Anda di halaman 1dari 9

Model Pembelajaran Inkuiri (inquiry)

A. Pendekatan Inkuiri
Indrawati (1999;9) menyatakan bahwa suatu pembelajaran pada umumnya akan lebih
efektif bila diselenggarakan melalui model-model pembelajaran yang termasuk rumpun
pemrosesan informasi. Hal ini dikarenakan model-model pemrosesan informasi menekankan
pada bagaimana seseorang berpikir dan bagaimana dampaknya terhadap cara-cara mengolah
informasi. Pendekatan inkuiri merupakan pendekatan yang mendasarkan pada pemrosesan
informasi.
Menurut Ellis (dalam Frederick, 1991) pendekatan inkuiri didasarkan atas tiga
pengertian, yaitu siswa terlibat dalam kesempatan belajar dengan sederajat self-direction yang
tinggi; siswa dapat mengembangkan sikap yang baik terhadap belajar, siswa juga dapat menjaga
dan menggunakan informasi untuk waktu yang lama. Seif (1979) juga menambahkan bahwa
inkuiri mempunyai 4 ciri penting, yaitu: pertama, inkuiri ini melibatkan pendekatan
pembelajaran untuk menanyakan dan terbuka untuk menerima gagasan dan pemikiran baru.
Kedua, seseorang yang berorientasi pada inkuiri adalah orang yang sangat penyabar. Ketiga,
inkuiri didasarkan atas asumsi kebebasan ide, sebuah asumsi bahwa individu diizinkan dan
diharapkan untuk melihat gagasan cemerlang (wonderful ideas). Keempat, inkuiri adalah
sebuah proses melibatkan pertumbuhan.
Seif (1979) mengartikan inkuiri sebagai berikut:
Inquiry means to know how to find out things and to know how to solve problems. To inquire
about something means to seek out information, to be curious, to ask questions, to investigate
and to know the skills that will help lead to a resolution of a problem. (inkuiri berarti mengetahui
bagaimana menemukan sesuatu dan bagaimana mengetahui cara untuk memecahkan masalah.
Menginkuiri tentang sesuatu berarti mencari informasi , memiliki rasa ingin tahu, menanyakan
pertanyaan, menyelidiki dan mengetahui keterampilan yang akan membantunya memecahkan
masalah)
Menurut Trianto (2007), kondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi
siswa adalah:
1) Aspek sosial dikelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi;
2) inkuiri berfokus pada hipotesis; dan
3) penggunaan fakta sebagai evidensi (informasi, fakta)
Selanjutnya, Triantono berpendapat bahwa untuk menciptakan kondisi umum agar timbul
kegiatan inkuiri bagi siswa, peranan guru sangat diperlukan dalam beberapa hal sebagai berikut;
(1) Motivator, memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berpikir.
(2) Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan.
(3) Penanya, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat.
(4) Administrator, bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegiatan kelas.
(5) Pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
(6) Manajer, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
(7) Rewarder, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.



