Anda di halaman 1dari 36

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara beriklim tropis, dengan demikian
berbagai jenis penyakit tropis pun sering terjadi. Iklim dapat mempengaruhi
penyebaran penyakit, terutama penyakit yang ditularkan atau disebarkan oleh
hewan pembawa penyakit atau vektor, umumnya adalah serangga seperti
nyamuk dan lalat. Vektor ini mampu berkembang biak dengan baik
sepanjang tahun pada daerah beriklim tropis karena suhu dan kelembaban
yang sesuai. Lalat dan nyamuk membawa parasit, virus, atau bakteri
penyebab penyakit yang ditularkan kepada manusia atau hewan melalui
gigitan ataupun sengatan.
Penyakit tropis yang umum terjadi di Indonesia antara lain malaria,
filariasis, chikungunya, dan Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit
tersebut ditularkan oleh vektor nyamuk. Hal ini menimbulkan perhatian
khusus terhadap upaya dalam pengobatan dan pencegahan penyakit yang
disebabkan oleh vektor nyamuk tersebut.
DBD merupakan salah satu penyakit mematikan di sejumlah kota besar
di Indonesia, termasuk di wilayah Kalimantan Barat. DBD disebabkan oleh
infeksi virus DEN-1, DEN-2, DEN-3, atau DEN-4 yang ditularkan antara
manusia dengan manusia melalui vektor nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan
data dari Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Barat, pada tahun 1999 kasus
DBD secara keseluruhan di Kalimantan Barat sebanyak 1.393 orang dengan
kematian 60 orang. Penderita terbanyak berada di Kota Pontianak yakni 831
orang disusul Kabupaten Sambas sebesar 340 orang, Kabupaten Pontianak 19
orang, dan Sanggau 19 orang. Menginjak tahun 2000, kasus itu menurun
menjadi 806 orang dengan kematian sebanyak 24 orang. Penderita terbesar
tetap ditempati Kota Pontianak sebanyak 631 orang, Kabupaten Bengkayang
2

80 orang, Sambas 51 orang, dan Kabupaten Pontianak 26 orang. Sedangkan
tahun 2001, sampai akhir September penderita mencapai 311 orang dengan
kematian sebanyak 8 orang. Kasus itu juga paling banyak terdapat di Kota
Pontianak sebanyak 302 orang, dengan kematian 7 orang. Tahun 2002
penderita DBD di Kota Pontianak meningkat menjadi 1.805 kasus dengan
korban meninggal dunia 30 orang. Bahkan pada tahun 2006 menjadi 1.811
orang dengan korban meninggal dunia 29 orang dan tercatat sebagai kejadian
luar biasa (KLB) di Kota Pontianak. Kondisi cuaca yang tidak menentu
sepanjang 2007 ikut mempengaruhi penurunan penyakit DBD di Provinsi
Kalimantan Barat menjadi 457 kasus dan 6 orang diantaranya meninggal.
Tahun 2009 kembali tercatat sebagai KLB DBD dengan penderita DBD di
Kota Pontianak mencapai 3.187 kasus, dan data yang meninggal 62 orang.
Tahun 2010, terjadi penurunan sekitar 300 kasus DBD, namun di tahun 2011
kembali mengalami peningkatan sebanyak lebih dari 1.000 kasus dari tahun
sebelumnya. Tahun 2012, tercatat penurunan kasus DBD di Kota Pontianak
sekitar seperlimanya.
Angka kasus DBD di Kalimantan Barat ini terbilang tinggi, sehingga
diperlukan perhatian khusus dalam tindakan penanganan, pencegahan,
maupun penyembuhan penyakit DBD. Upaya pencegahan yang sering
dilakukan adalah penggunaan insektisida kimia sintetis. Namun cara ini
menimbulkan berbagai dampak negatif seperti resistensi serangga sasaran,
membunuh serangga non sasaran, dan mengganggu kualitas hidup
lingkungan. Adapun upaya pencegahan alternatif yaitu dengan penggunaan
repellent (zat penolak serangga). Repellent dapat berupa tanaman utuh yang
sengaja ditanam untuk mengusir nyamuk ataupun diformulasikan dalam
bentuk sediaan losion sehingga lebih efektif dan efisien dalam
penggunaannya. Losion repellent yang telah banyak diproduksi dan
digunakan oleh masyarakat banyak mengandung bahan kimia sintetis yang
dapat menimbulkan berbagai efek samping. Dengan pertimbangan tersebut,
3

perlu dikembangkan sediaan losion dengan menggunakan bahan aktif dari
bahan alam sehingga cenderung lebih aman digunakan.
Indonesia yang kaya akan flora mempunyai berbagai jenis tanaman
yang berpotensi sebagai obat-obatan maupun bioinsektisida, termasuk
repellent. Tanaman yang mengandung minyak atsiri dapat digunakan sebagai
obat penolak serangga (repellent) (Quanter., 1997 dalam Martini dkk, 2002).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Martini,dkk (2002),
menunjukkan bahwa kandungan minyak atsiri daun Jeruk Purut (Citrus
hystrix) lebih potensial dibandingkan dua jenis daun jeruk lain (Citrus sp)
sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti. Penelitian yang dilakukan
oleh Munawaroh dan Handayani (2010) menunjukkan bahwa ekstraksi
minyak atsiri dari daun Jeruk Purut dengan metode sokletasi menggunakan
pelarut n-heksana menghasilkan kadar minyak atsiri yang sangat tinggi. Atas
ketiga dasar tersebut, maka pada penelitian ini akan dilakukan formulasi
sediaan losion dari ekstrak n-heksana Jeruk Purut (Citrus hystrix) sebagai
repellent alami.
1.2. Perumusan Masalah
1) Bagaimana metode ekstraksi dan pembuatan tablet salut enterik ekstrak
Lidah Buaya sebagai anti-Rheumatoid Arthritis?
2) Apakah tablet salut enterik ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera) efektif
sebagai anti-Rheumatoid Arthritis?

1.3. Tujuan Penelitian
1) Mengekstraksi minyak atsiri dalam daun jeruk purut (Cytrus hystrix)
dengan metode sokletasi menggunakan pelarut n-heksana.
2) Membuat dan melakukan uji evaluasi losion dari ekstrak daun jeruk purut
(Cytrus hystrix).
3) Menguji efektifitas losion minyak atsiri daun jeruk purut (Cytrus hystrix)
sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti.

4

1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan informasi ilmiah mengenai minyak
atsiri daun Jeruk Purut (Cytrus hystrix) yang dapat dibuat menjadi sediaan
losion repelan sekaligus untuk pemanfaatan bahan alam sebagai alternative
utama dalam pengembangan formula obat maupun kosmetik.






