Anda di halaman 1dari 16

ENTROPI DAN BOBOT STATISTIK

1. KEADAAN MIKROSKOPIK DAN MAKROSKOPIK


Keadaan termodinamika digambarkan sebagai titik dalam ruang keadaan. Setiap titik
dalam diagram fase sistem PVT bersesuan dengan sebuah keadaan, yaitu keadaan
termodinamik. Keadaan termodinamik adalah keadaan makro (macrostate). Setiap keadaan
makro bersesuaian dengan banyak sekali keadaan mikro, bahkan tak-hingga untuk sistem
kontinu. Keadaan mikro adalah kongurasi sesaat dari semua elemen mikroskopik. Keadaan-
keadaan mikroskopik suatu sistem dapat dinyatakan dalam ruang fase. Ruang fase dari suatu
gas dalam wadah tertutup yang terdiri atas N molekul dapat digambarkan dalam ruang fase
berdimensi 6N, yaitu {x1 p
z
N
}.
Tinjaulah suatu gas dalam wadah. Jumlah molekul gas sangat banyak, ordenya pada
kisaran bilangan Avogadro, 6, 021023. Jika kita membagi wadah menjadi empat bilik, lalu
kita andaikan suatu keadaan makro dimana masing-masing bilik terisi oleh 1/4 bagian gas,
maka jumlah keadaan mikro yang bersesuaian dengan ini akan sangat banyak. Akan tetapi,
jika molekul-molekul gas tersebut tidak terbedakan, maka semua keadaan mikro yang ada
akan identik. Akibatnya, pemerian keadaan mikro menjadi hal yang trivial (tidak penting).
Pemerian keadaan mikro untuk sistem gas adalah dengan menandai posisi dan
kecepatan setiap molekul gas. Andaikan kita memotret gas tersebut pada suatu saat tertentu
dan kita memperoleh data detail sebagai berikut
{x
1
, y
1
, z
1
, . . . , x
n
, y
n
, z
n
; p
xi
, p
yi
, p
zi
, . . . , p
xN
, p
yN
, p
zN
}
dimana q
n
= (x
n
, y
n
, z
n
) adalah posisi molekul ke-n dengan momentum pn = (p
xn
, p
yn
, p
zn
).
Hasil pemotretan ini dapat digambarkan sebagai sebuah titik dalam ruang koordinat 6
dimensi, yaitu 3 sumbu koordinat untuk posisi dan 3 sumbu lainnya untuk kecepatan. Setiap
titik dalam koordinat tersebut dapat dinyatakan dalam pasangan koordinat (q
n
, v
n
), n = 1, . . .
3N, yang masing-masing merupakan sebuah keadaan mikro. Kumpulan dari semua titik
membetuk ruang fase yang menyatakan semua kemungkinan keadaan mikro. Evolusi
temporal dari sistem akan bersesuaian dengan sebuah kurva (q
v
(t), p
v
(t)) dalam ruang-fase.
Kurva ini diberi nama trayektori ruang-fase dan memenuhi persamaan Hamilton sebagai
berikut
(1)
dimana Hamiltonian H(q
n
, v
n
) bersesuaian dengan energi total dari sistem. Untuk sistem
tertutup, Hamiltonian tidak bergantung waktu, artinya energi tetap (kekal) sehingga
(2)
Secara umum perubahan waktu besaran A(q, t) dapat dinyatakan sebagai
(3)
Dengan menggunakan Pers. (1) diperoleh,
(4)
dimana {A,H} dinamakan kurung Poisson. Sebagai ilustrasi, jika diambil A = H, dengan
H/t = 0, maka {H,H} = 0, berarti dH/dt = 0 yang menunjukkan hukum kekalan momentum.
Teoremanya, jika H, tidak bergantung secara eksplisit terhadap waktu maka energi tidak
mengalami perubahan

Gambar 1: Penggambaran gerak osilator harmonik dalam ruang fasa

2. ENTROPI
Mari kita tinjau sebuah sistem terisolasi yang terdiri dari dua subsistem dengan
besaran keadaan E
i
, V
i
dan N
i
, i = 1, 2, sehingga
E = E
1
+ E
2
= konstan dE
1
= dE
2