B. Tujuan Utama Strategi Inkuiri
Tujuan utama pembelajaran yang berorientasi pada inkuiri adalah mengembangkan sikap dan
keterampilan siswa sehingga mereka dapat menjadi pemecah masalah yang mandiri (independent
problem solvers). Ini berarti bahwa siswa tersebut perlu mengembangkan pemikiran skeptic
tentang sesuatu hal dan peristiwa-peristiwa yang ada didunia ini (Jarolimek, 1977). Pendapat
yang lain datang dari Joice dan Weil (1980) yang mengatakan bahwa tujuan umum dari
pendekatan inkuiri adalah membantu siswa mengembangkan disiplin dan keterampilan
intelektual yang diperlukan untuk memunculkan masalah dan mencari jawabannya sendiri
melalui rasa keingintahuannya itu.
Berdasarkan dua pendapat tersebut, dapat disimpulkan tujuan pembelajaran inkuiri yaitu
membantu siswa mengembangkan disiplin dan keterampilan intelektual untuk memunculkan
masalah dan kemudian mengarahkan kepada pencarian jawaban masalah secara mandiri
(independent problem solvers).
C. Proses Inkuiri
Pada dasarnya proses inkuiri yang diusulkan oleh para ahli (dewey dalam maxim, 1983) hamper
sama satu dengan lainnya. Proses ini meliputi; 1) penerimaan dan pendefinisian masalah, 2)
pengembangan hipotesis, 3) pengumpulan data, 4) pengujian hipotesis dan 5) penarikan
kesimpulan.
1) Penerimaan dan pendefinisian masalah (perceiving and defining a problem).
Dewey menyatakan langkah awal ini adalah langkah terpenting. Inkuiri memungkinkan
guru memperolah keuntungan dari rasa keingintahuan alami siswa dan keinginannya
untuk , mencari penjelasan atas situasi yang membingungkan. Proses ini dimulai ketika
siswa menerima dan mengidentifikasi sebuah masalah yang membutuhkan penjelasan.
Semakin menarik situasi masalahnya, semakin merangsang siswa untuk menemukan
penjelasannya (Naylor dan Diem, 1987 dalam Ngalimun)
2) Pengembangan hipotesis
Setelah situasi yang membingungkan disajikan, siswa mulai mengembangkan hipotesis.
Sebuah brainstorming dalam kelompok besar adalah pendekatan yang paling umum
dipakai. Hipotesis yang potensial ditulis di papan tulis kemudian dianalisis dan
didiskusikan, penilaian (judgements) juga dibuat terhadap hipotesis mana yang
tampaknya perlu dipertimbangkan. Pengembangan hipotesis ini juga dapat terjadi dalam
kelompok skala kecil yang memberikan kesempatan yang lebih besar bagi siswa untuk
terlibat (idem)
3) Pengumpulan data
Setelah hipotesis ditetapkan, siswa mengumpulkan data untuk menguji hipotesis tersebut.
Pada tahap ini, guru membuat keputusan yang penting sejauh mana siswa-siswa tersebut
diharapkan menemukan data untuk dirinya (idem)
4) Pengujian hipotesis (hypotheses testing)
Setelah semua data dikumpulkan dan dicermati, tahap selanjutnya adalah membedakan
antara penjelasan-penjelasan yang menyesatkan dengan penjelasan yang memadai/cocok
(sufficient explanation).berdasarkan bukti-bukti yang telah mereka peroleh, siswa perlu
mengidentifikasi penjelasan atau kesimpulan yang dapat dipertahankan ( a defensible
conclusion or explanation). Disini siswa harus menggunakan keterampilan berpikir untuk
menganalisis, mensintesa, menolak hipotesis atau menerima hipotesis yang tampak
didukung oleh bukti-bukti kuat yang mereka cermati.
5) Penarikan Kesimpulan sementara
Proses inkuiri secara keseluruhan tidaklah dianggap lengkap jia siswa belum
menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi. Proses ini melibatkan siswa untuk
menarik suatu kesimpulan tentang proyek inkuirinya (Marsh 1994 dalam Ngalimun).

