Anda di halaman 1dari 27

Di dalam kehidupan sehari hari kita sebagai mahklukh hidup tidak bisa hidup sendiri,maka manusia adalah

makhluk sosial, sehingga manusia perlu berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Pada saat manusia
membutuhkan eksistensinya diakui, maka interaksi itu terasa semakin penting. Kegiatan berinteraksi ini
membutuhkan alat, sarana atau media, yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa menjadi alat, sarana atau media.
Bentuk dasar bahasa adalah ujaran. Ujaranlah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Bahasa
bisa di bilang sarana komunikasi mencakup aspek bunyi dan makna Sistematik karena bahasa memiliki pola dan
kaidah yang harus ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya Mana suka karena unsur-unsur bahasa dipilih
secara acak tanpa dasar Ujar , karena bentuk dasar bahasa Manusiawi, karena dimanfaatkan manusia.
Bahasa Indonesia dalam kehidupan kita sehari hari mempunyai fungsi atau kegunaan, di antara nya sebagai
berikut:
Sebagai informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal-balik antar anggota keluarga ataupun anggota-
anggota masyarakat.


a) Membantu dalam kajian penyebaran bahasa
Dialek seperti yang telah dijelaskan di atas adalah perbezaan bentuk-bentuk bahasa
yang menjadi ciri sesuatu daerah atau kelas-kelas sosial tertentu dan mempunyai suatu
persamaan yang cukup besar sehingga orang masih dapat saling memahami.
Dialek sosial diguna pakai dalam menganalisis penyebaran bahasa tempatan di
sesebuah negara. Menyebarnya sesuatu bahasa ke daerah lain, akan menyebabkan berlakunya
pertembungan dua dialek yang berbeza dalam masyarakat. Perpaduan dialek ini akan
membawa kepada perubahan kebudayaan dalam aktiviti sehari-hari. Namun, perwatakan
penutur sesuatu dialek dari kelompok pendatang masih dapat dilihat dalam melakukan
komunikasi dengan penduduk aslinya. Dengan demikian, penyebaran bahasa dapat dipelajari
dari kebudayaan dialek sosial yang terjadi dalam masyarakat. Persamaan persepsi makna
bahasa dan juga penentuan sempadan dialek dalam komunikasi menjadi kunci dalam
menyelesaikan perbezaan dialek.
Untuk menganalisis permasalahan bahasa ini, para ahli antropologi akan
mengumpulkan data tentang:
1) Ciri-ciri menonjol dari bahasa suku bangsa dengan mengklasifikasikan bahasa-bahasa
pada rumpun, subrumpun, keluarga, dan subkeluarga bahasa yang ada, dengan
beberapa contoh


Sebagai ekspresi diri, yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan,emosi atau tekanan-tekanan perasaan
pembaca.
Untuk adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat,
melalui bahasa seorang anggota masyarakat sedikit demi sedikit belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup,
perilaku, dan etika masyarakatnya.
Sebagai kontrol sosial. Selain itu bahasa juga mempunyai fungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang
lain.
Kemudian Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi :
Fungsi instrumental, yakni bahasa digunakan untuk memperoleh sesuatu
Fungsi regulatoris, yaitu bahasa digunakan untuk mengendalikan prilaku orang lain
Fungsi intraksional, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
Fungsi personal, yaitu bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
Fungsi heuristik, yakni bahasa dapat digunakan untuk belajar dan menemukan sesuatu
Fungsi imajinatif, yakni bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan dunia imajinasi
Fungsi representasional, bahasa difungsikan untuk menyampaikan informasi.
Di dalam bernegara peranan dan fungsi bahasa Indonesia sangat vital diantaranya sebagai
Bahasa resmi kenegaraan
Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan
Bahasa resmi untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan
pemerintah
Di bidang kebudayan mempunyai fungsi Alat pengembangan kebudayaan
Fungsi bahasa indonesia sebagai bahasa baku :
Fungsi Pemersatu, artinya bahasa Indonesia mempersatukan suku bangsa yang berlatar budaya dan bahasa
yang berbeda-beda
Fungsi pemberi kekhasan, artinya bahasa baku memperbedakan bahasa itu dengan bahasa yang lain
Fungsi penambah kewibawaan, penggunaan bahasa baku akan menambah kewibawaan atau prestise.
Fungsi sebagai kerangka acuan, mengandung maksud bahwa bahasa baku merupakan kerangka acuan
pemakaian bahasa

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 DEVINISI BAHASA
1.1.1 Pengertian Bahasa
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu
yang terlintas di dalam hati. Namun, lebih jauh bahasa bahasa adalah alat untuk beriteraksi
atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep
atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang,
berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi.
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang
berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi,
setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena
setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat
disimpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna. Contoh lambang bahasa yang
berbunyi nasi melambangkan konsep atau makna sesuatu yang biasa dimakan orang
sebagai makanan pokok.
1.1.2 Karakteristik Bahasa
Telah disebutkan di atas bahwa bahasa adalah sebuah sistem berupa bunyi, bersifat
abitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Dari pengertian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa di antara karakteristik bahasa adalah abitrer, produktif, dinamis, beragam,
dan manusiawi.
1. Bahasa Bersifat Abritrer
Bahasa bersifat abritrer artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan
tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut
mengonsepi makna tertentu. Secara kongkret, alasan kuda melambangkan sejenis binatang
berkaki empat yang bisa dikendarai adalah tidak bisa dijelaskan.Meskipun bersifat abritrer,
tetapi juga konvensional. Artinya setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan
antara lambang dengan yang dilambangkannya. Dia akan mematuhi, misalnya, lambang
buku hanya digunakan untuk menyatakan tumpukan kertas bercetak yang dijilid, dan tidak
untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar
konvensi itu.
2. Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa bersifat produktif artinya, dengan sejumlah besar unsur yang terbatas, namun
dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Misalnya, menurut Kamus
Umum Bahasa Indonesia susunan WJS. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai
kurang lebih 23.000 kosa kata, tetapi dengan 23.000 buah kata tersebut dapat dibuat jutaan
kalimat yang tidak terbatas.
3. Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa bersifat dinamis berarti bahwa bahasa itu tidak lepas dari berbagai
kemungkinan perubahan sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada
tataran apa saja: fonologis, morfologis, sintaksis, semantic dan leksikon. Pada setiap waktu
mungkin saja terdapat kosakata baru yang muncul, tetapi juga ada kosakata lama yang
tenggelam, tidak digunakan lagi.
4. Bahasa Bersifat Beragam
Meskipun bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena
bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan
kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis,
morfologis, sintaksis maupun pada tataran leksikon. Bahasa Jawa yang digunakan di
Surabaya berbeda dengan yang digunakan di Yogyakarta. Begitu juga bahasa Arab yang
digunakan di Mesir berbeda dengan yang digunakan di Arab Saudi.
5. Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal, hanya dimiliki manusia. Hewan tidak
mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau
gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan dinamis. Manusia dalam menguasai bahasa
bukanlah secara instingtif atau naluriah, tetapi dengan cara belajar. Hewan tidak mampu
untuk mempelajari bahasa manusia, oleh karena itu dikatakan bahwa bahasa itu bersifat
manusiawi.
1.1.3 Fungsi-Fungsi Bahasa
Konsep bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran. Bahasa adalah alat untuk
beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran,
gagasan, konsep atau perasaan.
Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat atau berfungsi untuk
menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit, sebab yang menjadi persoalan sosiolinguistik
adalah who speak what language to whom, when and to what end. Oleh karena itu fungsi-
fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topic, kode dan amanat
pembicaraan.
1. Fungsi Personal atau Pribadi
Dilihat dari sudut penutur, bahasa berfungsi personal. Maksudnya, si penutur
menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan
emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan
tuturannya. Dalam hal ini pihak pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedang
sedih, marah atau gembira.
Fungsi Direktif Dilihat dari sudut pendengar atau lawan bicara, bahasa berfungsi
direktif, yaitu mengatuf tingkah laku pendengar. Di sini bahasa itu tidak hanya membuat si
pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang
dikehendaki pembicara.
2. Fungsi Fatik
Bila dilihat segi kontak antara penutur dan pendengar, maka bahasa bersifat fatik.
Artinya bahasa berfungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan
bersahabat atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan biasanya sudah
berpola tetap, seperti pada waktu pamit, berjumpa atau menanyakan keadaan. Oleh karena
itu, ungkapan-ungkapan ini tidak dapat diterjemahkan secara harfiah.
Ungkapan-ungkapan fatik ini biasanya juga disertai dengan unsur paralinguistik, seperti
senyuman, gelengan kepala, gerak gerik tangan, air muka atau kedipan mata. Ungkapan-
ungkapan tersebut jika tidak disertai unsure paralinguistik tidak mempunyai makna.
3. Fungsi Referensial
Dilihat dari topik ujaran bahasa berfungsi referensial, yaitu berfungsi untuk
membicarakan objek atau peristiwa yang ada disekeliling penutur atau yang ada dalam
budaya pada umumnya. Fungsi referensial ini yang melahirkan paham tradisional bahwa
bahasa itu adalah alat untuk menyatakan pikiran, untuk menyatakan bagaimana si penutur
tentang dunia di sekelilingnya.
4. Fungsi Metalingual atau Metalinguistik
Dilihat dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi metalingual atau
metalinguistik. Artinya, bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri.
Biasanya bahasa digunakan untuk membicarakan masalah lain seperti ekonomi, pengetahuan
dan lain-lain. Tetapi dalam fungsinya di sini bahasa itu digunakan untuk membicarakan atau
menjelaskan bahasa. Hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa di mana kaidah-
kaidah bahasa dijelaskan dengan bahasa.
5. Fungsi Imajinatif
Jika dilihat dari segi amanat (message) yang disampaikan maka bahasa itu berfungsi
imajinatif. Bahasa itu dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan;
baik yang sebenarnya maupun yang hanya imajinasi (khayalan) saja. Fungsi imaginasi ini
biasanya berupa karya seni (puisi, cerita, dongeng dan sebagainya) yang digunakan untuk
kesenangan penutur maupun para pendengarnya.
1.2. Tujuan Berbahasa
Bahasa adalah sesuatu hal yang paling penting dan paling banyak digunakan oleh
manusia yang ada di Dunia ini. Tujuan berbahasa ini tidak lain yaitu untuk mengungkapkan
atau menyampaikan pikiran (Konsep riil) manusia kedalam pikiran orang lain, sehingga apa
yang manusia satu inginkan dapat dimengerti oleh manusia yang lainnya.
Dengan adanya saling pengertian antara manusia satu dengan manusia yang lainnya
maka akan muncullah kerjasama antar sesama manusia, sehingga manusia satu dapat
melengkapi kebutuhan manusia.
yang lainnya, dan juga sebaliknya. Seperti yang kita lihat di pasar. Dengan menggunakan
bahasa pembeli dapat mengungkapkan pikirannya kepada pedagang, setelah keduanya saling
mengerti tentang apa yang telah diinginkan dari keduannya tersebut maka muncullah
kerjasama yang mengakibatkan kedua orang tersebut mencapai apa yang telah diinginkan.
Jadi itulah tujuan dari berbahasa, yaitu untuk mencapai apa yang telah diinginkan oleh
pikiran manusia.
A. Pembicara (komunikasi)
- Ingin menyatakan sesuatu kepada pendengar
- Ingin menyampaikan tujuan kepada pendengar
- Ingin menerapakan metode berbahasa sesuai dengan bahasanya
B. Pendengar (komunikator)
- Ingin mempelajari sesuatu yang di katakana penbicara
- Ingin memahami tujuan yang di sampaikan pembicara
- Ingin mengunakan metode berbahasa yang disampaikan pembicara
Contoh:
- Halo apa kabar
- Kabar baik mas
- Sapaan saya ingin berkenalan dengan adik yang cantik
- Mas bisa saja padahal saya tidak cantik merayu ya

