebaliknya dari rancangan kita.
Hal ini penting terutama untuk komponen yang berpolaritas atau dengan pin-pin
yang sudah tertentu seperti kapasitor, dioda transistor dan IC. Karena kaki-kakinya
sudah tertentu, maka sebenarnya mudah sekali untuk melihatnya dari bawah.
Tabel 2. Ukuran artwork untuk beberapa komponen elektronika
Komponen Jarak
Resistor W , diode 0,4 inchi (4 kotak) antar kaki
Resistor W, dioda penyearah 0,5 inchi (5 kotak) antar kaki
Kapasitor piring 0,3 inchi (3 kotak) antar kaki
Elko berdiri 0,2 inchi (2 kotak) antar kaki
Komponen lain Diukur
Transistor 0,2 inchi (2 kotak) antar kaki
IC DIP s/d 18 pin 0,1 inchi (1 kotak) antar pin
0,3 inchi (3 kotak) antar baris
IC DIP lebih 18 pin 0,1 inchi (1 kotak) antar pin
0,6 inchi (6 kotak) antar baris

Metoda lain yang juga cukup baik adalah menggunakan template (sablon) ,
ditunjukkan pada Gambar 15. Sablon ini dapat digunakan untuk mengganti atau
membuat model-model komponen.

Gambar 15. Sablon gambar untuk tata letak dengan ukuran sebenarnya.

Metoda lain adalah dengan menggunakan komponen sesungguhnya. Pada
metoda ini, sebelum memulai membuat rancangan tata letak, terlebih dahulu
menyediakan semua komponen yang akan dipasang pada papan rangkaian. Setelah
semua komponen terpasang pada tempatnya dan semua garis-garis
penghubungnya sudah digambar, maka dapat dibuat artwork final pada sehelai
kertas putih.
Beberapa perancang lebih suka menggunakan kertas tipis yang ditaruh di atas
tempat meletakkan komponen yang telah dibuat. Setiap titik kaki komponen ditandai
dan ditarik garis-garis penghubung. Jadi pada kertas tipis ini tidak terdapat gambar
komponen, yang ada hanyalah gambar jalur-jalur penghubung. Dengan
menggunakan cara ini perancang akan mudah untuk memperbaiki tata letak
komponen bila diperlukan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perancangan tata letak
ditunjukkan dalam Gambar 16. Jangan membuat artwork secara serampangan. Jaga
format rancangan papan saluran dan bantalan agar tetap sederhana dan praktis.
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam merancang suatu tata letak
komponen adalah sebagai berikut :
1. Menyediakan diagram skematik untuk rangkaian yang akan dibuat.
2. Menentukan komponen yang akan dipasang di luar papan rangkaian seperti
transformator, kontrol, kapasitor variabel, fuse-holder dan sebagainya.
3. Menyusun rancangan sehingga hubungan masukkan berada pada satu ujung
dan hubungan keluaran berada pada ujung lainnya.
4. Hubungan bersama (common) atau ground sedapat mungkin dilintaskan
mengelilingi rancangan.
5. Setiap titik hubungan harus memiliki bantalan sendiri. Bantalan (pad) adalah
bulatan kecil tempat melakukan penyolderan komponen. Jangan menempatkan
dua komponen pada satu bantalan yang sama.
6. Saluran-saluran (lintasan penghantar) tidak boleh saling bersentuhan satu sama
lain. Untuk menghindari hal ini bila perlu dilakukan rancangan ulang (rerouting).

