Anda di halaman 1dari 33

1} Mengapa dewa dewi agama hindu berbeda?

Dewa-dewi dalam agama hindu


Orang hindu percaya pada satu dan hanya satu tuhan(brahman dalam upanisad),tetapi mereka
memujanya dalam berbagai bentuk yang di sebut dengan dewa-dewi. Hindu memuja banyak
tuhan bukanlah politheisme akan tetapi monotheistik polytheisme. Pemikiran Hindu yang
monotheisme adalah pengakuan tentang Tuhan yang diketahui dengan banyak cara dan
dipuja dalam berbagai bentuk. Tradisi memuja banyak dewa dan dewi didasarkan pada logika
berikut ini :
1. Agama Hind menyadari adanya perbedaan dalam pikiran manusia dan perbedaan tingkat
spiritual dalam setiap individu. Agama Hindu tidak mengkategorikan manusia ke dalam satu
keturunan. Mahabarata mengatakan "Akasat patitam toyam yatha gacchati sagram,sarva deva
namaskarah kesavawam prati gacchati".
(seperti air hujan yang jatuh dari langit yang secara perlahan mencapai lautan,begitu juga
pemujaan yang dipersembahkan padanya dengan nama apapun yang kau kehendaki,atau
bentuk apapun yang kau sukai, pastilah akan sampai padanya(satu-satunya)
Mutlak,Infinit,kenyataan yang kuasa".
2. Menjadi pencipta dari berbagai bentuk dalam alam ini. Tuhan harus dapat berubah bentuk
untuk menyenangkan pemujanya. Terlebih lagi, Tuhan tidak dapat dikatakan hanya memiliki
satu bentuk atau nama tertentu karena akan membatasi kekuatannya yang pasti. Inilah
mengapa hindu memuja berbagai nama dan bentuk tuhan (juga sesuai tempat dan fungsinya).
Tidak ada nama atau bentuk yang lebih baik atau lebih buruk dari yang lainnya karena
semuanya itu adalah manifestasi dari Tuhan. Pemikiran ini lebih lanjut lagi dijelaskan dalam
doktrin Atharva veda:"Ia adalah satu, Kesatuan itu sendiri, Dalam dirinya semua Dewa-Dewi
adalah dirinya sendiri".

Memuja bentuk tertentu dari Tuhan tidak membatasi atau bertentangan dengan memuja
bentuk lain dari Tuhan. Logika ini mudah dimengerti dengan mempergunaka analogi
sementara: ketika kita bekerja di kantor kita memakai jas dan dasi atau baju kantor. Ketika
kita bekerja disekitar rumah kita,kita memakai celana pendek dan mungkin T-shirt. Ketika
main tenis kita memakai pakaian olahraga, dan lain sebagainya.Intinya dalam semua kegiatan
itu,Orangnya adalah sama,hanya pakainnya yang berbeda untuk melakukan berbagai tugas.

Ketika seorang pemuja memilih satu bentuk Tuhan,Dewa yang terpilih disebut dengan ista-
deva,atau ista-devata.Ista-deva ini menjadi obyek dari cinta pemuja dan pujian,memuaskan
kerinduan sepiritualnya. Dalam naskah veda kuno sebuah usaha untuk memperbaiki jumlah
dewa menjadi 33.ke-33 dewa dewi ini dibagi menjadi tiga kelompok yang beranggotakan
sebelas. Satu kelompok berhubungan dengan swarga, kelompok yang kedua berhubungan
dengan bumi, dan yang ketiga berhubungan dengan air dan atmosphere. Pemimpin dari
kelompok pertama adalah Dewa surya,pemimpin dari kelompok yang kedua adalah Dewa
agni,dan pemimpin yang ketiga adalah Dewa indra. Kemudian jumlah dewa-dewi itu
berkembang menjadi 33 (330 juta).Konsep 330 meiliar dewi (atau dewa) terdengar
menggelikan. Tetapi semuanya memiliki makna simbolis.

Menurut pandangan hindu, atman adalah manifestasi dari Brahman dalam setiap mahluk
hidup, dari manusia sempurna sampai dengan cacing yang terendah. Orang hindu memuja
tuhan yang berada dalam semua mahluk,menyadari bahwa semua mahluk adalah manifestasi
Tuhan yang berbeda kenyataan. Pada jaman dahulu dipercaya bahwa 330 mahluk hidup ada
di dunia. Karena mahluk hidup dipercaya merupakan manifestasi brahman,maka adanya 330
manifestasi itu menyebabkan munculnya konsep 330 dewa. Sebenarnya 330 juta dewa ini
tidak dapat dipuja. Tetapi jumlah 330 juta itu.merupakan perlambang dari ungkapan simbolis
pada doktrin Hindu yang punda mental,bahwa tuhan hidup pada hati semua mahluk dan ia lah
berbagai manifestasi yang tidak dapat dihitung.

2}mengapa ada dewa gajah monyet?


"Disinilah saya tinggal, dikelilingi sekumpulan gajah, gajah-gajah betina ,anak-anak
gajah dan gajah-gajah muda. Mereka mengunyah-ngunyah ujung-ujung rumput yang
ingin saya makan, mereka memakan daun-daun dari ranting-ranting pohon yang
saya patahkan; mereka mengeruhkan air minum saya. Ketika saya masuk atau
keluar dari sungai, gajah-gajah betina menggosok-gosokkan badannya ke badan
saya. Karena itulah saya memisah kan diri dari kumpulan gajah-gajah dan lebih baik
hidup sendirian."

Oleh karena itu gajah yang baik hati ini memisahkan diri dari kumpulannya dan
berjalan mendekati Hutan Lindung. Gajah itu bernama Parileyyaka.

Di dalam Hutan Lindung, Sang Buddha sedang berdiam seorang diri, menarik gajah
itu untuk berjalan menuju pohon Sala, tempat Sang Buddha duduk.

Setibanya di hadapan Sang Buddha, gajah itu memberi hormat kepada Sang
Buddha. Ia melihat ke sekeliling, mencari sapu karena ia ingin membersih kan
tempat di sekitar Sang Buddha duduk. Karena tidak ada sapu, ia mematahkan
ranting pohon untuk dijadikan sapu dan membersihkan tempat itu. Kemudian ia
mengambil kendi air dengan belalainya dan menyiapkan air minum. Apabila
dibutuhkan air panas, ia akan menyiapkan air panas. (Bagaimana mungkin?).
Caranya, pertama-tama ia membuat percikan api dengan menggosok-gosokkan
kayu dengan belalainya, kemudian ia menaruh ranting-ranting pohon di atas
percikan api itu, sehingga ia mempu nyai api. Lalu ia memanaskan batu-batu kecil di
dalam api. Digelindingkan nya batu-batu kecil yang sudah panas itu dengan tongkat
ke dalam lekukan. Di atas lubang kecil di antara batu yang besar, ditaruhnya kendi
air. Dengan belalainya, ia memeriksa, apabila air sudah cukup panas, ia segera
menghadap kepada Sang Buddha. Sang Buddha lalu bertanya :

"Parileyyaka, apakah ini air panasmu?"

Kemudian Sang Buddha mandi dengan air panas yang dibuat si gajah. Kemudian
Gajah Parileyyaka mencari dan membawakan buah-buahan segar dan
mempersembahkannya kepada Sang Buddha.

Apabila Sang Buddha masuk ke desa untuk pindapatta, gajah itu akan
membawakan mangkuk dan jubah, yang ditaruh di atas kepalanya. Dan ia pun
mengiringiNya. Ketika Sang Buddha tiba di tepi desa, Beliau mengam bil mangkuk
dan jubahNya dengan berkata :

"Parileyyaka, lebih baik kamu jangan ikut. Berikanlah mangkuk dan jubahKu."

Sang Buddha memasuki desa, dan si gajah Parileyyaka tetap menunggu dengan
setia sampai Sang Buddha kembali. Ketika Sang Guru kembali, ia akan menyambut
dan membawakan mangkuk serta jubah seperti yang ia lakukan sebelumnya,
menaruhnya di tempat Sang Buddha duduk, memberi hormat dan mengipas-ngipas
dengan ranting pohon supaya Sang Guru merasa nyaman.

Jika malam tiba, untuk melindungi Sang Buddha dari binatang buas, ia akan
berjaga-jaga dengan belalainya yang besar, sambil berkata sendiri :

"Saya akan melindungi Sang Guru."

Ia lalu berjalan bolak balik sampai pagi hari. (Sejak saat itulah hutan itu disebut
"Hutan Lindung").

Pada pagi harinya, gajah itu lalu menyiapkan air untuk mencuci muka, sebelum ia
melaksanakan tugas-tugasnya yang lain.

Suatu ketika, seekor monyet melihat perbuatan yang dilakukan gajah Parileyyaka
setiap hari, melaksanakan tugasnya, melayani Sang Buddha. Ia lalu berkata sendiri
: "Saya juga ingin melakukan hal yang sama."

Pada suatu hari, ketika ia bergelayutan di antara pepohonan di hutan, ia melihat
sarang madu yang telah ditinggalkan oleh tawon-tawonnya. Ia mengambil sarang
madu itu dan menaruhnya di atas selembar daun dan dipersembahkannya ke
hadapan Sang Buddha. Sang Buddha mengambilnya.

Monyet itu memperhatikan, apakah Sang Guru makan sarang madu itu atau tidak. Ia
memandangi Sang Guru yang setelah mengambil sarang madu itu, lalu
meletakkannya kembali, sambil tetap berdiam diri.

