Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI HEWAN
Fisiologi Sistem Respirasi



Kelompok Praktikum : 3 (Tiga)
Nama Anggota Kelompok : 1. Dhany Ardyansyah (3425102437)
2. Nadia Novia Wulandari (3425100166)
3. Nurlaila Khairunnisa (3425101474)
4. Putri Diana (3425102438)
5. Syifa Eka Sulistyowati (3425102443)
Dosen Praktikum : Dr. Rusdi, M. Biomed.
Asisten Praktikum : Tyas Tri Utami, S. Pd.
Tanggal praktikum :
Tanggal pengumpulan :


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Fisiologi Sistem Respirasi

A. Tujuan percobaan
- mengetahui organ-organ pernapasan pada beberapa jenis ikan
- mengetahui organ-organ yang termasuk alat bantu pernapasan pada beberapa
jenis ikan
- menganalisis perbedaan organ pernapasan pada beberapa jenis ikan dengan
lingkungan tempat hidupnya
- mengamati terjadinya oksidasi pada jaringan
- mengetahui permeabilitas paru-paru terhadap gas

B. Landasan Teori
1. Respirasi
Respirasi dapat diartikan :
- bernapas yaitu proses inspirasi dan ekspirasi, menghirup O2 dan melepaskan
CO
2

- pertukaran gas yaitu pertukaran O
2
dan CO
2
baik antara alveolus dan kapiler
paru-paru, maupun antara kapiler jaringan dan sel di jaringan.
Respirasi dapat diartikan sebagai proses peningkatan oksigen dan
pengeluaran karbondioksida oleh darah melalui permukaan alat pernafasan
organisme dengan lingkungannya atau merupakan proses yang dilakukan oleh
organisme untuk menghasilkan energi dari hasil metabolisme (Triastuti et.al,
2009). Ada dua macam respirasi yaitu, respirasi eksternal (luar) dan respirasi
internal (dalam). Respirasi luar meliputi proses pengambilan O
2
dan pengeluaran
CO
2
dan uap air antara organisme dengan lingkungannya. Respirasi internal
disebut juga pernapasan seluler karena pernapasan ini terjadi di dalam sel, yaitu
di dalam sitoplasma dan mitokondria. Berdasarkan kebutuhan akan oksigen,
respirasi internal dibagi menjadi respirasi aerob dan anaerob. Menurut Imam
Abror (2010), respirasi dapat digolongkan menjadi 2 jenis berdasarkan
persediaan O2 di udara, yaitu respirasi aerob dan anaerob. Respirasi aerob
merupakan proses respirasi yang membutuhkan O2, sebaliknya respirasi anaerob
merupakan respirasi yang berlangsung tanpa membutuhkan O2. Perbedaan
antara keduanya akan terlihat pada proses tahapan reaksi dalam respirasi. Proses
transpor gas-gas secara keseluruhan berlangsung secara difusi.
Respirasi sel berlangsung dalam 4 tahap yaitu: glikolisis, dekarboksilasi
oksidatif, siklus rebs, dan transport elektron. Dari ke-4 tahap respirasi teresebut,
hanya glikolisis yaitu pemecahan glukosa menjadi asam piruvat yang
berlangsung secara anaerob. Pada tahap dekarboksilasi oksidatif dan siklus
krebs, oksigen diperlukan untuk membentuk CO
2
. Sedangkan pada tahap
transport elektron, oksigen diperlukan sebagai penerima elektron terakhir
membentuk radikal oksigen dan bereaksi dengan H
+
membentuk air.
Pada tahap pertukaran gas, oksigen dari alveolus masuk ke kapiler paru-paru
dan diikat oleh haemoglobin di dalam sel darah merah membentuk Hb(O
2
)
4
dan
terdapat sejumlah oksigen yang terlarut dalam plasma darah yang tidak diikat
oleh Hb. Oksigen inilah yang menentukan tekanan parsial oksigen dalam darah.
Setelah sampai di kapiler jaringan, O
2
dilepas oleh Hb dan berdifusi ke dalam
sel. Mengapa O
2
selalu dilepas oleh Hb setelah sampai di kapiler jaringan? Hal
ini terjadi karena ada peningkatan kadar H
+
(penurunan pH). Hal inilah yang
disebut dengan efek Bohr. Oksigen yang berdifusi ke dalam otot akan diikat oleh
mioglobin. Pengikatan oksigen oleh haemoglobin dikatalis oleh 2,3 DPG (2,3
difosfogliserat) dalam sel darah merah.
Hasil respirasi di dalam sel adalah CO
2
, H
2
0 dan energi dalam bentuk ATP
dan panas yang hilang ke lingkungan. CO
2
akan diangkut oleh vena menuju
jantung dan dibuang melalui organ respirasi yaitu insang, kulit, atau paru-paru.
Energi dalam tubuh berasal dari oksidasi karbohidrat, lemak, dan protein.
Karbohidrat, lemak, dan protein dapat disimpan dalam tubuh sebagai sumber
energi cadangan. Karbohidrat disimpan dalam bentuk glikogen di hati, di otot,
dan di jaringan lain (common metabolic pool). Bila tubuh kekurangan suplai
makanan sumber energi, maka sumber energi cadangan di dalam tubuh akan
segera dibongkar. Pertama adalah glikogenolisis (penguraian glikogen menjadi
glukosa 1 fosfat), kedua lipolisis (penguraian lemak dari jaringan dan ditransfer
ke hati, tempat berlangsungnya glukoneogenesis yaitu pembentukan glukosa
dari bahan non karbohidarat), ketiga adalah proteolisis (penguraian protein
menjadi asam amino ditransfer ke hati, seperti langkah kedua).
Glukoneogenesis sangat penting karena sumber energi untuk sel saraf, sel
darah, dan sel ginjal yang tidak memiliki cadangan energi. Glikogen dalam
tubuh hanya bertahan sebagai sumber energi selama 1,5 hari. Oleh karena itu