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
5


2.1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic
Fever (DHF) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus DEN-
1, DEN-2, DEN-3 atau DEN-4 (virus dengue dengan tipe 1-4) yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang
sebelumnya telah terinfeksi oleh virus dengue dari penderita DBD lainnya,
menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada system
pembekuan darah, sehingga mengakibatkan pendarahan. Masa inkubasi
penyakit DBD, yaitu periode sejak virus dengue menginfeksi manusia hingga
menimbulkan gejala klisis, antara 3014 hari, rata-rata antara 4-7 hari
(Ginanjar, 2004).
Penyakit DBD tidak ditularkan langsung dari manusia ke manusia.
Penderita menjadi infektif bagi nyamuk pada saat viremia, yaitu beberapa
saat menjelang timbulnya demam hingga saat masa demam berakhir,
biasanya berlangsung selama 3-5 hari. Nyamuk Aedes aegypti menjadi
infektif 8-12 hari sesudah mengisap darah penderita DBD sebelumnya.
Selama periode ini, nyamuk Aedes yang telah terinfeksi oleh virus dengue ini
akan tetap infektif selama hidupnya dan potensial menularkan virus dengue
kepada manusia yang rentan lainnya. Kedua jenis nyamuk Aedes ini, terdapat
hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di ketinggian lebih dari 1.000
meter di atas permukaan air laut. Nyamuk Aedes aegypti merupakan
penyebar penyakit (vektor) DBD yang paling efektif dan utama karena
tinggal di sekitar permukiman penduduk. Adapun nyamuk Aedes albopictus,
banyak terdapat di daerah perkebunan dan semak-semak (Ginanjar, 2004).
Penularan penyakit DBD ini dipengaruhi oleh interaksi tiga faktor,
yaitu sebagai berikut (Ginanjar, 2004) :
6

1. Faktor pejamu (target penyakit, inang), dalam hal ini adalah manusia yang
rentan tertular penyakit DBD.
2. Faktor penyebar (vektor) dan penyebab penyakit (agen), dalam hal ini
adalah virus DEN tipe 1-4 sebagai agen penyebab penyakit, sedangkan
nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus berperan sebagai vektor
penyebar penyakit DBD.
3. Faktor lingkungan, yakni lingkungan yang memudahkan terjadinya kontak
penularan penyakit DBD.
Diagnosis klinis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis
menurut WHO terdiri dari (DepKes, 2005) :
1. Kriteria klinis, meliputi: a) demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang
jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari; b) terdapat manifestasi
perdarahan, sekurang-kurangnya uji Tourniquet (Rumple Leede) positif; c)
pembesaran hati; d) syok
2. Kriteria laboratories, meliputi : a) trombositopenia (jumlah trombosit
100.000/l); b) hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan
hematokrit 20%.

2.2. Aedes aegypti Sebagai Vektor DBD
2.2.1. Klasifikasi Ilmiah (Taksonomi)
Kedudukan nyamuk Aedes aegypti dalam klasifikasi hewan, yaitu
(Soegijanto, 2006) :
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Famili : Culicidae
Genus : Aedes
Spesies : Aedes aegypti L

2.2.2. Morfologi Nyamuk Aedes aegypti
7

Nyamuk Aedes aegypti betina dewasa memiliki tubuh berwarna
hitam kecoklatan. Ukuran tubuh nyamuk Aedes aegypti betina antara
3-4 cm, dengan mengabaikan panjang kakinya. Tubuh dan tungkainya
ditutupi sisik dengan garis-garis putih keperakan. Di bagian punggung
(dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di bagian kiri
dan kanan yang menjadi ciri dari nyamuk spesies ini (Ginanjar, 2004).
Sisik-sisik pada tubuh nyamuk pada umumnya mudah rontok
atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada nyamuk-nyamuk
tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap berbeda antarpopulasi,
bergantung pada konsisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh
nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan betina tidak
memiliki perpedaan nyata dalam hal ukuran. Biasanya, nyamuk jantan
memiliki tubuh lebih kecil daripada betina, terdapat rambut-rambut
tebal pada antenna nyamuk jantan. Kedua cirri ini dapat diamati
dengan mata telanjang (Ginanjar, 2004).
Soegijanto (2006) menjelaskan morfologi telur, larva, pupa,
hingga nyamuk dewasa Aedes aegypti. Telur nyamuk Aedes aegypti
berbentuk elips atau oval memanjang, warna hitam, ukuran 0,5-0,8
mm, dan permukaan poligonal. Larva nyamuk Aedes aegypti tubuhnya
memanjang tanpa kaki dengan bulu-bulu sederhana yang tersusun
bilateral simetris. Larva ini dalam pertumbuhan dan perkembangannya
mengalami 4 kali pergantian kulit (ecdysis), dan larva yang terbentuk
berturut-turut disebut larva instar I, II, III, dan IV. Larva instar I,
tubuhnya sangat kecil, warna transparan, panjang 1-2 mm, duri-duri
(spinae) pada dada (thorax) belum jelas, dan corong pernafasan
(siphon) belum menghitam. Larva instar II bertambah besar, ukuran
2,5-3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong pernafasan sudah
berwarna hitam. Larva instar IV telah lengkap struktur anatominya dan
jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian kepala (chepal), dada (thorax),
dan perut (abdomen). Pada bagian kepala terdapat sepasang mata
majemuk, sepasang antena tanpa duri-duri, dan alat-alat mulut tipe
8

pengunyah (chewing). Larva Aedes aegypti ini tubuhnya langsing dan
bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis negatif, dan waktu istirahat
membentuk sudut hampir tegak lurus dengan bidang permukaan air.
Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk tubuhnya bengkok, dengan
bagian kepala-dada (cephalothorax) lebih besar bila dibandingkan
dengan bagian perutnya, sehingga tampak seperti tanda baca koma.
Pada bagian punggung (dorsal) dada terdapat alat bernafas seperti
terompet. Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang alat pengayuh yang
berguna untuk berenang. Alat pengayuh terdapat berjumbai panjang
dan bulu di nomer 7 pada ruas perut ke-8 tidak bercabang. Pupa adalah
bentuk tidak makan, tampak gerakannya lebih lincah bila dibandingkan
dengan larva. Waktu istirahat, posisi pupa sejajar dengan bidang
permukaan air.
Nyamuk Aedes aegypti tubuhnya tersusun dari tiga bagian, yaitu
kepala, dada, dan perut. Pada bagian kepala terdapat sepasang mata
majemuk dan antena yang berbulu. Alat mulut nyamuk betina tipe
penusuk-pengisap (piercing-sucking) dan termasuk lebih menyukai
manusia (anthropophagus), sedangkan nyamuk jantan bagian mulut
lebih lemah sehingga tidak mampu menembus kulit manusia, karena
itu tergolong lebih menyukai cairan tumbuhan (phytophagus). Nyamuk
betina mempunyai antena tipe-pilose, sedangkan nyamuk jantan tipe
plumose.

2.2.3. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti, seperti halnya culicines lain,
meletakkan telur pada permukaan air bersih secara individual. Setiap
hari nyamuk Aedes betina dapat bertelur rata-rata 100 butir. Telurnya
berbentuk elips berwarna hitam dan terpisah satu dengan yang lain.
Telur menetas dalam satu sampai dua hari menjadi larva (Ginanjar,
2004).
9

Terdapat empat tahapan dalam perkembangan larva yang disebut
instar. Perkembangan dari instar datu ke instar empat memerlukan
waktu sekitar lima hari, setelah mencapai instar keempat, larva
berubah menjadi pupa di mana larva memasuki masa dorman
(inaktif/tidur). Pupa bertahan selama dua hari sebelum akhirnya
nyamuk dewasa keluar dari pupa. Perkembangan dari telur hingga
nyamuk dewasa membutuhkan waktu tujuh hingga delapan hari, tetapi
dapat lebih lama jika kondisi lingkungan tidak mendukung (Ginanjar,
2004).