N = N
1
+ N
2
= konstan dN
1
= dN
2

V = V
1
+ V
2
= konstan dV
1
= dV
2

Ini berarti sub-sub sistem tersebut dapat saling bertukar energi maupun partikel dan dapat
pula bertukar volume. Akan tetapi dalam keadaan setimbang, nilai Ei, Vi dan Ni akan berada
pada nilai rerata tertentu. Bila dianggap kedua subsistem tersebut saling independen secara
statistik, maka keadaan mikro sistem (total) adalah semua kemungkinan dari perkalian
keadaan-keadaan mikro kedua subsistem, dan jumlah keadaan mikro sistem (total) terkait
denga suatu keadaan makro adalah perkalian dari jumlah keadaan-keadaan mikro kedua
subsistem
(E, V,N) =
1
(E
1
, V
1
, N
1
)
2
(E
2
, V
2
, N
2
) (5)
Dalam keadaan setimbang termodinamik, keadaan makro yang paling terbolehjadi,
adalah keadaan dengan jumlah keadaan mikronya terbesar, = maks, sehingga d = 0.
Bila kita membentuk diferensial total persamaan (5) kita dapatkan
d = 2 d1 + 1 d2 (6)
atau dengan membagi persamaan ini dengan , didapatkan
d ln = d ln 1 + d ln 2 (7)
Untuk keadaan setimbang termodinamik, berarti
d ln = 0 (8)
ln = ln maks
Sekarang sistem yang sama ditinjau secara termodinamik. Bila energi dalam dari
sistem terisolasi diidentikkan dengan total energi E, maka entropinya diberikan oleh
S(E, V, N ) = S1 (E1 , V1 , N1 ) + S2 (E2 , V2 , N2 ) (9)
berdasar pada sifat ekstensif dari entropi. Diferensial total entropinya adalah
dS = dS1 + dS2 (10)
Dan dalam keadaan setimbang termodinamis, nilai entropi sistem akan maksimum
dS = 0 S = Smaks (11)
Dengan membandingkan pers. (8) dengan (11) dan pers. (8) dengan (10), dapat kita
simpulkan adanya keterkaitan hubungan antara ln dengan entropi S. Karena itu
dipostulatkan
S = k ln (E, V, N ) (12)
dengan k adalah suatu konstanta kesebandingan. Persamaan ini sangat penting bagi mekanika
statistik. Persamaan ini mendasari penghitungan semua sifat-sifat termodinamik dari sistem
banyak partikel dengan menggunakan Hamiltonan H(pi , qi ). Setelah diperoleh entropi S(E,
V, N ) maka informasi tentang besaran-besaran termodinamika lainnya dapat diketahui,
misalnya melalui
(13)
Menghitung jumlah keadaan mikro tidak selalu mudah. Untuk sistem-sistem yang
komplek kita harus menggunakan teori ensambel, dan memilih sistem sebagai sistem yang
tertutup atau terbuka . Pers. (13) juga menujukkan pada kita bahwa konstanta
0
dalam
penghitungan jumlah keadaan mikro tidak memiliki konsekuensi praktis, karena hanya
memberi tambahan konstan terhadap nilai entropi. Sedangkan dalam termodinamika hanya
perbedaan entropi sajalah yang terukur. Walaupun begitu konstanta
0
perlu untuk ditinjau
lebih mendalam lagi. Konstanta
0
per denisi tidak lain adalah elemen permukaan ruang
fase yang dihuni oleh sebuah keadaan mikro.
Dalam tinjauan mekanika klasik hal ini tidak bermakna karena titik keadaan mikro
dalam ruang fase memiliki kerapatan tak hingga, sehingga kita harus memakai sembarang
satuan luas permukaan. Akan tetapi dalam tinjauan mekanika kuantum, karena relasi
ketidakpastian Heisenberg, setiap keadaan mikro setidaknya menempati sebuah volume
seluas pq h atau
3N
p
3N
q h
3N
. Karena itu ruang fase dalam tinjauan mekanika
kuantum terdiri dari sel-sel dengan ukuran h
3N
. Sel-sel ini memiliki volume berhingga, karena
itu kita dapat menghitung jumlah keadaan mikro secara absolut, dan pers. (1.21)memberikan
nilai absolut entropi tanpa adanya konstanta tambahan. Nilai entropi S = 0 terkait dengan
suatu sistem yang hanya memiliki tepat satu buah keadaan mikro ( = 1). Dalam prakteknya
misalnya sistem kristal ideal pada temperatur nol mutlak memiliki nilai entropi sama dengan
nol. Pernyataan bahwa sistem semacam tadi pada temperatur T = 0 memiliki nilai entropi S =
0, dikenal juga sebagai hukum termodinamika ketiga.