Tata letak
Prosedur pembuatan tata letak suatu rangkaian adalah sebagai berikut :
1. Menandai komponen-komponen di luar papan
Tahap ini dimulai dengan mengidentifikasi komponen. Buat tanda x untuk
masing-masing komponen pada diagram skematik pada koneksi kaki yang
terhubung ke komponen di luar papan.
2. Membuat daftar komponen yang digunakan
Semua komponen yang akan dipergunakan dibuat dalam suatu daftar untuk
mempermudah dalam menyiapkannya..
3. Membuat model-model dari komponen
Untuk membuat model gunakan ukuran komponen yang sesungguhnya. Ini
memungkinkan penempatan komponen yang benar serta mencegah pada saat-
saat terakhir ternyata tidak semua komponen dapat terpasang.
Lingkaran ujung atau pinggir model komponen disediakan untuk tempat kaki-
kakinya. Bantalan pada papan akan diletakkan pada titik ini. Lebih baik
menggunakan model komponen daripada komponen yang sesungguhnya
karena lebih mudah ditangani dan dipindah-pindahkan..
4. Menata model-model komponen.
Model-model komponen diatur dengan arah yang sama dengan arah pada
diagram skematik. Prosedur seperti ini mungkin sekali akan menghasilkan
ukuran papan yang cukup besar. Bila anda sudah cukup puas dengan
penempatan yang anda buat maka anda sudah boleh merancang saluran
hubungan listriknya.
Jika ruangan yang tersedia untuk membuat tata letak papan rangkaian sangat
terbatas, salah satu cara menghemat ruang papan adalah dengan memasang
beberapa komponen secara vertikal. Ini akan mengurangi ukuran papan
keseluruhan (lihat Gambar 19). Dioda dan resistor dapat dengan mudah
dipasang dalam bentuk radial maupun aksial.

Gambar 19. Tatanan komponen untuk menghemat ruangan

Cara lain untuk menghemat ruangan adalah dengan menggunakan papan
rangkaian muka ganda (double sided). Prosedurnya akan menjadi lebih rumit, sebab
memerlukan pengaturan artwork atas dan bawah yang lebih hati-hati.

Menggunakan model-model
Model-model yang telah dibuat bisa diletakkan pada kertas penjiplak atau
langsung pada kertas grafik (Gambar 20). Kegunaan kertas grafik ini adalah untuk
membantu pembuatan tata letak komponen dan kawat penghubungnya. Letakkan
model-model yang telah dipotong lebih dulu pada posisinya di atas kertas jiplak atau
kertas grafik.

Gambar 20. Penempatan model-model komponen
Langkah selanjutnya adalah membuat jalur hubung antar komponen sesuai
dengan gambar skematik. Gambar 21 menunjukkan tata letak lengkap dengan jalur
hubung untuk rangkaian pre-amplifier dengan tone control.

Gambar 21. Tata letak lengkap untuk pre-amplifier dengan tone control

Setelah anda selesai membuat tata letak secara keseluruhan, periksa kembali
pekerjaan anda. Pertimbangkan hal-hal berikut :
1. Apakah hubungan pada tata letak sesuai dengan diagram skematik ?
2. Apakah ukuran fisiknya sesuai dengan ukuran papan ?
3. Apakah semua komponen yang ada pada diagram skematik terdapat juga
pada papan ?
4. Apakah hubungan komponen di luar papan sudah ditandai ?
5. Apakah sudah disediakan ruangan untuk komponen-komponen pelengkap
seperti heat sink, sekrup dan lain-lain ?
6. Apakah sudah tersedia bantalan terpisah untuk masing-masing komponen
atau terminal ?
7. Apakah terdapat cukup ruangan antara komponen dengan penghantar
untuk menghindari hubungan pendek ?


