Anda di halaman 1dari 8

BAHASA, DIALEK DAN VARIASI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu yang mempelajari hakikat dan ciri-ciri bahasa disebut linguistik. Yang dipelajari yaitu
unsur-unsur bahasa dan hubungan antar unsur-unsurnya. Jika yang dipelajari itu hanya unsur
bunyi dan hubungan bunyi yang satu dengan yang lain, maka lahirlah ilmu bunyi bahasa atau
fonologi; jika yang dipelajari hanya bentuk-bentuk kata dan hubungan antara bentuk-bentuk itu,
maka lahirlah ilmu bentuk kata atau morfologi; jika yang dipelajari hanya unsur penggabungan
kata maka lahirlah ilmu gabungan kata atau sintaksis. Baik fonologi, morfologi, sintaksis,
maupun yang lain hanyalah merupakan cabang dari linguistik, atau bagian dari linguistik. Sejak
tahun 1960-an, beberapa ahli bahasa sendiri tidak puas dengan mempelajari bahasa tetapi
lepas dari siapa yang menggunakan bahasa, kapan digunakan, kepada siapa seseorang
menggunakan bahasa itu. Padahal, bahasa digunakan untuk berhubungan (berkomunikasi). Inilah
penyebab lahirnya ilmu yang memperlajari bahasa, tetapi dilihat dari dimensi sosialnya,
misalnya, dilihat dari siapa yang mengucapkannya, di mana diucapkan untuk tujuan apa orang
itu mengucapkan, kepada siapa ditujukan. Ilmu baru ini disebut ilmu bahasa sosial
atau sosiolinguistik. Sosiolinguistik dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial lain, seperti ilmu
ekonomi, sosiologi, atau dengan linguistik sendiri, merupakan ilmu relatif baru. Ditinjau dari
nama, sosiolinguistik menyangkut sosiologi dan linguistik, karena itu sosiolinguistik mempunyai
kaitan erat dengan kedua kajian tersebut. Sosio adalah masyarakat dan linguistik adalah kajian
bahasa. Jadi sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi
kemasyarakatan (dipelajari oleh ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi).
Dalam Sosiolinguistik, dikenal beberapa istilah seperti bahasa (language), dialek (dialect)
dan variasi (varieties). Wardhaugh (2006) menyatakan bahwa bahasa (language) lahir dalam
banyak bentuk variasi (varieties) dan merupakan kumpulan bermacam-macam variasi (varieties)
tersebut. Variasi (varieties) tersebut menurut Hudson (1996 dalam Wardhaugh) dapat mencakup
lebih besar dari sebuah bahasa atau lebih kecil yang disebut dialek (dialect).


B. Tujuan
1. Menganalisis apa itu bahasa (language), dialek (dialect) dan variasi (varieties)


BAB II
PEMBAHASAN

A. Bahasa (language) dan Dialek (dialect)

Kebanyakan orang mengetahui dengan baik tentang bahasa yang mereka gunakan. Seperti
halnya orang China, Jepang dan Korea dimana masing-masing dari mereka berbahasa China,
Jepang dan Korea. Merupakan hal yang sangat mudah karena bahasa dan etnik kelihatannya
sama. Pengguna bahasa dapat dengan mudah menamai apapun bahasa yang mereka gunakan.
Pada kenyataanya, secara keilmuan menamai nama sebuah bahasa tidak hanya didasarkan pada
etnis atau kewilayahan saja. Petugas sensus India yang melakukan pendataan pengguna bahasa
menemukan beragam nama bahasa yang dinamai oleh penduduk India. Kenyataannya, nama
bahasa bukan hanya didasarkan pada kewilayahan saja seperti kasus China, Jepang dan Korea
diatas. Ada beberapa aspek lainnya seperti kasta, agama, desa dan lain-lain. Nama bahasa ini
akan terus berubah sebagai akibat perubahan suasana politik dan sosial sebuah negara
(Wardhaugh, 2006).

Menurut Wardhaugh, meskipun para penutur bahasa mengetahui tentang apa nama bahasa
yang mereka gunakan, mereka tidak selalu fasih menggunakan bahasa tersebut. Hal ini
merupakan hal yang sulit karena apakah yang mereka gunakan dapat disebut bahasa atau hanya
dialek dari bahasa. Hal tersebut bukanlah merupakan sesuatu yang baru. Orang China yang
menggunakan dialek Canton dan Mandarin menyatakan bahwa keduanya merupakan dialek
bahasa China. Ketika penutur dialek Canton berbicara kepada penutur dialek Mandarin, mereka
mengalami kesulitan memahami dialek masing-masing. Pada dasarnya mereka bukanlah
menggunakan dialek yang berbeda tetapi sangat jelas bahasa yang berbeda.pertanyaan yang
muncul kemudian adalah bagaimana membedakan bahasa dan dialek bahasa.