"Apa yang terjadi?" pikir monyet itu.

Ia mengambil tongkat kecil, sarang madu itu diambilnya dan diperhatikan dengan
seksama. Dengan membolak-balikkannya, ia memperhatikan kemba li dengan teliti.
Ternyata di dalam sarang madu banyak terdapat telur-telur serangga. Ia kemudian
mengeluarkan telur-telur itu dengan hati-hati sekali. Setelah benar-benar bersih,
dipersembahkannya kembali sarang madu itu kepada Sang Buddha. Maka, Sang
Buddha berkenan menyantap sarang madu itu.

Si monyet amat bahagia melihat Sang Buddha makan sarang madu yang
dipersembahkannya. Ia meloncat-loncat di antara cabang-cabang pohon, dan
menari-nari dengan gembira. Tiba-tiba cabang pohon yang dipegangnya itu patah,
sehingga ia jatuh dan tertimpa batang pohon itu. Ia pun mati.

Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya kepada Sang Buddha, ia
terlahir kembali di Alam Surga.

Di Kota Savatthi, Jutawan Anathapindika, Ibu Visakha, para pengikut setia Sang
Buddha dan orang-orang penting lainnya mengirimkan pesan kepada Bhikkhu
Ananda.

"Yang Mulia, kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru."

Lima ratus bhikkhu yang datang dari berbagai daerah datang menemui Bhikkhu
Ananda, yang ketika itu sedang musim hujan, mereka juga mengajukan permohonan
:

"Saudaraku Ananda, telah lama sekali kami mendengarkan Dhamma dari Sang
Guru sendiri. Sekarang kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru Agung kita,
untuk mendengarkan Ajaran dari Beliau sendiri."

Bhikkhu Ananda mengajak para bhikkhu itu bersama-sama menuju Hutan Lindung.
Ketika mereka telah mencapai tepi hutan, Bhikkhu Ananda berpikir : "Sang Guru
sedang hidup menyendiri selama tiga bulan ini. Jadi belum tentu tepat apabila saya
mengajak para bhikkhu ini untuk mengunjungiNya." Maka, Bhikkhu Ananda masuk
ke dalam Hutan Lindung itu seorang diri, meninggalkan kelima ratus bhikkhu itu di
tepi hutan dan menghadap Sang Buddha terlebih dahulu.

Gajah Parileyyaka melihat ada seorang bhikkhu datang menghampiri Sang Buddha.
Ia segera mengambil tongkat dan menyerbu ke Bhikkhu Ananda. Sang Buddha yang
melihatnya, berkata :

"Kembalilah Parileyyaka, jangan mengusirnya. Ia adalah murid seorang Buddha."

Gajah itu membuang tongkatnya dan memohon ijin untuk membawakan mangkuk
dan jubah Bhikkhu Ananda. Tetapi Bhikkhu Ananda menolaknya.

Gajah itu lalu berpikir : "Apabila ia betul-betul mengetahui sopan santun, ia tidak
akan menaruh segala keperluan miliknya di tempat Sang Guru duduk."

Bhikkhu Ananda lalu menaruh mangkuk dan jubahnya di tanah. (Untuk yang
mengetahui peraturan, seorang bhikkhu tidak diperkenankan menaruh keperluan-
keperluan miliknya sendiri di tempat duduk atau tempat tidur Gurunya). Setelah
memberi hormat, Bhikkhu Ananda duduk di salah satu sisi. Sang Buddha bertanya :

"Ananda, apakah kamu datang sendiri?"

Bhikkhu Ananda menjelaskan bahwa ia datang bersama lima ratus bhikkhu. Sang
Buddha bertanya :

"Di manakah mereka berada?"

"Di tepi hutan, Yang Mulia."

"Saya tidak mengerti bagaimana perasaanmu meninggalkan saudara-saudaramu di
tepi hutan dan datang seorang diri. Ajaklah mereka masuk."

Bhikkhu Ananda mentaati perintah Sang Buddha. Ia menjemput ke lima ratus
bhikkhu itu masuk ke dalam Hutan Lindung.

Sang Buddha menyambut ke lima ratus muridNya dengan gembira. Setelah
memberi hormat, para bhikkhu itu berkata :

"Yang Mulia, Yang Maha Sempurna adalah seorang Buddha yang penuh dengan
kelembutan dan penuh dengan cinta kasih. Amatlah sulit hidup di hutan ini seorang
diri selama tiga bulan. Lagipula tidak ada seorangpun yang melayani semua
kebutuhan Yang mulia. Tidak ada yang menyediakan air mandi atau menyediakan
kebutuhan-kebutuhan lainnya."

Sang Buddha menjawab :"Para bhikkhu, gajah Parileyyaka ini yang melayani semua
kebutuhanKu. Apabila seseorang yang telah memperoleh pengalaman hidup
berkelompok, dan tidak cocok untuk hidup di dalam kelompoknya, kadang-kadang
lebih baik baginya untuk hidup seorang diri."

Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu mengucapkan tiga syair :

"Apabila dalam pengembaraanmu
engkau dapat menemukan seorang sahabat
yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana,
maka hendaknya engkau berjalan bersamanya dengan senang hati
dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 9 )

"Apabila dalam pengembaraanmu
engkau tidak menemukan seorang sahabat
yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana
maka hendaknya engkau berjalan seorang diri,
seperti seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya,
atau seperti gajah yang mengembara seorang diri di dalam hutan."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 10 )

"Lebih baik mengembara seorang diri,
dan tidak bergaul dengan orang bodoh.
Pergiah seorang diri dan jangan berbuat jahat;
hiduplah dengan bebas (tidak banyak kebutuhan),
seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 11 )

Pada akhir syair ke tiga, ke lima ratus bhikkhu itu mencapai Tingkat Kesucian
Tertinggi menjadi Arahat.

Bhikkhu Ananda lalu menyampaikan pesan-pesan dari Jutawan Anathapindika, Ibu
Visakha dan umat-umat lainnya, dengan berkata :

"Yang Mulia, lima puluh juta umat Yang Mulia yang dipimpin oleh Anathapindika
mengharapkan Anda kembali."

"Baiklah," kata Sang Buddha, "Ambillah mangkuk dan jubah."

Bhikkhu Ananda serta para bhikkhu lainnya mengambil mangkuk dan jubah, lalu
pergi keluar. Gajah Parileyyaka pergi dan berdiri di tengah jalan.

"Yang Mulia, apa yang gajah itu perbuat?"

"O Para Bhikkhu, ia ingin berdana kepada kalian. Sudah cukup lama ia melayaniKu,
janganlah melukai hatinya. Kembalilah!", Sang Buddha beserta murid-muridNya
balik kembali.

Gajah itu lalu masuk ke dalam hutan, kembali dengan membawa pisang dan buah-
buahan lainnya, mempersembahkannya kepada para bhikkhu. Kelima ratus bhikkhu
itu tidak dapat menghabiskan buah-buahan yang dipersembah kan gajah itu.

Selesai makan, Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahNya. Beliau
melangkah keluar, diikuti oleh murid-muridNya. Gajah Parileyyaka lalu menyelinap di
antara para bhikkhu yang sedang berjalan, kemudian di depan Sang Buddha dan
para bhikkhu, ia berdiri menghalangi jalan.

"Yang Mulia, apa yang dilakukannya?"

"Para Bhikkhu, berjalanlah terus. Ia ingin Aku kembali."

Sang Buddha lalu berkata :

"Parileyyaka, Aku pergi sekarang, tidak akan kembali lagi. Kamu tidak da pat
mengharapkan pada kehidupanmu yang sekarang ini dapat memperoleh Pandangan
Terang, melaksanakan Jalan Tengah ataupun mencapai Tingkat Kesucian.
Berhentilah!"

Ketika gajah itu mendengar kata-kata Sang Buddha, ia memasukkan belalai ke
dalam mulutnya. Ia mundur perlahan-lahan dan menangis, sambil tetap mengikuti
Sang Buddha yang terus berjalan keluar hutan. (Dapatkah ia membuat Sang
Buddha kembali, sehingga ia dapat melayaninya sampai di akhir hidupnya?)

Ketika Sang Buddha telah sampai di tepi desa, Beliau berkata :

"Parileyyaka, kalau kamu mengikutiKu lebih jauh lagi, tidak aman untukmu sendiri,
kehidupan manusia amat berbahaya untukmu. Berhentilah!"

Gajah itu berhenti berjalan, ia menangis sambil memandangi kepergian Sang
Buddha. Ketika Sang Buddha hilang dari pandangannya, karena amat sedihnya,
iapun mati. Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya dengan melayani
Sang Buddha, ia terlahir kembali di Alam Surga, bernama Dewa Parileyyaka.


3}pengertian kalung biksu


"Disinilah saya tinggal, dikelilingi sekumpulan gajah, gajah-gajah betina ,anak-anak
gajah dan gajah-gajah muda. Mereka mengunyah-ngunyah ujung-ujung rumput yang
ingin saya makan, mereka memakan daun-daun dari ranting-ranting pohon yang
saya patahkan; mereka mengeruhkan air minum saya. Ketika saya masuk atau
keluar dari sungai, gajah-gajah betina menggosok-gosokkan badannya ke badan
saya. Karena itulah saya memisah kan diri dari kumpulan gajah-gajah dan lebih baik
hidup sendirian."

Oleh karena itu gajah yang baik hati ini memisahkan diri dari kumpulannya dan
berjalan mendekati Hutan Lindung. Gajah itu bernama Parileyyaka.