D. Keunggulan dan Kelemahan Inkuiri
Keunggulan dari model pembelajaran inkuiri menurut Marsh yang dikutip dari Ngalimun
(2012) sebagai berikut;
1. Ekonomis dalam menggunakan pengetahuan-hanya pengetahuan yang relevan dengan
sebuah isu yang diamati
2. Pendekatan ini memungkinkan siswa dapat memandang konten (isi) dalam sebuah cara
yang lebih realistik dan positif karena mereka dapat menganalisis dan menerapkan data
untuk pemecahan masalah.
3. Secara intrinsic pendekatan ini sangat memotivasi siswa.
4. Pendekatan ini juga memungkinkan hubungan guru dan siswa lebih hangat karena guru
lebih bertindak sebagai fasilitator pembelajaran.
5. Pendekatan ini memberikan nilai transfer yang unggul jika dibandingkan dengan metode-
metode lainnya.
Lebih lanjut, Marsh mengemukakan bahwa disamping memiliki keunggulan, inkuiri juga
memiliki kelemahan sebagai berikut;
1. Pendekatan ini memerlukan jumlah jam pelajaran kelas yang banyak dan juga waktu luar
kelas.
2. Pendekatan ini memerlukan proses mental yang berbeda, seperti perangkat analitik dan
kognitik.
3. Pendekatan ini dapat berbahaya bila dikaitkan dengan beberapa problem inkuiri terutama
isu-isu kontroversial.
4. Siswa lebih menyukai pendekatan bab per bab yang lebih tradisional
5. Pendekatan ini sulit untuk dievaluasi dengan menggunakan tes prestasi tradisional.
E. Contoh Penerapan Inkuiri pada mata pelajaran Bahasa Indonesia

Pendahuluan
1. Guru memberikan dua contoh paragraf. Siswa diminta mengamati dan memilih,
manakah dari kedua paragraf tersebut yang mudah dipahami dan kaya informasi.
2. Dari pilihan siswa, guru meminta siswa menjelaskan mengapa paragraf yang satu
mudah dipahami dan yang lain sulit dipahami dan tidak kaya informasi.
3. Dari tanya jawab itu, siswa diajak mengambil simpulan bahwa paragraph yang baik
(yang utuh, lengkap, dan koheren) adalah paragraf yang mudah dipahami dan kaya
informasi.
4. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dikuasai siswa, yaitu siswa dapat menulis
paragraf yang baik.
Kegiatan I nti
Tahap I (Menentukan Kalimat Topik dan
Kalimat Penjelas)
1. Siswa dibagi menjadi empat kelompok. Tiap kelompok mendapatkan 1 amplop berisi
kartu-kartu kalimat.
Contoh Kartu Kalimat
Bangsa Indonesia harus betul-betul menyadari bahwa potensi laut sangat
perlu dilestarikan.
Salah satu contoh kegiatan yang merugikan tersebut adalah pencurian ikan
dan pencemaran laut.
Kondisi laut Indonesia berbeda dengan Thailand.
Indonesia adalah negara bahari dan dijuluki sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia.
Total luas lautannya 5,8 juta--6 juta km persegi.
Dari jumlah kapal yang ada tersebut, hanya beberapa yang dioperasikan.
Contoh gamblang kerusakan laut adalah rusaknya terumbu karang kita.
Keberhasilan yang diraih itu berkat ketepatan kebijakan yang diambil
dalam bidang kelautan.
Kemiskinan merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan kita.
Penjagaan dan pelestarian laut merupakan hal yang sangat penting.
Perkembangan industri laut belum sesuai dengan perkembangan perilaku
para pelaku bisnis dan perilaku pasar.
Pada kenyataannya, kapal yang dioperasikan itu cuma setengahnya.

2. Setiap kelompok berdiksusi dan menentukan manakah dari kartu kalimat tersebut yang
berpotensi menjadi ide pokok dan manakah yang berpotensi menjadi ide penjelas.
3. Setiap kelompok memajang hasil diskusinya pada papan flanel yang telah disediakan
4. . IDE POKOK IDE PENJELAS
5. Setiap kelompok mengoreksi ketepatan hasil kerja kelompok lain. Setiap kelompok
memberikan alasan/penjelasan terkait dengan temuannya.
6. Guru memberikan penguatan terkait dengan temuan siswa.
7. Guru dan siswa menyimpulkan ciri kalimat topik dan kalimat penjelas.











Daftar Pustaka

Ngalimun, 2012. Strategi dan Model Pembelajaran, Aswaja Pressindo;Yogyakarta
Triantono, 2007, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, Prestasi
Pustaka; Jakarta
Triantono, 2009, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Kharisma Putra Utama;
Jakarta
Yamin, Martinis, 2012, Paradigma baru Pembelajaran, Referensi; Jakarta