Anda di halaman 1dari 9

PENENTUAN DAN PENGUKURAN INDEKS BIAS SUATU ZAT DI

LABORATORIUM DENGAN MENGGUNAKAN METODE REFRAKTOMETRI



Regi Mahendra
(1308105005)
Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Udayana, Bukit Jimbaran

ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan perhitungan indeks bias dari suatu zat di
laboratorium dengan menggunakan metode refraktometri dan menggunakan alatnya
yang disebut refraktometer abbe. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui indeks
bias dari beberapa zat yaitu, aquades sebagai pengkalibrasi, zat A, zat B, zat C, zat D,
dan zat E. Dari indeks bias yang telah diperoleh ini, dapat diketahui bahwa zat A
glukosa, zat B adalah campuran glukosa dan sukrosa, zat C adalah minyak goreng dan
zat E adalah aseton. Dari dua kali pengukuran dengan suhu 29C indeks bias dalam
percobaan ini, zat yang memiliki indeks bias terbesar adalah zat C yakni minyak
goreng dengan indeks bias sebesar 1,46Sunm dengan rata rata 1,46S2nm. Adapun
urutan nilai indeks bias dari kelima zat dari yang terbesar hingga terkecil yaitu zat C >
zat B > zat A > zat E. Perbedaan indeks bias ini disebabkan oleh adanya perbedaan
konsentrasi dari masing-masing zat, jika zat cair memiliki konsentrasi lebih besar dan
mempunyai kerapatan antar molekul yang lebih kecil, sehingga indeks bias nya
semakin besar dan begitu juga sebaliknya. Selain konsentrasi, sudut kritis juga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi indeks bias. Faktor-faktor yang
menyebabkan perbedaan indeks bias yaitu konsentrasi, kerapatan, sudut kritis, dan
kecepatan cahaya.
Kata Kunci : Indeks bias, refraktometri, refrakormeter abbe, sudut kritis
PENDAHULUAN
Indeks bias merupakan salah
satu sifat optik yang banyak
digunakan untuk mencirikan
keadaan suatu material transparan.
Indeks bias adalah perbandingan
kecepatan cahaya dalam udara
dengan kecepatan cahaya dalam zat
tersebut. Indeks bias berfungsi untuk
identifikasi zat kemurnian, suhu
pengukuran dilakukan pada suhu
20
0
C dan suhu tersebut harus benar-
benar diatur dan dipertahankan
karena sangat mempengaruhi indeks
bias.

Gambar 1. Pembiasan Cahaya
Densitas atau massa
jenis benda adalah pengukuran
massa setiap volume benda. Semakin
tinggi massa jenis suatu benda,
semakin besar pula massa setiap
volume nya. Massa jenis tidak
tergantung pada jumlah benda.
Apabila jenisnya sama maka nilai
massa jenisnya juga sama. Berbagai
logam memiliki nilai densitas besar
dikarenakan atom-atom dalam
susunan molekulnya memiliki
kerapatan yang besar.Densitas
dilambangkan dengan simbol ,
salah satu huruf Yunani. Secara
matematis :
p =
m
:

