Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Semua organisme memerlukan suplai zat-zat penghasil energi, yang dikenal sebagai
makanan, untuk meyediakan bahan bakar bagi kebutuhan fungsionalnya. Makanan
mengandung berbagai zat-zat kimiawi yang kita sebut nutrien. Nutrien menyediakan
zat-zat untuk produksi energi dan juga zat-zat stuktural untuk pertumbuhan serta
penjagaan sel. Nutrien-nutrien utama meliputi karbohidrat, protein, dan lipid. Vitamin
dan mineral diperlukan dalam jumlah yang lebih sedikit. Protein memiliki peranan
struktural dan fungsional. Karbohidrat dan lipid merupakan penyedia energi utama,
tetapi juga memiliki peran struktural, terutama dalam perakitan membran-membran
(Piliang, 2006).
Setiap hewan memiliki cara yang berbeda-beda untuk menangkap dan merobek-
robek mangsanya. Seperti cara menangkap mangsa pada hewan dari kelas mamalia
berbeda dengan hewan dari kelas reptilia. Hewan dari kelas reptilia contohnya ular
menangkap mangsanya dengan menggunakan gigi taring yang mengandung bisa dan
menelan mangsa secara utuh. Ular memiliki sensor kimia yang sangat tajam, meskipun
tidak memiliki gendang telinga, ular sangat sensitif terhadap getaran di darat, sehingga
membantu dalam mendeteksi pergerakan mangsa. Organ pendeteksi panas antara mata
dan lubang hidung ular berbisa (pit viper), termasuk ular derik sangat sensitive terhadap
perubahan suhu yang sangat kecil, sehingga perburuan pada malam hari mampu
menemukan hewan yang bersuhu hangat. Ular berbisa menyuntikkan bisanya melalui
2

sepasang gigi berlubang dan tajam atau gigi berlekuk. Lidah yang menjulur tidak
berbahaya namun membantu mengipas bau ke arah organ penciuman pada atap mulut.
Rahang yang bersambungan secara longgar memungkinkan sebagian besar ular menelan
mangsanya yang lebih besar dari diameter ular itu sendiri (Campbell, 2000).
Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut tentang sistem pencernaan yang
terdapat pada ular.

B. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Pengertian sistem pencernaan
2. Struktur dan fungsi sistem pencernaan pada ular.
3. Proses pencernaan pada ular.

C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengertian dari sistem pencernaan, mendapatkan gambaran dan
pengetahuan tentang struktur dan fungsi sistem pencernaan pada ular serta dapat
mengetahui bagaimana proses pencernaan yang terjadi pada ular.






3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sistem Pencernaan
Pencernaan merupakan proses kimia yang rumit dimana enzim khusus
diperlukan untuk mengkatalisasis pencernaan molekul substansi makanan menjadi
senyawa kimia yang sederhana dan berukuran kecil sehingga dapat dengan mudah
menembus dinding usus menuju ke dalam darah. Pencernaan makanan bertujuan untuk
mengubah subtansi makanan menjadi suatu bentuk yang ukurannya kecil dan dapat larut
dalam air, sehingga dengan mudah menembus dinding usus dan dapat segera digunakan
oleh sel untuk sintesis sel-sel baru, selain itu pencernaan makanan juga bertujuan untuk
menghilangkan kemungkinan adanya sifat anti genik dari substansi makanan terutama
protein (Wulangi, 1993).
Sistem pencernaan adalah rangkaian organ visceral dari kelenjar-kelenjar yang
menghasilkan secret yang berfungsi untuk pencernaan, absorbsi dan metabolisme
makanan. Sistem pencernaan ini meliputi beberapa tahapan, yaitu tahapan yang pertama
pengolahan makanan dan tahapan kedua adalah proses perombakan makanan menjadi
molekul-molekul yang cukup kecil sehingga dapat diserap oleh tubuh (Kurniati, 2009).