1.3. FUNGSI BAHASA
1.3.1 Pengertian Bahasa
Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota
masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang
keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan
komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan
komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati
bersama. Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi
mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat
komunikasi tadi mengandung banyak segi yang lemah.
Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang
dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang bunyi. Dan bunyi itu sendiri
haruslah merupakan simbol atau perlambang.
1.3.2 Aspek Bahasa
Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol
vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik
badaniah yang nyata. Ia merupakan simbol karena rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat
ucap manusia harus diberikan makna tertentu pula. Simbol adalah tanda yang diberikan
makna tertentu, yaitu mengacu kepada sesuatu yang dapat diserap oleh panca indra.
Berarti bahasa mencakup dua bidang, yaitu vokal yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia, dan arti atau makna yaitu hubungan antara rangkaian bunyi vokal dengan barang
atau hal yang diwakilinya,itu. Bunyi itu juga merupakan getaran yang merangsang alat
pendengar kita (=yang diserap oleh panca indra kita, sedangkan arti adalah isi yang
terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan reaksi atau tanggapan dari orang lain).
Arti yang terkandung dalam suatu rangkaian bunyi bersifat arbitrer atau
manasuka. Arbitrer atau manasuka berarti tidak terdapat suatu keharusan bahwa suatu
rangkaian bunyi tertentu harus mengandung arti yang tertentu pula. Apakah seekor hewan
dengan ciri-ciri tertentu dinamakan anjing, dog, hund, chien atau canis itu tergantung dari
kesepakatan anggota masyarakat bahasa itu masing-masing.
Benarkah Bahasa Mempengaruhi Perilaku Manusia?
Menurut Sabriani (1963), mempertanyakan bahwa apakah bahasa mempengaruhi
perilaku manusia atau tidak? Sebenarnya ada variabel lain yang berada diantara variabel
bahasa dan perilaku. Variabel tersebut adalah variabel realita. Jika hal ini benar, maka
terbukalah peluang bahwa belum tentu bahasa yang mempengaruhi perilaku manusia, bisa
jadi realita atau keduanya.
Kehadiran realita dan hubungannya dengan variabel lain, yakni bahasa dan perilaku,
perlu dibuktikan kebenarannya. Selain itu, perlu juga dicermati bahwa istilah perilaku
menyiratkan penutur. Istilah perilaku merujuk ke perilaku penutur bahasa, yang dalam artian
komunikasi mencakup pendengar, pembaca, pembicara, dan penulis.

