Anda di halaman 1dari 3

Laboratorium Bahan Galian Sie.

Petrografi

Nama : Erlangga Dwi P.
NIM : 111.120.016
Plug : 4 Page 1

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI METAMORFISME

I. Batuan Metamorf
Batuan metamorf atau batuan malihan merupakan batuan yang terbentuk
dari proses metamorfisme batuan-batuan sebelumnya karena faktor perubahan
temperatur dan tekanan. Metamorfisme terjadi pada keadaan padat dan tanpa
melalui fase cair, meliputi proses kristalisasi, reorientasi dan pembentukan
mineral-mineral baru. Banyak mineral yang mempunyai batas-batas kestabilan
tertentu yang jika dikenakan tekanan dan temperatur yang melebihi batas tersebut
maka akan terjadi penyesuaian dalam batuan dengan membentuk mineral-mineral
baru yang stabil. Selain pengaruh tekanan dan temperatur, metamorfisme juga
dipengaruhi oleh fluida, dimana fluida (H
2
O) dalam jumlah bervariasi di antara
butiran mineral atau pori-pori batuan yang pada umumnya mengandung ion
terlarut akan mempercepat proses metamorfisme.
Batuan metamorf memiliki beragam karakteristik. Karakteristik tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pembentukan batuan tersebut, antara lain:
Komposisi mineral batuan asal
Tekanan dan temperatur saat proses metamorfisme
Pengaruh gaya tektonik
Pengaruh fluida
Pada pengklasifikasiannya berdasarkan struktur, batuan metamorf
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
Foliasi, struktur yang menunjukkan adanya penjajaran mineral pada
batuan metamorf sebagai akibat dari pengaruh tekanan diferensial
(berbeda) pada saat proses metamorfisme.
Non foliasi, struktur batuan metamorf yang tidak memperlihatkan
penjajaran mineral-mineral dalam batuan tersebut.





Laboratorium Bahan Galian Sie. Petrografi

Nama : Erlangga Dwi P.
NIM : 111.120.016
Plug : 4 Page 2

II. Jenis-jenis Metamorfisme
Jenis-jenis metamorfisme dibagi menjadi 4 berdasarkan penyebab
utamanya yaitu bisa akibat suhu atau tekanan tinggi:
1. Metamorfisme Kataklastik
Terjadi pada batuan yang bersifat regas (britle) mengalami stress namun
tidak hancur dan berlanjut pada proses metamorfisme sehingga butiran dan
fragmen batuannya akan menjadi lonjong (elongated), dan berkembanglah foliasi.
2. Metamorfisme Kontak
Metamorfisme kontak terjadi akibat adanya intrusi tubuh magma panas
pada batuan yang dingin dalam kerak bumi. Akibat kenaikan suhu, maka
rekristalisasi kimia memegang peran utama. Sedangkan deformasi mekanik sangat
kecil, bahkan tidak ada, karena stress disekitar magma relatif homogen. Batuan
yang terkena intrusi akan mengalami pemanasan dan termetamorfosa.
3. Metamorfisme Timbunan
Batuan sedimen bersama perselingan piroklastik yang tertimbun sangat
dalam pada cekungan dapat mencapai suhu yang sangat tinggi. Adanya H
2
O yang
terperangkap di dalam porinya akan mempercepat proses rekristalisasi kimia dan
membantu pembentukan mineral baru. Oleh karena batuan sedimen yang
mengandung air lebih bersifat cair daripada padat, maka tegasan (stress) yang
bekerja leih bersifat homogen, bukan diferensial.
Metamorfisme timbunan merupakan tahap pertama diagenesa, terjadi pada
cekungan sedimen yang dalam, seperti palung pada batas lempeng. Apabila suhu
dan tekanan naik, maka metamorfisme timbunan meningkat menjadi
metamofisme regional.
4. Metamorfisme Regional
Batuan metamorf yang dijumpai di kerak bumi dengan penyebaran sangat
luas sampai puluhan ribu kilometer persegi, dibentuk oleh metamorfisme regional
dengan melibatkan deformasi mekanik dan rekristalisasi kimia sehingga
memperlihatkan adanya foliasi. Batuan ini umumnya dijumpai pada deretan
pegunungan atau yang sudah tererosi, berupa batu sabak (slate), filit, sekis dan
gneiss. Deretan pegunungan dengan batuan metamorf regional terbentuk akibat
subduksi atau collision. Pada collision batuan sedimen sepanjang batas lempeng
Laboratorium Bahan Galian Sie. Petrografi

Nama : Erlangga Dwi P.
NIM : 111.120.016
Plug : 4 Page 3

akan mengalami diferensial stress yang intensif sehingga muncul bentuk foliasi.
Sekis hijau dan amfibolit dijumpai dimana segmen kerak samudra purba masuk
zona subduksi dan bersatu dengan kerak benua dan kemudian termetamorfosa.
Ketika segmen kerak mengalami stress kompresi horizontal, batuan dalam kerak
akan terlipat dan melengkung. Akibatnya bagian dasar mengalami peningkatan
suhu dan tekanan, dan mineral baru mulai tumbuh.
III. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Metamorfisme
Ketika terjadi perubahan tekanan dan temperature, terjadi reaksi kimia
yang menyebabkan mineral dalam batuan berubah hingga mencapai kestabilan
pada tekanan dan temperature tertentu.
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi metamorfisme:
1. Temperatur Sepanjang Gradien Geothermal
Semakin dalam maka temperaturnya semakin tinggi
2. Bertambahnya Tekanan
Tekanan didefinisikan sebagai gaya yang dihasilkan dari segala arah. Jika
stress tidak sama dari segala arah, stress seperti ini disebut differential stress.
Jika differential stress ada selama proses metamorfisme, akan mempengaruhi
tekstur batuan yang terbentuk. Rounded Grains bisa menjadi bentuk sejajar
dalam arah maksimum stress. Mineral yang mengkristal atau tumbuh dalam
bidang differential stress dapat mempunyai orientasi lebih.
3. Fase Fluida
Setiap ruang antar butiran - butiran mineral dalam batuan berpotensi
mengandung fluida. Sebagian besar fluida H
2
O, tapi dapat juga mengandung
mineral yang terlarut. Fase fluida penting karena reaksi kimia yang melibatkan
satu mineral padat berubah jadi mineral padat lain dapat dipercepat oleh
penghancuran ion yang diangkut oleh cairan itu sendiri.
4. Waktu
Reaksi kimia dalam metamorfisme, selama rekristalisasi, dan pembentukan
mineral-mineral baru berjalan sangat lambat. Melalui percobaan laboraturium
dikatakan bahwa proses metamorfisme dengan waktu yang lebih lama, akan
menghasilkan mineral-mineral berbutir besar. Dengan demikian batuan
metamorf berbutir kasar telah melalui tahap metamorfisme yang lama.