2.2 Struktur dan Fungsi
Sama seperti sistem pencernaan hewan pada umumnya, sistem pencernaan pada ular
juga terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaannya
4

terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan kelenjar
pencernaannya terdiri atas kelenjar ludah, pancreas dan hati.
2.2.1 Mulut
Mulut ular telah mengalami adaptasi. Perubahan terjadi pada kelenjar dalam
mulut dan kelenjar racun yang membantu dalam melumpuhkan mangsa dan menelan
mangsanya. Kelenjar ludah yang ditemukan dalam ular meliputi: Palatine, lingual,
sublingual dan kelenjar labia. Kelenjar ini membantu melembabkan mangsa untuk
ditelan. Pada ular berbisa, seperti Water Moccasin, kelenjar racun merupakan
modifikasi dari kelenjar labial. Kelenjar ini terletak di kedua sisi kepala dan leher. Pada
bagian depan atau belakang rahang atas, ular berbisa memiliki dua gigi tajam yang
cekung untuk memungkinkan racun dapat melewati. Setelah menyerang, ular
memasukkan gigi taring pada mangsanya, racun diperas dari masing-masing kelenjar
venom di bawah mata ke dalam saluran yang melewati kelenjar dimana senyawa racun
akan dilepaskan dan racun akan keluar dari taring (Spellerberg, 1982).
Pada ular yang tidak berbisa, gigi ular konstriktor, stasioner, taring panjang
(beralur), gigi lipat mundur ke dalam mulut saat tidak digunakan jika tidak, ular akan
menusuk bagian bawah mulutnya sendiri. Meskipun spesies ular berbisa hanya
seperlima dari semua ular, masing-masing ular memiliki cairan racun khusus, berikut
ini adalah tiga jenis yang paling penting dari racun yang ditemukan dalam bisa ular :
a. Neurotoksin: Mempengaruhi sistem saraf dengan merusak pusat-pusat syaraf,
seringkali menyebabkan pernapasan berhenti.
b. Cardiotoxins: Otot-otot jantung memburuk, yang menyebabkan jantung
berhenti berdenyut.
5

c. Hemotoxins: Penyebab pembuluh darah pecah, yang mengakibatkan
pendarahan internal yang luas
Beberapa racun juga dapat mengakibatkan agglutinins, yang membekukan
darah atau antikoagulan yang membuat darah berkurang. Kebanyakan ular
memanfaatkan beberapa senyawa ini untuk efek gabungan mematikan. Beberapa
ular menyerang mangsanya dengan cara penyempitan (Spellerberg, 1982). Berikut
adalah gambar struktur dari rahang dan bisa ular.

Gambar 2.1. Struktur Gigi Taring dan Bisa Ular (Anonymous, 2014 a)
2.2.2 Kerongkongan
Kerongkongan berhubungan langsung dengan mulut ular yang disebut juga
dengan buccal cavity. Hal ini menyebabkan kerongkongan/esophagus pada ular
menjadi terbuka. Ular memiliki kerongkongan yang panjang dan dapat menutupi hingga
setengah panjang tubuh. Kerongkongan ular memiliki lipatan lebih internal daripada
reptil lain, yang memungkinkan untuk menelan mangsanya yang besar secara utuh.
6

Gerakan peristaltik dalam kerongkongan menggerakkan makanan menuju perut
(Lillywhite, 2014).
2.2.3 Lambung
Lambung adalah organ berbentuk j di mana sebagian besar pencernaan terjadi
pada ular. Sel-sel perut mensekresikan enzim pencernaan dan asam lambung untuk
menghancurkan protein/ breakdown proteins. Lambung mengeluarkan cairan
pencernaan yang sangat kuat yang dapat melarutkan semua bagian dari mangsa kecuali
untuk gigi dan rambut (pada mamalia). Semua bagian lain dari mangsa termasuk tulang
dicerna (Spellerberg, 1982).
Lambung merupakan bagian pertama (atau paling atas) yang diperluas dari
bagian saluran pencernaan. Ukuran dindingnya diperluas untuk membantu
mengakomodasi makanan besar selama periode awal pencernaan. Dalam beberapa
kasus dimana beberapa mangsa berukuran besar dan panjang seperti ikan besar yang
dimakan oleh seekor ular, setelah ditelan mangsa menggeliat dan hanya ditampung
sebagian di dalam perut dan sebagian di dalam kerongkongan dan kemudian memasuki
usus. Namun, dari dua bagian tersebut, hanya perut yang memiliki kapasitas untuk
mencerna. Ketika perut tidak buncit dengan makanan, dinding rileks ke dalam lipatan
yang disebut rugae. Lipatan ini umumnya terdiri dari jaringan yang relatif lebih tebal
dari kerongkongan yang membantu untuk menggambarkan bagian perut dari saluran
pencernaan (Stevens & Ian, 1995).
7