Di dalam Hutan Lindung, Sang Buddha sedang berdiam seorang diri, menarik gajah
itu untuk berjalan menuju pohon Sala, tempat Sang Buddha duduk.

Setibanya di hadapan Sang Buddha, gajah itu memberi hormat kepada Sang
Buddha. Ia melihat ke sekeliling, mencari sapu karena ia ingin membersih kan
tempat di sekitar Sang Buddha duduk. Karena tidak ada sapu, ia mematahkan
ranting pohon untuk dijadikan sapu dan membersihkan tempat itu. Kemudian ia
mengambil kendi air dengan belalainya dan menyiapkan air minum. Apabila
dibutuhkan air panas, ia akan menyiapkan air panas. (Bagaimana mungkin?).
Caranya, pertama-tama ia membuat percikan api dengan menggosok-gosokkan
kayu dengan belalainya, kemudian ia menaruh ranting-ranting pohon di atas
percikan api itu, sehingga ia mempu nyai api. Lalu ia memanaskan batu-batu kecil di
dalam api. Digelindingkan nya batu-batu kecil yang sudah panas itu dengan tongkat
ke dalam lekukan. Di atas lubang kecil di antara batu yang besar, ditaruhnya kendi
air. Dengan belalainya, ia memeriksa, apabila air sudah cukup panas, ia segera
menghadap kepada Sang Buddha. Sang Buddha lalu bertanya :

"Parileyyaka, apakah ini air panasmu?"

Kemudian Sang Buddha mandi dengan air panas yang dibuat si gajah. Kemudian
Gajah Parileyyaka mencari dan membawakan buah-buahan segar dan
mempersembahkannya kepada Sang Buddha.

Apabila Sang Buddha masuk ke desa untuk pindapatta, gajah itu akan
membawakan mangkuk dan jubah, yang ditaruh di atas kepalanya. Dan ia pun
mengiringiNya. Ketika Sang Buddha tiba di tepi desa, Beliau mengam bil mangkuk
dan jubahNya dengan berkata :

"Parileyyaka, lebih baik kamu jangan ikut. Berikanlah mangkuk dan jubahKu."

Sang Buddha memasuki desa, dan si gajah Parileyyaka tetap menunggu dengan
setia sampai Sang Buddha kembali. Ketika Sang Guru kembali, ia akan menyambut
dan membawakan mangkuk serta jubah seperti yang ia lakukan sebelumnya,
menaruhnya di tempat Sang Buddha duduk, memberi hormat dan mengipas-ngipas
dengan ranting pohon supaya Sang Guru merasa nyaman.

Jika malam tiba, untuk melindungi Sang Buddha dari binatang buas, ia akan
berjaga-jaga dengan belalainya yang besar, sambil berkata sendiri :

"Saya akan melindungi Sang Guru."

Ia lalu berjalan bolak balik sampai pagi hari. (Sejak saat itulah hutan itu disebut
"Hutan Lindung").

Pada pagi harinya, gajah itu lalu menyiapkan air untuk mencuci muka, sebelum ia
melaksanakan tugas-tugasnya yang lain.

Suatu ketika, seekor monyet melihat perbuatan yang dilakukan gajah Parileyyaka
setiap hari, melaksanakan tugasnya, melayani Sang Buddha. Ia lalu berkata sendiri
: "Saya juga ingin melakukan hal yang sama."

Pada suatu hari, ketika ia bergelayutan di antara pepohonan di hutan, ia melihat
sarang madu yang telah ditinggalkan oleh tawon-tawonnya. Ia mengambil sarang
madu itu dan menaruhnya di atas selembar daun dan dipersembahkannya ke
hadapan Sang Buddha. Sang Buddha mengambilnya.

Monyet itu memperhatikan, apakah Sang Guru makan sarang madu itu atau tidak. Ia
memandangi Sang Guru yang setelah mengambil sarang madu itu, lalu
meletakkannya kembali, sambil tetap berdiam diri.

"Apa yang terjadi?" pikir monyet itu.

Ia mengambil tongkat kecil, sarang madu itu diambilnya dan diperhatikan dengan
seksama. Dengan membolak-balikkannya, ia memperhatikan kemba li dengan teliti.
Ternyata di dalam sarang madu banyak terdapat telur-telur serangga. Ia kemudian
mengeluarkan telur-telur itu dengan hati-hati sekali. Setelah benar-benar bersih,
dipersembahkannya kembali sarang madu itu kepada Sang Buddha. Maka, Sang
Buddha berkenan menyantap sarang madu itu.

Si monyet amat bahagia melihat Sang Buddha makan sarang madu yang
dipersembahkannya. Ia meloncat-loncat di antara cabang-cabang pohon, dan
menari-nari dengan gembira. Tiba-tiba cabang pohon yang dipegangnya itu patah,
sehingga ia jatuh dan tertimpa batang pohon itu. Ia pun mati.

Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya kepada Sang Buddha, ia
terlahir kembali di Alam Surga.

Di Kota Savatthi, Jutawan Anathapindika, Ibu Visakha, para pengikut setia Sang
Buddha dan orang-orang penting lainnya mengirimkan pesan kepada Bhikkhu
Ananda.

"Yang Mulia, kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru."

Lima ratus bhikkhu yang datang dari berbagai daerah datang menemui Bhikkhu
Ananda, yang ketika itu sedang musim hujan, mereka juga mengajukan permohonan
:

"Saudaraku Ananda, telah lama sekali kami mendengarkan Dhamma dari Sang
Guru sendiri. Sekarang kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru Agung kita,
untuk mendengarkan Ajaran dari Beliau sendiri."

Bhikkhu Ananda mengajak para bhikkhu itu bersama-sama menuju Hutan Lindung.
Ketika mereka telah mencapai tepi hutan, Bhikkhu Ananda berpikir : "Sang Guru
sedang hidup menyendiri selama tiga bulan ini. Jadi belum tentu tepat apabila saya
mengajak para bhikkhu ini untuk mengunjungiNya." Maka, Bhikkhu Ananda masuk
ke dalam Hutan Lindung itu seorang diri, meninggalkan kelima ratus bhikkhu itu di
tepi hutan dan menghadap Sang Buddha terlebih dahulu.

Gajah Parileyyaka melihat ada seorang bhikkhu datang menghampiri Sang Buddha.
Ia segera mengambil tongkat dan menyerbu ke Bhikkhu Ananda. Sang Buddha yang
melihatnya, berkata :

"Kembalilah Parileyyaka, jangan mengusirnya. Ia adalah murid seorang Buddha."

Gajah itu membuang tongkatnya dan memohon ijin untuk membawakan mangkuk
dan jubah Bhikkhu Ananda. Tetapi Bhikkhu Ananda menolaknya.

Gajah itu lalu berpikir : "Apabila ia betul-betul mengetahui sopan santun, ia tidak
akan menaruh segala keperluan miliknya di tempat Sang Guru duduk."

Bhikkhu Ananda lalu menaruh mangkuk dan jubahnya di tanah. (Untuk yang
mengetahui peraturan, seorang bhikkhu tidak diperkenankan menaruh keperluan-
keperluan miliknya sendiri di tempat duduk atau tempat tidur Gurunya). Setelah
memberi hormat, Bhikkhu Ananda duduk di salah satu sisi. Sang Buddha bertanya :

"Ananda, apakah kamu datang sendiri?"

Bhikkhu Ananda menjelaskan bahwa ia datang bersama lima ratus bhikkhu. Sang
Buddha bertanya :

"Di manakah mereka berada?"

"Di tepi hutan, Yang Mulia."

"Saya tidak mengerti bagaimana perasaanmu meninggalkan saudara-saudaramu di
tepi hutan dan datang seorang diri. Ajaklah mereka masuk."

Bhikkhu Ananda mentaati perintah Sang Buddha. Ia menjemput ke lima ratus
bhikkhu itu masuk ke dalam Hutan Lindung.

Sang Buddha menyambut ke lima ratus muridNya dengan gembira. Setelah
memberi hormat, para bhikkhu itu berkata :

"Yang Mulia, Yang Maha Sempurna adalah seorang Buddha yang penuh dengan
kelembutan dan penuh dengan cinta kasih. Amatlah sulit hidup di hutan ini seorang
diri selama tiga bulan. Lagipula tidak ada seorangpun yang melayani semua
kebutuhan Yang mulia. Tidak ada yang menyediakan air mandi atau menyediakan
kebutuhan-kebutuhan lainnya."

Sang Buddha menjawab :"Para bhikkhu, gajah Parileyyaka ini yang melayani semua
kebutuhanKu. Apabila seseorang yang telah memperoleh pengalaman hidup
berkelompok, dan tidak cocok untuk hidup di dalam kelompoknya, kadang-kadang
lebih baik baginya untuk hidup seorang diri."

Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu mengucapkan tiga syair :

"Apabila dalam pengembaraanmu
engkau dapat menemukan seorang sahabat
yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana,
maka hendaknya engkau berjalan bersamanya dengan senang hati
dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 9 )

"Apabila dalam pengembaraanmu
engkau tidak menemukan seorang sahabat
yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana
maka hendaknya engkau berjalan seorang diri,
seperti seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya,
atau seperti gajah yang mengembara seorang diri di dalam hutan."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 10 )

"Lebih baik mengembara seorang diri,
dan tidak bergaul dengan orang bodoh.
Pergiah seorang diri dan jangan berbuat jahat;
hiduplah dengan bebas (tidak banyak kebutuhan),
seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 11 )

Pada akhir syair ke tiga, ke lima ratus bhikkhu itu mencapai Tingkat Kesucian
Tertinggi menjadi Arahat.

