Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PANCASILA

KLITEMNESTRA

SEMESTER GANJIL 2012/2013

NAMA : Kho, Gabriella Anna A P
NPM : 2011610148
KELAS : C




UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
PUSAT KAJIAN HUMANIORA
BANDUNG
2012
Karakter dalam Klitemnestra
Klitemnestra : Yani Mae
Agamemnon : Heksa Ramdono
Orestes : Irwan Jamal
Elektra : Zulfa Laila
Apollo : Agus Darmawan

Athena : Yenni S. Ovikawati
Tindarius : Dedi Warsana
Warga Kerajaan : Rinrin Candraresmi
Kemurkaan : M. Iqbal Maulana
Pengawal : Anggapura
Sinopsis Klitemnestra
Elektra, seorang putri di Kerajaan Argos, dari Raja Yunani bernama Agamemnon,
yang dibunuh oleh istrinya sendiri, Klitemnestra pada saat Raja Agamemnon kembali
membawa kegemilangan di Medan Perang melawan Troya. Pembunuhan Klitemnestra yang
dibantu oleh selingkuhannya, Aegisthus, didasarkan pada alasan karena Klitemnestra tidak
bisa menerima tindakan Raja Agamemnon yang mengorbankan anaknya perempuan yang
lain hanya untu memenuhi prasyarat dewa laut agar armada kapalnya bisa mengepung Troya.
Tidak hanya itu, alasan lain yang mendukung Klitemnestra adalah karena kemarahannya akan
Agamemnon yang membawa gadis taklukan perang yang ahli menafsirkan orakel dewata,
bernama Kassandra. Agamemnon menjadikan Kassandra sebagai pengawal setia di ranjang.
Elektra hidup di kerajaan dalam penderitaan yang berat, ayahnya meninggal, tidak
menikah karena tidak diperbolehkan oleh ibunya. Ia memiliki saudara bernama Orestes,
namun Orestes dibuang dari kerajaan, karena Klitemnestra takut ia akan membalaskan
dendam karena kematian Ayahnya, Agamemnon. Elektra sangat cinta kepada ayah dan
saudara laki-lakinya Orestes, ia merasa harus membalaskan dendam kepada ibunya. Ia
tersiksa, karena keberadaannya juga tidak dihargai. Elektra yang pergi dari kerajaan dan
Orestes muncul, kematiannya adalah rumor dimaksudkan untuk membuang Aegisthus dan
Klitemnestra lengah sehingga ia dapat membalaskan dendam Agamemnon. Elektra tidak
mengenalinya pada awalnya, dan dia terkejut melihat dia turun ke kegilaan. Dia memberikan
Orestes kapak nya, yang ia gunakan untuk meminta Orestes untuk membalaskan dendam
kematian ayahnya. Orestes pun kembali dalam kemurkaannya. Orestes tidak tahu apa yang
sebaiknya ia lakukan, karena ibu adalah seseorang yang telah melahirkannya, namun dendam
dalam hatinya sangatlah kuat. Orestes dan Elektra melakukan ritual di makan Agamemnon
dan kemudia mereka berdua merencanakan cara pembalasan dendamnya. Akibat kegundahan
Orestes, ia pun datang kepada Dewata Apollo meminta titah. Dewata Apollo memberikan
pencerahan kepada Orestes, ia menyetujui Orestes untuk menyerang musuh ayahnya, ia pun
memberikan perlindungannya kepada Orestes untuk melaksanakan pembalasan dendam.
Apollo merasa bahwa Orestes patut untuk membalaskan dendam ayahnya, walaupun
pembalasan dendam dilakukan dengan cara membunuh ibunya. Seorang istri tidak
selayaknya membunuh suaminya, ini melanggar ikatan perkawinan. Dalam sebuah
pernikahan mereka telah terikat dalam sebuah sumpah, sudah selayaknya mereka dalam
ikatan takdir, seorang suami membantu istrinya dan seorang istri melayani suaminya, dalam
keadaan apapun. Zeus pun berbicara dalam kemuliaannya, untuk mengambil tindakan atas
pembunuhan Orestes terhadap ibunya, karena darah daging tetap mengalir dalam tubuhnya.
Elektra memberikan Orestes kapak nya, yang akan ia gunakan untuk membunuh Klitemnestra
dan kemudian mengejar Aegisthus sampai akhirnya ia menangkap dan membunuhnya.
Orestes memberikan mayat Aegisthus kepada Elektra. Elektra masih merasa takut, ia
