Anda di halaman 1dari 40

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Umum
Beton merupakan material yang paling popular digunakan. Ini disebabkan
keunggulan-keunggulan beton dibanding material yang lain. Namun, dibalik keunggulannya
beton memiliki beberapa kelemahan salah satunya adalah beton sangat mampu tahan
terhadap tekan, namun sangat lemah terhadap tarik. Salah satu solusi untuk kelemahan beton
ini adalah dengan perkuatan menggunakan besi tulangan, yang sering disebut dengan beton
bertulang. Hanya saja dalam pelaksanaannya, beton bertulang pun masih memiliki
kelemahan, yaitu terdapat keretakan pada beton. Solusi untuk mengatasi masalah keretakan
ini adalah dengan penambahan serat dalam beton.
Pemakaian serat dalam beton dapat meningkatkan kuat tarik karena serat memberikan
ketahanan terhadap retak tersebut sehingga pertumbuhan retak menjadi lambat. Keadaan ini
akan membuat daktilitas dan kekerasan beton menjadi naik.
2.2. Bahan yang digunakan
Beton tersusun atas tiga bahan penyusun utama, yaitu semen, agregat, dan air. J ika
memerlukan bahan tambah (additive) maka dapat ditambahkan dalam adukan beton.
2.2.1 Semen Portland
Semen berasal dari bahasa latin caementum yang berarti bahan perekat. Maka secara
sederhana, semen adalah bahan perekat yang dapat merekatkan bahan-bahan padat menjadi
kesatuan yang kompak dan kuat.
Berdasarkan SNI 15-2049-2004, semen Portland adalah semen hidrolis yang
dihasilkan dengan cara menggiling terak (Clinker) Portland terutama yang terdiri dari
kalsium silikat (xCaO.SiO
2
) yang bersifat hidrolis dan digiling bersama sama dengan bahan
tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat (CaSO
4
.xH
2
O) dan
boleh ditambah dengan bahan tambahan lain (Mineral in component).
Universitas Sumatera Utara

2.2.1.1 Sifat dan Karakteristik Semen Portland
Sifat semen portland dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sifat fisika dan sifat kimia.
1. Sifat Fisika Semen Portland
a. Kehalusan Butir (Fineness)
Kehalusan butir semen sangat mempengaruhi proses hidrasi. Semakin
halus butiran semen, maka proses hidrasinya akan semakin cepat sehingga
kekuatan awal tinggi dan kekuatan akhir akan berkurang. Hal ini dikarenakan
waktu ikat (setting time) akan menjadi semakin cepat jika butir semen lebih
halus. Kehalusan butir semen yang tinggi dapat mengurangi terjadinya
bleeding (naiknya air ke permukaan), tetapi justru menambah kecenderungan
beton mengalami retak susut.

b. Kepadatan (Density)
Berdasarkan ASTM, berat jenis semen yang disyaratkan adalah 3,15
Mg/m
3
. Namun pada kenyataannya, berat jenis semen yang diproduksi dan
beredar di pasaran berkisar antara 3,05 Mg/m
3
sampai 3,25 Mg/m
3
.

c. Konsistensi (Consistency)
Konsistensi semen Portland lebih berpengaruh saat pencampuran awal,
yaitu saat terjadi pengikatan sampai beton mengeras. Dan bergantung pada
perbandingan antara semen dan air (pasta segar), dan aspek bahan semen
seperti kehalusan dan kecepatan hidrasi.

d. Waktu Pengikatan (Setting Time)
Waktu Pengikatan adalah waktu yang terhitung dari semen mulai
bereaksi dengan air dan menjadi pasta hingga pasta mengeras dan cukup kaku.
Waktu pengikatan dibedakan atas dua jenis, yaitu: 1) Waktu ikat awal (initial
setting time), yaitu waktu antara bercampurnya semen dan air menjadi pasta
hingga sifat plastis hilang. Biasanya berkisar 1,0 2,0 jam dan tidak boleh
kurang dari 1,0 jam. 2) Waktu ikat akhir (final setting time), yaitu waktu
Universitas Sumatera Utara
antara terbentuknya pasta semen hingga mengeras. Biasanya tidak boleh lebih
dari 8,0 jam.

e. Panas Hidrasi (Heat of Hydration)
Panas hidrasi adalah panas yang dihasilkan saat semen bereaksi dengan
air. Panas yang dihasilkan bergantung pada jenis semen yang dipakai
(komposisi kimia) dan kehalusan butiran semen.

f. Kekalan (Perubahan Volume)
Kekalan pasta yang mengeras merupakan suatu indikasi yang
menyatakan kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya dan
kemampuan untuk mempertahankan volume setelah pengikatan terjadi.

g. Kekuatan Tekan (Compressive Strength)
Pengujian kuat tekan semen dilakukan dengan cara membuat mortar
yang akan ditekan sampai hancur. Kuat tekan semen dipengaruhi oleh tipe
semen, komposisi semen, dan kehalusan butir semen.

2. Sifat Kimia Semen Portland
a. Susunan Kimia
Tabel 2.1 Komposisi Senyawa Kimia Semen Portland
Oksida Persen (%)
Kapur (CaO) 60 - 65
Silika (SiO
2
) 17 25
Alumina (Al
2
O
3
) 3 8
Besi (Fe
2
O
3
) 0,5 - 6
Magnesia (MgO) 0,5 4
Sulfur, SO
3
1 - 2
Universitas Sumatera Utara
Soda / Potash, Na
2
O +K
2
O 0,5 - 1

Secara garis besar ada empat senyawa kimia utama penyusun semen portland, yaitu:
a. Trikalsium Silikat (3CaO. SiO
2
), yang biasanya disingkat menjadi C
3
S.
b. Dikalsium Silikat (2CaO. SiO
2
), yang biasanya disingkat menjadi C
2
S.
c. Trikalsium Aluminat (3CaO. Al
2
O
3
), yang biasanya disingkat menjadi C
3
A.
d. Tetrakalsium Aluminoferrit (4CaO. Al
2
O
3
. Fe
2
O
3
), yang biasanya disingkat
menjadi C
4
AF.
Komposisi C
3
S dan C
2
S berkisar antara 70%-80% dari berat semen. Senyawa
tersebut merupakan senyawa paling dominan yang memberikan sifat semen.
b. Kesegaran Semen
Pengujian kehilangan berat akibat pembakaran pada semen dilakukan
pada suhu 900-1000
o
C. Kehilangan berat dapat terjadi karena adanya
kelembapan dan karbon dioksida ataupun magnesium yang menguap.
Kehilangan berat ini merupakan ukuran dari kesegaran semen.

c. Sisa Yang Tak Larut (Insoluble Residue)
Sisa bahan yang tidak habis bereaksi merupakan sisa bahan yang tidak
aktif pada semen. Semakin sedikit sisa bahan, maka semakin baik kualitas
semen. J umlah maksimum sisa bahan tidak larut yang disyaratkan adalah
0.85%.
2.2.1.2 Jenis-jenis Semen Portland
American Society for Testing and Materials (ASTM) mengenal lima jenis semen
portland, yaitu:
1) Tipe I : semen serbaguna yang digunakan pada pekerjaan konstruksi biasa.
2) Tipe II : semen modifikasi yang mempunyai panas hidrasi yang lebih rendah
daripada semen Tipe I dan memiliki ketahanan terhadap sulfat yang cukup tinggi.
Umumnya dipakai mencegah serangan sulfat dan pada lingkungan system
drainase yang memiliki kadar konsentrat tinggi.
Universitas Sumatera Utara
3) Tipe III : semen dengan kekuatan awal yang tinggi yang akan menghasilkan,
dalam waktu 24 jam, beton dengan kekuatan sekitar dua kali semen Tipe I. Semen
ini memiliki panas hidrasi yang jauh lebih tinggi. Semen ini cocok digunakan
pada pekerjaan dengan waktu yang mendesak.
4) Tipe IV : semen dengan panas hidrasi rendah yang menghasilkan beton yang
melepaskan panas dengan sangat lambat. Semen jenis ini digunakan untuk
struktur-struktur beton yang sangat besar.
5) Tipe V : semen untuk beton-beton yang akan ditempatkan di lingkungan dengan
konsentrasi sulfat yang tinggi. Biasanya dipakai pada pekerjaan beton di dalam
tanah yang mengandung banyak sulfat dan pelapisan saluran air dalam
terowongan.