1.3.3 Bahasa dan Realita
Fodor (1974) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem simbol dan tanda. Yang
dimaksud dengan sistem simbol adalah hubungan simbol dengan makna yang bersifat
konvensional. Sedangkan yang dimaksud dengan sistem tanda adalah bahwa hubungan tanda
dan makna bukan konvensional tetapi ditentukan oleh sifat atau ciri tertentu yang dimiliki
benda atau situasi yang
dimaksud. Dalam bahasa Indonesia kata cecak memiliki hubungan kausal dengan
referennya atau binatangnya. Artinya, binatang itu disebut cecak karena suaranya kedengaran
seperti cak-cak-cak. Oleh karena itu kata cecak disebut tanda bukan simbol. Lebih lanjut
Fodor mengatakan bahwa problema bahasa adalah problema makna. Sebenarnya, tidak semua
ahli bahasa membedakan antara simbol dan tanda. Richards (1985) menyebut
kata table sebagai tanda meskipun tidak ada hubungan kausal antara objek (benda) yang
dilambangkan kata itu dengan kata table.
Dari uraian di atas dapat ditangkap bahwa salah satu cara mengungkapkan makna
adalah dengan bahasa, dan masih banyak cara yang lain yang dapat dipergunakan. Namun
sejauh ini, apa makna dari makna, atau apa yang dimaksud dengan makna belum jelas.
Bolinger (1981) menyatakan bahwa bahasa memiliki sistem fonem, yang terbentuk
dari distinctive features bunyi, sistem morfem dan sintaksis. Untuk mengungkapkan makna
bahasa harus berhubungan dengan dunia luar. Yang dimaksud dengan dunia luar adalah dunia
di luar bahasa termasuk dunia dalam diri penutur bahasa. Dunia dalam pengertian seperti
inilah disebut realita.
Penjelasan Bolinger (1981) tersebut menunjukkan bahwa makna adalah hubungan
antara realita dan bahasa. Sementara realita mencakup segala sesuatu yang berada di luar
bahasa. Realita itu mungkin terwujud dalam bentuk abstraksi bahasa, karena tidak ada bahasa
tanpa makna. Sementara makna adalah hasil hubungan bahasa dan realita.
1.3.4 Bahasa dan Perilaku
Seperti yang telah diuraikan di atas, dalam bahasa selalu tersirat realita. Sementara
perilaku selalu merujuk pada pelaku komunikasi. Komunikasi bisa terjadi jika
proses decoding dan encoding berjalan dengan baik. Kedua proses ini dapat berjalan dengan
baik jika baik encoder maupun decoder sama-sama memiliki pengetahuan dunia dan
pengetahuan bahasa yang sama. (Omaggio, 1986).
Dengan memakai pengertian yang diberikan oleh Bolinger(1981) tentang
realita, pengetahuan dunia dapat diartikan identik dengan pengetahuan realita.
Bagaimana manusia memperoleh bahasa dapat dijelaskan dengan teori-teori pemerolehan
bahasa. Sedangkan pemerolehan pengetahuan dunia (realita) atau proses penghubungan
bahasa dan realita pada prinsipnya sama, yakni manusia memperoleh representasi mental
realita melalui pengalaman yang langsung atau melalui pemberitahuan orang lain. Misalnya
seseorang menyaksikan sebuah kecelakaan terjadi, orang tersebut akan memilikirepresentasi
mental tentang kecelakaan tersebut dari orang yang langsung menyaksikannya juga akan
membentukrepresentasi mental tentang kecelakaan tadi. Hanya saja terjadi
perbedaan representasi mental pada kedua orang itu.
1.3.5 Fungsi Bahasa
Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling
sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita
kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan
mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang
Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.
Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti
berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis
atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa bagi
kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan
berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar
atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa
bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk
kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik
melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan
tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan
kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat
untukberkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam
lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf,
1997: 3).
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada
perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan
perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa
Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang
politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam
pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak
langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya
akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus
berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan
iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).
Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak
dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya,
ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya
yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu
pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam
pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh
karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir
karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang
digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan
menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia
sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat
modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai
sarana komunikasi masyarakat modern.
1.3.6 Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri
Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan
kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam
perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk
mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di
sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri
maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya.
Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan
untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat
menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku, merupakan hasil ekspresi
diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya
menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang
lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai
berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda
kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.
Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai
bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi
pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk
kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat
untuk berkomunikasi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka
segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan
keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :
- agar menarik perhatian orang lain terhadap kita,
- keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi
Pada taraf permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk
menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).
1.3.7 Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak
akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan
komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek
moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan
perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia
mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa
depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).
Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki
tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang
dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita.
Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil
pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi
perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan
kebutuhan khalayak sasaran kita.
Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga
mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu,
seringkali kita mendengar istilah bahasa yang komunikatif. Misalnya, kata makro hanya
dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besar atau luas lebih
mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami
dibandingkan kata rumah atau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah,
wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya
atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa
intelektualitas, atau nuansa tradisional.
Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula
merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan
sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita,
pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa
maupun sebagai diri sendiri.

1.4.Bahasa sebagai Alat I ntegrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia
memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam
pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-
anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai
alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan
kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan
dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang
setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap
individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula
sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial
tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan
kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang
berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan
menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.
Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana
cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan
kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa
Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atauAnda? Bagi
orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang
Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat.
Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan
tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa,
kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

1.5.Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan
pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun
pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi
adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.
Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat
kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita
juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show)di televisi dan radio.
Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa
sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan
kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang
baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain
mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan
adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat
efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam
bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan
kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

1.6. HUBUNGAN BAHASA DENGAN PEMBELAJARAN
Secara umum bahasa memiliki fungsi personal dan sosial. Fungsi personal mengacu
pada peranan bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan setiap diri
manusia sebagai makhluk individu.
Adapun fungsi sosial mengacu pada peranan bahasa sebagai alat komunikasi dan
berinteraksi antarindividu atau antarkelompok sosial.
Halliday (1975, dalam Tompkins dan Hoskisson,1995) secara khusus mengidentifikasi
fungsi-fungsi bahasa sebagai berikut :
1. Fungsi personal, yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan pendapat, pikiran, sikap
atau perasaan pemakainya
2. Fungis regulator, yaitu penggunaan bahasa untuk mempengaruhi sikap atau pikiran/pendapat
orang lain, seperti bujukan, rayuan, permohonan atau perintah
3. Fungsi interaksional, yaitu penggunana bahasa untuk menjalin kontak dan menjaga hubungan
sosial, seperti sapaan, basa-basi, simpati atau penghiburan
4. Fungsi Informatif, yaitu penggunaan bahasa untuk menyampaikan informasi, ilmu
pengetahuan atau budaya
5. Fungsi heuristik, yaitu penggunanan bahasa bahasa untuk belajar atau memperoleh
informasi, seperti pertanyaan atau permintaan penjelasan atas sesuatu hal
6. Fungsi imajinatif, yaitu penggunaan bahasa untuk memenuhi dan menyalurkan rasa estetsi
(indah), seperti nyanyian dan karya sastra
7. Fungsi Instrumental , yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan keinginan atau
kebutuhan pemakainya, seperti saya ingin ...

1.6.1 Ragam Bahasa
Ragam bahasa adalah variasi penggunaan bahasa yang disebabkan oleh pemakai dan
pemakaian
bahasa. Dari segi pemakai atau penutur bahasa, ragam bahasa dapat diklasifikasikan
berdasarkan
pada :
1. Daerah asal penuturan atau pemakai bahasa
2. Kelompok sosial, dan
3. Sikap berbahasa
Sementara dari sudut pemakaian bahasa, klasifikasi ragam bahasa dapat dilakukan
berdasarkan pada :
1. Bidang atau pokok persoalan yang diperbincangkan
2. Sarana atau media yang dipakai
3. Situasi atau kondisi pemakaian bahasa
Warna atau ciri berbahasa Indonesia dari suatu kelompok masyarakat yang berasal
dari suatu suku atau daerah tertentu menghasilakan suatu ragama bahasa Indonesia yang
disebut dengan ragam bahasa daerah atau dialek geografi.
Dari segi kelompok sosial, ragam bahasa dapat kita bedakan berdasarkan :
1. Kedudukan pemakai bahasa;
2. Jenis pekerjaan
3. Pendidikan