Bhikkhu Ananda lalu menyampaikan pesan-pesan dari Jutawan Anathapindika, Ibu
Visakha dan umat-umat lainnya, dengan berkata :

"Yang Mulia, lima puluh juta umat Yang Mulia yang dipimpin oleh Anathapindika
mengharapkan Anda kembali."

"Baiklah," kata Sang Buddha, "Ambillah mangkuk dan jubah."

Bhikkhu Ananda serta para bhikkhu lainnya mengambil mangkuk dan jubah, lalu
pergi keluar. Gajah Parileyyaka pergi dan berdiri di tengah jalan.

"Yang Mulia, apa yang gajah itu perbuat?"

"O Para Bhikkhu, ia ingin berdana kepada kalian. Sudah cukup lama ia melayaniKu,
janganlah melukai hatinya. Kembalilah!", Sang Buddha beserta murid-muridNya
balik kembali.

Gajah itu lalu masuk ke dalam hutan, kembali dengan membawa pisang dan buah-
buahan lainnya, mempersembahkannya kepada para bhikkhu. Kelima ratus bhikkhu
itu tidak dapat menghabiskan buah-buahan yang dipersembah kan gajah itu.

Selesai makan, Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahNya. Beliau
melangkah keluar, diikuti oleh murid-muridNya. Gajah Parileyyaka lalu menyelinap di
antara para bhikkhu yang sedang berjalan, kemudian di depan Sang Buddha dan
para bhikkhu, ia berdiri menghalangi jalan.

"Yang Mulia, apa yang dilakukannya?"

"Para Bhikkhu, berjalanlah terus. Ia ingin Aku kembali."

Sang Buddha lalu berkata :

"Parileyyaka, Aku pergi sekarang, tidak akan kembali lagi. Kamu tidak da pat
mengharapkan pada kehidupanmu yang sekarang ini dapat memperoleh Pandangan
Terang, melaksanakan Jalan Tengah ataupun mencapai Tingkat Kesucian.
Berhentilah!"

Ketika gajah itu mendengar kata-kata Sang Buddha, ia memasukkan belalai ke
dalam mulutnya. Ia mundur perlahan-lahan dan menangis, sambil tetap mengikuti
Sang Buddha yang terus berjalan keluar hutan. (Dapatkah ia membuat Sang
Buddha kembali, sehingga ia dapat melayaninya sampai di akhir hidupnya?)

Ketika Sang Buddha telah sampai di tepi desa, Beliau berkata :

"Parileyyaka, kalau kamu mengikutiKu lebih jauh lagi, tidak aman untukmu sendiri,
kehidupan manusia amat berbahaya untukmu. Berhentilah!"

Gajah itu berhenti berjalan, ia menangis sambil memandangi kepergian Sang
Buddha. Ketika Sang Buddha hilang dari pandangannya, karena amat sedihnya,
iapun mati. Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya dengan melayani
Sang Buddha, ia terlahir kembali di Alam Surga, bernama Dewa Parileyyaka.

-oOo-

3 pengrtian kalung biksu?


"Disinilah saya tinggal, dikelilingi sekumpulan gajah, gajah-gajah betina ,anak-anak
gajah dan gajah-gajah muda. Mereka mengunyah-ngunyah ujung-ujung rumput yang
ingin saya makan, mereka memakan daun-daun dari ranting-ranting pohon yang
saya patahkan; mereka mengeruhkan air minum saya. Ketika saya masuk atau
keluar dari sungai, gajah-gajah betina menggosok-gosokkan badannya ke badan
saya. Karena itulah saya memisah kan diri dari kumpulan gajah-gajah dan lebih baik
hidup sendirian."

Oleh karena itu gajah yang baik hati ini memisahkan diri dari kumpulannya dan
berjalan mendekati Hutan Lindung. Gajah itu bernama Parileyyaka.

Di dalam Hutan Lindung, Sang Buddha sedang berdiam seorang diri, menarik gajah
itu untuk berjalan menuju pohon Sala, tempat Sang Buddha duduk.

Setibanya di hadapan Sang Buddha, gajah itu memberi hormat kepada Sang
Buddha. Ia melihat ke sekeliling, mencari sapu karena ia ingin membersih kan
tempat di sekitar Sang Buddha duduk. Karena tidak ada sapu, ia mematahkan
ranting pohon untuk dijadikan sapu dan membersihkan tempat itu. Kemudian ia
mengambil kendi air dengan belalainya dan menyiapkan air minum. Apabila
dibutuhkan air panas, ia akan menyiapkan air panas. (Bagaimana mungkin?).
Caranya, pertama-tama ia membuat percikan api dengan menggosok-gosokkan
kayu dengan belalainya, kemudian ia menaruh ranting-ranting pohon di atas
percikan api itu, sehingga ia mempu nyai api. Lalu ia memanaskan batu-batu kecil di
dalam api. Digelindingkan nya batu-batu kecil yang sudah panas itu dengan tongkat
ke dalam lekukan. Di atas lubang kecil di antara batu yang besar, ditaruhnya kendi
air. Dengan belalainya, ia memeriksa, apabila air sudah cukup panas, ia segera
menghadap kepada Sang Buddha. Sang Buddha lalu bertanya :

"Parileyyaka, apakah ini air panasmu?"

Kemudian Sang Buddha mandi dengan air panas yang dibuat si gajah. Kemudian
Gajah Parileyyaka mencari dan membawakan buah-buahan segar dan
mempersembahkannya kepada Sang Buddha.

Apabila Sang Buddha masuk ke desa untuk pindapatta, gajah itu akan
membawakan mangkuk dan jubah, yang ditaruh di atas kepalanya. Dan ia pun
mengiringiNya. Ketika Sang Buddha tiba di tepi desa, Beliau mengam bil mangkuk
dan jubahNya dengan berkata :

"Parileyyaka, lebih baik kamu jangan ikut. Berikanlah mangkuk dan jubahKu."

Sang Buddha memasuki desa, dan si gajah Parileyyaka tetap menunggu dengan
setia sampai Sang Buddha kembali. Ketika Sang Guru kembali, ia akan menyambut
dan membawakan mangkuk serta jubah seperti yang ia lakukan sebelumnya,
menaruhnya di tempat Sang Buddha duduk, memberi hormat dan mengipas-ngipas
dengan ranting pohon supaya Sang Guru merasa nyaman.

Jika malam tiba, untuk melindungi Sang Buddha dari binatang buas, ia akan
berjaga-jaga dengan belalainya yang besar, sambil berkata sendiri :

"Saya akan melindungi Sang Guru."

Ia lalu berjalan bolak balik sampai pagi hari. (Sejak saat itulah hutan itu disebut
"Hutan Lindung").

Pada pagi harinya, gajah itu lalu menyiapkan air untuk mencuci muka, sebelum ia
melaksanakan tugas-tugasnya yang lain.

Suatu ketika, seekor monyet melihat perbuatan yang dilakukan gajah Parileyyaka
setiap hari, melaksanakan tugasnya, melayani Sang Buddha. Ia lalu berkata sendiri
: "Saya juga ingin melakukan hal yang sama."

Pada suatu hari, ketika ia bergelayutan di antara pepohonan di hutan, ia melihat
sarang madu yang telah ditinggalkan oleh tawon-tawonnya. Ia mengambil sarang
madu itu dan menaruhnya di atas selembar daun dan dipersembahkannya ke
hadapan Sang Buddha. Sang Buddha mengambilnya.

Monyet itu memperhatikan, apakah Sang Guru makan sarang madu itu atau tidak. Ia
memandangi Sang Guru yang setelah mengambil sarang madu itu, lalu
meletakkannya kembali, sambil tetap berdiam diri.

"Apa yang terjadi?" pikir monyet itu.

Ia mengambil tongkat kecil, sarang madu itu diambilnya dan diperhatikan dengan
seksama. Dengan membolak-balikkannya, ia memperhatikan kemba li dengan teliti.
Ternyata di dalam sarang madu banyak terdapat telur-telur serangga. Ia kemudian
mengeluarkan telur-telur itu dengan hati-hati sekali. Setelah benar-benar bersih,
dipersembahkannya kembali sarang madu itu kepada Sang Buddha. Maka, Sang
Buddha berkenan menyantap sarang madu itu.

Si monyet amat bahagia melihat Sang Buddha makan sarang madu yang
dipersembahkannya. Ia meloncat-loncat di antara cabang-cabang pohon, dan
menari-nari dengan gembira. Tiba-tiba cabang pohon yang dipegangnya itu patah,
sehingga ia jatuh dan tertimpa batang pohon itu. Ia pun mati.

Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya kepada Sang Buddha, ia
terlahir kembali di Alam Surga.

Di Kota Savatthi, Jutawan Anathapindika, Ibu Visakha, para pengikut setia Sang
Buddha dan orang-orang penting lainnya mengirimkan pesan kepada Bhikkhu
Ananda.

"Yang Mulia, kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru."

Lima ratus bhikkhu yang datang dari berbagai daerah datang menemui Bhikkhu
Ananda, yang ketika itu sedang musim hujan, mereka juga mengajukan permohonan
:

"Saudaraku Ananda, telah lama sekali kami mendengarkan Dhamma dari Sang
Guru sendiri. Sekarang kami ingin sekali bertemu dengan Sang Guru Agung kita,
untuk mendengarkan Ajaran dari Beliau sendiri."