Gambar 2.2. Bentuk Lambung Ular (Stevens & Ian, 1995).
2.2.4 Usus
Usus adalah segmen yang sangat penting, yang mana dari usus pencernaan akhir
dari makanan terjadi dan produk yang dihasilkan diserap ke dalam sirkulasi darah. Usus
terdiri dari dua wilayah utama, usus kecil anterior dan segmen posterior yang lebih
besar yang disebut usus besar. Usus besar jauh lebih pendek daripada usus kecil dan
biasanya memiliki diameter yang lebih besar (Lillywhite, 2014).



8

2.2.4.1 Usus Kecil
Usus kecil berbentuk tabung melingkar yang panjang dan sempit di mana
absorbansi/absorbance nutrisi berlangsung. Usus kecil dibagi menjadi tiga wilayah,
yaitu: duodenum, ileum dan jejunum (Spellerberg, 1982).
Menurut Lillywhite (2014), permukaan mukosa usus beruang-ruang, sehingga
banyak terdapat struktur fingerlike yang disebut dengan villi (tunggal: villus) dan sel-sel
mukosa yang menutupi permukaan setiap Vili ditutupi dengan berbagai proyeksi yang
lebih kecil, yang disebut microvili. Secara kolektif ini sangat memperbesar luas
permukaan penyerapan chime di dalam lumen .
Gambar 2.3. Struktur Usus Halus (Lillywhite, 2014)
2.2.4.2 Usus Besar
Usus besar adalah bagian yang paling berotot dan memiliki struktur dinding
yang sangat tipis dari sistem pencernaan ular. Usus besar ini melewati ruang cloacae/
cloacae chamber (Spellerberg, 1982).
2.2.5 Hati
Hati mengeluarkan empedu, yang disimpan dalam kantung empedu dan
disampaikan oleh saluran ke usus, di mana ia berfungsi untuk mengemulsi lemak. Hati
9

juga berfungsi dalam membuang air limbah nitrogen, menyimpan nutrisi, memproduksi
empedu, dan mengeluarkan enzim pencernaan ke dalam duodenum dari usus kecil
(Goin, 1962).
2.2.6 Pankreas
Lokasi dan fungsi pankreas mirip dengan hewan lain. Pankreas menghasilkan
insulin dan glikogen, juga menghasilkan enzim pencernaan seperti lipase, protease dan
karbohidrase lalu mengeluarkannya ke duodenum (Goin, 1962).
2.2.7 Kloaka
Menurut Spellerberg (1982), Rektum membuka ke kloaka, yang akhirnya,
membuka ke dalam lubang pembukaan ke luar tubuh. Kloaka memainkan peran penting
dalam reabsorpsi air. Kloaka memiliki ruang (cloacae chamber) yang dibagi menjadi:
a. Copradaeum untuk menerima kotoran.
b. Urodaeum untuk urin dan produk dari organ kelamin.
Berikut adalah gambaran umum dari struktur sistem pencernaan yang terdapat
pada ular.
10


Gambar 2.4. Struktur Sistem Pencernaan Ular (Anonymous, 2014 b)

