Anda di halaman 1dari 18

Bonus Bon Jofri Girsang : XII IPA 1

Brenda : XII IPA 2



Nisa Tamara Tarigan : XII IPA 1

Raja Ngatur Sitepu : XII IPA 2


Arti Kata Buddha

Secara etimologi, perkataan Buddha berasal dari Buddh yang berarti bangun atau bangkit,
dan dapat pula berarti pergi dari kalangan orang bawah atau awam. Kata kerjanya, bujjhati, antara
lain berarti bangun, mendapatkan pencerahan, mengetahui, mengenal atau mengerti. Dari arti-arti
etimologis tersebut, perkataanBuddha mengandung beberapa pengertian seperti: Orang yang telah
memperoleh kebijaksanaan sempurna; orang yang sadar secara spiritual; orang yang siap sedia
menyadarkan orang lain secara spiritual; orang yang bersih dari kotoran batin yang
berupa dosa (kebencian), lobha (serakah) dan moha (kegelapan)



PERJALANAN AGAMA BUDDHA
Pada abad sebelum Masehi, setelah Sang Buddha wafat, terdapat banyak perbedaan diantara para
bhiksu. Para bhiksu terpecah menjadi 2 golongan, antara golongan yang ingin tetap
mempertahankan ajaran buddha murni dan golongan yang ingin merubah ajaran buddha. Golongan
murni menamakan diri mereka sebagai Theravada dan kaum yang ingin mengadakan perubahan
menamakan diri mereka sebagai Mahasangika atau lebih terkenal dengan aliran Mahayana.
Agama buddha berkembang pesat pada masa Raja Asoka, dan mulai banyak dibangun tugu
piyadasi atau tugu perikemanusiaan. Dalam pasamuan ketiga tersusun kitab Abdhidharma Pitaka
yang merupakan bagian dari Tripitaka. Pada masa itu pula, penyebaran agama buddha
dikembangkan oleh Raja Asoka hingga Mesir, Yunani, dan Asia Tenggara. Sang Pangeran Mahinda
menyebarkan agama buddha ke Srilanka yang hingga saat ini menjadi pusat agama buddha.
Setelah Raja Asoka meninggal, aliran Theravada terpisah dengan aliran Mahayana.
Pada abad ke-7 M, agama buddha mengalami kemunduran karena serangan Bangsa Hun Putih dan
bangkitnya Hindhu Brahmana. Di Indonesia sendiri, agama budha sudah menyebar pada abad ke-5,
dan pada abad ke-7 Musafir ITsing mengabarkan terdapat kerajaan Sriwijaya yang menganut aliran
Theravada, sedangkan di Jawa berdirinya Candi Borobudur di masa Samaratungga menjadi tanda
bahwa aliran Mahayana lebih dominan di Jawa.



PENDIRI DAN PENYEBAR AGAMA BUDHA
Agama budha didirikan oleh putra mahkota Raja Sudhona dari Nepal yang bernama Sidharta. Saat
berumur 29 tahun ia memulai perjalanan sebagai pertapa. Awalnya ia berguru pada 2 orang
brahmana, akan tetapi ia tidak puas atas ilmunya sehingga ia memutuskan untuk bertapa, dan
akhirnya memperoleh 5 murid yang mengikuti jejaknya sebagai pertapa. Pada malam Waisak,ia
melakukan meditasi san mendapat 4 ilmu tinggi yaitu: Pubbenivasanussati, Dibacakkhu, Cuti
Upapana, Asvakkhyanana
Dengan pengetahuan tersebut ia mendapat penerangan yang disebut empat kasunyatan mulia
yaitu Penderitaan, Sumber Penderitaan, Lenyapnya Penderitaan dan Delapan Cara Lenyapnya
Penderitaan. Dengan pencapaian itu, Sidharta Gautama telah menjadi buddha pada usia 35 tahun.
Bhaluka dan Tapusa adalah pengikut pertamanya, setelah itu ia menyebarkan dharmanya pada
kelima bekas muridnya. Sejak peristiwa itu, Sidharta Gautama menyebarkan ajarannya ke seluruh
India yang dikenal dengan 4 Kebajikan-Kebenaran, bahwa:
a) Kehidupan Manusia pada dasarnya tidak bahagia
b) Sebab bahagia adalah karena terbelenggu nafsu
c) Hawa nafsu dapat ditiadakan dengan ajaran budha yaitunirwana
d) Menimbang, berpikir, berbuat, mencari nafkah, berusaha, mengingat serta meditasi yang
benar
Selama 45 tahun sang Budha menyebarkan ajarannya dan ia wafat pada usia 80 tahun di Kusiwara.


KITAB KITAB AGAMA BUDHA
Sumber utama ajaran-ajaran Budha ialah kitab Tripitaka (Tri : tiga, Pitaka : keranjang).
Sesungguhnya kitab ini berisi kumpulan ceramah, keterangan, perumpamaan dan percakapan Budha
dengan para murid dan pengikutnya. Jadi kitab Tripitaka itu bukan saja memuat perkataan budha
sendiri, melainkan juga memuat perkataan dan pendapat dari para muridnya. Oleh para muridnya
ajaran-ajaran keagamaan itu kemudian dipilah menjadi tiga kelompok utama yang disebut Vitaka
Pitaka , Sutra Pitaka , dan Abidharma Pitaka.