MEMBUAT PAPAN RANGKAIAN TERCETAK
Papan rangkaian tercetak (PRT) merupakan papan pemasangan komponen
elektronika yang jalur hubungannya menggunakan papan berlapis tembaga.
Pembentukan jalur PRT dilakukan dengan cara etching (pelarutan), di mana
sebagian tembaga dilepaskan secara kimia dari suatu papan lapis tembaga kosong
(blangko). Tembaga yang tersisa beserta alasnya itulah yang akan membentuk PRT.
1. Papan Berlapis Tembaga
Papan berlapis tembaga disebut juga Cupper clade board. Pembuatan
papan berlapis tembaga dilakukan dengan cara laminasi yaitu melekatkan
lembaran tipis tembaga dengan ketebalan 0,0014 sampai dengan 0,0042 inci di
atas substrata atau alas. Substrata terbuat dari bahan Phenolik atau bahan serat
gelas (fibre glass). Papan rangkaian yang terbuat dari bahan Phenolik tidak boleh
digunakan pada frekuensi di atas 10 MHZ, karena akan mengakibatkan kerugian
signal. Papan Phenolik biasanya berwarna coklat. Papan rangkaian yang terbuat
dari bahan serat gelas mampu menangani frekuensi sampai dengan 40 MHZ.
Papan ini mempunyai warna kehijauan dan semi transparan.
2. Langkah-langkah Membuat PRT
Pembuatan PRT diawali dengan merancang tata letak dan jalur rangkaian
berdasarkan diagram skema. Untuk mempermudah dalam merancang tata letak
digunakan kertas grid. Tata letak yang dihasilkan kemudian digunakan untuk
merancang jalur rangkaian dengan menggunakan kertas trasparan. Caranya
yaitu dengan meletakan kertas trasparan (tembus cahaya) di atas gambar tata
letak kemudian gambar jalur rangkaian. Selain kertas transparan dapat
digunakan kertas kalkir atau plastik transparasi untuk OHP. Gambar jalur
rangkaian pada kertas transparan ini dapat disebut sebagai film. Disebut film
positip jika gambar jalur rangkaian dibuat hitam . Disebut film negatif jika yang
dihitamkan adalah dasarnya, sedang yang bening sebagai jalur rangkaian-nya.
Gambar jalur rangkaian pada kertas transparan (film) kemudian disalin ke
atas papan lapis tembaga kosong. Penyalinan ini dapat dipilih salah satu diantara
tiga metode, yaiu metode gambar langsung, metode fotografik atau metode
sablon.
Pada metode gambar langsung, jalur rangkaian digambar langsung di atas
bahan papan lapis tembaga kosong dengan menggunakan tinta / cat atau bahan
tempel yang tahan (resist) terhadap cairan pelarut.
Langkah-langkah pembuatan papan rangkaian tercetak ditunjukan dalam
Gambar 1 di bawah.

















Gambar 1. Blok Diagram Pembuatan PRT
Pada metode foto grafik, gambar jalur rangkaian pada film (kertas tembus
cahaya) diletakan di atas papan lapis tembaga kosong yang sudah
dipekacahayakan (dilapisi bahan foto resist). Kemudian secara fotografi, papan
beserta film disinari (ekspose) untuk memindahkan bayangan gambar jalur
rangkaian ke atas papan lapis tembaga kosong.
Pada metode sablon, gambar jalur rangkaian pada film (kertas tembus
cahaya) dipindahkan ke screen yang kemudian digunakan untuk membuat
gambar jalur rangkaian pada papan lapis tembaga kosong.
Gambar jalur rangkaian pada papan lapis tembaga difungsikan sebagai
bahan pelindung (resist). Setelah pelarutan dengan cairan pelarut yang disebut
Diagram Skema
Tata letak dan jalur
rangkaian pada
kertas Transparan
(Film)
Penggambaran
jalur rangkaian
pada papan
metode fotografik
Pelarutan
Penggambaran
jalur rangkaian
pada papan
metode langsung
Pengeboran
Penggambaran
jalur rangkaian
pada papan
metode sablon
etchant, semua lembaran tembaga kecuali yang tertutup atau tergambar oleh
bahan resist akan dilarutkan. Hasilnya merupakan jalur rangkaian yang tertinggal
pada bahan alas
Langkah selanjutnya adalah membersihkan PRT dari bahan pelarut
tembaga maupun bahan gambar kemudian dikeringkan. Setelah PRT kering,
dilakukan pengeboran atau pembuatan lubang-lubang kaki komponen serta
penyelesaian akhir pembuatan PRT.