2.3 Proses Pencernaan Pada Ular
Meskipun spesies ular memiliki metode yang berbeda untuk menemukan dan
menangkap mangsa, pada dasarnya semua ular makan dengan cara yang sama. Rahang
dibuka dengan lebar sehingga memungkinkan ular untuk memangsa hewan dari ukuran
yang jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya dan menelannya secara utuh. Rahang atas
ular melekat pada otot-otot, ligamen dan tendon di tempurung otaknya. Rahang atas
terhubung ke rahang bawah dengan tulang kuadrat, yang bekerja seperti engsel bersendi
11

ganda yang membuat rahang bawah bisa terkilir, sehingga mulut untuk membuka
selebar 150 derajat. Selain itu, tulang yang membentuk sisi rahang tidak menyatu
bersama-sama di depan seperti dagu manusia, melainkan dihubungkan oleh jaringan
otot, yang memungkinkan masing-masing rahang untuk memisahkan dan bergerak
secara independen satu sama lain. Semua fleksibilitas ini sangat berguna ketika ular
menangkap mangsa yang lebih besar dari kepalanya. Kepalanya dapat meregang untuk
mengakomodasi hal tersebut (Badger & John, 1999).

Gambar 2.5 Struktur Rahang Ular (Anonymous, 2014 a)
Setelah ular siap untuk makan, ular akan membuka mulutnya lebar-lebar dan
mangsa mulai "berjalan" pada rahang bawah. Gigi yang melengkung ke belakang
memegang hewan mangsa pada satu sisi rahang dan menariknya, sementara sisi lain
12

bergerak maju untuk gigitan berikutnya. Setelah ular memastikan hewan dalam
cengkeraman rahang, ular akan menggulung tubuhnya di sekitar mangsa. Ketika hewan
menghembuskan nafas, udara dibiarkan keluar dari rongga tubuhnya, otot-otot ular akan
berkontraksi untuk mengencangkan gulungan, meremas tubuh sehingga hewan tidak
bisa bernapas lagi. Meskipun tekanan ini mencekik mangsa dengan mengompresi paru-
paru, namun juga dapat memiliki efek yang sama pada jantung sehingga dapat
mempercepat kematian secara signifikan (Pough, et al., 2009).

(a) (b)
Gambar 2.6. Ular yang sedang Memangsa. (a) Ular Elachistodon westermanni
yang sedang Menelan Telur dan (b) Ular Anaconda Hijau (Eunectes
murinus) yang sedang Menelan Rusa (Lillywhite, 2014).

Beberapa ular telah mengembangkan kemampuan untuk menginjeksi racun ke
dalam mangsa untuk membunuh atau menaklukkan binatang sebelum memakannya.
Beberapa racun bahkan memberikan proses pada awal pencernaan. Dengan adanya alat
yang berupa taring, ular memiliki cara yang efektif untuk menginjeksi racun ke dalam
sistem hewan. Kemudian ular membasahi mangsa dengan air liur dan akhirnya
menariknya ke kerongkongan. Dari kerongkongan, ular menggunakan otot secara
bersamaan untuk menghancurkan mangsa dan mendorongnya lebih dalam ke saluran
13

pencernaan, di mana makanan tersebut akan dipecah menjadi nutrisi (Badger, & John,
1999).
Mangsa yang tertelan melewati kerongkongan dan masuk ke dalam perut. Dinding
bagian dalam perut dilapisi oleh jaringan epitel glandular dan ditandai oleh adanya
kelenjar lambung. Berbagai kelenjar lambung ini mengeluarkan lendir, asam klorida
atau enzim proteolitik. Enzim mencerna makanan dengan bantuan media asam.
Makanan akhirnya menjadi encer seperti sup cair dan sebagian dicerna (digesta)
sebelum memasuki usus. Bagian terbawah dari perut yang memenuhi usus disebut
pilorus dan masuknya chyme ke usus diatur oleh katup pilorus. Makanan kemudian
melewati katup pilorus dan masuk ke dalam usus kecil (Lillywhite, 2014).
pH lambung yang dipertahankan selama proses pencernaan berkisar 1,5-4. setelah
makanan meninggalkan perut ular pH meningkat menjadi sekitar 7-7,5. Lamanya waktu
produksi asam lambung dan fungsi enzim tergantung dari suhu tubuh baik ukuran dan
komposisi makan. Durasi sekresi pH lambung dan enzim meningkat dengan ukuran dan
komposisi struktural makanan. Pencernaan yang berkepanjangan pada suhu yang lebih
rendah akan melambat atau berhenti sama sekali jika suhu turun di bawah 10
o
C
(Lillywhite, 2014).
Pada membran mikrovili usus telah tertanam enzim yang bertindak tegas pada
bagian lokal mikrovili. Bagian anterior dari usus juga menerima enzim pencernaan
melalui saluran kecil yang menyampaikan enzim dari pankreas. Secara kolektif berbagai
sekresi menetralisir asam terdapat pada perut, memecah lemak terpisah, dan selanjutnya
mencerna chyme di dalam lumen usus. Karena ular adalah karnivora, banyak dari
14