bila dalam waktu 36 jam tubuh kekurangan kerbohidrat, maka lemak dan protein
akan diubah menjadi glukosa (glukoneogenesis) agar sel saraf, sel ginjal, sel
darah, dan sel lainnya tidak mati karena kekurangan energi.
Glukosa, asam lemak, dan asam amino yang diasorbsi oleh usus halus akan
dibawa oleh darah ke jaringan. Glukosa akan mengalami glikolisis menjadi asam
piruvat. Asam piruvat akan mangalami dekarboksilasi menjadi asetil koenzim A.
Sedangkan asam amino dapat langsung diubah menjadi asetil koenzim A.
Koenzim A selanjutnya masuk ke matriks mitokondria tempat berlangsungnya
siklus Krebs. Hasil oksidasi seluler dalam mitokondria ini adalah:
1. Energi yang ditangkap oleh ADP menjadi ATP dan ada yang hilang ke
lingkungan dalam bentuk panas. ATP dapat disimpan dalam bentuk
keratin fosfat (fosfokeratin)
2. Karbondioksida (CO
2
)
3. Air (H
2
O)
Karbon dioksida (CO
2
) yang terbentuk di mitokondria selanjutnya ditransfer
ke sitosol dan berdifusi ke cairan ekstra sel, dan selanjutnya masuk ke pembuluh
darah kapiler. Dari kapiler, CO
2
dibawa ke paru-paru oleh darah dalam bentuk
CO
2
terlarut, HbCO
2
, dan H
2
CO
3
. Pengangkutan CO
2
paling banyak dalam
bentuk H
2
CO
3
di eritrosit. Hal ini disebabkan pembentukan H
2
CO
3
dikatalis oleh
karbonat anhidrase yang ada di dalam eritrosit. Setelah sampai di kapiler paru-
paru, CO
2
berdifusi ke alveoli.
Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai
oleh tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat
dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul
makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin, 2005). Secara
sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai
berikut:
C
6
H
12
O
6
+ 6 O
2
6 CO
2
+ 6 H
2
O + ATP (Tobin, 2005)
Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya
oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini
memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen
(dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui
jumlahnya juga. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan
dalam bentuk laju konsumsi oksigen.
Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain
temperatur, spesies hewan, ukuran badan, dan aktivitas (Tobin, 2005). Laju
konsumsi oksigen dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain dengan
menggunakan mikrorespirometer, metode Winkler, maupun respirometer
Scholander. Penggunaan masing-masing cara didasarkan pada jenis hewan yang
akan diukur laju konsumsi oksigennya.
Mikrorespirometer dipakai untuk mengukur konsumsi oksigen hewan yang
berukuran kecil seperti serangga atau laba-laba. Alat ini terdiri atas syringe, kran
3 arah, tabung spesimen, dan tabung kapiler berskala. Metode Winkler
merupakan suatu cara untuk menentukan banyaknya oksigen yang terlarut di
dalam air. Dalam metode ini, kadar oksigen dalam air ditentukan dengan cara
titrasi. Titrasi merupakan penambahan suatu larutan yang telah diketahui
konsentrasinya (larutan standar) ke dalam larutan lain yang tidak diketahui
konsentrasinya secara bertahap sampai terjadi kesetimbangan (Chang, 1996).
Dengan metode Wingkler, kita dapat mengetahui banyaknya oksigen yang
dikonsumsi oleh hewan air seperti ikan. Respirometer Scholander digunakan
untuk mengukur laju konsumsi oksigen hewan-hewan seperti katak atau mencit.
Alat ini terdiri atas syringe, manometer, tabung spesimen, dan tabung kontrol.
Terdapat 2 mekanisme Respirasi yaitu:
- mekanisme inspirasi: yaitu pembesaran rongga torax yang di ikuti
mengembangnya paru-paru sehingga tekanan dalam paru-paru lebih rendah
dari tekanan udara luar, akibatnya udara akan mengalir masuk ke dalam
paru-paru.
- mekanisme ekspirasi: yaitu pengecilan dari rongga thorax dan paru-paru
yang diikuti oleh pengeluaran udara dari paru-paru.
1. Organ Respirasi pada Ikan
a. Organ Utama
Pernapasan merupakan proses pengambilan oksigen dan pelepasan
karbon dioksida oleh suatu organisme hidup. Untuk dapat bernapas maka
diperlukan organ pernapasan. Pada ikan, proses pernapasan umumnya dilakukan
dengan menggunakan insang (branchia). Insang berbentuk lembaran-lembaran
tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang
berhubungan dengan air, sedang bagian dalam berhubungan erat dengan kapiler-
kapiler darah. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen dan tiap
filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat
pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler, sehingga memungkinkan O2
berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar. Insang ikan juga mengalami
perkembangan sebagaimana organ-organ lainnya. Pada stadium larva, insang
belum sempurna dan belum dapat berfungsi. Untuk dapat bernafas, larva ikan
biasanya menggunakan kantung telur (yolk sac) atau pada beberapa ikan tertentu
menggunakan insang luar.
Gambar1. Anatomi organ perapasan pada ikan (fishes)