2.3. Mekanisme Penularan DBD
Nyamuk dengue menggigit manusia pada pagi sampai sore hari,
biasanya pukul 08.00-12.00 dan 15.00-17.00. Nyamuk mendapatkan virus
dengue setelah mengigit orang yang terinfeksi virus dengue. Virus dengue
termasuk family Flaviviridae, yang berukuran sangat kecil (35-45 nm).
Virus ini dapat tetap hidup di alam lewat dua mekanisme (Suharmiati dan
Handayani,2007) :
- Mekanisme pertama, transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk. Virus
dapat ditularkan oleh nyamuk betina pada telurnya, yang nantinya akan
menjadi nyamuk. Virus juga dapat ditularkan dari nyamuk jantan ke
nyamuk betina melalui kontak seksual.
- Mekanisme kedua, transmisi virus dari nyamuk ke dalam tubuh makhluk
vertebrata dan sebaliknya. Yang dimaksud dengan makhluk vertebrata
disini adalah manusia dan kelompok kera tertentu.
Virus yang sampai ke dalam lambung nyamuk akan mengalami
replikasi (memecah diri atau berkembang biak), kemudian akan bermigrasi
dan akhirnya sampai di keenjar ludah. Empat hari kemudian virus akan
mereplikasi dirinya secara cepat. Apabila jumlahnya sudah cukup, virus
akan memasuki sirkulasi darah dan saat itulah manusia yang terinfeksi akan
mengalami gejala panas. Reaksi tubuh manusia terhadap virus ini berbeda-
10

beda. Perbedaan reaksi ini juga akan mewujudkan perbedaan penampilan
gejala klinis dan penyakit (Suharmiati dan Handayani, 2007)
Bentuk reaksi tubuh manusia terhadap keberadaan virus dengue
sebagai berikut (Suharmiati dan Handayani, 2007):
1. Terjadi netralisasi virus, disusul dengan mengendapnya bentuk
netralisasi virus pada pembuluh darah kecil di kulot berupa gejala ruam
(bercak merah kecil).
2. Terjadi gangguan fungsi p[embekuan darah sebagai akibat dari
penurunan jumlah dan kualitas komponen-komponen beku darah yang
menimbulkan pendarahan.
3. Terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya
komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke
rongga perut berupa gejala ascites (adanya cairan dalam rongga perut)
dan cairan di rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura (adanya
cairan di rongga selaput paru).
Jika tubuh manusia hanya member reaksi pertama dan kedua, orang itu
dikatakan menderita demam dengue. Sementara itu, jika ketiga reaksi
terjadi, berarti orang itu mengalami demam berdarah dengue (DBD).

2.4. Upaya Pencegahan DBD Dengan Repellent
Berbagai tindakan preventif (pencegahan) terhadap penyakit DBD
dapat dilakukan, salah satunya dengan penggunaan repellent. Repellent
adalah bahan-bahan kimia yang mempunyai kemampuan untuk menjauhkan
serangga dari manusia sehingga dapat dihindari gigitan serangga atau
gangguan oleh serangga terhadap manusia. Repellent digunakan dengan cara
menggosokkannya pada tubuh atau menyemprotkannya pada pakaian, oleh
karena itu harus memenuhi beberapa syarat yaitu tidak mengganggu
pemakainya, tidak melekat atau lengket, baunya menyenangkan pemakainya
dan orang sekitarnya, tidak menimbulkan iritasi pada kulit, tidak beracun,
tidak merusak pakaian dan daya pengusir terhadap serangga hendaknya
bertahan cukup lama. DEET (N,N-diethyl-mtoluamide) adalah salah satu
11

contoh repellent yang tidak berbau, akan tetapi menimbulkan rasa terbakar
jika mengenai mata, luka atau jaringan membranous (Soedarto, 1992).
Repellent yang berbeda bekerja melawan hama yang berbeda pula.
Oleh sebab itu, penting untuk memperhatikan kandungan aktif dari suatu
repellent pada label produknya. Repellent yang mengandung DEET (N,N-
diethyl-m-toluamide), permethrin, IR3535 (3-[N-butyl-N-acetyl]-
aminopropionic acid) atau picaridin (KBR 3023) merupakan repellent untuk
nyamuk. DEET tidak boleh digunakan pada bayi yang berumur di bawah 2
bulan. Anak-anak yang berumur dua bulan atau lebih hanya dapat
menggunakan produk dengan konsentrasi DEET 30% atau lebih (MDPH,
2008).
DEET diserap ke dalam tubuh melalui kulit. Penyerapannya melalui
kulit tergantung dari konsentrasi dan pelarut dalam formulasi produk
repellent tersebut. Konsentrasi DEET sebesar 15% dalam etanol akan
diserap ke dalam tubuh rata-rata 8,4%. Penyerapannya ke dalam tubuh akan
dimulai dalam 2 jam setelah penggunaan. Penyerapan DEET juga tergantung
pada umur dan massa tubuh. Bayi yang berumur<2 bulan memiliki rasio
luas permukaan tubuh terhadap massa tubuh yang lebih besar sehingga lebih
mudah terserap dan mudah mencapai konsentrasi plasma yang tinggi.
Kandungan repellent seperti DEET merupakan bahan korosif. Walaupun
telah ditambahkan dengan zat-zat lain yang berfungsi sebagai pelembab, zat
ini tetap berbahaya (POM, 2010).
Petunjuk pemakaian repellent oleh EPA (Environmental Protection
Agency), yaitu:
1. Penggunaan repellent hanya di kulit yang terbuka dan/atau di pakaian
(seperti petunjuk di label). Jangan digunakan di kulit yang terlindungi
pakaian.
2. Jangan menggunakan repellent pada kulit yang terluka atau kulit yang
iritasi.
3. Jangan digunakan di mata atau mulut dan gunakan sesedikit mungkin di
sekitar telinga. Ketika menggunakan spray, jangan disemprotkan
12

langsung ke wajah, tapi semprotkan terlebih dahulu ke tangan lalu
sapukan ke wajah.
4. Jangan biarkan anak-anak memegang produk repellent. Ketika
menggunakan pada anak-anak, letakkan terlebih dahulu pada tangan kita
lalu gunakan pada anak.
5. Gunakan repellent secukupnya untuk kulit yang terbuka dan/ atau
pakaian. Jika penggunaan repellent tadi tidak berpengaruh, maka
tambahkan sedikit lagi.
6. Setelah memasuki ruangan, cuci kulit yang memakai repellent dengan
sabun dan air atau segera mandi. Ini sangat penting ketika repellent
digunakan secara berulang pada satu hari atau pada hari yang berurutan.
Selain itu, pakaian yang sudah terkena repellent juga harus dicuci
sebelum dipakai kembali.
7. Jika kulit mengalami ruam/ kemerahan atau reaksi buruk lainnya akibat
penggunaan repellent, berhentikan penggunaan repellent, bersihkan kulit
dengan sabun dan air. Jika pergi ke dokter, bawa repellent yang
digunakan untuk ditunjukkan pada dokter (CDC, 2008).