3. Struktur Kerja / Materi
Struktur kerja pembuatan papan rangkaian tercetak adalah sebagai berikut
:
a. Menyiapkan Gambar
Fotocopylah gambar tata letak dan jalur rangkaian yang telah dibuat.
Gambar hasil foto copy yang akan digunakan, sedang gambar aslinya
disimpan sebagai master dan dapat digunakan lagi pada masa mendatang.
Digunakan gambar foto copy karena gambar akan rusak setelah digunakan
untuk menandai titik-titik bantalan.
b. Menyiapkan Papan Lapis Tembaga Kosong
1) Potonglah papan lapis tembaga kosong sesuai dengan ukuran akhir, tapi
beberapa orang lebih suka memotongnya lebih besar dan memotongnya
lagi setelah pelarutan. Pinggiran yang kasar diratakan dengan kikir.
2) Bersihkan permukaan papan lapis tembaga.
Permukaan papan lapis tembaga kosong harus bersih dari segala
bentuk minyak, gemuk dan semacamnya agar pelarutan dapat dilakukan
dengan berhasil.
Cara pembersihannya adalah sebagai berikut: :
Basahi permukaan tembaga dengan air yang mengalir
Bubuhkan bubuk gosok secukupnya diatas permukaan tembaga.
Dengan kain halus atau kertas pembersih, gosoklah pada seluruh
permukaan tembaga sampai cukup mengkilap. Jangan menggosok
terlalu keras karena bisa merusakan lapisan tembaga.
Sesudah digosok, bersihkan di bawah air mengalir.Apabila papan
telah bersih dari minyak dan oksida maka air akan mengalir keseluruh
permukaannya. Bila masih ada kontaminasi / minyak, air akan
menghindari daerah ini. Setelah bersih jangan lagi menyentuh
permukaan tembaga dengan tangan, lemak-lemak pada badan akan
berkontaminasi dengan permukaan papan. Mulai sekarang untuk
menanganinya dengan memegang tepinya.
Bersihkan air pada permukaan papan dengan meletakannya secara
berdiri dan biarkan air mengalir ke bawah atau keringkan dengan kain
yang bersih.
c. Membuat Tanda Titik Bantalan
Letakan salinan tata letak / jalur (fotocopy) di atas papan lapis tembaga
kosong yang sudah dipotong dengan ukuran yang sama dan ditahan dengan
pita perekat. Ketoklah titik-titik pada salinan tata letak / jalur dengan penitik.
Perlu diperhatikan pada saat menitik jangan diketok terlalu keras karena bisa
menyebabkan pecahnya papan.
Tanda titik hanya sekedar menandai bahwa pada titik tersebut akan
dibuat bulatan bantalan. Setelah semua tanda titik diketok maka salinan tata
letak / jalur (fotocopy) dilepaskan.
d. Membuat Bulatan Bantalan dan Jalur
Pembuatan bulatan bantalan dan jalur rangkaian dapat menggunakan
bermacam-macam bahan resist dan metoda. Pemilihan bahan dan metode
disesuikan dengan anggaran dan ketrampilan dalam menggambar. Hal lain yang
perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan adalah tersedianya bahan penghapus
bahan resist. Penghapus digunakan untuk pembenahan apabila terjadi kesalahan
dan diperlukan sesudah pelarutan, karena sebelum dilakukan penyolderan resist
harus dihapus dahulu.
Metode yang digunakan di sesuaikan dengan bahan. Metode cap
menggunakan bahan tinta pelindung (resist ink). Metode tempel menggunakan
pola-pola resist yang di pindahkan, misalya bahan rugos. Metode gambar
langsung menggunakan pena dengan tinta resist / spidol permanen. Metode-
metode diatas bisa digunakan secara saling melengkapi.
e. Sentuhan Akhir
Periksa gambar yang telah dibuat, apakah gambar telah sama dengan
gambar master atau belum.
Struktur kerja atau langkah kerja pembuatan papan rangkaian tercetak dapat
dijelaskan dengan menggunakan Gambar 2 di bawah.




























