Anda di halaman 1dari 25

Nur Amirah Tri Jayanti

111.0211.117


Penyakit infeksi akut yang terjadi secara lokalpada
mukosa sal pernafasan atau kulit, yang disebabkan
oleh basil gram positif Corynebacterium diphtheriae,
yang ditandai oleh terbentuknya eksudat yg
membentuk membran pada tempat infeksi.
ILMU PENYAKIT DALAM 2
Definisi

Etiologi
Corynebacterium
diphtheriae
Gram +
Berpasangan ,
berbentuk spt palu,
diameter 0,11mm
Tdk bergerak
Tdk membentuk spora
Aerobik
Memproduksi toksin




Memproduksi 3 jenis eksotoksin
Gravis
Koloni besar, kasar, ireguler, berwarna abu, dan tidak
menimbulkan hemolisis eritrosit
Mitis
Koloni kecil, halus, warna hitam, konveks dan dapat
menimbulkan hemolisis eritrosit
Intermediate
Koloni kecil, halus, mmpunyai bintik hitam ditengahnya,
dapat menimbulkan hemolisis eritrosit


Menurut lokasi terjadinya infeksi pertama
Difteri nasal anterior
Difteri nasal posterior
Difteri fausial
Difteri laringeal
Difteri Konjungtiva
Difteri kulit
Difteri vulva/ vagina
Klasifikasi

Menurut tingkat keparahannya
Infeksi ringan
Bila pseudomembran hanya terdapat di mukosa hidung
dengan gejala pilek dan sulit menelan
Infeksi sedang
Bila pseudomembran sampai faring dan laring hingga pasien
terlihat lesu dan agak sesak
Infeksi berat
Bila ada sumbatan nafas yang berat dan adanya gejala
gejala spt miokarditis paralisis dan nefritis


Tipe respirasi
Disebabkan oleh strain bakteri yang memproduksi toksin
Gejala berat sampai meninggal
Tipe Kutan
Disebabkan oleh strain toksigenik maupun yang
toksigenik, gejala ringan dan peradangan tidak khas
WIDOYONO 7

Droplet saat penderita (karier) batuk, bersin, & berbicara.
Debu/ muntahan media penularan dapat bertahan
6bulan
Masa inkubasi : 2-5 hari.
Karier :
orang yg terinfeksi bakteri pd hidung/tenggorok ttp tdk
mengalami gejala peyakit.
Penyakit difteria msk ke dlm tubuh manusia melalui
mukosa atau selaput lendir kuman menempel &
berkembang biak pd mukosa saluran nafas atas -
kuman memproduksi toksin yg merembes& menyebar ke
daerah sekitar & seluruh tubuh dgn melalui pembuluh
darah & limfe.


Penularan


Terjadi peradangan pada tenggorok, demam tidak
tinggi & pembengkakan leher (bull-neck).
Terjadi pembentukan membran (pseudomembran)
keputihan pada tenggorok/ tonsil yg mudah
berdarah bila di lepas.
Peradangan dpt menyebabkan kematian dgn
menyumbat saluran nafas.



Gejala dan Tanda

Komplikasi dpt terjadi krn efek toksin dari kuman
yg menyerang saraf menyebabkan kelumpuhan &
menyerang jantung menimbulkan Miokarditis.
Kuman berifat toxin mediated disease yang
membentuk membran/selaput pada nasofaring &
toksin dapat menyebar ke dlm aliran darah yang
bisa mengakibatkan Miokarditis, neuritis,
trombositopenia & proteinuria.