Konsep kedudukan mengacu pada status sosial yang disandang pemakai bahasa di
tengah-tengah masyarakatnya. Sebagaimana digambarkan pada skema sebelumnya, ragam
bahasa Indonesia juga dapat dikelompokkan menurut pemakainya, yang terdiri dari (1)
bidang atau pokok persoalan yang dibicarakan, (2) Sarana atua media yang digunakan dalam
berbahasa, serta (3) situasi pemakainya.
Ragam bahasa berdasarkan situasi penggunaannya melahirkan istilah ragam resmi dan
tak resmi. Sesuai dengan namanya, ragam bahasa resmi digunakan dalam situasi formal,
seperti
pidato kenegaraan, karya ilmiah, surat dinas, dan dokumen pemerintah atau organisasi.
Sementara itu, ragam tak resmi digunakan dalam situasi berbahas yang santai dan akrab.
Misalnya dalam percakapan antara penjual dengan pembelio, anggota keluarga, teman
sejawat, surat-surat pribadi, dan acara rekratif atau hiburan.
Dalam memahami masalah ragam bahasa ada tiga hal yang perlu diperhatikan :
- Pertama : batas antar ragam itu dalam kenyataan berbahasa tidaklah setegas dan sejalas.
- Kedua : dalam suatu peristiwa bahasa, hampir tidak pernah seorang pemakai bahasa
hanya menggunakan satu ragam bahasa.
- Ketiga : tak ada satu ragam pun yang lebih baik atau lebih buruk. Semua ragam bahasa
itu baik, justru harus dapat memilih ragam bahasa yang paling sesuai dengan kebutuhan dan
tujuan berbahasa.
- Hakikat Pembelajaran Bahasa
1.6.2 Konsep Belajar
Belajar adalah sebuah proses penambahan bagian demi bagian informasi baru
terhadap apa yang telah mereka ketahui dan kuasai sebelumnya. Pengetahuan dibangun siswa
melalui keterlibatan mereka secara aktif dalam belajar atau apa yang dikenal dengan istilah
John Dewey belajar sambil berbuat (learning by doing). Jadi keberhasilan pembelajaran
tidak terletak pada seberapa banyak materi atau informasi yang disampaikan guru kepada
siswa.
Padahal, ukuran utama keberhasilan pembelajaran terletak pada seberapa jauh guru
dapat melibatkan siswa secara aktif dalam belajar. Siswa belajar dengan menggunakan tiga
cara, yaitu melalui pengalaman (dengan kegiatan langsung atau tidak langsung), pengamatan
(melihat contoh atau model), dan bahasa.
Implikasinya bagi guru dalam pembelajaran adalah :
- Pertama : karena siswa belajar berdasrkan apa yang telah dipahami atau dikuasai
sebelumnya maka, guru hendaknya mengupayakan agar pembelajaran bertolak dari apa yang
telah diketahui siswa.
- Kedua : karena belajar dilakukan secara aktif oleh siswa melalui kegiatan atau
pengalaman belajar yang dilaluinya maka siswalah yang berperan sebagai pusat
pembelajaran.
- Ketiga : dalam belajar siswa perlu berinteraksi dengan yang lain serta dukungan guru
dan temannya maka guru perlu merancang kegiatan belajar bukan hanya dalam bentuk
klasikal atau individual, tetapi juga dalam bentuk kelompok.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku
siswa melalui latihan dan pengalaman yang dilakukannya secara aktif. Hasil belajar berupa
pengetahuan, siap atau keterampilan yang dibangun siswa berdasarkan apa yang telah
dipahami dan dikuasainya. Dalam pembelajaran tugas guru adalah menjadikan siswa belajar
melalui penciptaan strategi dan lingkungan belajar yang menarik dan bermakna.
B. Belajar Bahasa
Anak-anak itu belajar dan menguasai bahasa tanpa disadari dan tanpa beban, apalagi diajari
secara khusus. Mereka belajar bahasa melalui pola berikut.
1. Semua komponen, Sistem dan Keterampilan Bahasa Dipelajari secara Terpadu
2. Belajar bahasa dilakukan secara alami dan langsung dalam konteks yang otentik
3. Belajar bahasa dilakukan secara bertahap, sesuai dengan kebutuhannya
4. Belajar bahasa dilakukan melalui strategi uji coba (Troal-Error) dan strategi lainnya
1.6.3 Pembelajaran Bahasa
Halliday (1979, dalam goodman,dkk.,1987) menyatakan ada tiga tipe belajar yang
melibatkan bahasa :
1. Belajar Bahasa
Kemampuan ini melibatkan dua hal, yaitu (1) kemampuan untuk menyampaikan
pesan, baik secara lisan (melalui berbicara) maupun tertulis (melalui menulis), serta (2)
kemampuan memahami, menafsirkan dan menerima pesan, baik yang disampaikan secara
lisan (melalui kegiatan menyimak) maupun tertulis (melalui kegiatan membaca).
2. Belajar melalui Bahasa
Seseorang menggunakan bahasa untuk mempelajari pengetahuan, sikap, keterampilan.
3. Belajar tentang Bahasa
Seseorang mempelejari bahasa untuk mengetahui segala hal yang terdapat pada suatu
bahasa, seperti sejarah, sistem bahassa, kaidah berbahasa, dan produk bahasa seperti sastra.
Apabila kita berbicara tentang kemampuan berbahasa maka wujud kemampuan itu
lazimnya diklasifikasikan menjadi empat macam :
1. Kemampuan Menyimak atau mendengarkan
Kemampuan memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan secara lisan oleh orang
lain.
2. Kemampuan berbicara
Kemampuan untuk menyampaikan pesan secara lisan kepada orang lain.
3. Kemampuan Membaca
Kemampuan untuk memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan secara tertulis oleh
pihak lain.
4. Kemampuan menulis
Kemampuan menyampaikan pesan kepada pihak lain secara tertulis
Dari Penelitiannya Walter Loban (1976, dal;am Tomkins dan hoskisson, 1995) menyimpulan
adanya hubungan antarketerampilan berbahasa siswa dan keterampilan berbahasa dengan
belajar.
Pertama : siswa dengan kemampuan berbahsa lisan (menyimak dan berbicara) yang kurang
efektif cenderung kurang efektif puila kemampuan berbahasa tulisnya (membaca dan
menulis)
Kedua : terdapat hubungan yang kuat antara kemampuan berbahasa siswa dengan
kemampuan akademik yang diperolehnya.
Paradigma atau cfara pandang pembelajaran bahasa di sekolah dasar adalah sebagai
berikut :
1. Imersi, yaitu pembelajaran bahasa dilakukan dengan menerjunkam siswa secara langsung
dalam kegiatan berbahsa yang dipelajarinya.
2. Pengerjaan (employment), yaitu pembelajaran bahasa dilakukan dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan berbahasa yang
bermakna, fungsional dan otentik.
3. Demonstrasi, yaitu siswa belajar bahasa melaluio demonstrasi dengan pemodelan dan
dukungan yang disediakan guru.
4. Tanggung jawab (responsibility), yaitu pembelajaran bahasa yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk memilih aktivitas berbahasa yang akan dilakukannya.
5. Uji coba (trial-error), yaitu pembelajaran bahasa yang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk melakukan kegiatan dari perspektif atau sudut pandang siswa
6. Pengharapan (expectation), artinya siswa akan berupaya utuk sukses atau berhasil dalam
belajar jika ada merasa bahwa gurunya mengharapkan dia menjadi sukses.

1.7. HUBUNGAN BAHASA DENGAN MASYARAKAT

1.7.1 SOSIOLINGUISTIK SEBAGAI HUBUNGAN BAHASA DAN MASYARAKAT
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri melainkan mestilah
selalu berinteraksi dengan sesamanya. Untuk keperluan tersebut, manusia mengunakan
bahasa sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai identitas kelompok. hal tersebut dapat di
buktikan dengan terbentuknyabahsa di dunia yang memiliki cirri-ciri yang unik yang
meyebabkannyaberbeda dengan bahasa lainnya. Hubungan antara bahasa dengan konteks
sosial tersebut
Bahasa adalah sistem lambang bunyi bahasa yang arbitrer yang digunakan masyarakat
untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa ini dapat dikaji dari
berbagai sudut pandang dan perhatian khusus pada unsur bahasa yang berbeda-beda seperti
struktur intern bahasa dikaji dalam linguistik, dengan kajian mendalam pada unsur fonem
atau bunyi bahasa disebut fonologi, morfologi mempelajari struktur intern bentuk-bentuk
kata,sintaksis mengkaji hubungan antarbentuk kata dalam tataran kalimat, dan lainnya.
Namun kajian bahasa secara intrinsik ini tidak mampu mengungkap fenomena bahasa secara
seutuhnya. Seperti misalnya dimensi kemasyarakatan bahasa yang tidak tampak dalam
struktur bahasa. Pengkajian bahasa dengan mempertimbangkan dimensi kemasyarakatan ini
yang disebut sosiolingistik.
Sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan
masyarakat penuturnya. Secara umum sosiolinguistik membahas hubungan bahasa dengan
penutur bahasa sebagai anggota masyarakat. Hal ini mengaitkan fungsi bahasa secara umum
yaitu sebagai alat komunikasi. Sosiolingistik lazim didefenisikan sebagai ilmu yang
mempelajari ciri dan berbagai variasi bahasa serta hubungan diantara para bahasawan dengan
ciri fungsi variasi bahasa itu di dalam suatu masyarakat bahasa.
Abdul Chaer (2004:2) berpendapat bahwa intinya sosiologi itu adalah kajian yang
objektif mengenai manusia di dalam masyarakat, mengenai lembaga-lembaga, dan proses
sosial yang ada di dalam masyarakat, sedangkan pengertian linguistik adalah bidang ilmu
yang mempelajari bahasa atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin
yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam
masyarakat.
Untuk lebih jelasnya akan di jabarkan lebih luas tentang Sosiolinguistik pada
pembahasan.
1.7.2 HAKIKAT SOSIOLINGUISTIK
Kata sosiolinguistik merupakan gabungan dari kata sosiologi dan linguistik. Sosiologi
adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat dan mengenai
lembaga-lembaga serta proses sosial yang ada dalam masyarakat.Linguistik adalah ilmu yang
mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian sosiolinguistik merupakan
ilmuantardisiplin yang mempelajari bahasa dalam masyarakat. Di dalam masyarakat
seseorang tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah,tetapi sebagai anggota dari
kelompok social. Oleh karena itu bahasa dan pemakaiannya tidak diamati secara
individual,tetapi dihubungkan dengan kegiatannya didalam masyarakat atau dipandang secara
social. Di pandang secara sosial,bahasa dan pemakaiannya dipengaruhi oleh faktor linguistic
dan non linguistik. Faktor linguistik yang mempengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri
dari fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sedangkan faktor non linguistik yang
mempengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri dari faktor sosial dan faktor situasional.
Factor sosial yang mempengaruhi pemakaian bahasa terdiri atas status sosial,tingkat
pendidikan,umur,jenis kelamin,dsb. Sedangkan faktor situasional yang mempengaruhi bahasa
terdiri dari siapa yang berbicara,dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan , dimana, dan
mengenai masalah apa.
Dalam konferensi sosiolinguistik pertama di universitas University of California
dirumuskan tujuh masalah yang dibicarakan dalam sosiolinguistik yaitu: (1) identitas sosial
dari penutur, (2) identitas sosial dari pendengar yang terlibat dalam proses komunikasi, (3)
lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi (4) analisis sinkronik dan diakronik dari
dialek-dialek sosial, (5) penilaian sosial yang berbeda oleh penutur akan perilaku bentuk-
bentuk ujaran, (6) tingkatan variasi dan ragam linguistik, (7) penerapan praktis dari penelitian
sosiolinguistik.
Identitas sosial dari penutur dapat diketahui dari pertanyaan apa dan siapa penutur
tersebut, dan bagaimana hubungannya dengan lawan tuturnya. Maka, identitas penutur dapat
berupa anggota keluarga. Identitas penutur itu dapat mempengaruhi pilih kode dalam
bertutur. Lingkungan sosial tempat peristiwa tutur terjadi dapat berupa ruang keluarga di
dalam sebuah rumah tangga, di perpustakaan, di perkuliahan, dll. Tempat peristiwa tutur
terjadi dapat pula mempengaruhi pilihan kode dan gaya dalam bertutur. Misalnya, di ruang
perpustakaan tentunya kita harus berbicara dengan suara yang tidak keras, sedangkan
dilingkungan para waria berbicara dalam mengunakan bahasa dalam kelompok tertentu
dengan bahasa yang sering mereka gunakan, seperti ragam bahasa gaul. Tingkatan variasi dan
ragam linguistik, bahwa sehubungan dengan heterogennya anggota suatu masyarakat tutur,
adanya berbagai fungsi sosial dan politik bahasa, serta adanya tingkatan kesempurnaan kode,
maka alat komunikasi, manusia yang disebut bahasa itu menjadi sangat beragam yang
memiliki fungsi sosialnya masing- masing.


