Anda di halaman 1dari 5

PEMBUATAN GIGI TIRUAN BERBASIS BAHAN PORSELEN

DAN PENGUJIAN SIFAT FISISNYA



Ihfa Indira Nurnaifah, Nurlaela Rauf dan Dahlang Tahir

Sari Bacaan
Telah dilakukan pembuatan gigi tiruan berbasis porselen dari bahan feldspar asal
Pantai Tanjung Bira, Kab. Bulukumba dan kaolin serta kuarsa dan pengujian sifat fisisnya.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuh macam komposisi dengan temperature pembakaran
yang bervariasi yaitu 800C, 900C dan 1000C. Pengujian sifat fisisnya melalui dua tahap
utama yaitu pengujian ukuran butir dan pengukuran komposisi kimia sebelum pembakaran
sampel, sedangkan pengukuran susut bakar dan kekerasannya setelah tahap pembakaran.
Hasil yang diperoleh menunjukkan sifat fisisnya yaitu susut bakar dan kekerasannya
meningkat seiring bertambahnya suhu pembakaran.

Kaca kunci : Gigi Tiruan, Porselen, Ukuran Butir, Susut Bakar, Kekerasan.

Pendahuluan
Keramik pada mulanya digunakan
untuk pembuatan barang pecah belah,
kemudian pada tahun 1717, Reamur
mencoba mengkombinasi bahan kaolin
pada keramik dengan bahan silika dan
feldspar; dari kombinasi ini ditemukan
keramik yang bersifat translusen dan
memiliki strength yang lebih baik dan
dapat digunakan sebagai bahan restorasi
gigi.

Bahan gigi tiruan umumnya
membutuhkan biaya yang besar karena
harus diimpor. Padahal bahan porselen
banyak di Indonesia. Sebelumnya,
Sessavtyn (2009) telah melakukan
penelitian tentang pembuatan gigi tiruan
dengan bahan yang diambil dari kekayaan
alam Indonesia. Namun, kombinasi
komposisinya masih belum sempurna.
Pada penelitian ini kandungan SiO
2
dan
CaO ditambahkan ke dalam komposisi
tersebut.

1. Tinjauan Pustaka
1.1 Defenisi Keramik
Keramik berasal dari kata keramikos
yang berarti bahan yang terbakar. Sifat
keramik didapat melalui campuran kaolin,
kuarsa, feldspar pada proses heat
treatment yang terjadi pada suhu tinggi
(firing) (Sutrisno, 2012).


1.2 Komposisi Porselen Gigi
a. Feldspar
Feldspar adalah mineral alam yang
mengandung potas, alumina dan silica,
merupakan mineral yang berasal dari batu
karang yang ditumbuk (Mahriadi, 2001).

b. Kuarsa
Batu kuarsa adalah batu kristal
mineral yang terbuat dari silicon dioksida,
mineral ini memiliki struktur kristal
heksagonal (Edy, 2009).

c. Kaolin
Kaolin adalah mineral yang terdapat
pada batuan sedimen dikenal dengan nama
batu lempung (Kurniawan, 2012).
Berikut ini adalah standar komposisi
kimia bahan porselen pada beberapa
aplikasi keramik gigi (Anusavice, 2004).
Tabel 1. Komposisi Kimia dari Porselen
Gigi



1.3 Sifat Fisis Porselen Gigi.
a. Kehalusan Butir
Sifat Fisis pada proses pembentukan
dan pengeringan serta sifat-sifat setelah
dibakar sangat dipengaruhi oleh kehalusan
butir lempung. Untuk menentukan besar
dan kehalusan butir dipakai bermacam-
macam alat saringan dengan luas lubang
bervariasi (Day, 1987).

b. Susut Bakar
Susut bakar ialah proses penyusutan
dari barang yang terbuat dari tanah yang
telah kering setelah dibakar. Selama proses
pembakaran, semua sisa air akan menguap
dan disertai dengan hilangnya bahan
pengikat. Besarnya susut bakar untuk
keramik gigi < 40 % (Rovani, 2004).
Susut bakar dari porselen gigi dapat
dihitung menggunakan rumus berikut (HS,
2004):


c. Kekerasan (Hardness)
Kekerasan adalah kemampuan dari
suatu bahan untuk menerima tekanan
benda keras. Kekerasan dapat dihitung
baik berdasarkan pada dalamnya maupun
luas daerah yang ditekan. Hasil tekanan
yang kecil menunjukkan bahan tersebut
keras, demikian sebaliknya. (Rovani,
2004).


2. Metodologi
2.1 Bahan
Bahan terdiri dari pasir feldspar
diambil dari pantai Tanjung Bira Desa
Bira, Kecamatan Bonto Bahari Kabupaten
Bulukumba. Pasir kuarsa dan kaolin
merupakan bahan (material teknis)
komersial yang dibeli.