Insang ikan terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
- Filamen insang (hemibranchia = gill filament), berwarna merah, terdiri dari
jaringan lunak, berbentuk seperti sisir, melekat pada lengkung insang.
Banyak mengandung kapiler-kapiler darah sebagai cabang dari arteri
branchialis dan merupakan tempat terjadinya pengikatan oksigen terlarut
dari dalam air.
- Tulang lengkung insang (arcus branchialis = gill arch), merupakan tempat
melekatnya filamen dan tapis insang, berwarna putih, dan memiliki saluran
darah (arteri afferent dan arteri efferent) yang memungkinkan darah dapat
keluar dan masuk ke dalam insang.
- Tapis insang (gill rakers), berupa sepasang deretan batang tulang rawan
yang pendek dan sedikit bergerigi, melekat pada bagian depan dari lengkung
insang, berfungsi untuk menyaring air pernapasan. Pada ikan-ikan herbivora
pemakan plankton, tapis insangnya rapat dan ukurannya panjang. Hal ini
sesuai dengan fungsinya sebagai alat penyaring makanan. Sedangkan pada
ikan-ikan karnivora, tapis insang tersebut jarang-jarang dan berukuran
pendek
Ikan-ikan bertulang sejati memiliki insang yang ditutup oleh penutup insang
(apparatus opercularis). Tutup insang ini terdapat di sebelah kanan dan kiri
bagian belakang dari kepala, berbentuk seperti setengah membundar. Tutup
insang terdiri atas:
- Operculum, yang tersusun atas empat potong tulang, yaitu:
os operculare, merupakan tulang yang paling besar dan letaknya paling
dorsal
os preoperculare, merupakan tulang kecil yang melengkung seperti sabit
dan terletak paling cranial
os interoperculare, merupakan tulang kecil yang terletak di antara os
operculare dan os preoperculare
os suboperculare, merupakan bagian tulang yang terletak paling caudal

- Membrana branchiostega, merupakan selaput tipis yang melekat pada
operculum dan berakhir bebas di tepi belakang dari operculum. Berfungsi
sebagai klep untuk menahan agar supaya air tidak masuk ke dalam rongga
insang dari arah belakang.
- Radii branchiostega, merupakan tulang-tulang kecil yang terletak pada bagian
ventral pharynx, dan berfungsi untuk menyokong membrana branchiostega.
Ikan-ikan bertulang rawan (Chondrichthyes) tidak memiliki tulang-tulang
penutup insang. Insang ikan tersebut berada di dalam rongga dan berhubungan
keluar melalui celah-celah insang yang berjumlah sekitar 5 7 buah.
b. Organ Pernapasan Tambahan
Ada beberapa jenis ikan tertentu yang selain bernapas dengan insang juga
menggunakan paru-paru sebagai organ pernapasannya. Ikan-ikan yang
mempunyai organ paru-paru adalah ikan paru-paru Australia (Neoceratodus
forsteri (Krefft, 1870)), ikan paru-paru Afrika Timur (Protopterus annectens
annectens (Owen, 1839)), dan ikan paru-paru Amerika Selatan (Lepidosiren
paradoxa Fitzinger, 1837).
Gambar 2. Anatomi organ bantu tambahan pada pernapasan ikan