1. Kitab Vinaya Pitaka ( Peraturan atau tata tertib para bhikku )
Kitab ini berisi peraturan-peraturan bagi para bhikku dan bhikkhuni yang dibagi lagi dalam tiga kitab,
yaitu Sutra Vibanga , Khandaka , dan Paravira.
Sutra Vibanga. Kitab ini berisi peraturan-peraturan yang mencakup delapan jenis pelanggaran,
yang diantaranya ada empat jenis pelanggaran yang dapat berakibat seorang bhikku dan
bhikkuni dikeuarkan dari sangha.
Khandaka. Kitab ini berisi peraturan-peraturan dan uraian-uraian tentang upacara panahbisan
bhikkhu atau bhikkhuni. Anatara lain dikatakan tentang tata tertib penerimaan bhikkhu dan
lainnya serta pelanggaran-pelanggarannya. Dalam kitab ini diuraikan juga tentang pasamuan
agung pertama di Rajagraha dan pesamuan agung di Vesali.
Parivara. Kitab ini berisi ringkasan dan pengelompokan peraturan vinaya yang disusun dalam
bentuk tanya jawab untuk dipakai dalam pengajaran dan pelaksanaan ujian.
2. Sutta Pittaka ( Khotbah khotbah Sang Buddha )
Sutta Pitaka terdiri atas lima kumpulan (nikya) atau buku, yaitu :
Dgha Nikya. Merupakan buku pertama dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 34 Sutta panjang,
dan terbagi menjadi tiga vagga : Slakkhandhavagga, Mahvagga dan Ptikavagga. Beberapa
di antara sutta-sutta yang terkenal ialah : Brahmajla Sutta (yang memuat 62 macam
pandangan salah), Samannaphala Sutta (menguraikan buah kehidupan seorang petapa),
Siglovda Sutta (memuat patokan-patokan yang penting bagi kehidupan sehari-sehari umat
berumah tangga), Mahsatipatthna Sutta (memuat secara lengkap tuntunan untuk meditasi
Pandangan Terang, Vipassan), Mahparinibbna Sutta (kisah mengenai hari-hari terakhir
Sang Buddha Gotama).
Majjhima Nikya. Merupakan buku kedua dari Sutta Pitaka yang memuat kotbah-kotbah
menengah. Buku ini terdiri atas tiga bagian (pannsa); dua pannsa pertama terdiri atas 50
sutta dan pannsa terakhir terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah 152 sutta. Beberapa sutta
di antaranya ialah : Ratthapla Sutta, Vsettha Sutta, Angulimla Sutta, npnasati Sutta,
Kyagatasati Sutta dan sebagainya.
Anguttara Nikya. Merupakan buku ketiga dari Sutta Pitaka, yang terbagi atas sebelas nipta
(bagian) dan meliputi 9.557 sutta. Sutta-sutta disusun menurut urutan bernomor, untuk
memudahkan pengingatan.
Samyutta Nikya. Merupakan buku keempat dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 7.762 sutta. Buku
ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta.
Khuddaka Nikya, merupakan buku kelima dari Sutta Pitaka yang terdiri atas kumpulan lima
belas kitab, yaitu :
a) Khuddakaptha, berisi empat teks : Saranattya, Dasasikkhapda, Dvattimsakra,
Kumrapaha, dan lima sutta : Mangala, Ratana, Tirokudda, Nidhikanda dan Metta Sutta.
b) Dhammapada, terdiri atas 423 syair yang dibagi menjadi dua puluh enam vagga. Kitab ini
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
c) Udna, merupakan kumpulan delapan puluh sutta, yang terbagi menjadi delapan vagga.
Kitab ini memuat ucapan-ucapan Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai
kesempatan.
d) Itivuttaka, berisi 110 sutta, yang masing-masing dimulai dengan kata-kata : vuttam hetam
bhagav (demikianlah sabda Sang Bhagav).
e) Sutta Nipta, terdiri atas lima vagga : Uraga, Cla, Mah, Atthaka dan Pryana Vagga.
Empat vagga pertama terdiri atas 54 prosa berirama, sedang vagga kelima terdiri atas enam
belas sutta.
f) Vimnavatthu, menerangkan keagungan dari bermacam-macam alam deva, yang diperoleh
melalui perbuatan-perbuatan berjasa.
g) Petavatthu, merupakan kumpulan cerita mengenai orang-orang yang lahir di alam Peta
akibat dari perbuatan-perbuatan tidak baik.
h) Theragth, kumpulan syair-syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang
Buddha. Beberapa syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian yang
diucapkan oleh para Thera atas Pembebasan yang telah dicapai.
i) Therigth, buku yang serupa dengan Theragth yang merupakan kumpulan dari ucapan
para Theri semasa hidup Sang Buddha.
j) Jtaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu.
k) Niddesa, terbagi menjadi dua buku : Culla-Niddesa dan Mah-Niddesa. Culla-Niddesa berisi
komentar atas Khaggavisna Sutta yang terdapat dalam Pryana Vagga dari Sutta Nipta;
sedang Mah-Niddesa menguraikan enam belas sutta yang terdapat dalam Atthaka Vagga
dari Sutta Nipta.
l) Patisambhidmagga, berisi uraian skolastik tentang jalan untuk mencapai pengetahuan suci.
Buku ini terdiri atas tiga vagga : Mahvagga, Yuganaddhavagga dan Pavagga, tiap-tiap
vagga berisi sepuluh topik (kath).
m) Apadna, berisi riwayat hidup dari 547 bhikkhu, dan riwayat hidup dari 40 bhikkhuni, yang
semuanya hidup pada masa Sang Buddha.
n) Buddhavamsa, terdiri atas syair-syair yang menceritakan kehidupan dari dua puluh lima
Buddha, dan Buddha Gotama adalah yang paling akhir.
o) Cariypitaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang
terdahulu dalam bentuk syair, terutama menerangkan tentang 10 pram yang dijalankan
oleh Beliau sebelum mencapai Penerangan Sempurna, dan tiap-tiap cerita disebut Cariy.