Bhikkhu Ananda mengajak para bhikkhu itu bersama-sama menuju Hutan Lindung.
Ketika mereka telah mencapai tepi hutan, Bhikkhu Ananda berpikir : "Sang Guru
sedang hidup menyendiri selama tiga bulan ini. Jadi belum tentu tepat apabila saya
mengajak para bhikkhu ini untuk mengunjungiNya." Maka, Bhikkhu Ananda masuk
ke dalam Hutan Lindung itu seorang diri, meninggalkan kelima ratus bhikkhu itu di
tepi hutan dan menghadap Sang Buddha terlebih dahulu.

Gajah Parileyyaka melihat ada seorang bhikkhu datang menghampiri Sang Buddha.
Ia segera mengambil tongkat dan menyerbu ke Bhikkhu Ananda. Sang Buddha yang
melihatnya, berkata :

"Kembalilah Parileyyaka, jangan mengusirnya. Ia adalah murid seorang Buddha."

Gajah itu membuang tongkatnya dan memohon ijin untuk membawakan mangkuk
dan jubah Bhikkhu Ananda. Tetapi Bhikkhu Ananda menolaknya.

Gajah itu lalu berpikir : "Apabila ia betul-betul mengetahui sopan santun, ia tidak
akan menaruh segala keperluan miliknya di tempat Sang Guru duduk."

Bhikkhu Ananda lalu menaruh mangkuk dan jubahnya di tanah. (Untuk yang
mengetahui peraturan, seorang bhikkhu tidak diperkenankan menaruh keperluan-
keperluan miliknya sendiri di tempat duduk atau tempat tidur Gurunya). Setelah
memberi hormat, Bhikkhu Ananda duduk di salah satu sisi. Sang Buddha bertanya :

"Ananda, apakah kamu datang sendiri?"

Bhikkhu Ananda menjelaskan bahwa ia datang bersama lima ratus bhikkhu. Sang
Buddha bertanya :

"Di manakah mereka berada?"

"Di tepi hutan, Yang Mulia."

"Saya tidak mengerti bagaimana perasaanmu meninggalkan saudara-saudaramu di
tepi hutan dan datang seorang diri. Ajaklah mereka masuk."

Bhikkhu Ananda mentaati perintah Sang Buddha. Ia menjemput ke lima ratus
bhikkhu itu masuk ke dalam Hutan Lindung.

Sang Buddha menyambut ke lima ratus muridNya dengan gembira. Setelah
memberi hormat, para bhikkhu itu berkata :

"Yang Mulia, Yang Maha Sempurna adalah seorang Buddha yang penuh dengan
kelembutan dan penuh dengan cinta kasih. Amatlah sulit hidup di hutan ini seorang
diri selama tiga bulan. Lagipula tidak ada seorangpun yang melayani semua
kebutuhan Yang mulia. Tidak ada yang menyediakan air mandi atau menyediakan
kebutuhan-kebutuhan lainnya."

Sang Buddha menjawab :"Para bhikkhu, gajah Parileyyaka ini yang melayani semua
kebutuhanKu. Apabila seseorang yang telah memperoleh pengalaman hidup
berkelompok, dan tidak cocok untuk hidup di dalam kelompoknya, kadang-kadang
lebih baik baginya untuk hidup seorang diri."

Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu mengucapkan tiga syair :

"Apabila dalam pengembaraanmu
engkau dapat menemukan seorang sahabat
yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana,
maka hendaknya engkau berjalan bersamanya dengan senang hati
dan penuh kesadaran untuk mengatasi semua bahaya."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 9 )

"Apabila dalam pengembaraanmu
engkau tidak menemukan seorang sahabat
yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana
maka hendaknya engkau berjalan seorang diri,
seperti seorang raja yang meninggalkan negara yang telah dikalahkannya,
atau seperti gajah yang mengembara seorang diri di dalam hutan."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 10 )

"Lebih baik mengembara seorang diri,
dan tidak bergaul dengan orang bodoh.
Pergiah seorang diri dan jangan berbuat jahat;
hiduplah dengan bebas (tidak banyak kebutuhan),
seperti seekor gajah yang mengembara sendiri di dalam hutan."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 11 )

Pada akhir syair ke tiga, ke lima ratus bhikkhu itu mencapai Tingkat Kesucian
Tertinggi menjadi Arahat.

Bhikkhu Ananda lalu menyampaikan pesan-pesan dari Jutawan Anathapindika, Ibu
Visakha dan umat-umat lainnya, dengan berkata :

"Yang Mulia, lima puluh juta umat Yang Mulia yang dipimpin oleh Anathapindika
mengharapkan Anda kembali."

"Baiklah," kata Sang Buddha, "Ambillah mangkuk dan jubah."

Bhikkhu Ananda serta para bhikkhu lainnya mengambil mangkuk dan jubah, lalu
pergi keluar. Gajah Parileyyaka pergi dan berdiri di tengah jalan.

"Yang Mulia, apa yang gajah itu perbuat?"

"O Para Bhikkhu, ia ingin berdana kepada kalian. Sudah cukup lama ia melayaniKu,
janganlah melukai hatinya. Kembalilah!", Sang Buddha beserta murid-muridNya
balik kembali.

Gajah itu lalu masuk ke dalam hutan, kembali dengan membawa pisang dan buah-
buahan lainnya, mempersembahkannya kepada para bhikkhu. Kelima ratus bhikkhu
itu tidak dapat menghabiskan buah-buahan yang dipersembah kan gajah itu.

Selesai makan, Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahNya. Beliau
melangkah keluar, diikuti oleh murid-muridNya. Gajah Parileyyaka lalu menyelinap di
antara para bhikkhu yang sedang berjalan, kemudian di depan Sang Buddha dan
para bhikkhu, ia berdiri menghalangi jalan.

"Yang Mulia, apa yang dilakukannya?"

"Para Bhikkhu, berjalanlah terus. Ia ingin Aku kembali."

Sang Buddha lalu berkata :

"Parileyyaka, Aku pergi sekarang, tidak akan kembali lagi. Kamu tidak da pat
mengharapkan pada kehidupanmu yang sekarang ini dapat memperoleh Pandangan
Terang, melaksanakan Jalan Tengah ataupun mencapai Tingkat Kesucian.
Berhentilah!"

Ketika gajah itu mendengar kata-kata Sang Buddha, ia memasukkan belalai ke
dalam mulutnya. Ia mundur perlahan-lahan dan menangis, sambil tetap mengikuti
Sang Buddha yang terus berjalan keluar hutan. (Dapatkah ia membuat Sang
Buddha kembali, sehingga ia dapat melayaninya sampai di akhir hidupnya?)

Ketika Sang Buddha telah sampai di tepi desa, Beliau berkata :

"Parileyyaka, kalau kamu mengikutiKu lebih jauh lagi, tidak aman untukmu sendiri,
kehidupan manusia amat berbahaya untukmu. Berhentilah!"

Gajah itu berhenti berjalan, ia menangis sambil memandangi kepergian Sang
Buddha. Ketika Sang Buddha hilang dari pandangannya, karena amat sedihnya,
iapun mati. Tetapi karena perbuatan baik yang telah dilakukannya dengan melayani
Sang Buddha, ia terlahir kembali di Alam Surga, bernama Dewa Parileyyaka.

-oOo-

3}pengrtian kalung biksu?

Kalung model Biksu, panjang sekitar 80-cm, terbuat dari batu hias berwarna putih bening.
Masih dalam kondisi baik tidak ada batu yang pecah atau cuil. Garis tengah butir-butirnya
sekitar 8-mm.

kapan budha beribadah?
Ikuti Wikipedia bahasa Indonesia di Facebook, Twitter dan Instagram [tutup]
Agama Buddha
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk kegunaan lain dari Buddha, lihat Buddha (disambiguasi).
Bagian dari serial
Agama Buddha


Sejarah
Garis waktu
Dewan-dewan Buddhis

Konsep ajaran agama Buddha
Empat Kesunyataan Mulia
Delapan Jalan Utama
Pancasila Tuhan
Nirvana Tri Ratna

Ajaran inti
Tiga Corak Umum
Samsara Kelahiran kembali Sunyata
Paticcasamuppada Karma

Tokoh penting
Siddharta Gautama
Siswa utama Keluarga

Tingkat-tingkat Pencerahan
Buddha Bodhisattva
Empat Tingkat Pencerahan
Meditasi

Wilayah agama Buddha
Asia Tenggara Asia Timur
Tibet India dan Asia Tengah
Indonesia Barat