Selain insang dan paru-paru, beberapa jenis ikan tertentu memiliki alat
pernapasan tambahan yang berupa:
a. Labyrinth, lipatan membran seperti bunga mawar yang merupakan
derivat dari lengkung insang. Pada ikan betok (Anabas testudineus
(Bloch, 1792)), organ labyrinth terletak di bagian atas insang dan
terdapat saluran yang menghubungkan labyrinth dan insang
b. Arborescent organ, berbentuk seperti bunga karang. Pada ikan lele
(Clarias batrachus (Linnaeus, 1758)) alat pernapasan tambahan ini
terletak di bagian atas depan insang.
c. Diverticula, lipatan kulit pada bagian mulut dan ruang pharynx,
misalnya pada ikan gabus (Channa striata (Bloch, 1793))
d. Alat pernapasan tambahan berupa tabung, misalnya pada ikan
Heteropneustes microps (Gnther, 1864) dan jenis catfish lainnya.
e. Dinding bagian dalam dari operculum yang banyak mengandung
pembuluh darah, misalnya pada ikan glodok (Periophthalmus kalalo
Lesson, 1831).
C. Alat dan Bahan
- Ikan sapu-sapu
- Ikan lele
- Ikan gurame
- Alat bedah
- Papan bedah
- Katak
- Metylen blue
- NaCl 0,7%
- Air kapur
- Alat suntik
- Tali
- Gelas kimia 100ml
D. Cara Kerja
- Kegiatan 1: Pengamatan Alat pernapasan ikan
1. Bedah ikan dengan hati-hati
2. Amati anatomi dari tiap-tiap alat pernafasan ikan (tipenya)
3. Apakah terdapat alat bantu pernafasan atau tidak
4. Kaitkan dengan habitat ikan tersebut

- Kegiatan 2: Pengamatan Oksidasi Jaringan
1. Katak dibius terlebih dahulu/dirusak otaknya agar mudah untuk diberi
perlakuan
2. Suntikan metylen blue pada aliran darah katak melalu bagian paha katak
3. Amati apakah terdapat perbedaan morfologi pada katak yang tidak diberi
perlakuan suntikan metilen blue (control)
4. Setelah 30menit bedah katak yang telah diberikan metylen blue dan lihat
bagaimana keadaan anatomi jaringan dalamnya
- Kegiatan 3: Pengamatan Permeabilitas Paru-Paru Terhadap Gas
1. Katak control yang tadi digunakan pada kegiatan 2, dibedah dan diambil
paru-parunya
2. Lalu tekan paru-parunya hingga kempis
3. Kemudian ikat pada daerah bronkus dengan benang
4. Setelah itu potong paru-paru dari trakea
5. Masukan paru-paru yang telah diikat tadi kedalan air kapur

E. Hasil
- Kegiatan 1: Pengamatan Alat pernapasan ikan
Tabel 1. Anatomi organ pernapasan pada ikan


Gambar 3. Alat respirasi pada ikan gurame, (dari kiri ke kanan), labirin berbentuk rose
atau kelopak bunga mawar yang dijepit dengan pinset, insang ada 4 lapis atau lembar,
dan letak insang dan jugalabiring tang tepat berada di atas atau dekat dengan insang
Ikan Mas Ikan Gurame Ikan Lele Ikan Sapu-
Sapu
Organ
Respirasi
primer
Insang berwarna
merah lebih
bening, terdiri
dari 4 lembar/
lapis (kanan &
kiri)
Insang berwarna
merah lebih
bening, terdiri
dari 4 lembar/
lapis (kanan &
kiri)
Insang berwarna
merah lebih
bening, terdiri
dari 4 lembar/
lapis (kanan &
kiri)
Insang
berwarna
merah lebih
bening, terdiri
dari 6 lembar/
lapis (kanan &
kiri)
Organ
Respirasi
sekunder/ta
mbahan
Memiliki
gelembung
renang yang
tidak mengalami
banyak
vasokonstriksi
Labirin tipe rose
atau seperti
kelopak-kelopak
bunga mawar
Labirin tipe
bunga karang,
dengan 2
percabangan
utamanya
Gelembung
renang tipe
fisotomus,
memiliki
banyak
pembulu darah
pada
gelembung
renangnya,
memiliki
banyak
vasokonstriksi
Gambar 4.alat respirasi tambahan pada lele, yaitu labirin yang berbentuk bunga karang.
Gambar 5. Alat respirasi tambahan pada ikan sapu-sapu, yaitu gelembung renang yang
berbentuk fisotomous

- Kegiatan 2: Pengamatan Oksidasi Jaringan
Dengan Metylen Blue Tanpa Metylen Blue
Jantung katak yang diberikan atau
sebelumnya sudah disuntikan metylen blue
pada jaringannya berwarna ungu
Jantung katak yang tidak diberikan
metylen blue berwarna pink (merah
muda)

- Kegiatan 3: Pengamatan Permeabilitas Paru-Paru Terhadap Gas
Ketika direndam dalam air kapur sirih, paru-paru yang tadi awalnya kempes,
menjadi mengembang dan mengapung, lalu dari paru-paru tersebut keluar
gelembung yang berwarna kecokelatan.