2.1 ENTROPI GAS IDEAL
Sebagai contoh konkrit, kita akan menghitung sifat-sifat termodinamika gas ideal
klasik. Hamiltonan (non relativistik) untuk N partikel gas ideal bermassa m adalah
(14)
Komponen koordinat dan momentum telah diberi nomer dari 1 sampai 3N. Volume ruang
fase yang dibatasi oleh permukaan energi E adalah
(15)
Karena Hamiltonan gas ideal tidak bergantung pada posisi partikel-partikelnya, maka integral
terhadap koordinatnya dapat langsung dihitung dan menghasilkan volume,
(16)
Karena syarat batas integrasi, dapat dituliskan sebagai
(17)
maka, integral yang tersisa ini tidak lain dari volume bola berdimensi-3N dengan jejari
. Volume sebuah bola berdimensi D dengan jejari R diberikan oleh rumus
(18)
Sehingga pers. (16) dapat dituliskan sebagai
(19)

dan entropi untuk gas ideal ini diberikan oleh
(20)
Untuk limit termodinamika (N ) kita dapat menggunakan pendekatan Stirling
(21)
dan rumusan entropi gas ideal di atas dapat dituliskan sebagai
(22)
dengan konstanta baru =
o
1/N
. Perumusan sifat-sifat thermodinamika lainnya dapat dengan
mudah diperoleh
(23)
dan didapatkan hasil-hasil yang sesuai dengan hasil-hasil perumusan gas ideal. Akan tetapi
perumusan untuk entropi gas ideal pada pers. (22) belum benar, karena entropi yang
dirumuskannya bukan merupakan besaran yang ekstensif. Entropi, sebagai besaran ekstensif,
seharusnya meningkat sebanyak kali, ketika besaran ekstensif lainnya seperti E, V dan N
juga ditingkatkan sebanyak kali. Tetapi dalam pers. (22) terdapat faktor ln yang
menyebabkannya tidak ekstensif. Hasil entropi gas ideal di atas ternyata kontradiksi dengan
fakta bahwa entropi adalah besaran ekstensif.
Untuk memahami penyebabnya lebih lanjut, mari kita tinjau sebuah sistem terisolasi
yang terdiri dari dua bagian berisikan gas ideal A dan gas ideal B terpisahkan oleh sebuah
dinding. Kedua gas ideal berada dalam keadaan temperatur dan tekanan yang sama. Bila
dindingnya dilenyapkan maka kedua gas akan tersebar dan keduanya akan mengisi seluruh
wadah sistem sampai keadaan seimbang baru tercapai. Karena energi dalam dari gas ideal
tidak bergantung pada volume, dan bergantung pada temperatur, dan karena energi dalam
selalu tetap selama seluruh proses, maka temperatur maupun tekanan juga tidak berubah.
Tetapi entropi sistem meningkat, yang disebut juga dengan entropi pencampuran. Perubahan
entropi sistem, adalah entropi setelah terjadi pencampuran dikurangi entropi sistem sebelum
dinding pembatas dihilangkan. Bila dipakai perumusan pada pers. (22) maka
(24)
Dengan
(25)
Dan
(26)
Sehingga
(27)
Jadi perubahan entropinya positif S > 0, sebagaimana mestinya bila sebuah proses
pencampuran terjadi. Sekarang seandainya kedua gas ideal dalam kedua bagian sistem tadi
adalah gas-gas ideal yang identik. Perhitungan untuk perubahan entropi dengan
menggunakan pers. (22) akan menghasilkan hasil yang sama, yaitu tetap S > 0. Akan tetapi
hasil ini tidak mungkin benar, karena setelah dinding pembatas dihilangkan, bila kedua
bagian adalah gas yang sama, tidak akan terhadi proses makroskopis yang dapat terdeteksi.
Kita dapat juga meletakkan dinding pembatas kembali dan mendapatkan keadaan awal
semula, tanpa membutuhkan proses lain. Jadi prosesnya adalah proses yang dapat balik
(reversibel ), sehingga seharusnya S = 0.
Secara lebih detil, dalam mekanika klasik, partikel-partikel secara prinsip dapat
dibedakan. Kita dapat melabeli partike-partikel, sehingga untuk kasus diatas kita dapat
memberi nomer partikel ke-1 sampai ke-N
A
untuk partikel yang ada di bagian A, dan partikel
ke-N
A
+ 1 sampai partikel ke-N
A
+ N
B
untuk partikel yang ada di bagian B. Ketika dinding
pemisah dihilangkan, partikel-partikel akan bergerak secara acak ke semua arah memenuhi
seluruh wadah. Kita tidak akan dapat mengembalikan ke kondisi awal sesuai pelabelan
partikel sebelum dinding pemisah dihilangkan. Inilah yang menyebabkan perubahan
entropinya positif. Sebaliknya dalam tinjauan mekanika kuantum, argumen semacam ini tidak
berlaku. Karena secara prinsip kita tidak akan dapat melabeli partikel-partikel. Partikel-
partikel secara prinsipil tak terbedakan.