2.2.2 Agregat
Berdasarkan SK.SNI T-15-1991-03, agregat merupakan material granular misalnya
pasir, kerikil, batu pecah, dan kerak tungku besi yang dipakai bersama-sama dengan suatu
media pengikat untuk membentuk beton semen hidrolik atau adukan. Agregat dalam beton
menempati sekitar bagian dari volume beton. Dikarenakan proporsi agregat yang besar
dalam beton, maka peran agregat sangatlah penting. Sehingga pemilihan agregat merupakan
hal yang penting karena akan berpengaruh terhadap kualitas beton. Oleh karena itu, agregat
yang digunakan harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
1. Agregat dalam keadaan bersih
2. Keras
3. Bebas dari sifat penyerapan
4. Tidak bercampur dengan tanah liat atau lumpur
5. Distribusi/gradasi ukuran agregat memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku

Pada prakteknya, agregat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Batu, untuk butiran dengan diameter lebih dari 40 mm.
2. Kerikil, untuk butiran dengan diameter antara 5 mm dan 40 mm.
3. Pasir, untuk butiran dengan diameter antara 0,15 mm dan 5 mm.

2.2.2.1 Jenis-Jenis Agregat
Penggolongan agregat terdiri dari banyak klasifikasi, diantaranya adalah sebagai
berikut:
Universitas Sumatera Utara
1. Agregat berdasarkan asalnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
a. Agregat Alam, merupakan agregat hasil dari batu alam atau penghancurannya.
Agregat alam dibedakan menjadi: kerikil dan pasir alam, agregat batu pecah,
dan agregat batu apung.
b. Agregat Buatan, merupakan agregat yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu
misalkan untuk memenuhi kebutuhan akan agregat yang tidak dapat dipenuhi
oleh agregat alam.
2. Agregat berdasarkan besar butiran dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
a. Agregat Halus
Agregat halus (pasir) merupakan mineral alami pengisi beton yang
memiliki diameter butiran kurang dari 5 mm.
Pasir yang digunakan sebagai bahan beton haruslah memenuhi spesifikasi
yang telah ditetapkan ASTM sebagai berikut:
i. Susunan Butiran (Gradasi)
Pasir yang digunakan haruslah memiliki gradasi yang baik, karena
pasir diharapkan dapat mengisi kekosongan yang tidak dapat diisi
material lain sehingga akan menghasilkan beton yang padat.
Berdasarkan ASTM C33-74a, terdapat batasan gradasi pada agregat
halus (lihat tabel 2.2)
Tabel 2.2 Batasan Gradasi pada Agregat Halus
Ukuran Saringan ASTM Persentase berat yang lolos pada tiap saringan
9.5 mm (3/8 in) 100
4.76 mm (No.4) 95 - 100
2.36 mm (No.8) 80 100
1.19 mm (No.16) 50 - 85
0.595 mm (No.30) 25 60
0.300 mm (No.50) 10 - 30
0.150 mm (No.100) 2 10

Universitas Sumatera Utara
ii. Bersifat kekal, yaitu tidak mudah lapuk atau hancur oleh perubahan
cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
iii. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat keringnya.
J ika kandungan lumpur lebih dari 5%, maka pasir harus dicuci.
iv. Kadar liat tidak boleh melebihi 1% dari berat kering.
v. Pasir harus bebas dari zat organik yang akan merugikan beton.
vi. Tidak boleh mengandung bahan yang bersifat reaktif terhadap alkali
dimana akan mengakibatkan pemuaian berlebihan dalam beton.
vii. Tidak boleh digunakan pasir laut karena pasir laut memiliki kadar
garam tinggi yang akan merusak beton maupun tulangan.

b. Agregat Kasar (Kerikil)
Kerikil merupakan agregat yang mempunyai ukuran butiran berdiameter 5
mm 40 mm. Sebagai pengganti kerikil dapat pula digunakan batu pecah
(split). Kerikil atau batu pecah yang memiliki ukuran diameter lebih dari
40 mm tidak baik dalam pembuatan beton. Agregat kasar (kerikil)
sebaiknya memiliki gradasi yang baik, maksudnya sebaiknya terdiri dari
butiran yang bervariasi besarnya, agar dapat mengisi rongga yang kosong
yang tidak dapat diisi oleh agregat yang berukuran besar sehingga
mengurangi pemakaian semen.
Agregat kasar (kerikil) yang digunakan sebagai bahan beton sebaiknya
memenuhi spesifikasi sebagai berikut:
i. Susunan Butiran (Gradasi)
Batasan gradasi agregat kasar dapat dilihat dalam tabel 2.3 berikut
Tabel 2.3 Syarat Gradasi Agregat Kasar berdasarkan ASTM
Lubang
Ayakan (mm)
Persen Berat Tembus Kumulatif
Ukuran Butir Nominal (mm)
37.5 4.75 25 4.75 19 4.75 12 4.75
50 100 - - -
37.5 95 - 100 100 - -
Universitas Sumatera Utara
25 - 95 - 100 100 -
19 35 - 70 - 90 - 100 100
12.5 - 25 - 60 - 90 - 100
9.5 30 - 60 - 20 - 55 40 70
4.75 0 - 5 0 - 10 0 - 10 0 15
2.36 - 0 - 5 0 - 5 0 - 5

ii. Agregat kasar harus bersifat padat dan keras, serta tidak berpori
iii. Agregat kasar harus bersih, tidak boleh mengandung lumpur lebih dari
1%, jika melebihi 1% maka agregat kasar harus dicuci
iv. Tidak boleh mengandung bahan yang bersifat reaktif terhadap alkali
dimana akan mengakibatkan pemuaian berlebihan dalam beton.
v. Pada keadaan terpaksa, dapat dipakai kerikil bulat.

3. Agregat berdasarkan bentuk butiran dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:
a. Angular, agregat kasar tidak memiliki keausan. Dan merupakan bentuk terbaik
untuk kelecakan beton
b. Well rounded, yang berarti bulat, bentuk aslinya sudah tidak kelihatan namun
untuk beton merupakan bentuk yang memiliki kekuatan yang unggul.
c. Pipih (flaky), memanjang (elongated), dan pipih memanjang (flaky and
elongated), merupakan bentuk kurang baik bagi beton karena akan sulit
dipadatkan. Agregat dengan bentuk ini tidak boleh memiliki komposisi lebih
dari 20% dari volume beton.
4. Agregat berdasarkan berat jenisnya dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:
a. Agregat Berat
i. Agregat yang dipakai : batu barit (berat jenis 4,15-4,45) dan bijih besi
(berat jenis 4,4-5,00)
ii. Berat jenis beton yang akan diperoleh menggunakan agregat berat
>2400 kg/m
3
. Biasanya beton ini digunakan pada konstruksi reaktor.
b. Agregat Normal
Universitas Sumatera Utara
i. Agregat yang dipakai : berasal dari batuan beku, endapan malihan
dengan berat jenis 2,6 2,7.
ii. Berat jenis beton yang akan diperoleh menggunakan agregat normal
1800-2400 kg/m
3
. Biasanya beton ini digunakan pada konstruksi
secara umum, jembatan, bangunan, jalan, dan sebagainya.
c. Agregat ringan
iii. Agregat yang dipakai : batu apung.
iv. Berat jenis beton yang akan diperoleh menggunakan agregat ringan
300-1800 kg/m
3
. Biasanya beton ini digunakan pada konstruksi beton
ringan.