F. Analisa data
- Kegiatan 1: Pengamatan Alat pernapasan ikan
1. Alat respirasi ikan
Ikan mas, gurame, dan lele mempunyai alat respirasi primer yang sama, yaitu
insang yang terdiri dari 4 filamen. Insang pada ikan merupakan komponen penting
dalam pertukaran gas. Insang terbentuk dari lengkungan tulang rawan yang mengeras
dengan beberapa filamen insang di dalamnya. Setiap filamen insang terdiri atas
banyak lamela yang merupakan tempat pertukaran gas (Dwidjo,1980).
a. Ikan gurame
Pada kegiatan ini,kami mengamati insang ikan gurame dan pada insang terdiri
dari 4 filamen pada insang ikan gurame dan berwarna merah muda.Alat respirasi
tambahan (sekunder) pada ikan gurame berupa labirin yang terletak di dalam rongga
insang. Bentuk labirin mirip bunga mawar (karena ukuran kepala yang relative besar
sehingga bentuk labirinnya relative melebar) dengan lekukan-lekukan. Labirin-labirin
ini keras, dan warnanya lebih terang dibanding labirin pada ikan lele karena habitatnya
tidak terlalu miskin oksigen sehingga eritrosit yang dibutuhkan tidak sebanyak pada
ikan lele.Labirin pada ikan gurame lebih keras daripada insangnya.Hal ini disebabkan
karena insang itu terdiri dari filamen dan filamen itu terdiri dai lamela-lamela.Lamela
inilah yang berfungsi untuk memperluas penyerapan oksigen sehingga teksturnya lebih
lunak daripada labirin.Pada kegiatan ini,kami mengamati terdapat 4 filamen pada
insang ikan gurame dan berwarna merah muda.
Labirin inilah yang memungkinkan gurame dapat mengirup langsung oksigen
bebas dari udara, sehingga dapat hidup di perairan yang kandungan oksigennya
rendah. Itu sebabnya, gurami yang hidup di perairan yang miskin oksigen selalu
tampak muncul ke permukaan dan menyembulkan kepalanya ke atas permukaan air.
Pada dasarnya, gurame sangat menyukai perairan yang jernih, bening, dan tidak
banyak mengandung lumpur.Selain itu, mengingat sifatnya yang suka bergerak secara
vertikal (naik turun), gurami memerlukan perairan yang airnya relatif lebih dalam
(Anonim, 2009).
b. Ikan lele
Ikan lele mempunyai alat respirasi sekunder labirin. Alat pernapasan lele terletak
di kepala bagian belakang. Bentuk alat pernapasan tambahan (labirin) ikan lele seperti
bunga karang (disesuaikan dengan bentuk kepala lele yang pipih). Labirin berwarna
merah lebih pekat dari warna labirin pada ikan gurame karena habitat ikan lele
kandungan oksigennya lebih sedikit jadi eritrosit yang dibutuhkan lebih banyak
sehingga warna labirinnya merah pekat.Labirinnya terletak di bagian atas lengkung
insang kedua dan keempat. Fungsi labirin ini mengambil oksigen dari atas permukaan
air sehingga dapat mengambil oksigen secara langsung dari udara. Dengan alat
pernapasan tambahan ini, ikan lele dapat bertahan hidup dalam kondisi oksigen yang
minimum (Dwidjo,1980).Selain itu,labirin berfungsi untuk memperluas penyerapan
oksigen dan untuk menyimpan oksigen.Labirin pada ikan lele tidak sekeras pada ikan
gurame. Hal ini dikarenakan ikan lele hidup di daerah yang sangat berlumpur,
sedangkan ikan gurame hidup pada tempat yang tidak banyak mengandung lumpur
dan perairan yang lebih dalam sehingga ini sangat berpengaruh pada penyimpanan O
2
.
c. Ikan mas
Pada pengamatan ikan mas kami melihat insang sebagai alat respirasi primer
pada ikan.Insang ikan emas terdiri atas lengkung insang, rigi-rigi, dan lembar insang.
Lengkung insang tersusun atas tulang rawan berwarna putih. Pada lengkung insang ini
tumbuh pasangan rigi-rigi yang berguna untuk menyaring air pernapasan yang melalui
insang.
Lembaran insang tersusun atas lembaran lunak, berbentuk sisir, dan berwarna
merah, karena mempunyai banyak pembuluh kapiler darah yang merupakan cabang dari
arteri. Pada lembaran insang inilah pertukaran karbondioksida dan oksigen berlangsung.
Kami mengamati jumlah insang pada tiap-tiap sisi adalah 4 baris atau terdiri dari
filament berwarna merah.Insang tersebut membentuk baris-baris yang saling
berhubungan pada lengkung insangnya. Diantara baris insang dipisahkan oleh celah
insang.
Insang insang ikan emas tersimpan dalam rongga insang yang terlindung oleh
tutup insang (operkulum).Selain insang,sebagai alat respirasi primer pada ikan kami
juga melihat alat respirasi sekunder, yaitu gelembung renang (ductus pneumaticus).Tipe
ductus pneumaticus pada ikan mas adalah fisotomus karena berhubungan dengan
esophagus.Namun kami tidak melihat atau menemukan labirin pada ikan mas,seperti
halnya yang terdapat pada ikan gurame dan lele.Ikan mas tidak memiliki labirin karena
ikan mas hidup di air yang mengandung oksigen banyak, biasanya di sungai-sungai dan
kolam-kolam yang airnya tidak kotor/tercemar. Gelembung renang pada ikan mas
berfungsi untuk :
1. menyimpan oksigen
2. membantu gerakan ikan naik turun (melayang dalam air)