3. Abhidamma Pitaka ( Ajaran metafisika dan psikologi )
Kitab Abhidhamma Pitaka berisi uraian filsafat Buddha Dhamma yang disusun secara analitis
dan mencakup berbagai bidang, seperti : ilmu jiwa, logika, etika dan metafisika. Kitab ini terdiri
atas tujuh buah buku (pakarana), yaitu :
Dhammasangani, terutama menguraikan etika dilihat dari sudut pandangan ilmu jiwa.
Vibhanga, menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode yang
berbeda. Buku ini terbagi menjadi delapan bab (vibhanga), dan masing-masing bab mempunyai
tiga bagian : Suttantabhajaniya, Abhidhannabhajaniya dan Pnnapucchaka atau daftar
pertanyaan-pertanyaan.
Dhatukatha, terutama membicarakan mengenai unsur-unsur batin. Buku ini terbagi menjadi
empat belas bagian.
Puggalapannatti, menguraikan mengenai jenis-jenis watak manusia (puggala), yang
dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu sampai dengan sepuluh, sepserti
sistim dalan Kitab Anguttara Nikya.
Kathavatthu, terdiri atas dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan-percakapan
(katha) dan sanggahan terhadap pandangan-pandangan salah yang dikemukakan oleh
berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika.
Yamaka, terbagi menjadi sepuluh bab (yang disebut Yamaka) : Mula, Khandha, Ayatana, Dhatu,
Sacca, Sankhara, Anusaya, Citta, Dhamma dan Indriya.
Patthana, menerangkan mengenai sebab-sebab yang berkenaan dengan dua puluh empat
Paccaya (hubungan-hubungan antara batin dan jasmani).
Gaya bahasa dalam Kitab Abhidhamma Pitaka bersifat sangat teknis dan analitis, berbeda
dengan gaya bahasa dalam Kitab Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka yang bersifat naratif,
sederhana dan mudah dimengerti oleh umum. Pada dewasa ini bagian dari Tipitaka yang telah
diterjemahkan dan dibukukan ke dalam bahasa Indonesia baru Kitab Dhammapada dan
beberapa Sutta dari Dgha Nikya.



AJARAN AGAMA BUDHA
Dari latar belakang sejarah bagaimana terjadinya sidharta gautama jadi budha, maka ajaran agama
budha tidak bertolak dari ajaran ketuhanan, melainkan berdasarkan kenyataan kenyataan hidup.
Pada umumnya ajaran agama budha berlandaskan atas lima pokok, yaitu :
Tri ratna (budha dharma sangha)
Catur arya satyani dan hasta arya marga
Hukum karma dan tumimbal lahir
Tilakhana yaitu tiga corak umum yang terdiri dari antya anatman dan dukkha
Hukum pratya samuppada yaitu hukum sebab akibat yg saling bertautan

1. Ajaran Ketuhanan Theravada
Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai saat ini,
dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari
Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan
juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.
Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti
sesepuh khususnya sesepuh terdahulu , dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi Theravada
berarti Ajaran Para Sesepuh.
Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan
awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa,
sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan
wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta:
Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung
Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran
Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).


2. Ajaran Ketuhanan Mahayana
Dalam pemahaman konsep Ketuhanan Mahayana, Tuhan dipahami melalui konsep Trikarya dan
Adi Budha. Sebagaimana dikemukakan tokoh utamanya Asvagosha dalam abad pertama masehi
bahwa ada hierarki antara para Budha dan Bodhisatwa. Hal mana dikarenakan pada mulanya
ada perbedaan pendapat sebagai berikut :
Staviravada, beranggapan bahwa para budha adalah manusia yang telah mencapai
pencerahan. Ajaran ini dianut Theravada.
Mahasanghika, beranggapan bahwa para budha adalah makhluk yang luar biasa.
Sarvastivada, beranggapan bahwa para budha adalah makhluk yang suci.
Karena terdapat perbedaan-perbedaan terutama ajaran sarastivada mengajukan konsepsi
trikarya yang dikembangkan lebih lanjut menjadi mahayana. Menurut mahayana budha gautama
perkembangan ajaran budha sendiri bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri, melainkan
mata rantai dari deretan para budha yang ada.
Namun antara budha yang satu dengan yang lain itu berbeda-beda, oleh karena budha itu
mempunyai tiga aspek :
Inti dari dharma itu sendiri yang tidak terbayangkan
Kemampuan yang tidak terbatas dan tidak bermaniffestasi sebagai tubuh pengganti
kebudhaan yang diagungkan
Bermanifestasi. Yakni kebudhaan yang berwujud duniawi sakyamuni budha dan budah
dunia yang lain.

