Anda di halaman 1dari 5

Proses Terbentuknya Iman & Taqwa

Benih iman yang dibawa sejak dalam kandungan memerlukan pemupukan


yang berkesinambungan. Benih yang unggul apabila tidak disertai pemeliharaan
yang intensif, besar kemungkinan menjadi punah. Demikian pula halnya dengan
benih iman. Berbagai pengaruh terhadap seseorang akan mengarahkan
iman/kepribadian seseorang, baik yang datang dari lingkungan keluarga,
masyarakat, pendidikan, maupun lingkungan termasuk benda-benda mati seperti
cuaca, tanah air, dan lingkungan flora serta fauna.
Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung maupun tidak langsung, baik
yang disengaja maupun tidak disengaja amat berpengaruh terhadap iman
seseorang. Tingkah laku orang tua dalam rumah tangga senantiasa merupakan
contoh dan teladan bagi anak-anak. Tingkah laku yang baik maupun yang buruk
akan ditiru anak-anaknya. Jangan diharapkan anak beperilaku baik, apabila orang
tuanya selalu melakukan perbuatan yang tercela. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda,
Setiap anak, lahir membawa fitrah. Orang tuanya yang berperan menjadikan anak
tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Pada dasarnya proses pembentukan iman juga demikian. Diawali dengan
proses perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau benci. Mengenal
ajaran Allah adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada allah. Jika seseorang
tidak mengenal ajaran Allah, maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada
Allah.
Seseorang yang menghendaki anaknya menjadi mukmin kepada Allah, maka
ajaran Allah harus diperkenalkan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan anak itu
dari tingkat verbal sampai tingkat pemahaman. Bagaimana seorang anak menjadi
mukmin, jika kepada mereka tidak diperkenalkan al-Quran.
Di samping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan,
karena tanpa pembiasan, seseorang bisa saja semula benci berubah menjadi
senang. Seorang tidak harus dibiasakan untuk melaksanakan apa yang
diperintahkan Allah dan menjauhi hal-hal yang dilarang-Nya, agar kelak setelah
dewasa menjadi senang dan terampil dalam melaksanakan ajaran-ajaran Allah.
Berbuat sesuatu secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah
dilihat dan diukur.Tetapi tingkah laku tidak terdiri atas perbuatan yang tampak saja.
Didalamnya tercakup juga sikap-sikap mental yang tidak mudah ditanggapi kecuali
secara tidak langsung (misalnya, melalui ucapan atau perbuatan yang diduga dapat
menggambarkan sikap mental tersebut), bahkan secara tidak langsung itu
adakalanya cukup sulit menarik kesimpulan yang teliti. Di dalam tulisan ini
dipergunakan istilah tingkah laku dalam arti luas dan dikaitkan dengan nilai-nilai
hidup, yakni seperangkat nilai yang diterima oleh manusia sebagai nilai yang penting
dalam kehidupan, yaitu iman. Yang dituju adalah tingkah laku yang merupakan
perwujudan nilai-nilai hidup tertentu, yang disebut tingkah laku terpola.
Dalam keadaan tertentu, arah, dan intensitas tingkah laku dapat dipengaruhi
melalui campur tangan secara langsung, yakni dalam bentuk intervensi terhadap
interaksi yang terjadi. Dalam hal ini dijelaskan beberapa prinsip dengan
mengemukakan implikasi metodologinya, yaitu :

1. Prinsip pembinaan berkesinambungan
Proses pembentukan iman atau suatu proses yang penting, terus terang, dan
tidak berkesudahan. Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan orang
semakin lama semakin mampu bersikap selektif. Implikasinya ialah diperlukan
motivasi sejak kecil dan berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu penting
mengarahkan proses motivasi agar membuat tingkah laku lebih terarah dan selektif
menghadapi nilai-nilai hidup yang patut diterima atau yang seharusnya ditolak.

2. Prinsip Internalisasi dan individu.
Prinsip ini menekankan pentingnya mempelajari iman sebagai prosas
(internalisasi dan individuasi). Implikasi metodologinya ahila bahwa pendekatan
untuk membentuk tingkah laku yang mewujudkan nilai-nilai itu iman tidak dapat
hanya mengutamakan nilai-nilai itu dalam bentuk jadi, tetapi juga harus
mementingkan proses dan cara pengenalan nilai hidup tersebut.