Sekte-sekte agama Buddha
Theravada Mahayana
Vajrayana Sekte Awal

Kitab Suci
Sutta Vinaya Abdhidahamma


Agama Buddha adalah sebuah agama dan filsafat yang berasal dari anak benua India dan
meliputi beragam tradisi kepercayaan, dan praktik yang sebagian besar berdasarkan pada
ajaran yang dikaitkan dengan Siddhartha Gautama, yang secara umum dikenal sebagai Sang
Buddha (berarti yang telah sadar dalam bahasa Sanskerta dan Pali). Sang Buddha hidup
dan mengajar di bagian timur anak benua India dalam beberapa waktu antara abad ke-6
sampai ke-4 SEU (Sebelum Era Umum). Beliau dikenal oleh para umat Buddha sebagai
seorang guru yang telah sadar atau tercerahkan yang membagikan wawasan-Nya untuk
membantu makhluk hidup mengakhiri ketidaktahuan/kebodohan (avidy), kehausan/napsu
rendah (tah), dan penderitaan (dukkha), dengan menyadari sebab musabab saling
bergantungan dan sunyatam dan mencapai Nirvana (Pali: Nibbana).
Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena dalamnya
tercatat sabda dan ajaran Buddha Gautama. Pengikut-pengikutnya kemudian mencatat dan
mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piaka (kotbah-kotbah Sang Buddha),
Vinaya Piaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piaka (ajaran
hukum metafisika dan psikologi).
Daftar isi
1 Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme
2 Moral dalam Buddhisme
3 Aliran Buddha
o 3.1 Buddha Mahayana
o 3.2 Buddha Theravada
3.2.1 Gramatika
3.2.2 Sejarah
3.2.3 Kitab suci Buddhisme
4 Ajaran Buddhisme
o 4.1 Empat Kebenaran Mulia
o 4.2 Jalan Mulia Berunsur Delapan
5 Hari Raya
o 5.1 Waisak
o 5.2 Kathina
o 5.3 Asadha
o 5.4 Magha Puja
6 Penyebaran di Asia dan Indonesia
o 6.1 Penyebaran di India dan Asia Tengah
o 6.2 Penyebaran di Asia Timur
o 6.3 Penyebaran di Asia Tenggara
o 6.4 Penyebaran di Nusantara
6.4.1 Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha
6.4.2 Candi-Candi Peninggalan Kerajaan Buddha di Nusantara
7 Lihat pula
8 Pranala luar
9 Rujukan
Konsep Ketuhanan dalam Buddhisme
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Tuhan dalam agama Buddha
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha
berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan
dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.

Ketahuilah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak
Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang
Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak
akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan
dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak
Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari
kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana
VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha.
Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang
Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak
Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang
tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan
dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi
(asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari
lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep
Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini
oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini,
sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut
agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat
Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama
dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka,
maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama
lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang
berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang
alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat
dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara
samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami
proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada
pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah
kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi
makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat
kebenaran & realitas sebenar-benarnya.

Moral dalam Buddhisme
Sebagai mana agama Kristen, Islam, dan Hindu ajaran Buddha juga menjunjung tinggi nilai-
nilai kemoralan. Nilai-nilai kemoralan yang diharuskan untuk umat awam umat Buddha
biasanya dikenal dengan Pancasila. Kelima nilai-nilai kemoralan untuk umat awam adalah:
Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Kamesu Micchacara Veramani Sikhapadam
Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Surameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Yang artinya:
Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak
diberikan.
Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila
Aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta
Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat
menyebabkan lemahnya kesadaran
Selain nilai-nilai moral di atas, agama Buddha juga amat menjunjung tinggi karma sebagai
sesuatu yang berpegang pada prinsip sebab akibat. Kamma (bahasa Pali) atau Karma (bahasa
Sanskerta) berarti perbuatan atau aksi. Jadi ada aksi atau karma baik dan ada pula aksi atau
karma buruk. Saat ini, istilah karma sudah terasa umum digunakan, namun cenderung
diartikan secara keliru sebagai hukuman turunan/hukuman berat dan lain sebagainya. Guru
Buddha dalam Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63 menjelaskan secara jelas arti dari
kamma:
Para bhikkhu, cetana (kehendak)lah yang kunyatakan sebagai kamma. Setelah berkehendak,
orang melakukan suatu tindakan lewat tubuh, ucapan atau pikiran.
Jadi, kamma berarti semua jenis kehendak (cetana), perbuatan yang baik maupun buruk/jahat,
yang dilakukan oleh jasmani (kaya), perkataan (vaci) dan pikiran (mano), yang baik (kusala)
maupun yang jahat (akusala).
Kamma atau sering disebut sebagai Hukum Kamma merupakan salah satu hukum alam yang
berkerja berdasarkan prinsip sebab akibat. Selama suatu makhluk berkehendak, melakukan
kamma (perbuatan) sebagai sebab maka akan menimbulkan akibat atau hasil. Akibat atau
hasil yang ditimbulkan dari kamma disebut sebagai Kamma Vipaka.
Aliran Buddha
Ada beberapa aliran dalam agama Buddha:
1. Buddha Theravada
2. Buddha Mahayana: Zen
3. Buddha Vajrayana
Buddha Mahayana
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Buddha Mahayana