1.7.3 KEDUDUKAN SOSIOLINGUISTIK
Seperti telah disinggung di atas linguistik adalah cabang ilmu yang mempelajari
struktur intern bahasa, atau disebut linguistik mikro, dengan cabang-cabangnya, yaitu
fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Kajian struktur bahasa yang melibatkan untuk di
luar bahasa (struktur ekstern bahasa) disebut linguistik makro. Bidang kajian linguistik makro
dibagi ke dalam dua bidang, yaitu interdispliner, yaitu kajian ilmu bahasa dengan ilmu lain
atau studi antarlimu, dan terapan, yaitu kajian atau hasil kajian bahasa yang digunakan untuk
memecahkan masalah-masalah praktis. Yang tergolong dalam bidang interdisipliner antara
lain fonetik (linguistik dan fisika), filsafat bahasa (filsafat dan bahasa), sosiolinguistik
(sosiologi dan linguistik), psikolinguistik (psikologi dan linguistik), dan etnolinguistik
(etnologi dan linguistik). Yang termasuk dalam bidang terapan antara lain pengajaran bahasa
(kajian linguistik digunakan untuk memecahkan masalah belajar atau penguasaan bahasa),
penerjemahan (kajian linguistik digunakan untuk memecahkan masalah alih bahasa), dan
leksikografi (hasil kajian bahasa digunakan untuk menyusun kamus). Dengan demikian jelas
bahwa sosiolinguistik merupakan kajian linguistik makro dan bersifat interdisipliner,
merupakan studi antarilmu sosiologi dan linguistik.

1.8. HUBUNGAN BAHASA DENGAN KEILMUAN

1.8.1 HUBUNGAN ANTARA ILMU BAHASA DENAGAN ILMU JIWA
Dari segi kejiwaan didefinisikan bahwa bahasa adalah salah satu bentuk sikap
manusiawi.Bahasa tersebut mempunyai hubungan dengan manusia sampai batas yang besar
dan menjadi pembeda dari seluruh makhluk yang ada. Dalam hal ini ilmu jiwa
mengkhususkan pelajaran tentang sikap manusiawi dan mempelajari tentang kebahasaan
yang menggambarkan salah satu bagian yang mempertemukan antara ilmu bahasa dengan
ilmu jiwa.
Pendidikan ibarat aliran dalam ilmu jiwa dan diluarnya, pentingnya para pendidik untuk
mendirikan suatu pendidikan melalui bahasa dan perkataan yang melahirkan bahasa seperti
bagian-bagian aliran, sebenarnya pentingnya membahas bahasa pada pertengahan pertama
pada abad kedua puluh pada masa kerajaan atau pemerintahan. ini ibarat perbedaan zaman
didalamnya dengan membahas bahasa yang lebih besar yang telah mendirikan dua perbedaan
dari pembahasan bahasa dan ilmu jiwa dengan menjelaskan persiapan dan landasan dalam
menerangkan bahasa, demikianlah cara untuk memahami bahasa dengan perkataan yang
diibaratkan dekat dengan hatinya, dari suara dalam sebuah percakapan dan dialog, disamping
mempersiapkan keinginan untuk mendengar pidatonya, sesungguhnya kegiatan ilmiah yang
melalui hati ibarat perkataan yang tidak termasuk kepada kerangka ilmu bahasa. Pentingnya
memahami beberapa bahasa agar mampu melakukan pembinaan dalam ilmu jiwa.
Demikianlah kecenderungan hubungan antara persiapan kumpulan dan persiapan perkataan.
Disamping itu bahasa bukan dari beberapa hal yang menjelaskan tentang bahasa yang
menciptakan pemikirannya tentang persiapan beberapa kegiatan ilmiah lainnya dan juga
dibahas dalam ilmu jiwa.
Dengan melihat kenyataan bunyi suara yang bersumber dari orang yang bercerita dan
berlalu dalam bentuk suara maka jadilah pertemuan itu masuk dalam pembahasan ilmu
bahasa.
Dari segi metode pelajaran dan pembahasan, maka disini terdapat perbedaan yang jelas
antara metode yang dipakai oleh pakar bahasa dan pakar psikologi tentang bentuk kebahasaan
(Hijazy : 1973, hal. 38/50). Pada beberapa tahun terakhir ini ada upaya untuk menafsirkan
segi kebahasaan yang mengandung segi itu juga. Adapun contoh yang tidak melampaui
ketentuan-ketentuan kebahasaan yang dipelajari berdasarkan pengajaran jenis dari ketentuan
maka cukuplah, akan tetapi megherankan juga dari segi susunan kebahasaan. Sebagaimana
terpecahnya beberapa disiplin ilmu semasa dulu.
Berdasarkan hal yang demikian maka sesungguhnya ruang lingkup ilmu jiwa adalah
merobah orang yang berbicara kepada kode/tanda, dan ini merupakan hal yang wajar menurut
akal yang sempurna bagi manusia dan hasil dari padanya berubah menjadi suara yang
menjadi bahasa.
Dengan berdirinya pendidikan bahasa dengan demikian kode atau tanda ini pada akal
akan dianalisa maknanya. Penganalisaan akal juga termasuk kedalam pembahasan ilmu jiwa
dengan menghubungkan kode atau tanda yang diberikan dari pembicara kepada pendengar
dan ini merupakan ruang lingkup pembahasan ilmu bahasa. (Hijazy 1973 dari Carrol 1960
hal. 8).
Sebagian pakar bahasa dan pakar psikologi berpendapat bahwasanya mempelajari
perjalanan bahasa adalah beruntung tidak untuk dipahami secara bahasa maka cukuplah,
bahkan untuk menjadikan teori umum bagi ilmu psikologi. Hal ini sesungguhnya merupakan
batas mempelajari bahasa psikologi pada dua puluh tahun yang lalu untuk dijadikan bagian
pertemuan antara ilmu psikologi dengan ilmu bahasa. Cabang ilmu tersebut yaitu ;
- Ilmu bahasa jiwa
- Bagian yang sangat berkaitannya dengan ilmu jiwa bahasa
- Psikologi bahasa