Keterangan:
= Massa Jenis (kg/m
3
atau g/cm
3
)
m = massa benda (kg atau g)
V = volume benda (m
3
atau cm
3
)
Refractive index suatu material
pada suatu panjang gelombang
tertentu akan mengalami
perubahan bila komposisi material
tersebut mengalami perubahan.
Beberapa industri karenanya
menggunakan ukuran refractive
index dalam penetapan kualitas
produk solid atau liquid
transparannya. Beberapa metode
telah dikembangkan untuk
mengukur indeks bias suatu
bahan. Beberapa diantaranya adalah
metode interferometri dan sudut
Brewster.
Metode-metode ini merupakan
metode yang sangat akurat untuk
mengukur indeks bias. Kelemahan
dari metode ini adalah
pengoperasian alatnya rumit dan
membutuhkan waktu yang lama.
Karena alasan ini metode
pengukuran refractive index
dengan menggunakan ABBE
refractometer banyak dipakai
orang. Dibandingkan dengan
metode interferometric ataupun
sudut Brewster, pengukuran
dengan ABBE refractometer dapat
dilakukan dengan cara lebih cepat
dalam pengerjaan dan mudah untuk dipakai.
Refraktometer adalah
perangkat laboratorium atau
lapangan untuk mengukur kadar atau
konsentrasi bahan terlarut seperti
gula, garam, protein, dan lain-lain
berdasarkan pada pengukuran indeks
bias cairan tersebut. indeks bias
(refraction) dihitung dari Hukum
Snell dan dapat dihitung dari
komposisi bahan menggunakan
hubungan Gladstone-Dale. Ada
empat jenis refraktometer utama
yaitu:
1. Refraktometer genggam
tradisional (tradisional handheld
refractometers).
2. Refraktometer genggam digital
(digital handheld
refractometers).
3. Laboratorium atau refraktometer
Abbe (Abbe refraktometers).
4. Proses refraktometer inline
(inline process refrakctometers).
Refraktor Abbe ditemukan
oleh Ernst Abbe (1840 - 1905) yang
bekerja untuk Perusahaan Zeiss di
Jena, Jerman pada akhir 1800-an.
Instrumen pertama terdiri dari
termometer dan air yang bersikulasi
yang berfungsi untuk mengontrol
suhu instrument dan cairan. Mereka
juga mempunyai penyesuaian untuk
menghilangkan efek dari disperse
dan skala analog darimana bacaan
diambil.
Refraktometer Abbe
merupakan alat untuk
mendeterminasi konsentrasi secara
cepat, kemurnian, kualitas-kualitas
disperse dari sampel cair, padat dan
plastik. Refraktometer Abbe yaitu
suatu refraktometer yang dilengkapi
dengan termometer sebagai
pengukur suhu. Ini adalah bench-top
device untuk pengukuran presisi
tinggi dari indeks bias. Syaratnya
adalah hanya bahan yang jernih,
transparan dan Opaque dapat diukur
pada sinar yang ditransmisikan dan
direfleksikan.Prinsip pengukurannya
dengan sinar yang ditransmisikan
sinar kasa atau sumber sinar prisma
sampel telescope. Prinsip kerja dari
refraktometer sesuai dengan
namanya adalah memanfaatkan
refraksi cahaya.
Refraktometer Abbe adalah
refraktometer untuk mengukur
indeks bias cairan, padatan dalam
cairan atau serbuk dengan indeks
bias dari 1,300 sampai 1,700 dan
presentase padatan 0 sampai 95%
alat untuk menentukan indeks bias
minyak, lemak gelas optic, larutan
gula dan sebagainya, indeks bias
antara 1,300 dan 1,700 dapat dibaca
langsung dengan ketelitian sampai
0,001 dan dapat diperkirakan sampai
0,0002 dari gelas skala di dalam.
Pengukuran dapat didasarkan
atas prinsip bahwa cahaya yang
masuk melalui prisma cahaya hanya
bisa melewati bidang batas antara
cairan dan prisma kerja dengan suatu
sudut yang terletak dalam batas-
batas tertentu yang ditentukan oleh
sudut batas antara cairan dengan
alas.
Pada prakteknya refraktometer
akan ditera pada skala sesuai dengan
penggunaannya. Sebagai contoh
refraktometer yang dipakai untuk
mengukur konsentrasi larutan gula
akan ditera pada skala gula. Begitu
juga dengan refraktometer untuk
larutan garam, protein dan lain-lain.
Faktor-faktor penting yang
harus diperhitungkan pada semua
pengukuran refraksi adalah
temperatur cairan dan jarak
gelombang cahaya yang
dipergunakan untuk mengukur n.
pengaruh temperatur terhadap indeks
bias gelas adalah sangat kecil, tetapi
cukup besar terhadap cairan dan
terhadap kebanyakan bahan plastik
yang perlu diketahui indeksnya.
ALAT DAN BAHAN
Alat alat yang digunakan
dalam pratikum ini adalah labu takar
250 ml 1 buah, beberapa gelas piala
250 ml, piknometer, refraktometer
Abbe, bak thermostat, neraca analitik
dan pipet tetes.
Bahan yang digunakan dalam
pratikum ini adalah aquades, zat A,
zat B, zat C, zat D dan zat E. Etanol
dan tissue juga digunakan untuk
membersihkan permukaan prisma.
METODE PERCOBAAN
Metode dalam pratikum ini
adalah refraktometri. Air diuji dari
bak thermostat yang disirkulasi
dengan prisma dan temperatur
konstan (25 _ 1). Prisma yang
iluminasi dan refraksi digantung
bersama-sama sepanjang satu sisi
dan diklep disisi yang berlawanan
lalu klem dibuka dan dipisahkan.
Kedua permukaan prisma
dibersihkan dengan hati-hati
menggunakan tissue yang bersih
yang telah dibubuhi oleh alkohol
(etanol) terlebih dahulu. Jika
permukaan prisma sudah bersih dan
kering, keduanya dibawa bersamaan
dan klem ditutup. Sampel diberi 1-2
tetes dipipet tetes dilibang isian.
Prisma yang dipasang sepanjang
sumbu horizontal dapat diputar
dengan knop logam knurled dengan
posisi tetap dijaga dari cermin dan
teleskop. Prisma diputar sampai
batas diantara medan terang dan
gelap dilihat dengan jelas pada
teleskop. Cermin diatur untuk dapat
sinar yang dipantulkan sepanjang
sumbu teleskop. Prisma diputar
hingga batas daerah terang dan gelap
tepat berimpit dengan titik potong
dari garis silang dan indeks refraksi
dapat dibaca dari skala.
Botol piknometer disumbat
dan ditimbang dengan menggunakan
neraca analitik. Piknometer kering
yang telah ditimbang lalu diisi zat
cair. Piknometer ditutup dengan hati-
hati. Zat cair yang tersisa dibiarkan
meluap dari kapiler, selanjutnya
dibagian luar dan ujung kapiler
piknometer dikeringkan dengan
tissue. Piknometer yang telah diisi
larutan tersebut ditimbang kembali.
PEMBAHASAN DAN HASIL
Pada praktikum kali ini,
dilakukan pengukuran indeks bias
terhadap beberapa zat yang belum
diketahui. Zat yang digunakan diberi
label A,B,C,D dan E. Pengukuran
indeks bias dilakukan sebanyak 2
kali.
NO Jenis Zat Suhu (T)
(
o
C)
Indeks
bias
(n
D
)
1 Aquadest 29 1,3320
1,3320
2 Zat A 29 1,3355
1,3355
3 Zat B 29 1,3360
1,3355
4 Zat C 29 1,4630
1,4635
5 Zat D 29 0
0
6 Zat E 29 1,3350
1,3350
Tabel 1. Hasil pengamatan indeks bias aquadest, zat A, zat B, zat C, zat D dan zat E pada suhu 29
o
C
Dalam percobaan ini,
dilakukan pengukuran terhadap
aquadest, zat A, B, C, D dan E
dengan menggunakan refraktometer
dan piknometer. Salah satu tujuan
dari praktikum refraktometer dan
densitas yaitu menentukan besarnya
indeks bias suatu senyawa atau
campuran dan menentukan besarnya
densitas dari suatu senyawa atau
campuran. Refraktometer Abbe
dilengkapi dengan bak termostat
yang berfungsi untuk menjaga dan
mengatur suhu saat pengukuran
indeks bias. Pengukuran dilakukan
dengan menggunakan prisip kerja
pada pengukuran sudut kritis. Pada
refraktometer terdapat sinar putih
dan kompresor Abbe yang berfungsi
untuk menajamkan batas medan
yang terang dan gelap, kemudian
teleskop diatur untuk membuat batas
tersebut tepat dengan interseksi garis
silang sudut mata. Dalam
penggunaan alat refraktometer,
terlebih dahulu dilakukan kalibrasi
dengan menggunakan aquades
sebagai larutan standar. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui dan
memastikan bahwa kerja alat masih
baik serta mengetahui ketepatan
pengukuran indeks bias.
Setelah dilakukan kalibrasi alat
dengan aquades pada suhu 29
diperoleh nilai indeks rata-rata yaitu
1,3320. Kemudian dilanjutkan
dengan pengukuran zat A. Sebelum
dilakukan pengukuran zat A, prisma
terlebih dahulu dibersihkan dengan
tissue yang telah dibubuhi dengan
etanol kemudian dibersihkan secara
hati-hati agar prisma tidak tergores
dan rusak sehingga dapat
mempengaruhi hasil pembacaan
indeks bias. Etanol digunakan
sebagai pembersih prisma karena
etanol memiliki sifat mudah
menguap sehingga menyebabkan
kaca prisma steril dan etanol tidak
tersisa pada permukaan.
Berdasarkan pengamatan dan
pengukuran dengan menggunakan
Refraktometer Abbe, maka nilai
indeks bias yang diperoleh dari 5 zat
cair yang diamati sebagai berikut :
Jenis Zat Suhu() Indeks Bias
Rata-Rata (n)
A 29 1,3355
B 29 1,3357
C 29 1,4632
D 29 0
E 29 1,3350
Tabel 2. Indeks bias rata-rata dari masing-masing zat yang diukur.