Gambar. 2. Struktur Kerja Pembuatan PRT

Siapkan gambar tata letak
atau jalur rangkaian
Siapkan papan lapis tembaga
kosong
Letakan gambar jalur diatas papan
dan tahan dengan pita perekat
Tandai semua titik bantalan dengan diketok
perlahan memakai penitik
Lepaskan kertas fotocopy gambar
jalur yang diletakan diatas papan
Buatlah bulatan bantalan pada tempat-
tempat yang telah diberi tanda titik
Hubungkan bulatan antar bantalan
sesuai dengan gambar jalur
Benahi gambar jalur yang kurang
sempurna
Siap
dilarutkan
(etching)

PELARUTAN (ETCHING) DAN PENGEBORAN
Struktur Materi / Pekerjaan dari pelarutan dan pengeboran papan rangkaian
tercetak secara blok diagram ditunjukkan oleh gambar 18.

















Gambar 18. Blok diagram pelarutan dan pengeboran PRT


Cara kerja / petunjuk dari proses pelarutan dan pengeboran papan
rangkaian tercetak adalah sebagai berikut :
1. Bahan Pelarut Tembaga
Untuk menghilangkan lapisan tembaga pada papan rangkaian tercetak (PRT)
yang tidak tergambar pola jalur (tidak tertutup tinta) adalah dengan melakukan
etching (pelarutan). Ada beberapa bahan kimia yang dapat dipergunakan untuk
etching diantaranya adalah larutan :
a. Feri Clorida (F
e
Cl
3
)
b. Natrium Sulfat (Na
2
SO
4
)
c. Asan Nitrat (HNO
3
)
d. Asam Clorida + perhidrosida (Hcl + H
2
O
2
)
2. Sifat-sifat Larutan Etching
Bahan bahan untuk proses pelarutan (etching) di atas mempunyai beberapa
sifat khusus, diantaranya adalah :
a. Dapat melarutkan tembaga
Bahan pelarut tembaaga
(PRT)
Sifat sifat bahan pelarut
Pembuatan Larutan etching
Pelarutan PRT (etching)
Pengeboran PRT
Penyelesaian akhir
Pengelolaan
larutan etching
PRT
sudah
tergambar
b. Dapat menyebabkan korosi pada logam
c. Mengendap dalam air dan endapan berwarna coklat yang berbau korosi
d. Bersifat asam kuat yang panas
e. Peka terhadap kulit tubuh manusia (menimbulkan gatal-gatal)
f. Dapat menimbulkan gas (gas NO
2
) yang dapat membuat iritasi pada
mata atau bila terhirup dalam jumlah yang banyak dapat mengakibatkan
kanker peru-paru.
g. Dapat membunuh mikro organisme dalam tanah sehingga tanah kurang
subur.
h. Jika bercampur dengan air hujan dapat menimbulkan asam.
3. Pembuatan Larutan Etching
Bahan-bahan untuk proses pelarutan PRT dapat dibeli di toko-toko bahan kimia
atau toko-toko elektronik. Feri Clorida (FeCl
3
) dan Natrium Sulfat (Na
2
SO
4
)
dijual dalam bentuk padat (sebuk), sedang Asan Nitrat (HNO
3
) dan Asam
Clorida + perhidrosida (Hcl + H
2
O
2
) dijual dalam bentuk larutrn pekat.
Selanjutnya bahan-bahan tersebut dapat dibuat larutan etching sebagai berikut :
a. Larutan FeCl
3

Campurkan serbuk FeCl
3
dengan air, dengan perbandingan 1 : 5 (satu
bagian FeCl3 dan 5 bagian air). Kemudian aduk sampai serbuk FeCl
3

larut semua.
b. Larutan Na
2
SO
4

Campurkan serbuk Na
2
SO
4
dengan air, dengan perbandingan 1 : 25
(satu bagian FeCl
3
dan 25 bagian air). Kemudian aduk sampai serbuk
Na
2
SO
4
larut semua.
c. Larutan HNO
3