1.8.2 HUBUNGAN ANTARA ILMU DENGAN ILMU SOSIAL
Dari segi kemasyarakatan kita temukan pengetahuan-pengetahuan sosial yang
bermanfaat dari keberhasilan dalam membahas bahasa. Disamping itu penting mempelajari
bahasa dari segi sosial. Sebagaimana diterangkan untuk masyarakat itu sendiri.Di sini banyak
contoh yang berguna mempelajari ilmu social (Hijazy :1973. hal.51) yaitu :
1. Bahwa mempelajari lafal dan petunjuknya/dilalahnya menjadi sempurna dalam lingkaran
sosial dan kemajuan
2. Perubahan bahasa tidak dapat ditafsirkan kecuali yang sesuai dengan kemajuan dan
kemasyarakatan.
3. Persetujuan kemasyarakat memberi pengaruh terhadap kesamaan bahasa dan persamaan
kebahasaan ini yang membatasi perubahan bahasa yang berlaku di kalangan
masyarakat.Berdasarkan hal demikian, disini terdapat beberapa permasalahan bagi ilmu
bahasa yang berhubungan langsung dengan ilmu kemasyarakatan (sosiologi) yang menitik
beratkan pada ilmu tersebut diantaranya dinamakan :
- Ilmu sosial bahasa
- Ilmu kemasyarakatan
- Ilmu bahasa dan kebudayaan
- Ilmu bahasa dan antropologi
- Ilmu antropologi bahasa









DAFTAR PUSTAKA

Abdul chair dan leonie agustina. 2010. sosiolinuistik perkenalan awal. JAKARTA:RINEKA CIPTA.

Alwasilah, a chaedar.1993.pengantar sosiologi bahasa. BANDUNG: ANGKASA.


Diposkan 20th March oleh Jhoey Ary


Lihat komentar

Karya Sastra Jhoey

bercita citalah setinggi bintang maka andapun
mendapatkan setinggi bulan.

Timeslide







Beranda

MAR
24

MANTRA MANDIK BELEK
ANALISIS NILAI DAN FUNGSI MANTRA MANDIK BELEQ DI DESA TAMAN BARU KECAMATAN SEKOTONG KABUPATEN LOMBOK BARAT

1. Latar Belakang

Sebagai sebuah karya ilmiah, Mantra menawarkan permasalahan dan kemanusian, hidup dan kehidupan.
mantra pengobatan sasak lombok tengah
FUNGSI BAHASA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 DEVINISI BAHASA

1.1.1 Pengertian Bahasa

Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati.
ANALISIS LEGENDA BATU TINGGANG YANG TERDAPAT DI DUSUN BATU TINGGANG DESA LABULIA
KECAMATAN JONGGAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH





bentuk, fungsi, dan makna MANTRA PERTANIAN DAlam masyarakat SASAK





ANALISIS KESALAHAN MORFOLOGIS BAHASA INDONESIA







MAKNA SIMBOLIK MANTRA DAN PERANGKAT BENDA YANG DIGUNAKAN DALAM PROSESI ADAT
PERKAWINAN SUKU SASAK









BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA LELAKAQ BAU NYALE PADA MASYRAKAT SASAQ DI DESA JEROWARU
KECAMATAN JEROWARU KABUPATEN LOMBOK TIMIR









al-islam





















FUNGSI BAHASA
Bahasa adalah satu konsep umum yang menjadi dasar di dalam perhubungan.Ter dapat beberapa
sarjana yang memberi definisi mereka terhadap bahasa. Menurut Kamus Linguistik, bahasa adalah
keupayaan fitrah manusia yang berupa satu sistem lambang bunyi suara arbitrari yang dipersetujui
bersama oleh kelompok sosial dan digunakan sebagai alat berkomunikasi (Kamus Linguistik,
1997:27). Menurut Gorys Keraf (1997:1), bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat
berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Walau bagaimanapun, bahasa tidak
semestinya sebagai alat berkomunikasi kerana komunikasi juga boleh terbentuk melalui isyarat
tubuh atau melalui cara yang telah disepakati seperti lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong dan
sebagainya. Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang
dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia. Ia bukannya sebarang bunyi tetapi adalah bunyi yang merupakan
simbol atau perlambangan.

Bahasa mempunyai fungsinya yang tersendiri. Ia boleh memberi fungsi apabila bahasa tersebut telah
seragam penggunaannya melalui perbendaharaan dan pengimbuhan dan mengikuti segala
peraturan penggunaannya (Darwis Harahap Mohamad, 2004: 50). Fungsi adalah beban makna suatu
satuan bahasa atau hubungan antara satu satuan dengan unsur-unsur gramatikal, leksikal/fonologi
di dalam suatu deretan satuan/peranan unsur dalam suatu ujaran dan hubungannya secara
struktural (Harimurti Kridalaksana, 1993: 60). Terdapat
beberapa fungsi bahasa yang utama.

Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau
perasaannya pada sasaran yang tetap. Proses kognitif, iaitu pengenalan benda-benda kepada bahasa
telah berlaku (Asmah Omar, 1993: 16). Inilah yang menjadi fungsi utama bahasa iaitu sebagai alat
untuk mengekspresikan apa yang terlintas dalam pemikiran. Di dalam perkembangan bahasa, kanak-
kanak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, tetapi juga
untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya.

Setelah dewasa, kita menggunakan bahasa untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi. Seorang
penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisan. Sebagai contoh, tulisan kita dalam sebuah buku,
merupakan hasil ekspresi diri kita. Ketika menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca. Kita hanya
menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu difahami orang lain atau
tidak. Semasa menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa
tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya,
pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya
peribadi.

Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang
tersirat di dalam dada kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri adalah untuk menarik
perhatian orang lain terhadap kita dan keinginan untuk membebaskan diri kita daripada semua
tekanan emosi (Gorys Keraf, 1997: 4). Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi (Mokhtar
Mansor, 1991: 22). Manusia memerlukan suatu medium untuk melawan bicara dengan orang lain.
Dalam komunikasi seharian, salah satu alat yang sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan
mahupun bahasa tulisan. Bahasa menjadi alat komunikasi yang paling efektif di dalam memastikan
proses komunikasi berjalan lancar. Melalui komunikasi, kita mempelajari dan mewarisi semua yang
pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman
dengan kita. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud, melahirkan
perasaan dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama yang mewujudkan pelbagai aktiviti,
merencanakan dan mengarahkan masa depan (Gorys Keraf, 1997: 4).

Semasa menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu
antaranya ingin difahami oleh orang lain (Sumarsono, 2004: 143). Dalam berkomunikasi, kita
mempertimbangkan bahasa apa yang ingin digunakan. Misalnya, kata makro hanya difahami oleh
orang berpendidikan, namun kata besar atau luas lebih mudah difahami masyarakat. Bahasa adalah
unsur kebudayaan yang telah memberi manfaat kepada pengalaman manusia. Melaluinya, manusia
mempelajari dan mengambil bahagian dalam pengalaman tersebut. Di dalam situasi ini, bahasa telah
berfungsi sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial atau kemasyarakatan (Sumarsono, 2004: 145).

Masyarakat hanya dapat disatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi,
lebih jauh memungkinkan setiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang
dimasukinya. Seterusnya manusia dapat melakukan segala kegiatan kemasyarakatan dengan
menggunakan bahasa. Ia memungkinkan integrasi yang sempurna bagi setiap individu dengan
masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997: 5). Semasa mengadaptasi di dalam lingkungan sosial tertentu,
kita akan memilih bahasa yang kita gunakan bergantung pada situasi yang dihadapi. Kita
menggunakan bahasa yang berbeza pada orang yang berbeza. Kita perlu memilih dan menggunakan
bahasa yang sesuai di dalam percakapan, misalnya menggunakan kata Kamu atau Saudara untuk
memulakan perbualan. Kita perlu bijak agar dapat menghasilkan perbualan yang sesuai. Kata kamu
sesuai untuk rakan manakala saudara adalah untuk mereka yang baru dikenali. Dengan menguasai
bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut
(Zulkifley Majid, 1996: 16). Fungsi seterusnya adalah sebagai alat di dalam mengawal sosial. Bahasa
mampu untuk mengawal keadaan sosial dengan lebih efektif. Kawalan sosial ini dapat diterapkan
pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Pelbagai penerangan, informasi dan pendidikan
disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksional adalah salah satu
contoh penggunaan bahasa sebagai alat kawalan sosial (Zulkifley Majid, 1996: 17).

