Anda di halaman 1dari 46

Pleno Pemicu 3

(OBESITAS)
KELOMPOK DISKUSI 6
ANGGOTA
Ryan Arifin (I11110011)
Edi Kurnawan (I11110013)
Yudo Prabowo (I11110017)
Bakri Bayquni (I11110010)
Esti Nur Ekasari (I11110025)
Irene Eka Renata S (I11110020)
Grace Sheila Lames (I11110021)
Sri Nowo Minarti (I11110042)
Angnes Dera Mustika (I11110001)
Asep Nurman Hidayat (I11110054)
Tuti Marinus (I11108069)
Hengli (I11108075)
Riris Putri .M Sinaga (I11107047)
Galatia Nugraha (I11109053)
Yusdita Oktavia (I11110030)

Pemicu 3
Ale, seorang anak tunggal, laki-laki, usia 9
tahun 3 bulan, mempunyai tinggi badan 140
cm dan berat 45 kg. Sejak usia enam tahun,
nafsu makannya berlebihan. Ale mempunyai
kebiasaan jajan di sekolah. Hampir setiap
hari ia makan hamburger dan hot dog. Selain
itu, Ale sering mengkonsumsi es krim. Di
rumah, Ale gemar menonton televisi dan
bermain video game sampai lupa belajar.
Pergi dan pulang sekolah selalu diantar naik
kendaraan pribadi. Olahraga hanya dilakukan
pada jam yang dijadwalkan di sekolah.
Ayahnya bekerja sebagai direktur di sebuah
perusahaan. Pada pemeriksaan fisis tampak
tungkai bawah melengkung seperti huruf O.

KLARIFIKASI DAN DEFINISI
Tungkai adalah potongan anggota
gerak bawah di antara lutut dan
pergelangan kaki
Obesitas adalah keadaan patologis
berupa penimbunan lemak yang
berlebihan dan yang diperlukan untuk
fungsi tubuh yang normal
Genu varum adalah melengkungnya
tibia ke arah lateral sehingga
membentuk huruf biasanya terjadi
pada anak

KEYWORD
Anak laki-laki 9 tahun 3 bulan
Tinggi badan = 140 cm, berat badan =
45 kg
Sejak usia 6 tahun, nafsu makan
berlebihan
Kebiasaan jajan
Makan junk food dan es krim
Kurang aktifitas fisik
Genu varum
Ayahnya seorang direktur
Status gizi = obesitas (diukur melalui
kurva NCHS)

RUMUSAN MASALAH
Apa saja faktor yang mempengaruhi
obesitas dan dampak terhadap
pertumbuhan dan perkembangan
anak tersebut?


Analisis Masalah

Anak laki-laki, 9 tahun 3 bulan
Anamnesis Pemeriksaan fisik
Sejak usia 6 thn,
nafsu makan ber-
lebih (kemung-
kinan kelainan
hipotalamus )
Sering meng -
konsumsi junk
food, dll.
(asupan kalori
berlebih)
Main game dan
jarang olahraga
(penggunaan
kalori kurang)
BB = 45 kg
TB = 140 cm
Genu varum
Penilaian melalui
kurva
Obesitas
Patofisiologi
Komplikasi
Penyebab
Faktor lain Tata laksana
Prognosis
? ? ?
HIPOTESIS
Obesitas dipengaruhi oleh faktor
endogen (genetik, hormon) dan
eksogen (sosial, ekonomi, aktifitas
fisik, nutrisi, perilaku) dan dampaknya
terhadap pertumbuhan dan
perkembangan adalah gangguan
pertumbuhan fisik dan perkembangan
motorik.

LEARNING ISSUES
1. Obesitas
-Definisi -Komplikasi
-Etiologi -Penatalaksanaan
-Patofisiologi -Prognosis
-Gejala klinis -Epidemiologi

2. Asupan gizi seimbang pada anak SD
3 Penilaian status gizi pada anak
4. Fisiologi rasa lapar dan kenyang
5. Dampak obesitas pada pertumbuhan dan perkembangan anak
6. Genu varum
7. Jalur penyimpanan energi
8. Patofisiologi dan komplikasi blount disease

Obesitas
Definisi
Obesitas didefinisikan sebagai suatu
kelainan atau penyakit yang ditandai
dengan penimbunan jaringan lemak
tubuh secara berlebihan.
Obesitas merupakan peningkatan
berat badan melebihi batas kebutuhan
rangka dan fisik, sebagai akibat
akumulasi lemak berlebihan dalam
tubuh.