Lakukan pengenceran HNO
3
, yaitu dengan menambah larutan
HNO
3
dengan air dengan perbandingan 1 : 3.

d. Larutan Hcl + H
2
O
2

Lakukan pengenceran Hcl + H
2
O
2
dengan menambahkan air
dengan perbandingan 20 : 4 :1 ( 20 bagian Hcl , 4 bagian H
2
O
2
, dan 1
bagian air)


Perhatian:
Bahan tersebut di atas sangat peka terhadap kulit, maka gunakan sarung
tangan saat bekerja dengan bahan kimia tersebut.
Gunakan bak plastik (non logam) untuk tempat larutan etching.
4. Proses Pelarutan (Etching)
Untuk melarutkan lapisan tembaga di luar pola yang sudah tergambar pada
PRT dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Secara Konvensional
Masukan PRT ke dalam larutan etching kemudian goyang-goyang
sampai semua tembaga yang tidak tergambar (tidak tertutup tinta) larut
semua.

b. Dengan Mesin Etching
Letakkan PRT pada bidang pengaliran larutan etching. Nyalakan mesin
dan tunggu beberapa saat hingga semua tembaga yang tidak tergambar
(tidak tertutup tinta) larut semua.
Untuk mempercepat proses pelarutan (etching) dapat dilakukan dengan
cara :
Menggoyang-goyang bak plastik tempat proses etching.
Mengalirkan larutan etching pada permukaan PRT
Menaikan suhu larutan (dengan menggunakan air panas dalam
pembuatan etching).
5. Pengelolaan Llarutan Etching
Laruitan etching merupakan bahan kimia yang dapat merusak (mengganggu)
baik diri manusia maupun lingkungan. Untuk itu perlu adanya penanganan
khusus dalam pemakaian larutan etching. Di bawah ini ada beberapa cara
yang dapat dilaksanakan untuk menangani larutan etching :
Gunakan larutan etching secara efektif dan efisien
Pakai sarung tangan dan masker saat bekerja dengan larutan etching
Jangan membuang larutan etching disembarang tempat, terutama pada
aliran air yang langsung dikonsumsi oleh masyarakat.
Buang larutan etching setelah kondisinya jenuh dan setelah melalui proses
netralisir kedalam tanah (ditimbun).
Jika sudah selesai memakai larutan etching masukan dalam botol yang
rapat dan tempatkan dalam almari khusus.

6. Menetralisir Limbah Larutan Etching
a. Tambahkan soda api (NaOH) pada limbah larutan etching sedikit demi
sedikit.
b. Periksa PH (derajat keasaman) limbah larutan etching dengan kertas lakmus
setiap penambahan NaOH .
c. Bila hasil pencelupan kertas lakmus ke dalam limbah larutan etching
mengakibatkan perubahan warna kertas lakmus sepadan dengan PH 7
hentikan penambahan NaOH .
d. Limbah larutan sudah netral dan bisa dibuang ke dalam tanah (ditimbun).
7. Pengeboran PRT
PRT yang sudah dilarutkan, dapat dibersihkan tintanya (yang menempel pada
gambar jalur) dengan menggunakan steel wool. Caranya adalah dengan
menggosok-gosokan beberapa kali hingga lapisan tembaga PRT bersih
mengkilat. Selanjutnya PRT tersebut siap untuk dibor pada bagian-bagian kaki
komponen atau bagian lain yang dikehendaki. Pengeboran dapat dilakukan
dengan mesin bor permanen atau portable. Pemilihan mata bor disesuaikan
dengan diameter lubang kaki komponen (0,5 1 mm).
8. Penyelesaian Akhir
Apabila PRT yang sudah jadi akan digunakan untuk waktu yang lama (tidak
langsung digunakan), maka lapisan tembaganya perlu dilapisi dengan vernis
atau lah bening. Hal ini dimaksudkan agar tidah terjadi oksidasi pada lapisan
tembaga PRT yang dapat menyebabkan sulitnya dalam penyolderan.