Kata bahasa berasal dari bahasa sansekerta bh. Lebih lanjut bahasa adalah sistem
lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya.
Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi
oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana
integrasi dan adaptasi. Ilmu yang mempelajari bahasa disebut linguistic. Dalam berbagai kamus
umum, linguistik didefinisikan sebagai ilmu bahasa atau studi ilmiah mengenai bahasa
(Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan
sebagai berikut:
The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax,
and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology,
psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural
linguistics.
Kata linguistik berasal dari bahasa latin lingua yang berarti bahasa. Dalam bahasa Inggris
linguistics sedangkan dalam bahasa jerman lingustique. Jadi linguistik adalah ilmu tentang
bahasa. Bahasa mencakup struktur tata bahasa dan pengucapan.
Menurut Nababan (1986) bahasa mempunyai dua aspek mendasar, yaitu aspek bentuk dan
aspek makna. Aspek bentuk berwujud bunyi dan tulisan, serta strukturnya. Aspek makna
berwujud makna leksikal, fungsional, dan struktural. Jika dicermati, meskipun tulisannya sama,
ucapannya dapat berbeda. Dalam bahasa Jawa ada kata wahing yang berarti bersin. Ucapan
kata itu akan berbeda jika pengucapnya dari daerah yang berbeda. Yang satu mengucapkan [w a
h I ],yang lain [w a I ]. Ada juga pemakaian kata yang berbeda untuk menyebut orang yang
melahirkan. Ada kata ibu, mami,mama, simbok, simak, simbil, biyung, dan seterusnya. Dahulu
dipakai kata kuli, kemudian dipakai kata buruh, berikutnya dipakai kata karyawan.
Dialek berasal dari bahasa Yunani: , dialektos), adalah varian dari sebuah
bahasa menurut pemakai. Berbeda dengan ragam bahasa yaitu varian dari sebuah bahasa
menurut pemakaian. Variasi ini berbeda satu sama lain, tetapi masih banyak menunjukkan
kemiripan sehingga belum dapat disebut bahasa yang berbeda. Biasanya pemerian dialek adalah
berdasarkan geografi, namun faktor sosial dapat dijadikan dasar dialek. Sebuah dialek dibedakan
berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan (fonologi, termasuk prosodi). Jika
pembedaannya hanya berdasarkan pengucapan, maka istilah yang tepat ialah aksen dan bukan
dialek. Dua orang dapat memiliki dan menggunakan dialek yang sama tetapi dengan aksen yang
berbeda. Berikut adalah beberapa dialek dari satu bahasa.
1. Dialek Jawa Surabaya dan Dialek Jawa Malang
- Dialek Jawa Surabaya matek (meninggal)
- Dialek Jawa Malang mati (meninggal)
2. Dialek bahasa Inggris Amerika dan Bahasa Inggris British
- Dialek Inggris Amerika = Soccer, biscuit, shop
- Dialek Inggris British = football, cookie, store
3. Dialek bahasa Jepang Kantou dan Dialek bahasa Kansai
- Dialek Kantou = acchi (panas), sammi (dingin)
- Dialek Kansai = atsui (panas), samui (dingin)
Dapat disimpulkan, dialek merupakan subordinat variasi dari sebuah bahasa. Dapat
dikatakan bahwa Texas English dan Swiss German merupakan dialek English dan German.
Nama bahasanya adalah English dan German yang berfungsi sebagai superordinat (Wardhaugh,
2006).

B. Variasi (varieties)
Setelah dipelajari, ditemukan adanya variasi dalam suatu bahasa, misalnya,
bentuk O , nggak, ndak, tak,tidak, yang semuanya dapat dipakai untuk menyatakan maksud
negatif, dan semuanya penting (Nababan, 1986). Variasi bahasa seperti ini terjadi karena
pemakai bahasa itu bermacam-macam dilihat dari, antara lain, usianya, asalnya, pendidikannya,
pekerjaannya, jenis kelaminnya, situasi ketika saling berkomunikasi. Semuanya ini tentu saja
penting diperhatikan dalam pengajaran bahasa karena yang belajar bahasa adalah mereka yang
berciri seperti itu (idem).

Idialok adalah sistem bahasa seseorang, misalnya, dalam kebiasaan
berbahasa seseorang menggunakan kata cuma pada setiap komunikasinya. Dapat juga idiolek
diartikan variasi bahasa pada diri seseorang. Variasi bahasa yang dimiliki sekelompok orang
disebut dialek. Ada yang disebut dialek geografi (sering hanya disebut dialek), ada dialek
sosial (sosiolek), ada dialek fungsional (fungsiolek), ada kronolek (dialek yang disebabkan
karena waktu). Secara sosiolinguistik, bahasa itu adalah dialek-dialek yang penutur-
penuturnya saling memahami maksud tuturan, atau saling mengerti maksud tuturan. Dalam
sosiolinguistik dipakai istilah ragam bahasa untuk dialek yang disebabkan oleh karena faktor-
faktor komunikasi (misalnya, faktor penutur, tempat bicara, tujuan bicara). Repertoar
bahasa adalah semua bahasa dan semua ragam bahasa yang diketahui dan dipakai seseorang. Ada
seseorang yang hanya mengetahui satu bahasa (bahasa pertama), dua bahasa (bahasa pertama
dan kedua), tiga bahasa (bahasa pertama, kedua dan bahasa asing). Masyarakat bahasa adalah
sekumpulan manusia yang menggunakan sistem isyarat bahasa yang sama