3. BOBOT STATISTIK
Andaikan N buah molekul terbagi ke dalam n bilik dimana masing-masing bilik berisi
N
1
,N
2
. . .N
n
molekul, maka jumlah keadaan mikroskopik dapat dihitung sebagai berikut
(28)
dimana biasa juga disebut sebagai bobot statistik (Statistical weight). Faktorial dari
bilangan yang ordenya hingga 10
23
akan sangat besar sehingga perlu teknik khusus untuk
menghitungnya. Kita akan menggunakan pendekatan Stirling yaitu
ln x! = x ln x x
Elaborasi
Rumus Stirling dalam Persamaan di atas sebenarnya merupakan pengintegralan sederhana
sebagai berikut

Selanjutnya, kita akan merumuskan entropi yang secara mekanika statistik didensikan
sebagai
S = k ln (29)
Dengan menggunakan rumus Stirling, diperoleh
(30)
Jumlah molekul yang berada pada bilik ke-i tentu saja berubah setiap saat. Akan tetapi
pada saat entropi maksimum, maka perubahan bobot statistik maksimum max akibat
perubahan dari N
i
adalah nol. Jika bobot statistik maximum, logaritmanya juga maximum,
sehingga
(31)
Suku pertama dari sini hasilnya lenyap sebab
(32)
Alasan kenapa
i
= 0, terkait dengan kenyataan bahwa jumlah molekul tetap, pertambahan
jumlah dalam suatu bilik adalah akibat pengurangan pada bilik yang lain. Implikasinya,

Perlu diperhatikan bahwa N tidak saling bebas karena
(33)
yang merupakan persamaan syarat pertama. Karena sistem yang ditinjau merupakan sistem
terisolasi dimana energi dalamnya tetap, maka
(34)
Variasi dari persamaan ini menghasilkan persamaan syarat yang kedua (yang pertama adalah
Pers. 33).
(35)
Dengan alasan yang sama saat mebahas distribusi kecepatan molekuler, kita
menggunakan pengali Lagrange, dalam hal ini ln dan , sehingga diperoleh
(36)
Karena telah dikalikan dengan pengali Lagnrange, Ni dalam persamaan di atas secara efektif
sudah saling bebas sehingga untuk setiap nilai i berlaku

yang menghasilkan
(37)
Karena
i
= N, berarti
(39)
dimana Z disebut sebagai fungsi partisi. Persamaan untuk N
i
dalam (37) dapat dituliskan
sebagai
(40)
Hubungan antar fungsi partisi dan entropi dapat ditelusuri dari bobot statistik sebagai berikut
(41)
Apabila ke dalam persamaan terakhir ini dimasukkan

dan

, diperoleh
(42)
Di sini kita mulai dapat memperkenalkan konsep temperatur yang muncul murni dari
peninjauan sika statistik.
Contoh soal:
Telusuri perolehan hubungan berikut:

Solusi
Dari Hk. I termodinamika,
dU = dQ PdV = TdS PdV
sehingga dengan menandai U(S,V) diperoleh