2.2.3 Air
Air diperlukan dalam campuran beton sebagai pemicu reaksi kimia dengan semen,
membasahi agregat, dan mempermudah pengerjaan beton karena air akan membuat beton
menjadi lecak.
Air merupakan bahan yang juga sangat penting dalam mempengaruhi kekuatan beton.
J umlah dan kualitasnya harus sangat diperhatikan karena akan sangat mempengaruhi
kekuatan beton yang diperoleh. Air yang dapat diminumlah yang sangat baik digunakan
dalam campuran beton. Air yang mengandung senyawa-senyawa berbahaya, tercemar garam,
minyak, gula, bahan-bahan kimia lainnya akan menurunkan kualitas beton yang dihasilkan.
Air yang digunakan dalam campuran beton sebaiknya memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut (PBI 1971):
a. Tidak mengandung lumpur atau benda melayang lainnya lebih dari 2 gram/liter
b. Tidak mengandung garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik, dan
lainnya).
c. Tidak mengandung klorida (Cl) lebih dari 0,5 gram/liter
d. Tidak mengandung senyawa-senyawa sulfat lebih dari 1 gram/liter
Selain kandungan air yang harus memenuhi syarat, jumlah air dalam campuran beton
juga harus sangat diperhatikan. J umlah air pada campuran beton pada umumnya dihitung
berdasarkan nilai perbandingan antara berat air dan berat semen Portland pada campuran
beton, dan dikenal dengan istilah faktor air semen atau disingkat dengan fas.
2.2.4 Superplasticizer
Universitas Sumatera Utara
Superplasticizer merupakan bahan tambah (admixture). Bahan tambah, additive
dan admixture adalah bahan selain semen, agregat dan air yang ditambahkan pada adukan
beton, sebelum atau selama pengadukan beton untuk mengubah sifat beton sesuai
dengan keinginan perencana. Penambahan additive atau admixture tersebut ke dalam
campuran beton ternyata telah terbukti meningkatkan kinerja beton hampir disemua
aspeknya, yaitu kekuatan, kemudahan pengerjaan, keawetan dan kinerja-kinerja lainnya
dalam memenuhi tuntutan teknologi konstruksi modern. Mengacu pada klasifikasi ASTM
C494-82, dikenal 7 jenis admixture sebagai berikut :

Tabel 2.4 J enis Superplasticizer
Jenis Kegunaan
Tipe A : Water
Reducer (WR) atau
plasticizer
Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air
yang digunakan. Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan
dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai kekentalan adukan
yang sama, atau diperoleh kekentalan adukan lebih encer pada faktor
air semen yang sama.


Tipe B : Retarder Bahan kimia untuk memperlambat proses ikatan beton.
Bahan ini diperlukan apabila dibutuhkan waktiu yang cukup
lama antara pencampuran/pengadukan beton dengan penuangan
adukan. Atau dimana jarak antara tempat pengadukan betondan
tempat penuangan adukan cukup jauh.

Tipe C :
Accelerator
Bahan kimia untuk mempercepat proses ikatan dan
pengerasan beton. Bahan ini digunakan jika penuangan adukan
dilakukan dibawah permukaan air, atau pada struktur beton
yang memerlukan pengerasan segera.
Tipe D : Water
Reducer Retarder
Bahan kimia tambahan berfungsi ganda yaitu untuk
Universitas Sumatera Utara
(WRR) mengurangi air dan memperlambat proses ikatan.
Tipe E : Water
Reducer
Accelerator
Bahan kimia tambahan berfungsi ganda yaitu untuk
mengurangi air dan mempercepat proses ikatan.
Tipe F : High
Range Water
Reducer
(Superplasticizer)
Bahan kimia yang berfungsi mengurangi air sampai 12
% atau bahkan lebih. Penjelasan mengenai superplasticizer akan
dibahas lebih lanjut.
Tipe G : High
Range Water
Reducer (HRWR)
Bahan kimia tambahan berfungsi ganda yaitu untuk
mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan
beton. Bahan kimia tambahan biasanya dimasukkan dalam
campuran beton dalam jumlah yang relatif kecil dibandingkan
dengan bahan-bahan utama, maka tingkatan kontrolnya harus
lebih besar daripada pekerjaan beton biasa. Hal ini untuk menjamin
agar tidak terjadi kelebihan dosis, karena dosis yang berlebihan akan
bisa mengakibatkan menurunnya kinerja beton bahkan lebih
ekstrem lagi bisa menimbulkan kerusakan pada beton.

Menurut ASTM C494 dan British Standard 5075, Superplasticizer adalah bahan
kimia tambahan pengurang air yang sangat effektif. Dengan pemakaian bahan
tambahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai
kekentalan adukan yang sama atau diperoleh adukan dengan kekentalan lebih encer
dengan faktor air semen yang sama, sehingga kuat tekan beton lebih tinggi.
Superplasticizer juga mempunyai pengaruh yang besar dalam meningkatkan
workabilitas bahan ini merupakan sarana untuk menghasilkan beton mengalir tanpa
terjadi pemisahan (segregasi/bleeding) yang umumnya terjadi pada beton dengan jumlah air
yang besar, maka bahan ini berguna untuk pencetakan beton ditempat-tempat yang sulit
seperti tempat pada penulangan yang rapat. Superplasticizer dapat memperbaiki
workabilitas namun tidak berpengaruh besar dalam meningkatkan kuat tekan beton untuk
faktor air semen yang diberikan. Namun kegunaan superplasticizer untuk beton mutu
tinggi secara umum sangat berhubungan dengan pengurangan jumlah air dalam campuran
Universitas Sumatera Utara
beton. Pengurangan ini tergantung dari kandungan air yang digunakan, dosis dan tipe dari
superplasticizer yang dipakai. (L. J . Parrot,1998).
Untuk meningkatkan workability campuran beton, penggunaan dosis
superplasticizer secara normal berkisar antara 1-3 liter tiap 1 meter kubik beton. Larutan
superplasticizer terdiri dari 40% material aktif. Ketika superplasticizer digunakan untuk
menguarangi jumlah air, dosis yang digunakan akan lebih besar, 5 sampai 20 liter tiap 1
meter kubik beton.(Neville, 1995)

Menurut (Edward G Nawy, 1996), Superplasticizer dibedakan menjadi 4 jenis :
1. Modifikasi Lignosulfonat tanpa kandungan klorida. xxvi
2. Kondensasi Sulfonat Melamine Formaldehyde (SMF) dengan kandungan
klorida sebesar 0.005%
3. Kondensasi Sulfonat Nephtalene Formaldehyde (SNF) dengan kandungan
klorida yang diabaikan.
4. Carboxyl acrylic ester copolymer.

J enis SMF dan SNF yang disebut garam sulfonik lebih sering digunakan
karena lebih efektif dalam mendispersikan butiran semen, juga mengandung unsur-
unsur yang memperlambat pengerasan.
Superplasticizer adalah zat-zat polymer organik yang dapat larut dalam air yang telah
dipersatukan dengan mengunakan proses polymerisasi yang komplek untuk menghasilkan
molekul-molekul panjang dari massa molecular yang tinggi. Molekul-molekul panjang ini
akan membungkus diri mengelilingi partikel semen dan memberikan pengaruh negatif yang
tinggi sehingga antar partikel semen akan saling menjauh dan menolak. Hal ini akan
menimbulkan pendispersian partikel semen sehingga mengakibatkan keenceran adukan dan
meningkatkan workabilitas. Perbaikan workabilitas ini dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan beton dengan workability yang tinggi atau menghasilkan beton dengan kuat
tekan yang tinggi.

2.2.5 Serat
Menurut Sjafei (2005), penambahan serat berarti memberi tulangan pada beton yang
disebar merata ke dalam adukan beton dengan orientasi acak dengan maksud untuk mencegah
Universitas Sumatera Utara
terjadinya retakan micro pada beton di daerah tarik akibat pengaruh pembebanan, pengaruh
susut atau pengaruh panas hidrasi.
Keuntungan penambahan serat pada beton adalah (Nely Wahyuni, 2010):
1. Serat terdistribusi secara acak di dalam beton pada jarak yang relative sangat
dekat satu dengan yang lainnya akan member tahanan terhadap tegangan
berimbang ke segala arah dan member keuntungan material struktur yang
disiapkan untuk menahan beban dari berbagai arah.
2. Perbaikan perilaku deformasi seperti ketahanan terhadap impak, daktilitas yang
lebih besar, kuat lentur, dan kapasias torsi yang lebih baik.
3. Serat meningkatkan ketahanan beton terhadap formasi dan pembentukan retak.
4. Peningkatan ketahanan pengelupasan (spalling) dan retak pada selimut beton akan
membantu pada penghambatan korosi besi tulangan dari serangan kondisi
lingkungan yang berpotensi korosi.
J enis-jenis serat yang sering digunakan dalam campuran beton:
1. Serat Baja
Dari semua jenis serat, serat baja memiliki kekuatan dan modulus yang paling
tinggi, tetapi serat ini sangat korosif.
2. Serat Polypropelene
Serat polypropelene merupakan salah satu jenis serat plastic. Serat ini tidak
menyerap air semen, memiliki modulus elastisitas yang rendah, mudah terbakar,
kurang tahan lama, dan memiliki titik leleh yang rendah.