enzim-enzim baik di perut dan protease di usus yang berperan untuk mencerna protein
(Lillywhite, 2014).
Chyme yang hancur, bercampur, dan berpindah ke arah posterior yang disebabkan
oleh gerakan peristaltik otot polos di dinding usus. Susunan otot-otot ini melibatkan
lapisan dalam melingkar dan lapisan luar yang longitudinal. Kontraksi lapisan
melingkar dan relaksasi simultan lapisan membujur mengkonstriksi dan memanjangkan
tabung usus. Relaksasi yang bergantian dari lapisan melingkar dikoordinasikan dengan
aktif memendekkan lapisan longitudinal yang memperpendek tabung usus (Lillywhite,
2014).
Setelah fase pencernaan asam dan pencampuran terjadi di usus kecil, penyerapan
produk pencernaan, termasuk air, sebagian besar terjadi di dalam usus besar. Bagian-
bagian yang tidak tercerna berpadu dengan bagian yang tidak terserap dibentuk menjadi
kotoran, yang menjadi semakin lebih solid dalam komposisinya karena penyerapan air
oleh usus. Kotoran juga mengandung sejumlah besar bakteri yang diwariskan dari
bagian atas dari usus di mana populasi bakteri berkembang dan berpartisipasi dalam
pencernaan (Lillywhite, 2014).
Kotoran dibuang melalui kloaka, yang merupakan segmen posterior sebagian
besar usus. Jika keseimbangan air dalam ular baik, kotoran yang muncul mungkin
cairan yang cukup lembut, terutama jika ular telah minum banyak air. Di sisi lain, jika
ular dehidrasi dan tidak minum baru-baru ini, kotoran lebih solid dan benar-benar bisa
sangat sulit untuk dikompresi. Hal ini disebabkan penyerapan air tambahan, yang
mungkin berkurang di usus kecil dan kloaka. Kadang-kadang, penyerapan kelebihan air
dari volume besar kotoran dapat menghasilkan pemadatan yang membentuk
15

penyumbatan dan tidak mudah dilalui oleh ular. Dengan demikian, akses terhadap air
sangat penting sehubungan dengan fungsi pencernaan ular (Lillywhite, 2014).
Berbagai enzim, racun-racun, sekresi asam, dan bakteri kimia, komponen
karbohidrat, protein, dan lipid, diserap ke dalam sirkulasi darah di dinding usus. Saluran
pencernaan dapat dianggap sebagai sistem input-output, dengan makanan yang masuk
ke mulut dan kotoran yang keluar pada saat kloaka terbuka, sedangkan air dan nutrisi
yang diambil dan didistribusikan ke tubuh dari daerah pencernaan yang terletak antara
"dalam" dan "luar" titik terminal dari usus. Gerakan mekanik menyebabkan otot polos
dikoordinasikan terutama oleh saraf yang mengaktifkan otot-otot halus di dinding usus.
Koordinasi simultan sekresi pencernaan dikendalikan oleh kehadiran fisik makanan
dalam usus, dan oleh hormon gastrointestinal yang dikeluarkan dari sel endokrin pada
dinding lambung dan usus (Stevens & Ian, 1995).