Berdasarkan tabel diatas,
indeks bias dari masing-masing zat
cair berbeda-beda. Perbedaan nilai
indeks bias dipengaruhi oleh sudut
kritis yang terbentuk dari kerapatan
yang berbeda. Dalam praktikum
refraktometer ini, suhu yang
digunakan dalam percobaan ini sama
dengan suhu standar yaitu 29.
Berdasarkan pengukuran indeks bias
dengan refraktometer, nilai indeks
bias terbesar adalah indeks bias zat C
dengan nilai indeks biasnya yaitu
1,4632. Adapun urutan nilai indeks
bias dari kelima zat dari yang
terbesar hingga terkecil yaitu zat C >
zat B > zat A > zat E > zat D.
Perbedaan indeks bias ini disebabkan
oleh adanya perbedaan konsentrasi
dari masing-masing zat, jika zat cair
memiliki konsentrasi lebih besar dan
mempunyai kerapatan antar molekul
yang lebih kecil, sehingga indeks
bias nya semakin besar dan begitu
juga sebaliknya. Selain konsentrasi,
sudut kritis juga merupakan salah
satu faktor yang mempengaruhi
indeks bias. Faktor-faktor yang
menyebabkan perbedaan indeks bias
yaitu konsentrasi, kerapatan, sudut
kritis, dan kecepatan cahaya. Selain
dilakukan pengukuran indeks bias,
dilakukan juga pengukuran densitas
dengan menggunakan piknometer.
Densitas atau massa jenis
adalah pengukuran massa setiap
satuan volume benda. Pengukuran
densitas ini dilakukan untuk
mengetahui jenis zat yang
digunakan. Didapatkan densitas dari
semua zat seperti pada tabel dibawah
ini
Jenis
zat
cair
Massa
Piknom
eter (g)
Massa
zat (g)
Massa
Piknometer
+ Zat (g)
A 12,53 9,97 22,5
B 12,53 9,97 22,5
C 12,53 9,20 21,73
D 12,53 9,0 21,53
E 12,53 9,83 22,36
Tabel 3. Hasil pengukuran massa dengan
piknometer