3. Serat Kaca
Serat ini memiliki berat jenis yang rendah, kurang mampu menahan pengaruh
alkali, dan modulus elastisitas rendah.
4. Serat Asbestos
Serat ini memiliki harga yang relatif murah, tahan terhadap panas sehingga sering
digunakan dalam pembuatan asbes lembaran, pipa maupun genteng.
5. Serat Kevlar
Serat ini memiliki modulus elastisitas dan kuat tarik yang besar, namun harganya
mahal sehingga jarang digunakan.
Universitas Sumatera Utara
6. Serat Karbon
Serat ini pun memiliki harga yang relatif mahal. Serat ini biasa dipakan pada
beton yang mempunyai ketahanan terhadap retak yang tinggi.
7. Serat Kawat
Serat ini banyak tersedia di Indonesia dan memiliki harga yang relatif murah.
8. Serat Alami
Serat ini berasal dari alam. Menurut Swamy, 1984, persyaratan dasar serat alami
ketika digunakan sebagai perkuatan pada beton adalah meningkatkan kuat tarik
dan modulus elastisitas, ikatan yang wajar antar permukaan dengan beton, sifat
kimia yang baik, stabilitas geometris dan daya tahan. Beberapa jenis serat alami
yang telah diteliti sebagai bahan perkuatan beton adalah serat kelapa, ijuk, sisal,
serat ampas tebu, serat bamboo, serat rami, serat kayu, dan beberapa serat
sayuran. Sifat kebanyakan serat alami telah dapat dipertanggungjawabkan.

2.2.5.1 Serat Ijuk Aren
Ijuk dihasilkan dari pohon aren (Arenae Pinnafa Merr). Pohon aren (Arenae Pinnafa
Merr) sama seperti kelapa, seluruh bagian dari batangnya bermanfaat secara ekonomi, mulai
dari batang, daun, buah, bunga dan bahkan ijuk. Salah satu produk aren yang menjadi bahan
penelitian saya adalah serat ijuk yang merupakan serat alami berwarna hitam yang menempel
di ketiak batang. Ijuk membalut batang aren sehingga pohon aren akan terlihat sangat kotor.
Setelah pohon berumur lima tahun, ijuk yang tadinya rapi terlipat dibawah ketiak sekarang
mulai terlihat berantakan. Belum lagi ijuk kemudian jadi sarang cendawan, bakteri dan
tumpangan tanaman liar seperti anggrek dan suplir.









Universitas Sumatera Utara



Gambar 2.1 Pohon Aren (Arenae Pinnafa Merr)
Sekalipun ijuk sering dianggap mengotori pohon aren dan sebagai sarang parasit bagi
pohon aren, namun ijuk memiliki banyak keistimewaan, diantaranya:
a. Tahan lama hingga ratusan bahkan ribuan tahun lebih (tidak mudah rapuh)
b. Tahan terhadap asam dan garam air laut
c. Mencegah penembusan rayap tanah
d. Bersifat lentur
e. Memiliki ketahanan tarik yang cukup
Dengan beberapa keistimewaan di atas, diharapkan serat ijuk dapat memperbaiki sifat
mekanikal beton.
Terdapat berbagai macam ijuk yang terdapat di pasaran, dan berikut merupakan
pembagian jenis ijuk berdasarkan kualitas, yaitu
(http://www.warungblogger.org/2012/04/mengenal-ijuk-lebih-dekat.html
1. IJUK KUALITAS NOMOR SATU
):
Untuk ijuk kualitas nomor satu memiliki rambut yang panjang, tebal dan tekstur
yang lebih kuat. Kualitas ini lebih bersih daripada kualitas nomor dua, tiga dan empat. Ijuk
kualitas nomor satu sudah terkelupas dari kulit ari dan lidinya. Kualitas nomor satu ini dapat
diproses untuk berbagai macam kegunaan, diantaranya bisa dibuat untuk kulit luar dari sapu,
dan juga pembuatan sikat kamar mandi. Ijuk kualitas nomor satu biasanya termasuk dalam
ijuk kualitas ekspor.
Para pembeli dari luar negeri biasanya membeli ijuk kualitas nomor satu ini untuk
bahan campuran pembuatan beton, tiang penyangga dari jembatan, dan sebagainya.
Sedangkan untuk komoditi ijuk di dalam negeri untuk kulit luar dari sapu adalah ijuk yang
diproses dengan cara disisir dan dibersihkan dari kulit ari. Penggunaan kulit luar dari sapu
maupun sikat dengan ijuk nomor satu hanya digunakan sebagai pelapis kulit luar dari sapu
maupun sikat sehingga membuat kualitas sapu dan sikat menjadi padat, rapi dan tidak mudah
rontok.
Universitas Sumatera Utara
2. IJUK KUALITAS NOMOR DUA
Ijuk kualitas nomor dua memiliki rambut yang lebih lembut dari pada kualitas nomor
satu. Dengan tekstur yang lebih lembut ini, maka kualitas nomor dua bisa di gunakan untuk
berbagai macam produksi. Biasanya ijuk ini terdapat lidi di dalamnya dan dapat digunakan
untuk atap rumah. Apabila digunakan sebagai atap rumah maka akan membuat rumah tampak
alami.
Ijuk dengan kualitas nomor dua yang sudah di sisir dapat digunakan sebagai lapisan
kedua dari pembuatan sapu maupun sikat sehingga lebih padat dan kuat. Ijuk yang sudah
disisir tetapi masih dalam bentuk gumpalan digunakan untuk pembuatan tali tambang dengan
cara digiling dengan alat bambu dan di padatkan dengan cara digiling oleh alat bantu tertentu.
3. IJUK KUALITAS NOMOR TIGA
Untuk ijuk dengan kualitas nomor tiga ini biasanya mempunyai kualitas yang hampir
sama dengan ijuk aren yang berkualitas nomor dua, akan tetapi ijuk nomor tiga lebih banyak
mengandung lidi dan kulit ari. Kualitas nomor tiga digunakan untuk pembuatan tali tambang
akan tetapi lebih banyak digunakan untuk resapan air, sebagai bahan dasar pondasi bangunan
maupun sebagai bahan pondasi kolam ikan.
Apabila dipakai sebagai pondasi bangunan biasanya memberikan manfaat sebagai
penyerap air dari dalam tanah agar saat didirikannya bangunan, air tidak akan naik / pasang
dan akan mengakibatkan kerusakan dari bangunan tersebut. Dengan ijuk sebagai alas pondasi
dari kolam ikan biasanya untuk penyerap dan penyaring air sehingga menjadikan air kolam
lebih jernih dan bersih dari lumpur ataupun kotoran lainnya.
4. IJUK KUALITAS NOMOR EMPAT
Kualitas nomor empat ini biasanya mengandung lebih banyak lidi dan kulit ari.
Diusahakan apabila melakukan pembelian ijuk kualitas nomor empat gunakanlah sebagai
pondasi dan penyerapan didalam septic tank. Bukan hanya dengan kegunaan tersebut diatas,
tetapi untuk ijuk kualitas nomor empat ini bisa juga digunakan untuk alas dasar dari atap
rumah sebelum di pasang ijuk nomor dua dan tiga.ijuk
Untuk kualitas nomor empat banyak juga di manfaatkan oleh intansi PDAM guna
memisahkan antara kotoran dengan air untuk para masyarakat pengguna PDAM. Ijuk ini
adalah ijuk yang di letakkan paling dasar dari alas sebuah pondasi, karena manfaat dari ijuk
aren nomor empat ini sangat baik dan kuat bila diletakkan ditempat yang paling dasar supaya
hasil pondasi bangunan maupun kolam ikan berikut penjernih air PDAM ini lebih maksimal
dan tahan lama, serta lebih kokoh.
Universitas Sumatera Utara
Dan pada penelitian ini, saya menggunakan serat ijuk aren dengan kualitas nomor
empat dimana dapat diperoleh di toko bangunan dengan mudah. Ijuk mempunyai beberapa
sifat fisik, seperti: berupa helaian benang(serat) berwarna hitam, berdiameter kurang dari 0,5
mm, bersifat kaku dan ulet (tidak mudah putus), massa jenis serat ijuk 1,136 gram/cm
3
.
Komposisi unsur kimia penyusun serat ijuk dapat dilihat dari table 2.5 berikut:

Tabel 2.5 Komposisi Kandungan Unsur Kimia pada Serat Ijuk
Kandungan Unsur Kimiawi Komposisi (%)
Selulosa 51,54
Hemiselulosa 15,88
Lignin 43,09
Air 8,9
Abu 2,54







Gambar 2.2 Serat Ijuk Aren dalam gulungan
2.3. Sifat Beton
2.3.1. Beton Segar
Hal-hal penting yang berkaitan dengan sifat-sifat beton segar, yaitu:
1. Kemudahan pengerjaan (workability).
Universitas Sumatera Utara
Dalam pengerjaan beton workability atau sering disebut kelecekan merupakan sifat
penting yang harus diperhatikan. Sifat ini merupakan ukuran dari tingkat kemudahan adukan
untuk diaduk, diangkut, dituang dan dipadatkan dengan indikasi tidak terjadinya pemisahan
(segregation) dan pendarahan (bleeding).
Workability (kelecekan) dapat didefenisikan dari tiga sifat (Wira Kusuma, 2012),
yaitu:
a. Kompatibilitas, yaitu kemudahan beton untuk dipadatkan dan mengeluarkan
rongga-rongga udara.
b. Mobilitas, yaitu kemudahan beton untuk mengalir ke dalam cetakan dan
membungkus tulangan.
c. Stabilitas, yaitu kemampuan beton untuk tetap menjadi massa homogen tanpa
pemisahan selama pengerjaan.
Unsur-unsur yang mempengaruhi sifat kemudahan pengerjaan beton segar:
a. J umlah air yang dipakai dalam campuran adukan beton. Makin banyak air yang
dipakai makin mudah beton segar dikerjakan.
b. Penambahan semen kedalam campuran karena pasti diikuti dengan bertambahnya
air campuran untuk memperoleh nilai fas tetap.
c. Gradasi campuran pasir dan kerikil.
d. Pemakaian butir maksimum kerikil yang dipakai.
e. Pemakaian butir-butir batuan yang bulat.
f. Cara pemadatan adukan beton menentukan sifat pengerjaan yang berbeda.

2. Pemisahan kerikil.
Kecenderungan butir-butir kerikil untuk memisahkan diri dari campuran adukan beton
disebut segregation.
Menurut Murdock (1986) segregasi disebabkan oleh hal-hal berikut :
a. Penggunaan air pencampur yang terlalu banyak
b. Gradasi agregat yang jelek
c. Kurangnya jumlah semen
d. Cara pengelolaan yang tidak memenuhi syarat.
Pemisahan kerikil dari adukan beton berakibat kurang baik terhadap kekuatan beton
setelah mengeras. Untuk mengurangi kecenderungan pemisahan kerikil tersebut maka
diusahakan hal-hal sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara
a. Air yang diberikan sesedikit mungkin
b. Adukan beton jangan dijatuhkan dari ketinggian terlalu besar.
c. Cara pengangkutan, penuangan maupun pemadatan harus mengikuti cara- cara
yang benar (sesuai standard).
3. Pemisahan air
Kecenderungan air campuran untuk naik ke atas (memisahkan diri) pada beton segar
yang baru saja dipadatkan disebut bleeding. Menurut Neville (1981:224) penyebab terjadinya
bleeding adalah ketidakmampuan bahan padat campuran untuk menangkap air pencampur.
Ketika bleeding sedang berlangsung, air campuran terjebak di dalam kantong-kantong yang
terbentuk antara agregat dan pasta semen (matriks). Sesudah terjadinya bleeding dan beton
mengeras, kantong-kantong tersebut menjadi kering ketika berlangsung perawatan dalam
keadaan kering. Akibatnya apabila ada tekanan, kantong-kantong tersebut menjadi penyebab
mudahnya retak pada beton, karena kantong-kantong hanya berisi udara dan bahan lembut
semacam debu halus.
Kecenderungan pemisahan air ini dapat diatasi dengan cara-cara berikut:
a. Memberi lebih banyak semen.
b. Menggunakan air sesedikit mungkin.
c. Menggunakan pasir lebih banyak.
2.3.2. Beton Keras
Sifat mekanis beton keras diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu:
1. Sifat jangka pendek atau sesaat, yang terdiri dari:
a. Kekuatan tekan
Kekuatan utama yang dihasilkan beton adalah kekuatan tekannya. Kuat tekan beton
dipengaruhi oleh:
i. Perbandingan airsemen dan tingkat pemadatannya.
ii. J enis semen dan kualitasnya (mempengaruhi kekuatan rata-rata dan kuat
batas beton).
iii. Type dan gradasi agregat.
iv. Umur (pada keadaan normal kekuatan bertambah sesuai dengan umurnya).
v. Suhu (kecepatan pengerasan beton bertambah dengan bertambahnya suhu).
vi. Efisiensi dan perawatan.
Universitas Sumatera Utara
Kuat tekan beton dapat didefenisikan sebagai kemampuan beton dalam menahan
beban atau gaya mekanis hingga terjadinya kegagalan. Nilai kuat tekan beton didapatkan
melalui tata cara pengujian standard, menggunakan mesin uji yang dikenal dengan nama
Compression Machine dengan cara memberikan beban tekan bertingkat dengan kecepatan
peningkatan beban tertentu atas benda uji silinder beton (diameter 150 mm, tinggi 300 mm).
Nilai kuat tekan beton dapat diperoleh melalui rumus sebagi berikut:
=


Dimana: =Tegangan Tekan beton (N/mm)
P =besar gaya yang diberikan pada silinder (N)
A = luasan alas silinder (d/4) (mm)

Kuat tekan masing-masing benda uji ditentukan oleh tegangan tekan tertinggi (fc)
yang dicapai benda uji pada umur 28 hari akibat beban tekan selama percobaan. Dengan
demikian dicatat bahwa tegangan fc bukan pada saat benda uji hancur, melainkan tegangan
maksimum pada saat regangan beton (
c
) mencapai nilai 0,002.









Gambar 2.3 Tegangan Tekan Benda UJ i Beton
Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.4 Berbagai Kuat Tekan Beton









Gambar 2.5 Diagram Kuat Beton Umur Beton
b. Kekuatan tarik
Kekuatan tarik yang dihasilkan beton relatif kecil, hanya berkisar 9%-15% dari kuat
tekannya. Kuat tarik merupakan bagian penting di dalam menahan retak-retak akibat
perubahan kadar air dan suhu. Agar beton mampu menahan gaya tarik, maka beton diperkuat
dengan tulangan baja.
Kuat tarik bahan beton yang tepat sulit untuk diukur. Nilai pendekatan yang diperoleh
dari hasil pengujian berulang kali mencapai kekuatan 0,5 0,6 kali fc, sehingga untuk
beton normal digunakan nilai 0,57fc. Pengujian menggunakan benda uji yang sama seperti
uji kuat tekan. Benda uji diletakan pada arah memanjang di atas alat penguji kemudian beban
tekan diberikan merata arah tegak. Apabila kuat tarik terlampaui, benda uji terbelah dua.
Universitas Sumatera Utara
Tegangan tarik yang timbul sewaktu benda uji terbelah disebut sebagai kuat tarik belah (split
cilinder strength), diperhitungkan sebagai berikut:
=
2


Dimana: ft =kuat tarik belah (N/mm)
P =beban pada waktu belah (N)
L =panjang benda uji silinder (m)
D =diameter benda uji silinder (m)







Gambar 2.6 Pembebanan Pada Pengujian Tarik Belah Beton Silinder
c. Kekuatan geser
Di dalam praktek, geser dalam beton selalu diikuti oleh desak dan tarik oleh lenturan
dan bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur.
2. Sifat jangka panjang, yang terdiri dari:
a. Rangkak
Rangkak adalah penambahan terhadap waktu akibat beton yang bekerja. Faktor-faktor
yang mempengaruhi rangkak adalah: kekuatan (rangkak dikurangi bila kenaikan kekuatan
semakin besar), perbandingan campuran (bila fas dan volume pasta semen berkurang maka
rangkak berkurang), semen, agregat (rangkak bertambah bila agregat makin halus),
perawatan, umur (kecepatan rangkak berkurang sejalan dengan umur beton).
b. Susut
Susut adalah berkurangnya volume elemen beton jika terjadi kehilangan uap air
karena penguapan. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya susut adalah: agregat (sebagai
penahan susut pasta semen), faktor air semen (semakin besar fas semakin besar pula efek
susut), ukuran elemen beton (kelajuan dan besarnya susut akan berkurang bila volume
P
P
Universitas Sumatera Utara
elemen betonnya semakin besar), kondisi lingkungan, banyaknya penulangan, bahan
tambahan.