PENGGUNAAN PERALATAN TANGAN

1. Mesin bor
Mesin bor adalah merupakan suatu alat pembuat lubang, alur atau bisa untuk
peluasan dan penghalusan suatu lubang yang efisien. Sebagai pisau penyayatnya
pada mesin bor ini dinamakan mata bor yang mempunyai ukuran diameter yang
bermacam-macam. Di dalam pekerjaan mengebor atau peluasan lubang benda
kerja dengan mesin bor, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : kelengkapan mesin
bor (misal: ragum bor, kunci rahang bor, pengukur diameter mata bor, dan lain-lain) ;
pelumasan; jenis bahan yang akan dibor; arah putaran dan kecepatan putaran
mesin bor; dan pencegahan kecelakaan.

















Ada dua macam tipe mesin bor yang digunakan pada pekerjaan mekanik
elektro. Pertama jenis mesin bor listrik tangan (pistol) yang biasanya digunakan
pada pekerjaan labil atau untuk pengerjaan benda kerja yang relatif ringan atau
dengan ketebalan tipis. Kedua, mesin bor tetap yang biasanya digunakan untuk
pengerjaan benda kerja yang relatif lebih berat. Untuk jenis mesin bor ini dapat
dibedakan menjadi beberapa tipe mesin bor, antara lain : mesin bor meja, mesin bor

a. b.
Gambar 4. a. Mesin Bor Meja
b. Mesin Bor Tiang



tiang, mesin bor tegak, mesin bor radial, mesin bor horisontal jenis meja, mesin bor
berporos majemukdan mesin bor koordinat. Pada Gambar 4 di atas diperlihatkan
jenis mesin bor meja dan mesin bor tiang.
Komponen penting suatu mesin bor adalah mata bor. Mata bor adalah alat
pembuat lubang atau alur yang efisien. Macam-macam ukuran mata bor terbagi
dalam beberapa jenis, antara lain ; dalam satuan inchi, yaitu dari 1/64 sampai 3/8.
Dalam satuan milimeter dengan setiap kenaikan bertambah 0,5 mm dengan nomor
dari 80 1 dengan ukuran 0,0135 0,228, tanda huruf A s.d Z dengan ukuran
0,234 0,413.

Jenis-jenis mata bor pada proses pengeboran adalah sebagai berikut :
1. Bor senter (untuk pahat lubang)
2. Bor spiral dua alur (bor spiral dengan saluran pendingin)
3. Bor ujung rata
4. Bor alur (bor spiral bertingkat)
5. Peluas standar (bor kontersing)
6. Peluas ujung (bor mahkota)

Tabel 1. Macam-Macam Mata Bor dan Bahan Pembuatannya
Bahan Sudut Spiral Sudut
Ujung
Bentuk Phisik
Baja
Besi Tuang
20
o
30
o
118
0


Kuningan
Brons
10
o
15
o
130
0


Al Paduan
(Paduan MG
tembaga)
35
o
40
o
140
0


Bahan Sintetik
keras termal
10
o
15
o
80
0


Bahan sintetik
Termoplasik
35
o
40
o
80
0


.
Pada pengaturan kecepatan putaran, harus disesuaiakan dengan bentuk,
ukuran dan sifat benda kerja yang akan dibor. Hal ini harus diperhitungkan secara
tepat, agar dalam menggunakan mesin bor tersebut dapat menghasilkan hasil kerja
yang optimal dan efisien.
Untuk keperluan pengaturan kecepatan putar mesin bor dapat dituliskan dalam
bentuk persamaan sebagai berikut :




Keterangan : rpm : putaran mata bor per menit
Cutting speed : kecepatan potong ..m/menit
Drill Diameter : Diameter lubang (mm)
Pekerjaan mengebor adalah pekerjaan membuat lubang pada benda kerja
dengan menggunakan bermacam-macam mesin bor. Apabila pekerja akan
mengebor dengan teliti, haruslah bekerja dengan hati-hati, karena pada pemakanan
atau pemotongan permulaan, kemungkinan miring atau bisa meleset. Oleh karena
itu pada bagian yang akan dibor terlebih dahulu harus dibuat titik pusat yang
memenuhi syarat. Pada Gambar 5a diperlihatkan posisi badan pada waktu
pengerjaan mengebor benda kerja dengan menggunakan mesin bor.
