2.2 Bagan Alir Prosedur Kerja

















3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Uji Kimia
Penelitian dimulai pada pengujian
sifat kimia bahan porselen. Berikut ini
adalah hasil uji kimia bahan tersebut.
Tabel 2. Hasil XRF Komposisi Kimia
Bahan Porselen Gigi


Kandungan kadar SiO
2
dalam feldspar
yang dipilih adalah 2.82%, ini berarti
bahwa kandungan SiO
2
-nya masih di
bawah standar yang digunakan untuk
pembuatan porselen gigi yaitu 62.2%.
MULAI
Persiapan Bahan
1. Feldspar
2. Kuarsa
3. Kaolin
4. Liquid
Uji Kimia
Uji kadar
oksida bahan
poreselen
dgn XRF
Uji Fisis
Uji kehalusan
butir bahan
porselen dgn
ayakan
Pembuatan sampel dengan berbagai
komposisi
(2:4:2, 2:5:3, 2:5:2, 2:6:2, 2:6:3)
Uji sampel sebelum pembakaran
Pengukuran volume kering sampel
Pengeringan sampel pada suhu 100C
Uji sampel setelah pembakaran
Pengukuran volume bakar sampel
Penentuan susut bakar sampel
Penentuan koefisien ekspansi termal
Pengukuran kekerasan sampel
Pembakaran sampel pd tiga variasi suhu
HASIL
SELESAI
Oleh karena itu, ditambahkan kuarsa dan
kaolin yang mempunyai kadar SiO
2
tinggi
dengan harapan dapat memenuhi standar
sesuai dengan fungsi SiO
2
sebagai
pembentuk badan keramik.
Kadar Al
2
O
3
dalam feldspar dan
kuarsa sangat jauh dari standar yang
digunakan untuk pembuatan porselen gigi
yaitu 18.7%. Tetapi, kadar alumina dalam
kaolin cukup tinggi yaitu 43.0%.
CaO merupakan unsur penyusun gigi,
maka dari itu kandungan CaO diharapkan
tinggi. Kadar CaO terbesar diperoleh dari
feldspar yaitu 47.6%, sedangkan pada
kuarsa dan kaolin masing-masing hanya
1.20% dan 0.11%.
Maka dibuatlah beberapa komposisi
untuk mencari komposisi terbaik
berdasarkan hasil XRF-nya. Gabungan
dari campuran komposisi terbaik
terangkum dalam tabel berikut.

Tabel 3. Gabungan Hasil XRF Komposisi
Kimia Campuran Bahan Porselen Gigi
Hasil yang diperoleh seperti terlihat
pada tabel 3 dimana kadar SiO
2
cukup
mendekati standar yaitu berkisar pada
55.64% - 63.76%. Kadar Al
2
O
3
ada yang
mendekati standar dan ada pula yang agak
jauh dari standar yaitu berkisar pada
12.00% - 17.34%. Sedangkan kadar CaO
cukup baik yaitu berkisar pada 9.97% -
14.61%.


3.2 Uji Fisika
Kehalusan Butir Bahan Porselen
Bahan porselen diuji kehalusan
butirnya dengan mengambil sampel
masing-masing 100 gr kemudian diayak
dengan berbagai variasi ukuran diameter
ayakan. Hasilnya seperti terlihat pada
diagram berikut.

Gambar 1. Diagram Ukuran Butir Bahan
Porselen
Gambar 1 menunjukkan bahwa
kehalusan butir feldspar tidak cukup halus,
terbukti dengan terlalu banyaknya bahan
yang tertahan pada ayakan dengan
diameter 0.17 mm yaitu dengan kumulatif
massa lolos hanya 27.61 gr. Dan yang
lolos pada ayakan dengan ukuran paling
kecil dengan diameter 0.09 mm sangat
sedikit, yaitu hanya 4.70 gr. Bahan yang
lolos dari ayakan menunjukkan bahwa
ukuran butir bahan memiliki diameter
yang lebih kecil dibandingkan diameter
ayakan (mesh). Dengan demikian terlihat
bahwa feldspar yang digunakan tidak
terlalu halus sebab hanya sebagian kecil
yang lolos dari ayakan dengan ukuran
diameter paling kecil.
Begitu pun dengan kuarsa banyak
bahan yang tertahan pada ayakan dengan
diameter 0.17 mm dengan kumulatif massa
lolos hanya 10.7 gr. Dan yang lolos pada
ayakan dengan ukuran paling kecil yaitu
ayakan dengan diameter 0.09 mm sangat
sedikit, yaitu hanya 5.92 gr. Akan tetapi,
dibandingkan dengan feldspar, ukuran
butir kuarsa lebih halus sebab lebih banyak
massa yang lolos pada diameter paling
kecil.
Sama halnya dengan kaolin, juga
banyak bahan yang tertahan pada ayakan
dengan diameter 0.17 mm dengan
kumulatif massa lolos hanya 4.39%.
Bahkan pada ayakan dengan diameter
paling besar yaitu 0.3 mm sudah cukup
banyak yang tertahan. Dan yang lolos pada
ayakan dengan ukuran paling kecil yaitu
dengan diameter 0.09 mm sangat sedikit.
Dibandingkan dengan kuarsa, kaolin
memiliki ukuran butir yang lebih besar
sedangkan jika dibandingkan dengan
feldspar, kaolin lebih halus.
Susut Bakar
Hasil pengukuran susut bakar seperti
terlihat pada diagram berikut.