WHO. Obesity: Preventing and Managing The Global Epidemic, WHO Technical Report Series 2000; 894, Geneva.
Kamus Kedokteran Dorland Edisi 28. EGC: Jakarta
Etiologi
Faktor genetik
aktifitas fisik
Faktor lingkungan nutrisi
sosial ekonomi


1. Kurva BMI / IMT digunakan mulai usia 2 20 tahun

2. Rumus BMI / IMT = BB (kg)
TB2 (m)

3. Interpretasi BMI / IMT berdasarkan rumus di atas :
<18,5 = kurus
18,5-22,9 = normal
23-24,9 = over weight
25-29,9 = obea tipe 1
30 = obesitas tipe 2

4. Interpretasi BMI / IMT berdasarkan kurva NCHS-CDC :
P3-97 = normal
P50 = ideal
<P3 = kurang
>P97 = overweight


Penentuan status gizi merupakan penggabungan
dari kriteria :
- persentil BB (kurva NCHS-CDC)
- persentil PB atau TB (kurva NCHS-CDC)
- BB / usia
- PB atau TB / usia
- BB / PB atau TB
- BMI / IMT
- persentil BMI / IMT (kurva NCHS-CDC)


No
Indeks Interpretasi
Status Gizi
Kriteria
1 persentil BB
(kurva NCHS-CDC)
Kelebihan
Normal
Defisit
> P
90

P
10-90

< P
10

2 persentil PB atau TB
(kurva NCHS-CDC)
Normal
Perlu evaluasi
Perawakan pendek/gizi
buruk/ kell bawaan/
defisit berat
> P
10

P
5-10

< P
5

3 BB / usia Gizi lebih
Gizi baik
Gizi kurang
Gizi buruk
> 120%
80-120%
60-79%
<60%
4 PB atau TB / usia Normal / Baik
Kurang / pendek
Sangat kurang / sangat
pendek
90-110%
70-89%
< 70%
Patofisiologi
Berat badan meningkat dengan disertai akumulasi lemak obesitas
Lemak disimpan di adiposit pada jaringan subkutan dan rongga intraperitoneal
(hati dan jaringan tubuh juga menyimpan lemak)
Kelebihan energi/ kalori, disimpan sebagai lemak
Kelebihan 9,3 kalori + 1 gr lemak
Asupan kalori > pengeluaran energi
karena : nutrisi, kelainan hipotalamus, aktifitas fisik kurang
Gejala Klinis
Wajah hidung dan mulut relatif kecil
Abdomen membuncit dan
menggantung,
terkadang terdapat stria
Terdapat timbunan lemak di payudara
Genitalia seolah-olah kecil
Ekstremitas atas lengan atas besar,
jari-jari
relatif kecil dan runcing
Ekstremitas bawah paha besar,
terkadang terdapat kelainan seperti
blount disease
Lebih cepat mencapai pubertas
Komplikasi
Faktor resiko penyakit kardiovaskular
meliputi : peningkatan kadar insulin,
trigliserida, LDL-kolesterol dan TD
sistolik serta penurunan kadar HDL
Kolesterol.
Diabetes Melitus
Obstructive sleep apnea
Gangguan ortopedik
Pseudotumor serebri
Penatalaksanaan
Cari penyebab obesitas atasi
Diet asupan kalori < pengeluaran energi,
hingga BB yang ideal tercapai
Lakukan aktivitas fisik secara bertahap dan
teratur, misal : kurangi nonton TV dan main
video game, serta lakukan olahraga ringan
Mengubah pola hidup / perilaku
Obat-obatan, misal: amfetamin, sibutramin,
dan orlistat. Lebih sering digunakan pada
orang dewasa.
Peran serta orang tua, keluarga, teman dan
guru.
Prognosis
Bergantung pada penyebab dan
ada/tidaknya komplikasi
Jika berlanjut sampai dewasa
morbiditas dan mosrtalitas tinggi
Epidemiologi
Dari Survei NHANES IV, 1999-2002 :
16 % overweight
31 % beresiko overweight dan
obesitas