Dengan demikian diperoleh

Dari Pers. 42 dan melalui turunan parsial S terhadap energi dalam U

Dari hubungan antara U,Z dan N
i
diperoleh

Ternyata dari hubungan terakhir ini dapat diperoleh

Dengan demikian berdasarkan distribusi Maxwell-Boltzaman, jumlah molekul pada tingkatan
energi adalah

Dan fungsi partisi

Fungsi partisi Z dapat dianggap sebagai pembangkit sebab melalui Z semua fungsi
termodinamik dapat diperoleh. Contohnya,

Juga dari hubungan 42 diperoleh

Juga dari F = U TS diperoleh
F = - nkT ln Z
dimana F adalah energi bebas Helmholtz. Dengan demikian tinjaun mekanika statistik
memungkinkan perolehan hubungan-hubungan termodinamika yang diturunkan langsung
dari experimen. Sebagai contoh, kita akan menggunakan statistik MB untuk menghitung
entropi gas ideal.
Statistik Bose Einstein

Gambar 2: Keadaan Makro dan Mikro untuk statistik BE
Perumusan distribusi BE dari bobot statistik harus memperhitungkan kenyataan
bahwa partikel tidak lagi dapat dibedakan (indistinguishable). Pertukaran partikel antar bilik,
karena partikelnya tak-terbedakan tidak menyebabkan perbedaan keadaan mikro. Sebab itu,
cara perhitungan bobot statistik untuk Bose Einstein berbeda dengan Maxwel Boltzman.
Dalam diagram yang ditunjukkan oleh Gbr. 2 molekul digambarkan sebagai lingkarang kecil,
bukan huruf. Pada bagian sebelah kiri mengingatkan kita pada statistik BM, dimana N =
4 dan N
1
= 1 dan N
2
= 3. Tetapi karena partikelnya tidak terbedakan, jumlah keadaan mikro
yang bersesuaian dengan keadaan makro ini hanya satu. Pada bagian kanan diperlihatkan
bahwa partikel N
1
= 3 membagi diri ke dalam sub-bilik sehingga menghasilkan jumlah sub-
bobot statistik

dan untuk . Bobot statistik untuk N = 4, N


1
= 1 dan N
2
= 3 , dengan
jumlah sub-bilik pada E
1
adalah 2 dan sub-bilik untuk E
2
adalah 2. Di sini terlihat bahwa
bobot statistik untuk sistem yang terdiri atas tingkatan energi adalah

(42)

Penamaan statistik Bose-Einstein berhubungan dengan kenyataan bahwa partikel yang
ditinjau adalah partikel boson, yaitu yang memiliki momen magnetik intrisik (spin) bulat.
Partikel tidak diatur oleh larangan Paulisehingga dapat berada pada tingkat energi yang sama
dengan yang lainnya. Seperi dalam gambar, masih dimungkinkan jumlah partikel berada pada
sub bilik yang sama lebih dari dua.
Partikel yang mengikuti prinsip larangan Pauli disebut fermion dan hanya boleh
berada pada bilik yang sama maximum dua, dan statistiknya disebut statitistik Fermi-Dirac. .
Spin dari fermion adalah bilangan rational, yaitu dimana adalah bilangan bulat.
Andaikan terdapat N partikel boson yang terbagi ke dalam tingkatan energi. Pada masing-
masing tinkatan energi E
i
terdapan N
i
partikel. Jika jumlah sub-bilik dalam masing-masing
tingkatan energi adalah seragam, yaitu maka bobot statistiknya adalah

(43)

Sama dengan prosedur sebelumnya,

(44)

Dengan menggunakan rumus Stirling diperoleh

(45)


Untuk entropi maksimum, maka variasi, sehingga

(46)

Jika jumlah partikel dan energi total tetap, maka diperoleh keadaan berikut

(47)

Dengan menggunakan pengali Lagrange ln dan diperoleh

(48)

Akhirnya diperoleh distribus BE, yaitu

(49)

Statistik BE dan MB memiliki pola yang sama, bedanya, ruas kiri adalah jumlah titik
representasi dalam kompartmen serta pada ruas kanan penyebutnya dikurangkan . Seperti
juga dalam statistik MB, pengali = 1/kT, yang diperoleh dari
hubungan .