2.5. Jeruk Purut (Cytrus hystrix) Sebagai Repellent Alami
2.5.1. Klasifikasi Ilmiah (Taksonomi)
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus hystrix Dc


2.5.2. Morfologi Tumbuhan
13

Citrus hystrix D.C. termasuk tumbuhan berkayu (Tjitrosoepomo,
1988), merupakan pohon dengan tinggi 5-7,5 m. Batang tegak, bulat,
percabangan simpodial, berduri, hijau kotor. Daun tunggal, berseling,
lonjong, tepi beringgit, ujung meruncing, pangkal membulat, panjang
4-5,5 cm, lebar 2-2,5 cm, tangkai bersayap, panjang 2-5 cm, hijau,
pertulangan menyirip, permukaan berbintik, hijau. Bunga majemuk,
bentuk tandan, di ketiak daun, tangkai silindris, panjang + 2 cm, hijau,
kelopak bentuk bintang, hijau kekuningan, benang sari silindris,
panjang 3-6 mm, putih, tangkai putik silindris, panjang 3-5 mm, kepala
putik bulat, kuning, mahkota lima helai, bentuk bintang, putih
(Syamsuhidayat, 1993). Bakal buah berkedudukan lebih tinggi
daripada tepi dasar bunga dan tidak berlekatan dengan dasar bunga
(Tjitrosoepomo, 1988). Buah bulat, diameter 4-5 cm, permukaan
berkerut, hijau. Biji bulat telur, putih (Syamsuhidayat, 1993). Daging
buah hijau, rasanya sangat asam agak pahit (Sarwono, 1996). Akar
tunggang, putih kekuningan (Syamsuhidayat, 1993).

2.5.3. Kandungan Kimia dan Kegunaan
Citrus hystrix D.C. mengandung (S)-3,7-dimetil-6-oktenal
(Akhila, 1986), oktilen, -pinen, kamfen, - pinen, -felandren, metil
heptanon, -terpinen, d limonen, oktil aldehid, terpineol, sitral, linalil
asetat, bisabolen, kadinen, suatu seskuiterpen alkohol, asam-asam,
asam asetat, sitronellal (asam sitronellal- -naftosinkhoninat) (Guenther,
1987), senyawa berkerangka dasar pheophorbide-a dan b (Ong et al.,
2009), serta gliseroglikolipid (Murakami et al., 1995).
Daun mengandung alkaloid, saponin, polifenol (Syamsuhidayat,
1993), tokoferol (Ching dan Mohamed, 2001), minyak atsiri (Harbone,
1987), tanin, steroid triterpenoid, sitronellal (Wijaya, 1995), flavonoid
sianidin, myricetin, peonidin, quercetin, luteolin, hesperetin, apigenin,
danisorhamnetin (Butryee et al., 2009).
14

Menurut Dalimarta (2000) daun jeruk purut mengandung tanin
1,8%, steroid triterpenoid dan minyak atsiri 1 1,5% v/v, sedangkan
kulit buah mengandung saponin, tanin 1%, steroid triterpenoid dan
minyak atsiri yang mengandung sitrat 2 2,5% v/v. Kandungan utama
daun jeruk purut adalah minyak atsiri yang bisa mencapai kadar antara
2 3,5 % (Windono, 2003).
Buah mengandung setidaknya 21 macam kumarin, 4 di antaranya
adalah bergamottin, N-(iminoetil)- L-ornithine (L-NIO),
oksipeucedanin, 5- [(6',7'- dihidroksi-3', 7'-dimetil-2-
oktenil)oksi]psoralen (Murakami et al., 1995). Daging buah
mengandung saponin dan flavonoid (Syamsuhidayat, 1993).
Kulit buah mengandung tanin, steroid triterpenoid, minyak atsiri
yang mengandung sitrat, saponin, polifenol, minyak atsiri sitronellal,
sitronellol, linalool, geraniol, hidroksi sitronellal, linalil asetat (Trease,
1989; Takarina, 1995; Agusta, 2000), flavonoid rutin, naringin, dan
hesperidin (Basset, 1994; Hakim dan Harris, 2001).

2.5.4. Minyak Atsiri Sebagai Repellent
Pada mulanya istilah minyak atsiri adalah istilah yang
digunakan untuk minyak yang bersifat mudah menguap, yang terdiri
dari campuran zat yang mudah menguap, dengan komposisi dan titik
didih yang berbeda-beda. Minyak atsiri yang mudah menguap terdapat
di dalam kelenjar minyak yang harus dibebaskan sebelum disuling
yaitu dengan merajang/memotong jaringan tanaman dan membuka
kelenjar minyak sebanyak mungkin, sehingga minyak dapat dengan
mudah diuapkan (Suryaningrum, 2009).
Minyak atsiri dihasilkan dari bagian jaringan tanaman tertentu
seperti akar, batang, kulit, daun, bunga, buah atau biji. Sifat minyak
atsiri yang menonjol antara lain mudah menguap pada suhu kamar,
mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan aroma tanaman
15

yang menghasilkannya, dan umumnya larut dalam pelarut organik
(Lutony, 1994). Beberapa jenis minyak atsiri tumbuhan telah
digunakan atau mempunyai aktivitas penolak serangga (insect
repellent) (Windono, 2003).
Komponen minyak atsiri dalam daun jeruk purut (Cytrus hystrix)

Sitronellal adalah salah satu senyawa penolak serangga
(repellant), merupakan senyawa monoterpena yang mempunyai gugus
aldehida, ikatan rangkap dan rantai karbon yang memungkinkan untuk
mengalami reaksi siklisasi aromatisasi. Struktur kimia sitronellal
adalah sebagai berikut (Ketaren, 1985):


2.6. Metode Ekstraksi Minyak Atsiri Jeruk Purut (Cytrus hystrix)
Prinsip ekstraksi adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan
dengan pelarut organic yang mudah menguap. Proses ekstraksi biasanya
dilakukan dalam wadah (ketel) yang disebut extractor. Ekstraksi dengan
pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri yang
mudah rusak oleh pemanasan dengan uap dan air, terutama untuk
mengekstrak minyak dari bunga-bungaan misalnya bunga cempaka, melati,
mawar, kenanga, lily, dan lain-lain. Pelarut yang biasanya digunakan dalam
ekstraksi yaitu: petroleum eter, benzena, dan alkohol (Guenther, 1987).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Munawaroh dan Handayani
16