2.4. Variabel Beton Serat
Menurut ACI (American Concrete Institute) Committee 544, beton serat adalah beton
yang terbuat dari semen hidrolis, agregat halus, agregat kasar, dan sejumlah kecil serat yang
tersebar secara acak. Dalam perancangan beton berserat ada beberapa variabel yang perlu
diperhatiakan karena akan berpengaruh terhadap beton berserat yang akan dihasilkan,
diantaranya:
1. Fibre Volume Fraction
Fibre volume fraction adalah volume serat yang ditambahkan padat tiap satuan
volume beton. Tiap jenis serat memiliki persentase volume optimal yang dapat
memperbaiki sifat-sifat beton berserat tersebut.
2. Fibre Aspect Ratio
Fibre aspect ratio adalah perbandingan antar panjang serat (l) dan diameter (d).
jika penggunaan aspek rasio serat tinggi, maka akan terjadi balling effect, yaitu
penggumpalan serat membentuk suatu bola serat karena penyebarannya yag tidak
merata. Oleh karena itu disarankan penggunaan serat dengan aspek rasio rendah
(l/d <50), tetapi tidak boleh terlalu pendek karena pengaruh serat menjadi kurang
signifikan.
3. Mutu Beton
Berbeda pada beton normal, penambahan serat pada beton mutu tinggia akan
mengakibatkan tingkat workability yang menjadi rendah karena persentase airnya
yang kecil. Hal ini tentu saja akan menyulitkan pengerjaan di lapangan, oleh
karena itu diperlukan penambahan additive (bahan tambah) tertentu yang akan
menjadikan beton serat lebih mudah dikerjakan.
4. Bentuk Permukaan Serat
Daya lekat (bond) antara serat dan beton sangatlah berpengaruh terhadap kualitas
beton serat. Semakin besar lekatannya maka sifat-sifat mekanis beton akan
semakin baik, dimana tegangan beton akan ditransfer dari betom ke serat melalui
lekatan tersebut sampai beton mengalami retak-retak. Oleh karena itu, semakin
kasar permukaan serat maka lekatannya akan semakin kuat.


Universitas Sumatera Utara
5. Metode / Cara Pencampuran
Penyebaran serat pada adukan beton tergantung metode / cara pencampurannya.
Ada dua cara pencampuran, yaitu:
a. Pencampuran kering, yaitu pencampuran serat dalam adukan beton sebelum
dituang air.
b. Pencampuran basah, yaitu pencampuran serat dalam adukan beton setelah
dituang air.

2.5. Perilaku Mekanis Beton Serat
Salah satu kelemahan beton adalah tidak tahan terhadap tarik, dan hal ini dapat diatasi
dengan pemberian tulangan pada beton atau sering disebut dengan istilah beton bertulang.
Pada keadaan normal dimana beton belum mengalami terjadinya retakan, struktur masih
dapat dikatakan stabil. Namun pada beban yang besar, terkadang terjadi keretakan di daerah
tarik. Bila retakan yang terjadi cukup lebar atau dalam, hal ini akan membuat struktur
menjadi tidak stabil karena tulangan pada beton tidak terlindungi dimana tulangan mengalami
kontak langsung dengan udara yang akan membuat terjadinya korosi.
Pada masalah di atas lah sangat dibutuhkan penggunaan serat pada beton. Ini
dikarenakan serat pada beton akan berfungsi sebagai tulangan mikro yang disebar secara
merata dengan orientasi acak, sehingga dapat mengurangi jumlah retakan pada beton. Selain
perbaikan sifat mekanis di atas, ada beberapa perilaku mekanis lainnya pada beton serat,
diantaranya (Sukoyo, 2011):
1. Kuat Lentur
Seperti halnya dengan kuat tarik, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kuat
tekan beton juga akan berpengaruh terhadap kuat lenturnya. Pada waktu beton
menerima beban lentur maka beban tadi ditahan oleh kekuatan tarik pada daerah
tarik, dan juga akan ditahan oleh kekuatan tekan di daerah tekan. Sehingga apabila
kuat tekan dan tariknya meningkat, maka kuat lentur juga akan meningkat.
2. Regangan Susut
Susut adalah perubahan volume akibat perubahan waktu tanpa dilakukan
pembebanan pada suhu kamar. Pada beton yang kuat tekannya besar maka
regangan akibat susut akan kecil, dikarenakan pada beton yang kuat tekannya
besar maka water cement ratio (faktor air semen) kecil sehingga penguapan yang
terjadi juga kecil.
Universitas Sumatera Utara
3. Modulus Elastisitas
Modulus elastisitas beton tergantung dari beberapa faktor, diantaranya adalah kuat
tekan beton. Semakin tinggi kuat tekan beton maka modulus elastisitas juga
semakin besar, dimana perubahan panjang yang terjadi akibat pembebanan tekan
akan semakin kecil. Penambahan serat pada beton secara umum akan
meningkakan kuat tekan beton. Dengan demikian maka modulus elastisitasnya
juga akan meningkat. Sesuai dengan SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.1.5 digunakan
rumus nilai modulus elastisitas beton sebagai berikut:
= 0,043

1,5

Dimana: Ec =modulus elastic beton (MPa)
Wc =berat isi beton (kg/m), dimana nilai

berkisar 1500 kg/m -


2500 kg/m
fc =kuat tekan beton (MPa)
Untuk beton normal dengan massa kira-kira 2320 kg/m digunakan nilai:
= 4700
4. Poissons Ratio
Poissons ratio adalah perbandingan antara perubahan regangan arah tegak lurus
beban dengan perubahan regangan searah beban. Akibat penambahan serat maka
regangan yang terjadi baik longitudinal maupun transversal juga mengecil.

2.6. Perilaku Regangan - Tegangan Beton
Tegangan yang terjadi pada beton dinyatakan dalam rumus sebagai berikut:
=


Dimana: = Tegangan Beton (MPa)
P = Beban (N)
A = Luas Penampang (mm
2
)
Regangan yang terjadi pada beton dinyatakan dalam rumus sebagai berikut:
=


Dimana: = Tegangan Beton (MPa)
= Beban (N)
= Luas Penampang (mm
2
)
Universitas Sumatera Utara

J ika hubungan tegangan dan regangan dibuat dalam bentuk grafik dimana setiap nilai
tegangan dan regangan yang terjadi dipetakan dalam bentuk titik-titik, maka titik-titik
tersebut terletak dalam suatu garis lurus (linear), seperti terlihat pada gambar berikut:









Gambar 2.7 Hubungan Tegangan Regangan Linear
Hubungan tegangan regangan seperti gambar di atas adalah linear, dimana
regangan berbanding lurus dengan tegangannya. Namun pada kenyataan, tegangan tidak
selalu berbanding lurus dengan regangan, dimana apabila nilai dari tegangan dan regangan
dipetakan dalam bentuk titik - titik, maka tidak terbentuk hubungan linear didalamnya, seperti
pada gambar di bawah ini:








Gambar 2.8 Hubungan Tegangan Regangan non-Linear

Hubungan tegangan regangan seperti gambar di atas adalah non-linear, dimana
regangan tidak berbanding lurus dengan tegangannya.

Universitas Sumatera Utara
2.6.1 Regangan - Tegangan Balok Beton Bertulang








Gambar 2.9 Deformasi Lentur Balok Beton Bertulang

Apabila suatu gelagar balok bentang sederhana menahan beban yang mengakibatkan
timbulnya momen lentur, akan terjadi deformasi (regangan) lentur di dalam balok tersebut.
Pada kejadian momen lentur positif, regangan tekan terjadi dibagian atas dan regangan tarik
dibagian bawah dari penampang.
Regangan- regangan tersebut menimbulkan tegangan-tegangan yang harus ditahan
oleh balok, tegangan tekan di sebelah atas dan tegangan tarik di sebelah bawah.