3. Prinsip sosialisasi.
Pada umumnya nilai-nilai hidup baru benar-benar mempunyai arti apabila
telah memperoleh dimensi sosial. Implikasi metodologinya ahila bahwa usa
pembentukan tingkah laku mewujudkan nilai iman hendaknya tidak diukur
keberhasilannya terbatas pada tingkat individual ( yaitu hanya dengan
memperhatikan kemampuan seseorang dalam kedudukannya sebagai individu),
tetapi perla mengutamakan penelian dalam kaitan kehidupan interaksi sosial (proses
sosialisasi orang tersebut.

4. Prinsip konsistensi dan koherensi.
Nilai iman lebih mudah tumbuh terkselerasi, apabila sejak semula ditangani
secara consisten, yaitu secara tetap dan konsekuen, serta secara koheren, yaitu
tanpa mengandung pertentengan antara nilai yang satu dengan nilai lainnya.
Implikasi metodologinya adalah bahwa usa yang dikembangkan untuk mempercepat
tumbuhnya tingkah laku yang mewujudkan nilai iman hendaknya selalu consisten
dan koheren.

5. Prinsip integrasi.
Hakikat kehidupan sebagai totalitas, senantiasa menghadapkan setiap orang
pada problemtica kehidupan yang menuntut pendekatan yang luas dan
menyeluruh. Makin integral pendekatan seseorang terhadap kehidupan , makin
fungsional pula hubungan setiap bentuk tingkah laku yang berhubungan dengan
nilai iman yang dipelajari. Implikasi metodeloginya ahila agar nilai iman hendaknya
dapat dipelajari seseorang tidak sebagai ilmu dan keterampilan tingkah laku yang
terpisah-pisah, tetapi melalui pendekatan yang integratif, dalam kaitan problematik
kehidupan yang nyata.

Aplikasi terbentuknya iman dan takwa:
1. Pembiasaan diri atau penanaman sejak dini
Ketika dalam kehidupan berumah tangga, tentu orangtua mempunyai
tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya untuk kelak menjadi
manusia yang pandai, cerdas, jujur dan berperilaku baik. Untuk itu, dalam
berperilaku orangtua haruslah berhati-hati. Anak-anak sangat mudah
menirukan perilaku orangtuanya, entah itu baik atau buruk. Dalam mendidik
seorang anak, haruslah dibiasakan berperilaku baik sejak dini. Supaya anak
tersebut terbiasa hingga kedepannya. Contoh: Anak-anak sejak dini sudah
diajarkan atau diajak sholat tarawih saat bulan ramadhan. Kalau sudah
dibiasakan sejak dini maka akan menjadi kebiasaan anak tersebut sholat
terawih ketika bulan ramadhan tiba.
2. Lingkungan dan dorongan saling berkaitan
Orang tua harus mendukung dan memberi dorongan ketika
dilingkungan daerah setempat ada kegiatan keagamaan misalnya pengajian,
tahlilan, TPQ dll.
3. Pendidikan
Pengaruh pendidikan keluarga secara langsung dan tidak langsung
baik yang disengaja maupun tidak amat berpengaruh terhadap iman
seseorang. Tingkah laku orang tua dalam rumah tangga senantiasa
merupakan contoh-contoh teladan bagi anak-anaknya. Tingkah laku baik atau
buruk akan dengan mudah ditirukan oleh anak, karena seorang anak bisa
dengan mudah menangkap perilaku orangtuanya, apakah itu baik atau buruk
mereka belum bisa memilahnya dengan baik. Makadari itu apabila kelak kita
sudah berumah tangga berikan teladan yang baik untuk anak-anak kita.
4. Petunjuk yang kuasa
Di dalam Al Qur'an sudah dijelaskan tentang larangan-larangan dan
perintah-perintah yang harus kita patuhi. Makadari itu kita harus berusaha
untuk melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Contoh khamr itu dilarang oleh agama, maka sebagai umat mukmin
janganlah kita berani mencoba meminumnya. Lalu sholat lima waktu, berbakti
kepada oarng tua, menghargai umat beragama merupkan perintah Alloh yang
tertuang dalam Al Qur'an, maka senantiasalah kita melakukan hal-hal
tersebut.