Peningkatan 3 kali lipat dbandingkan tahun
1960
Peningkatan 45% dibandingkan survei tahun
1988-1994

Asupan gizi seimbang pada
anak
Pengukuran langsung
Pengukuran tidak langsung

Parameter
pengukuran antropometri
BB
TB
LK
Interpretasi Status Gizi
Berdasarkan Tiga Indeks
Antropometri (BB/U,TB/U, BB/TB
Standart Baku Antropometeri WHO-
NCHS)
No
Indeks yang digunakan
Interpretasi
BB/U TB/U BB/TB
1 Rendah Rendah Normal Normal, dulu kurang gizi
Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++
Rendah Normal Rendah Sekarang kurang +
2 Normal Normal Normal Normal
Normal Tinggi Rendah Sekarang kurang
Normal Rendah Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang
3 Tinggi Tinggi Normal Tinggi, normal
Tinggi Rendah Tinggi Obese
Tinggi Normal Tinggi Sekarang lebih, belum obese
Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) : Sumber : Depkes RI 2004.
Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Fisiologi lapar dan kenyang
Kontrol pemasukan makanan
terutama dilakukan oleh hipotalamus
memiliki sepasang pusat nafsu makan
atau lapar yang terletak di bagian
lateral (luar) hipotalamus
satu pasang pusat kenyang yang
terlatak di bagian ventromedial
(bawah-tengah)
Sherwood, L. Keseimbangan Energi dan Pengaturan Suhu: Fisiologi
Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2001. 593-595
Perangsangan terhadap kelompok sel
saraf yang dianggap pusat nafsu
makan menyebabkan hewan
percobaan menjadi lapar dan makan
secara lahap
sementara destruksi selektif daerah
tersebut menekan perilaku makan dan
keinginan mencari makan sampai ke
tahap hewan tersebut mati kelaparan
Sherwood, L. Keseimbangan Energi dan Pengaturan Suhu: Fisiologi
Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2001. 593-595

Faktor yang mempengaruhi
pemasukan makanan
Intensitas produksi
kekuatan sel
Tingkat sekresi
kolesitokinin
Tingkat distensi
saluran pencernaan
Ukuran
simpanan
lemak
Tingkat pemakaian
glukosa
Pengaruh
neurotransmitter
Pengaruh psikososial
Sherwood, L. Keseimbangan Energi dan Pengaturan Suhu: Fisiologi
Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2001. 593-595
Genuvarum
Pengertian Genuvarum
Bowleg atau genu varum adalah
melengkungnya
tibia ke arah lateral. Hal ini secara klinis terlihat
ketika anak berdiri dengan posisi maleoli
medial
(tonjolan bundar pada kedua sisi pergelangan
kaki)
berlawanan satu sama lain dan jarak di antara
lutut
lebih besar kira-kira 5 cm. Anak bayi memiliki
kaki
melengkung seperti busur setelah mulai
berjalan
sampai punggung bawah dan otot-otot kaki
mereka
berkembang dengan baik

Wong, Donna L et all.2009.Buku Ajar Keperawayan Pediatrik Vol
1.Jakarta:EGC
Genu varum adalah istilah Latin yang
digunakan untuk menggambarkan kaki busur.
Kondisi ini dapat hadir dari bayi sampai
dewasa dan memiliki berbagai penyebab.
Karena menjadi lebih parah, pasien mungkin
menunjukkan dorong lutut lateral dan gaya
berjalan terhuyung-huyung. Genu varum
dapat menyertai kondisi sistemik, seperti
achondroplasia, D-tahan vitamin rakhitis,
osteodistrofi ginjal, dan osteogenesis
imperfecta-yang semuanya dapat
menyebabkan perawakan pendek.

Machen MS, Stevens PM. Should full-length standing anteroposterior radiographs replace the
scanogram for measurement of limb length discrepancy?. J Pediatr Orthop B. Jan 2005;14(1):30-7
Anak yang obesitas cenderung memiliki
bentuk kaki O (Genu Varum). Hal ini
dikarenakan kaki harus menopang berat
badannya yang berlebih. Dalam keadaan
normal, kaki anak bisa kembali normal jika
anak melakukan diet sejak usia balita.