1. Doktrin Trikarya. Berdasarkan tiga aspek tersebut maka muncul doktrin trikarya atau tiga
tubuh budha yang merupakan dharmakarya, sambhogakaya, nirmanakaya, yang
mempunyai arti penting dalam ajaran mahayana.
a) Dharmakaya. Budha digambatkan sebagai bentuk tubuh dengan pengetahuan
sempurna, yang merupakan permulaan dan tidak berbentuk dan yang benar-benar
bebas dari segala kekeliruan atau kegelapan. Jadi dharmakaya merupakan sumber
dharma atau sumber kesunyatan sebagai hakikat yang hakiki tanpa bentuk dan
warna. Namun ia berada dimana-mana dan dapat menciptakan dirinya sendiri dalam
segala bentuk. Dengan demikian dharmakaya dapat dipandang sebagai yang
mutlak atau Tuhan. Maka dalam aliran tanrayana, dharmakaya itu sembah sebagai
sang adi budha.
b) Sambogakhaya. Artinya adalah tubuh rahmat yakni suatu transedent dari budha
yang tidak dapat diteeliti dengan akal karena hanya dapat dirasakan melalui
kerohanian. Ia adalah manifestasi dari yang mutlak sebagai kenyataan yang lebih
tinggi dari kebendaan yang berfungsi sebagai pembantu kelepasan manusia dan
berkeduduknan sebagai :
- Guru-guru para bodhisatwa yang dari masa kemasa dikumpulkan untuk memberi
pengajaran dasar tentang samsara dan nirwana.
- Para penguasa surga yang merupakan idaman para penganut agama budha
sebgai tempat dilahirkan kembali.
- Bapak rohani dari para nirmanakaya yang karena kasih sayang kepada semua
yang ada diproyeksikan ke dunia melalui meditasi.
c) Nirmanakaya. Nirmanakaya merupakan wujud yang dimanifestasikan sebagai tubuh
yang digunakan budha untuk menyatakan diri di dunia dalam wujud tubuh manusia
untuk mengajar manusia. Sebagaimana manusia mengalami proses perubahan
tetapi mereka memiliki karakter dan kemampuan suprnatural. Mereka ini bertugas
mengajarkan dharma (kebenaran) yangtelah diformulasikan di dunia. Mereka adalah
penunjuk jalan kebebasan tanpa kekuasaan untuk mempersingkat jalan yang
ditempuh seseorang. Jadi nirmanakaya adalah budha dunia yang mengtajarkan
dharma dari masa kemasa, mereka ada lima orang yaitu konogamana, kakusandha,
kassapa, gautama dan maitreya.


2. Doktrin Adi Budha di Indonesia.
Sebagaimana dalam dharmakaya mengenai hakikat dan inti kenyataan dari agama tentang
budha yang primordial yang erat hubungannyadengan pengertian adi budha dan oleh aliran
tanrayana ia disembah sebagai Tuhan. Maka ia dikenalkan kembali pada taun 1964 oleh
bhikku ashin jinarakkhita di Indonesia. Hal ini telah dikuatkan oleh dirjen bimbingan
masayarakat hindhu dan budha departemen agama republik indonesia pada tahun 1973.
Sehingga para penganut budha mahayana di Indonesia menganggap sang hyang adi budha
sebagai Tuhan yang maha esa, yang juga disebut swaayambu lokananta (pelindung dunia)
yang berkedudukan di nirwana dan anista buwana yaitu alam diatas segala alam semesta.
Manifestasinya sebagai puncak catya (bagian puncak stupa). Pencitraan sang hyang abadi
hanya bisa diraih oleh mereka yang telah mencapai samayak sambodi, kesadaran tertinggi.
Diatas kelima dhayani budha yan memancarkan bodhisatwa dan manusia budha itu yang
tertinggi adalah adi budha atau Tuhan yang maha esa. Hubungan antara dhiyani budha,
bodhisatwa dan budha dunia itu erat sekali dan tidak terpisahkan satu sama lain. Menurut
kepercayaan mahayana ada lima djayani budha. Bodhisatva dan manusia budha dengan
masing-masing pengikutnya menempati salah satu penjuru dunia sesuai dengan arah mata
angin dan salah satu daripadanya berada dititik tengah atau pusatnya. Mereka bertugas dalam
salah satu masa yang terbagi lima masa dan untuk masa sekarang ini yang bertanggung jawab
adalah amita, bodhisatvabalokatisvara dan budha gautama.



3. Ajaran Tentang Alam.
Seluruh alamsemesta inimenurrut ajaran budha disebut sankatha dharma yaitu ciptaan yang
timbul dari seba-sebab yang terdahulu dan sifatnya tidak kekal (sankhara). Iadikatakan
sankhaeta dharma karena adanya tidak mutlak ia timbul berubah dan lenyap. Jadi alam
semesta ini selalu menjadi(lahir) dan berubah dari suatu keadaan menjadi keadaan yang
lainyanh berurutan. Dengan demikian sifat alam semesta itu anicca atau anitya selalu dukkha
(berubah) dan tidak sebagaimana atta atauatman (jiwa). Menurut ajaran agama budha, alam
(loka) itu dapat dibedakan dalam empat kelompok yaitu;sankharaloka, sattaloka, okasaloka, dan
Dharma.
Shankharaloka
Sattaloka, sattaloka terdiri atas :
- Kamaloka
- Rupaloka
- Arupaloka
Okasaloka. Alam ini adalah alam tempat dimana terdapat kehidupan makhluk:
- Alam bumi sebagai tempat kehidupan manusia dan benda-benda lain
- Alam dewa sebagai tempat kehidupan dewa
- Alam neraka sebagai tempat makhluk rendahyang menderita
Dharma yang mengatur alam. Hukum yang mengatur alam dapat dibedakan dalam lima
kelompok yaitu :
- Utuniyama
- Bijaniyama
- Karmaniyama
- Cittamiyama
- Dharmaniyama