16

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sistem pencernaan pada ular terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan. Saluran pencernaannya terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus
dan kloaka. Sedangkan kelenjar pencernaannya terdiri atas kelenjar ludah, pancreas dan
hati.
Pada ular berbisa, ketika menangkap mangsa menggunakan bisanya untuk
melumpuhkan mangsa. Adapun tiga jenis racun yang paling penting yang ditemukan
dalam bisa ular adalah Neurotoksin, Cardiotoxins dan Hemotoxins.
Proses pencernaan dimulai ketika ular memegang hewan mangsa pada satu sisi
rahang dan menariknya, sementara sisi lain bergerak maju untuk gigitan berikutnya.
Kemudian ular akan menggulung tubuhnya di sekitar mangsa. Ular membasahi mangsa
dengan air liur dan akhirnya menariknya ke kerongkongan. Dari kerongkongan, ular
menggunakan otot untuk menghancurkan mangsa dan mendorongnya lebih dalam ke
saluran pencernaan. Mangsa yang tertelan melewati kerongkongan dan masuk ke dalam
perut/lambung. Lambung ini mengeluarkan lendir, asam klorida atau enzim proteolitik.
Enzim mencerna makanan dengan bantuan media asam. Makanan akhirnya menjadi
encer seperti sup cair dan sebagian dicerna (digesta) sebelum memasuki usus. Makanan
kemudian melewati katup pilorus dan masuk ke dalam usus kecil. Pada usus kecil
makanan mengalami penyerapan. Bagian anterior dari usus juga menerima enzim
pencernaan melalui saluran kecil yang menyampaikan enzim dari pankreas. Hati
17

mengeluarkan empedu, yang disimpan dalam kantung empedu dan disampaikan oleh
saluran ke usus, di mana ia berfungsi untuk mengemulsi lemak.
Chyme yang hancur, bercampur, dan berpindah ke arah posterior yang disebabkan
oleh gerakan peristaltik otot polos di dinding usus. Setelah fase pencernaan asam dan
pencampuran terjadi di usus kecil, penyerapan produk pencernaan, termasuk air,
sebagian besar terjadi di dalam usus besar. Bagian-bagian yang tidak tercerna berpadu
dengan bagian yang tidak terserap dibentuk menjadi kotoran, yang menjadi semakin
lebih solid dalam komposisinya karena penyerapan air oleh usus. Kemudian kotoran
dibuang melalui kloaka.














18

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2014a. Snake Digestion: What a Snake Eats. (Online:http://science.
howstuffworks.com/zoology/reptiles-amphibians/snake4.htm). diakses tanggal: 18
Februari 2014.

Anonymous. 2014b. Snake Dissection. (Online: http://www.vonsteuben.org/ ourpages/
auto/2012/5/31/56335372/snake_dissection.pdf). diakses tanggal: 18 Februari
2014.

Badger, D. & John, N. 1999. Snakes. U.S.A: Voyageur Press, Inc.
Campbell, N. A. dkk. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Goin, C. J. 1962. Intro to Herpetology. San Francisco: W.H. Freeman and Company.
Kurniati, T., dkk. 2009. Zoologi Vertebrata. Bandung. UIN SGD.
Lillywhite, H. B. 2014. How Snakes Work: Structure, Function and Behavior of The
Worlds Snakes. New York: Oxford University Press.

Piliang, W. G. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume 1. Bogor: IPB Press.

Pough, F. H., Christine, M. J., & John, B. H. 2009. Vertebrate Life Eighth Edition. San
Francisco: Pearson Education, Inc.

Spellerberg, I. 1982. Biology of Reptiles. New York: Chapman and Hall.

Stevens, C. E., & Ian, D. H. 1995. Comparative Physiology of The Vertebrate Digestive
System Second Edition. London: Cambridge University Press.

Wulangi, K. S. 1993. Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. Bandung: FMIPA ITB.