Tergantung pada
Lokasi infeksi
Imunitas penderitanya
Ada/tidaknya toksin yg beredar dlm sirkulasi darah
Demam tdk tinggi 38 derajat
Kerongkongan sakit, suara parau
Perasaan tidak enak, mual , muntah, lesu
Sakit kepala
Rhinorea kadang bercampur darah

Manifestasi Klinis

Mirip common cold
Ada cairan mukopurulen keluar dr hidung yg
berlendir dan ada pus kadang disertai darah
Ada membran putih pd daerah septum nasal


Difteri Nasal Anterior

Gejala lesu, sakit menelan, anoreksia, demam tdk
begitu tinggi.
Dalam waktu 2-3 hari membentuk membran putih
kebiruan menyebar sampai daerah tonsil dan
menutupi seluruh palatum mole

Difteri tonsil dan faring

Ada perluasan pembentukan membran dari farink
ke larinks.
Suara parau, batuk hebat, bisa menyumbat
pernafasan dan menimbulkan kematian

Difteri kulit
Diawali dg lesi kulit yang kronik
Jenis nontoksigenik

Difteri Larinks

Ku: agak toksik
Suhu 38 derajat C
Kesulitan bernafas
Takikardia dan pucat
Px mukosa :
Pseudomembran
Mukosa edem, hiperemis, epitel nekrosis,
berkelompok, tebal, firbrinous, berwarna abu
kecoklatan yg terdiri dr leukosit, eritrosit, dan mudah
berdarah
Pemeriksaan fisik

Px daerah leher:
Edema submandibular dan leher bagian depan
Stridor
Bulls neck appearance
Px sist kardiovaskular
Takikardi
Suara jantung melemah
Irama mendua
Aritmia
Px EKG
Depresi segmen ST
T terbalik
Tanda blok dimulai dr PR interval sampai blok AV
total

Px neurologis
Gerakan palatum berkurang, paralisis otot mata yang
menimbulkan pengelihatan kembar, strabismus
internal , paralisis nervus frenikus
75% pada difteri berat

Awal
Px spesimen dg pewarnaan methylen blue, untuk
identifikasi C.dyptheriae
Diagnosis definitif dan identifikasi basil
Diagnosis pasti dari kultur lesi, px ini membutuhkan
waktu dan media selektif
Kultur ini bisa membedakan 3 tipe koloni yg menunjukan
isolat tiap tipe dr strain toksigenik.
Shick test
Untuk menentukan ada atau tidaknya antibodi thpd toksin
difteri

Diagnosis

Difteri nasal anterior
Korpus alenium pd hidung
Common cold
Sinusitis
Difteri fausial
Tonsilofaringitis
Mononukleosis infeksiosa
Candidiasis mulut
Difteria larink
Laringotrakeobronkitis
Papiloma laring

Diagnosis banding

Perawatan umum
Pasien dirawat di ruangan isolasi
Min 2-3 minggu
Makanan lunak atau cairan
Kontrol EKG
2-3kali seminggu selama 4-6 minggu
Fisioterapi pasif
Pengobatan

Pengobatan khusus
Pemberian antibiotik
Penisilin prokain 1.200.000 unit/ hari I.M, 2 kali sehari ,14
hari
Eritromisin 40 mg/kgBB/hari, max 2gr/hr, peroral 4x
sehari, 14 hari
Clindamisin pada carier
Pemberian antitoksin
Difteri nasal atau fusial ringan diberikan 20.000-40.000
U, secara I.V dlm waktu 60 menit
Sedang 40.000-60.000 U secara I.V
Berat 80.000-120.000 U secara I.V
Kortikosteroid
utk mencegah & mengurangi peradangan



Imunisasi DPT pada bayi
Sebanyak 3 x Dimulai pd usia 2 bulan dg interval min 1
bulan, diulang lg saat usia 6-7bulan melalui prog BIAS
Vaksin DT pada anak usia SD
Anak yg tidak diberi imunisasi 4x lebih besar beresiko
Pencegahan

Tujuan
Kebijakan
Kegiatan
Survailans
Penyelidikan epidemiologis
Px swab tenggorok
Pemberian obat profilaksis
Pencatatan dan pelaporan
Program pemberantasan

Gangguan pernafasan
Miokarditis
Neuritis
Aritmia
sepsis
Komplikasi