4. KESEIMBANGAN SISTEM
Termodinamika klasik meliputi keadaan kesetimbangan dinamis. Keadaan lokal dari
suatu sistem pada kesetimbangan termodinamika ditentukan oleh nilai dari parameter
intensifnya, seperti tekanan dan suhu. Untuk lebih spesifik, kesetimbangan termodinamika
dikarakteristikkan oleh potensial termodinamika minimum, seperti energi bebas Helmhlotz,
yaitu sistem pada suhu dan volume sama:
A = U - TS;
atau energi bebas Gibbs, yaitu sistem dengan tekanan dan suhu tetap:
G = H - TS.
di mana T = suhu, S = entropi, U = energi dalam dan H= entalpi. Energi bebas Helmholtz
sering dinotasikan dengan simbol F, tetapi penggunaan A dipilih oleh IUPAC [2]. Proses
yang mengatur suatu kesetimbangan termodinamika disebut termalisasi. Suatu contoh adalah
suatu sistem dengan partikel yang berinteraksi tidak terganggu oleh pengaruh luar. Dengan
interaksi, mereka akan menggabungkan energi/momentum di antara mereka dan mencapai
suatu keadaan di mana statistik umum tidak berubah terhadap waktu.
Keadaan Kesetimbangan
Dengan melihat bentuk turunan dari potensial termodinamika, hubungan berikut dapat
diturunkan:
Untuk sistem terisolasi sempurna, S = 0 pada kesetimbangan.
Untuk sistem dengan suhu dan volume tetap, A = o pada kesetimbangan.
sistem dengan suhu dan tekanan tetap, G = 0 pada kesetimbangan.
Jenis lain dari kesetimbangan yang dicapai adalah sebagai berikut:
Dua sistem dalam kesetimbangan termal saat suhu sama.
Dua sistem dalam kesetimbangan mekanik saat tekanan mereka sama.
Dua sistem dalam kesetimbangan difusi saat potensial kimia mereka sama.
Semua pengaruh seimbang.
Keseimbangan Lokal dan Global
Adalah penting untuk membedakan antara kesetimbangan termodinamika global dan
lokal. Dalam termodinamika, perubahan dengan sistem dan antara sistem dan luar dikontrol
oleh parameter intensif. Sebagai contoh, suhu mengontrol perubahan panas. Kesetimbangan
Termodinamika global berarti bahwa parameter intensif itu homogen dalam sistem
keseluruhan, sedangkan kesetimbangan termodinamika lokal berarti parameter intensif
bervariasi dalam ruang dan waktu, tetapi variasi itu dengan pelan untuk setiap titik, yang
dapat mengasumsikan kesetimbangan dalam kesetimbangan termodinamika dalam
lingkungan titik tersebut.
Jika gambaran sistem dengan variasi dalam parameter intensif begitu luas, banyak
asumsi sebelumnya yang mana definisi parameter intensif ini akan rusak, dan sistem tidak
pernah akan berada dalam kesetimbangan global maupun lokal. Contohnya, suatu jumlah
tabrakan yang pasti untk suatu partikel untuk setimbang pada lingkungannya. Jika jarak rata-
rata partikel yang telah bergerak selama tabrakan menghilang dari lingkungan yang
setimbang, dia tidak pernah akan setimbang dan tidak ada kesetimbangan termodinamika
lokal. Secara definisi, suhu adalah perbandingan rata-rata energi dalam dari suatu lingkungan
yang setimbang. Karena tidak ada lingkungan yang setimbang, konsep suhu salah, dan suhu
menjadi tak terdefinisi.
Adalah penting untuk diingat bahwa kesetimbangan lokal hanya dapat diaplikasi pada
suatu subset pasti dari partikel-partikel dalam sistem. Contohnya, Kesetimbangan
Termodinamika Lokal biasanya hanya diaplkasikan pada partikel besar. Dalam gas yang
memancar, foton-foton yang sedang dipancarkan dan diserap oleh gas tidak perlu berada
dalam kesetimbangan termodinamika dengan masing-masing atau dengan partikel-partikel
besar dari gas agar kesetimbangan termodinamika lokal ada. Pada kasus yang sama, tidak
perlu diperhatikan elektron bebas yang ada dalam kesetimbangan dengan atom-atom dan
molekul yang lebih banyak agar kesetimbangan termodinamika lokal ada.
