Anda di halaman 1dari 32

CLINICAL PHARMACOKINETICS ON

OBESITY, PEDIATRIC AND GERIAERIC


PATIENTS
Kelompok 9
Titing Kasih 11 01 01 096
Vika Septideyani 11 01 01 097
Vinallia Variantiana 11 01 01 098
Widya Astuti D. 11 01 01 099
Yopi Andarista 11 01 01 100
S1 Reguler B
STIFI BHAKTI PERTIWI
PALEMBANG
ASPEK FARMAKOKINETIKA
Absorpsi
Distribusi
Metabolisme
Eksresi
ABSORPSI
Tingginya pH lambung
menyebabkan
jumlah obat yang
diabsorpsi
Suasana asam
(antibiotik -lactam)
penyerapan obat

Asam lemah
(fenobarbital,
fenitoin) ,
penyerapan obat
berkurang
Motilitas dan gerakan
peristaltik pada
saluran cerna
Perubahan motilitas
lambung-usus pada
usia dini
menyebabkan
perbedaan profil
absorpsi obat-obat
yang kelarutannya
dalam air terbatas
Mekanisme absorpsi
dengan difusi pasif
dan transpor aktif
Kecepatan abssorpsi obat
pada neonatus dan bayi
lebih lambat dibanding
dengan anak-anak,
sehingga waktu yang
diperlukan untuk mencapai
kadar obat puncak lebih
lama.
Pemberian absorpsi secara
perkutan lebih cepat pada
neonatus.
Misal: (diazapam, PCT) per
rektal sangat efektif untuk
bioavailabilitynya, langsung
masuk ke dalam aliran darah
melalui vena kava inferior.
Lukman Hakim. 79-81
DISTRIBUSI
Dipengaruhi
oleh
Volume
Distribusi
Sifat fisiko-
kimiawi obat
pH
Ikatan
protein
Faktor
hemodinamik
Lukman Hakim. 83
Lukman Hakim. 84
Vd besar sehingga obat akan
terdistribusi lebih luas ke
dalam jaringan.
Tetapi klirens total
(metabolisme sekresi) pada
neonatus / bayi belum
sempurna, maka nilainya
kecil dibanding orang
dewasa.
Akan berpengaruh
terjadinya kenaikan
intensitas efek dan durasi
obat pada neonatus, jika
dosis tidak dikurangi.
Tetapi, pada obat yang
memiliki nilai rasio hepatik
(Eh) tinggi seperti lidokain,
propanolol, morfin
pengaruh ikatan proteinnya
kecil karena metabolisme di
hati sudah efisien pada bayi
dan anak-anak.
Lukman Hakim. 86
METABOLISME
Sebelum obat termetabolisme di dalam sel-sel hati, ia
harus terikat dulu oleh protein akseptor sebelum dibawa
masuk ke dalam sel hati.

Protein akseptor mampu berkembang secara bertahap
sampai bayi berusia 10 hari.

Proses metabolisme melibatkan sistem enzim mixed-
function oxidase sitokrom P-450 (CYP)