Sebelum mesin bor dipergunakan mengebor lubang pada benda kerja,
pekerja harus memperhatikan : kelengkapan mesin bor, pelumasan, jenis bahan
Gambar 5. a. Sikap Badan pada Saat Mengebor
b. Benda Kerja yang Dijepit
Cutting-speed x 4
rpm =
Drill-Diameter


a. b.
yang akan dibor, ukuran diameter bor, arah putaran dan kecepatan mesin bor dan
pencegahan kecelakaan.
Pada Gambar 5b diperlihatkan cara mengebor benda pekerjaan yang dijepit
dengan menggunakan ragum mesin bor. Untuk benda kerja yang telah rata dan
mendatar, dengan ukuran tebalnya lebih pendek daripada tinggi mulut ragum bor, di
bagian bawah benda kerja ditahan dengan bantalan yang rata dan sejajar. Agar
ragum bor tidak turut bergerak, ikatlah ragum dengan mur baud pada meja mesin
bor.











Gambar 6a memperlihatkan caracara mengebor logam yang berbentuk
batang bulat. Untuk hal ini benda kerja ditahan dengan balok V dan dijepit memakai
batang pengikat khusus, ditahan dengan balok yang sesuai dan diikat dengan mur-
baud yang ada di meja kerja.
Gambar 6b memperlihatkan cara mengebor untuk pengerjaan mengebor
tembus pada benda kerja yang diletakkan pada alas meja bor. Hal ini harus
diperhatikan bahwa ketika bor telah menembus benda pekerjaan, maka mata bor
jangan sampai menyayat permukaan meja bor. Oleh karena itu pada waktu
penjepitan benda kerja harus betul-betul, sudut mata pemotong bor dengan titik
pusat lubang yang akan dibor sepusat dengan titik lubang beja bor.

2. Solder
Gambar 6. a. Cara Mengebor Benda Berbentuk Bulat
b. Cara Mengebor Benda Tembus

a. b.
Solder listrik dibuat menjadi tiga macam tingkatan penyolderan , yakni
ringan, sedang dan berat. Soder ringan mempunyai suatu titik didih yang rendah.
Biasanya digunakan untuk merakit/menyolder komponen-komponen elektronika.
Pada umumnya solder lunak disusun dari 40% timah dan 60% dari timah
hitam. Variasi komposisi ini akan mempengaruhi suhu titik didih solder. Pada solder
sedang, biasanya digunakan untuk industri yang memerlukan suhu tinggi.
Komposisinya 50% timah dan 50% timah hitam. Sedangkan solder berat, digunakan
dalam proses pengelasan. Ada dua macam pengelasan dilihat dari bahannya, yakni
pertama pengelasan perak, komposisinya 50% dari timah dan 50% dari bahan
perak. Pada pengelasan dengan batang solder kuningan, komposisi 6% bahan
kuningan, 35% timah dan 55% dari seng, sisanya dari bahan lain.
Pada umumnya ada tiga jenis ukuran solder yang biasa digunakan, yaitu :
1. Batang soder berat dengan ukuran dari 2,4KW s.d. 10KW. Batang solder ini
digunakan untuk : konduktor besar lebih dari 10 mm, plat baja dalam kontrol
pabrik.
2. Solder medium dari 200 watt sampai 240 watt digunakan untuk konduktor
dengan ukuran 2 s.d. 10 mm. Metal lembaran dari fabrikasi.
3. Batang solder ringan, untuk daya dari 20 watt s.d. 40 watt. Jenis
penggunaannya adalah : untuk bahan semikonduktor, kabel lampu s.d
diameter 2 mm, cetakan papan rangkaian (CRT).