Anda di halaman 1dari 12

4

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. PENILAIAN AUTENTIK DALAM KURIKULUM 2013
Penilaian autentik mengukur kemampuan siswa secara akurat tentang
kondisi seseorang yang telah belajar, sehingga metode atau teknik evaluasi
harus mampu memeriksa perkembangan kemampuannya. Penilaian autentik
harus dapat menyajikan tantangan dunia nyata, sehingga peserta didik
dituntut menggunakan kompetensi dan pengetahuan yang relevan. Penilaian
autentik dilakukan oleh guru dalam bentuk penilaian kelas. Penilaian ini
untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa pada kompetensi yang
ditetapkan. Penilaian ini bersifat internal dan merupakan bagian dari
pembelajaran. Penilaian autentik juga sebagai bahan untuk peningkatan
mutu hasil belajar. Penilaian ini dilakukan dengan berorientasi pada
kompetensi, mengacu pada patokan, ketuntasan belajar, dan dilakukan
melalui berbagai cara. Penilaian autentik dapat dilakukan melalui penilaian
kinerja (hasil karya), portofolio (kumpulan kerja siswa), penugasan (projek),
performansi (unjuk kerja), dan penilaian diri.
Penggunaan jenis asesmen yang tepat akan sangat menentukan
keberhasilan dalam mengakses informasi yang berkenaan dengan proses
pembelajaran. Pemilihan metode asesmen harus didasarkan pada target
informasi yang ingin dicapai. Informasi yang dimaksud adalah hasil belajar
yang dicapai siswa. Stiggins (1994:3,67) mengemukakan lima kategori
target hasil belajar yang layak dijadikan dasar dalam menentukan jenis
asesmen yang akan digunakan oleh pengajar.
Kelima hasil belajar tersebut antara lain:
a. Knowledge Outcomes, merupakan penguasaan siswa terhadap substansi
pengetahuan suatu mata pelajaran.
b. Reasoning Outcomes, yang menunjukkan kemampuan siswa dalam
menggunakan pengetahuannya dalam melakukan nalar (reason) dan
memecahkan suatu masalah.
5

c. Skill Outcomes, kemampuan untuk menunjukkan prestasi tertentu yang
berhubungan dengan keterampilan yang didasarkan pada penguasaan
pengetahuan.
d. Product Outcomes, kemampuan untuk membuat suatu produk tertentu yang
didasarkan pada penguasaan pengetahuan.
e. Affective Outcomes, pencapaian sikap tertentu sebagai akibat mempelajari dan
mengaplikasikan pengetahuan.
Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan saintifik
dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Karena, penilaian
semacam ini mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik
dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-
lain. Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau
kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka
dalam pengaturan yang lebih autentik. Karenanya, penilaian autentik sangat
relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya
jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai.
Kata lain dari penilaian autentik kurikulum 2013 adalah penilaian kinerja,
portofolio, dan penilaian proyek. Penilaian autentik adakalanya disebut penilaian
responsif, suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil
belajar peserta didik yang miliki ciri-ciri khusus, mulai dari mereka yang
mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang
jenius. Penilaian autentik dapat juga diterapkan dalam bidang ilmu tertentu seperti
seni atau ilmu pengetahuan pada umumnya, dengan orientasi utamanya pada
proses atau hasil pembelajaran.
Penilaian autentik kurikulum 2013 sering dikontradiksikan dengan
penilaian yang menggunkan standar tes berbasis norma, pilihan ganda, benar
salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian
seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran, karena memang lzim
digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. Penilaian autentik dapat
dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan peserta
didik. Dalam penilaian autentik, seringkali pelibatan siswa sangat penting.
6

Asumsinya, peserta didik dapat melakukan aktivitas belajar lebih baik ketika
mereka tahu bagaimana akan dinilai.
Peserta didik diminta untuk merefleksikan dan mengevaluasi kinerja
mereka sendiri dalam rangka meningkatkan pemahaman yang lebih dalam tentang
tujuan pembelajaran serta mendorong kemampuan belajar yang lebih tinggi. Pada
penilaian autentik guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi
pengetahuan, kajian keilmuan, dan pengalaman yang diperoleh dari luar sekolah.
Penilaian autentik kurikulum 2013 mencoba menggabungkan kegiatan
guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik,
serta keterampilan belajar. Karena penilaian itu merupakan bagian dari proses
pembelajaran, guru dan peserta didik berbagi pemahaman tentang kriteria kinerja.
Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan
harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan.
Penilaian autentik kurikulum 2013 sering digambarkan sebagai penilaian
atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka
berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Penilaian autentik
harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang
sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan
pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan
perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi
materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan
remidial harus dilakukan.