(2010), diketahui bahwa ekstraksi minyak atsiri dari daun Jeruk Purut (Cytrus
hystrix) yang paling efektif adalah dengan metode sokletasi menggunakan
pelarut n-heksana, menghasilkan rendemen 10,50% dengan kadar minyak
atsiri sitronellal 97,27%.
Metode sokletasi merupakan teknik ekstraksi yang digunakan untuk
memperoleh kandungan senyawa organik dari jaringan tumbuhan kering
dengan menggunakan alat soklet. Metode sokletasi ini menggunakan panas
sesuai dengan titik didih pelarut yang digunakan. Prinsipnya yaitu penguapan
pelarut yang ditempatkan pada labu yang dipanaskan, kemudian uap tersebut
melewati pipa samping alat soklet dan mengalami pendinginan ketika
melewati kondensor. Pelarut yang terkondensasi akan jatuh pada bagian
dalam alat soklet yang berisi sampel yang telah dibungkus kertas saring,
sehingga seluruh senyawa yang ingin diekstrak dari sampel tersebut akan
tertarik dan ditampung pada labu tempat pelarut awal. Proses ini berlangsung
terus-menerus sampai diperoleh hasil ekstraksi yang diinginkan. Keuntungan
metode ini adalah pelarut yang digunakan jauh lebih sedikit jika
dibandingkan dengan metode maserasi (Houghton dan Raman 1998).
Ekstraksi yang dilakukan menggunakan metoda sokletasi, yakni
sejenis ekstraksi dengan pelarut organik yang dilakukan secara berulang-
ulang dan menjaga jumlah pelarut relatif konstan, dengan menggunakan alat
soklet. Minyak nabati merupakan suatu senyawa trigliserida dengan rantai
karbon jenuh maupuntidak jenuh. Minyak nabati umumnya larut baik dalam
pelarut organik, sepertibenzen dan heksan. Untuk mendapatkan minyak nabati dari
bagian tumbuhan dapat dilakukan metode sokletasi dengan menggunakan
pelarut yang sesuai (Nazarudin, 1992).
Proses sokletasi digunakan untuk ekstraksi lanjutan dari suatu
senyawa dari material atau bahan padat dengan pelarut panas. Alat yang digunakan
adalah labu didih, ekstraktor dan kondensor. Sampel dalam sokletasi perlu
dikeringkan sebelum disokletasi. Tujuan dilakukannya pengeringan adalah
untuk mengilangkan kandungan air yang terdapat dalam sample sedangkan dihaluskan
17

adalah untuk mempermudah senyawa terlarut dalam pelarut. Didalam
sokletasi digunakan pelarut yang mudah menguap. Pelarut itu bergantung
padatingkatannya, polar atau non polar (Nazarudin, 1992).
Bila penyaringan telah selesai maka pelarut yang telah di uapkan
kembali adalah zat yang bersisa. Proses penyaringan yang berulang ulang pada
proses sokletasi bergantung pada tetesan yang mengalir pada bahan yang di ekstraksi.
Sampel pelarut yang digunakan bening atau tidak berwarna lagi. Umumnya
prosedur sokletasi hanya pengulangan, sistematis dan pemisahan dengan
menggunakan labu untuk ekstraksi sederhana tetapi lebih merupakan metoda
yang spesial,dan alat yang digunakan lebih kompleks. Oleh karena itu alat
soklet cenderung mahal. Syarat-syarat pelarut yang digunakan dalam proses
sokletasi (Fessenden & Fessenden, 1991):
1. Pelarut yang mudah menguap, misalnya n-heksana, eter, petroleum
eter,metil klorida dan alkohol;
2. Titik didih pelarut rendah;
3. Pelarut dapat melarutkan senyawa yang diinginkan;
4. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan; dan
5. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi (polar atau nonpolar)
Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus
kimia C
6
H
14
. Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang terdapat
pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan
tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut. Dalam keadaan
standar senyawa ini merupakan cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air.

(Sumber: Kastianti dan Amalia, 2008)

18

Keuntungan metode ini adalah :
1. Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak
tahan terhadap pemanasan secara langsung.
2. Digunakan pelarut yang lebih sedikit
3. Pemanasannya dapat diatur
Kerugian dari metode ini :
1. Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah
disebelah bawah terus- menerus dipanaskan sehingga dapat
menyebabkan reaksi peruraian oleh panas.
2. Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui
kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam
wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak
untuk melarutkannya.
3. Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok
untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi,
sepertimetanol atau air, karena seluruh alat yang berada di bawah
kondensor perlu berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap
pelarut yang efektif.
Metode ini terbatas pada ekstraksi dengan pelarut murni atau
campuran azeotropik dan tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan
campuran pelarut, misalnya heksan : diklormetan = 1 : 1, atau pelarut yang
diasamkan atau dibasakan, karena uapnya akan mempunyai komposisi yang
berbeda dalampelarut cair di dalam wadah (Fessenden & Fessenden, 1991).

2.7. Sediaan Losion Repellent Alami
2.7.1. Pengertian Losion
Losion adalah sediaan farmasi yang dapat digolongkan ke dalam
dua sediaan, yaitu sediaan cair dan sediaan setengah padat baik berupa
19

suspensi atau dispersi, dapat berbentuk suspense zat padat dalam
serbuk halus dengan pensuspensi yang cocok atau emulsi tipe minyak
dalam air dengan surfaktan yang cocok, pada penyimpanan mungkin
terjadi pemisahan. Dapat ditambahkan zat warna, zat pengawet dan zat
pewangi yang cocok (DepKes, 1997). Hal yang membedakan antara
losion dank rim secara fisik adalah krim mempunyai viskositas yang
tinggi dan tidak mudah dituang, sedangkan losion dapat mudah
dituang, jadi dengan kata lain losion adalah bentuk emulsi yang cair
(Barel, 2002).
Losion dimaksudnkan untuk pemakaian luar digunakan pada
kulit sebagai pelindung atau untuk obat karena sifat bahan-bahannya.
Kecairannya memungkinkan pemakaian pada kulit yang meraa dan
cepat pada permukaan kulit yang luas, losion dimaksudkan segera
kering pada kulit setelah pemakaian dan meninggalkan lapisan pada
permukaan kulit, dan yang penting pula untuk diperhatikan bahwa
losion harus mempunyai viskositas tertentu, tidak terlalu kental
sehingga mudah dituang dan tidak terlalu encer agar tidak mudah
dituang (Jellink, 1970).
Efektifitas suatu sediaan losion ditentukan dari kemampuannya
untuk membentuk lapisan tipis yang menutupi permukaan kulit
membuat kulit halus, dan sedapat mungkin menghambat penguapan
air, lapisan yang terbentuk sebaiknya tidak membuat kulit berminyak
dan panas. Untuk membuat seuatu formula losion agar memenuhi
kriteria, seperti mudah dioleskan, mudah dicuci, tidak berbau tengik,
dan tetap stabil dalam penyimpanan, maka diperlukan bahan-bahan
dengan konsentrasu yang sesuai (Balsam, 1970).

2.7.2. Losion Bentuk Emulsi
Emulsi adalah sediaan berupa campuran yang terdiri dari dua
fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi
sangat halus dan homogen dalam fase cairan yang lain, umumnya
20

distabilkan dengan zat pengemulsi. Fase cairan terdispersi disebut fase
dalam dan fase cairan pembawa disebut fase luar. Bila fase dalam
berupa minyak atau larutan zat dalam minyak dan fase luarnya air atau
larutan air muka emulsi mempunyai tipe minyak dalam air (m/a).
Sedangkan bila fase dalam adalah air atau larutan air dan fase luarnya
minyak atau larutan minyak maka tipe emulsinya adalah air dalam
minyak (a/m) (Ansel, 1989).
Terdapat dua alternatif dasar dalam pembuatan emulsi, yaitu;
dengan menurunkan tegangan antarmuka dan dengan mencegah
penggabungan tetesan. Menurut teori emulsi klasik, zat aktif
permukaan mampu mengurangi tegangan permukaan dan bertindak
sebagai penghalang bergabungnya tetesan karena zat-zat tersebut
diabsorbsi pada permukaan tetesan-tetsan yang terdispersi. Zat
pengemulsi memudahkan pembentukan emulsi dengan tiga
mekanisme, yaitu (Jellink, 1970, Lachman, 1994) :
1) Mengurangi tegangan antarmuka.
2) Pembentukan suatu lapisan antarmuka yang kaku sebagai
pembatasa mekanik untuk penggabungan.
3) Pembentukan lapisan listrik rangkap sebagai penghalang elektrik
untuk mendekati partikel-partikel.