Gambar 2. Diagram Susut Bakar.
Pada gambar 2, jelas terlihat bahwa
pada suhu 900C, susut bakarnya sesuai
yang diinginkan yaitu kurang dari 30%,
karena pada suhu antara 800-900C terjadi
proses sintering, yaitu saling mendekatnya
partikel-partikel tanah bahan porselen
menjadi struktur yang sangat kuat, tetapi
belum melebur. Pada dasarnya sintering
adalah peristiwa penghilangan pori-pori
antara bahan, pada saat yang sama terjadi
penyusutan komponen, dan diikuti oleh
peningkatan ikatan antar partikel yang
berdekatan, sehingga menghasilkan bahan
yang mapat/kompak. Pada suhu 867C
mengalami rekonstruktif transformasi dari
struktur heksagonal menjadi trydimite
kristalin. Sehingga pada suhu tersebut
sampel mengalami penyusutan yang tidak
lebih dari 30%. Sedangkan pada suhu
1000C penyusutannya lebih besar lagi,
akan tetapi belum diketahui dengan pasti
formasi strukturnya.




Kekerasan (Hardness)


Tabel 4. Satuan Nilai Pengukuran
Hardness Tester
H berarti Hardness, R adalah Rockwell
dan huruf terakhir adalah Skala yang
tergantung dari penetrator dan besarnya
beban yang digunakan untuk mengukur
nilai kekerasan sampel. Sebagai contoh,
jika kita menggunakan penetrator 1/8 Ball
dan beban sebesar 60 kg maka satuan dari
nilai yang terukur adalah HRH, begitupun
untuk HRE, HRD dan sebagainya.

Hasil uji kekerasan

Tabel 5. Hasil Pengukuran Kekerasan
(Hardness)
Suhu pembakaran 800C mempunyai
skala paling rendah, artinya nilai
kekerasannya sangat rendah karena hanya
mampu terukur pada penetrator 1/8 Ball
dan beban sebesar 60 kg. Sedangkan pada
temperatur 900C bisa terukur pada
penetrator yang sama tetapi bebannya 100
kg. Adapun untuk suhu 1000C penetrator
yang digunakan adalah Diamond dengan
beban sebesar 100 kg.



4. Kesimpulan
a) Hasil pengukuran sifat kimia bahan
porselen dengan bahan feldspar dapat
digunakan untuk membuat gigi tiruan
berbasis porselen.
b) Bahan dasar porselen dapat melewati
ayakan dengan diameter 0,09 mm.

Hasil pengukuran susut bakar pada
sampel bervariasi. Sebagian besar
sampel mengalami penyusutan kurang
dari 30%.

Nilai kekerasan yang terukur pada
sampel uji bervariasi, tergantung dari
suhu pembakarannya.

c) Temperatur pembakaran mempengaruhi
sifat fisis porselen. Susut bakar,
koefisien ekspansi termal dan
kekerasannya meningkat seiring
bertambahnya suhu pembakaran.

5. Saran
Perlu penyelidikan lebih lanjut
mengenai struktur mikroskopik
sebelum dan setelah pembakaran untuk
mengetahui pengaruh perubahan suhu
terhadap struktur dalam badan porselen
gigi.

DAFTAR PUSTAKA
Anusavice, KJ. 2004. Phillips: Buku Ajar
Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Edisi 10.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Day, M. Claye. 1987. Kimia Anorganik
Teori. Yogyakarta: Penerbit Gadjah
Mada University press.
Edy. 2009. Batu Kuarsa (Batu Quartz).
http://elevenmillion.blogspot.com/2009/0
9/batu-kuarsa-batu-quartz.html. Diakses
pada hari Rabu, 29 Feb 2012 pkl 22:10.
Kurniawan, Fadhli.
http://www.scribd.com/doc/82257817/Ka
olin-Adalah-Mineral-Yang-Terdapat-Pada-
Batuan-Sedimen-Dikenal-Dengannama-
Batu-Lempung 5;55. Diakses pada hari
Rabu, 3 Oktober 2012 pkl 07:07.
Mahriadi. 2001. Pembuatan dan
Karakterisasi Fisis Keramik dengan Zat
Adiktif Serbuk Tulang. Jurusan Fisika
Fakultas MIPA Universitas
Hasanuddin: Makassar.
Rovani, Peter. 2004. Dental Material and
Their Slection. 3
rd
ed. Canada:
Quintessence Publishing Co, Inc.
Sutrisno, Gatot.
http://staff.ui.ac.id/internal/130536743/m
aterial/6-ceramic-preparasi.pdf. Diakses
pada hari Rabu, 2 Feb 2012 pkl 22:13.
Tipler, A. Paul. 1998. Fisika Edisi Ketiga.
PT. Erlangga: Jakarta.