B. REVISI TAKSONOMI BLOOM
Pada tahun 1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl
dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar
sesuai dengan kemajuan zaman. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan
pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan
pada ranah kognitif. Revisi tersebut meliputi:
1. Perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk setiap level
taksonomi.
7

2. Perubahan hampir terjadi pada semua level hierarkhis, namun urutan level
masih sama yaitu dari urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan mendasar
terletak pada level 5 dan 6. Perubahanperubahan tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:
o Pada level 1, knowledge diubah menjadi remembering (mengingat).
o Pada level 2, comprehension dipertegas menjadi understanding
(memahami).
o Pada level 3, application diubah menjadi applying (menerapkan).
o Pada level 4, analysis menjadi analyzing (menganalisis).
o Pada level 5, synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan
perubahan mendasar, yaitu creating (mencipta).
o Pada level 6, Evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan
evaluating (menilai).
Jadi, Taksonomi Bloom baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri
dari enam level: remembering (mengingat), understanding(memahami), applying
(menerapkan), analyzing (menganalisis, mengurai), evaluating (menilai) dan
creating(mencipta). Revisi Krathwohl ini sering digunakan dalam merumuskan
tujuan belajar yang sering kita kenal dengan istilah C1 sampai dengan C6.
Taksonomi Bloom baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri dari
enam level: remembering (mengingat), understanding (memahami), applying
(menerapkan), analyzing (menganalisis, mengurai), evaluating (menilai) dan
creating (mencipta).
Bagaimana Cara Menggunakan Taksonomi Bloom?
Dalam kaitannya dengan tugas pengajar/widyaiswara dalam menyusun
kurikulum, pemilihan kata kerja kunci yang tepat memegang peranan penting
dalam menjelaskan tujuan program diklat, kompetensi dasar dan indikator
pencapaian agar konsep materi tersampaikan secara effektif. Kata kerja kunci
tersebut merupakan acuan bagi instruktur dalam menentukan kedalaman
penyampaikan materi, apakah cukup memahami saja, mendemonstrasikan,
menilai, dan sebagainya. Langkah-langkah yang harus digunakan dalam
menerapkan Taksonomi Bloom adalah sebagai berikut:
8

1. Tentukan tujuan pembelajaran
2. Tentukan kompetensi pembelajaran yang ingin dicapai apakah peningkatan
knowledge, skills atau attitude. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan
karakteristik mata diklat, dan peserta didik
3. Tentukan ranah kemampuan intelektual sesuai dengan kompetensi
pembelajaran.
a. Ranah kognitif : Tentukan tingkatan taksonomi, apakah pada tingkatan
Mengingat, Memahami,Menerapkan, Menganalisis, Menilai, Membuat.
b. Ranah Psikomotorik : Kategorikan ranah tersebut, apakah termasuk
Persepi, Kesiapan, Reaksi yang diarahkan, Reaksi natural (mekanisme),
Adaptasi, Reaksi yang kompleks Kreativitas.
c. Ranah Afektif: Kategorikan ranah tersebut, apakah termasuk penerimaan,
Responsif, Nilai yang dianut (Nilai diri), Organisasi dan Karakterisasi.
4. Gunakan kata kerja kunci yang sesuai, untuk menjelaskan instruksi kedalaman
materi, baik pada tujuan program diklat, kompetensi dasar dan indikator
pencapaian.
5. Sebagai tambahan, untuk penerapan taksonomi bloom dalam ranah kognitif,
dapat ditentukan pula media pembelajaran yang sesuai dengan mengacu pada
Blooms Cognitive Wheel.


9



Untuk memudahkan para penyusun kurikulum dalam memilih kata kerja
yang sesuai terkait dengan tujuan program, kompetensi dasar dan indikator
pencapaian, berikut ini adalah daftar pilihan kata kerja yang dapat digunakan
dalam ranah kognitif (knowledge).

10



C. ELASTISITAS
Jika anda menarik sebuah pegas untuk melatih otot dada anda
pegas berubah bentuk yaitu makin panjang. Ketika tarikan pada pegas
anda lepaskan, pegas segera kembali ke bentuk awalnya.
Pegas dan karet adalah contoh benda elastis. Sifat elastis atau
elastisitas adalah kemampuan suatu benda untuk kembali ke bentuk
awalnya segera setelah gaya luar yang di berikan kepada benda itu di
hilangkan (dibebaskan). Sedangkan untuk benda-benda seperti tanah liat
(lempeng), adonan tepung kue, dan lilin mainan (plastisin) tidak kembali
ke bentuk awalnya segera setelah gaya luar dihilangkan. Benda-benda
seperti itu disebut benda tak elastis atau plastis.
11

Tegangan, Regangan dan Modulus Elastis
a. Tegangan
Pada Gambar 2.2 seutas kawat dengan luas penampang A
mengalami suatu gaya tarik F pada ujung-ujungnya. Akibat gaya tarik
tersebut, kawat mengalami tegangan tarik , yang didefinisikan sebagai
hasil bagi antara gaya tarik F yang dialami kawat dengan luas
penampangnya (A).