d. Ikan Sapu-Sapu
Alat pernafasan primer pada ikan sapu-sapu adalah insang. Tiap lembaran insang
terdiri dari sepasang filamen dan tiap filamen terdiri dari lamella. Pada filamen terdapat
pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler yang memungkinkan O
2
dan CO
2

berdifusi masuk dan keluar dari insang. Insang berhubungan erat dengan kapiler-kapiler
darah.
Ikan sapu-sapu memiliki alat pernapasan tambahan yang berupa gelembung renang.
Gerakannya memutar searah pembuluh darah. Gelembung renangnya bisa kembang
kempis. Gelembung renang berwarna putih bening dengan tipe physostomus, yaitu
gelembung renang yang berhubungan dengan saluran pencernaan (esophagus).
Gelembung renang tersambung ke labirin telinga bagian dalam dengan weberian,
struktur bertulang yang berasal dari tulang belakang, yang memberikan informasi yang
tepat tentang tekanan air dan kedalaman serta meningkatkan pendengaran. Gelembung
renang merupakan organ internal yang dipenuhi oleh gas yang berfungsi memberi
kemampuan ikan untuk mengendalikan daya apung sehingga mampu menghemat energi
untuk berenang. Fungsi lain gelembung renang adalah digunakan sebagai ruang
beresonansi untuk memproduksi atau menerima suara. Selain itu gelembung renang
juga berfungsi sebagai organ respiratori khusus untuk jenis physostomus. Udara yang
merupakan isi dari gelembung renang terdiri dari campuran nitrogen, oksigen, dan
karbondioksida.

- Kegiatan 2: Pengamatan Oksidasi Jaringan
Setelah 15 menit dari waktu awal penyuntikan, katak B dibedah dan diamati
warna organnya. Pada katak yang dijadikan variabel kontrol, warna organ-organ
internalnya tidak mengalami perubahan(katak A). Warna organ-organ pada katak
control tetap merah segar, karena oksigen dapat berikatan dengan hemoglobin dalam
eritrosit membentuk oksihemoglobin. Hemoglobin adalah suatu pigmen (berwarna
merah) karena berikatan dengan oksigen dan berwarna biru apabila mengalami
deoksigenasi. Dengan demikian, darah arteri yang teroksigenasi sempurna tampak
merah, dan darah vena yang telah kehilangan sebagian oksigennya di jaringan
memperlihatkan rona kebiruan. (Sherwood, 2005).
karena oksigen dapat berikatan dengan hemoglobin dalam eritrosit membentuk
oksihemoglobin. Di pembuluh darah, metilen biru yang memiliki afinitas (daya ikat)
yang lebih tinggi dibandingkan oksigen menyebabkan terbentuknya ikatan metHb
(methemoglobin) sehingga warna organ menjadi kebiruan. Itulah tandanya bahwa telah
terjadi deoksidasi jaringan, karena suplai oksigen di jaringan berkurang drastis akibat
penambahan metilen biru (http://en.wikipedia.org/wiki/Methemoglobinemia). Kondisi
seperti itu disebut dengan hipoksia, yaitu kekurangan O
2
di tingkat jaringan. Istilah ini
lebih tepat dibandingkan anoksia, sebab jarang dijumpai keadaan dimana benar-benar
tidak ada O
2
tertinggal dalam jaringa(Sherwood, 2001).
Tiga puluh menit kemudian, eritrosit yang tidak stabil karena kekurangan osigen
pun pecah. Pecahnya eritrosit menyebabkan methemoglobin yang tadinya berikatan
menjadi terurai. Hemoglobin yang terurai menjadi rusak, sedangkan metilen biru
berdifusi keluar pembuluh darah. Peristiwa tersebut menyebabkan warna organ-organ
yang tadinya biru beralih warna menjadi pucat. Jika semua eritrosit pada seluruh organ
mengalami kondisi demikian, maka maka akan terjadi kematian jaringan.

- Kegiatan 3: Pengamatan Permeabilitas Paru-Paru Terhadap Gas
Paru yang digunakan adalah paru katak yang terdiri dari dua paru (di sebelah
kanan dan di sebelah kiri tubuh katak). Paru katak berwarna merah muda ketika diambil
dari besar laju aliran udara, karena udara terus mengalir sampai tekanan intra alveolus
seimbang dengan tekanan atmosfer. Sel-sel alveolus mengeluarkan suatu zat yang
dinamakan surfaktan paru, suatu fosfolipoprotein yang berada di antara molekul-
molekul air dan menurunkan tegangan permukaan, sehingga compliance paru dapat
meningkat dan mencegah kecenderungan alveolus untuk kolaps. Maka dari itu, ketika
paru katak dimasukkan kedalam air kapur yang memiliki banyak gas CO
2
tidak
membuat paru katak menjadi kolaps.
Setelah paru katak menjadi mengembang, air kapur menjadi cukup bening
karena gas CO
2
didalam air kapur telah masuk kedalam alveolus secara difusi. Sehingga
hanya tertinggal sedikit CO
2
didalam air kapur serta terbentuk endapan Ca(OH)
2
.
CaCO
3
(s) + H
2
O (l) H
2
CO
3
(l) + Ca(OH)
2
(l)