2.7. Balok Beton Bertulang
Beton bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang
tidak kurang dari nilai minimum yang disyaratkan.
Pada keadaan dimana beban yang diberikan kepada balok cukup besar, maka serat-
serat beton pada bagian bawah akan mengalami tegangan tarik cukup besar pula sehingga
dapat terjadi retak beton pada bagian bawah. Untuk menahan gaya tarik yang cukup besar
pada serat-serat bagian tepi bawah ini lah maka diperlukan perkuatan dengan tulangan baja.
Pada balok beton bertulang ini tulangan baja ditanam sedemikian rupa sehingga gaya tarik
yang dibutuhkan untuk menahan momen pada penampang retak dapat ditahan oleh tulangan.
Pada keadaan normal atau beban kecil dengan menganggap belum terdapat retakan dan
struktur masih stabil, beton dan tukangan akan secara bersama-sama menahan gaya tekan
yang ditahan beton saja. Namun pada beban besar atau dikatakan struktur mulai tidak stabil
Universitas Sumatera Utara
maka tulangan baja akan mengambil alih menahan gaya tarik, sedangkan bagian yang
menahan tekan tetap ditahan beton.
Ada dua kondisi yang sering terjadi pada beton bertulang. Pertama yaitu, bila baja
telah mencapai batas luluh maka panjangnya akan bertambah yang akan mengakibatkan retak
pada beton bertambah besar, tetapi baja akan tetap melawan gaya yang bekerja. Pada saat ini
batang belum putus dan struktur tidak akan runtuh tiba-tiba. Akan tetapi lendutan dan retakan
awal yang terjadi merupakan indikasi struktur akan mengalami keruntuhan. Kondisi kedua
yaitu, bila baja tulangan tidak mencapai batas luluh sesaat struktur akan mengalami
keruntuhan, maka akan terjadi keruntuhan tiba-tiba atau tanpa peringatan. Dengan kata lain,
kehancuran struktur hanya sangat ditentukan oleh kekuatan beton.
2.7.1 Baja Tulangan
Kekuatan tarik beton yang dihasilkan hanya berkisar antara 9%-15% dar kuat
tekannya. Oleh karena itu, diperlukan perkuatan struktur yang mampu memberikan kontribusi
yang besar dalam meningkatkan kekuatan tari beton. Dan pemberian tulangan baja pada
beton adalah perkuatan yang paling memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan
kekuatan tarik beton.
Tulangan yang digunakan pada struktur beton terdapat dalam bentuk batang atau
anyaman kawat yang dilas (welded wire fabric). Batang tulangan mengacu pada tulangan
polos (plain bar) atau di Indonesia dikenal dengan istilah BJ TP dan tulangan ulir (deformed
bar) atau di Indonesia dikenal dengan istilah BJ TU. Tulangan ulir, yang diberi ulir melalui
proses rol pada permukaannya (polanya berbeda tergantung dari pabrik pembuatnya) untuk
mendapatkan ikatan yang lebih baik antara beton dan baja, digunakan untuk hamper semua
aplikasi.
Sifat fisis batangan tulangan baja yang paling penting dalam perhitungan perencanaan
beton bertulang adalah tegangan luluh (fy) dan modulus elastisitas (E). Berdasarkan SK SNI
03-2847-2002, ditetapkan nilai modulus elastisitas baja adalah 200000 MPa.






Universitas Sumatera Utara
Tabel 2.6 Standard Baja Tulangan Berdasarkan ASTM
Nomor
Batang
Diameter Nominal Luas Nominal Berat Nominal
(inch) (mm) (inch
2
) (mm
2
) (kg/m)
#3 0,375 9,500 0,110 71,000 0,559
#4 0,500 12,700 0,200 129,000 0,994
#5 0,625 15,900 0,310 200,000 1,552
#6 0,750 19,100 0,440 284,000 2,235
#7 0,875 22,200 0,600 387,000 3,041
#8 1,000 25,400 0,790 510,000 3,973
#9 1,128 28,700 1,000 645,000 5,059
#10 1,270 32,300 1,270 819,000 6,403
#11 1,410 35,800 1,560 1006,000 7,906
#14 1,693 43,000 2,250 1452,000 11,380
#18 2,257 57,300 4,000 2581,000 20,240

2.7.2 Analisa Balok Beton Bertulang
Bila penampang beton diberi beban hingga batas runtuh (kondisi regangan seimbang,
yaitu kondisi dimana balok menahan beban hingga regangan tekan lentur beton maksimum,

mencapai 0,003 dan tegangan tarik baja tulangan telah mencapai tegangan leleh

),
diagram distribusi tegangan tekan mempunyai bentuk kurva yang serupa dengan diagram
tegangan regangan beton tekan seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

= 0,003




Gambar 2.10 Diagram Tegangan-Regangan Saat Beton Dalam Kondisi Regangan Seimbang
Universitas Sumatera Utara
Kuat lentur suatu balok tersedia karena berlangsungnya mekanisme tegangan-
tegangan dalam yang timbul di dalam balok yang pada keadaan tertentu dapat diwakili oleh
gaya-gaya dalam. Momen tahanan dalam tersebut yang akan menahan atau memikul momen
lentur rencana actual yang ditimbulkan oleh beban luar.
Dalam penelitian ini, digunakan Metode Kekuatan Batas (Ultimit) dalam menganalisa
kekuatan lentur balok beton bertulang.
2.7.2.1 Analisa Balok Terlentur Tulangan Tarik (Tunggal)
Analisa balok terlentur dilakukan setelah diketahui dimensi penampang balok seperti:
lebar balok (b), tinggi balok (h), jumlah dan dimensi tulangan baja tarik (As), fc, dan

serta
yang akan ditinjau atau yang perlu dicari adalah kekuatan misalnya menghitung Mn,
menghitung beban maksimum yang dapat dipikul balok, dan sebagainya.
Untuk tujuan penyederhanaan, Whitney telah mengusulkan bentuk persegi panjang
sebagai distribusi tegangan beton tekan ekivalen. Standard SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.3.2
ayat 7 juga menetapkan bentuk tersebut sebagai ketentuan, meskipun pada ayat 6 tidak
menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk-bentuk yang lain sepanjang hal tersebut
adalah hasil pengujian.


a =








Gambar 2.11 Diagram Tegangan Ekivalen Whitney

Universitas Sumatera Utara

= 0,003








Gambar 2.12 Analisis Balok Bertulangan Tarik





=
0,85

.
600
600 +





Dimana: N
D
=resultante seluruh gaya tekan pada daerah di atas garis netral
N
T
=resultante seluruh gaya tarik pada daerah di bawah garis netral
M
R =
momen tahanan
Asb = bd
ND = 0,85 fc ab
NT = As fy
As mak = 0,75 Asb
a = 1 c
mak = 0,75 b
min = 1,4 / fy
MR = ND(z) = NT (z)
ND = NT
0,85 fc ab = As fy
Universitas Sumatera Utara
z =jarak antara resultante tekan dan tarik
c =jarak serat tekan terluar ke garis netral
fy =tegangan luluh tulanangan
fc =kuat tekan beton
As
b
=luas tulangan balok seimbang
=ratio penulangan
d =tinggi efektif balok
b =lebar balok

1
=konstanta yang merupakan fungsi dari kelas kuat beton.
SK SNI T-15-1991-03 menetapkan nilai
1
=0,85 untuk fc 30 MPa, berkurang 0,008
untuk setiap kenaikan 1 MPa dan nilai tersebut tidak boleh kurang dari 0,65.
() ()
=
Standard SK SNI T-15-1991-03 pasal 2.2.3 ayat 2 memberikan faktor reduksi
kekuatan untuk berbagai mekanisme dan untuk tarik aksial tanpa dan dengan lentur
= 0,8.
2.7.2.2 Analisis Balok Terlentur Tulangan Tekan-Tarik (Rangkap)

Di lapangan, balok dengan tulangan tunggal secara praktis tidak ada (jarang sekali
dijumpai) dan hampir semua balok selalu dipasang tulangan rangkap. Ini diebabkan karena
pada perencanaan suatu bangunan, gaya gempa yang terjadi dengan arah bolak-balik juga
diperhitungkan.
Penulangan rangkap dapat memperbesar momen tahanan pada balok. J ika suatu
kemungkinan terjadi bahwa beban yang dipikul balok dengan ukuran tertentu dan persentase
tulangan tertentu terlampau besar, sedangkan ukuran balok tidak dapat diperbesar dengan
pertimbangan pelaksanaan, maka diperlukan penambahan tulangan baik tulanganatas maupun
tulangan bawah.
Tulangan baja berperilaku elastis hanya sampai tingkatan dimana regangannya
mencapai luluh (
y
). Dengan kata lain, apabila regangan tekan baja (s) sama atau lebih besar
dari regangan luluhnya (
y
) maka sebagai batas maksimum tegangan tekan baja (f
s
) diambil
sama dengan tegangan luluhnya (f
y
).
Universitas Sumatera Utara
Pada analisa balok terlentur tulangan rangkap, biasanya akan dijumpai dua kondisi.
Kondisi pertama yaitu bahwa tulangan tekan telah luluh bersamaan dengan luluhnya tulangan
tarik saat beton mencapai regangan maksimum 0,003. Kondisi ini diharapkan beton belum
hancur walau baja sudah luluh. Kondisi kedua yaitu dimana tulangan tekan masih belum
luluh saat tulangan tarik sudah luluh bersamaan dengan tercapainya regangan maksimum
beton sebesar 0,003.