Sebagai contoh, kesetimbangan termodinamika akan selalu ada dalam suatu gelas
yang beridi air yang mengandung es balok yang melebur. Suhu di dalam gelas dapat
didefinisikan pada suatu titik, tetapi dia lebih dingin dekat es balok daripada jauh darinya.
Jika energi molekul ditempatkan dekat suatu titik yang diberi diobservasi, mereka akan
didistribusikan menurut distribusi Maxwell-Boltzmann untuk suhu tertentu. Jika energi-
energi molekul didetempatkan ekat titik yang lain diamati, mereka akan didistribusikan
menutur distribusi Maxwell-Boltzman untuk temperatur lainnya.
Kesetimbangan termidinamika lokal tidak mempertimbangkan stasioner lokal dan
global. Dengan kata lain, masing-masing lokalitas kecil tidak membutuhkan suhu yang tetap.
Tetapi, dia memerlukan masing-masing perubahan lokalitas kecil secara perlahan untuk
menopang dengan praktis distribusi Maxwell-Boltzman lokal kecepatan molekul. Suatu
keadaan ketidaksetimbangan dapat menjadi stasioner stabil jika dipertahankan oleh
perubahan di anatara sistem dan linkungan. Contohnya, statisoner yang stabil secara global
dapat dipertahankan di bagaian dalam gelas yg berisi air dengan penambahan bubuk halus ke
dalamnya agar mengimbangi titik leburnya, dan secara tetap pengeringan lelehan air.
Fenomena transport adalah proses yang mengatur bentuk sistem kesetimbangan
termodinamika lokal ke global. Kembali lagi pada contoh, difusi panas akan mengatur gelas
terhadap kesetimbangan termodinamika, suatu keadaan dengan suhu gelas homogen
sempurna.
Jenis-Jenis Keseimbangan
1. Kesimbangan Termal
Kesetimbangan termal dicapai ketika dua sistem dalam termal kontak dengan masing-
masing berhenti untuk memperoleh net perubahan energi. Ini berarti bahwa jika dua sistem
dalam kesetimbangan termal, suhu mereka sama. Kesetimbangan termal terjadi ketika suatu
sistem termal mokroskopik yang teramati telah berhenti untuk perubahan waktu. Contohnya,
suatu gas ideal dengan fungsi distribusi telah stabil pada suatu distribusi Maxwell-Boltzmann
dalam kesetimbangan termal. Kesetimbangan termal dari suatu sistem tidak berarti mutlak
tidak seragam dengan sistem; contohnya, sebuah sistem sungai dapat berada dalam
kesetimbangan termal saat distribusi suhu makroskopik stabil dan tidak berubah terhadap
waktu, mesekipun distribusi temperatur spasial merefleksikan masukan polusi termal.
2. Kesetimbangan Kuasistatik
Kesetimbangan kuasistatik adalah keadaan kuasi-setimbang dari suatu sistem
termodinamika mendekati kesetimbangan termodinamika, dalam beberapa arti. Dalam proses
kuasistatik atau kesetimbangan, transisi perlahan yang memadai dari sistem termodinamika
dari keadaan kesetimbangan ke keadaan lain yang terjadi seperti pada setiap keadaan sistem
yang mendekati keadaan kesetimbangan. Selama proses kuastatic, sistem mencapai
kesetimbangan lebih cepat, hampir seketika, dari parameter fisik yang bervariasi.


















DAFTAR PUSTAKA
C. Michael Hogan, Leda C. Patmore and Harry Seidman (1973) Statistical Prediction of
Dynamic Thermal Equilibrium Temperatures using Standard Meteorological Data
Bases, Second Edition (EPA-660/2-73-003 2006) United States Environmental
Protection Agency Office of Research and Development, Washington DC
F. Mandl (1988) Statistical Physics, Second Edition, John Wiley & Sons
http://www.unhas.ac.id/mkufisika/mekstat/node80.html Tasrief Surungan 2010-02-16
Surungan, Tasrief, 2011, Fisika Statistika Diktat Perkuliahan, Jurusan Fisika FMIPA,
Universitas Hasanudi
Sudjito, Saifuddin Baedoewie, Agung Sugeng, _____, Diktat TERMODINAMIKA DASAR,
[pdf] (http://mesin.ub.ac.id/diktat_ajar/data/02_c_bab1n2_termo1.pdf, diakses
tanggal 28 Agustus 2014-08-2014)