Patung Buddha Tian Tan. Vihara Po Lin, pulau Lantau, Hong Kong
Sutra Teratai merupakan rujukan sampingan penganut Buddha aliran Mahayana. Tokoh
Kwan Im yang bermaksud "maha mendengar" atau nama Sansekertanya "Avalokitevara"
merupakan tokoh Mahayana dan dipercayai telah menitis beberapa kali dalam alam manusia
untuk memimpin umat manusia ke jalan kebenaran. Dia diberikan sifat-sifat keibuan seperti
penyayang dan lemah lembut. Menurut sejarahnya Avalokitesvara adalah seorang lelaki
murid Buddha, akan tetapi setelah pengaruh Buddha masuk ke Tiongkok, profil ini perlahan-
lahan berubah menjadi sosok feminin dan dihubungkan dengan legenda yang ada di
Tiongkok sebagai seorang dewi.
Penyembahan kepada Amitabha Buddha (Amitayus) merupakan salah satu aliran utama
Buddha Mahayana. Surga Barat merupakan tempat tujuan umat Buddha aliran Sukhavati
selepas mereka meninggal dunia dengan berkat kebaktian mereka terhadap Buddha Amitabha
dimana mereka tidak perlu lagi mengalami proses reinkarnasi dan dari sana menolong semua
makhluk hidup yang masih menderita di bumi.
Mereka mempercayai mereka akan lahir semula di Sorga Barat untuk menunggu saat Buddha
Amitabha memberikan khotbah Dhamma dan Buddha Amitabha akan memimpin mereka ke
tahap mencapai 'Buddhi' (tahap kesempurnaan dimana kejahilan, kebencian dan ketamakan
tidak ada lagi). Ia merupakan pemahaman Buddha yang paling disukai oleh orang Tionghoa.
Seorang Buddha bukannya dewa atau makhluk suci yang memberikan kesejahteraan. Semua
Buddha adalah pemimpin segala kehidupan ke arah mencapai kebebasan daripada
kesengsaraan. Hasil amalan ajaran Buddha inilah yang akan membawa kesejahteraan kepada
pengamalnya.
Menurut Buddha Gautama , kenikmatan Kesadaran Nirwana yang dicapainya di bawah
pohon Bodhi, tersedia kepada semua makhluk apabila mereka dilahirkan sebagai manusia.
Menekankan konsep ini, aliran Buddha Mahayana khususnya merujuk kepada banyak
Buddha dan juga bodhisattva (makhluk yang tekad "committed" pada Kesadaran tetapi
menangguhkan Nirvana mereka agar dapat membantu orang lain pada jalan itu). Dalam
Tipitaka suci - intipati teks suci Buddha - tidak terbilang Buddha yang lalu dan hidup mereka
telah disebut "spoken of", termasuk Buddha yang akan datang, Buddha Maitreya .
Buddha Theravada
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Buddha Theravada
Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai
saat ini, dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara
(sebagian dari Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia
dan Thailand) dan juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.
Gramatika
Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera
berarti sesepuh khususnya sesepuh terdahulu , dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi
Theravada berarti Ajaran Para Sesepuh.
Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan
awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa,
sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan
wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa
Sanskerta: Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada
Sidang Agung Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada
yang berarti Ajaran Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of
Reason).
Sejarah
Sejarah Theravada tidak lepas dari sejarah Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha.
Setelah Sang Buddha parinibbana (543 SM), tiga bulan kemudian diadakan Sidang Agung
Sangha (Sangha Samaya).
Diadakan pada tahun 543 SM (3 bulan setelah bulan Mei), berlangsung selama 2 bulan
Dipimpin oleh Y.A. Maha Kassapa dan dihadiri oleh 500 orang Bhikkhu yang semuanya
Arahat. Sidang diadakan di Goa Satapani di kota Rajagaha. Sponsor sidang agung ini adalah
Raja Ajatasatu. Tujuan Sidang adalah menghimpun Ajaran Sang Buddha yang diajarkan
kepada orang yang berlainan, di tempat yang berlainan dan dalam waktu yang berlainan.
Mengulang Dhamma dan Vinaya agar Ajaran Sang Buddha tetap murni, kuat, melebihi
ajaran-ajaran lainnya. Y.A. Upali mengulang Vinaya dan Y.A. Ananda mengulang Dhamma.
Sidang Agung Sangha ke-2, pada tahun 443 SM , dimana awal Buddhisme mulai terbagi
menjadi 2. Di satu sisi kelompok yang ingin perubahan beberapa peraturan minor dalam
Vinaya, di sisi lain kelompok yang mempertahankan Vinaya apa adanya. Kelompok yang
ingin perubahan Vinaya memisahkan diri dan dikenal dengan Mahasanghika yang merupakan
cikal bakal Mahayana. Sedangkan yang mempertahankan Vinaya disebut Sthaviravada.
Sidang Agung Sangha ke-3 (313 SM), Sidang ini hanya diikuti oleh kelompok Sthaviravada.
Sidang ini memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya, dan Moggaliputta Tissa sebagai
pimpinan sidang menyelesaikan buku Kathavatthu yang berisi penyimpangan-penyimpangan
dari aliran lain. Saat itu pula Abhidhamma dimasukkan. Setelah itu ajaran-ajaran ini di tulis
dan disahkan oleh sidang. Kemudian Y.M. Mahinda (putra Raja Asoka) membawa Tipitaka
ini ke Sri Lanka tanpa ada yang hilang sampai sekarang dan menyebarkan Buddha Dhamma
di sana. Di sana ajaran ini dikenal sebagai Theravada.
Kitab suci Buddhisme
Kitab Suci yang dipergunakan dalam agama Buddha Theravada adalah Kitab Suci Tripitaka
yang dikenal sebagai Kanon Pali (Pali Canon). Kitab suci Agama Buddha yang paling tua,
yang diketahui hingga sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali/Magadhi Kuno, yang terbagi
dalam tiga kelompok besar (yang disebut sebagai "pitaka" atau "keranjang") yaitu: Vinaya
Pitaka, Sutta Piaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga kelompok tersebut,
maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).
Ajaran Buddhisme
Empat Kebenaran Mulia
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Empat Kebenaran Mulia
Ajaran dasar Buddhisme dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia, yang meliputi:
Dukkha Ariya Sacca (Kebenaran Arya tentang Dukkha),
Dukha ialah penderitaan. Dukha menjelaskan bahwa ada lima pelekatan kepada dunia yang
merupakan penderitaan. Kelima hal itu adalah kelahiran, umur tua, sakit, mati, disatukan
dengan yang tidak dikasihi, dan tidak mencapai yang diinginkan.
Dukkha Samudaya Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha),
Samudaya ialah sebab. Setiap penderitaan pasti memiliki sebab, contohnya: yang
menyebabkan orang dilahirkan kembali adalah adanya keinginan kepada hidup.
Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha),
Nirodha ialah pemadaman. Pemadaman kesengsaraan dapat dilakukan dengan menghapus
keinginan secara sempurna sehingga tidak ada lagi tempat untuk keinginan tersebut.
Dukkha Nirodha Ariya Sacca (Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya
Dukkha).
Marga ialah jalan kelepasan. Jalan kelepasan merupakan cara-cara yang harus ditempuh kalau
kita ingin lepas dari kesengsaraan. Delapan jalan kebenaran akan dibahas lebih mendalam
pada pokok pembahasan yang selanjutnya.
Inti ajaran Buddha menjelaskan bahwa hidup adalah untuk menderita. Jika di dunia ini tidak
ada penderitaan, maka Buddha pun tidak akan menjelma di dunia. Semua hal yang terjadi
pada manusia merupakan wujud dari penderitaan itu sendiri. Saat hidup, sakit, dipisahkan
dari yang dikasihi dan lain-lain, merupakan wujud penderitaan seperti yang sudah dijelaskan
diatas. Bahkan kesenangan yang dialami manusia, dianggap sebagai sumber penderitaan
karena tidak ada kesenangan yang kekal di dunia ini. Kesenangan atau kegirangan
bergantung kepada ikatannya dengan sumber kesenangannya itu, padahal sumber kesenangan
tadi berada di luar diri manusia. Sumber itu tidak mungkin dipengang atau diraba oleh
manusia, karena tidak ada sesuatu yang tetap berada. Semua penderitaan disebabkan karena
kehausan. Untuk menerangkan hal ini diajarkanlah yang disebut pratitya samutpada, artinya
pokok permulaan yang bergantungan. Setiap kejadian pasti memiliki keterkaitan dengan
pokok permulaan yang sebelumnya. Ada 12 pokok permulaan yang menjadi fokus pratitya
samutpada.
Jalan Mulia Berunsur Delapan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Jalan Mulia Berunsur Delapan
Agar terlepas dari penderitaan mereka mereka harus melalui Jalan Mulia Berunsur
Delapan, yaitu:
1. Pengertian Benar (Samm Ditthi) Pemahaman Benar adalah pengetahuan yang disertai
dengan penembusan terhadap
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppda
d. Hukum Kamma
2. Pikiran Benar (Samm Sankappa) Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari:
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avypda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihims-sankappa)
3. Ucapan Benar (Samm Vca) Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong
(musvd), memfitnah (pisunvc), berucap kasar/caci maki (pharusavc), dan
percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalp). Dapat
dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya
4. Perbuatan Benar (Samm Kammant) Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari
pembunuhan, pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan
(asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan
ketagihan dan melemahkan kesadaran.
5. Penghidupan Benar (Samm jiva) Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari
bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. "Terdapat
lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu:
a. makhluk hidup
b. senjata
c. daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup
d. minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan,
e. racun
Dan terdapat pula lima pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:
a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)
6. Usaha Benar (Samm Vyama) Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk
tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan
kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha
memajukan kebaikan yang telah ada.
7. Perhatian Benar (Samm Sati) Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk
tindakan, yaitu:
- perhatian penuh terhadap badan jasmani (kynupassan)
- perhatian penuh terhadap perasaan (vedannupassan)
- perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassan)
- perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassan)
Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassan Bhvan.
8. Konsentrasi Benar (Samm Samdhi) Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada
obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam.
Semadi itu sendiri terbagi menjadi 2 bagian yaitu persiapan atau upcara semadi dan
semadinya sendiri. Persiapan atau upacara semadi ini maksudnya kita harus merenungi
kehidupan dalam agamannya seperti 7 jalan kebenaran yang dibahas tadi dengan empat
bhawana,yaitu: metta (persahabatan yang universal), karuna (belas kasih yang universal),
mudita (kesenangan dalam keuntungan dan akan segala sesuatu), dan upakkha (tidak
tergerak oleh apa saja yang menguntungkan diri sendiri, teman, musuh dan sebagainya.
Sesudah merenungkan hal-hal tersebut barulah masuk kedalam semadi yang sebenarnya
dalam 4 tingkatan yaitu: mengerti lahir dan batinnya, mendapatkan damai batiniahnya,
menghilangkan kegirangannya sehingga menjadi orang yang tenang, sampai akhirnya sukha
dan dukha lenyap dari semuanya, dan rasa hatinya disudikan. Dengan demikianlah orang
sampai pada kelepasan dari penderitaan.
Secara umum sama dengan aliran agama Buddha lainnya, Theravada mengajarkan mengenai
pembebasan akan dukkha (penderitaan) yang ditempuh dengan menjalankan sila (kemoralan),
samadhi (konsentrasi) dan panna (kebijaksanaan).
Agama Buddha Theravada hanya mengakui Buddha Gautama sebagai Buddha sejarah yang
hidup pada masa sekarang. Meskipun demikian Theravada mengakui pernah ada dan akan
muncul Buddha-Buddha lainnya.
Dalam Theravada terdapat 2 jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai Pencerahan
Sempurna yaitu Jalan Arahat (Arahatship) dan Jalan Kebuddhaan (Buddhahood).
Hari Raya
Terdapat empat hari raya besar dalam Agama Buddha. Namun satu-satunya yang dikenal luas
masyarakat adalah Hari Raya Trisuci Waisak, sekaligus satu-satunya hari raya umat Buddha
yang dijadikan hari libur nasional Indonesia setiap tahunnya.
Waisak
Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu,
hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian
Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai
Nibbana/Nirwana. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha
Purnima di India, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak
di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada gilirannya juga terkait
dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta
Kathina
Hari raya Kathina merupakan upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani
Vassa. Jadi setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan
Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat
Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana
untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha.
Asadha
Kebaktian untuk memperingati Hari besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja. Hari
raya Asadha, diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati
peristiwa dimana Buddha membabarkan Dharma untuk pertama kalinya kepada 5 orang
pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, pada tahun 588 Sebelum Masehi. Kelima
pertapa tersebut adalah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan sesudah
mendengarkan khotbah Dharma, mereka mencapai arahat. Lima orang pertapa, bekas teman
berjuang Buddha dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan orang-orang yang
paling berbahagia, karena mereka mempunyai kesempatan mendengarkan Dhamma untuk
pertama kalinya. Selanjutnya, bersama dengan Panca Vagghiya Bhikkhu tersebut, Buddha
membentuk Arya Sangha Bhikkhu(Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang pertama (tahun
588 Sebelum Masehi ). Dengan terbentuknya Sangha, maka Tiratana (Triratna) menjadi
lengkap. Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha).
Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sangha.
Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada
Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana ( Trisarana ). Umat Buddha berlindung kepada
Buddha berarti umat Buddha memilih Buddha sebagai guru dan teladannya. Umat Buddha
berlindung kepada Dhamma berarti umat Buddha yakin bahwa Dhamma mengandung
kebenaran yang bila dilaksanakan akan mencapai akhir dari dukkha. Umat Buddha
berlindung kepada Sangha berarti umat Buddha yakin bahwa Sangha merupakan pewaris dan
pengamal Dhamma yang patut dihormati.
Khotbah pertama yang disampaikan oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan
nama Dhamma Cakka Pavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma.
Dalam Khotbah tersebut, Buddha mengajarkan mengenai Empat Kebenaran Mulia( Cattari
Ariya Saccani ) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.
Magha Puja
Hari Besar Magha Puja memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Agama
Buddha dan Etika Pokok para Bhikkhu. Sabda Sang Buddha di hadapan 1.250 Arahat yang
kesemuanya arahat tersebut ditasbihkan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu:Bhikkhu
yang ditasbihkan sendiri oleh sang Buddha), yang kehadirannya itu tanpa diundang dan tanpa
ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu, Sabda Sang Buddha bertempat di
Vihara Veluvana, Rajagaha. Tempat ibadah agama Buddha disebut Vihara.
Penyebaran di Asia dan Indonesia