malu, ia merasa disakiti oleh kebanyakan orang di negerinya. Orestes merasa dapat
merasakan apa yang Elektra rasakan, turut dalam kesakitan yang Elektra terima. Elektra
melampiaskan kemarahannya terhadap mayat Aegisthus. Kemarahan terhadap Aegisthus
karrena menikahi Klitemnestra, merebut ibu dari sisinya, dan karena Aegisthus juga, Elektra
dilarang menikah oleh ibunya. Elektra ingin Aegisthus merasakan kesakitan yang Elektra
rasakan. Aegisthus telah merebut kerajaan, Elektra merasa Aegisthus tidak sepantasnya
mendapat apa yang telah ia dapatkan, memanfaatkan istana Argos.
Klitemnestra sepertinya mengetahui apa yang telah Elektra dan Orestes lakukan
terhadap Aegisthus. Ia menjadi semakin membenci Elektra, karena perbuatannya terhadap
Aegisthus. Membuat mereka menjadi ketakutan, tekanan karena penebusan dosa atas
pembunuhan yang baru saja dibuatnya. Orestes mulai merasa ketakutan, namun Elektra tetap
memberikan pengertian bahwa apa yang Orestes lakukan adalah tindakan yang benar.
Tindakan yang telah membela ayahnya sendiri, membalaskan dendam ayahnya. Orestes
merasa bahwa perlindungan yang Apollo berikan tidak berarti, karena tidak mungkin
seseorang membunuh dan ia dibenarkan atas perbuatannya itu. Elektra merasa Orestes telah
kehilangan keberaniannya, kehilangan jati diri sebenarnya, Orestes pun bangkit untuk
membuktikan bahwa pernyataan itu salah.
Klitemnestra sedih akan kematian Aegisthus. Orestes mengetahui hal itu dan memberi
tahu kepada Klitemnestra bahwa Orestes akan memasukkan mereka ke liang lahat yang sama,
karena dengan begitu pembalasan dendam Orestes akan segera selesai. Klitemnestra terus
mengingatkan bahwa ia tetap ibu dari Orestes, yang artinya Orestes memiliki darah dari
ibunya sendiri. Orestes terus mengingatkan perbuatan keji Klitemnestra yang telah
membunuh Agamemnon dan membuang Orestes jauh dari istana. Orestes sangat benci
terhadap Klitemnestra karena Aegisthus, karena dengan Aegisthus menikah dengan ibunya
berarti membawa Aegisthus untuk masuk ke dalam kerajaan. Ibunya pun mengutuk Orestes
jika ia membunuh Klitemnestra. Orestes membela diri dengan alasan ayahnya akan
membantunya, ayahnya akan membelanya ketika ia dapat hukuman atas pembalasan dendam
tersebut, karena perbuatan sang ibu yang tak tertahankan terhadap pembunuhan sang ayah.
Patung dewa Apollo dan Dewi kebijakan Athena menjadi hidup, kendati kebijakan
dewi keadilan Athena sebagai hakim dan sosok kelam Kemurkaan sebagai jaksa, tidak
membuahkan hasil, nyatanya hanya membuahkan perdebatan dewata yang tak berujung, yang
pasti, realitas kuasa politik menggelandang Orestes dan Elektra ke renah hukuman mati,
dimana Tindarius, ayah mendiang sang ratu dan pemimpin tertinggi Majelis Negeri (MPR),
berhasil memprovokasi seluruh rakyat untuk menghukum mati keduanya. Orestes dan Elektra
mendahului hukuman mati dengan saling menusukkan pedangnya ke leher mereka. Anehnya,
kuasa mistik dari hantu sang ibu menjadi kekuatan sesungguhnya yang menggerakan tebasan
pedang anak-anaknya.
Makna manusia dalam teater Klitemnestra
Manusia tidak lain adalah apa yang dibuatnya sendiri, menjadi sosok seperti apa yang
ia inginkan. Mereka dapat menjadi sombong, yang selalu membanggakan diri sendiri, ada
pula yang tidak mau disalahkan walaupun sebenarnya kesalahan terdapat pada ia sendiri,
sosok seorang yang suka memaafkan ataupun pendendam. Semua itu tergantung diri sendiri,
akan ia jadikan seperti apa hidupnya, seperti apakah ia ingin dipandang. Ada orang bilang,
jika kamu ingin dihargai dan dihormati maka terlebih dahulu melakukan itu terhadap seorang
dengan yang lain. Manusia tidak hidup sendiri, mereka hidup membentuk kelompok-