4. Ajaran tentang manusia.
Oleh karena titik tolak ajaran budha bukan dari kenyakinan adanya Tuhan(yang mutlak), tetapi
pada kenyataan-kenyataan yang dihadapi manusia ssehari-hari, maka dalam ajaran agama ini
manusia mempunyai tempat khusus, karena manusia merupakan unsur yang dominan dalam
keseluruhan ajaran keagammannya. Sebagaimana yang diuraikan dalam trilakhana ada 3
corak yang umum dalam membicarakan tentang manusia, yaitu :
Catur arya satyani (4 kesunyatan)
Hukum karma (hukum sebab akibat)
Tumimbal lahir (kelahiran kembali)
Kemudian manusia dalam ajaran budha merupakan kesatuan kelompok energi fisik dan
mental yang terus bergerak yang disebut punchakhanda yang mempunyai beberapa
kegemaran, yaitu:
1) Rupakhanda. Kegemaran terhadap wujud/bentuk yang dapat diserap dan dibayangkan
dengan panca indra (didengar,dilihat,dirasa,dicium dan disentuh).
2) Wedana khanda. Kegemaran terhadap perasaan dalam hubungan panca indra dengan
dunia luar seperti timbulnya rasa senang,susah dsb.
3) Sannakhanda. Kegemaran penyerapan terhadap intensitaas indra dalam menanggapi
rangsanagn yang datang dari luar seperti bentuk suara, bau, cita rasa, sentuhan dan
pikiran.
4) Sankharakhanda. Kegemaran terhadap bentuk-bentuk pikiran yang sampai 50 macam
banyaknya yang timbul dari kegiatan mantal.
5) Vinnanakhanda. Kegemaran terhadap kesadaran, reaksi atau jawaban berdasarkan salah
satu dari keenam indra dengan objeknya.misal kesadaran mata (cakkhuvinana) adalah
untuk melihat benda-benda yang disadari baik, buruk atau netral.
Pancakhanda tersebut saling berkaitan satu sama lain. Kelimanya dapat diringkas menjadi
dua, yaitu nama dan rupa. Nama kumpulan dari perasaan, pikiran, penyerapan dan unsur
rohaniah. Sedangkan rupa adalah bersifat jasmaniah yang terdiri dari tanah, air api dan
udara/hawa. Jadi manusia itu merupakan kumpulan dari lima khanda tanda adanya atma
atau roh. Sebagaimana diajarkan dalam catur arya satyani hakikat dukkha ada 3:
Dukkha sebagai dukha-dukha. Yaitu penderitaan biasa yang dialami. Misal : peristiwa lahir,
usia tua, berpisah dari sesuatu yang dicintai dsb.
Dukkha sebagai viparmadukkha. Yaitu akibat terjadinya perubahan-perubaha(fisik, mental
dll).
Dukkha sebagai sankharadukkha. Yaitu akibat kebergantungan yang satu sama lain.


Ada 3 akar dari kejahatan (akusala): Lobha yaitu tamak, Moha yaitu kegelapan, Dosa yaitu
kebencian.
Terhentinya dukkha manusia yang disebut dukkha nirodha berarti nirwana. Jadi nirwana itu
berarti padamnya kehausan (tanhakaya), tidak saling bergantung (asankhata), hapusnya
keinginan (viroga), terhentinya dukkha(niroda). Dengan demikian, nirwana itu adalah akhir
dari proses yang terjadi dalam diri manusia, yang dapat dibedakan sebagai berikut:
Nirwana sama dengan dharmakaya yang berarti bersih dari kecemasan
Uphadhisesa nirwana yang berarti walaupun sudah bebas dari pengaruh rintangan namun
masih ada hambatan kebendaan
Anuphaadhiesa nirwana yang berarti kebebasan sempurna dari segala rintangan
Nirwana yaitu tingkat yang tertinggi yang berarti penyerahan mutlak yang mendatangkan
kebaikan terhadap orang lain


5. Ajaran menuju nirwana
Tujuan akhir umat budha dalam hidup dan sesudah mati adalah nirwana, untuk itu umat
budha harus memahami HASTA ARYA MARGA yaitu delapan jalur sikap dan perilaku
untuk membebaskan diri dari dukkha. Kasunyatan ini juga merupakan majjhima pattipada
yaitu jalan tengah diantara dua hal yang ekstrim yaitu:
Mencari kebahagiaan dengan mengikutihawa nafsu yang rendah.
Mencari kebahagiaan dengan menyiksa dir dalam berbagai cara.