= 0,003






Gambar 2.13 Analisis Balok Bertulangan Rangkap


= =

)


0,003
=







a = 1 c
As= As1 + As2 ND2= As fs
ND1= 0,85 fc ab
NT1= As1 fy As 1= makbd
NT2= As2 fy
Mr1= bdk
Mr2= Mu - Mr1
MR = ND(z) = NT (z)
NT= ND1+ND2
As fy= 0,85 fc ab + As fs

Universitas Sumatera Utara
Dimana: N
D1
=resultante gaya tekan yang ditahan oleh beton
N
D2
=resultante gaya tekan yang ditahan oleh tulangan baja tekan
N
T1
=resultante gaya tarik pada tulangan tarik akibat beton
N
T2
=resultante gaya tarik pada tulangan tarik
M
R =
momen tahanan
z =jarak antara resultante tekan dan tarik
c =jarak serat tekan terluar ke garis netral
fy =tegangan luluh tulanangan
fc =kuat tekan beton
As
1
=luas tulangan baja tekan (As)
As
2
=luas tulangan baja tarik
=ratio penulangan
d =tinggi efektif balok
b =lebar balok

1
=konstanta yang merupakan fungsi dari kelas kuat beton.
SK SNI T-15-1991-03 menetapkan nilai
1
=0,85 untuk fc 30 MPa, berkurang 0,008
untuk setiap kenaikan 1 MPa dan nilai tersebut tidak boleh kurang dari 0,65.

2.8. Retak
Ketika balok beton bertulang diberikan beban yang semakin meningkat, maka balok
akan mengalami 3 tahapan sebelum balok mengalami keruntuhan, yaitu tahapan balok
sebelum mengalami retak, balok mengalami retak, dan tahapan kekuatan batas.
Terdapat tiga jenis keretakan yang terjadi pada balok beton bertulang, yaitu:
1. Retak miring yang terjadi akibat geser pada badan balok beton bertulang. Retak
ini sering terjadi pada balok beton prategang dan non prategang. J enis retak
miring yang paling umum adalah retak geser lentur.
2. Retak lentur yang terjadi hampir tegak lurus terhadap sumbu balok dan terjadi
pada daerah momen lentur yang besar. Retak terbentuk pada sisi bawah di tengah
bentang. Pada penelitian ini, jenis retak ini yang akan diidentifikasi.
3. Retak punter, cukup miring dengan retak geser terkecuali retak punter ini
melingkar di sekeliling balok.
Universitas Sumatera Utara
Lebar retak maksimum yang dapat diterima bervariasi dari sekitar 0,004-0,016 in,
tegantung lokasi, jenis struktur, tekstur permukaan beton, iluminasi, dan faktor-faktor lain.
Komite ACI 224, dalam laporannya tentang retak, memperlihatkan sejumlah perkiraan lebar
retak maksimum yang diizinkan untuk batang beton bertulang dalam berbagai situasi dapat
dilihat pada table berikut (J ack C. McCormac, 2004):
Tabel 2.7 Lebar Retak Yang Diizinkan
Batang yang bersentuhan dengan Lebar retak yang diizinkan (inch)
Udara kering 0,016
Udara lembab, tanah 0,012
Larutan bahan kimia 0,007
Air laut dan percikan air laut 0,006
Digunakan pada struktur penahan air 0,004

2.9. Lendutan
Lendutan pada balok beton bertulang akan sangat mengganggu struktur bangunan dan
bahkan bisa sangat membahayakan jika lendutan telah melewati batas maksimum yang
diizinkan. Berdasarkan Peraturan ACI, terdapat nilai lendutan maksimum yang diizinkan
pada balok beton bertulang seperti pada tabel berikut:
Tabel 2.8 Lendutan Maksimum Yang Diizinkan
Jenis Batang Struktur Lendutan Yang Harus
Diperhitungkan
Batas Lendutan
Atap datar yang tidak
menopang atau menempel
pada batang nonstruktural
yang dapat rusak akibat
lendutan besar
Lendutan yang segera terjadi
karena beban hidup L

180

Universitas Sumatera Utara
Lantai yang tidak menopang
atau menempel pada batang
nonstruktural yang dapat
rusak akibat lendutan besar
Lendutan yang segera terjadi
karena beban hidup L

360

Konstruksi atap atau lantai
yang menopang atau
menempel pada batang
nonstruktural yang dapat
rusak akibat lendutan besar
Bagian dari lendutan total
yang terjadi setelah
penempelan batang
nonstruktural (jumlah
lendutan jangka panjang
yang disebabkan oleh
seluruh beban tetap dan
lendutan yang segera terjadi
karena penambahan beban
hidup)

480

Konstruksi atap atau lantai
yang menopang atau
menempel pada batang
nonstruktural yang tidak
akan rusak akibat lendutan
besar

240

Dimana l =panjang bentang (mm)

2.9.1 Perhitungan Lendutan
Lendutan pada balok beton dapat dihitung menggunakan persamaan-persamaan
lendutan biasa, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut (J ack C. McCormac, 2004):



=









Universitas Sumatera Utara


=









Universitas Sumatera Utara

=






Tabel 2.9 Perhitungan Lendutan Yang Terjadi Pada Beberapa Kondisi Pembebanan
Kondisi Pembebanan dan Profil Tendon Pada Balok Sederhana
dengan Bentang l
Defleksi di Tengah
bentang
Beban
Merata

=
5
384


Beban
Terpusat (1)

=
1
48


Universitas Sumatera Utara
Beban
Terpusat (2)

=
1
24
(3
2
4
2
)


Eksentrisitas
Konstan

=
1
8


Titik Harping
Tunggal

=
2
1
+
2
24

2


Titik Harping
Ganda

=

1
8


2
6
(
1

2
)


Profil
Parabola

=
1
+
5
6
(
1

2
)

2
8


Pada keadaan setelah retak lendutan balok yang terjadi tidak dapat dihitung
menggunakan persamaan lendutan biasa, karena akan mengalami kesulitan dalam
menentukan momen inersia yang akan digunakan.
Untuk bagian balok dengan momen lebih kecil daripada momen retak (

), balok
dapat diasumsikan tidak mengalami retak dan momen inersia dapat diasumsikan sebesar

.
Namun ketika momen lebih besar daripada momen retak (

), retak tarik pada balok akan


menyebabkan berkurangnya penampang melintang balok, dan momen inersia dapat
diasumsikan sama dengan nilai transformasi (

).
Pada retak tarik diasumsikan bahwa momen inersia mendekati momen inersia
transformasi

, tetapi perlu diingat pada tempat di antara retak-retak tersebut nilai momen
Universitas Sumatera Utara
inersia lebih mendekati

. Akibatnya sulit sekali menentukan nilai momen inersia yang akan


digunakan.
Peraturan ACI memberikan persamaan momen inersia yang digunakan dalam
perhitungan lendutan. Momen inersia ini merupakan nilai rata-rata dan digunakan pada
semua titik pada balok sederhana dimana lendutan terjadi. Momen inersia ini disebut momen
inersia efektif (

) dimana dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

+ 1


Dimana:

=Momen inersia efektif


=Momen beban layan maksimum yang terjadi pada kondisi yang diharapkan

=Momen inersia penampang


=Momen inersia transformasi pada penampang retak


=Momen retak, yang dapat dihitung dengan persamaan berikut :

=
f
r
I
g
y
t

dengan: f
r
=Modulus retak beton =0,7
y
t
=jarak dari garis netral penampang utuh ke serat
tepi tertarik (mengabaikan tulangan baja) =
1
2








Universitas Sumatera Utara