Metabolisme bayi prematur lebih lambat dibanding bayi
normal
Lukman Hakim. 87-88
Jalur
metabolisme
terinduksi
Jalur
metabolisme
alternatif
Jalur
metabolisme
yang dilalui:
Fase I (oksidasi,
reduksi,
hidrolisis,
hidroksilasi)
Fase II
(glukoronidasi,
sulfasi, asetilasi,
metilasi).
Fase
metabolisme /
Proses
metabolisme:
Lukman Hakim. 87-88
EKSRESI
Fungsi ginjal (filtrasi glomeruli,
sekresi, reabsorpsi tubuli) masih
lemah pada neonatus, lebih efektif
pada bayi dan sudah mengalami
pendewasaan pada usia anak-
anak.
Pada umumnya klirens
renal obat-obat yang
paralel dengan kecepatan
filtrasi glomeruli (ex. Gol.
Aminoglikosida) akan
bertambah cepat sesuai
dengan perkembangan
ginjal karena usia
Ex: Tobramisin yang secara
ekslusif dieksresi melalui ginjal
(filtrasi glomeruli) waktu paronya
sangat panjang pada bayi
prematur, sehingga interval
pemberiannya juga panjang (36-
48 jam)
Pada bayi normal hanya dengan
interval 24 jam karena sistem
filtasinya sudah meningkat.
Lukman Hakim. 92-95
PENDOSISAN OBAT PADA BAYI DAN ANAK
Bayi dan anak
memiliki kebutuhan
dosis yang berbeda
daripada orang
dewasa. Karena
adanya perbedaan
dalam
farmakodinamika
dan farmakologi
obat tertentu pada
bayi.
Farmakokinetika dan
farmakodinamika
sebagian besar obat tidak
diketahui dengan baik
pada anak-anak dibawah
usia 12 tahun.
Perbedaan dalam
komposisi tubuh dan
kematangan fungsi hati
dan ginjal merupakan
sumber potensial
perbedaan
farmakokinetika
berkaitan dengan usia.
Shargel ed.V : 636
KLASIFIKASI USIA
Bayi baru lahir
prematur
Bayi baru lahir
(lahir sampai
28 hari)
Bayi (28 hari
sampai 23
bulan)
Anak muda (2
sampat 5
tahun)
Anak yang lebih
tua (6 sampai
11 tahun)
Remaja (12
sampai 18
tahun)
Orang dewasa
Shargel ed.V : 636
PENDOSISAN OBAT PADA BAYI
Untuk kenyamanan bayi disini
dipatokkan sebagai anak-anak usia
0-2 tahun.
Namun, dalam kelompok ini
pertimbangan khusus perlu untuk
bayi usia < 4 minggu (1 bulan)
karena kemampuan mereka untuk
menangani obat-obat sering
berbeda dari bayi yang lebih
matang.
Selain pendosisan,
pertimbangan bentuk sediaan
untuk pasien pediatrik juga
memungkinkan pendosisan
yang lebih akurat dan
kepatuhan pasien.
Misal:
Untuk Pendosisan yang akurat; dibuat
menjadi bentuk sediaan droplet yang
menggunakan penetes yang dikalibrasi /
sendok the praukur (5 mL).

Untuk kepatuhan pasien pediatrik;
diberikan perisa rasa buah
Shargel ed.V : 636
Fungsi hati pada bayi yang
maksimal terbentuk tidak
sampai minggu ketiga
kehidupan.
Aktivitas ginjal pada bayi
baru lahir hanya
menunjukkan 30-50%
aktivitas ginjal orang
dewasa atas dasar aktivitas
per unit BB.
Shargel ed.V : 639
TABEL WAKTU PARUH ELIMINASI OBAT
METODE PERHITUNGAN DOSIS
Metode yang digunakan di masa lalu yaitu
metode Clark & Young, yang merupakan
penyesuaian dosis dengan perkiraan kasar
yang hanya memperhitungkan usia dan
perubahan ukuran tubuh yang berkaitan
dengan pertumbuhan. Tetapi tidak
mempertimbangkan laju eliminasi
obatnya.
Metode yang lebih menguntungkan yaitu
didasarkan pada luas permukaan tubuh
dibanding dengan metode disamping.
Keuntungannya ialah terhindarnya bias
karena obesitas / BB yang tidak lazim,
karena tinggi dan BB pasien keduanya
dipertimbangkan.
Tetapi metode ini hanya memberikan suatu
estimasi kasar dari dosis yang tepat, karena
perbedaan farmakokinetika obat tidak
dipertimbangkan.
Shargel ed.V : 639
PERHITUNGAN DOSIS ANAK
Waktu paruh eliminasi penisilin G adalah 0,5 jam pada orang dewasa dan 3,2 jam pada
neonatus (usia 0 sampai 7 hari). Dengan asumsi bahwa dosis dewasa normal penisilin
G adalah 4 mg/kg setiap 4 jam, hitung dosis penisilin G untuk seorang bayi 11 pon.
USIA LANJUT
Hal yang dapat mempengaruhi kepatuhan dan
keamanan serta kemanjuran terapi obat, yaitu:
Fungsi fisiologis dan
kognitif yang
berbah akibat
proses penuaan
(mengalami
penurunan)
Jadwal pendosisan
obat yang rumit
Tingginya biaya
terapi
Shargel ed.V : 638
Aspek
Farmakodinamika
Kuantitatif: Jumlah reseptor
obat dapat menurun dengan
usia
Kualitatif: Perubahan afinitas
untuk obat
Aspek
Farmakokinetika
Kenaikan reaksi obat yang
merugikan tergantung usia
karena perubahan fisiologis
dalam absorpsi, distribusi dan
elimasi obat (termasuk eksresi
ginjal dan eliminasi hepatik)
Shargel ed.V : 639
ASPEK FARMAKOKINETIKA
ABSORPSI
DISTRIBUSI
EKSRESI
METABOLISME
ABSORPSI
Cakupan
Absorpsi
Obat
Suatu penurunan
aliran darah
splanknik
Perubahan
motilitas
saluran cerna
Peningkatan
pH lambung
Perubahan
absorpsi
saluran cerna
Kejadian aklorhidria
pada usia lanjut
dapat memberikan
efek pada disolusi /
pelarutan tertentu.
Misal: basa lemah
dan bentuk sediaan
tertentu yang
membutuhkan suatu
lingkaran asam
untuk disintegrasi
dan pelepasan.
Shargel ed.V : 639
DISTRIBUSI
Ikatan protein obat
dalam plasma dapat
menurun sebagai suatu
akibat dari penurunan
konsentrasi albumin
Volume distribusi dapat
berubah karena penurunan
massa otot dan peningkatan
lemak tubuh
Shargel ed.V : 639
METABOLISME
Aktivitas enzim yang
bertanggungjawab
untuk
biotransformasi
obat dapat
menurun dengan
usia yang
mengakibatkan ke
penurunan klirens
hepatik obat.
EKSRESI
Melewati ginjal yang
pada umumnya
menurun dengan
usia sebagai
dampak dari
penurunan laju
filtrasi glomerular
dan / atau sekresi
tubular aktif.
Shargel ed.V : 639
OBESITAS
Aspek Farmakokinetika