Dari 8 jalur perilaku untuk mencapai nirwana tersebut dapat dibagi dalam 3 kelompok ajaran
yaitu :
Sila. Ialah ajaran kesusilaan yang didasarkan atas cinta dan welas kasih kepada semua
makhluk. Termsauk dalam sila ini ada 3 jalur:
- Sammavaca : berbicara benar
- Sammakamanta : berbuat yang benar
- Sammaajiva : bermatapencaharian yang benar
Tujuan ajaran ini adalah untuk mengembangkan perilaku yang seimbang dan bahagia
baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain disekitarnya.
Samadi. Ialah ajaran disiplin mental yang meliputi 3 unsur:
- Sammavayama:bedaya upaya benar
- Sammasati : menaruh perhatia yang benar
- Samma samadhi: berkonsentrasi yang benar
Panna. Ialah ajaran kebijaksanaan yang luhur yang terdiri dari dua unsur:
- Sammadithi :berpengertian yang benar
- Sammasankappa :berfikiran yang benar

Kedelapan perilaku utama yang terdir dari 8 unsur tersebut secara keseluruhan merupakan
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan harus dikembangkan bersama-sama yang
seimbang. Oleh karena sila adalah landasan semadi dan semadi adalah landasan
panna. Jika pana berkembang maka sila dan semadi akan menjadi lebih mantab, maka
jika panna sudah sempurna sila bukan lagi sebagai sikkha (latihan), melainkan akan
terwujud dengan wajarnya.
Dalam kehidupan umat budha sehari-hari kedelapan jalur tersebut adalah dasar dan
pedoman hidupnya yang dijabarkan dalam konsep pancasila, hasta sila dasasila dan
patrimokka sila.
1. Pancasila. Yaitu lima sila yang harus dipertahankan umat budha dalam kehidupan sehari-
hari:
a) Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami
b) Adinnadana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
c) Kamesu Micchacara Veramani Sikhapadam
d) Musavada Veramani Sikkhapadam Samadiyami
e) Surameraya Majjapamadatthana Veramani Sikkhapadam Samadiyami
Yang artinya:
a) Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.
b) Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian/mengambil barang yang tidak
diberikan.
c) Aku bertekad akan melatih diri menghindari melakukan perbuatan asusila
d) Aku bertekad akan melatih diri menghidari melakukan perkataan dusta
e) Aku bertekad akan melatih diri menghindari makanan atau minuman yang dapat
menyebabkan lemahnya kesadaran
2. Hasta sila. 8 janji para umat budha(orang awam) agar menjauhi perbuatan yang terlarang:
a. Tidak akan menganiaya/membunuh
b. Tidak akan mengambil / memiliki sesuatu yang bukan haknya
c. Tidak akan berzina
d. Tidak berdusta ,tidak menipu, tidak menfitnah dan menjauhi percakapan yang tidak
berguna
e. Menjauhi miras, makanan yang memabukkan / merusak kesadaran
f. Tidak akan makan setelah pukul 12
g. Tidak menari, menyanyi, main musik, melihat pertunjukkan , tidak memakai wewangian,
perhiasan dsb
h. Tidak akan memakai tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah
3. Dasasila. Yaitu 10 janji bagi para bhikkhu dan samnera, yaitu janji untuk tidak melakukan
perbuatan sebagaimana dalam hasta sila sampai nomor 6 diatas dan yang nomor 7
dipecah menjadi 2 sehingga menjadi:
a. Tidak akan menari, menyanyi, bermain musik danmelihat pertunjukkan hanya untuk
memuaskan indra saja
b. Tidak akan memakai wangian,bungaan, minyak rambut dan perhiasan bersolek
laninnya
c. Tidak akan memakai tempat dudk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah
d. Tidak akan menerima emas dan perak untuk dimiliki
4. Patimokha sila, yaitu sila utama dan paling tinggi bagi para bhikku dan bhikkhuni yang
telah menerima penahbisan(upasampada) berupa 227 peraturan dalam kehidupan sehari-
hari. Dengan berperilaku dalammelaksanankan hasta arya marga tersebut mak aumat
budha akan mencapai nirwana.



SANGHA DAN UPACARA
Agama Budha lebih mengutamakan penganutnya untuk berbuat (karma) membebaskan diri masing-
masing dari dukkha untuk mencapai nirwana. Umat Budha tidak memerlukan upacara persembahan
atau pemujaan kepada para Dewa (Tuhan) tetapi mereka cukup melakukan Hasta Arya Marga.
Dilihat dari segi kelembagaan umat Budha dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu:
1. Kelompok Sangha Atau Kelompok Wihara (Biara)
Kelompok Sangha terdiri dari para bhikkhu, bhikkhuni, samanera, dan samaneri. Mereka menjalani
kehidupan suci untuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan kesusilaan serta tidak
melaksanakan hidup berkeluarga. Yang dimaksud dengan Sangha menurut ajaran agama Budha
ialah Pasamuan dari makhluk-makhluk suci yang disebut Arya Punggala yaitu mereka yang
sudah mencapai buah kehidupan beragama yang ditandai dengan kesatuan pandangan yang
bersih dengan sila yang sempurna.
a. Tingkat kesucian yang mereka capai itu mulai dari:
Sotapatti
Tingkat pertama ini adalah di mana seseorang masih harus menjelma tujuh kali lagi sebelum
sampai nirwana. Pada tingkat ini seseorang masih harus berusaha mematahkan belenggu
kemayaan Akunya (Sakkayaditthi), keragu-raguan (vicikiccha), dan ketahayulan
(silabataparamasa) sebelum mereka dapat meningkat ke tingkat kedua yaitu Sakadagami.
Sakadagami
Tingkat kedua ini adalah di mana seseorang itu harus menjelma sekali lagi sebelum
mencapai nirwana. Ia harus dapat membangkitkan kundalini sebelum naik ke tingkat ketiga
Anagami
Anagami
Tingkat ketiga kesucian ini adalah dimana seseorang tidak perlu lagi menjelma untuk
mencapai nirwana, namun ia harus mematahkan belenggu kamaraga (kecintaan indrawi),
pategha (kemarahan atau kebencian).
Arahat
Tingkat keempat kesucian ini di mana seseorang itu harus mematahkan belenggu sebagai
berikut:
- Keinginan untuk hidup dalam ruparaga (bentuk)
- Keinginan untuk hidup arupara (tanpa bentuk)
- Kecongkakan (mano)
- Kegoncangan batin (udaccha)
- Kekurangan kebijaksanaan (avijja)
Selain empat tingkatan diatas menurut agama Budha masih ada tingkatan Asekha atau
orang yang sempurna (sabbanu) yang tidak perlu belajar lagi di bumi ini, di antaranya
Sidharta Gautama yang telah mencapai tingkat kebudhaan tanpa harus belajar atau berguru
kepada orang lain.