kelompok. Hidup bermasyarakat, dimulai dari yang terkecil yakni keluarga.
Sebuah keluarga dibangun dari antara wanita dan pria yang terikat dalam sebuah
pernikahan yang telah bersumpah untuk saling menghormati dan menghargai, menerima satu
sama lain baik kekurangan dan kelebihan, terus menemani dalam suka dan duka sampai maut
memisahkan mereka. Dalam sebuah pernikahan suami dan istri harus saling menghormati dan
menghargai, jangan saling menunggu agar yang lain melakukan lebih dulu. Jika demikian
halnya, maka pernikahan tersebut akan hancur karena keegoisan masing-masing. Keluarga
tumbuh dan semakin lengkap atas kehadiran anak. Anak-anak yang didalamnya akan terdapat
aliran darah dari kedua orang tuanya. Seorang anak harus lah patuh terhadap orang tuanya.
Dalam kisah Klitemnestra ini terjadi konflik yang sangat kompleks. Seorang istri yang
seharusnya melayani suaminya malah berbalik membenci dan akhirnya membunuh suaminya,
bahkan merencanakan hal tersebut bersama selingkuhannya. Sang suami yang juga
seharusnya menghormati istri tetapi mempunyai pengawal setia di ranjang. Agamemnon
sebagai seorang ayah haruslah menyayangi anak-anaknya, apapun yang terjadi, bukan malah
mengorbankan anaknya hanya untuk kepentingan sendiri. Seorang ibu yang melihat anaknya
dikorbankan begitu saja hanya untuk kepentingan sendiri, akan merasa miris. Ibu telah
mengandung sang anak selama lebih dari sembilan bulan, dibesarkan, dikasihi, namun
dengan keputusan sepihak saja anak tersebut dikorbankan.
Di dalam keluarga seorang anak seharusnya berbakti kepada orang tua. Dalam
Klitemnestra ini, hampir setiap anggota keluarga sudah saling membenci, sungguh sangat
tidak mencerminkan kasih keluarga. Padahal kasih pertama yang didapat setiap manusia
adalah dari keluarga itu sendiri. Namun jika hal ini yang terjadi, bagaimana seseorang bisa
mendapatkan kasih? Harta yang paling berharga juga adalah keluarga yang bahagia. Keluarga
yang berantakan, tidak ada kasih, sangat menyiksa anggota keluarganya. Tidak ada lagi
keharmonisan, saling melindungi satu sama lain, yang ada hanyalah keegoisan semata,
kepuasan diri sendiri, bahkan sudah tidak lagi saling memperhatikan hubungan darah yang
ada. Tidak ada rasa peduli antara satu dengan yang lain, yang terpikirkan hanyalah amarah,
dendam. Seorang ayah yang juga tega mengorbankan anaknya sendiri hanya demi
mendapatkan kemenangan secara tidak sehat. Hanya kemenangan dan keagungan kerajaan
yang dipedulikan, rasa gila kejayaan sang ayah yang sudah melampaui batas.
Sebenarnya, dalam Klitemnestra ini tidak bisa ditentukan siapa yang salah dan siapa
yang benar. Bukan siapa yang salah dan siapa yang benar lah yang penting karena hal ini
tidak penting, yang terpenting di sini ialah kita tidak boleh membiarkan marah dan panas hati
menguasai diri kita. Hal itu hanya membawa kita pada tindakan bodoh dan konyol.
Keputusan yang paling tepat, yang harus kita ambil, adalah mengasihi dan mengampuni satu
sama lain. Apalagi orang-orang yang dekat dengan kita, bahkan terhadap keluarga kita
sendiri.
Memang benar, dalam kehidupan banyak tantangan, ada hal-hal yang tidak berjalan
sesuai dengan apa yang kita harapkan, banyak masalah, ada situasi dan kondisi yang
terkadang seakan tidak mendukung kita, malah menghancurkan kita. Tidak ada yang bisa
menebak apa yang akan terjadi pada kita nantinya. Tidak akan ada yang tahu masalah apa
yang akan datang mencobai kita. Hampir sembilan puluh persen dalam kehidupan ini tidak
bergantung pada masalah apa yang kita hadapi, namun bergantung pada bagaimana kita
memberikan respon atas masalah yang datang.