L
A
L

Gambar 2.1. Gaya Tarik Pada Batang Untuk Menentukan Tegangan
Sumber : Marthen Kanginan jilid 2

Secara matematis persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut.
atau
luas
gaya
Tegangan


(2.1)
Tegangan adalah besaran skalar dan sesuai persamaan (2.1) memiliki satuan
Nm
-2
atau pascal (Pa).

b. Regangan
Regangan (tarik) e didefinisikan sebagai hasil bagi antara
pertambahan panjang L dengan panjang awal L. secara matematis dapat
di tuliskan.
12


(2.2)

karena pertambahan panjang L dan panjang awal L adalah besaran yang
sama, maka sesuai persamaan (2.2), regangan tidak memiliki satuan atau
dimensi.
c. Grafik Tegangan terhadap Regangan
Kebanyakan benda adalah elastis sampai ke suatu besar gaya
tertentu, dinamakan batas elastis.


Grafik pada Gambar 2.3 menunjukkan bagaimana variasi tegangan
terhadap regangan ketika seutas kawat logam (baja) diberi gaya tarik
sampai kawat itu patah.
Dari O sampai A berlaku hukum Hooke, dan A disebut batas
hukum Hooke. B adalah batas elastis. Diatas titik itu deformasi kawat
adalah plastis. C adalah titik tekuk (yield point). Tegangan paling besar
yang dapat kita berikan tepat sebelum kawat itu patah disebut tegangan
maksimum (ultimate tensile stress). Jika tegangan dihilangkan dalam
daerah deformasi plastis, misalnya di titik D, kawat logam tidak akan
kembali ke bentuk semula, melainkan mengalami deformasi (perubahan
bentuk) permanen (regangan X pada sumbu mendatar). E adalah titik
patah. Jika tegangan diberikan mencapai titik E, maka kawat akan patah.

Gambar 2.2 Grafik Tegangan Terhadap Regangan.
Sumber : Marthen Kanginan Jilid 2

13

d. Modulus Elastis
Modulus elastis E suatu bahan didefinisikan sebagai perbandingan
antara tegangan dan regangan yang dialami bahan.
atau
regangan
tegangan
elastis Modulus


(2.3)
Modulus elastis juga disebut modulus young (diberi lambang Y)
untuk menghargai Thomas Young. Satuan SI untuk tegangan adalah
Nm
-2
atau Pa, sedangkan regangan e tidak memiliki satuan, maka satuan
E juga memiliki satuan Nm
-2
atau Pa.
1. Hukum Hooke
Anda telah memahami pengaruh gaya pada seutas kawat, yaitu
dapat menyebabkan pertambahan panjang. Disini perhatian utama kita
adalah kepada benda berbentuk spiral terbuat dari logam yang di sebut
pegas.
F = kx
(2.4)

Ket:
F = gaya yang dikerjakan (N)
x = pertambahan panjang (m)
k = konstanta gaya (N/m)


Persamaan (2.4) dapat dinyatakan dengan kalimat Jika gaya
tarik tidak melampaui batas elastis pegas, maka pertambahan panjang
pegas berbanding lurus (sebanding) dengan gaya tariknya. Pernyataan
ini di kenal sebagai hukum Hooke.
2. Tetapan Gaya Benda Elastis
14

Anda telah memahami tetapan gaya k dari pegas yang muncul
pada hukum Hooke (Persamaan 2.4). Perlu anda ketahui bahwa tetapan
gaya k adalah tetapan umum yang berlaku untuk benda elastis jika diberi
gaya yang tidak melampaui titik A (batas hukum Hooke). Gaya tarik F
yang di kerjakan pada benda padat, yang dapat dinyatakan oleh
Persamaan (2.5), yaitu

L
E
A
L F


(2.5)
Diperoleh juga rumus umum tetapan gaya k untuk suatu benda
elastis, yaitu


(2.6)
E adalah modulus elastis bahan (Nm
-2
), L adalah panjang bebas
benda (panjang benda tanpa di tarik), dan A adalah luas penampang (m
2
).
Getaran adalah gerak bolak-balik secara periodik yang selalu
melalui titik keseimbangan.Satu getaran adalah gerakan dari titik mula-
mula dan kembali ke titik tersebut.Periode (waktu getar) adalah waktu
yang digunakan untuk mencapai satu getaran penuh, dilambangkan T
(sekon atau detik).
Frekuensi adalah banyaknya getaran tiap detik, dilambangkan f
(Hertz).Amplitudo adalah simpangan maksimum dari suatu getaran.
Sebuah pegas yang digantung vertikal ke bawah ujungnya diberi beban
m ditarik dengan gaya F sehingga pegas bertambah panjang sebesar x,
kemudian gaya dilepas, maka beban bersama ujung pegas akan
mengalami gerak harmonik dengan periode :

(2.7)
Ket:
T = periode (s)
15

m = massa beban (kg)
= 22/7 atau 3,14
k = konstanta pegas (N/m)