b. Kedudukan sangha
Sangha itu tidak berkewajiban apapun terhadap umat Budha yang sifatnya lahiriah. Namun
ada hubungan rohaniah di mana para anggota Sangha merupakan:
- Teladan cara hidup yang suci
- Menyampaikan dharma atas permintaan umat
- Membantu umat Budha dengan nasihat atau penerangan batin dalam suka dan duka.
Sebaliknya dari umat Budha lainnya para anggota Sangha patut menerima pemberian (ahu
neyyo), tempat berteduh (pahuneyyo), persembahan (dokkineyyo), penghormatan (anjali
karananiyo) dan sebagai tempat menanam jasa yang tidak ada taranya di dunia (anuttaram
panna khettam lokassaa)
Sangha tidak dapat dipisahkan dari dharma dan Budha, oleh karena ketiganya adalah
Triratna yang membentuk kesatuan tunggal dan merupakan manifestasi dari tiga asas dari
Yang Mutlak di dunia. Hubungan ketiga unsur itu adalah:
- Budha sebagai bulan purnama
- Dharma sebagai sinar yang menerangi dunia
- Sangha sebagai dunia yang bahagia menerima sinat itu.
c. Cara menjadi bhikkhu
Seseorang yang memasuki persaudaraan para bhikkhu atau bhikkhuni, untuk pertama
kalinya akan menerima jubah kuning. Ia tidak langsung diterima sepenuhnya sebagai bhikkhu
atau bikkhuni melainkan terlebih dahulu menjadi calon atau samanera dengan menepati
sepuluh janji (dasa sila), tekun mempelajari dharma, dan menggunakan waktu luangnya untuk
perenungan suci di bawah asuhan seorang bhikkhu atau bhikkhuni sebagai gurunya (acarya)
yang dipilihnya sendiri. Setelah selesai melakukan kesemuanya itu, barulah ia diterima
sepenuhnya menjadi bhikkhu dalam suatu upacara upasampada (penahbisan) yang dihadiri
para sesepuh atau para Thera. Jika ia wanita maka pentahbisannya dilakukan dua kali, pertama
oleh bhikkuni dan kemudian oleh bhikkhu sangha. Setelah itu barulah ia menjadi Bhikkhu atau
Bhikkhuni.
Sesudah menjadi Bhikkhu atau Bhikkhuni maka ia harus menjalani hidup bersih dan suci
sebagaimana ditentukan dalam Vinaya Pitaka yaitu melaksanakan 227 peraturan yang antara
lain:
- Peraturan tata tertib lahiriah
- Peraturan cara penggunaan pakaian, makanan dan kebutuhan hidup lainnya.
- Cara menanggulangi nafsu keinginan dan rangsangan batin
- Cara memperoleh pengetahuan batin yang luhur untuk penyempurnaan diri.
Selama masa lima tahun pertama sebagai Bhikkhu atau Bhikkhunu ia masih dalam ikatan
keguruan, setelah lebih dari 10 tahun ia sudah sebagai Thera.

2. Kelompok awam budha
Terdiri dari orang-orang yang telah mengakui Sang Budha sebagai pemimpin dan gurunya,
mengakui dan meyakini kebenaran ajaran Budha serta berusaha dengan sungguh melaksanakan
ajarannya. Mereka yang mengakui keagamaan Budha ini disebut Upasaka dan Upasaki.
Pengakuan terhadap agama Budha dinyatakan dengan niat dan tekad untuyk berlindung kepada
Budha, Dharma dan Sangha dengan mengucapkan Trisarana.
Dilihat dari tingkatan pemahaman seseorang terhadap ajaran Budha dan tanggung jawab
keagamaannya , maka kelompok masyarakat Budha awam ini dapat dibedakan sebagai berikut:
- Upasaka dan Upasaki yang benar-benar awam keagamaannya
- Yang disebut Bala Anupandita, Anu Pandita dan Pandita adalah mereka yang menjalankan
tugas sebagai penyebar dharma dan bergabung dalam organisasi umat Budha.
- Maha Upasaka, ialah para Pandita yang mengurus administrasi dan soal-soal teknis.
- Maha Pandita adalah para pandita yang mengurus khusus masalah keagamaan
- Anagarika adalah orang awam Budha yang diakui memilii pengetahuan dan kemampuan dalam
mengamalkan ajaran Budha Gautama.