H
2
CO
3
(l) H
2
O (l) + CO
2
(g)

Paru katak tersusun atas jaringan epitel pipih selapis, sehingga bisa terjadi
pertukaran gas melalui membran paru yang tersusun dari jaringan tersebut. Setelah paru
ditekan, paru katak yang diikatkan dengan benang halus di daerah bronkus bertujuan
agar aliran darah dari pembuluh darah tidak mengalir ke dalam paru dan tercipta
tekanan udara antara lingkungan dengan bagian dalam paru. Paru yang sudah diikatkan
dipotong pada bagian atasnya untuk dimasukkan ke dalam air kapur (larutan CaCO3).
Air kapur terlihat lebih keruh dan adanya gelembung, menandakan adanya CO2
setelah ditiup oleh praktikan. Setelah dimasukkan, ternyata paru katak menjadi
mengembang. Hal ini karena, adanya perbedaan tekanan parsial gas CO
2
antara di dalam
air kapur dengan di dalam paru. Tekanan parsial ini tidak terlalu beda jauh, karena gas
yang terdapat di dalam air kapur ada yang menguap ke udara, tetapi masih tersisa gas
yang terlarut didalam air kapur, sehingga tekanan tetap terjadi walau tidak begitu besar.
Tekanan CO
2
pada larutan CaCO
3
(air kapur) lebih besar dibandingkan dengan
tekanan CO
2
di dalam alveolus, sehingga CO
2
berdifusi dari dalam larutan CaCO
3
ke
dalam alveoli sesuai dengan selisih tekanan sehingga paru-paru terlihat menggembung
karena terisi oleh CO2 yang terdapat dalam larutan air kapur. Serta, paru katak menjadi
berwarna merah pucat karena adanya akumulasi CO
2
ke dalam paru.

G. Kesimpulan
- Organ respirasi primer pada ikan adalah insang, sedangkan organ respirasi
sekunder pada ikan yaitu gelembung renang atau labirin yang keberadaan,
bentuk, dan warnanya merupakan salah satu bentuk adaptasi fisiologis
terhadap kondisi habitatnya.
- Proses respirasi memerlukan oksigen sebagai bahan utama peristiwa oksidasi
jaringan, yaitu pengubahan bahan makanan menjadi energi. Apabila suplai
oksigen tidak mencukupi, maka jaringan akan mengalami hipoksia dan lama-
kelamaan dapat terjadi kematian jaringan.
- Membran paru-paru permeabel terhadap oksigen(O
2
) dan karbondioksida
(CO
2
) sehingga dalam proses respirasi, pertukaran antara keduanya dapat
berlangsung secara difusi, yang juga dipengaruhi oleh tekanan antara
pembuluh darah yang mengandung kedua zat tersebut dengan dinding
alveolus paru-paru.

H. Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Sifat Biologi Ikan Gurame. http://hobiikan.blogspot.com/2009/08/sifat-
biologi-ikan-gurame.html, 7 Oktober 2009, pkl 22.00 WIB.
Anonim. 2005. Thermoregulation and Buoyancy. Telah diakses dari http://www.faculty.
sfasu.edu/collyerml/courses/user/ich/f2009/lec6-7.pdf pada tanggal 7 Oktober
2009 pukul 22.31 WIB.
Anonim. 2009. Fisiologi Pernapasan. Telah diakses dari http://www.scribd.com/doc/
8343651/FISIOLOGI-PERNAPASAN pada tanggal 7 Oktober 2009 pukul 23.00
WIB.
Anonim. 2009. Methemobglobin. Telah diakses dari http://en.wikipedia.org/
wiki/Methemoglobinemia pada tanggal 7 Oktober 2009 pkl 20:45 WIB
Campbell,M.R. 2002.Biologi.Jakarta: Erlangga
Dwidjo,S.D. 1980. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Gramedia.
Ramel, Gordon. 2009. Fish Anatomy : The Swim Bladder. Telah diakses dari
www.earthlife.net/fish/bladder.html pada tanggal 8 Oktober 2009 pukul 05.00
WIB.
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia. Jakarta : EGC.
Slamet,P. 2005.Sains Biologi.Jakarta: Bumi Aksara


I. Lampiran

Soal:
1. Mengapa keluar masuknya O
2
dan CO
2
dari organ respirasi ke jaringan dan
sebaliknya berlangsung secara difusi?
Keluar masuknya O
2
dan CO
2
dari organ respirasi ke jaringan dan sebaliknya
berlangsung secara difusi. Hal ini dikarenakan organ pernafasan memiliki sifat yang
mendukung proses difusi, yaitu memiliki membran yang bersifat permeabel, permukaan
membran basah, dan memiliki permukaan yang relatif luas.