Ada empat jenis variasi (ragam) bahasa : (a) dialek, (b) sosiolek, (c) fungsiolek, dan (d)
kronolek (hlm.14)
a. Dialek adalah variasi bahasa karena berbeda asal daerah penuturnya. Contohnya:
ucapan [w a h I ] (Jawa Solo) dan [w a I ] (Jawa Yogyakarta).
b. Sosiolek adalah variasi bahasa karena status sosial penuturnya berbeda.
Contohnya: mama (status sosial tinggi) dan simbok (status sosial rendah).
c. Fungsiolek adalah variasi bahasa karena situasi berbahasa yang berbeda.
Contohnya: mengapa (formal), ngapa, ngapain, kenapa (tidak formal).
d. Kronolek adalah variasi bahasa karena perkembangan waktu.
Contohnya: kuli (penjajahan zaman Belanda), karyawan(zaman merdeka).
e. Masing-masing variasi atau ragam itu melahirkan ilmu (studi) yang berbeda. Yang
mempelajari dialek disebut dialektologiatau linguistik geografis. Yang mempelajari
sosiolek disebutsosiolinguistik atau sosiologi bahasa. Yang mempelajari fungsiolek
disebut pragmatik atau analisis wacana atauetnografi berbahasa. Yang mempelajari
bahasa-bahasa yang berbeda disebut linguistik historis atau linguistik
diakronis atau linguistik kontrastif.

Dari sudut bahasa, bentuk kata nggak sama artinya dengan tidak. Akan tetapi, dari
sudut pemakaiannya ada perbedaan penggunaan ;nggak digunakan dalam situasi tidak resmi,
dan tidak dalam situasi resmi.

Sosiolinguistik menyadarkan kepada pemakai bahasa bahwa dalam pemakaian bahasa
ada variasi bahasa, dan apa yang tidak baku ternyata tidak selalu salah. Kalimat Aku nggak
ngerti, tidak serta merta salah meskipun bentuk kata nggak dan ngerti keduanya bentuk yang
tidak baku. Sosiolinguistik juga menyadarkan kita bahwa terhadap suatu bahasa, seseorang ada
yang senang, ada pula yang tidak senang; ada yang sikap bahasanya positif, ada yang negatif.
Sikap atau perasaan ini mempengaruhi orang tersebut dalam mempelajari bahasa tersebut.

Lebih lanjut bahasa yang masih dipakai akan selalu berkembang. Perkembangan bahasa
dapat mengarah ke yang positif, tetapi juga dapat mengarah ke yang negatif. Oleh karena itu,
perlu ada perencanaan bahasa, ada pembinaan bahasa, ada pembakuan bahasa. Kesadaran ini
timbul dengan lahirnya sosiolinguistik.

Sosiolinguistik menyadarkan kepada kita bahwa untuk menjadi terampil berbahasa tidak
cukup hanya memiliki kemampuan tatabahasa.Seseorang perlu memiliki juga kemampuan
komunikatif. Kemampuan tata bahasa adalah kemampuan membentuk satuan-satuan bahasa
(kata, frasa, klausa, kalimat). Kemampuan komunikatif adalah
kemampuan memilih dan menggunakan satuan-satuan bahasa itu sesuai dengan konteks
komunikasi. Kesadaran inilah yang melahirkan pendekatan komunikatif (bukan pendekatan
linguistik) dalam pengajaran bahasa.

Dapat disimpulkan bahwa dalam bahasa ada variasi. Atau dalam bahasa ada ragam-ragam
bahasa. Sebelum lahirnya sosiolinguistik , makna kalimat Hari ini panas sekali ruangan
ini adalah pemberitahuan. Akan tetapi setelah sosiolinguistik lahir, maka kalimat itu
bermakna perintah membuka jendela manakala yang mengucapkan seorang guru , sedang
mengajar di kelas dan semua jendela tertutup. Harus disadari bahwa setiap bahasa mempunyai
banyak ragam yang dipakai dalam keadaan dan keperluan atau tujuan yang berbeda-beda
Ragam-ragam itu mewujud dalam ucapan, intonasi, bentuk kata, kata-kata, frasa, klausa, dan
kalimat. Salah satu aspek yang dipelajari dalam sosiolinguistik adalah tingkat formalitas
(keresmian) ketika berbahasa.




DAFTAR PUSTAKA

Anonym, (n.d), Bahasa, diunduh pada http://en.wikipedia.org/wiki/Bahasa
P.W.J. Nababan, 1986, Pengantar Sosiolinguistik, Gramedia, Jakarta
The New Oxford Dictionary of English, 2003, London
Wardhaugh, R, 2006, An Introduction to Sociolinguistik Wiley-Blackwell, Australia