Peta penyebaran ajaran Buddha
Agama Buddha mulai berkembang di India, yaitu tempat dimana Buddha Gautama
mengajarkan ajarannya. Setelah wafatnya Buddha Gautama, ajaran tersebut tidak lenyap
begitu saja, melainkan disebarkan oleh para pemuka agama sehingga bertahan sampai
sekarang di berbagai belahan dunia, khususnya di Asia.
Penyebaran di India dan Asia Tengah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di India dan Asia Tengah
Dimulai dari India, tempat dimana Buddha Gautama lahir dan wafat. 100 tahun setelah
Buddha mencapai Nirwana, ajaran Buddha Gautama mulai memudar sehingga para biksu
disana memutuskan untuk mulai melestarikannya agar tetap hidup. Hal pertama yang
dilakukan adalah dengan membuat Dharma atau pengajaran. Di India jugalah tempat dimana
mulai terbentuknya aliran Mahayana dan Theravada akibat perselisihan antara kelompok
biarawan dan para kaum tua.Theravada umumnya mengajarkan bahwa tujuan tertinggi adalah
menjadi arahat, sedangkan Mahayana mengajarkan bahwa tujuan yang paling berharga
adalah dengan mencapai Kebuddhaan. Selain melalui kaum biarawan,agama Buddha juga
disebarkan oleh raja-raja besar di India seperti Raja Ashoka. Ia mengajarkan kepada
rakyatnya untuk tidak berpikiran jahat seperti serakah dan mudah marah. Ia menanamkan
nilai-nilai moral, seperti menghargai kebenaran, cinta kasih dan amal. Ashoka juga mengirim
misionaris Buddha keberbagai negara tetangga, termasuk ke Sri Lanka dimana mereka
diterima baik sehingga Sri Lanka menjadi basis agama Buddha.
Penyebaran di Asia Timur
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di Asia Timur
Selama abad 3 SM, Raja Asoka mengirimkan misionaris ke barat laut India yaitu Pakistan
dan Afganistan. Misi ini mencapai sukses besar karena kawasan ini segera menjadi pusat
pembelajaran agama Buddha yang memiliki banyak biksu terkemuka dan sarjana. Ketika para
pedagang Asia Tengah datang ke wilayah ini untuk berdagang, mereka belajar tentang
Buddhisme dan menerimanya sebagai agama mereka. Dengan dukungan dari pedagang, biara
gua banyak didirikan di sepanjang rute perdagangan di seluruh Asia Tengah. Pada abad 2
SM, beberapa kota Asia Tengah seperti Khotan, telah menjadi pusat penting bagi Buddhisme.
Melalui Jalan Sutera inilah, pertama kalinya orang Tiongkok (sekarang Cina) mengenal
agama Buddha dari orang-orang di Asia Tengah yang sudah beragama Buddha. Bentuk awal
penyebaran agama Buddha di Cina adalah dengan adanya penerjemah yang bertugas
menerjemahkan teks penting mengenai ajaran Buddha dari bahasa India ke bahasa Cina kala
itu. Selain itu, juga lahirnya berbagai karya seni dan pahat dimana patung-patung Buddha
dibuat. Bentuk perkembangan lainnya adalah dengan dibangunnya sekolah ajaran Buddha di
Tiongkok yang mencakup seni, patung, arsitektur dan filsafat waktu itu. Ada pula biarawan
Tiongkok yang pergi ke Semenanjung Korea untuk memperkenalkan agama Buddha kepada
kerajaan-kerajaan yang ada di Korea pada waktu itu. Sehingga pada abad ke-6 dan abad ke-7,
agama Buddha telah berkembang di bawah kerajaan tersebut. Selain di Korea, Buddhisme
juga berkembang di kepulauan Jepang.
Penyebaran di Asia Tenggara
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di Asia Tenggara
Pada awal era masehi, orang-orang di berbagai belahan Asia Tenggara datang untuk
mengetahui ajaran Buddha sebagai hasil dari meningkatnya hubungan dengan para pedagang
India yang datang ke wilayah tersebut untuk berdagang. Pedagang ini tidak hanya berdagang
di Asia Tenggara, tetapi juga membawa agama mereka dan budaya dengan mereka. Di bawah
pengaruh mereka, orang-orang setempat mulai mengenal agama Buddha, tapi tetap
mempertahankan keyakinan lama dan adat istiadat mereka. Sejak masuk di semenanjung
Indocina (sekarang bagian Asia Tenggara), Buddhisme mulai masuk di Birma, Siam
(sekarang Thailand), Vietnam, semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) dan
kepulauan nusantara (sekarang Indonesia).
Penyebaran di Nusantara
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama Buddha di Indonesia

Candi Borobudur, monumen Dinasti Syailendra yang dibangun di Magelang, Jawa Tengah.
Pada akhir abad ke-5, seorang biksu Buddha dari India mendarat di sebuah kerajaan di Pulau
Jawa, tepatnya di Jawa Tengah sekarang. Pada akhir abad ke-7, I Tsing, seorang peziarah
Buddha dari Tiongkok, berkunjung ke Pulau Sumatera (kala itu disebut Swarnabhumi), yang
kala itu merupakan bagian dari kerajaan Sriwijaya. Ia menemukan bahwa Buddhisme
diterima secara luas oleh rakyat, dan ibukota Sriwijaya (sekarang Palembang), merupakan
pusat penting untuk pembelajaran Buddhisme (kala itu Buddha Vajrayana). I Tsing belajar di
Sriwijaya selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.
Pada pertengahan abad ke-8, Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan raja-raja Dinasti
Syailendra yang merupakan penganut Buddhisme. Mereka membangun berbagai monumen
Buddha di Jawa, yang paling terkenal yaitu Candi Borobudur. Monumen ini selesai di bagian
awal abad ke-9.
Di pertengahan abad ke-9, Sriwijaya berada di puncak kejayaan dalam kekayaan dan
kekuasaan. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya telah menguasai Pulau Sumatera, Pulau Jawa
dan Semenanjung Malaya.
Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha
Pada akhir abad ke-13 seiring berkembang pesatnya pengaruh Islam dari Timur Tengah,
kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri di Sumatera, dan agama Islam segera menyebar ke
Jawa dan Semenanjung Malaya lewat penaklukan dan penyebaran sistematis oleh
sekelompok ulama yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Akibatnya Buddhisme
mengalami penurunan popularitas dan pada akhir abad ke-15 Islam adalah agama yang
dominan di Nusantara dan Semenanjung Malaya. Buddhisme diperkenalkan kembali ke
Nusantara hanya pada abad ke-19, dengan kedatangan pedagang dan orang-orang Tionghoa,
Srilanka dan imigran Buddhis lainnya.
Candi-Candi Peninggalan Kerajaan Buddha di Nusantara
Informasi lebih lanjut: Candi
Candi-candi peninggalan agama Buddha di Nusantara kebanyakan terdapat di Jawa dan
Sumatera, antara lain:
Candi Batujaya, stupa bata di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Diduga mulai dibangun pada
abad ke-4 M, salah satu bangunan Buddha tertua di Nusantara.
Candi Kalasan atau Tarabhavanam, candi ini didirikan oleh Rakai Panangkaran pada tahun
778 M untuk memuja Dewi Tara. Candi ini terletak di Yogyakarta.
Candi Sari, biara bertingkat dua yang terkait dengan candi Kalasan.
Candi Sewu atau Prasada Vajrasana Manjusrigrha, candi ini terletak di utara dari Candi
Prambanan dan menurut Prasasti Manjusrigrha dibangun sekitar tahun 792 M, dan
dipersembahkan untuk memuliakan bodhisatwa Manjusri.
Candi Mendut, terletak pada satu garis lurus ke arah timur dari Candi Borobudur. Di
dalamnya terdapat tiga arca batu berukuran 3 meter yaitu Buddha Wairocana diapit
bodhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani.
Candi Pawon, candi ini juga terletak pada garis lurus arah timur antara Candi Borobudur dan
Candi Mendut.
Candi Borobudur, candi ini merupakan candi Buddha terbesar di dunia. Candi Borobudur
dibangun oleh raja-raja Wangsa Sailendra pada abad ke-9 M dan bangunan candi terdiri atas
sepuluh tingkat. Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Candi Plaosan, candi ini terdiri atas dua candi induk kembar, terletak di arah timur Candi
Sewu.
Candi Sojiwan, candi Buddha ini dikaitkan dengan tokoh Rakryan Sanjiwana atau Sri
Kahulunnan Pramodhawardhani. Pada bagian kakinya terukir kisah fabel Jataka.
Candi Banyunibo, candi Buddha terletak dekat kompleks purbakala Ratu Boko.
Candi Muaro Jambi, kelompok candi Buddha dari bata merah ini terletak di tepi utara sungai
Batanghari dekat muara, Kabupaten Muaro Jambi, terkait dengan Kerajaan Malayu di Jambi.
Candi Muara Takus, candi ini terletak di Kabupaten Kampar, Riau.
Candi Bahal di dekat Padangsidempuan, Sumatera Utara merupakan bangunan bercorak
Buddha.
Candi Sumberawan, stupa ini terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, terkait kerajaan
Singhasari.
Candi Brahu, candi dari bahan bata merah di Situs Trowulan, Jawa Timur. Terkait kerajaan
Majapahit
Candi Jabung, candi Buddha berbahan bata merah ini juga terkait kerajaan Majapahit.
Terletak dekat Probolinggo, Jawa Timur


-oOo-