Ceramah agama atau dakwah merupakan salah satu contoh penggunaan bahasa yang berfungsi
sebagai alat kawalan sosial. Begitu juga penyampaian ilmiah atau politik. Kita juga sering mengikuti
diskusi atau perbincangan (talk show) di televisyen dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan
sosial merupakan salah satu kewujudan penerapan bahasa sebagai alat kawalan sosial. Semua itu
merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan
baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik dengan menggunakan bahasa. Di samping itu, kita
juga dapat belajar untuk menyemak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.
Contoh fungsi bahasa sebagai alat kawalan sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai
alat pereda rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan
rasa marah. Tuangkanlah rasa tidak puas hati dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya,
pada akhirnya, rasa marah kita beransur-ansur hilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih
jelas dan tenang. Bahasa sebagai alat untuk berfikir adalah fungsi yang hampir sama dengan
ekspresi. Namun begitu, terdapat perbezaan yang ketara. Walaupun tanpa bahasa manusia juga
boleh berfikir, namun ia akan lebih bermakna seandainya ia dapat diinterpretasikan melalui bahasa.
Dalam proses berfikir, kita menggunakan bahasa agar apa yang kita fikirkan mampu untuk
diungkapkan. Apa yang terbayang dalam pemikiran ialah bunyi-bunyi bahasa yang membentuk
pertuturan atau paparan. Paparan ini boleh diungkapkan menjadi suatu bahan iaitu bahan bertulis
yang bercetak seperti buku, majalah dan akhbar. Selain itu, alat berfikir ini juga boleh menjadi
bahasa lisan yang boleh digunakan untuk berkomunikasi (Mokhtar Mansor, 1991: 23).

Bahasa juga berfungsi sebagai alat perakam (Mokhtar Mansor, 1991: 24). Apabila seseorang itu
melihat gambar atau simbol, dia merakam apa yang dilihatnya itu dalam fikirannya. Namun, ia tidak
dapat dipancarkan kepada orang lain melainkan menggunakan medium seperti kamera. Tetapi
sekiranya medium tersebut tidak ada, manusia terpaksa menceritakannya. Di dalam hal ini, aspek
bahasa adalah penting sebagai medium di dalam memindahkan segala apa yang ingin
diperkatakannya. Oleh itu, bahasa mengetengahkan fungsinya sebagai sebuah alat yang mampu
merakam segala kejadian. Kejadian yang terakam sememangnya tidak terbukti seperti apa yang
mampu untuk dirakamkan melalui kamera tetapi ia diungkapkan kembali melalui penceritaan
semula dengan menggunakan bahasa.

Selain itu, terdapat beberapa orang tokoh seperti Karl Buhler, Simanjuntak, John Concon dan
sebagainya yang telah mengemukakan fungsi bahasa mengikut pandangan mereka sendiri. Karl
Buhler mengemukakan fungsi yang hampir sama dengan Simanjuntak. Mereka mengemukakan tiga
fungsi utama bahasa iaitu Appel, Ausdruck dan Darstellung. Appel/evokasi (membangkitkan)
menunjukkan bahawa bahasa berfungsi sebagai alat untuk memerintah atau meminta lawan bicara
untuk melakukan sesuatu. Fungsi ini seperti seorang komander memberi arahan kepada pasukan
mereka (Sumarsono: 148). Ausdruck/ekspresi (melahirkan) pula
menunjukkan bahawa bahasa berfungsi untuk mengungkapkan suasana hati penutur. Contohnya
perkataan aduh, amboi dan wah. Perkataan ini sudah mampu untuk memberitahu tentang suasana
hati penutur. Fungsi seterusnya ialah Darstellung/representatif (mewakili) iaitu berfungsi untuk
mengacu objek tertentu yang berada di luar diri penutur dan lawan tuturnya. Fungsinya adalah
untuk mengacu dan menjelaskan secara lebih terperinci, contohnya memberi analisis tentang
sesuatu.

John C. Concon Jr. turut memberi fungsi terhadap bahasa. Menurutnya, bahasa berfungsi untuk
membuka perbicaraan, menghindarkan komunikasi, komunikasi instrumental, komunikasi afektif,
melepaskan tekanan perasaan, menceritakan perkara tahayul dan berfungsi dalam bidang ritual
(Sumarsono, 2004: 154). Halliday pula memberikan bahasa kepada beberapa fungsi iaitu sebagai
fungsi deskriptif (menerang, menghurai), ekspresif (mengungkap) dan berfungsi di dalam bidang
sosial. Halliday (1978), juga menjelaskan bahawa bahasa berfungsi sebagai pencetus ideasional.
Manusia menggunakan bahasa untuk menata (mengorganisasikan) pengalaman penutur atau
penulis tentang dunia nyata atau dunia fantasi kepada pengungkapan. Bahasa tersebut mengacu
kepada barang, orang, tindakan, peristiwa, keadaan dan sebagainya di dalam keadaan nyata atau
yang dibayangkan. Bahasa juga berfungsi di dalam mengungkap interpersonal manusia. Bahasa
mampu untuk menunjukkan, membangun atau mempertahankan hubungan sosial antara manusia.
Ini mencakupi bentuk penyapaan, fungsi tutur, modalitas dan sebagainya. Fungsi seterusnya adalah
sebagai tekstual. Di dalam hal ini, bahasa mencipta teks bertulis atau lisan yang koheren di dalam
dirinya dan yang sesuai bagi sesuatu situasi tertentu (Sumarsono, 2004: 49).

Bahasa boleh diperoleh daripada pelbagai sumber dan ia terbentuk daripada beberapa faktor,
antaranya disebabkan oleh pengekodan, dialek dan sebagainya. Bahasa mempunyai beberapa
fungsi; sebagai alat ekspresi diri, alat komunikasi dan identiti diri yang memudahkan pekerjaan
manusia. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu
hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri
kita, baik sebagai bangsa mahupun sebagai diri sendiri. Bahasa adalah suatu yang utuh dan
bersistem, tidak menumpang kepada bahasa lain, wujud secara tersendiri dan mempunyai banyak
bentuk.

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan telah menyerlahkan perkembangan dan pertumbuhan
bahasa sebagai pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan
teknologi. Semua manusia di dalam era ini memberi peranan penting di dalam dunia persaingan
bebas dan komunikasi. Konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi maklumat (IT) secara tidak langsung memperkaya khazanah bahasa
Melayu. Maka, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Sekali gus, ia berperanan
sebagai prasarana berfikir dan pendukung pertumbuhan dan perkembangan IT. Menurut Sunaryo
(2000), tanpa adanya bahasa, bidang IT tidak dapat tumbuh dan berkembang.
Selain itu, bahasa di dalam struktur budaya, telah memiliki kedudukan, fungsi, dan peranan iaitu
sebagai akar dan produk budaya. Bahasa menjadi medan prasarana pemikiran moden. Biasanya,
penggunaan bahasa yang baik akan menghasilkan buah fikiran yang benar. Bahasa juga
menunjukkan identiti sesuatu bangsa. Oleh itu, bahasa perlu dipelihara kerana bahasa adalah jiwa
bangsa.

1Peranan Faktor Pembentuk Bahasa

Pembentukan adalah perbuatan atau hal yang membentuk (Ahmad Mahmood, 2001: 133).
Pembentukan bahasa adalah konsep umum yang mencakup infleksi, devirasi, afiksasi dan
penggabungan bahasa (Harimurti Kridalaksana, 1993: 159). Faktor atau peranan pembentukan
bahasa terjadi disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor ini menjadi asal kejadian kepada bahasa.
Menurut hipotesis monogenesis, semua bahasa di dunia ini berasal daripada satu bahasa induk.
Bahasa merupakan sesuatu yang dikurniakan daripada tuhan yang telah tersebar ke serata dunia. Ini
berlandaskan daripada kitab-kitab suci setiap insan seperti Bible dan al-Quran (Sumarsono, 2004:
68). Di dalam al-Quran sendiri ada menceritakan tentang hal ini, iaitu di dalam Surah al-Baqarah:
Ayat 31 dan 32, Dan Allah mengajarkan kepada Nabi Adam semua nama benda, kemudian Allah
berfirman kepada malaikat, Sebutkan kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang
benar. Mereka menjawab, Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang
Engkau ajar kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
(Terjemah al-Jumanatul Ali Al-Quran, 2004: 7).