2.7.3. Bahan-bahan Pembentuk Losiom
Bahan yang biasa terdapat dalam formula losion adalah
(Lachman, 1994):
a. Barrier agent (pelindung)
Berfungsi sebagai pelindung kulit dan juga ikut mengurangi
dehidrasi. Contoh: Asam stearat, bentonit, seng oksida, titanium
oksida, dimetikon.
b. Emollient (pelembut)
Berfungsi sebagai pelembut kulit sehingga kulit memiliki
kelenturan pada permukaannya dan memperlambat hilangnya air
21

dari permukaan kulit. Contoh: Lanolin, paraffin, stearil alcohol,
vaselin.
c. Humectan (pelembab)
Bahan berfungsi mengatur kadar air atau kelembaban pada sediaan
losion itu sendiri maupun setelah dipakai pada kulit. Contoh:
gliserin, propilenglikol, sorbitol.
d. Pengental dan pembentuk film
Berfungsi mengentalkan sediaan sehingga dapat menyebar lebih
halus dan lekat pada kulit, disamping itu juga berfungsi sebagai
stabilizer. Contoh: Setil alkohol, karbopol, vegum, tragakan, gum,
gliseril monoasetat.
e. Emulsifier (zat pembentuk emulsi)
Berfungsi menurunkan tegangan permukaan antara minyak dan air,
sehingga minyak dapat bersatu dengan air. Contoh : Trietanolamin,
asam stearat, setil alkohol.
f. Buffer (larutan dapar)
Berfungsi untuk mengatur atau menyesuaikan pH losion agar
sesuai dengan pH kulit. Contoh: Asam sitrat, asam laktat, natrium
sitrat.

2.7.4. Monografi Bahan
a) Asam Stearat (Wade A, Weller PJ, 1993).
Asam stearat merupakan campuran dari asam stearat (C
18
H
36
O
2
)
dan asam palmitat (C
16
H
32
O
2
) diperoleh dari lemak dan minyak yang
dapat dimakan, mengandung tidak kurang dari 40,0% dan jumlah
keduanya tidak kurang dari 90%.
Sinonim : Crodasid; croterene; glycon S-90; hystrene.
Pemerian : Hablur padat, serbuk warna putih atau
kekuningan mirip lemak lilin, baud an rasa lemah
mirip lemak
Rumus molekul : C
18
H
36
O
2
22

Bobot molekul : 284,47
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam
kloroform P dan eter P, larut dalam etanol (95%).
Kegunaan : Pengemulsi, solubilisator, pelincir tablet.

b) Setil alkohol (DepKes RI, 1979, Wade A, Weller PJ, 1993)
Setil alkohol digunakan untuk kepentingan farmasetik dan
nkosmetik, biasanya diformulasikan dalam bentuk sediaan
supositoria, sediaan padat lepas lambat, sediaan emulsi, losion, krim
dan salep. Di dalam sediaan losion, krim dan salep digunakan
sebagai penyerap air, bahan pengemulsi, pelembut (emollient),
sekaligus dapat meningkatkan tekstur, penambah kekentalan.
Sinonim : 1-heksadekanol; n-heksadesil alkohol; palmitil
alkohol; ethol.
Pemerian : Serpihan putih licin, granul, atau kubus, putih,
bau khas lemah, rasa lemah.
Rumus molekul : C
6
H
34
Bobot molekul : 242,44
Kelarutan : Tidak larut dalam air, larut dalam etanol, dan
dalam eter, kelarutan bertambah dengan naiknya
suhu.
Kegunaan : Penyalut, pengemulsi.

c) Dimetikon (Reynold JEF, 1993)
Dimetikon adalah poli (dimetilsiloksan) yang diperoleh dari
hidrolisis dan polikondensasi diklorometilsilan (CH
3
)
2
SiCl
2
dan
klorotrimetilsilan (CH
3
)
3
SiCl. Kualitas dibedakan dengan suatu
angka yang menunjukkan kekentalan yang jika dinyatakan dalam
viskositas kinetic besarnya 20-1000 mm
2
/detik.
Sinonim : -(trimetilsilsil)--metilpolioksi dimetilsililena
Pemerian : Larutan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau.
23

Kelarutan : Tidak larut dalam air, dalam methanol, dalam
etanol dan dalam aseton, sangat sukar larut dalam
isopropanol, larut dalam hidrokarbon terklorinasi,
benzena, toluena, xilena, eter dan heksana.
Kegunaan : Sebagai antibusa dan untuk perawatan kulit
oklusif, pelindung (protectant) kulit.

d) Trietanolamin (TEA) (DepKes RI, 1979, Wade A, Weller PJ,
1993).
Trietanolamin adalah campuran dari trietanolamin, dietanolamin
dan monoetanolamin, mengandung tidak kurang dari 99,0% dan
tidak lebih dari107,4% dihitung terhadap zat anhidrat sebagai
trietanolamin.
Sinonim : Trietilamin; trihidriksitrietilamin
Pemerian : Cairan kental, tidak berwarna, hingga kuning
pucat, bau lemah mirip amonika, higroskopis.
Rumus molekul : C
6
H
15
NO
3
Bobot molekul : 149,19
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan etanol (95%)P, larut
dalam kloroform P.
Kegunaan : Pengemulsi, zat alkali.

e) Metil paraben (DepKes RI, 1979, Wade A, Weller PJ, 1993)
Sinonim : Nipagin; asam 4-hidrosibenzoat metil ester, p-
hidroksibenzoat; metil parahidroksi benzoate.
Pemerian : Serbuk hablur halus, putih hampir tidak berbau,
tidak mempunyai rasa, kemudian agak membakar
diikuti rasa tebal.
Rumus molekul : C
8
H
8
O
3
Bobot molekul : 152,15
24

Kelarutan : Sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam
tetraklorida, mudah larut dalam etanol dan dalam
eter.
Kegunaan : Pengawet antimikroba.

f) Propil paraben (DepKes RI, 1979, Wade A, Weller PJ, 1993)
Sinonim : Nipasol; asam 4-hidroksibenzoat propel ester; p-
hidroksibenzoat; propel parahidroksibenzoat.
Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau dan tidak
berasa
Rumus molekul : C
18
H
36
O
2
Bobot molekul : 180,20
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, larut dalam etanol P
dan aseton P, mudah larut dalam alkali hidroksida.
Kegunaan : Pengawet antimikroba.

g) Butil Hidroksi Toluena (BHT) (Wade A, Weller PJ, 1993)
Sinonim : Sustane; topanol; vianol; impruvol.
Pemerian : Kristal padat atau serbuk putih atau kuning pucat
dengan bau khas lemah.
Rumus molekul : C
15
H
24
O

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, gliserin,
propilenglikol, larut dalam alkali hidroksida dan
larutan asam mineral, sangat mudah larut dalam
aseton, benzene, etanol (96%), eter, methanol,
toluene, dan paraffin cair.
Kegunaan : Antioksidan.

h) Gliserin (DepKes RI, 1979, Wade A, Weller PJ, 1993)
Pemerian : Cairan seperti cairan sirup, jernih tidak berwarna,
tidak berbau, manis diikuti rasa hangat.
25