Absorpsi
Distribusi
Metabolisme
Eksresi

ABSORPSI
Pengaruh obat terhadap bioavailability obat:
Midazolam dan Propanolol
Dimana keduanya memiliki rasio ekstraksi hepatik (Eh)
tinggi.
Dexfenfluramin
Tidak memiliki perbedaan antara subjek kegemukan
dengan BB normal.
Siklosporin
Pada penerima cangkok ginjal, tidak berbeda antara pasien
obesitas dan normal.

Lukman Hakim. 169-170
DISTRIBUSI
Kecepatan dan luas distribusi obat tergantung pada
berbagai faktor obat dan fisiologik. Pada pasien
obesitas terjadi kenaikan curah jantung, volume
darah, berat organ, berat tubuh langsing dan kenaikan
jaringan adipose.
Distribusi obat yang larut lemak (lipofilik) umumnya
meningkat karena kenaikan BB total, sehingga
mempengaruhi besar loading dose, interval
pemberian obat, waktu paruh eliminasi dan waktu
yang diperlukan untuk mencapai kadar tunak di dalam
darah.
Lukman Hakim. 170
Lukman Hakim. 171
PENJELASAN TABEL
Antibiotik aminoglikosida, digoksin,
prokainamid bersifat hidrofilik jadi tidak
mengalami perubahan karena lebih rendah
kadar air pada obesitas jika dibandingkan
dengan BB normal.
Sedangkan lipofilik pada diazepam, fentanil,
kafein dan tiofental lebih besar (meningkat)
pada obesitas.
Lukman Hakim. 170-171
METABOLISME
Lukman Hakim. 175
EKSRESI
Menurut tabel diatas, juga mempercepat filtrasi
glomeruli (GFR) dan sekresi obat melalui tubuli ginjal.
Namun, mengurangi reabsorpsi tubuli ginjal, maka
akan terjadi kenaikan klirens ginjal.
Jika eliminasi obat dari tubuh sebagian besar
melalui ginjal dan sedikit dimetabolisme maka
kenaikan klirens ginjal dapat diartikan sebagai
kenaikan kliirens total obat dari tubuh.
Lukman Hakim. 177
PENYESUAIAN DOSIS
Seorang pasien dianggap obesitas jika BB aktual melebihi
20% BB ideal. BB ideal didasarkan dari BB dan tinggi rata-rata
untuk laki-laki dan wanita dengan mempertimbangkan usia.
Obesitas sering dkaitkan dengan indeks masa tubuh (body
mass index / BMI). BMI merupakan suatu nilai yang
menormalisasikan BB berdasarkan tinggi badan:
Rumus












Continue
Adanya pertimbangan perhitungan
kenaikan klirens untuk mengimbanginya
maka dosis obat perlu dinaikkan. Ada 3
parameter penting dalam pendosisan:
Waktu paruh eliminasi
Vd
Klirens pada obesitas
Lukman Hakim. 180
REFERENSI
Shargel, Leon. Ed.V. 2012. Biofarmasetika dan
Farmakokinetika Terapan. Airlangga University Press
Hakim, Lukman. 2011. Farmakokinetika Klinik. Jogjakarta:
Bursa Ilmu