Terdapat ahli falsafah yang tidak bersetuju dengan hipotesis monogenesis. E.B de Condillac (1968)
mengatakan bahawa bahasa berasal daripada suara dan gerakgeri badan yang mempunyai sifat
naluri. Semua manusia dilengkapi dengan naluri. Naluri tersebut kemudiannya dibangkitkan oleh
emosi yang kuat dan suara-suara yang beremosi tersebut akan berubah menjadi bunyi-bunyi yang
bermakna seterusnya membentuk bahasa.

Terdapat juga hipotesis yang disebut sebagai hipotesis polygenesis, iaitu hipotesis yang mengatakan
bahawa bahasa-bahasa yang berlainan lahir daripada pelbagai masyarakat yang berlainan dan
bahasa tersebut berevolusi. Bahasa itu hadir sama ada kerana onomatope atau bahasa yang hadir
akibat daripada kesedaran manusia (Sumarsono, 2004: 72). Menurut Von Herder, bahasa lahir
daripada alam dan onomatope iaitu tiruan daripada bunyi alam. Bunyi yang ditimbulkan oleh alam
seperti guruh dan bunyi binatang ditiru oleh manusia secara onomatope dan diolah untuk tujuan
tertentu. Selepas pengolahan, peniruan tersebut akan dimatangkan daripada dorongan hati manusia
yang kuat untuk berkomunikasi.

Bloomfield telah mengemukakan tiga teori berkaitan asal kejadian bahasa. Teori pertama adalah
teori bow-bow iaitu teori yang mengatakan bahawa bahasa muncul daripada keupayaan manusia
untuk meniru suara-suara lain. Teori dingdong pula menyatakan bahawa bahasa berasal daripada
keupayaan manusia dalam memberi respons kepada bunyi yang dihasilkan oleh alam. Manakala,
teori pooh-pooh menjelaskan bahawa bahasa berasal daripada teriakan kuat atau seruan keras
(Sumarsono, 2004: 70). Teori pembentukan bahasa ini adalah sesuatu yang abstrak.

Bahasa juga terbentuk hasil daripada pertembungan yang berlaku kepada bahasa atau disebut
bilingualisme. Bilingualisme adalah pertembungan antara dua bahasa dan penutur daripada kedua-
dua bahasa tersebut berusaha untuk mempelajari bahasa daripada pihak masing-masing. Setiap
penutur bahasa yang berlainan akan berusaha untuk mewujudkan komunikasi dengan menguasai
bahasa orang yang dilawan bicara. Contohnya, pertembungan antara bahasa Inggeris dan bahasa
Sanskrit telah membentuk bahasa baru seperti yang terdapat dalam beberapa perkataan bahasa
Melayu (Kamarudin dan Siti Hajar, 1997: 14).

Faktor pembentukan bahasa yang paling utama berlaku hasil daripada pemerolehan bahasa oleh
kanak-kanak. Kita mengetahui bahawa kanak-kanak tidak memperoleh bahasa secara terus tetapi
mereka harus melalui beberapa peringkat sehingga berjaya menguasai sesuatu bahasa. Mereka
diajar sejak kecil untuk mengenali bahasa tersebut (Harimurti Kridalaksana, 1982: 24).

Pemerolehan ini berlaku sama ada orang dewasa memberi mereka bahasa asli atau pinjaman atau
menterjemah bahasa tersebut untuk memudahkan pemahaman kanak-kanak (Harimurti
Kridalaksana, 1982: 55). Perkembangan kanak-kanak termasuk pemikiran mereka telah membawa
kepada kebolehan mereka untuk mengungkapkan pemikiran atau gagasan mereka sebagai tanda
wujudnya sosialisasi terhadap lingkungannya. Bahasa adalah satu proses yang sentiasa bersambung
dan ia akan diperturunkan ke generasi seterusnya.

Begitulah kita sebagai manusia akan memperturunkan bahasa yang kita gunakan kepada anak-anak
kita. Pemerolehan bahasa bagi setiap manusia iaitu kanak-kanak bermula ketika mereka berumur 18
bulan dan ia hampir sempurna ketika mencapai usia 4 tahun (Sumarsono, 72). Pemerolehan bahasa
ini bermula daripada proses prabahasa hinggalah kepada bahasa, melalui pemberian nama oleh
kanak-kanak itu kepada benda-benda yang dilihatnya kerana setiap kanakkanak dilahirkan dengan
daya untuk memahami alam sekitarnya (Asmah, 1993: 67).

Faktor pembentukan seterusnya adalah melalui dialek. Dialek ialah satu bentuk bahasa yang
digunakan di dalam sesuatu daerah atau oleh sesuatu kelas sosial. Dialek berbeza daripada bahasa
standard, loghat atau pelat daerah (Kamus Dewan, 2004: 302). Walaupun kita berteduh di dalam
bumbung yang sama iaitu Malaysia, namun wujud beberapa dialek seperti dialek Kelantan dan dialek
Kedah (Asmah, 1993: 114). Variasi atau kelainan bahasa ini merupakan cabang daripada bahasa
Melayu, misalnya Sabah mempunyai variasi bahasanya sendiri dan orang kampung di kawasan
pedalaman juga mempunyai variasinya sendiri.

Menurut Lyons, komuniti bahasa boleh wujud apabila semua orang dapat menggunakan satu bahasa
atau dialek yang sama dalam sesebuah kawasan (Kamarudin dan Siti Hajar, 1997: 2). Dialek daerah
dan dialek sosial adalah variasi daripada satu bahasa tertentu yang dituturkan oleh sekumpulan
penutur dalam sesebuah masyarakat atau dipanggil komunikasi bahasa (Kamarudin dan Siti Hajar,
1997: 5). Kedua-duanya wujud disebabkan oleh keadaan geografi, persekitaran, pergaulan dan
faktor politik, taraf pendidikan, kedudukan sosial, cara penyampaian, sikap penutur, gangguan latar
belakang serta tempat.

Pembentukan bahasa seterusnya berlaku disebabkan adanya proses pengekodan bahasa. Biasanya,
pengekodan bahasa ini membabitkan aspek tatabahasa, sebutan ejaan, perkamusan dan
peristilahan. Pengekodan ini biasanya menghasilkan satu bahasa baru. Di Malaysia, pewujudan
bahasa baku adalah contoh bahasa yang telah mengalami proses pengekodan. Bahasa baku adalah
bahasa yang dikodifikasi dan diterima oleh masyarakat secara umum serta menjadi model kepada
masyarakat bahasa tersebut. Oleh itu, bahasa yang telah dikodifikasikan adalah bahasa yang
bersistem atau mempunyai peraturan.

Menurut Nik Safiah Karim (1975), "Bahasa Melayu standard ialah variasi yang digunakan apabila
orang-orang daripada berbagai-bagai dialek di negara ini berkumpul dan berbincang dengan tujuan
untuk difahami, tiap pihak berusaha menggugurkan ciri kedaerahan masing-masing dan
menggunakan sedikit sebanyak variasi yang berasaskan bahasa Melayu dialek Johor-Riau, tetapi kini
pertuturan bahasa Melayu umum telah mempunyai sifat-sifat tersendiri".

Pengalaman bahasa Melayu merentasi zaman. Bahasa Melayu terus kekal sebagai bahasa utama
dunia sejak dahulu hingga kini. Persoalan yang timbul dewasa ini, bersetujukah anda bahawa Bahasa
Melayu perlu dipinggirkan dalam bidang keilmuan? Bahasa merupakan suatu sistem komunikasi
yang mempergunakan simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer. Bahasa dapat diperkuat
dengan gerak-geri badan yang nyata. Ia merupakan simbol atau lambang kerana rangkaian bunyi
yang dihasilkan oleh alat artikulasi manusia harus diberikan makna tertentu, dan ia biasanya
menggunakan simbol tertentu