Rumus molekul : C
3
H
8
O
5
Bobot molekul : 92,10
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, etanol (95%) p,
kloroform p, eter p
Kegunaan : Sebagai antimikroba, pelarut, pemanis,
humeciant,

i) Paraffin cair (DepKes RI, 1979)
Pemerian : Cairan kental tidak berwarna, tembus cahaya,
tidak berbau, tidak berasa; agak berminyak.
Kelarutan : Tidak larut dalam air dan dalam etanol, mudah
larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak
menguap, dalam hampir semua minyak lemak
hangat, sukar larut dalam etanol mutlak.
Kegunaan : Sebagai emollient pada emulsi minyak dalam air.
Konsentrasi yang biasa digunakan pada sediaan
emulsi topikal 1-32%.

j) Vaselinum album (DepKes RI, 1979)
Pemerian : Massa lunak, lengket, bening, putih; sifat ini
tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga
dingin tanpa diaduk
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%)p,
larut dalam kloroform p, eter p, dan eter minyak
tanah p.
Kegunaan : Sebagai emollient.

k) Isopropyl Miristate (Wade A, Weller PJ, 1993)
Pemerian : Berupa cairan tidak berwarna, praktis tidak
berbau dan tidak berasa
Rumus molekul : C
17
H
14
O
2
26

Bobot molekul : 270,51
Kelarutan : Larut dalam aseton, kloroform, etanol, etil asetat,
lemak, toluene. Praktis tidak larut dalam air,
gliserin,
Kegunaan : Emulsifying agent.

l) Lanolin (DepKes RI, 1979)
Pemerian : Sirup lemak, liat, lekat, kuning muda atau kuning
pucat, agak tembus cahaya, bau lemah dan khas.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut
dalam etanol (95%)P, mudah larut dalam
kloroform P dan eter.
Kegunaan :Emulsifying agent.


















27

BAB III
METODOLOGI

3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
1. Timbangan analitik
2. Viskometer Brookfield
3. pH meter
4. Mortir dan stamper
5. Alat-alat gelas laboratorium
6. Penangas air
7. Sentrifuge
8. Rotary evaporator
9. Oven
10. Kulkas

3.1.2. Bahan
1. Minyak atsiri daun jeruk purut (Cytrus hystrix)
2. N-heksana
3. Propilenglikol
4. Asam stearat
5. Setil alkohol
6. Dimetikon
7. Trietanolamin (TEA)
8. Isopropyl miristat
9. Paraffin cair
10. Butyl hidroksi toluene (BHT)
11. Asam sitrat
12. Metil paraben
13. Propil paraben
14. Aquadest
28


3.2. Skema Penelitian































3.3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Losion dari minyak atsiri daun jeruk purut, kriteria inklusinya : losion
memenuhi syarat uji evaluasi dan efektif sebagai penolak nyamuk Aedes
aegypti (repellent), sedangkan kriteria eksklusinya: adanya reaksi alergi/iritasi
pada kulit.
Pembuatan losion repellent
Uji evaluasi sediaan losion
Uji efektivitas losion sebagai
repellent dibandingkan
dengan kontrol positif dan
negatif
Analisi data dengan
ANNOVA
Minyak atsiri daun jeruk
purut (Cytrus hystrix)
memiliki aktivitas repellent
terhadap nyamuk Aedes
aegypti (Martini dkk, 2002)
Metode ekstraksi minyak atsiri daun
jeruk purut menghasilkan rendemen
dan kandungan minyak atsiri tinggi
secara sokletasi dengan pelarut n-
heksana (Munawaroh dan Handayani,
2010)
Dilakukan penelitian untuk membuat formulasi
sediaan losion minyak atsiri daun jeruk purut
Simplisia daun jeruk purut
Hasil minyak atsiri dari
ekstraksi daun jeruk purut
29

3.4. Prosedur Kerja
3.4.1. Ekstraksi Minyak Atsiri Daun Jeruk Purut (Cytrus hystrix)
Daun jeruk purut segar yang tua dikumpulkan, dicuci, disortasi
kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2 hari kemudian
dipotong kecil-kecil. setelah kering, daun jeruk purut dibungkus
dengan kertas saring dan dimasukkan dalam soklet. Daun jeruk purut
dalam soklet diekstraksi dengan 100 ml n-heksana pada suhu 72-86C
(suhu pemanas) sampai warna pelarut kembali menjadi seperti semula.
Setelah dilakukan proses ekstraksi, diperoleh filtrat minyak daun jeruk
purut, kemudian dimurnikan dengan ekstraktor soklet pada suhu 72-
86C sampai pelarutnya tidak menetes lagi dan diperoleh minyak daun
jeruk purut murni (Munawaroh dan Handayani, 2010).

3.4.2. Formulasi Losion Ekstrak N-heksana Daun Jeruk Purut (Cytrus
hystrix)
R/ Minyak atsiri daun jeruk purut 1,5%
Paraffin cair 2,5 g
Isopropyl mystate 2,5 g
Asam stearat 3 g
Lanolin 1 g
Setil alkohol 2 g
Dimeticon 1 g
TEA 1 g
Propilen Glikol 5 g
BHT 0,0075 g
Metil paraben 0,12 g
Propil paraben 0,1 g
Parfum qs
Aquadest Ad 100 ml
(Yuniarsih, 2010)

30

3.4.3. Pembuatan Losion Daun Jeruk Purut (Cytrus hystrix)
1. Fase minyak (lanolin, asam stearat, setil alkohol, dimetikon,
propilenglikol, paraffin cair, isopropyl muristat dan BHT) dan
minyak atsiri daun jeruk purut dilebur dalam cawan penguap diatas
penangas air sampai cair (suhu dijaga 70-75C)
2. TEA didispersikan terlebih dahulu dengan sejumlah air, lalu
dihomogenkan secara perlahan dan dipanaskan dalam cawan
penguap diatas penangas air sampai cair (suhu dijaga 70-75C)
3. Metil paraben dan propilo paraben masing-masing dilarutkan
dalam air panas, lalu keduanya dicampur.
4. Fase air (TEA) sedikit demi sedikit dicampurkan ke dalam fase
minyak (dalam mortar yang telah dipanaskan) sampai terbentuk
masa losion yang stabil, dihomogenkan pencampuran terus
dilakukan suhu mencapai 40-45C.

3.4.4. Uji Evaluasi Losion Daun Jeruk Purut (Cytrus hystrix)
Evaluasi dilakukan setelah sediaan losion terbentuk, setelah
penyimpanan selama 0 minggu, 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 4
minggu.
1. Uji Organoleptis
Uji orgnoleptis sediaan losion meliputi penampilan warna, bau, dan
tekstur.
2. Homogenitas
Losion dioleskan diatas kaca objek, kemudian dikatupkan dengan
kaca objek lain, lalu diamati kehomogenan losion tersebut.
3. pH (Martin A, 1993)
Elektroda dicuci dan dibilas dengan air suling kemudian dilakukan
kalibrasi pH meter dengan dapar fosfat ekimolal dan kalium
biftalat lalu ditentukan pH dari losion.
4. Viskositas (Martin A, 1993)
31

Penentuan viskositas bertujuan untuk mengetahui adanya
perubahan kekentalan pada tiap formula losion. Penentuan
viskositas dilakukan menggunakan viscometer Brookfield
5. Sentrifugasi (Ansel HC, 1989)
Losion dimasukkan dalam tabung centrifuge, kemudin diputar pada
3000 rpm selama 30 menit, kemudian diamati apakah terjadi
pemisahan.
6. Patch Test (Iswari T, Retno, 2007)
Uji keamanan losion ini dilakukan terhadap 10 relawan yang
dioleskan losion placebo dan losion dengan minyak atsiri daun
jeruk purut selama 15 menit kemudian dilihat reaksinya, terjadi
iritasi/alergi atau tidak.