Hari-Hari Raya dan Upacara Agama Budha
Hari-hari raya agama Budha adalah :
Hari Raya Waisak , hari raya ini jatuh pada bulan mei-juni, untuk memperingati tiga kejadian
penting yaitu :
Saat kelahiran Sidharta Gautama
Saat Sang Petapa Sidharta mencapai pencerahan
Saat Sang Budha Gautama wafat dan mencapai nirwana

Hari Raya Asadha, Hari raya Asadha, diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak (
sekitar bulan juli-agustus ), untuk memperingati hari ketika Sang Budha mengajar dharma
yang pertama kali kepada kelima muridnya yang disebut pemutaran roda dharma. Bagi para
Bhikku ini adalah hari dimulainya menetap disatu tempat tertentu selama tiga bulan selama
musim hujan.

Hari Raya Kathina, dirayakan tiga bulan setelah hari Asadha sebagai ungkapan rasa terima
kasih kepada para bhikku yang telah melaksanakan vassa. Dalam kesempatan tersebut,
selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok
para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama
Buddha.

Hari Raya Magha Puja, jatuh pada bulan purnama februari-maret untuk memperingati dua
kejadian penting, yaitu:
Berkumpulnya 1250 orang Arahat di wihara Veluvana dikota Rajagraha untuk menghormati
Sang Budha, setelah mereka kembali dari tugas menyebar dharma
Tahun terakhir kehidupan sang Budha sewaktu ia di Cetiya Pavala (Vesali) setelah
memberi khotbah Inddipadadarma kepada muridnya lalu membuat keputusan untuk
meninggalkan dunia tiga bulan kemudian.
Upacara penting agama Budha adalah :
a. Upacara perkawinan
Menurut keputusan Sangha Agung Indonesia di Lembah Cipandawa tahun 1978 dinyatakan
bahwa perkawinan sebaiknya dilaksanakan di Wihara atau Cetya, atau jika tidak ada
dihadapan altar suci Sang Budha atau Bodhisatva dengan terlebih dahulu Altar itu diresmikan
dengan memanjat Paritta-Paritta Vandana, Trisarana, Pancasila dan Puja. Kemudian yang
berhak untuk melaksanakan upacara perkawinan ialah Pandita agama Budha mulai dari
Upasaka Balu Anu Pandita, Upasaka Anu Pandita, Upasaka Pandita dan Maha Pandita.
b. Upacara kematian
Upacara dipimpin oleh seorang Pengacara atau Pemimpin Upacara dengan pelaksanaan
sebagai berikut :
Untuk pemberkahan jenazah disediakan satu gelas air putih bersih.
Pemimpin upacara membawa 2 atau 4 atau 6 batang dupa yang diikuti beberapa peserta
mengadakan prosesi mengelilingi jenazah hingga tiga kali.
Selesai prosesi baru dimulai membaca paritta-paritta dengan tenang dan tenteram, serta
selalu mengikuti pemimpin, jangan mendahului pemimpin upacara.


Beberapa Pertanyaan yang belum sempat / tidak dimengerti sebelumnya :
1. Mengapa pada agama Buddha tidak mengenal kasta ?
2. Mengapa Shidarta Gautama membuat agama Buddha ?
Pertanyaannya memang berbeda tetapi jawabannya sama
Sebelum agama buddha ada, agama yang pertama muncul adalah Hindu di India.
Selanjutnya dalam agama hindu dikenal sistem Kasta. Kasta tersebut yaitu :
1. Kasta Brahmana, orang yang mengabdikan dirinya dalam urusan bidang
spiritual ; sulinggih, pandita dan rohaniawan. Disandang oleh para Pribumi.
2. Kasta Ksatria, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan. Seseorang yang
menyandang gelar ini tidak memiliki harta pribadi semua harta milik negara.
3. Kasta Waisya, orang yang telah memiliki pekerjaan dan harta benda
sendiri petani, nelayan.
4. Kasta Sudra, pelayan bagi ketiga kasta di atasnya
Kemudian lama kelamaan muncul agama baru (buddha) yang dibawa oleh Sidharta
Gautama. Karena menyadari kekurangan agama sebelumnya, maka sistem kasta
dalam agama buddha ditiadakan, sehingga banyak penganut agama Hindu yg pindah
ke agama Buddha. Orang-orang menganggap jika menganut agama buddha, derajat
manusia sama di hadapan Tuhan. Tapi dalam perkembangan selanjutnya agama
buddha tdk di terima baik di India, oleh karena itu para biksu menyebarkan agama
buddha ke luar & jauh lebih berkembang di luar India yakni Asia Timur dan Indocina.
.
3. Apa arti biksuni ?
Seorang biksuni adalah sebutan bagi seorang perempuan yang ditahbiskan menjadi
anggota monastik dalam agama Buddha. Bila yang pria disebut biksu ( bhikkhu ),
maka yang wanita disebut biksuni (bhikkhuni). Perhimpunan keduanya membentuk
persaudaraan para biksu dan biksuni yang biasa disebut Sangha. Para biksu dan
biksuni hidup menjalani peraturan moral Buddhis yang ditetapkan sendiri oleh Buddha
Gautama. Peraturan ini disebut vinaya. Garis penahbisan biksuni yang sesungguhnya
masih bertahan sampai saat ini adalah yang berbasis Mahayana.