2. Buatlah kurva disosasi O
2
dan CO
2
. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
pergeseran kurva disosiasi?
Kurva disosisasi adalah kurva yanga menggambarakan pengikatan dan pembebasan O
2

secara kooperatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kurva disosisasi:
- Afinitas oksigen pada hemoglobin adalah labil. Afnitas dapat ditingkatkan
dengan menurunkan suhu, peningkatan pH dasar darah, atau kadar
difosfogliserat (DPG) yang rendah. Keadaan ini mengakibatkan disosiasi
hemoglobin-oksigen bergeser ke kiri. Afinitas oksigen hemoglobin dapat
dikurangi oleh faktor berikut, yang menggeser kurva ke kanan.
- Jika konsentrasi karbon dioksida ditingkatkan maka karbondioksida diubah
menjadi asam karbonat dan pH darah menurun. Penurunan pH darah
menyebabkan semakin sulit memenuhi hemoglobin dengan oksigen dan
membuat oksigen lebih mudah keluar ke jaringan. Pengaruh pH pada afinitas
oksigen-hemoglobin disebut efek Bohr. Peningkatan pengeluaran oksigen
oleh hemoglobin berguna sewaktu olahraga, stress atau meningkatnya
keasaman darah.
- Peningkatan suhu, menyebabkan bertambahnya kesulitan untuk memenuhi
hemoglobin dengan oksigen. Hemoglobin juga lebih mudah memberikan
oksigen pada suhu yang tinggi. Pada suhu tubuh tinggi, laju metabolisme
meningkat dan kebutuhan oksigen di tingkat jaringan lebih besar.
- Peningkatan kadar DPG. Peningkatan produk metabolisme anaerob
menurunkan afinitas hemoglobin untuk oksigen dan meningkatkan
pengeluaran oksigen ke jaringan. DPG dihasilkan metabolisme anaerob
(glikolisis) dan memiliki efek langsung pada hemoglobin. Kadar DPG
meningkat pada kondisi anaerob dan oksigen dengan mudah diserahkan oleh
hemoglobin. Hal ini membuat lebih banyak oksigen di tingkat jaringan untuk
metabolisme oksidatif.

3. Jelaskan secara singkat mekanisme sintesis ATP di dalam sel!

Langkah akhir pada fosforilasi oksidatif adalah mengkonservasi ADP menjadi ATP.
Ini terjadi dalam gabungan molekul protein yang besar, yang menonjol ke segala arah
melalui bagian dalam membran mitokondria dan menonjolkan kepala seperti bongkol ke
bagian dalam matriks. Molekul ini adalah ATPase, dinamai ATP sintetase.
Dipostulasikan bahwa konsentrasi ion hidrogen yang lebih tinggi di dalam ruang antara
2 membran mitokondria dan perbedaab potensial listrik yang kasar yang melintasi
bagian dalam membran ini menyebabkan ion hidrogen mengalir ke dalam matriks
mitokondria melalui zat dari molekul ATPase. Dalam melakukan ini, energi yang
berasal dari aliran ion hidrogen digunakan oleh ATPase. Untuk mengubah ADP
menjadi ATP dengan menggabungkan ADP dengan fosfat, pada waktu yang sama
mmbentuk tambahan ikatan fosfat berenergi tinggi.
Kini dapat ditentukan jumlah total molekul ATP yang dibentuk untuk energi dari satu
molekul glukosa, jumlahnya adalah 2 selama glikolisis, 2 selama siklus asam sitrat dan
34 selama fosforilasi oksidatif. Yang membuat jumlah total 38 molekul ATP terbentuk
untuk tiap molekul glukosa yang didegradasi menjadi CO
2
dan air. Jadi 30.000 kalori
energi disimpan dalam bentuk ATP, sedangkan 686.000 kalori dikeluarkan selama
oksidasi lengkap setiap grm molekul glukosa. Hal ini menggambarkan efisiensi
keseluruhan transfer energi sebesar 44%. Sisa energi sebesar 56% menjadi panas, oleh
karena itu tidak dapat digunakan oleh sel untuk melakukan fungsi spesifik.

4. Sebutkan membran respiasi atau pada bagian apa pertukaran O
2
dan CO
2
berlangsung pada ikan, katak, reptilia, burung dan mamalia!
- Ikan: insang, gelembung renang, labirin
- Katak: kulit, paru-paru (trakhea, bronchus,bronkheoli)
- Reptil: paru-paru (trachea, bronchus, selat kompleks)
- Burung: kantong udara (pundit-pundi hawa), paru-paru (trachea, bronchus,
parabronkhus, kapiler-kapiler udara).
- Mamalia: paru-paru (trakhea, bronchus, bronkheoli, alveoli).