3.4.5. Uji Efektifitas Sebagai Repellent (Nunik SA, Singgih S, Soetiyono P,
1997)
Pengujian dilakukan ke dalam kurungan nyamuk berukuran
40x50x60 cm yang dindingnya terbuat dari kain kassa nilon, ke
dalam setiap kurungan dimasukkan 20 ekor nyamuk Aedes aegypti
(Cytrus hystrix) yang sama sekali belum menghisap darah.
Kemudian lengan dioleskan 300 mg losion minyak atsiri daun jeruk
purut, losion placebo (kontrol negatif) dan losion komersil merk
Autan (kontrol positif) di waktu berbeda. Lalu lengan yang telah
terolesi losion dimauskkan dalam kurungan nyamuk selama 15
menit, selanjutnya dimasukkan dalam kurungan nyamuk selama 15
menit, selanjutnya dimasukkan kembali setelah 1 jam sampai jam ke
6 dengan masa pengamatan selama 15 menit setiap jamnya, daya
proteksi terhadap nyamuk ditentukan dengan rumus:


Dimana :
Dp : daya proteksi
32

K : Angka hinggap pada lengan kontrol (losion tidak
mengandung minyak atsiri daun jeruk purut)
P : Angka hinggap pada lengan yang terolesi losion minyak biji
mimba

3.5. Analisis Data
Data yang diperoleh dari pengujian efektifitas sediaan losion minyak
atsiri daun jeruk purut, losion placebo (kontrol negatif), dan losion merk
Autan (kontrol positif), dianalisis menggunakan uji varian (ANOVA) datu
arah terhadap daya proteksi nyamuk Aedes egypti.














33

DAFTAR PUSTAKA
Agusta, Andria. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. ITB Press.
Bandung
Akhila 1986
Ansel HC. 1989. Pengantar bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. Diterjemahkan oleh
Farida I. UI Press. Jakarta
Balsam MS, Sagarin E. 1970. Cosmetic Science and Technology 2
nd
ed Volume I.
Wiley Intersceince. New York
Barel Ao, Poye M, Malbach HI. 2002. Handbook of Cosmetic Science and
Technology. Marcel Dekker Ink. New York
Basset, J, dkk. 1994. Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitas Anorganik.
Terjemahan A. Hadyana Pudjaatmaka dan L. Setiono. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta
Butryee 2009
CDC .2008. Updated Information Regarding Mosquito Repellents.
http://www.cdc.gov/ncldod/dvbld/westnile/resources/uprepinfo.pdf 15 Januari
2014
Ching, L S, and S Mohamed. 2001. Alpha-tocopherol Content in 62 Edible
Tropical Plants. Journal of Agricultural and Food Chemistry
Dalimarta, S. 2009. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 6. Trubus Agriwidya.
Jakarta
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta
Departemen Kesehatan RI, Dirjen PP & PL. 2005. Pencegahan dan
Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta
34

Fessenden, R.J. & Fessenden, J.S. 1991. Dasar-Dasar Kimia Organik. Binarupa
Aksara. Jakarta.
Ginanjar, Genis. 2004. Apa Yang Dokter Anda Tidak Katakan Tentang Demam
Berdarah. Penerbit Bentang Pustaka (Mizan). Yogyakarta.
Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri Jilid 1. Universitas Indonesia Press. Jakarta
Hakim dan Harris 2001
Houghton, PJ dan Raman, A .1998. Laboratory Handbook for Fractination of
Natural Extracts. Chapman & Hall. New York
Iswari T, Retno. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. PT Gramedia
Pustaka. Jakarta
Jellinek JS. 1970. Formulation and Function of Cosmetics. Wiley Intersceince.
New York
Kastianti, N dan Amalia, Z.Q. 2008. Laporan Penelitian Pengambilan Minyak
Atsiri Kulit Jeruk dengan Metode Ektraksi Distilasi Vakum. Jurusan Teknik.
Semarang
Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka. Jakarta
Koswara, S. 2009. Menyuling dan Menepungkan Minyak Atsiri Daun Jeruk Purut.
Ebook
Lachman L, Liberman HA, Kaning JL.1994. Teori dan Praktek Farmasi Jilid II
Edisi III. Diterjemahkan oleh Siti S. UI Press. Jakarta
Lutony. 1994. Produksi dam Perdagangan Minyak Atsiri. Jakarta
Martin A. 1993. Physical Pharmacy Ed 4
th
. Lea & Fabringer. Philadelphia
Martini, Santoso, L. dan Murni, W. 2002. Efektifitas Repellent (Daya Tolak) Dari
Berbagai Jenis Daun Jeruk (Citrus sp) Terhadap Kontak Nyamuk Aedes Aegypti.
35

Laporan Penelitian, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.
Semarang.
MDPH 2008
Munawaroh, Safaatul dan Handayani, PA. 2010. Ekstraksi Minyak Daun Jeruk
Purut (Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana. Program
Studi Teknik Kimia, Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Murakami et al 1995
Nazarudin dan Kristiawati,R. 1992. 18 Varietas Salak. Penebar Swadaya. Jakarta
Nunik SA, Singgih S, Soetyono P. 1997. Respon S. Rarak, D. Metel Dan S.
Prostate Sebagai Repelan Untuk Nyamuk Aedes Aegypti. Kesehatan Masyarakat
Ong SP, Law, CL. 2009. Mathematical Modelling of Thin Layer Drying of
Snakefruit. Journal of Applied Science
POM 2010
Quanter., 1997
Reynold JEF. 1993. Martindale The Extra Pharmacope Ed 30
th
. The
Pharmaceutical Press. London
Sarwono 1996
Soedarto. 1992. Atlas Entomologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta
Soegijanto, Soegeng. 2006. Demam Berdarah Dengue. Airlangga University
Press. Surabaya
Suharmiati dan Handayani, L. 2007. Tanaman Obat dan Ramuan Tradisional
Untuk Mengatasi Demam Berdarah Dengue (DBD). xxxxx
36

Suryaningrum, S. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Buah Jeruk Purut
(Citrus hystrix D.C) terhadap Staphylococcis aureus dan Escherichia coli.
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah. Surakarta
Syamsuhidayat 1993
Takarina 1995
Tjitrosoepomo,G. 1988. Taksonomo Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta
Trease 1989
Wade A, Weller PJ. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients ed 2
nd
. The
Pharmaceutical Press. London
Wijaya 1995
Windono 2003
Yuniarsih, Eka. 2010. Uji Efektifitas Losion Repelan Minyak Mimba (Azadirachta
indica A. Juss) Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti. Universitas Islam Negeri Syarig
Hidayatullah. Jakarta