Dampak Obesitas terhadap
Tumbuh Kembang
Aspek Psikososial
Obesitas mempunyai dampak terhadap
tumbuh kembang anak terutama
konsekuensinya terhadap aspek psikososial.
Anak laki-laki maupun perempuan dengan
obesitas merasa dirinya berbeda dari orang
pada umumnya karena kelebihan berat
badannya dan merasa tidak puas dengan
dirinya. Remaja dengan obesitas sering
mengalami depresi dan tidak percaya diri
sedangkan anak dengan obesitas usia
prasekolah lebih sering mengalami distress
emosional dan gejala psikiatrik

cdk vol 34 no 6/159 Nov-des 2007
Gangguan perkembangan motorik
Anak yang obesitas memiliki pergerakan
yang lambat. Sering terdapat kelainan
ortopedi seperti Legg-Perthee disease,
genu valgum, slipped femoral capital
epiphyses, tibia vara.




cdk vol 34 no 6/159 Nov-des 2007

Jalur penyimpanan energi
Sintesis Asam Lemak (Lipogenesis)
Sebagian besar sintesis asam lemak
berlangsung dalam sitoplasma sel-sel hepar
& jaringan adiposa.
Reaksi dimulai dgn membawa asetil KoA
keluar dari mitokondria melalui torak sitrat
(citrate shuttle).
Pembentukan asetil KoA sitosol tsb
dirangsang oleh rasio insulin/glukagon
setelah makan karbohidrat.
38
Lipogenesis
Insulin yang tinggi juga mengaktifkan enzim
berikutnya pada jalur ini, yaitu Komplek
Asam Lemak Sintase.
Produk dari jalur ini ialah palmitat (C16).
Palmitat dpt diperpanjang & didesaturasi
menjadi berbagai asam lemak.
39
Sintesis Triasilgliserol
Triasilgliserol pada hepar & jaringan adiposa
dibentuk melalui senyawa antara asam
fosfatidat (pada sel usus, triasilgliserol
berasal dari 2-monoasilgliserol).
Jaringan adiposa tidak memiliki gliserol
kinase, sehingga tidak bisa menggunakan
gliserol yang dihasilkan oleh LPL.
Insulin merangsang pembentukan LPL dan
metabolisme glukosa menjadi asam lemak
dalam jaringan adiposa.
40
Sintesis triasilgliserol
41
Hepar Hepar &
Jar. Adiposa
Gliserol Glukosa
Gliserol 3-P
Asam fosfatidat
Diasilgliserol
Triasilgliserol
VLDL Simpanan
adiposa
Sintesis Kolesterol
Kolesterol berfungsi sebagai komponen
stabilisasi membran sel, prekursor garam
empedu, & prekursor hormon steroid.
Disintesis hampir pada semua sel, terutama
hepar & usus.
Prekursor sintesis kolesterol ialah Asetil KoA.
Kecepatan sintesis kolesterol ditentukan oleh
enzim HMG-KoA reduktase.
Enzim ini dpt dihambat oleh obat anti
hiperkolesterolemia.
42
PENGERTIAN BLOUNT
DISEASE
Tibia vara kliopatik atau penyakit
bloom (bloom disease) adalah
gangguan yang jarang terjadi yang
ditandai oleh kelainan pertumbuhan
sisi media epifisis tibia proximal,
mengakibatkan agulasi varus progresif
dibawah lutut.
Blount Disease. (homepage on the Internet). USA : Medscape 2008 (cited : 2010
September 24). Avalaible from : http://emedicine.medscape .com/article/1250420-
overview
Penyakit Blount juga lebih sering
terjadi pada anak obesitas atau
kelebihan berat badan, karena berat
badan ekstra yang ditempatkan pada
tibia pada anak-anak menyebabkan
proses pertumbuhan tulang abnormal.
Kesimpulan
Obesitas dipengaruhi oleh faktor
endogen (genetik, hormon) dan
eksogen (sosial, ekonomi, aktivitas
fisik, nutrisi, prilaku) dan dampaknya
terhadap tumbuh kembang adalah
gangguan pertumbhan fisik.



TERIMA
KASIH