Jenis zat cair Massa zat (g) Volume
Piknometer
(mL)
Densitas
(g/mL)
A 9,97 10 0,997
B 9,97 10 0,997
C 9,20 10 0,920
D 9,0 10 0,900
E 9,83 10 0,983
Tabel 4. Hasil densitas dari zat yang digunakan
Dari data tabel diatas dapat
disimpulkan bahwa densitas terbesar
yaitu zat A dan B karena memiliki
nilai densitas yang sama yakni 0,997
g/mL. Adapun urutan densitas
kelima zat dari terbesar sampai
terkecil yaitu zat A = zat B > zat E >
zat C > zat D dengan nilai densitas
0,997 , 0,997 , 0,920, 0,900 dan
0,983 g/mL. Massa jenis/kerapatan
suatu fluida dapat bergantung pada
banyak faktor seperti temperatur
fluida dan tekanan yang
mempengaruhi fluida. Akan tetapi
pengaruhnya sangat sedikit sehingga
massa jenis suatu fluida dinyatakan
sebagai konstanta/bilangan tetap.
Dari data tabel diatas diperoleh
dapat bahwa indeks bias pada cairan
yang dipakai melebihi satu, hal ini
menunjukkan bahwa kecepatan
cahaya dari cairan di medium lebih
kecil daripada kecepatan cahaya di
ruang hampa. Dari pengukuran
refraktometer dari keempat sampel
maka dapat diduga menurut literatur
zat yang digunakan pada zat A yaitu
glukosa zat B yaitu campuran
glukosa dengan sukrosa, zat C yaitu
minyak goreng dan zat E yaitu
aseton.

KESIMPULAN
1. Indeks bias merupakan salah
satu sifat optik yang banyak
digunakan untuk mencirikan
keadaan suatu material
transparan
2. Densitas atau massa
jenis benda adalah pengukuran
massa setiap volume benda.
3. Percobaan indeks bias pada
pratikum ini menggunakan
metode refraktometri dan
menggunakan alat
Refraktometer Abbe dalam
pratikum ini.
4. Menurut literatur aquadest pada
suhu 29 memiliki indeks bias
sebesar 1,3321 dan pada
pratikum ini aquadest pada
suhu yang sama diperoleh
indeks bias sebesar 1,3320 n
m.

5. Indeks bias rata-rata zat A
1,3355, zat B 1,3357, zat C
1,4632, zat D 0 dan zat E
1,3350 n
m
.
6. Indeks bias terbesar dimiliki
oleh zat C yaitu minyak goreng
dengan 1,4632 n
m.

7. Densitas yang diperoleh dari
zat A 0,997, zat B 0,997, zat C
0,920, zat D 0,900 dan zat E
0,983 g/mL.
8. Berdasarkan analisis indeks
bias dan densitasnya, zat yang
digunakan yaitu zat A yaitu
glukosa, zat B yaitu campuran
glukosa dengan sukrosa, zat C
yaitu minyak goreng dan zat E
yaitu aseton.
9. Semakin tinggi kerapatan suatu
zat, volumenya semakin kecil,
sehingga indeks biasnya juga
akan semakin kecil.
10. Perbedaan hasil indeks bias dari
tiap-tiap zat tersebut
disebabkan karena perbedaan
besar sudut kritis yang
terbentuk dan kerapatan suatu
zat.
DAFTAR PUSTAKA
Bahrim, C. and Hsu, WT.,
2009, Precise
Measurements of
the Refractive
Indices for
Dielectrics Using an
Improved Brewster
Angle Method,
American Journal of
Physics, vol 77,
Issue 4, pp. 337
Murdaka, Karyono,dkk. 2010.
Penyetaraan Indeks
Bias Pada Zat Cair
Bening. Jurnal
Berkala Fisika , 19,
119-124.
R.A.Alberty dan F. Daniels.
1983. Kimia Fisika.Erlangga:
Jakarta.
Santiago Neto, RB.,
Mendonca, F,
Lesche, B., 2004,
Determination of
Absolute Values of
Refractive Index of
Liquids Using an
Interferometric
Method, vol. 17, no.
2.
Tahir, I., & Nuroniah. 2008.
Hubungan
Kuantitatif Struktur
& Indeks Bias dari
Zat Cair
Berdasarkan
Deskriptor
Molekular. Jurnal
Berkala Fisika , 53-
58.
Tim Laboratorium Kimia
Fisika. 2014.
Penuntun Praktikum
Kimia Fisika II .
Bukit Jimbaran :
Jurusan Kimia
FMIPA Universitas
Udayana.

Anda mungkin juga menyukai